Friday, June 30, 2017

Overthinking A Shocking News

Sebelum libur Lebaran, I was just doing my routine, nemenin Ubii terapi di rumah sakit bersama mbak Nur (nanny nya Ubii) juga. Di tengah sesi terapi, Mbak Nur cerita-cerita santai kayak biasanya. Lalu ada satu cerita yang cukup bikin saya dan terapis Ubii kaget.


Mbak Nur bilang ada lowongan baby sitter infal yang hanya dibutuhkan jasa nya selama satu minggu-an doang. Baby sitter ini disuruh untuk menjaga bayi 1,5 bulan di rumah baby sitter meanwhile kedua orangtua si bayi mau mudik. We were like, "Seriously?"

Kabar itu didapet sama Mbak Nur dari WhatsApp group baby sitter yayasan nya, by the way. Jadi di WA group itu kan suka ada info lowongan-lowongan gitu kan. Nah salah satu nya ya itu.

Saya awalnya nggak mudeng karena buat saya itu terdengar ... idk how to put it into words.

Aneh, maybe?

Saya sampai ngulang-ngulang ke Mbak Nur untuk memastikan yang saya tangkap itu nggak salah. Ternyata memang nggak salah. 

Permisalan nya, saya dan Adit mau mudik. Tapi kami berdua nggak mengajak Aiden. Maka kami mencari tenaga baby sitter infal untuk menjaga Aiden selama kami mudik. Jaga nya di rumah baby sitter. Jadi baby sitter membawa Aiden pulang ke rumah nya.


Shocking, right?

For me it is, karena:

πŸ’” Bayi baru 1,5 bulan doang huhu padahal kalau diajak mudik naik pesawat juga nggak masalah kok. Banyak kan bayi-bayi yang sudah punya first flight experience saat mereka beneran masih bayi banget.

Baca: Pengalaman Pertama Aiden Naik Pesawat

πŸ’” Emang nya nggak was-was menitipkan bayi sendiri sama orang yang bener-bener belum kenal? Itu kan hitungan nya belum kenal banget. Beda sama saya nitipin anak-anak ke Mbak Nur meanwhile saya ada urusan di Jakarta. Mbak Nur udah ikut saya beberapa bulan. Saya juga udah tahu bagaimana dia mengasuh Ubii dan Aiden. Plus, Mbak Nur jaga anak-anak di rumah saya sendiri di mana ada satu asisten rumah tangga lain jadi bisa saling mengawasi dan membantu. And, pos satpam juga deket sama rumah saya. See the difference, right?

Baca: Ibu Yang Menitipkan Anak Pada Pengasuh

πŸ’” Emang nya nggak khawatir menyuruh orang asing bawa bayi sendiri ke rumah nya? Kalau nggak dibalikin gimana. Kalau ternyata rumah nya di dusun banget yang jauh dari apotik atau tenaga kesehatan lalu si bayi mendadak demam atau apa, gimana.

I could just list so many things into gimana gimana dan gimana.

***

Di ruang terapi, akhirnya kami bertiga jadi bahas itu.

Mbak Nur dengan yakin se-yakin-yakin-nya mengira kalau kedua orangtua si bayi pasti adalah orangtua muda yang kepengin jalan-jalan berduaan dengan bebas dan meredeka tanpa diriweuhin sama tetek bengek mengurus bayi.

Judgmental banget deh si Mbak Nur. Hahaha.

Terapis Ubii lebih woles. Beliau seperti setuju sama tebakan Mbak Nur, tapi kelihatan masih yang, "Ah masa sih segitu nya."

Me?

I tried so hard to judge. Every parent has their own choice and decision, bukan? But I failed. Eventually saya judge juga, GIMANA SIH LAU?!?!?!? karena ya ini keputusan yang menurut saya nggak main-main. Ini bukan sekedar keputusan tentang yaudah lah kasih susu formula aja, abis ASI ku mampet seret tinggal koretan. Ini bukan keputusan seremeh memilih pakai diapers karena nggak ada waktu dan tenaga untuk nyuci gunungan popok kain.

