Friday, December 30, 2016

Diari Papi Ubii #11: What To Do Before You Die


Beberapa hari lalu, saya published postingan blog tentang hal-hal yang saya rasa perlu didiskusikan bersama Adit tentang kemungkinan kalau salah satu dari kami berpulang duluan saat Ubii dan Aiden masih kecil. 


Tulisan itu kan dari sudut pandang saya. Jadi saya kepengin tahu sudut pandang Adit kayak gimana. Sometimes he explains things better thru writing soalnya. So here we go.

Adit:

The fear of death follows from the fear of life. A man who lives fully is prepared to die at any time. — Mark Twain

Ini pernah dibahas di blog personal saya. Ngga tahu kenapa, sejak dulu saya sangat obsessed dengan kematian. Even untuk undergraduae thesis, saya dedikasikan 2 tahun masa studi saya untuk meneliti anthropophobia yang menjadi trigger bunuh diri karakter utama salah satu novel Osamu Dazai. Pas masih suka motret dulu, saya selalu suka dengan kuburan ataupun funeral sebagai objek foto. Kegemaran ini saya anggap itu sebagai memento mori— sebuah pengingat bahwa suatu saat, saya akan mati. Sebuah pengingat agar jangan lupa banyak-banyak bahagia dan membahagiakan orang lain selama masih hidup.


Kebetulan Grace kemaren nulis tulisan tentang kematian dan kemungkinan-kemungkinan yang menyertainya. Bakal jadi berandai-andai tak berujung tentang siapa yang duluan menjadi debu angkasa lalu jatuh ke dimensi ketiadaan… Eh kok atheist banget sih— siapa yang duluan menghadap Sang Pencipta, maksud saya. LOL. So, saya mau nulis POV saya, kalo yang mati duluan itu saya.

Untuk saya yang fakir iman, yang jelas sih persiapan mati saya bukan pahala— lah kok ngateis lagi? Well, kalaupun saya mati, saya harus mempersiapkan dua hal yang pasti:

Saya nggak ngerepotin orang lain.

Ini termasuk di dalamnya:

Hutang piutang

Hutang piutang disini bisa materi maupun imateri. Materi semisal uang atau barang, sedangkan imateri bisa berupa janji ketemuan yang belum terealisasi. Ini yang ditekankan berulang-ulang sama Papa saya: jangan sampai saya berhutang (terlebih-lebih materi) kepada orang lain. Supaya saya nggak jadi arwah gentayangan. The bottom line is: hutang bikin hidup ngga tenang.



Yang merasa dirugikan dengan ketiadaan saya di dunia.

Selama hidup saya pastilah menjalin hubungan dengan orang lain, dan secara implisit maupun tidak, orang tersebut bakal rely on me (or my skill) dalam beberapa bidang. Sebagai pengandaian ilustrasi: saya bisa mengerjakan kerjaan kantor dengan baik, namun saya satu-satunya orang punya skill untuk mengerjakan certain task. Lalu saya mati. Tentu saja kematian saya akan merepotkan orang-orang kantor karena saya tidak punya suksesor. That’s why saya nggak pernah ragu buat skill-sharing dimanapun dan dalam hal apapun.


Keluarga kecil saya bisa carry on.

This is my biggest concern. Saya harus memastikan saya mati di saat yang tepat: saat anak-anak saya sudah bisa mandiri. Tapi sepertinya agak susah mengingat kondisi anak pertama saya. So what can I do about this?

Preparedness.

Yup. Kesiapan. Ini memang bahasan yang sangat tidak enak buat dibawa-bawa. Yet, this is inevitable. Kematian itu pasti, dan jelas— sejelas fakta bahwa Young Lex itu anak yang menyebalkan. Perkara “kapan” yang bikin banyak orang was-was. Bisa satu detik berikut, bisa satu dekade berikut— tergantung lifespan, luck, gaya hidup. Selebihnya misteri. Maka dari itu, poin kedua ini harus saya pastikan dulu untuk memilikinya, barulah (mungkin) saya bisa hidup tenang.

Dulu, saya orangnya go with the flow banget. Seize the day gitu— hidup untuk hari ini. Yes, it was fun. Ngga perlu ada yang dikuatirin. Tapi, it was before I have my own family. Sekarang saya harus bisa selfless. Satu keputusan ngga bisa kalo cuma mikirin spontaneous effect. Harus mikirin juga jangka panjangnya. Dan preparedness ini vital banget sih buat orang yang sudah bekeluarga, terlebih-lebih kami yang punya anak berkebutuhan khusus.


I learned this lesson the hard way. Dulu saya masih pegang prinsip go with the flow. Tau-tau Ubii kudu tes ini-itu yang ngga murah (jaman dulu masih belum ada BPJS). Saya dan Grace mendadak  kelabakan. Untung saat itu IMF mau membantu kami dengan pinjaman lunak (IMF = Institution Mother Father). Lalu saya coba menyisihkan sepertiga pemasukan saya untuk ditabung— takut kalo sewaktu-waktu ada apa-apa masih ada pegangan. Kejadian beneran— selang ngga berapa lama Ubii harus opname 2 mingguan untuk terapi Gancyclovir dengan total biaya belasan juta. Kali ini saya bisa sedikit banyak saving my dignity karena ada tabungan, so ngga perlu minta bantuan IMF lagi. Fixed, sejak saat itu saya menyeriusi security net untuk keluarga saya. Saya coba ngobrol sama financial consultant. Peristiwa ini mengubah point-of-view saya 180 derajat. Ngga ada lagi prinsip “hidup hanya untuk hari ini”. Saya kemudian mengambil perisai berlapis. Untuk saat ini, disamping saya dipermudah dengan asuransi kantor untuk sekeluarga, saya tetap ikut iuran BPJS sebagai backup. Saya dan Grace juga ikut asuransi kesehatan dan jiwa berikut beberapa reksadana.

