Friday, August 11, 2017

Diari Papi Ubii #21: I Found You

Saya udah sering nulis postingan blog dengan label marriage. Gimana saya bisa ended up with Adit. Apa yang saya suka dari dia. Lalala. Udah sering saya tulis. You guys have had the idea of how I reacted when I first knew that I was pregnant. 


Adit sebagai laki-laki, gimana reaksinya saat itu? Apa yang dia suka dari saya? Ehem. Hahaha. Jadi kali ini flash back lagi, tapi dari kacamata Adit.

Adit:

27 Desember 2013.
General discreet: Tulisan berikut akan terasa cheesy, maka dari itu bagi individu-individu yang alergi terhadap cerita romansa, silakan tutup postingan ini. Pula, mungkin cara kami memulai semua ini bukanlah suatu hal yang patut dicontoh.

Saya dan Grace dipertemukan oleh kampus kami, tahun 2007 dimana saya sudah mengecap 4 semester kuliah di fakultas sastra jurusan sastra Inggris. Grace saat itu adalah mahasiswa baru, dan saya ketua seksi dokumentasi panitia makrab fakultas. Sekilas pandang pada kesan pertama, saya sempet mbatin, Grace ini semacam brainless attention-seeking whore pada umumnya.

Memang terdengar shallow karena saya menilai itu semua dari penampilan doi – sering memakai pakaian yang seksi, memakai bando and whatnot. Jujur saja, saya kurang suka dengan cewek tipe Barbie seperti ini. Pada saat itu kami jarang sekali bertegur sapa. Mungkin hanya sekedar say hi jika sedang berpapasan di koridor kampus, atau saling add friend di Friendster – tidak ada movement berarti. Sampai saat dimana semester ganjil berakhir, saya tidak sengaja menguping pembicaraan teman sekelas Grace di kantin. Salah satu dari mereka bilang, “Eh tau nggak sih, Grace itu dapet nilai IPK tertinggi lho dari seluruh angkatan kita! Nggak nyangka, ya? Padahal dandanan nya kayak gitu.”


Dibuatlah saya melongo mendengarkan pembicaraan mereka. That brainless attention-seeking whore was the brightest student among the entire students of her batch! Seketika penilaian saya pada Grace berubah total. Bagi saya, intelegensia mengalahkan segalanya. Nerd girl is sexy. Nerd girl with bold attitude is beyond sexiness. Kemudian, shallow judgment saya berubah menjadi respect. Secara tidak sadar saya sering memperhatikan doi, baik sewaktu di kantin maupun pas doi lewat – saya langsung colek-colek teman saya dan bilang, “Eh lihat tuh ada Grace lewat.”

Mulai saat itu saya jadi penasaran sama doi. Saya ubek-ubek profil Friendster-nya, dan membaca entri blognya satu persatu. Dari situ, saya tahu kalau doi adalah seorang pemuja kebebasan dari post dia yang mengkritsi patokan kesopanan dalam berpakaian di Indonesia. Sedikit-sedikit saya tebar pesona dengan cara meninggalkan komentar di blog doi – lalu doi membalas, dan percakapan kami berlanjut ke dunia nyata. Saya menemukan diri saya sendiri terlibat dalam percakapan yang intens dan mengasyikkan bersama doi. Kami bisa berbicara tentang apa saja, tapi seringkali kita ngobrol soal kuliah dan hal remeh-temeh lainnya.

Karena memang dari dulu saya adalah tipe orang yang selalu menunggu untuk “sinyal lampu hijau” tanpa berusaha memulainya, hubungan saya dan Grace ya mentok sampai situ saja – sekedar tegur sapa, saling meninggalkan komentar di blog, dan sebagainya. Tidak lebih. Sampai pada saatnya saya berpacaran dengan orang lain, begitu pula dengan doi. Hubungan kami tidak se-intens dulu mengingat kami sibuk dengan pacar kami masing-masing.

Baca: The Untold Story About Me And My Husband

Time went by…

Saya lulus dari kampus, kemudian bekerja sambil melanjutkan kuliah ke jenjang S2 – melanjutkan hidup. Tidak ada further contact yang berarti antara kami berdua. Sampai suatu pagi saya mendengar Grace sukses menaklukan meja sidang pendadaran. Saya memberinya ucapan selamat via BBM. Setelah basa-basi, pembicaraan kami berlanjut dengan janji ketemuan. Di malam yang telah kami sepakati, saya jemput doi lalu kami makan di restoran cepat saji. Perasaan saya tidak karuan malam itu. Baru malam itu saya berdekatan ngobrol intens dengan seorang wanita yang saya kagumi 4 tahun lamanya. Walaupun disertai negasi dan perdebatan panjang, namun kami bisa berbicara tentang apa saja -- konsep maskulinitas di novel The Kite Runner, pengaruh pelabelan yang dilakukan masyarakat Jepang paska Perang Dunia II terhadap karakter utama karya sastra terakhirnya Osamu Dazai, manifestasi ketuhanan pada agama Buddhisme, sampai topik-topik pribadi seperti kisah cinta, keluarga, dan tato.

