Friday, June 21, 2019

Diari Papi Ubii #36: Sini-Kini, dan Tujuan Hidup

Pernah punya angan-angan yang nggak (atau belum) tercapai? Apa itu? Terus kalian kecewa, nggak? How do you feel about that?


Dunia memang penuh misteri. Hari ini kita merencanakan satu mimpi. Esok hari bisa saja kita bangun pagi menyadari bahwa mimpi itu harus direlakan pergi. Tulisan Adit buat Diari Papi Ubii #36 kali ini sedikit banyak tentang itu.

Adit:
Stop acting as if life is a rehearsal. Live this day as if it were your last. The past is over and gone. The future is not guaranteed.
— Wayne Dyer
Nggak ada yang tahu rahasia kelam semesta. Satu hari kamu berencana cepat-cepat menyelesaikan studi magistermu agar bisa menyematkan gelar “Master of Fine Arts” di belakang “Sarjana Sastra”-mu, menyusun itinerary travel ke Asia Timur untuk menyelesaikan assignment fotografi, berencana untuk pergi ke festival Burning Man bareng para sahabat, bekerja di multinational company selama 5 tahun hanya untuk menabung beli Ducati Hypermotard EVO, dan rencana-rencana lain yang sepertinya sangat doable sekali pada saat itu.

Kamu melihat semuanya dengan “half glass full” attitude. Your life is so smooth as sweet as sugar candy baby. Rencana, rencana, dan rencana…

Tapi semesta kemudian memberimu jawaban:


Kamu kemudian ditelepon temen bobok kamu, said that she’s pregnant and you are the father of the baby. Lalu, rencana kamu tinggalah rencana. Semuanya hancur berantakan. Apa yang terjadi kemudian?

Kamu menikahi temen bobokmu, berkeluarga, beranak pinak, dan hidup bahagia (?) — at least so far.

That’s the story of my life. Baca ceritanya di Diari Papi Ubii #21: I Found You.

Bukan proses yang mudah memang, untuk menelan pil pahit bernama “tanggung jawab” di saat kamu tidak pernah dibukakan mata untuk melihat fakta bahwa betapa sakitnya gigitan realita. But hey, instead of worrying about what you cannot control, shift your energy to what you can create.

Saya kemudian sadar, rencana ya cuma rencana. Kalau sudah tidak bisa diwujudkan, ya udah realistis aja sih. Buat apa juga meratapi sesuatu yang ngga bisa dirubah, yekan?

Alih-alih playing victim dengan bilang: hidup ini nggak adil (well life is unfair, get used to it — ini kata Bill Gates), saya buang jauh-jauh semua mimpi dan rencana yang nggak realistis. Saya mulai memilah-milah ekspektasi.

“Lampau” dan “nanti” saya ganti dengan “kini”
“Sana” aku ganti dengan “sini”

Sini-Kini. I don’t know who coined the term first but banyak yang saya pelajari dari konsep Sini-Kini ini. Alih-alih bermimpi muluk-muluk, saya jadi bisa lebih bersyukur atas apa yang saya punya. Kehidupan menjadi jauh lebih simpel dengan target-target kecil yang realistis. Setiap pencapaian kecil yang kita raih menjadi lebih bermakna.

Nggak ada yang salah dengan mimpi. Mimpi membantu kita buat aim higher and further. Tapi kadang kita terbuai dengan idealisme mimpi sehingga kita nggak memperhatikan kenyataan di sekitar kita. Kadang mimpi membuat kita lupa bahwa kebahagiaan bisa pula ditemukan di sekitaran. Namun, apa iya sih tujuan kehidupan ini “cuma” untuk bahagia. Klise, tapi memang itulah kebanyakan jawaban yang akan kita dapat kalau kamu bertanya ke orang-orang “apa sih tujuan hidup kamu?” Pasti jawabannya “untuk berbahagia.”

Lalu, usaha apa yang kita lakukan untuk mencapai itu?

