Tuesday, July 4, 2017

Everyone Has Their Own Battle

Everyone has their own battle. Dari dulu saya setuju banget sama ucapan ini. Sekarang, setelah makin banyak punya teman dengan berbagai cerita, rasanya level setuju saya bertambah drastis. Kata temen-temen yang lumayan dekat, saya punya aura curhatable. Makanya banyak yang curhat sama saya.


Curhat nya bukan sekedar lagi kezel karena abis berantem sama suami. Tapi sampai ke akar-akar kenapa berantem terus, kenapa deep down inside sebel sama suami. Ya things like that. You've got the picture. Nggak cuman perkara suami. Ya anak, mertua, keluarga besar, masa lalu, lalala deh. And I've learned one thing, bahwa ujian manusia itu macem-macem banget.

Jadi 'tempat sampah' yang menampung cerita itu ada enak dan nggak enak nya.

Nggak enak nya dulu, ya. 

πŸ˜” Kadang saya rikuh sendiri karena (menurut saya) hal yang diceritakan itu confidential banget. Kayak merasa nggak enak gitu loh diceritain hal se-deep itu.

πŸ˜” Sometimes kaget karena kok seterbuka itu padahal belum pernah ketemu sama sekali. But that's ok.

πŸ˜” Pernah juga jadi ngerasa nggak enak karena cerita nya panjang banget dan saya nggak sempet-sempet mau bales nya. Karena curhatan nya panjang, cuman untuk nyelesaiin baca aja makan waktu. Belum mikir mau balas apa. Menimbang-nimbang kata-kata yang pas, biar nggak terkesan judge atau, worse, bikin makin down.

πŸ˜” Or, I just simply don't know what to reply jadi akhirnya makin ketunda-tunda terus mau balas.


Enak nya juga ada.

πŸ’– Kayak yang saya sebut di atas tadi. Mata saya jadi makin terbuka bahwa bener yah everyone has their own battle. Bahwa ujian yang diberikan ke kita itu rasa-rasa nya memang sesuai sama porsi dan kemampuan kita menurut Gusti. Bahwa saya nggak punya hak untuk judge sebuah keputusan seseorang dalam menyikapi suatu kondisi because I'm not in their shoes.


πŸ’– Dan, tentu saja, jadi kayak diingatkan untuk mencari-cari hal yang bisa disyukuri. Karena hal-hal yang mungkin buat saya terjadi setiap hari bisa saja adalah hal yang sangat dinantikan atau diharapkan sama orang lain tapi mereka belum bisa menikmati itu.

πŸ’– In simple words, reminder untuk not taking things for granted.

Baca: Dear Ibu-Ibu Yang Kadang Lupa Bahagia

Kapan gitu yah, ada teman di Facebook yang ngepost kata-kata tentang variasi ujian ini.


Baca: Drama On My Facebook Timeline

And I just couldn't agree more.

πŸ‘‰πŸ» (NOTE)! πŸ‘ˆπŸ»

Gambar quote di atas bukan bikinan saya, ya. Saya dapat dari share-share an di Facebook. Ternyata pengunggah asli nya adalah akun IG @babyhijaber - Thank you yang udah kasih tahu di comment 😘

Saya adalah salah satu manusia yang diuji dengan punya putri berkebutuhan khusus. I'm not alone. Banyak juga yang punya ujian serupa.

Baca: Diari Papi Ubii #1 - Through Those Darkest Hours, I Found Home

Tapi ternyata bisa di-break down lagi tantangan-tantangan nya.

πŸ’ͺ Ada yang ujian nya berupa minim nya dana untuk menerapikan anak nya.

πŸ’ͺ Kadang nggak semua urusan kesehatan itu bisa kebantu pakai BPJS soalnya.

πŸ’ͺ Ada yang bisa pakai BPJS, tapi terapi nya cuman bisa dapet sekali satu minggu padahal sebenernya anak nya butuh lebih dari sekali.

πŸ’ͺ Ada yang ujian nya berupa nggak punya kendaraan roda empat padahal badan anak nya udah gede banget, kaku, dan masih harus digendong pakai selendang. Mungkin susah ya bayangin anak cerebral palsy yang badan nya kaku kalau dibawa naik motor. Nggak gampang.

πŸ’ͺ Ada juga yang kendaraan roda dua juga nggak punya, jadi harus ke mana-mana pakai angkutan umum, yang mana akan lebih challenging kalau anak berkebutuhan khusus nya kayak yang sebut di atas.

πŸ’ͺ Ada yang ujian nya dengan rumah nya cukup pelosok sehingga susah menemukan dokter dan terapis yang beneran capable handle anak-anak padahal sebenernya mampu banget. Ya tapi mau semampu apa pun kalau nggak ada tenaga kesehatan yang capable kan juga tetap challenging kan.

πŸ’ͺ Ada yang ujian nya dengan keluarga besar belum kunjung bisa menerima keberadaan cucu/keponakan yang berkebutuhan khusus jadi dibanding-bandingin terus sama anak yang sehat.