Ini keputusan serius karena, yah, melibatkan well-being si bayi 1,5 bulan. Nitipin bayi sendiri ke orang yang belum kita kenal, tanpa ada keluarga kita atau orang yang kita percaya untuk ngawasin, dan bukan di rumah kita sendiri pula jaga nya is something HUGE af.


Namun, tiba-tiba saya terdiam.

Tiba-tiba saya ingat satu-dua teman saya yang cerita nya hampir serupa. Sebut saja Pevita dan Raisa.

Inti nya, Pevita dan Raisa ini sama-sama menikah karena hamil duluan. But, persamaan mereka bukan cuman itu saja. Masih ada beberapa persamaan lain yang sebenernya sedih sih. Pevita dan Raisa sama-sama:

😭 Nikah diam-diam dan sembunyi-sembunyi dari keluarga mereka.

😭 Yang tahu, hadir, dan merestui pernikahan mereka hanya keluarga dari mempelai laki-laki.

😭 Orangtua Pevita dan Raisa tahu nya mereka berdua di kota lain sedang bekerja.

😭 Baru akhirnya berani ngaku ke orangtua masing-masing setelah anak mereka sudah lahir dan nggak yang bayi-bayi amat lagi.

😭 Jadi Pevita dan Raisa akhirnya baru nongol di rumah orangtua nya bawa anak mereka setelah 6 bulanan kali yah, usia-usia segitu deh kira-kira, dan tentu nya say sorry lalala.

Itu persamaan mereka.

Jadi mereka berdua juga pernah ngalamin mau mudik ke rumah orangtua tapi bingung bayi nya gimana karena belum berani jujur. Akhirnya milih nggak mudik sih kayaknya.

Beda nya:

πŸ˜₯ Orangtua Pevita mau berusaha memaafkan dan berdamai dengan realita. Merangkul anak perempuan dan cucu nya. Lalu hidup seperti biasa.

πŸ˜₯ Orangtua Raisa sulit menerima kenyataan. Sehingga mereka merancang skenario 'pernikahan' Raisa dan suami nya di kampung orangtua nya. Seolah-olah menikah karena ingin dan karena siap. Seolah-olah Raisa masih gadis. Seolah-olah tidak pernah ada kejadian hamil duluan. Jadi anak Raisa yang sudah 6 bulanan itu ya disembunyikan dulu dari saudara dan tetangga Eyang. Baru dikeluarkan dari persembunyian setelah merancang skenario timeline untuk Raisa hamil dan melahirkan. Jadi saudara dan tetangga Eyang tahu nya usia anak Raisa ya bukan usia yang sebenarnya. Merancang skenario Raisa pura-pura hamil dan melahirkan bukan hal sulit karena Raisa dan suami nya kan tinggal di kota lain, nggak sekota sama Eyang. Complicated? That's life anyway.

Baca: Memang Kenapa Kalau Nggak Menikah?

I don't know why tiba-tiba saya ingat cerita Pevita dan Raisa itu.

Lalu saya yang jadi mikir, jangan-jangan itu lah yang juga terjadi pada orangtua bayi 1,5 bulan yang berencana mudik tanpa bawa bayi nya?

Iya sih, saya nebak-nebak doang yang belum tentu benar. Kadang saya emang punya dorongan untuk overthinking menduga dan menyimpulkan begini, terutama kalau ada sebuah case yang sangat unusual.


But, still, itu kemungkinan yang bisa saja terjadi, bukan?

Saya jadi berpikir sekali bahwa hubungan keluarga yang harmonis itu sangat amat penting. Terutama di masa-masa seperti itu.

Betul bahwa anak perempuan yang menikah karena hamil duluan itu salah dan pasti mengecewakan orangtua. Benar. I don't argue. Tidak ada justifikasi untuk membenarkan kisah seperti itu.

TAPI. Ketika memang sudah terjadi, ya mau apa selain hanya dihadapi dan ditanggung konsekuensi nya bersama-sama?

Ke mana lagi anak perempuan yang hamil duluan akan pulang untuk menangis, mengadu, dan mencari solusi terbaik kalau bukan ke rumah nya? Siapa lagi yang akan membantu mencari kemungkinan-kemungkinan solusi dengan menjembreng pros-cons yang logical kalau bukan orangtua?