Baca: New Tattoo!

Saya juga baru tahu Grace sudah direkrut oleh perusahaan tambang batubara di Sangatta, Kalimantan Timur, untuk menjadi English instructor, dan akan berangkat meninggalkan Yogyakarta dalam kurun waktu kurang dari sebulan. Berbicara dengan Grace terasa seperti berbicara pada sahabat lama saya yang sudah lama tidak bersua. Saya tidak perlu ice breaker karena selalu ada saja bahan untuk didiskusikan. Seolah-olah badai kosmik minor dan semifinal Asian Cup malam itu menjadi hal nomor tujuhbelas sekian untuk dipedulikan. Saya tergila-gila dengan pesonanya.
Tak terasa malam sudah berganti menjadi pagi. Kami lalu mencari tempat buat beristirahat karena kami berdua malas sekali pulang ke rumah masing-masing. Kami masih ingin terus ngobrol. 

Menjelang kepergiannya ke Sangatta, Grace memberikan saya kenangan yang membuat saya senyum-senyum sendiri saat mengingatnya. Dia kemudian pergi. Saya melanjutkan hidup.


...

Saya masih ingat tiap detil di hari itu: hari dimana Grace meminta saya untuk menelepon. Hari Jumat, saya baru saja selesai mengkuti ujian mata kuliah Fotografi Fraktal Neon I di ruang kuliah utama kampus Pascasarjana ISI. Ada SMS masuk dari Grace yang intinya memohon saya untuk menelepon dengan segera. Setelah menyelesaikan makan siang saya, saya menelepon doi.

"Halo, Grace, ada apa?"

Dua kalimat berikutnya yang terlontar dari Grace akan mengubah hidup saya untuk selamanya.

"I'm pregnant..."
Saya hanya terdiam. Bingung mau bereaksi kayak gimana. Kami berdua sempat terdiam belasan menit, nggak tahu harus gimana. Pada saat ada wacana untuk menikah, kami berdua tertawa. Menikah? Kami berdua pada saat itu tidak percaya dengan konsep pernikahan. Bagi kami pernikahan hanyalah sebuah institusi, tidak lebih.

Baca: Pernikahan Tidak Semudah Bilang 'I Do'

Di mulut saya boleh tertawa. Namun hati saya hancur nggak karuan. Saya membayangkan reaksi keluarga saya. Membayangkan reaksinya saja saya sudah pusing sendiri.


Setelah berkonsultasi dengan teman-teman dekat saya, saya mengambil satu keputusan besar -- menikahi Grace. Alasannya simpel, saya tidak ingin jabang bayi yang ada di kandungan Grace menanggung semua kebodohan kami dan tumbuh tanpa figur seorang ayah. Saya diberi cinta dan perhatian yang berlebih oleh orangtua saya. Kenapa saya tidak bisa memberikan hal yang sama kepada anak saya sendiri? Salah satu sahabat saya bilang, "Kalau niatmu baik, pasti ada jalan."

Dari pihak Grace, doi lebih menderita. Grace terpaksa keluar dari perusahaan tempat dia bekerja. Saat saya jemput Grace di bandara, doi terlihat sangat pucat dan kelelahan. Kemudian, karena dilandasi oleh argumen yang sama (demi jabang bayi), kami berdua membulatkan tekad untuk menikah. Peduli setan dengan cinta satu sama lain. Kami melangsungkan pernikahan tanpa ada sesuatu yang bisa dikenang. Tidak ada rangkaian bunga, tidak ada pengiring, bahkan tidak ada fotografer. Pernikahan kami hanya terekam di kenangan, tergilas waktu, tidak sempat diabadikan oleh rana dan lensa.

Sesaat setelah menikah, saya masih sering berpikir, apakah ini jalan yang benar untuk ditempuh? Menikah dan mempersiapkan kelahiran butuh biaya yang tidak sedikit. Saya harus bekerja. Otomatis saya harus meninggalkan kuliah S2 saya di tengah jalan. Tawaran residensi di Jepang juga harus saya tolak padahal saya sangat menginginkan untuk ikut dalam program ini.


