Tuesday, May 28, 2019

Montessori Yang Bukan Segalanya

April kemarin saya bikin event seminar Montessori At Home under @mainsamaaiden, akun IG yang saya khususkan untuk bahas parenting, playing, and everything in between. Sharing-sharing di @mainsamaaiden juga emang beberapa bahas/singgung tentang Montessori.


Saya emang pernah ikut intensive course Montessori sih di Jakarta dan ya saya ngerasa banyak values yang bagus dari Montessori. Ini amal jariyah nya alm Maria Montessori sungguh mengalir terus ya lol.

Cerita event nya bisa dibaca di sini yaaa: #MainSamaAiden Event Vol. 1

To my surprise, beberapa kali saya dapet pertanyaan begini, "Mba Ges, Main Sama Aiden itu khusus tentang Montessori ya?" Sampai situ masih biasa aja sih. Yang cukup mengejutkan buat saya adalah curhatan-curhatan yang mengikuti pertanyaan itu.

Beberapa dari mereka cerita pengalaman masing-masing. Nggak sedikit yang ngerasa lama-lama burdened setelah gabung di komunitas Montessori, karena jadi apa-apa dikoreksi.

"Kok main flashcards nya gitu, nggak Montessori way"
"Harusnya mainannya nggak warna-warni gitu, nanti anak malah bingung loh karena over stimulasi"
"Kalo ngenalin sesuatu, pakai 3 period learning dulu Mam"
"Mendingan belajar hurufnya jangan pakai kegiatan nebelin garis, pakai sand paper letters aja"

dan lain-lain.

Ada juga yang nanya apakah saya Montessorian.

Saya nggak ngerasa segitu Montessorian nya sih. Hence, nggak merasa perlu menyebut diri dengan label itu juga. Karena emang nggak semua prinsip dan kegiatan Montessori saya ikutin hahaha.

*

Yang saya luv banget dari Montessori sebenernya adalah filosofinya. Bahwa anak perlu dimanusiakan, dianggap mampu membuat pilihan dan keputusannya sendiri serta diberi kesempatan. Bahwa anak terlahir dengan fitrah-fitrah yang baik. Bahwa anak punya absorbent mind. Bahwa anak perlu diberi contoh hal-hal baik yang nyata oleh orangtua (prepared adults). Bahwa orangtua pun akhirnya perlu terus belajar (growth mindset). Baca: Orangtua Dan Belajar.

Those are the values that I'm holding onto. Dan menurut saya, values ini sifatnya lebih ke principle utama. Penerapannya bisa ke banyak hal.

Untuk kegiatan, ada beberapa yang saya luv juga terutama di area Practical Life dan Sensorial. Ngerasain sendiri bahwa lewat spooning, pouring, transferring, etc itu Aiden belajar banyak hal. And that's it. Sejauh ini masih sampai situ doang.

Baca: 10 Ide Kegiatan Montessori Di Rumah

Sehari-hari main sama Aiden, saya nggak sampai bikin daftar kegiatan/kurikulum di rumah yang Montessori based. Satu, kurang disiplin dari saya nya sendiri hahaha, ini saya akui aja. Dua, kadang Aiden itu udah punya request sendiri mau main/belajar apa hari ini. Tiga, buat saya, structured play/activity itu tidak harus ada setiap hari karena kadang Aiden mau nya free play 'doang' and that's ok.

*

Mendefinisikan free play dan structured play dulu ya supaya kita satu frekuensi.

Free play: Kegiatan yang dipilih sama anak atas inisiatif mereka sendiri. Nggak ada 'goal' nya. Mau gimana pun cara anak memainkan, bebas. Contoh: anak main lego dengan cara yang mereka mau, entah disusun tinggi, dibikin bentuk istana, digenggam doang atau pura-puranya dijadiin pedang. Lego can be functioned as another thing, tidak harus sebagai lego.

Structured play: Play with purpose / leaning objective. Ada tujuan nya. Contoh: anak main lego dengan kita kasih goal susun sampai seberapa tinggi, ambil warna merah/kuning/dll doang, hitung lego, etc --> ada instruksi.

Printable-printable yang sering saya share secara gratis di blog ini itu masuknya structured play karena ya ada objective nya. Kalau mau download, silakan ke sini ya.