Ada lagi cerita yang saya dapat di DM Instagram. Sebut namanya Maudy aja. Bukan pengalaman Maudy sendiri sih, melainkan pengalaman sepupu nya, yang kita sebut dengan Sarah.

(Maudy dan Sarah, gacoan nya si Doel. Krik krik..)

Jadi ceritanya Sarah hamil duluan, tapi nggak berani jujur ke orangtua nya karena orangtua nya galak dan old-fashioned banget. Sarah akhirnya mendesak-desak pacarnya untuk bertanggung jawab, menikahi dia. Sadly, cowok nya menolak. What's even worst was ... cowok ini akhirnya membunuh Sarah karena gerah terus-terusan ditagih untuk tanggung jawab. Keluarga besar Maudy termasuk orangtua Sarah baru tahu cerita yang sebenarnya karena diceritain sama sahabat almarhumah.

It's just so sad...


Maudy lantas cerita ke saya kalau orangtua Sarah ini menyesal banget. Kalau saja Sarah mau jujur pada orangtua nya, kalau saja mereka punya hubungan yang harmonis, mungkin nggak akan berakhir begini. Begitu kata Maudy.

Saya cuman bisa mencelos saat baca DM Maudy. Cuman bisa kasih emoji nangis karena beneran speechless banget lah diceritain kaya gini. Huhuhu. 

***

Saya dan Adit suka berandai-andai tentang Ubii dan Aiden. Level pengandaian nya macam-macam, mulai dari yang remeh banget sampai yang serius.

Yang serius, salah satu nya adalah, bagaimana kalau misalnya Ubii hamil duluan atau Aiden menghamili anak orang? Apa yang akan kami lakukan?

Beneran, kami sudah bahas itu. 

Mungkin untuk beberapa orang, kami ini kok seperti mengamini kemungkinan yang buruk. But for me and Adit, it's just us being realistic. It's just us menyadari bahwa semua hal, yang baik dan kurang baik, itu semua nya mungkin saja terjadi. Dan bahwa anak-anak kami tidak akan selama nya jadi 'boneka' yang bisa selalu kami arahkan dan buatkan pilihan. 

I guess both of us just want to hope for the best, but prepare for the worst.


Dan jawaban kami sama.

Jika kelak itu terjadi, tidak ada alasan untuk kami membuang atau tidak mengakui mereka. Kecewa, marah, dan menangis mungkin iya. Namun nggak lantas lepas tangan. Sampai kapan pun, saya dan Adit adalah tempat bagi Ubii dan Aiden untuk pulang.

Itu aja yang ingin kami tanamkan pada Ubii dan Aiden.

I hope it's not too much to ask.

Nulis ini saya jadi mellow. Semoga si bayi yang dititipkan baik-baik aja. Semoga semua perempuan yang hamil di luar lembaga sah tidak lantas tersesat dan sendirian. Semoga semua orang tua yang anak perempuan nya mengecewakan dengan cara itu diberikan kekuatan untuk berdamai dengan kehidupan.




Love,




28 comments:

  1. Setuju banget ges..
    Andai semua orangtua berpikir demikian untuk case yang seperti ini tentu orangtua tak pernah bs digantikan apapun. Karena anak tak selamanya bs berjalan lurus dan dalam genggaman. Ia bisa saja lari dan berbelok, maka semoga aku bisa menjadi orangtua tempat anakku pulang.
    Aaaah super love sama postingan iniii..
    Cuma bneran tega tuh ortu nitipin anak yg masi lucu2 bianget gituuu ke nanny? #kepo

    ReplyDelete
  2. Hoho, aku juga mau bilang kalo smpe nitipin bayinya gitu mgkn memang ada alasan yg kuat dibaliknya. Biasanya kan kl mmg mudiknya jauh banget, mending ga jadi mudik karena bayi masih terlalu kecil buat bepergian jauh. Ga bisa ngejudge orang lain apalagi kita ga kenal

    ReplyDelete
  3. Speechless juga baca postingan ini mbak gesi.
    Btw, saya jd agak salah fokus. Isyana nya ke mana? Hahaha *receh

