Friday, June 2, 2017

Diari Papi Ubii #18: Hello Feelings, My Old Friend

Finally! Demi apa akhirnya Adit setor draft untuk Diari Papi Ubii lagi setelah sebulan lebih (tulisan terakhir nya udah 14 April 2017!) dia absen! Demi apa? DEMI SEPATU! Adit minta sepatu untuk treadmill dan saya kasih acc dengan syarat setor draft dulu! Hahahaha. #winwin


Karena udah lama nggak nulis, maka topik kali ini remeh aja lah ya gapapa. Pun tema ini bakal bisa ditulis Adit pakai hati karena kami emang abis berantem 2 mingguan lalu yang baikannya lebih lama dari biasa nya. Hahaha. Emang mau nulis apa? Feeling!


Adit:
Men are born ignorant, not stupid. They are made stupid by education — Bertrand Russell

Seberapa sering sih kita denger ungkapan bahwa cowok itu lebih mengutamakan logika daripada perasaan? Sering banget. Dalam pergaulan pun, sering banget saya denger, “Ah kamu baperan kayak cewek.” Well, it’s a sad truth that we’re surrounded by testosterone-oriented society. Seolah-olah cowok tidak diberi ruang untuk mengekspresikan perasaannya. Cowok harus tangguh dan kuat. Nyatanya, cowok juga punya perasaan sih ya, but we express them differently. Saya ngga tahu ini penyebabnya apakah gara-gara bentukan represi sosial atau fisiologis reaksi kimia di otak seorang cowok memang berbeda dengan cewek. Ada yang tahu?

Sebagai benchmark, mungkin kita bisa melihat gambar ini:


Ya, di gambar yang menggambarkan post-breakup state itu terlihat jelas bahwa setelah putus, cowok merasa lepas dari belenggu nestapa. Sedangkan ceweknya? Hancur. Namun lambat laun keadaan terbalik. At the end of the day, si cewek lah yang jumawa. LOL. Eh by the way ini saya ngelihatnya most cases ya, ngga bermaksud generalisir. Saya sempat bertanya ke temen-temen deket perihal gambar ini, dan most of them setuju.

Seperti di awal tadi saya bilang, men have feelings too; they just express them differently. Mungkin yang paling kentara adalah prosesnya sih. Yang katanya cewek itu bertindak berdasarkan perasaan dan cowok bertindak berdasarkan logika. Saya harus nggak setuju dengan ini — soalnya masalah otak dan hati nggak mungkin bisa dibagi hitam dan putih. Awalnya mungkin ada benarnya, bahwa setiap act, cowok lebih overwhelmed by logic. Cuma eventually feelings take part too. Yet, cowok lebih perlu waktu dalam memproses perasaan. Cowok diajari sejak usia dini bahwa mereka harus kuat, percaya diri dan tangguh. Alhasil, kami mulai mengasosiasikan showing emotion adalah kelemahan.

Sudah baca novelnya Haruki Murakami yang Colorless Tsukuru Tazaki? 


Nah itu di seperempat awal cerita ada contoh kasus dimana si Tsukuru ini tau-tau diisolir dari empat sahabatnya tanpa alasan yang jelas. Padahal doi sayang banget sama empat sahabatnya ini. Reaksi doi? MANUT. “Oh kamu nggak mau saya menghubungi kalian lagi? Fine — jika itu yang kalian inginkan.” Walaupun terkesan klise dan bego, apa yang dilakukan Tsukuru ini mengikuti ranah logika kan ya? But he ignored his own feeling. Dia merepresi perasaan ingin tahu mengapa teman-temannya tiba-tiba mengucilkan dia. Dia terima begitu saja. Akibatnya, dia hidup dengan kehampaan selama bertahun-tahun, dihantui suicidal thoughts.

Ada contoh lain — ini dialami teman saya sendiri. Sebut saja namanya Budi. Budi ini orangnya dikenal sebagai pribadi yang tangguh — he has quality as an undisputable leader. Setiap ngambil keputusan, kita selalu sependapat dengan doi karena semua tindak-tanduknya reasonable sih.