Note: Free play memang kasih kebebasan ke anak, tapi bukan berarti tanpa batasan ya. Ketika dia pakai legonya untuk pukul orang lain, jelas kita kasih tahu. Ketika dia buang lego ke dalam jamban, ya dinasihati. Batasan dalam free play adalah menjaga/mengasihi mainan, tidak menyakiti diri sendiri, dan tidak menyakiti orang lain.

Dalam Montessori activities, meskipun anak nggak dipaksa harus bisa dan mau menyelesaikan, tetep aja itu structured play. Itu sama sekali bukan hal buruk. Bagus kok anak jadi belajar memahami instruksi dan meningkatkan skill. Cuman buat saya pribadi, porsi free play juga penting saya fasilitasi.

*

"Kan sehari-hari anak juga pasti udah ada sesi main bebas, Mba Ges. Apa masih perlu alokasiin waktu khusus lagi yang sama kita ibunya?"

Ini saya pakai pengalaman saya dan Aiden aja untuk jelasin ya, biar nggak pukul rata.

Ya, bener, setiap hari pasti Aiden ada free play. Ketika dia pilih main push bike, memeragakan Venom, main mobil-mobilan, dan lain-lain, dia sudah main dengan kehendaknya sendiri. Tapi, mostly itu dia mainkan sendiri atau sama temen, tanpa saya.

Sesi free play Aiden dengan Mami artinya saya ikut terlibat dalam permainan dan saya mengikuti imajinasi (atau instruksi) Aiden. Contoh Aiden pilih main masak-masakan pakai playdoh. Aiden request saya bikinin apa, saya ikut. Aiden membagi-bagi playdoh saya cuma boleh pakai warna apa, saya ikut. Aiden yang bikin skenario. Roti gosong, pizza rasa stroberi, telor warna hijau, apa pun, saya yang masuk ke imaji nya.

Baca: Anak Laki-Laki Main Masak-Masakan, Yay Or Nay?

Contoh lain, Aiden pilih role play orangtua dan bayi. Biasanya dia akan pilih jadi si orangtua, sementara saya yang jadi bayi. Nanti Aiden akan kasih instruksi, "Dede bayi nangis! Minta yupi!" lalu saya berlagak nangis. Aiden akan mengimitasi gaya saya dan bilang, "Nggak boleh banyak-banyak dede bayi, nanti batuk / belum beli / nanti sikat gigi." Kadang dia tambahin bilang, "Aku jadi Mami. Mami kalo marah-marah gini" dan diperagain. Kemudian dia akan tampak puas bisa 'marahin' saya.

Role play is a safe place and kids know that. Aiden bisa berlagak marah, memperagakan hal-hal yang sehari-hari dibatasi atau dilarang, dan merasa fulfilled. Dia merasa aman karena tahu saya nggak akan marah atau ceramah karena jelas bahwa kami sedang bermain. In daily lives, biasanya orangtua lah yang memegang kontrol serta memberitahu apa yang boleh dan nggak boleh. Role play (atau free play apapun) di mana kita yang ikut skenario anak memberi kesempatan pada anak untuk being in charge, powerful, dan punya kontrol.

Contoh terakhir, this one is my fave btw, adalah main pasir dengan figurine. Kadang saya pakai figurine orang, kadang binatang. Aiden sesekali suka mengubur satu figurine. Dia bilang itu Mami. Sambil mengubur, dia bilang, "Mami aku kubur kalo kerjanya lama / kalo Mami marah-marah terus." Di situ, pasir dan figurine jadi sarana ekspresi nya untuk mengeluarkan perasaan entah jengkel, marah, atau sedih kalau saya kerja lama atau marahin dia. Mengubur 'Mami' jadi resolusinya untuk keluar dari perasaan sebal ke saya.


Main pasir yang begini biasanya saya nggak ikut aktif bermain. Hanya menyimak dan sesekali bertanya untuk memancing Aiden cerita apa yang bikin dia sebel/sedih karena saya.

*

Kembali ke Montessori.

Menurut pemahaman saya yang terbatas ini, Montessori memang punya beberapa pakem. Misalnya pemakaian 3-period-learning untuk mengenalkan sesuatu yang baru. Makanya, metode Montessori cenderung kurang in line dengan pemakaian flash cards yang sekali main langsung keluarin banyak kartu secara bergantian dengan model flashing cepat dalam satu putaran.

