Tuesday, December 5, 2017

Review Children's Book Of Philosophy


Pernah nggak membelikan buku untuk anak yang lalu kita merasa puas banget dan nggak nyesel sama sekali walau harganya lumayan mehong? Saya ada banget nih. Judulnya Children's Book Of Philosophy. Belinya udah lumayan lama sih, tapi baru sekarang sempet oprek-oprek di blog.


Sempet saya instastory-in sebenernya. Ternyata banyak yang DM nanya harganya berapa dan belinya di mana. So okay let's review that book sekalian di sini yah. Serius, saya suka banget sama buku ini!

📕 Creator: Sarah Tomley, Marcus Weeks
📕 Publisher: Dorling Kindersley Limited
📕 Year: 2015
📕 Language: English
📕 Number of page: 144
📕 Dimension: 260 x 307 x 16 mm | 1,050 gram
📕 Price: around IDR 300K
📕 Where to buy: Periplus


At a glance:

💖 Size-wise, buku ini gede. Ukurannya kayak buku-buku paket sekolahan zaman dulu, nggak cocok dibawa-bawa piknik.

💖 Full ilustrasinya.

💖 Penjelasannya dibuat seawam mungkin, karena namanya aja Children's Book kan. Tapi ini jelas bukan untuk anak seusia Aiden yang baru dua tahunan. Jadi palingan saya yang bakal baca-baca ini. Buat bekal kalau besok-besok Aiden udah mulai kritis nanya-nanya. Kalau dia udah paham dan bisa baca sendiri, baru deh dikasihin ke Aiden.

💖 Material kertas apa yah ini namanya hahaha. Pokoknya tipe kertas majalah. Glossy tipis gitu. Makanya saya masih belum ikhlas kalau buku ini dimainin anak-anak. Daripada robek nanti saya sedih. LOL.


Why I like this book?

Ini kayak nostalgia, itu kesan pertamanya. Soalnya dulu saya ada kelas Philosophy saat kuliah. Back then, saya mempelajari pemikiran-pemikiran Plato, Aristotle, Descartes, Derrida, and the gang. Belajar teori feminisme, dekonstruksi, demokrasi, dan lain-lain. It was such a FUN class!

Saya menikmati banget sesuatu yang berbau history dan ngawang-ngawang gini. Kenapa ngawang-ngawang? Karena rasanya tidak ada jawaban mutlak dalam Philosophy. Kami diberi ruang untuk berpikir seluas-luasnya.

Dulu ujian Philosophy juga bukan ujian teori macam, "Di tahun ke berapa kah Jacques Derrida lahir?" NO. Tapi lebih ke, "Apa pendapat Anda tentang teori dekonstruksi yang dicetuskan oleh Derrida?"

Dosen saya pernah bilang, "Jangan hanya terbiasa menjawab pertanyaan. Namun, pertanyakanlah jawaban-jawaban. Because things always change. Pemikiran akan selalu berkembang. Never take any answers for granted."

Wejangan dosen saya itu sepertinya fondasi dasar dari Filsafat yah. Di buku Children's Book Of Philosophy ini juga ada tertulis:
Philosophy means "love of wisdom." It is a method of trying to understand ourselves and our world by asking a lot of questions. Philosophy can teach you to think more clearly. It may even help you to make decisions about how you want to live.
Buku ini dibagi dalam 5 chapters:

💙 Is the world real?
💙 What am I?
💙 Thinking and feeling?
💙 How do I decide what's right?
💙 Why do we need rules?

Ada beberapa bahasan yang jadi favorit saya. Belum kelar baca sih. Saya bacanya nggak urut dari depan, tapi baca-baca bagian yang saya suka. Untuk blogpost ini, saya jembreng 5 bahasan dari masing-masing chapter yang jadi favorit saya yah.

🎨 Is colour in the mind or in the object? 🎨


Kita setuju (in general) kalo daun itu hijau, awan itu putih, bunga matahari itu kuning, and such. Tapi, filsuf-filsuf nggak yakin sebenernya warna itu apa, dari mana datengnya, dan ada juga yang ragu apakah benar ada warna. Lemon itu kuning karena memang kuning atau hanya karena terlihat kuning?

Baca: Sensory Play, Mie Warna-Warni


🙋 Who am "I"? 🙋


Mempertanyakan ketika kita menyebut diri kita, sebenernya apa yang kita maksud? Apakah raga kita? Atau pemikiran kita?

Menurut teori Descartes, raga dan pemikiran adalah hal yang berbeda. Apakah kita ingat rupa dan wujud kita saat kita bayi? Tubuh kita saat ini jauh berbeda dengan saat bayi dulu. Kemampuan kita juga berkembang. Dulu kita cuma bisa gegulingan di kasur doang. Sekarang bisa lompat, lari, mikir, dan bicara. Apa berarti kita masih orang yang sama dengan saat kita bayi dulu?

Baca: Checklist Perkembangan Bayi 0-3 Bulan

Atau, diri kita ini terbentuk dari kombinasi kenangan dan perasaan yang akhirnya menuntun cara kita menyikapi sesuatu?


💃 What is happiness? 💃


Happiness can be in so many things. Dari merasa kenyang setelah makan atau merasa hangat saat di luar rumah hujan. Bisa juga dari kepuasan melakukan hal yang kita suka. Kebahagiaan juga bisa datang dari membantu orang lain and menyadari kalau kita melakukan sesuatu yang baik.

Interesting fact, ternyata banyak filsuf Yunani di abad terdahulu yang meyakini kalau melakukan hal-hal yang kita suka doang itu nggak cukup. Yang lebih penting adalah kita lakuin hal yang kita seneng dan hal itu adalah hal yang BENAR.

