Wednesday, July 26, 2017

Depression Is Not A F*cking Joke

Belakangan ini, ada beberapa cerita tentang bunuh diri bersliweran. Dari public figure ngetop Chester Bennington dan yang bukan public figure seperti kakak beradik di Bandung. Ada juga Oka Mahendra Putra, yang walaupun tidak bunuh diri, tapi sempat santer diisukan iya. And they all three shared one thing in common. Mereka diduga kuat mengalami depresi.


Beda nya, Chester dan kakak beradik Bandung mengalami depresi dan beranggapan kematian adalah solusi sehingga mereka sendiri yang memilih menjemput maut. Sedangkan Oka, depresi membuat semangatnya menurun drastis dan fisiknya melemah sehingga akhirnya meninggal. Semuanya bikin sedih. Kalau kita masih punya empati.

Nahla juga abis publish postingan tentang ini. Bagus banget. You guys should read it ya.


Mirisnya, kadar empati yang baik bukan milik semua orang. Banyak yang malah jadi ngenyek, menghujat, dan menghakimi. Celetukan-celetukan semacam,

"Itu lah kalau namanya orang kurang beriman"
"Nggak pernah berdoa kali ya tu orang"
"Yaelah bunuh diri, kok nggak dilive-in sekalian lagi kayak bapak-bapak yang di FB dulu"
"Udah pasti masuknya neraka itu mah"
"Apa nggak kasihan ya sama keluarga"
"Otaknya di mana sih tu orang malah milih bundir"
"Gila tu orang!"
"Katanya bunuh diri karena hutang tapi kok dimakamkan di San Diego Hills"

dan semacamnya, banyak banget saya temukan.

Sedih, bok. Mahal amat ya empati zaman sekarang?


I'm sad seeing many people playing God. Menghakimi ini itu. Melabeli orang lain kurang atau bahkan tidak beriman. Astaga dunia. I'm really running out of words to describe my feelings.

I'm sad, disgusted, upset, mad, angry, desperate, and devastated to see that kind of comments.

(Udah tahu bikin sedih, tapi dibaca juga, ckckck)

To be honest, awalnya saya juga susah untuk memahami cerita Oka. Kok bisa depresi sampai nggak bisa dan nggak mau makan? Kok bisa nggak lapar? Kok bisa mengurung diri di rumah terus? 

Jawaban nya, ya bisa. Karena itu depresi.

Saya memang awalnya nggak bisa memahami korelasi nya. Tapi ya nggak kepikiran deh untuk menghujat segala rupa, baik di sosial media atau di dalam hati. Because who the hell I am to judge? I'm not a saint! And neither are you!

😡😡😡

Tapi tiba-tiba saya ingat sesuatu. Sesuatu yang selama ini agak terlupakan karena saya nggak pernah tahu cerita lengkap nya dan karena saat itu terjadi, saya masih kecil sehingga nggak beneran paham.

I have a relative who died because of depression. 

Itu udah lama banget. Saya masih SD sekitar kelas 5 saat itu. Ya, anak SD kelas 5 nggak kecil-kecil amat sih ya sebenernya. Tapi kayaknya anak SD kan belum ngerti apa itu depresi. So I just simply didn't know.

Anggota keluarga saya ini, biar gampang sebut saja Lili, yah.

Waktu saya balita sampai SD kelas 4-an, saya deket banget sama Lili. Beliau sering banget nemenin saya main, ajak saya jalan-jalan, dan nyuapin saya. Inget banget menu andalan Lili. Telor ceplok dikasih kecap, karena dia sama kayak saya, nggak bisa masak. Sama nasi putih hangat gitu, lalu disuapin pakai tangan. It was a nice memory.

Mulai kelas 5, Lili sudah agak jarang mengunjungi saya. I simply thought she was busy. That was it.