Cuma kadang saya wondering dia ini dulu ngga lahir dari rahim seorang ibu, melainkan dari pecahan batu vulkanik.


Bagaimana tidak — hatinya bebal sekeras baja. Dia sama sekali ngga bergeming saat saya tunjukan beberapa iklan Thailand yang menurut saya lumayan moving dan tear-jerking. Dia komentar hanya sebatas teknis sinematografinya. Pas saya tanyain aspek cerita, dia hanya menganggapnya sebagai storyline yang dikemas dengan script detail yang bagus. No strings attached. As if there’s no space in his chest to share feelings.

Dia pernah berbagi pikiran dengan saya bahwa feelings kita itu sebisa mungkin di repress karena itu bisa dijadikan lawan sebagai senjata untuk melawan kita. Ini dia afirmatif banget sama pernyataan saya di awal tulisan ini. Gila bener. Saya rasa dia punya traumatic past event.

Sampai pada saatnya dia dihadapkan situasi pelik: Ibunda disapa Sang Maut, secara tiba-tiba. Nggak ada firasat atau apapun. Saya menemani doi menunggu jenazah Ibunda. Anehnya, selama masa tunggu itu dia nggak menunjukkan kesedihan sebersit pun. Ketemu tamu ngelayat ya kayak biasanya dia sehari-hari. Malah sempet ikutan becanda ngetawain satu teman kita yang datang melayat alih-alih bawa buku Yasin, malah bawa Alkitab. Saat memandikan jasad, menyolatkan, dan mengubur pun, ngga bergidik sama sekali doi dari coolness-nya.

Baca: Diari Papi Ubii #11 - What To Do Before You Die

Sampai ada saatnya semua tamu sudah pulang, tinggal saya dan beberapa teman. Tau-tau dia keluar, duduk di bawah pohon kersen. Then he said, “Tau nggak, Dit, dulu pas masih kecil Ibu selalu nyuapin aku dan adik di bawah pohon ini…” dilanjut dengan nangis histeris konstan sambil nyebut “Ibu” berulang-ulang selama satu jam. Saya diamkan saja, toh ini katalis buat dia. Tapi saya ngebatin sih — kok segitu amat ya hiding feelings?


Namun, kalau saya lihat sekarang — kayaknya tren sudah bergeser ya. Sejak ada sosial media, baik cewek maupun cowok dapat panggung masing-masing, dan lebih ekspresif dalam mengungkapkan perasaannya. Banyak cowok yang ngga segan buat upload foto doi saat menangis habis ditinggal pacar, foto luka sayatan huruf-huruf di tangan membentuk nama pujaan hati, dan sebagainya. Saya ngga tahu ya gimana nyikapin fenomena macem ini hahaa…


Kenapa tiba-tiba saya mengangkat topik ini? Well, ini secara nggak langsung ada kaitannya dengan absennya entri Diari Papi Ubii yang lumayan lama. So pertengahan Mei kemarin saya ada duty tour ke Singapore yang menyebabkan saya nggak bisa pulang ke Jogja selama 2 minggu berturut-turut. Itupun saya harus melewatkan ulang tahunnya Ubii, pula harus melewatkan ulang tahun saya sendirian di negeri orang. Oleh karena itu, sebelum saya berangkat, sebagai gantinya Grace datang ke Jakarta. At first it was okay — sampai akhirnya dalam satu perjalanan kita kejebak macet. Mungkin bisa dilihat di blogpost nya Grace bagaimana saya paling ngga bisa dealing with traffic jam.


Entah kesambit apa, saya meluapkan kekesalan saya ke Grace, and we had a fight. Kali ini cukup serius. Sampai di tempat tujuan, Grace pergi gitu aja pas saya lagi makan. Enveloped by anger, saya ngga ada usaha sama sekali buat nyari Grace. Alih-alih nyari, saya cuma SMS doi, “Aku tunggu di mobil 10 menit. Kalo engga dateng, aku tinggal.” So then she didn’t come — ya sudah kami pulang ke apartemen ngga bareng. Saya naik mobil sendirian dan Grace naik Uber.

