Wednesday, November 8, 2017

Kesepakatan Pola Asuh Antara Orangtua dan Pengasuh

Yang pakai jasa nanny atau babysitter mungkin pernah ngalamin beda prinsip (tsah) dalam pengasuhan anak. Sebenernya itu lumrah aja yah, karena kita dan nanny beda kepala, beda latar belakang, beda pengalaman, endebre-endebre. Tapi kalau emang bisa coba diselaraskan, ya kenapa nggak?



Beberapa kali saya dapet curhatan dari buibu yang ada nggak sregnya sama pengasuh anak mereka. Jadi mereka nanya enaknya gimana ngasih tahu pengasuhnya. Tipsnya apa biar pengasuh ikut pola asuh kita. Mereka juga nanya pernah nggak saya beda pola asuh sama Mbak Nur.


Kalau beda pola asuh sama Mbak Nur, ya pasti pernah lah. Tapi so far masih no big deal karena Mbak Nur yang masih bisa dikasih pengertian kalau dijelaskan dengan enak (kenapa saya menetapkan ini, kenapa saya nggak ngebolehin itu, etc).

Supaya lebih mulus dan Mbak Nur lebih mudah mengingat apa aja yang saya bolehkan dan saya larang, saya bikin list do's and don'ts buat dia. Hal ini saya nyontek sih dari temen saya, Ibu M. Dulu pernah saya ceritain juga di blog ini.



Di postingan yang itu, saya jembreng do's & don'ts ala Ibu M. Di post ini, saya jembreng yang ala saya. List ini saya cantumkan juga di kontrak kerja sama yang belakangan ini saya bikin untuk kami (beda dari kontrak yang dari agen), ada di Pasal 3, Kewajiban dan Tanggung Jawab: 

Menggunakan pola asuh yang disepakati dengan PIHAK PERTAMA seperti:

πŸ’ Tidak berkata kasar di dekat anak-anak.

πŸ’ Mengajarkan anak kedua untuk mandiri (mendampingi dengan tidak melulu langsung memberikan bantuan secara instan).

πŸ’ Mengajarkan sopan santun dasar pada anak-anak seperti maaf, tolong, dan terima kasih.

Baca: Belajar Maaf, Terima Kasih, dan Tolong di Minimarket

πŸ’ Mengajarkan sopan santun dalam pergaulan anak kedua seperti sebaiknya tidak merebut mainan teman, tidak memukul teman, dll.

πŸ’ Mengingatkan anak kedua ketika dalam pergaulan memukul/kasar pada temannya, menonton TV terlalu dekat, membanting-banting barang, dan perilaku-perilaku lain yang kurang baik.

Baca: Anak Nonton TV, Yay Or Nay?


πŸ’ Mengelola tantrum (perilaku marah pada balita karena belum bisa mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata) dengan membiarkan anak kedua melampiaskan emosinya supaya dia belajar mengendalikan emosi.  Namun tetap diingatkan jika marah sambil memukul. Berikan pengertian mengapa dilarang/tidak boleh/tidak dituruti.

Baca: Temper Tantrum Aiden (2 Tahun)

πŸ’ Tidak menyalahkan benda/orang lain ketika anak kedua jatuh/terbentur/dll. Berikan semangat positif, “Tidak apa-apa / Namanya juga bermain / Sini ditiup kejedotnya / dll. 

πŸ’ Tidak menyebut orang lain dengan kata-kata kurang baik yang menyangkut fisik (jelek, hitam, gendut, dll), keadaan (bodoh, miskin, cacat, budeg, dll), dan kata-kata hinaan yang berhubungan dengan suku, ras, agama, budaya, dan pekerjaan orang lain.

Baca: Stop Bullying Special Needs Kids

πŸ’ Tidak menakut-nakuti/mengancam anak dengan menggunakan profesi / penampilan fisik tertentu seperti, “Kalau nakal dilaporkan Pak Satpam/Pak Polisi/Om A yang tatoan/gimbal/tinggi besar, dll”

πŸ’ Mengajarkan anak untuk berteman dan ramah dengan siapa saja tanpa membedakan suku, ras, agama, dan budaya.

Baca: Cinta Yang Kuterima Dari Mereka Yang Berbeda Agama


πŸ’ Mengajak anak berpamitan ketika akan pergi.

πŸ’ Mengajarkan anak untuk menjaga diri seperti misalnya tidak boleh ikut sembarang orang, tidak boleh menerima ciuman bibir dari sembarang orang, tidak boleh membiarkan orang asing memegang kemaluan anak, dll.

Baca: Pendidikan Seks di Usia Dini, Yay Or Nay?

πŸ’ Diperbolehkan mengungkapkan rasa sayang pada anak-anak dengan pelukan dan ciuman di rambut, kening, dan pipi, namun tidak boleh memberikan ciuman bibir.

πŸ’ Diperbolehkan menghindarkan anak dari teman tertentu (anak lain) jika anak lain tersebut dinilai dapat memberi pengaruh buruk, misalnya gemar berkata kasar, tidak sopan pada orang lain, dll.

Baca: Berkata Tidak pada Anak


Sehubungan dengan kondisi anak pertama yang memiliki kebutuhan khusus, diharapkan untuk menyesuaikan, sebagai berikut:

πŸ’ Memaklumi perilaku-perilaku anak pertama yang di luar kebiasaan anak normal/sehat seperti susah tidur, marah yang tiba-tiba, mengeksplorasi/menjelajah isi rumah seperti TV, dispenser, kulkas, rak, dll. 