Beberapa kali Lili masuk ke rumah sakit. Saya nggak tahu pasti kenapa. Tapi seingat saya, ada kata insomnia disebut-sebut juga. Lili nggak bisa tidur sama sekali. And I didn't know why. Saya juga nggak ngerti masa orang bisa nggak bisa bobok. Sampai inget deh, saya pernah bilang ke beliau, "Lili, kalau mau bobok itu merem. Jangan melek terus." 

Logika anak kecil, kalau mau bobok ya merem.


Saya nggak tahu tepatnya berapa kali Lili masuk ke rumah sakit. Tapi saya ingat bahwa saya heran. Heran karena Lili nggak kayak orang sakit. Dalam bayangan saya semasa kecil, orang sakit di rumah sakit itu kan lemes dan memang ya sakit badan nya. Lili nggak. Badannya masih tampak baik-baik saja. Nggak kayak gambaran orang sakit di rumah sakit yang biasanya saya lihat dari TV.

Lupa yah kronologi nya. Tapi yang jelas setelah Lili sering sakit, beliau pernah tinggal di rumah saya. Saat itu udah beda aja rasanya. Lili yang dulu saya ingat itu orang yang sangat amat ceria banget. Full of spirit and optimism. Sering becanda, sering nyanyi-nyanyi lagu gereja, modis pun. Pakaian nya bagus-bagus. Sepatu nya trendy.

Waktu sempat tinggal di rumah saya itu ya udah beda aja. Dulu saya mikirnya, "Kok sekarang Lili jadi pendiam?" Lili juga kayak malas-malasan makan. Tapi saya kira Lili sedang diet aja kali ya, that time.

Baru sekarang setelah saya ingat-ingat lagi, saya jadi ngerti, bahwa saat itu semangat Lili sudah redup. Udah nggak semangat menjalani hidup.

😭😭😭

Ada satu kenangan yang selama ini kabur tentang Lili. Entah kenapa blur. Mungkin karena saya takut atau malas mengingat. Atau karena belum paham saat itu.

Suatu siang saya pernah disuruh Papa panggil Lili untuk ajak Lili makan siang. Saya tahu Lili ada di kamar, jadi saya mendekati kamar nya. Ternyata pintu nya nggak ditutup. Setengah nutup gitu deh, jadi saya masih bisa ngintip dalam kamar nya.

Yang saya lihat saat itu adalah Lili sedang duduk ndeprok di depan colokan listrik. Sambil tangan nya masuk-masukin kawat ke lubang colokan listrik. 

I wasn't sure of what she was doing. Tapi saya ingat, saya ngeri. Jadi saya mindik-mindik minggir, nggak jadi ajak Lili untuk makan siang. Saya juga nggak lapor ke Papa karena saya takut aja.

I don't know how to describe that feeling.

Now as I'm an adult, I'm wondering, "Was she trying to commit suicide?" Maksudnya apa nyolokin kawat ke lubang colokan listrik? Was she trying to electrify herself on purpose? 

Time went by, sempat juga Lili tinggal bersama keluarga saya yang lain di Surabaya. One day, I and my dad paid her a visit. Udah jauh makin pendiam, jauh makin redup, dan makin kurus. Dengar-dengar dari obrolan Papa dan saudara nya, kata mereka Lili nggak doyan makan.

Saat itu saya juga heran. Namanya anak kecil, pikiran saya cuman, "Kalo nggak doyan makanan rumah, kenapa nggak beli aja di restoran?" mengingat memang dulu nya Lili lumayan sering makan-makan di restoran sama saya.

And the rest was blur again. 

Suatu hari, saat saya sudah kelas 1 atau 2 SMP, saya diajak Papa ke Surabaya sekeluarga. Lili meninggal. I was shocked. Walaupun saya nggak beneran ngerti apa yang terjadi, I felt that it was too soon.


Saat melihat jenazah Lili sebelum peti ditutup, saya kaget bukan kepalang. Lili kurus banget. Kurus rus rus banget. Beda jauh banget sama sosok Lili saat masih sehat dan funky yang dulu saya kenal. 