    ReplyDelete
  4. Di keluarga besarku ada juga, Ges. Ditampar wolak-walik sama BuLek itu sepupuku pas ngaku hamil. Terus akhirnya nikah sama bapaknya si bayi. Tapi bulekku nggak terima banget2. Padahal ya saling cinta. Tapi akhirnya dirongrong terus suruh cerai. Bahkan sampai didukunin T_T

    Yang lebih sedih ponakanku (anaknya sepupuku). Didoktrin sama eyangnya (Bulekku) buat benci bapaknya. Sampai level kalau bapaknya abis nelpon, ditanya "Si anj**g, baj***an ngomong apa sama kamu?" *_____*

    Anaknya ganteng, tapi super pendiam dan pemalu. Yah gimana, dari kecil nggak dapet keluarga yang hangat. But happy in the end. Udah nikah lagi sepupuku ini, setelah anaknya usia SMA. Baru2 ini habis lahiran :).

    ReplyDelete
  5. Ortuku termasuk yg old fashioned, jd masalah besar kecil aku telan sendiri. Untung smp skrg masih baik2 aja tp sama spt diatas, krn wawasanku lbh terbuka dr ortuku ttg kemungkinan2 dlm kehidupan, aku jadi bertekad utk selalu jd tempat pulang kapanku anakku butuh.

    ReplyDelete
  6. saya punya bayi 3bulan, jadi nyesek baca ini kebayang gimana kalau bayi itu anak saya? huhu. Saya lebih mendingan boyong anak ke kantor saat pengasuhnya izin karena sakit. Yah, tapi setiap ortu punya pilihan dan cara mengurus anak masing-masing, semoga dede'nya sehat selalu ^^

    Baca kisah si Sarah serem juga ya mami ubi, tapi sebagai petugas lapas yang ketemu orang dengan berbagai latar macam kasus saya menyimpulkan yaah realita memang kadang lebih kejam dari sinetron

    ReplyDelete
  7. Seandainya semua orang tua berpikir demikian yaaaa. Nggak ada kasus bayi di buang. Nggak ada kasus aborsi dan kematian ibu yang alasannya karena hamil duluan. Sedih.

    ReplyDelete
  8. Aku mungkin bukan mami yg baik, yg masih lbh mentingin traveling drpd anak2. Tp aku ga bakal berani titipin fylly ato bobski ama org yg aku g kenal samasekali :( . Pilihannya, mnding aku ajak anak2ku, aku traveling sendirian dan suami jaga anak, ato tinggalin ama orang yg udh aku kenal baik. :(.

    Tapi, kalo baca bbrp kemungkinan kamu di atas, aku jd berusaha ga mau utk judge pasangan yg lakuin itu sih.. Bisa jd mereka ngalamin yg kamu bilang ya ges. Hmmmm... Tapiii kok ya susah utk nerimanyam karena kalo aku, mndingan aku ga mudik ketemu ortu drpd taruhannya bayiku kenapa2 dititipin ama org ga aku kenal :(

    Ah.. Sudahlah... Moga2 si infal yg disewa bnran org baik dan menjaga si bayi dgn baik yaa...

    ReplyDelete
  9. Sediiihhh pas baca cerita raisa sama sarah
    Kalau aja ada yg merangkul mereka dari awal
    Bener bgt, klrga yg terbuka dan hangat itu efeknya besar bgt
    Ngasi pendidikan ke anak utk selalu siap dg konsekuensindan tanggung jawab jg penting
    Suka kata2nya "Sampai kapan pun, saya dan Adit adalah tempat bagi Ubii dan Aiden untuk pulang"
    Jadi pengen meluk sama kiss kiss Andra

    ReplyDelete
  10. Itu di Jogja? Sini titipin aku aja. Hehe

    ReplyDelete
  11. Apapun alasannya. Semoga si anak tetep bahagia n mendapatkan hak2nya. Nggak mau judge apa2 deh. Masalah manusia emang complicated sih.

    ReplyDelete
  12. Sebenernya ga overthinking itungannya Ges. Ninggalin bayi di tangan orang yang baru kita kenal itu big deal. Siapapun yang mendengar pasti kaget dan ga percayaan gitu. Terlepas apapun alasannya, cuma bisa bantu do'a, semoga bayinya baik2 dan sehat2 selama ditinggal ortunya. Aamin.