πŸ’ͺ Ada yang ujian nya tetangga nya nyinyir melulu.

πŸ’ͺ Atau ada juga yang jadi berantem terus sama suami karena sama-sama capek mengurus anak yang kondisi nya spesial.

πŸ’ͺ Ada juga yang kebingungan cari sekolah karena di daerah nya belum ada sekolah bagus untuk anak berkebutuhan khusus padahal anak nya kognisi nya fine-fine aja dan bisa menangkap apa yang diajarkan.

And the list could just go on and on ...


Itu 'cuman' ujian-ujian untuk keluarga yang punya anak special needs. Kalau bahas ujian in general, ya pasti makin variatif.

πŸ’£ Yang suami main tangan, selingkuh, nggak mau bantu ngopeni anak-anak, nggak kasih izin untuk istri punya kegiatan di luar rumah, nggak mau diajak bahas masalah untuk cari solusi bersama, nggak pernah appreciate saat istri masakin, dandan, dan lain-lain.

πŸ’£ Yang orangtua atau mertua suka terlalu ikut campur, suka apa-apa dikritik, suka bandingin sama anak menantu yang lain, suka terlalu memanjakan anak kita padahal menurut kita itu kurang mendidik, maksa ngasih cucu nya bubur padahal cucu nya baru satu bulan, dan lain-lain.

Baca: Orangtua VS Kakek Nenek

πŸ’£ Yang atasan suka cari-cari kesalahan terus, suka suruh lembur terus like kerjaan dicari-cari terus biar ada, suka kasih kerjaan yang sebenernya bukan job desc kita melainkan job desc dia sendiri, lalala.

πŸ’£ Belum kalau ada ujian tidak terduga seperti ditipu orang, kena copet, dipalak, kendaraan diblaret, atau dimintain pulsa karena ayah ada di kantor polisi.

Yang terakhir becanda tapi kenapa nggak lucu zzz.


Orang-orang yang terlahir tampan dan cantik dan langsung nongol di tengah keluarga tajir melintir mungkin ujian nya nggak kayak ujian yang kita hadapi, yah. Tapi ya pasti tetep punya ujian lah mereka-mereka ini. Pasti. Harus nya sih. Hahaha.

Inti nya, lagi-lagi, tiap orang punya masalah nya masing-masing.

Itu aja diulang-ulang terus karena kesimpulan nya emang itu doang.

Kadang mungkin kita pernah membatin, "Aku pengin bertukar peran sama si A, kayaknya aku bisa deh menghadapi ujian dia ngerawat anak berkebutuhan khusus asal akur sama suami."

Itu ada yang pernah ngucapin ke saya loh beneran. Something like that karena hubungan dia dan suami nya nggak akur melulu. Jadi dia pernah nyeletuk, "Mendingan aku punya anak kayak Ubii tapi mesra sama suami daripada punya anak sehat tapi suami jahatin aku terus."

Well, main what-if untuk sesuatu yang nggak bisa kita ubah itu mendingan jangan. Because we can end up being more desperate and sad.

Mengasuh anak berkebutuhan khusus itu seperti Ubii itu nggak gampang loh, beneran. Mungkin kadang terlihat mudah karena foto-foto Ubii beserta keseharian dan terapi nya keliatan happy. Padahal adegan nangis nya banyak. Adegan Ubii yang nangis, atau saya yang nangis.

Baca: Kecurigaan Autisme Pada Ubii

Nggak ditampilkan aja karena kalau Ubii nangis itu kita most of the time pasti sibuk cari cara buat nenangin. Mana kepikiran mau foto-foto. Beda sama Aiden. Kalau Aiden nangis cuman nangis bombay merajuk mah ya kadang lucu jadi kepengin diabadikan.

Saya yang nangis lalu foto-foto lebih nggak mungkin lagi karena ... NGAPAIN. Hahaha.


Kadang kita ingin bertukar peran dengan orang lain karena merasa ujian orang itu tampak mudah. Tapi ketika kita dihadapkan pada ujian serupa, apa sudah pasti kita bisa melewati? Nggak ada jaminan nya, kan?

Sama juga kayak saya dulu pernah berandai-andai. Nggak apa-apa deh nggak punya rumah, nggak punya kendaraan, or worse, jadi single parent asal dikaruniai anak sehat walafiat. Setelah cukup waras, lalu saya mikir, "Ah, belum tentu aku akan stop mengeluh kalau emang itu bisa terjadi."

Karena sungguh lah, cari bahan buat dikeluhin mah mudah sekali.

Jadi at the end itu kembali pada pilihan kita.

Mau cari bahan buat dikeluhin atau disyukuri?

Trust me, sebenernya cari hal-hal yang bisa bikin kita bersyukur itu juga gampang. Mulai dengan mensyukuri hal-hal yang kecil dan sederhana.

Baca: Bahagia Bisa Saja Sederhana

Kalau bisa begitu, jalanin hidup bakal lebih enak. Beneran hidup yang hidup. Nggak cuman sekedar hidup yang autopilot untuk kerja cari uang/ngurus anak, pulang, makan, tidur, and repeat.