Saya terus mengasihani diri sendiri, menghitung apa saja yang telah saya korbankan.

Namun, saya tidak menganggap apa yang masih saya punyai: Grace. Dipikir-pikir, dia juga sudah berkorban banyak. Di usianya yang baru 22 tahun, dia harus kehilangan pekerjaan impian. Padahal dia sangat berpotensi menikmati perjalanan jenjang karir mengingat dia lulus kuliah dengan predikat summa cum laude, dan masih banyak lagi hal-hal lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

I tried to embrace her since then. She would be a mother of my child soon, anyway. Karena kami punya tujuan yang sama, kami jadi lebih mudah mengatur segala sesuatunya. Saya jadi berusaha untuk mencintai dia. Kosmos di kehidupan saya bekerja dengan sungguh lucu. Saya tidak pernah jatuh cinta pada istri saya. Namun, sejak awal saya sudah diharuskan membangun cinta bersamanya. Ini bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Kami benar-benar seperti dua insan dari dua dunia yang berbeda. Kami punya selera yang sangat bertolak belakang, baik dari musik, buku, film, dan lain sebagainya. Pada awalnya saya merasa terganggu. Namun, semakin hari kami menyadari bahwa kami saling mengisi. Perbedaan sudut pandang membuat suatu masalah menjadi menarik, tidak membosankan. Dan sejak menikah sampai sekarang, saya tidak pernah bosan berbincang dengan dia.

Baca: Diari Papi Ubii #19 - Memangnya Suami Perlu Diimbangi?

Sedikit menjengkelkan memang, jika kita diharuskan untuk mau mengerti kemauan seseorang tanpa diberi janji akan gantian dimengerti di lain waktu. Tapi, itulah pernikahan. It's so great to find that one special person you want to annoy for the rest of your life, Rita Rudner said. Saya harus menerapkan beribu adjustment pada diri saya agar bisa klik dengan doi. Kami sama-sama berjuang untuk menjadi pribadi yang lebih menyenangkan untuk satu sama lain.

Lambat laun, navigasi cruise kami berubah, dari "demi jabang bayi" menjadi "demi kita."

Satu hal yang tidak akan pernah saya lupakan, Grace mengajari saya untuk tidak bergantung pada sesuatu. She has changed me in so many ways, and I am forever indebted to her for it. Grace merubah saya menjadi seseorang yang lebih baik. 25 tahun saya terbuai dengan kenyamanan yang saya dapat dari orangtua, dan dari Grace dan keadaan yang menyatukan kamilah, saya mendapat wake-up call untuk berusaha mandiri dan bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu -- baik materi maupun immateri, termasuk stabilitas hubungan. Harus saya akui, hubungan kami masih jauh dari sempurna. Masih banyak tambal-sulam yang harus dilakukan. Tapi, kami masih mau berusaha untuk melakukannya.

Demi kita. Yang lebih baik.

***

9 Agustus 2017

Hampir 4 tahun setelah saya menulis I Found You di atas.

Kalau sekarang saya ditanya kenapa masih ingin mempertahankan semua ini, karena, apa yang kami punya menurut saya layak untuk dipertahankan. As simple as that.

Baca: Everyone Has Their Own Battle

Setelah mendengar banyak cerita tentang masalah yang dihadapi pasangan lain dalam berumah tangga, saya menjadi sangat bersyukur punya Grace sebagai istri yang mau dan mampu mengakomodasi kemauan-kemauan saya sebagai pribadi, di luar peran saya sebagai ayah dan suami. Selain itu, buah hati kami, Ubii, juga menjadi pertimbangan untuk mempertahankan hubungan saya dengan Grace. Bukannya saya lebih sayang Ubii daripada Aiden.

Baca: Diari Papi Ubii #14 - Dear Aiden (Ode To My Son)

But Ubii has been through a lot. She has been dealing with enough challenges. Tidak adil untuk Ubii kalau harus menghadapi tantangan baru seperti orangtua nya tidak harmonis.

Baca: Diari Papi Ubii #3 - Punya Anak Berkebutuhan Khusus, Lemesin Aja Shay!

I'm just trying to cherish what I have right now. So that's why I want to keep being Grace's husband in this thing people call by marriage.

***
Grace:

Yes, ini bukan tulisan baru Adit.

Adit nulis ini sudah 2013, tapi dipublish di blog nya.