Untuk mainan-mainan atau tools juga rada beda. Kalau menurut intensive course Montessori yang saya ikutin, Montessori toys itu sebaiknya fokus di satu tujuan dan tidak over stimulus. Saat itu yang dicontohkan adalah mainan donat ring.


Menurut pengajar saya (dan penangkapan saya), donat ring kurang align dengan Montessori method karena dalam satu kegiatan ada lebih dari satu stimulus: size, color, sequence besar ke kecil. Kalau donat ringnya ada krincing-krincing nya, maka stimulus bertambah satu lagi, yaitu bunyi. Jadi anak mau belajar warna atau menyusun donat dari ukuran? Kalau memang goalnya agar anak bisa memahami sequence besar ke kecil, sebaiknya pilih yang satu warna.

Nah ini rada beda kan sama aliran lain. Di seminar parenting yang bukan Montessori, justru malah kita dianjurkan cari mainan yang kegunaannya bisa macam-macam dan kaya stimulus. Plus biasanya kita emak-emak pilih yang satu mainan dapat banyak fungsi agar sekalian ngirit lol.

Dulu saya pernah ikut seminar yang berisi tips memilih mainan bayi 0-12 bulan. Kalau mau baca, ke sini ya: Pilihan Mainan Bayi 0-12 Bulan

Mana yang lebih baik? Buat saya sih semuanya baik karena saya jalan di tengah-tengah. Saya suka Montessori, tapi Aiden kurang sabar dengan metode 3-period-learning. Kami pemakai flash card banget dan untuk ngenalin kosakata/hal baru pun tetap pakai model flashing, bukan 3PL. Untuk mainan, saya (dan kayaknya Aiden juga) cenderung lebih semangat liat yang colorful. Kegiatan Montessori yang sekiranya bisa diapply di rumah ya dilakuin, nggak bisa juga gapapa. Saya nggak ngoyo kalau buat hal-hal begini.

*

Buat saya, teori parenting, perkembangan, dan pendidikan anak itu sifatnya 'hanya' sebagai informasi yang memperkaya opsi-opsi yang akan diambil. Mau pakai yang mana lagi-lagi kembali ke keluarga masing-masing. Karakter anak, karakter orangtua, kebutuhan dan minat anak, sikon di rumah, value keluarga, dan tentu saja kantong juga. Asas pilah dan pilih berlaku di sini.

Buat kita Montessori adalah yang terbaik? Tentu boleh sekali. Ambil beberapa kegiatan Montessori sambil mengadopsi teori parenting/pendidikan lain, ya boleh juga. Tapi ingat apa yang paling baik untuk kita belum tentu terbaik juga untuk keluarga lain.

Artinya ya kita jalani aja pilihan masing-masing. Kadang perlu menahan diri untuk nggak komentarin kegiatan mama-anak lain, kecuali mereka memang minta masukan atau koreksi. Kalau ada mama-mama yang join Montessori group tapi kegiatannya kurang Montessori, ya biar aja sih. Mungkin itu emang pilihan mereka atau menyesuaikan anaknya lagi mau main apa, kecuali mereka nanya "Masukan nya dong, Mamsky."

*

Serius baru tahu ada cerita-cerita semacam ini juga loh, lol. Bottom line is, I still love Montessori especially the philosophy. But I don't follow the method fully. I still think Montessori is such a very good method. But let us be humble and not over criticise each other. Selow aja gaperlu saling memaksakan ok myluv.





Luv,






2 comments:

  1. Tulisannya bikin adem bgt mba ges. I do agree. I love the philosophy. Dan aku lg merasakan komentar tsb, tp bukan dr org lain, melainkan dr diriku sendiri haha. Ak suka dilematis bgt kalo mau kasih activity ke anak, krn aku suka dg filosofi montessori akhirnya mikir ih namanya montessori at home bkn ya ih bnr ga ya ky gni. Pdhl hrsnya mah selow aja yaa, krn akhirnya kadang jd nyulitin diriku sendiri heheheh. And again ini nambah wawasan ku jg ttg free play dan structured play krn anakku trmasuk yg masih sng banyak free play. Terakhir, pertanyaan terbesarku pun terjawab sudah, mengapa aparatus montessori itu sll dr kayu satu warna yg menurutku ko plain bgt beda bgt ama tk tk lain yg warna warni jg ttg over stimulation tooooh 😊😊😊

    ReplyDelete
  2. Bener mom, saya malah belum baca buku soal Montessori hihi

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^