Kita melakukan segalanya untuk berbahagia: kamu bekerja di perusahaan multinasional dengan gaji kepala 5, dan berkata pada diri sendiri, “oke, kerjaan ini bakal buat aku bahagia!” Kita beli barang yang sebenernya ngga terlalu kita butuhkan, and you think that makes you happy. Kamu menjalin hubungan sama orang, dan kamu berpikir bahwa itu akan menuntun kamu menuju kebahagiaan. Kamu pergi ke luar negeri, foto-foto lalu upload di Instagram — dapet banyak like dan komen-komen iri, dan berbahagia, pikirmu.

Tapi, saat masing-masing hal diatas tercapai, kamu mulai merenung: mau apa lagi ya buat cari kebahagiaan?

Menurut saya, kebahagiaan itu bukan tujuan sih. Karena, kebahagiaan ngga bakal ada habisnya kalau dicari terus. It’s like chasing tails. Kalau kamu menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan hidup kamu, ya pursuit kamu dalam hidup ini nggak bakal habis-habis. Thus, it should not be a purpose — karena menurut saya tujuan atau goal itu harus measurable.

Sa ae lu moncong rice cooker. Terus bijimane?


Nggak ada salahnya sih buat berbahagia. Bagus, malahan. Kualitas terbaik manusia keluar setiap dia berbahagia. But then what?

Mengutip konsep Sini-Kini: jadilah berguna.

Tujuan hidup bukanlah kebahagiaan, namun kebergunaan. Entah itu berguna untuk diri sendiri, maupun buat orang lain. Dan kebergunaan bisa dimulai dari hal-hal kecil di sekitar kita, seperti menyelesaikan tugas-tugas tidak lewat tenggat waktu, masukin hape ke tas saat makan semeja dengan orang lain dan memperhatikan setiap detil obrolan, meringankan beban pembantu dengan mencuci piring atau membuat kopi sendiri, mengajak orangtua makan enak di restoran, memijat punggung pasangan yang sedang kelelahan, atau as simple as mengirim meme lucu ke teman yang sedang bersedih.

Saya percaya, small good deeds macam itu eventually akan membawa kita ke kebahagiaan. Namun, jangan anggap kebahagiaan adalah finish line — just enjoy the process. If you find happiness through it, then consider it as a bonus.

Bagaimana caranya mengubah mindset ke Sini-Kini. Gampang sih: don’t overthink things. Focus on where you are now, what you are now. Don’t think on “how it’s gonna be?” Be present. Dengan awareness seperti ini, kita baru bisa berguna. Seperti kata Darius Foroux: being useful is a mindset. And like with any mindset, it starts with a decision.

Mulailah dengan hal kecil.

Tabik!
As much as you try to organize your life, life will surprise you.— Bryce Dessner
*

Grace:

Tidak pada semua hal saya sependapat dengan Adit. Contohnya, tentang konsep bahagia sebagai tujuan hidup ini.

Buat saya, kebahagiaan bisa saja dijadikan tujuan dan itu masuk akal. Saya adalah tipe orang yang meletakkan berbahagia sebagai tujuan hidup prioritas saya. Dengan mindset seperti ini, saya jadi nggak ngoyo. Saya jadi bisa menetapkan boundaries yang lebih sehat.

Di luar hal yang memang menjadi tugas dan kewajiban, saya akan tanya ke diri sendiri, "Apa aku happy kalau aku ngelakuin ini? Atau, aku malah cuman akan jadi capek doang dan nggak enjoy? Siapa yang aku bahagiakan kalau aku lakukan ini? Diriku sendiri, atau orang lain? Atau jamaah Instagram?" And that's a good enough reminder for me, personally.

Baca: Untuk Siapa? Refleksi Tentang Diri, Gambar, Dan Ipad

Yang saya sependapat sama Adit karena itu align sama proses finding happiness saya adalah konsep being here and now nya. Enjoy today, cherish moments, do what makes me happy and fulfilled.

Bagi saya, tujuan bahagia itu nggak muluk. Seni nya adalah di memampukan diri untuk bahagia atas hal-hal sederhana yang sangat mudah ditemukan sehari-hari. I'm a firm believer that kebahagiaan itu perlu diusahakan dan dibiasakan dengan hal kecil. Kalau sudah terbiasa mudah senang atas hal yang nggak muluk, maka berbahagia tidak terlalu sengoyo itu lagi untuk diusahakan because we've already got used to it.