Sekarang entry ini di blog Adit sudah dihapus. Dipindah ke sini, dengan beberapa pemotongan dan penyesuaian tentunya hahaha. Beberapa parts yang dipotong itu permintaan Adit. Biar nggak ada yang sakit hati aja bacanya. Hopefully.

Yang baru cuman yang bagian ending doang.

Adit lagi banyak kerjaan di kantor, jadi dia sedang nggak mood nulis panjang-panjang kayak biasanya. Jangan dipaksa dia harus nulis panjang, nanti malah makin emoh. LOL.

So, yeah, we're still holding on. Because it's all worth it.




Love,





17 comments:

  1. Aku suka banget gaya tulisan adit.. Ngalir banget. Ga malu untuk nunjukin cinta.. 😊
    Semoga selalu langgeng ya gesi adit. Sehat selalu semuanya❤

    ReplyDelete
  2. Please buat film dari cerita kalian, please...

    Very inspiring! Banyak pasangan yang harus belajar dari perjuangan kalian.

    Cinta itu bukan didapatkan secara gratis, tapi memang harus diperjuangkan.

    Chessy tapi bener banget.

    ReplyDelete
  3. aku udah pernah baca tulisan papi ubii tahun lalu di blognya, ehehe, pantes kaya ngerasa pernah baca. sehat selalu buat keluarga Ka Gesi, supaya bisa terus berbagi banyak cerita.

    ReplyDelete
  4. Yeaaayy diari papi ubii muncul lagii....tau tak gaya nulis kalian tuh samaaa blak2an dan aku sukaaaaaa...tulisan2 jujur macem gini...adit gesi terus berkarya yaaaa..love love loveeee

    ReplyDelete
  5. Wooow
    Asli, gua hampir nangis loh bacanya
    #maafkan saya yang begitu melankolis..

    Sebenernya,,, gua kagum banget sma kalian berdua yang memutuskan untuk mempertahankan semua ini..
    Diluar sana banyak pernikahan yang katanya "dilandasi cinta", tapi ga dipertahankan..

    Tulisannya juga ga dilebih-lebihkan..
    ga ada bumbu..
    hanya kejujuran..
    I think that's what touches me..

    Wish all the best for you both..
    :D

    ReplyDelete
  6. I am in tears. Cara Adit menggambarkan cintanya tuh sungguh bagus. I hope you two keep going strong in your marriage. :')

    ReplyDelete
  7. Kalian berdua sama2 pinter nulis, sama2 asyik utk dibaca tulisannya.. :)

    Dan salut kalian ttp bisa berfikir dewasa dengan memilih nikah demi si baby.. Ga banyak yg punya pikiran seperti itu. Biasanya hanya mau jalan pintas...

    ReplyDelete
  8. Bacanya bikin speechless. Semoga Adit-Gesi selalu diberi sehat dan sejahtera, makin semangat untuk berkarya. Cheers up!

    ReplyDelete
  9. Gesi dan Adit semoga langgeng ya. Aku salut sama keputusan awal kalian menikah. Muach.. peluk gesiii

    ReplyDelete
  10. Pertama baca tulisan mba grace tentang "aku pernah menjadi karin novelda" dan waktu itu aq juga lagi hamil,semenjak tu tiap malem kayak pr baca novel rasanya baca blog mba grace dari awal sampe akhir sampe ke blog ubi sama mas adit.aq juga pernah baca artikel ini.tapi mba graceee aq suka bangetsama mba grace,inspiratif banget artikel artikelnya mba.Dari aq hamil sampe skrng anak udaj 16 bulan aq kalo apa apa cari di blog mba grace dan selalu mantengin tiap hari ada update terbatu apa gak hihi

    ReplyDelete
  11. Langgeng slalu mba ges dan adit

    ReplyDelete
  12. 😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒😒

    ReplyDelete
  13. Keep going setrongggg ya you both!

    ReplyDelete
  14. nggak nyangka banyak yang Mami ubii korbankan ya termasuk karir etc, kukira aku aja yg lebay berkorban ini itu, ternyata ada yang lebih dari aku. bahagia selamanya ya mami ubii dan papi ubii:)

    ReplyDelete
  15. Papi Ubii memang dabest deh, semoga pernikahan mami sama papi Ubii langgeng terus yaaa :)

    www.extraodiary.com

    ReplyDelete
  16. μ—λ³Όλ£¨μ…˜μ ‘μ† λ¨ΉνŠ€κ²€μ¦ μ•ˆμ „λ…Έλ¦¬ν„° go

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^