Biasanya saya tahu orang bisa sekurus kering itu kalau ada sakit yang serius. Kanker misalnya. Lili tidak sakit seperti itu. No. Makanya dulu saya heran, kok bisa beliau jadi sekurus  itu padahal nggak sakit. 

Tapi dulu ya, cuma heran aja. Nobody told me what happened with her exactly. 

***

Now, knowing the news that Oka died out of depression, it all makes a perfect sense. News mentioned that Oka was struggling for two months. Makan nya sedikit sekali and finally his body couldn't bear it.

Now I can see how it's all connected.

Saat seseorang mengalami depresi, memang rasanya nggak punya semangat hidup. Panggilan alamiah seperti rasa lapar, haus, dan ngantuk mungkin jadi udah nggak terasa. Kalah sama beban psikis nya. Orang-orang seperti Lili dan Oka, mungkin cuman bisa ngerasa sedih dan resah sehingga rasa lapar jadi terabaikan.

Dulu saya juga sempat mengalami depresi. 


Thank God, support system saya sangat mendukung. Adit yang langsung ajak cari bantuan, dengan ke hipnoterapis. Awalnya saya nggak tahu itu depresi. Dari hasil sesi dengan hipnoterapis lah, saya baru tahu bahwa apa yang saya alami itu disebabkan oleh depresi.

Jadi, support system itu sangat amat penting. Support system itu kunci utama untuk orang-orang yang depresi bisa membaik.

Kalau ada orang di sekitar kalian yang mengalami depresi, please listen to them. Jangan ceramah bawa-bawa moral baik dan buruk. Jangan ceramah bawa-bawa Tuhan dan agama. It won't help them. Mereka butuh didengarkan dan disemangati bahwa hidup mereka masih teramat layak dan indah untuk dijalani. Mereka butuh diyakinkan that they're worth it. Mereka butuh percaya bahwa it's okay to start all over again.

JANGAN JUDGE for God's sake.

Kalau ternyata kamu lah yang saat ini mengalami depresi, I really wanna hug you. Mungkin masalah yang kita hadapi memang berbeda. Tapi saya juga pernah ngerasa nggak tahu harus apa, ngerasa mentok, dan ngerasa helpless. 


A word of advice, please get help.

Jangan sepelekan beban psikis yang kamu alami. Find a way to get help. Bisa 'sekedar' cari teman dekat yang mau mendengarkan dan tidak menghakimi. Atau bantuan profesional either dari psikolog, hipnoterapis, atau psikiater. 

I will never ever judge. But do trust me for this:

Ketika kelak kamu sudah bisa mengalahkan depresi kamu, kamu sudah berdamai dengan apa yang selama ini membebani kamu, kamu akan menjadi orang yang baru. Kamu akan bisa melihat banyak hal dengan lebih positif dan mencari hikmah di balik ujian. Kamu akan penuh dengan rasa syukur dan semangat hidup yang meletup-letup. Kamu akan jadi orang yang jauh lebih kuat. Dan mungkin akan bisa membantu orang lain juga yang butuh disemangati.

As the saying goes, "What doesn't kill you, makes you stronger."


I really wish you find your peace. I really hope you can get professional help if you need to.

Dan buat kamu, yang belum pernah merasakan depresi, yang hanya mendengar cerita-cerita depresi dan bunuh diri, please have more empathy! 

Please don't play God becase you're NOT!

Please don't make fun of it.

Depression is NOT a fucking joke!



Love,





18 comments:

  1. setuju Mamii... akupun yah, terkadang kalau curhat juga cuman pengen didengerin doang dan enggak menerima saran dan kritik. Didengerin dan diiyain ajah dech, udah lega. Dan yang selalu aku inget dari salah satu postingan blogmu : AKU MEMAAFKAN DIRIKU SENDIRI DAN ORANG-ORANG YANG MENYAKITIKU. Nulisnya, ngebatinnya gampang banget, tapi ngungkapinnya, aku butuh perjuangan dan sampai sekarang belum bisa loss ngomong kayak gitu.