So let's be grateful of our lives and the challenges within. Hidup lah dengan bahagia. Cherish every moment. Mudah lah menertawakan hal-hal di sekitar kita.


And because everyone has their own battle, let's not judge and let's be kind to everyone!



Love,





12 comments:

  1. Dulu, duluuuuuuu banget, pernah juga sih, Mbak, aku punya pikiran pengen deh jadi A, sudah kaya, pinter, bajunya bagus-bagus, dsb.

    Pas ada teman yg keterima jadi PNS, andai saja ya aku yg jadi dia. Eh, tahunya suaminya main tangan. Lah dalah. Hahahaha.

    Aku masih GTT gini, suamiku sayang banget, sabar kebangetan sama aku. Alhamdulillah banget. Nggak mau lagi iri2an sama hidup orang.

    ReplyDelete
  2. niceeeee mbaa...
    aku juga beberapa kali mikir... kok si A enak ya. suaminya mapan, sudah ada rumah, hidupnya kayaknya mulus bangettt. Tapi saya akhirnya sadar, dia pasti punya ujian hidupnya sendiri, dan saya gak tau.
    salah satu quote yang nempel banget di otak saya tu: hidup yang kita keluhkan, bisa jadi adalah hidup yang orang lain idamkan.
    So, marikita bersyukur :)

    ReplyDelete
  3. setuju...let's not judge and let's be kind to everyone.
    tiap orang punya kesusahan dan kebahagiaannya sendiri. nggak perlu banding-bandingin hidup kita sama orang lain.
    bersyukur dan berbahagialah karena kita lebih baik dari hari kemarin, bukan karena lebih baik dari orang lain :)

    ReplyDelete
  4. Ya mam Ges aku pernah banget ada di titik what if what if but as the time goes asekdah mulai bisa is mahamin ini itu dan buka mata agar lebih bersyukur 😊

    ReplyDelete
  5. Jadi ingat cerita pengasuh baby saya yang bilang enak saya punya suami yang welcome dan mau bantu urus rumah dan anak, sedangkan suaminya nggak. Padahal saya malah kagum sama bude pengasuh yang pinter nabung jadi bisa punya rumah dan kendaraan tanpa nyicil atau hutang ke bank.

    Ada banyak cara Tuhan mengajarkan kita untuk bersyukur ^^

    Btw, mami ubii itu gambar quotes ujiannya dari selebgram @babyhijaber ^^

    ReplyDelete
  6. Makanya aku suka sebel sama orang yang ngomong, "dia kan kerjanya enak, gajinya gede, bla bla bla...". Padahal kan di balik itu kita gak pernah tau ya. Emang kalo ngomong doang itu paling gampang.

    ReplyDelete
  7. Percaya ato gak, blog ini jadi tempat favorit saya untuk di kunjungi dan di baca :)
    Suka banget ama semua tulisannya, gak muna..apa adanya :)

    Jadi.. pesannya nyampe banget...

    Dan dari blog ini juga saya banyak belajar kalau, memang setiap orang punya tantangan tersendiri dalam kehidupannya, karena Allah memang Maha Adil :)

    ReplyDelete
  8. Sukaaa sama pembahasan nya
    Namanya manusia ya,sering ngerasa iri
    Kok si A punya itu, kok anak si B udah bisa gini, kok si C bisa liburan trs
    Tp bener bgt, cari sesuatu buat dikeluhkan itu mudah, pdhl byk jg yg bisa disyukurin
    Dari hal kecil aja udah bisa bikin happy bgt dan bersyukur

    ReplyDelete
  9. Adem bacanya ges.. Reminder jg ke aku, untuk ga ngeluh trs kalo udh sampe rumah hanya krn rumah berantakan ato anak2 ribut ga ketulungan.. Pdhl, itu ga ada apa2nya kalo dibandingin ujian org lain -_- .

    ReplyDelete
  10. sumprit, ini topik yang selalu ada dikepala gue tiap hari. skrg gue jadi menikmati apa yang diberi ALLAH yang slalu pas dan tepat waktu. Gue dulu suka ngiri enak ya si A enak si B bla bla.. tapi makin kesini ternyata orang2 yang gue iri hidupnya gak selalu lebih baik dari gue. mungkin kalo type hape, aku sama mami ubii masih satu series, karna jabaran tulisannya mirip apa yang gue pikirin. wkwkwkwk.... cuman kalo mami ubii lebih berbakat dan lebih banyak kelebihannya hahahahaha (hahhh ngomong apak sih)

    ReplyDelete
  11. So let's be grateful of our lives and the challenges within. Hidup lah dengan bahagia. Cherish every moment. Mudah lah menertawakan hal-hal di sekitar kita.

    Ini menampar sekali. Hahaha. Maklum hidupku gitu2 aja sampe lupa menikmati hidup yg sebenar2nya. Terlalu perfectsionis dan terlalu serius.. Aaaa.. Aku jd hrus belajar menertawakan byk hal agar lebih bahagiaπŸ˜†. Thx gesi.

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^