Wednesday, June 12, 2019

Etika Main Perosotan Di Playground Umum

Kalian yang suka nontonin IG stories saya saat sedang #MainSamaAiden biasanya bilang bahwa saya adalah ibu yang sabar dan jarang pakai nada tinggi. Ya, itu kalau di rumah. Sebaliknya, di tempat-tempat umum saya merasa sering pasang muka judes dan pakai intonasi tinggi.


Bentar-bentar akan bilang "Aiden, jangan begitu" atau "Aiden, nggak boleh ya" dan lain sebagainya. Kalau dilihat orang, mungkin saya akan dikira tipe ibu yang suka atur-atur dan larang-larang. Ya, emang iya sih, lol. Keyword nya: tempat umum.

Saya persempit bahasan tempat umum menjadi playground anak-anak yang bisa dipakai bersama-sama. Kalau mau lebih spesifik lagi sih, playground di restoran junk food, hahaha. Udah lama banget saya kepengin nulis ini, tapi terus lupa. Kebetulan libur Lebaran kemarin ngalamin lagi, jadi mari ditulis segera!

Biasanya playground itu punya perosotan. Baik playground megah maupun yang sederhana. It's like perosotan adalah esensi hakiki dari sebuah play ground. Itu berlaku juga untuk playground di KFC Sudirman, Jogja.

KFC Sudirman ini luv banget. Playground nya lebih luas ketimbang McD dan menurut saya kok tampak lebih bersih dan terang. Plus, saya emang prefer ayam KFC sih ketimbang McD lol. Aiden akan selalu riang tiap saya ajak makan di sana, karena dia bisa bermain.

Sebelum main, saya selalu ingetin rule nya:

❗ Letakkan alas kaki di rak yang disediakan

❗Naik perosotan dari TANGGA, baru meluncur. Bukan sebaliknya, naik dari perosotan lalu meluncur lagi. KECUALI, hanya ada Aiden sendirian di playground. Kalau sendirian, maka baru boleh mau naik dari mana pun

Rule nomor dua itu yang lebih saya tekankan sampai berulang kali sampai Aiden mengerti dan bisa membedakan mana situasi yang dia harus naik dari tangga dan kapan dia boleh bener-bener main bebas.


Tapi, ya selalu aja ada anak (or anak-anak) yang naiknya dari perosotan, bukan dari tangga. Jadi manjat perosotan, terus langsung merosot. Gitu aja terus diulang-ulang seolah itu perosotan adalah hak milik dia semata dan nggak mau kasih gantian sama anak yang lain.

Kalau anaknya masih setahun dua tahun, menurut saya masih understandable karena mungkin anak seusia itu belum terlalu ngeh sama aturan main. Tapi kalau sudah keliatan besar, empat tahun ke atas, ya sorry 'harusnya' nggak begitu lagi.

Pertanyaan selanjutnya adalah kalau orangtua si anak melihat dan membiarkan. Ini bener-bener saya lihat sendiri kemarin. Ada anak selalu maunya naik dari perosotan karena pengin terus dapet giliran meluncur. Ibu nya berusaha kasih tahu, tapi nggak mempan. Kurang berusaha juga sih kayaknya karena ngasih tahu sambil mata lekat ke gadget. Si ibu minta bantuan ayah untuk ngingetin anak. Dan ayah dengan santainya bilang, "Halah, gak papa, biar."

Apa iya attitude memainkan fasilitas umum dengan cara seperti itu tidak apa-apa?

Downside jika ada anak yang begitu adalah:

1) Anak lain susah dapat giliran

2) Anak lain yang akan meluncur jadi menabrak anak yang naik dari perosotan

Menabrak ini bisa bener-bener nabrak dan sakit. Atau bisa saja nggak sakit, tapi ya jadi nggak nyaman mau berseluncur kan karena terhalang sama anak yang memanjat dari bawah.

"Namanya juga anak-anak, biarlah bereksplorasi tanpa sering dilarang-larang"

Free play dan eksplorasi is one thing. Tapi belajar memakai sarana umum dan belajar antri itu soal lain. Ketika kita pakai fasilitas umum, tentu ada etika tersendiri. Bagaimana menjaga karena itu bukan milik kita. Bagaimana memakai dengan benar karena ada orang lain yang juga akan pakai.

Tentang free play, bisa dibaca di tulisan ini: Montessori Yang Bukan Segalanya

"Anak nggak harus selalu diajarkan untuk berbagi. Anak boleh memilih kapan dia mau berbagi dan barang yang mana yang mau dibagi"

Iya, tapi itu berlaku untuk barang MILIK anak dong. Anak punya hot wheels kesayangan lalu ada teman mau pinjam dan anak nggak kasih, nggak apa-apa karena memang nggak ada kewajiban harus meminjamkan. Tapi ketika yang dimainkan adalah mainan umum, ya sebaliknya, perlu belajar berbagi. Keyword nya aja UMUM loh, artinya bukan punya kita. Bukan punya anak kita.