    ReplyDelete
  2. hug Gesiii... aku kemarin sempat kena post power syndrome ges, alhamdulillah all iz well sekarang, kuncinya aku bisa menerima keadaan dan ikhlas serta dukungan dr support system emang benar-benar diperlukan banget. Pelukan suami sm anak terutama.

    Buat kematian OKA, aku jg sedih ges, collapse by design yang orangtuanya bilang dan banyak fakta yg akhirnya terungkap kenapa dia meninggal :(((

    ReplyDelete
  3. Setuju mami ubii..sebagian besar dr kita terkadang dengan mudahnya menjudge seseorang..padahal ya dengerin mereka saat curhat bisa mengurangi beban orang yg depresi..bukan malah diceramahin

    ReplyDelete
  4. Couldn't agree more. Itu orang gampang menjudge, once they know how it feels, ga mungkin bisa semudah itu ngejudge. Pernah mengalami depresi (more or less), sampai 2x dirawat di RS tanpa dokter temukan penyakit di badan saya, cuma saya ngerasa udah mau mati waktu itu..dan, yes saya bisa melaluinya lewat seorang konselor. dan, sekarang rasanya hampir mbrebes mili kalo diinget2 lagi.

    Baca-baca komen jahat soal Chester, duh..mau gw jambak2 yg komen..ga ada empati sama sekali. dan ini sayangnya, banyak komen berbahasa indonesia :(


    ReplyDelete
  5. Setuju sama km ges. Sudah seharusnya kita menyemangati bukan malah membully

    ReplyDelete
  6. Been there, done that. Trus sekarang kalo gue coba flashback ke hari-hari gue mengalami fase depresi itu, gue ga inget sama sekali apa yang gue lakukan. I only remember about the pain. It was worse than the pain you got after your post surgery anesthesia wears off. The pain is more than my body can bear, so i though i want to give up. And trust me, berbagai cara meditasi dan doa2 yang diajarkan di kepercayaan gue juga udah gue lakukan tapi gak mempan!

    Then i tried to seek for help. Lucky me, at that moment ada temen gue yang sadar kalo gue sedang dealing with mental health issue. Diantara sekian banyak temen gue, cuma satu yang ngerti kondisi gue itu. Yang lain? Mereka menganggap gue cuma lagi overwhelmed dengan kesibukan gue aja. Most of them suggested me to take a break for vacation or something like that. Padahal yang gue butuhkan saat itu cuma waktu mereka 1-2 jam untuk dengerin cerita gue and a warm hug.
    That one best friend of mine, suggested me to see a psychologist after knowing what actually happened to me. She personally arrange the appointment cz i literally don't know what to do at that moment. Bener-bener ga bisa mikir apa-apa. And now, thank God, i have the strength to pull myself together again :)

    Saran gue? Peka lah terhadap orang-orang yang ada di sekitar lo. If your friend said that s/he had a bad day, give s/he a hug and say "this too shall pass". Pasang telinga buat dengerin cerita mereka. Iya, dengerin aja titik. Kalo ditanya saran baru boleh ngomong :)))
    Dan yang paling penting untuk netijen yang budiman, you don't know how much your words will affect them, so please talk nicely or just shut up :)

    Nice post, Grace.
    Have a nice day!

    ReplyDelete
  7. aku selalu takjub dengan ketegaan orang yang komen seenaknya. apa hati mereka udah begitu kerasnya ya? apa itu cuma semacam pelampiasan dari suramnya hati mereka. entahlah..

    ReplyDelete
  8. Sama ges, ga prnh abis pikir ama orang2 yg ga ada empati utk hal2 begini :( .. Makin banyak orang yg merasa keturunan Tuhan. Susah banget kali yaa, mencoba sebentar aja gimana kalo kita di sepatu orang2 yg depresi itu..setidaknya, kalo ga bisa mengucapakn kata2 manis ato dukungan, mbok ya diem. Ga ush ucapin kata2 yg bikin sakit :(

    ReplyDelete
  9. Gak peka terhadap sesama, gak ada rasa empati bahkan sikap apatis yang ditanamkan cenderung menambah berat beban hidup. Ke inget..gue kalau di marahin ortu karena kesalahan gue, kadang hampir depresi dibuatnya. Tapi kalau di kasih motivasi, justru akan lebih bersemangat menjalani hidup dan memperbaiki segala sesuatunya. No bully......