Gara-gara udah kesambit marah pun, saya ngga nyadar kalo malam itu Grace kudu pulang ke Jogja. I left a very bad impression before leaving the country. Yang bener-bener ganggu pikiran adalah, Grace kali ini marahnya beda. Dia ngga marah frontal kayak biasanya. What she did was ignoring all of my calls and texts. Menurut saya ini lebih parah daripada marah frontal sih. Saya bingung harus gimana. Dan beneran — as stated before, saya telat banget memproses emosi. Nyesel baru belakangan. Saya sampe nyusulin Grace ke stasiun sebelum dia balik Jogja. But, nothing much. Dia kayaknya males banget ngadepin saya.

Pas Grace udah pergi dan saya pulang — ngelihat kamar apartemen kosong melompong gitu malah tambah sedih. Nyeselnya setengah mati kenapa harus saya harus marah-marah.


Lalu saya berangkat duty tour, dengan sesal setengah mati. Album The xx yang “I See You” mendominasi playlist. Setiap pagi biasanya udah saling sapa lewat messaging app, tapi kali ini enggak — and something’s missing. Jadilah seminggu penuh di Singapore, saya dan Grace cuma ngobrol seadanya.

Kayanya udah ngga mungkin nih buat meluluhkan hatinya Grace melalui ungkapan atau simbol. So then I thought saya perlu memberi bukti dengan tindakan nyata. Saya konsentrasi kerja, dan pas pulang ke Jogja, saya menunjukkan rasa penyesalan dan berusaha memperbaiki dan tidak mengulangi lagi. Setidaknya saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki hubungan. Que sera sera. And, it worked. Kami damai in an instant. Mungkin gara-gara kangen ngga ketemu dua minggu juga. You have no idea how relieved I was.

Baca: Falling In Love With You A Thousand More Times

Based on those experience, mungkin saya bisa sedikit kasih sugesti what to do for men when you’re mad: Pas emosi gede-gedenya, rasanya sulit sekali menyadari siapa yang salah dan siapa yang benar. Hanya saja, untuk kasus saya dimana jelas banget saya yang salah, maka saya harus bisa mencari solusi untuk bisa mengatasi semuanya. Kesampingkan perasaan “paling benar” dan terus-terusan memojokan Grace. Say sorry sincerely, lalu introspeksi diri saat sudah ngga marah lagi. Good thing dari kejadian kemaren saya pergi ke Singapore so I could spend my times alone — realizing that Grace’s presence in my life really is a grace. Realizing that nobody’s perfect. Tinggal dulu rasa malu atau gengsi. Untuk bisa menyelesaikan masalah dan bisa berdamai Grace, kuncinya adalah meghilangkan ego dan mulai membuka diri. Ego yang berkelanjutan ngga bakal nyelesaiin masalah. Adanya mah malah nggak ada yang mau terbuka. It will worsen the situation.

Ketika mencoba berdamai dengan Grace, saya bersikap seluwes mungkin dalam meminta maaf biar dia bisa melihat kesungguhan saya buat bisa memperbaiki hubungan dengannya. Be flexible: terlepas dari pengalaman hidup saya, atau proses pengasuhan yang diberikan oleh Papa Mama saya saat saya masih kecil — mereka nggak pernah ribut-ribut dan berdamai di depan anak-anak so saya ngga ada referensi dari orang dalam to settle things up, tapi bagaimanapun saya harus bisa menemukan solusi yang tepat untuk bisa berdamai bersama dengan Grace. Grace lemah banget sama gesture sayang (kecupan di kepala, atau gandengan tangan setiap saat). Nah ini saya luncurkan bertubi-tubi hehe…


Sebagai penutup, ada baiknya saya selipkan kutipan ini:
If you want us to open up it cannot be done by asking us to share, it will not happen that way. We have far too many years of control under our belt to simply let go in that way, we simply can’t. If you want us to open up then you will need to prove to us that you are the stronger. Join us in our actions as we mindlessly chop 1000 logs for firewood we don’t need, ask us how we plan to solve our problems. Understand that our solutions are just words, they are not actions but the intent to solve the problem of our feelings. Our feelings are hidden, even from ourselves, but we know deep down that we have the need to act, to do and to plan. If you help us in our actions and planning and guide us, steer us away from unwise decisions, we will see that you have the strength to listen. As we talk through our plans and actions slowly will our feelings become clear, even to ourselves, and if you are by our side you will see them too. — Luke Davis 

Tabik!