Sama aja kayak pernikahan, yang juga perlu diusahakan dan dibiasakan. Baca tulisan Adit yang ini: Diari Papi Ubii #32: Habit Of The Defeatist

Bahagia saya nggak harus dengan pencapaian, dapet award, bisa beli barang mahal, dan liburan ke luar negeri. Ya, tentu hal-hal barusan bikin saya bahagia.

Tapi saya juga bisa sekali bahagia atas hal remeh dan receh, sereceh bisa bikin Indomie malem-malem sambil Netflix-an dan anak-anak nggak ngelilir. Life is already complicated, so don't complicate it more. Make it simple. Make your happiness reachable by simple things.

Dulu pernah nulis tentang bahagia buat ibu-ibu, kayaknya masih relate. Baca di sini ya: Dear Ibu-Ibu Yang Kadang Lupa Bahagia

Ngomong gini gampang ya. Iya, soalnya saat ini hidup saya lagi baik-baik aja. Besok-besok pas ada breakdown ya pasti nggak semudah itu bilang hal macam ini hahaha.

What do you think? Feel free to share your thoughts yah.




Love,





6 comments:

  1. "Temen bobok" hahaha...
    selalu suka baca tulisan Adit, ceplas ceplos. Lucuk!

    ReplyDelete
  2. Sepertinya setiap orang pernah mengalami fase itu. Punya banyak rencana, namun takdir memberikan realita yang sesungguhnya. Kalau menyangkal dengan “ah seandainya aku dulu begini, begitu” bikin stres doang. Salah salah bisa depresi berat. Emang ada baiknya ambil jeda, tarik dan buang nafas lalu bilang “okay, ini pasti ada hikmahnya. Tuhan punya caraNya sendiri untuk membahagiakan ciptaanNya, tinggal peka aja nih dimana letak hikmah dan bahagianya”.

    Terimakasih sharingnya, mami dan papi ubii 🤗.

    ReplyDelete
  3. 1. Life is already complicated, so don't complicate it more. Make it simple. Make your happiness reachable by simple things
    2. don’t overthink things. Focus on where you are now, what you are now. Don’t think on “how it’s gonna be?” Be present. Dengan awareness seperti ini, kita baru bisa berguna.

    Betul banget, intinya enggak usah kebanyakan drama...menang awards kagak, yang ada puyeng sendiri. wkwk. Mendingan jalani, ikhlasin, pasti selalu ada hikmahnya. TFS mami dan papi Ubii, bikin makin semangat. Hehe

    ReplyDelete
  4. Lagi kepikiran banget banyak hal terkait angan-angan dan kebahagiaan belakangan, then I found this. Terima kasih, Ci Ges dan Mas Adit, semoga sehat, baik, dan bahagia selalu��

    ReplyDelete
  5. Hm,,,, jadi tujuan hidup bukan lah Tujuan, tapi kebergunaan. Hmmmm,,, sungguh menginspirasi. Thanks for sharing :D

    ReplyDelete
  6. kemarin2 aku sempet terlalu ngoyooo banget ngejar segala target, yg ujung2nya bikin stres. boro2 bahagia.. pas bonusnya datangpun, rasa happy yg muncul juga biasa aja. ga seperti yg aku bayangin kalo seandainya semua target tercapai dan bonus masuk. di situ jd mikir, target seperti ini ga sehat sih. terlalu yakin, terlalu ngoyo, terlalu pgn bikin bos bangga dan seneng. tapi ternyata ga sehat di akunya. berantem ama suami ujung2nya krn pulang malam trus :p.

    skr aku lbh realistis. target boleh, ga ada yg salah ama itu. tanpa target aku ngerasa hidupku ga terarah. tp kali ini, bikin semeasurable mungkin, dan ga terlalu berat :p. udahlaah, biarkan sesekali target kita ga terlalu gede, tp achievable dan tidak mengganggu stabilitas rumah tangga :D. krn ujung2nya, kebahagiaan yg aku rasain, toh datang dari keluarga juga :)

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^