πŸ’ Memaklumi dalam arti diamankan dengan sabar dan tidak dimarahi dengan kasar.

Baca: "Mama Tampol Nih!"

πŸ’ Tetap mengajak anak pertama untuk berinteraksi/mengobrol walaupun anak pertama belum bisa memahami/merespons.


πŸ’ Melakukan gerakan-gerakan stretching/olahraga sederhana seperti yang telah diajarkan oleh terapis.

***

Saya 100% menyadari bahwa tugas menanamkan moral dan values pada anak adalah mostly tugas saya sebagai ibu. Tapi kita tentu tahu bahwa upaya menanamkan values itu butuh kekompakan dengan orang rumah. Dengan suami dan pengasuh (kalau emang pakai jasa pengasuh).

(Including sama the eyangs itu perlu kompak sebenernya. Cuman saya nggak bisa kasih tips kompak sama the eyangs hehehe lol soalnya nggak tinggal bareng. Yang jelas, biasanya kalo sama mertua, kita rikuh sih. Ya nggak?)

Baca: Orangtua VS Kakek Nenek

Butuh kompak supaya Aiden makin yakin kalau ada suatu larangan ya berarti memang sebaiknya jangan dilakukan, bukan karena Mami atau Mbak Nur ada yang lebih galak dan pengatur. Plus, supaya Aiden nggak relate nya ke, "Kalau sama Mami nggak boleh, mending minta sama Mbak Nur aja" or such.


Ada waktu-waktu di mana saya ke luar kota, sehingga Mbak Nur bener-bener in charge di rumah. Jadi saya emang ngerasa penting banget untuk dia mengerti prinsip saya dan nilai-nilai yang saya anut untuk anak-anak.

Menurut saya sih list pola asuh yang saya harapkan untuk dilakukan sama Mbak Nur di atas masih masuk akal. Ada beberapa hal yang general, tapi ada juga poin yang lebih detil, itu ada ceritanya.

Like these ones:

πŸ’Ÿ Tidak menyalahkan benda/orang lain ketika anak kedua jatuh/terbentur/dll. Berikan semangat positif, “Tidak apa-apa / Namanya juga bermain / Sini ditiup kejedotnya / dll


πŸ‘‰ soalnya dulu Mbak Nur tipe yang nyalahin tembok lah, lantai lah, etc kalo Aiden kesandung. Kasihan aja sama tembok nya jadi kambing hitam melulu kan. LOL canda.

πŸ’Ÿ Tidak menakut-nakuti/mengancam anak dengan menggunakan profesi / penampilan fisik tertentu seperti, “Kalau nakal dilaporkan Pak Satpam/Pak Polisi/Om A yang tatoan/gimbal/tinggi besar, dll”

πŸ‘‰ soalnya dulu pernah Mbak Nur 'mengancam' Aiden dengan, "Kalo nggak mau makan, nanti mbak panggilin Om Nobita loh." Si Om Nobita ini emang in real life beneran ada, badan tinggi gede, tatoan setangan full, dan rambutnya dimodel gimbal. Ngerti sih Mbak Nur maksudnya baik, biar Aiden nggak males buka mulut buat makan. Tapi saya dan Adit ogah aja kalau Aiden jadi relate bahwa orang tatoan, gimbal, etc itu nyeremin / jahat / tukang nyakitin anak kecil. Personal story, soalnya Adit juga udah beberapa kali empet dapet stereotype dia tatoan maka dia preman. Jadi gamau dong anak sendiri malah nanti jadi suka stereotype orang lain.


Baca: Parents with Tattoos Can Be Great Parents Too

πŸ’Ÿ Diperbolehkan menghindarkan anak dari teman tertentu (anak lain) jika anak lain tersebut dinilai dapat memberi pengaruh buruk, misalnya gemar berkata kasar, tidak sopan pada orang lain, dll

πŸ‘‰ soalnya ada anak tetangga yang omongannya kasar banget. Saya aja pernah loh dikatain kayak tai ayam sama dia. Saat ini Aiden sedang fase suka meniru. Jadi boleh-boleh aja kalo Mbak Nur menghindarkan Aiden main sama si anak tetangga yang itu. Anak lain masih banyak kok. Dan yang penting pilih-pilih teman nya di sini bukan karena SARA.

***

Wah udah panjang lol. Yaudah mari kita sudahi. Next saya cerita kenapa saya bikin kontrak kerja sama sendiri dengan Mbak Nur walaupun udah ada kontrak dari agen yah.

See you in next post!

Mwah!



Love,






3 comments:

  1. jadi kepikiran ..apa perlu bikin list jugak yah buat para eyang ?
    hhahaha..

    untung mertua aku guru PAUD, jd update banget cara ngasuh anak. Alhamdulillah

    mama aku sendiri yg kadang ribut sm akunya krn literally aku gak pernah marahin anak, emm..aku punya cara sendiri ma..nah njelasinnya yg rada susah ke mamaku..hhaha..

    ReplyDelete
  2. aq sampai saat ini belum buat list seperti itu mami ubi, tapi aq dengan tegas mengatakan hal-hal yang tidak dan boleh di lakukan oleh anakku ke nenek-kakek dan miss-nya di daycare. selama ini sih masih baik-baik aja.. thanks for sharing mami ubi

    ReplyDelete
  3. μ—λ³Όλ£¨μ…˜μ ‘μ† λ¨ΉνŠ€κ²€μ¦ μ•ˆμ „λ…Έλ¦¬ν„° go

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^