***

Grace:

HAHAHAHHAHAHHA. Saya baca draft ini kemaren sambil banyak ketawa. Nggak tahu ya kok saya spontan ngakak banget.

Setelah saya pikir-pikir, kayaknya alasan nya ini:

πŸ˜‚ Senang, ternyata Adit merindukan saya sampai segitunya. HUAHAHAHAHA. Makanya jangan suka marah-marah huh!

πŸ˜‚ Berbunga-bunga, baca kalimat Adit yang > realizing that Grace’s presence in my life really is a grace.

πŸ˜‚ Geli malu-malu kucing, baca kalimat Adit yang > Grace lemah banget sama gesture sayang (kecupan di kepala, elusan di kepala, atau gandengan tangan setiap saat). Nah ini saya luncurkan bertubi-tubi hehe…. Dan emang iya. Saya most of the time pasti luluh kalau Adit udah kecup kepala dan elus-elus rambut saya. Sampai kemarin itu pas udah baikan, saya bilang gini ke Adit, "Pi, apa aku jutek lagi aja ya biar frekuensimu ngelus-ngelus kepalaku sesering ini." LOLOL.

πŸ˜‚ Ngakak juga karena kemarin itu pas saya ngedraft untuk tulisan Suami Nyebelin Tapi Aku Cinta (udah baca kaaann?), saya bener-bener menahan diri untuk nggak cerita kronologi nya yang banget-banget. Kuatir Adit nya malu atau apa. EH TERNYATA DIA SENDIRINYA MALAH NGEJEMBRENG. Hahaha!

And, yes, baru kali itu banget saya marah dalam diam. Marah level malas berurusan sama Adit at the moment. Biasanya tipe marah saya itu ngomel nyerocos sambil nangis-nangis hahaha. Kemarin, no. Not a single tear. Yang ada, saya pengin segera enyah karena capek banget menghadapi Adit yang belakangan ini dikit-dikit kena macet lalu marah nya sampai lama sekali. 


Saya tahu dan yakin bahwa saya akan memaafkan dan things will get back to normal. Tapi tidak langsung saat itu atau beberapa jam setelahnya. Detik itu, saya tahu bahwa saya udah nggak bisa lagi menghadapi kemarahan Adit yang terlampau sering dan terlalu lama padahal alasan nya remeh dan padahal saya udah becandain, ajakin ngomong terus, dan frequently touch him gently biar emosinya mereda.

Detik itu saya tahu bahwa Adit harus tahu habit marah-marah nya itu sudah level sickening and exhausting. Langsung setelah baikan saya suruh Adit ikut anger management course! He needs that and he knows it.

Toh, walaupun saya masih nggak menggubris Adit, saya nggak yang lantas nggak ngabarin sama sekali kok. Saya tetep kasih foto anak-anak tiap hari supaya dia bisa keeping up. Saya tetep bilang dan pamit saya mau pergi ke mana dan sama siapa. Saya tetep nanya-nanya gimana kerjaan nya hari itu di Singapore, lancar nggak. Itu semua tetap. 

Even on his birthday on May 21, saya juga masih yang cari kado yang udah saya janjikan which was kemeja buat kerja dan kemeja buat main. Pun, saya masih bikin-bikin video kompilasi foto-foto Adit untuk ngucapin happy birthday ke dia biar ada yang bisa dikenang dengan video nya.


Bedanya cuman, there was no fun Grace. Blas nggak saya becandain sama sekali.

Adit pasti shocked banget lihat Grace yang dingin begitu, yakin. Dan emang iya, kan? Hahaha. I did it to make him see bahwa kebiasaan marahnya sudah melebihi kemampuan saya untuk memaklumi dan he needs to do something about it. Itu.

So after this, Adit mau ikut anger management class. Harus ya! Ajak JG nya Icha aja biar barengan. LOL.