    ReplyDelete
  13. Baru tau juga ada kasus seperti ini. Tiap orang punya pemikiran masing masing, tapi masih ngerasa "shock" juga saat bayi 1,5 bulan dititipin ������
    Semoga sih babysitternya memang amanah dan baby-nya sehat gak kenapa Napa sampe ortunya pulang yaaaa

    ReplyDelete
  14. banyak kemungkinan penyebab bayi sekecil itu dititipin..., tp kalau aku sih nggak akan nitip
    pergi keluar nonton berdua aja setelah si kecil umur 4 bulan, dan di bioskop gelisah terus

    ReplyDelete
  15. Duh, ngga kebayang ya bisa ditinggal gitu, apapun alasannya, kalo diculik piyee huhu..teman gesi artis kabeeh..

    ReplyDelete
  16. Aku ada cerita yang hampir mirip. Aku kan tinggal di apartemen di Jakarta. Nah tetanggaku ini ada yang ibu bekerja, lalu menitipkan anaknya setiap hari ke pengasuhnya. Tapi si anak bukannya dimomong di apartemen, melainkan di rumah si pengasuh di kampung belakang apartemen. Alasannya: si pengasuh ini sambil jagain anaknya sendiri (selain jaga anak tetanggaku) dan harus ngurus rumahnya sendiri (bersih-bersih, masak dll).
    Intinya dia ngga bisa kalo seharian jagain anak di apartemen. Jadilah si anak ini dibawa ke rumahnya.
    Ajaibnya, tetanggaku ini setuju loh. Padahal juga belum kenal banget sama si pengasuh ini.
    Aku sih serem ya.. tapi ngga berani komentar karena kondisi tiap orang beda-beda. Siapa tahu tetanggaku ini butuh banget ngantor, sementara ngga ada yang bisa dititipi anak. Jadinya dia juga setuju dengan amat sangat terpaksa. Wallahualam.
    Kalo aku sih orangnya parno nitipin anak ke orang lain. Baru setelah anakku umur 5 tahun aku berani nitipin dia ke ART yang udah bantuin aku selama 3 tahun. Itupun aku titipin cuma sejam dua jam buat ngurus kios di bawah apartemen. Parno banget yah gue hahaha

    ReplyDelete
  17. Aku ada cerita yang hampir mirip. Aku kan tinggal di apartemen di Jakarta. Nah tetanggaku ini ada yang ibu bekerja, lalu menitipkan anaknya setiap hari ke pengasuhnya. Tapi si anak bukannya dimomong di apartemen, melainkan di rumah si pengasuh di kampung belakang apartemen. Alasannya: si pengasuh ini sambil jagain anaknya sendiri (selain jaga anak tetanggaku) dan harus ngurus rumahnya sendiri (bersih-bersih, masak dll).
    Intinya dia ngga bisa kalo seharian jagain anak di apartemen. Jadilah si anak ini dibawa ke rumahnya.
    Ajaibnya, tetanggaku ini setuju loh. Padahal juga belum kenal banget sama si pengasuh ini.
    Aku sih serem ya.. tapi ngga berani komentar karena kondisi tiap orang beda-beda. Siapa tahu tetanggaku ini butuh banget ngantor, sementara ngga ada yang bisa dititipi anak. Jadinya dia juga setuju dengan amat sangat terpaksa. Wallahualam.
    Kalo aku sih orangnya parno nitipin anak ke orang lain. Baru setelah anakku umur 5 tahun aku berani nitipin dia ke ART yang udah bantuin aku selama 3 tahun. Itupun aku titipin cuma sejam dua jam buat ngurus kios di bawah apartemen. Parno banget yah gue hahaha

    ReplyDelete
  18. wuaooowwww.... hebat tu mamanya punya nyali ya nitipin anak ke orang tak dikenal. Aku aja nitip anak ke ortu sendiri parno berat. Hihihihihi......

    Tentang anak yang hamil diluar nikah, well pasti mama papanya kecewa. Tapi bener banget Ges, ortu harusnya merangkul dan mensupport anak. Bukannya malah membuang dan mojok-mojokin.