Talk about koruptor. Hepi duitnya banyak, upil aja jadi duit. Tapi kalau itu didapet dari ngerugiin orang lain, then it's not the true happiness.

Baca: Dear Ibu-Ibu Yang Kadang Lupa Bahagia


👫 Shouldn't men and women be equal? 👫


Di hampir semua budaya dalam sejarah, perempuan diperlakukan berbeda dari laki-laki. Traditionally, perempuan dianggap mendingan di rumah aja. Dulu banyak sekali kesempatan dan pekerjaan yang nggak bisa diakses sama perempuan. Baru 100-an tahun ini perempuan mulai menikmati kesetaraan, termasuk hak suara dalam pemilu. Akankah perempuan diperlakukan sama yang bener-bener sama dengan laki-laki, mengingat sampai detik ini masih banyak perempuan diperlakukan as second class citizen di beberapa belahan dunia lain?

Kenapa mayoritas filsuf zaman dahulu itu laki-laki? Ya, no wonder. Dulu-dulu banget yang bisa sekolah itu laki-laki. Yang banyak kesempatan untuk socialize, ketemu banyak orang, dan ngobrol itu laki-laki. Pemikiran-pemikiran yang dianggap layak untuk ditulis dan diteruskan itu pemikiran laki-laki.

Kalau saya hidup di zaman dulu pasti udah stress berat udahlah. Dan makanya pendidikan itu penting.

Baca: Sekolah Itu Penting Nggak Sih?

Plis walo nikah muda tetep selesaikanlah pendidikan ya. Dan plis cari suami yang nggak larang-larang kita masih punya 'kehidupan' di luar setelah nikah. Oke, maaf, ini sepertinya subjektif but yagitudeh!

Baca: When Being A Mother Is NOT Enough


🎀 Communities matter, not individuals 🎀


Kita hidup itu nggak hanya sebagai individu tapi juga bagian dari community. Community yang terkecil deh, keluarga. Lebih luasnya lagi banyak yah. Komplek perumahan, RT, RW, komunitas gereja, komunitas pengajian, daerah, negara, dan of course, dunia.

Ada banyak cara biar kita bisa contribute ke community. Dengan bayar pajak tepat waktu, misalnya. Atau ikut kerja bakti bareng warga komplek yang lainnya. Ngasih kursi untuk para lansia, ibu hamil, dan orang-orang berkebutuhan khusus juga perwujudan kontribusi kita dalam community loh.

Baca: Jangan Ucapkan Ini pada Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus

Sebenernya kontribusi ke community itu nggak harus dengan jadi volunteer dalam sebuah komunitas atau organisasi sosial. Ya, itu bagus. Tapi kadang nggak semua orang punya waktu. Jadi, dengan kita behave, nggak ngeludah sembarangan, nggak buang sampah sembarangan, nggak nyelak antrian, etc, itu berarti kita udah contribute. Lakuin yang kita bisa aja.

Baca: Perilaku-Perilaku Ajaib, Jangan Dilakukan Ya Gengs



Setelah 5 chapter itu, ada halaman Ask Yourself, ini juga bagus banget!


Baca buku ini sangat menyenangkan. Efeknya bukan seneng yang kalau abis baca komik Miiko gitu. (YAIYALAH). Nyenenginnya karena jadi nambah wawasan tanpa harus baca buku tebel hehehe. Ilustrasinya yang warna-warni bener-bener ngebantu.

Seneng juga karena saya jadi nggak ngerasa aneh sendiri. I like to question so many things yang kadang itu nyebelin buat Adit. Baca buku ini, saya ngerasa dimengerti. #halah

Baca: 6 Things I Hate About Me

Dan hepi juga karena jadi bisa lihat bahwa ternyata filsafat itu aplikasinya bisa sehari-hari dan deket banget sama hidup kita sebenernya. Di buku ini kita nggak cuman baca teori doang, tapi bisa lihat bagaimana pemikiran seorang filsuf ternyata masih relevan banget sampai abad ini dan malah jadi reminder kehidupan juga.

Kayak tentang happiness yang merupakan sesuatu yang abstrak, ada pemikiran bahwa bahagia yang hakiki itu kalau kita happy nya nggak ngerugiin orang lain. Itu kan reminder banget tuh.


Also, buku ini semacam mengajak kita untuk lebih menyadari dan mengenali diri sendiri (dan mungkin belajar memahami orang lain juga loh!). Banyak pertanyaan-pertanyaan yang kalau kita renungkan, kita akan jadi mikirnya panjang. Misal nih, "Is it always wrong to do something bad?"

Kita jadi mikir, for example, bohong sama ibu itu nggak baik. Tapi misal kita 'harus' berbohong karena let's say ibu kita abis kena stroke yang nggak boleh stress biar cepet pulih, gimana? Sebenernya kita udah ada rencana pisah sama suami/istri, tapi demi nggak bikin ibu makin sakit, kita bilang bahwa pernikahan kita baik-baik aja kok. Salah nggak?

Baca: Diari Papi Ubii #25 - How To Deal with Love Affair

Bisa dipahami nggak kenapa jadi bohong? Berarti kadang-kadang ada beberapa kondisi di mana kita 'dimaklumi' kalau kita melakukan hal yang nggak baik? Kondisi apa aja yang bisa ditoleransi? Noh kan jadi panjang. Padahal bohong itu cuman satu contoh dan masih banyak banget contoh something bad yang lain.

AH KUSUKA LAH POKOKNYA!

Semoga Aiden bakal suka buku ini!





Love,





2 comments:

  1. Wah...kayanya aku pun akan suka buku ini. Thanks infonya Ges.

    ReplyDelete
  2. Bukunya cocok buat njawab bocah yang kebanyakan nanya, tapi yang ditanya gak ngerti jawabannya.

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^