Saya capek menghadapi Adit suka marah-marah nggak jelas belakangan ini, iya. Tapi saya tetap akan bertahan. Tapi tetap perlu cari solusi bersama karena kebiasaan yang kurang baik yang merugikan both parties itu jangan melulu ditolerir biar nggak jadi mendarahdaging.

So, Adit, let's stick together and try again!

Gimana tulisan Adit yang ini? Suka nggak? Semoga suka yaaaa!



Love,







Pic credits:
http://www.awesomeinventions.com/wp-content/uploads/2015/11/relationship-ending-men-vs-women.jpg 
http://68.media.tumblr.com/0e846f3e86cc99f68d253e860946770d/tumblr_nctacvIO7D1rtl0zvo1_1280.jpg 
http://www.nairaland.com/attachments/1753384_crying_jpegbfd8c66b2ad7b889c27d9538ba371923 

20 comments:

  1. Baper masa πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
  2. Pastilah cowok juga punya perasaan.. Kecapekan super akut kali papi Ubii sampai sering marah2.. Aku kalau lagi cuapek, juga suka marah2 gaje hehe. Sukaa deh sama kalian berdua.. Pasangan cute :)

    ReplyDelete
  3. Budi itu tipikal suami banget yang ga akan sedih atau baper setiap aku liatin video-video yang bikin nyayat hati atau gokilnya minta ampun. Kayak mati rasa aja gitu ama yang begituan. Tapi pas dapet berita sahabatnya, itu pertama kalinya dia nangis dipundakku sambil meluk. Hmmm... Kerasa bangettt kalo dia marah itu trus diem, aku kelabakan. Jurus mba Ges marah dalam diam ini emang asli bikin salting pastinya.

    Well, you guys are unique couple. Salut ama kalian. Berasa warna warni banget.

    You are both lucky to have each other. 😊

    ReplyDelete
  4. Wah iya ya, baru inget pernah ada tren unggah foto cowok lagi nangis. Aku nangisnya tiap kali nonton 3 Idiots aja hehehe.

    Omnduut.com

    ReplyDelete
  5. Stickernya Mas Adit yang paling terakhir... Hmmm, kudu diampet sik iki pas poso xD

    ReplyDelete
  6. Sama..saya mending dimarahin pake nasehat daripada didiemin hehehe.. lebih horor diem..
    Wah seru ya mbak..saling nulis bareng... Keluarga keren..

    ReplyDelete
  7. Kebalikan sama aku mbak :D aku yang biasanya berisik dan suka usil becanda tp kalo marah cuma diem, chat cuma bales sekata2, masih tetep care sih tapi bahasaku dingin gt, panggilan sayang ilang haha
    Tapi kalo udah beneran marah banget baru aku ngomel marah-marah sambil nangis, nanti gantian suamiku yang nangis krn uda bikin aku semarah itu :D
    Dulu justru aku sih yang susah ngungkapin perasaan hehe
    Sekarang kalo kenapa gt aku pasti cari waktu yg tepat buat nyampein, tapi kalo dia ngelakuin kesalahan yang sama (lagi) aku cuekin, dan dia kadang uda paham sendiri knp aku jd diem hehe

    ReplyDelete
  8. men have feelings too; they just express them differently.

    I like the statement!!!
    Sebab ya memang begitulah adanya ...
    Laki-laki itu manusia biasa (yang punya perasaan) cuma cara menunjukkannya beda-beda

    Cool Papi

    Salam Saya

    ReplyDelete
  9. Pernah juga marahan sama suami pas dia mau tugas keluar kota Abisnya jadwalnya ndadak dan enggak pas. Tapi pas jauhan malah kangen2an. Telp, WA mesra2an, pas ketemu lagi yo gak inget kalau sblm suami berangkat marahan hahaha :P

    Ternyata baik suami atau istri tu emang sama2 ada perasaan gak nyamannya kalau pas marahan gtu, jd suka sama2 cooling down dulu, nurunin ego, baru pas siap nyapa2 dulua (tapi biasae bojoku dhisik sih, tetep wkwkwk :P)

    ReplyDelete
  10. Baca ini kok saya ngerasa ditampar ya.
    Ini kasus kek saya sama bundanya si Al. Dan saya kalau marah itu logic banget. Ego, ngerasa saya yang bener. Ngediemin tapi lama-lama nyesel sendiri dan kangen sendiri sama anak-istri.