    Thanks for sharing...

    ReplyDelete
  10. Baiknya emang jadi pendengar baik aja ya Mi. Kalo doi minta solusi, baru deh saranin buat banyak2 ibadah. Soalnya pengalaman sih, kl lg ad masalah n curhat2, kdg tanggepan org gak selalu ngenakin. Yg ada mlah tmbah sedih. Enakan curhat sama Allah, kagak pernah protes n ngejudge. Tp beda2 tiap org sih..

    ReplyDelete
  11. Pada umumnya orang-orang tidak terbiasa untuk konsultasi dengan psychologist/therapist sih ya. Jadi tiap ada masalah dipendam sendiri. Kalaupun diceritakan ke orang lain, orang tersebut juga tidak kompeten. Biasanya sih malah jadi gossip dimana-mana.

    Saran saya sih, kalau ada masalah dalam diri kita jangan segan konsultasi ke pakarnya langsung. Sama halnya sewaktu kita sakit harus ke dokter.

    ReplyDelete
  12. Baca tulisan momGes bikin aku bersyukur kalo aku punya sahabat seorang psikolog yang bisa jadi tempat 'berobat'ketika jiwaku lagi sakit. Tfs ya

    ReplyDelete
  13. iya kalau depersi kiat perlu berbicaar agar semua uneg2 hilang ya dan orang di sekitar kita harus cepet tanggap ay dg perubahan sikap yg terjadi

    ReplyDelete
  14. suatu ketika aku berada di titik 'aku boleh ngga make narkotika?' dan temen2ku langsung support. punya sahabat yg kebetulan belajar soal jiwa sangat membantuku. aku ini gampang cemas

    ReplyDelete
  15. My comment will never be long.
    But absolutely, I do agree with you that the Depression is a serious problem that need to be solved soon.
    Someone might survive because of it but still someone might not.
    They need HELP.

    ReplyDelete
  16. depresi semua orang pasti pernah sampai ke titik tersebut, dan berjuang keras mengatasinya, entah dengan cara yang positif dan negatif, dan ketika krisis empati dari orang - orang disekitarnya, justru akan memperburuk segala hal.

    saya pernah seperti itu bunda, dan benar saja support dari orang orang sekitar adalah yang terbaik, itulah kenapa kita pun harus belajar memahami orang orang sekitar kita.

    postingan yang luar biasa, salam kenal bunda,

    ReplyDelete
  17. yess, saya juga pernah bakan terheran sendiri saat saya yang pemakan segalanya malah susah makan dan tiap mau makan rasanya pengen muntah dan pas sekamar sama teman-teman cewek dan buka hijab mereka kompakan nanya "kenapa sekarang kurus banget" huft. waktu itu memang saya lagi ada masalah dan nggak tahu ternyta itu sudah tahap depresi. Bersyukur sekarang bisa berdamai dengan diri sendiri dan nggak ada lagi pkiran aneh-aneh. Memang kita butuh orang untuk mendengarkan dan jangan jauh dari Tuhan.

    ReplyDelete
  18. Sudah beberapa kali lihat orang depresi, salah satunya keponakanku sendiri. Bedanya, dia justru gemuk, nggak mau sisiran, nggak mau mandi, padahal dia jenius. Bapaknya give up & cuma bisa memarahinya. Tambah depresilah. Untung di keluarga kami ada psikolog yg menengahi. Walaupun dia tidak bisa menangani karena sudah agak berat, paling tidak ada yg menemaninya ke psikiater. Alhamdulillah dia bisa keluar krn kegelapan. Skrg cantik, modis, melanjutkan S2 di Perancis stlh lulus dr Fisika UGM & menikah dg org Perancis.

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^