Kalau memang anak sesuka itu main perosotan, coba deh rental. Banyak kok rentalan yang menyewakan perosotan dan mainan-mainan lain, nggak cuman baby carrier, kursi makan, dan crib. Jadi mau main dengan model gimana pun, bebas, karena emang nggak ada etika harus berbagi dan bergiliran.

Baca: Rental Perlengkapan Bayi, Yay Or Nay?

I know I don't live in my own bubble. Saya hidup di dunia yang nggak bisa saya bentuk sesuai kemauan saya. But come on, hal-hal seperti ini rasanya musti mulai dibenahi. Mumpung anak-anak kita masih anak-anak, masih bisa banget ditanemin values yang baik-baik dengan kata-kata dan contoh perbuatan.

Baca: Belajar Maaf, Terima Kasih, Dan Tolong di Minimarket

Bagaimana bisa jadi orang dewasa yang tahu etika mengantri dan menjaga fasilitas umum kalau sedari kecil terus dimaklumi saat pakai perosotan umum seenaknya sendiri. Sampai kapan memberi pemakluman dengan dalih, "Ya namanya juga anak-anak."

No. Justru mumpung masih anak-anak. Justru mumpung belum mendarah daging kebiasaan yang kurang baiknya, supaya nggak keburu mengakar dan sulit dihilangkan.

Dan sebagai orangtua, ayok lah kita lebih peka dan menjaga. Saat anak di playground, fungsi pengawasan orangtua bukan hanya agar anak nggak kenapa-kenapa, tapi juga biar anak kita tidak bikin anak lain kenapa-kenapa.

PASTI!


Patuhi aturan
ANTRI
Sopan
Tidak mendorong
Ikuti arahan orangtua/guru

*

Tambahan, abis googling cari artikel tentang etika main perosotan umum dan nemu satu artikel yang ditulis sama psikolog. Saya rangkum poin-poin nya ya.

1) Antri

💚 Budaya antri perlu ditanamkan sejak kecil supaya anak tumbuh jadi manusia yang menghargai orang lain, usaha, waktu, dan fasilitas bersama.

💚 Perlu juga mengajarkan anak untuk berani menegur baik-baik ketika antriannya diserobot anak lain.

💚 Selain punya kewajiban antri, anak juga punya hak untuk dapat giliran lebih dulu daripada anak lain yang antrinya belakangan


2) Segera berdiri setelah sampai di bawah

💚 Kembali ke asas perosotan nya adalah milik bersama karena fasilitas umum, jadi memakainya nggak bisa dengan hanya memikirkan kesenangan sendiri.

💚 Setelah meluncur, ajarin anak untuk segera berdiri dan pindah.

💚 Jadi, anak lain yang akan meluncur tidak perlu menunggu lama. Dan, menghindari anak kita tertabrak anak lain yang merosot juga.


3) Naik dari tangga

💚 Karena perosotan itu tempat untuk turun, bukan untuk naik.

💚 Selain mengajarkan etika memakai mainan umum, naik dari tangga juga mengajarkan proses pada anak.

💚Plus, motorik kasar dan keseimbangan juga terasah saat menaiki tangga.

*

Hope this post can be useful. Jangan hanya berambisi ngajarin calistung. Berambisilah juga mengajarkan attitude, budaya antri, dan toleransi #rhymes hahahah.




Love,





5 comments:

  1. Hai mom gesii, penting bgt ini artikel di share ke sebanyak mungkin parents yaa karena emang sering bgt liat ortu yg anaknya main gamau gantian ato maen nya rebut2 dorong2 dsb tp sama sekali ga ditegur malah kadang cm cengengesan doang, minta 'dimaklum' karna masi anak2, huufftt... Oiyaa ide bagus buat rental mainan, karna ak punya usaha rental mainan buat wilayah tasikmalaya dan ciamis, jd sekalian promo yaa mba ges disini ��

    ReplyDelete
  2. Aku udah bawel soal aturan main ini sejak anakku udah bisa main di playground.

    Alhasil sekarang umur 3yo udah paham aturan main bersama.

    Cuma ya jadi sering di sela anak2 yang nyerobot gitu aja, anaknya woles aja lagi di sela.

    ReplyDelete
  3. Anakku kemarin main perosotan malah nunggu sampai yang lain selesai. Masih takut kayaknya. Jadilah dia diserobot melulu gilirannya pas mau meluncur

    ReplyDelete
  4. Anehnya, aku pas kecil malah gak terlalu suka main perosotan. Mungkin karena perosotannya yang setinggi 2 meter kali ya jd takut duluan. Beraninya cuma merosot pelan pelan, pegang lepas pegang lepas pinggiran sampai berhasil sampai bawah.

    Waktu itu memang belum era playground dengan perosotan 1 meter, adanya perosotan semen aja.

    ReplyDelete
  5. anakku 5 tahun sudah ngerti sih kalau main perosotan itu naikknya harus dari tangga tapi sekarang dia mulai berani ketika meluncur yang turun bukan kaki duluan tapi kepala duluan, jadi bukan terlentang malah jadi tiduran, duhhh ku pusing mami ubiii

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^