    Thanks Mba Gesi & Adit. Udah share beginian buat saya ngaca sekaligus belajar.

    ReplyDelete
  11. Suamiku juga yang kayaknya "kaku" dan serius banget itu sebenarnya bisa melow. Cuman, doi pinter banget nyembunyiinnya. Tapi ya teteplah, sering ketauan ma akunya. Hehehe ...

    Nah, kalau didiemin itu aku paling gak betah.adahal suami ku kuat diem banget, duhh ...

    ReplyDelete
  12. Emang macet bikin kesel, capek, laper. Kalau pas lagi kebelet juga susah. pengennya marah-marah deh. Kalau dipikir lagi, marah-marah gak akan bikin macet reda. Jadi biasanya ya kami berusaha aja nikmatin kemacetan dengan nyanyi dll. Walau sebenarnya kesel juga kejebak macet.

    ReplyDelete
  13. Suka yang bertubi-tubi..ciiee.. :)

    ReplyDelete
  14. Cieee..cieee... Jadi itu toh kelemahannya Gesi ?? Hahaha ..

    Aku suka ni tulisannya papi ubii, natural tapi poinnya ngenak. Top deh. Keep writing ya piii

    ReplyDelete
  15. Aku ga ngerti dengan orang yg bener2 bisa nyembunyiin perasaannya , kayak temen adit itu.. Walopun toh akhirnya kelepasan nangis pas mamanya meninggal.. Apa ga berat yaaa nyembunyiin perasaan.. Apa ga jd kayak beban yg lama2 bikin penyakit :( . Bener sih kata adit, kayaknya dulu dia pernah ngalamin trauma yg banget2 kali yaa, sampe ga bisa lg ngerasain apa2 ..

    Kalo soal berantem2nya, aku prnh ngalamin marah yg ga pake nangis lg.. Saking sebelnya :p .. Malah berantem yg terakhir, aku sampe booking tiket ke palembang sendirian ges, wkwkwkwkwk...ngakunya pengen ngetes diri, pdhl itu krn aku marah berat k raka :p. Tp skr, stlh kita baikan, malah jd ga pgn prgi sndiri, ttp pgn dia ikut hihihihi... Padahl yaaa pas pacaran, tiap berantem pasti nangis. Boro2 pas ush nikah :p

    ReplyDelete
  16. Jaman dimana ketika pria terlihat lemah sedikit, dianggap hal buruk untuk wanita. Yah, udah beda masanya. Terlebih lagi gaya hidup sekarang udah lebih ke pribadi yang saling mengkritik tanpa merasakan hal yang dirasakan.

    Jalan-jalan dari blog ke blog dan lihat tulisan kaya gini, kagum sama tulisannya :D.
    Dengan adanya tulisan ini, Setidaknya masih ada pembelaan untuk kaum pria :P

    ReplyDelete
  17. Yg pnting sling ngerti aja satu sama lain .....

    ReplyDelete
  18. Aku justru mudah banget tersentuh, apalagi liat video yang menyentuh hati.
    Trus yang biasanya kalau marah suka diam itu Mama Ivon dan aku paling nggak suka dan nggak tahaan kalo dia kayak gitu. mending marahnya ngomong aja biar aku tahu salah atau masalahnya apa.

    ReplyDelete
  19. Sukaaaa banget sama tulisannya Adit. Dan memang kata dia, di budaya Timur, cowo dicap harus jadi seseorang yang tangguh, mandiri, dan tanpa cela. Ada masalah, harus selesaikan sendiri, jangan cengeng dan banyak ngeluh. Karena itulah memang ga semua cowo bisa terbuka dengan mudah soal perasaannya, meskipun sama pacar/istrinya sendiri.

    ReplyDelete
  20. μ—λ³Όν”Œλ ˆμ΄ λ¨ΉνŠ€κ²€μ¦ μ•ˆμ „λ…Έλ¦¬ν„°

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^