    ReplyDelete
  19. Life indeed complicated and unpredictable diluar sana ya 😒😒😒

    ReplyDelete
  20. Speechless...
    Smoga si mama anak itu baca blog mu yh ci jdi dia bsa menyesali perbuatannya.
    Dia yg titipin kok sya yg parno yh 😒😒

    ReplyDelete
  21. Ga bisa judge people gitu aja. Pasti ada alasan untuk semua tindakan. Semoga si bayi selalu bahagia

    ReplyDelete
  22. huhu ga tau lah mau komen apa saking seringnya mendengar berita yg makin ke sini makin aneh2:(


    btw ges, jare bojoku tulisanmu apik informatif aplg buat emak2 ❤. tnyata dia pernah baca tulisanmu hoho

    ReplyDelete
  23. Dont want to judge, tp mau sharing aja sih.. Prnh baca tulisan "kalo km punya perhiasan emas/berlian/brg apapun yg paling mahal yg km punya, tega ga km dgn alasan apapun nitipin tuh barang sepenuhnya ke seseorang? Kalo jwbnnya nggak, kenapa sama anak yg notabene darah daging sndiri (a part of you) tega" dan pas baca blog ini tb2 keinget lg sm kata2 itu kok cukup menohok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, kan tadi mbak gesi bilang ini bukan masalah remeh temeh kayak "anakku tak kasih mpasi atau yg instan aja????".kita gak pernah percaya buat nitipin dompet, atau perhiasan keorang misalnya, tpi kok kita bisa dengan mudah sih nitipin anak sendiri keorang??? Maksudnya ortunya mudik trus si bayi ditinggal sama orang yg gak kita kenal baik??? Gila parahh.ada beberapa orang didunia ini memaklumi hal yg seharusnya tidak sepantasnya dimaklumi

      Delete
  24. Emang sihh bisa aja ada alasan lain, tpi kok mikirnya jadi aneh sampe hamik diluar nikah segala berasa sinetron. Kalau saya sihh anak nomor satu hadepin meskipun ortu bakal gak nerima ini anaku dan aku sayang dia

    ReplyDelete
  25. Sependapat dengan Mbak Gesi.. aku malah melihat kasus kayak gini di tetanggaku. Malah tetanggaku itu udah haji, anaknya (cewek) hamil sama anak tetanggaku yang masih SMP. What banget lah.. tapi hebatnya, meski jadi bahan gunjingan warga satu kampung, masa depan si cewek masih tertolong karena orang tuanya nggak serta merta ngamuk dll tapi juga kasih solusi. Alhamdulillah si cewek udah nikah sama bule dan tinggal di England. Sementara si cowok juga baru aja nikah. :"

    ReplyDelete
  26. hallo mbak gesi,,salam kenal,,
    saya pernah nemuin langsung case ini (tetangga saya),
    mereka menikah, tp anaknya dititipkan full ke pengasuhnya di rumah pengasuhnya.
    mereka (ortu bayi) hanya datang seminggu sekali atau 2 minggu sekali.
    kalau mreka ini kasusnya adalah :
    1. mereka anak perantauan g ada keluarga di jkt
    2. istrinya (ibu si anak) kerjanya sebagai artis ftv yg sedang berjuang mengejar karir
    3. pernikahannya pun diam2, demi karir istrinya

    jujur aja saya awalnya miris bgt, koq bisa ya?? bahkan klo ibunya syuting ke luar kota anaknya dijenguk sebulan sekali.

    tapi balik lagi, pasti ada alasan yg kuat, dan itu pilihan mereka. kita g bisa nge-judge ,karna kita g diposisi mereka.

    bersyukurlah kita,g perlu sampai berjauh2an sama anak. pastinya berat buat semua ibu untuk jauh sama anak.

    setuju bgt sama mba gesi,,jangan overthinking sama kehidupan orang lain.

    ReplyDelete
  27. μ—λ³Όλ£¨μ…˜κ²Œμž„ λ¨ΉνŠ€κ²€μ¦ μ•ˆμ „λ…Έλ¦¬ν„° go

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^