Walaupun kesannya effort saya seperti orang paranoid, tapi saya nggak mau mati dengan keadaan nyusahin orang lain— apalagi nyusahin anak sendiri (terutama Ubii) yang wallahualam cuma Tuhan yang tahu kapan dia bisa mandiri… koreksi— cuma Tuhan yang tahu apakah dia bisa mandiri apa tidak. Saya dan Grace sebagai orangtua cuma bisa berusaha semaksimal mungkin dalam tiap terapinya. Plus, saya sudah kenyang dengan cerita-cerita dari teman dan saudara tentang bagaimana mereka menyesal tidak ikut asuransi setelah ada yang sakit/kecelakaan dan tabungan sudah terlanjur dikuras. I don’t want my family experience amplified hardship “cuma” gara-gara saya sakit, kecelakaan, atau mati.

Semua yang diatas adalah persiapan materi. Lalu, persiapan imaterinya apa dong?

Pahala?


Nggak.

Saya mempersiapkan Grace untuk menjadi breadwinner jika saya “mangkat”. Dengan cara apa? Dengan membebaskan doi untuk belajar hal baru, seperti yang ditulis di entri blognya.

Baca: Bosan Jadi Ibu Rumah Tangga

Grace pernah belajar berwirausaha dengan membuat dan menjual bando bayi— yang bikin waktu tidur dia sangat sedikit, tidak saya larang. Grace mengerjakan ini-itu dan berjejaring dengan banyak orang, juga tidak saya larang. Kenapa? Disamping itu hak dia, saya rasa fine-fine aja untuk membiarkan pasangan kita mendalami hal yang dia suka. Saya masih sering dengar ada orang yang melarang pasangannya untuk bekerja habis nikah. LOL ini gemes-gemes gimana gitu yah— coba deh bayangin orang itu mokat terus pasangannya ngga bisa ngapa-ngapain soalnya nggak punya skill apa-apa, cuma ada ijazah S1 (yang ngga laku di bursa kerja milenial jika ngga disertai certain skillset). Anak-anaknya mau dikasih makan apa? Anyway, who am I to judge. Mungkin orang tersebut punya pertimbangan sendiri.

Baca: Diari Papi Ubii #9: Honey I'm Gonna Blow Off Some Steam Tonight

Security net yang saya bangun untuk keluarga memang masih jauh dari sempurna dari angan-angan ideal saya. But we are going there. I know money cannot buy you happiness. But it can save your ass.

***

Grace:

Adit memang realistis. Jauh lebih realistis dari saya most of the time. Jadi kami bahas ini juga nggak sambil mewek atau nangis menye-menye. Sedih saat membayangkan, ya iya. But we both know that this has to be discussed.

Berdoa supaya dikasih usia panjang untuk bisa mengasuh Ubii dan Aiden bersama-sama sampai mereka bisa mandiri, jelas lah ya. But, again, we never know what's gonna happen and we can't predict what's so called death.

Anyway, tulisan Adit kali ini pendek bener yah, kalau dibandingkan sama tulisan-tulisan sebelumnya. Hehehe, sowwrryy. But we hope you can still enjoy it.

Wanna share something about this? Write down in the comment section yah!


Love,




10 comments:

  1. Semoga diberi usia yang panjang. Biar bisa menikmati hidup tua bersama dan menimang anak2 Ubii dan Aiden. :D

    ReplyDelete
  2. Sedih kalau ngomongin kematian. Tapi pasti akan terjadi juga.

    ReplyDelete
  3. Semoga panjang umur dan selalu sehat, Mbak. :'D

    ReplyDelete
  4. Persiapan yang keren.. semoga kita diberi umur panjang yang bermanfaat bagi sesama.. aamiin..

    ReplyDelete
  5. Bener2 realistis
    Kepala keluarga yang benar2 mempersiapkan semuanya dengan baik
    Bravo Adit

    ReplyDelete
  6. setuju banget, mumpung masih muda, prepare dan persiapan asuransi,investasi, reksadana masih bisa keburu. kalo udah tua baru mikirin kayak begindang, udah out to dated hihi

    ReplyDelete
  7. Semoga kita dan pasangan kita berumur panjang ya...

    Hiks aku udah menye2 nih bacanya...#lebay ya aku ��

    ReplyDelete
  8. THIS!

    Bukannya nggak percaya sama rejeki Tuhan ya... Tapi namanya persiapan buat kebutuhan orang-orang tersayang yang ditinggalkan tuh juga penting. Sama yang pasti jangan sampe ninggalin utang :')

    ReplyDelete
  9. Slalu suka ama org yg pemikirannya realistis ges. Dlm beberapa hal aku jg bgitu soalnya. Slalu mikirin ini kalo raka ato aku yg meninggal lbh dulu, trs gmn anak2. Kalo aku yg duluan mungkin g trlalu mengguncang budget financial kita, krn toh gajiku purely hanya utk traveling. Tp kalo raka, nah itu bahaya kalo dia yg pergi dulu. Krn so far gaji dialah yg utk membiayai semuanya :D. Makanya asuransi yg aku ambil pun, yg ats nama dia, jd kehidupan aku dan anak2 ga susah2 bgt nanti :D.

    ReplyDelete
  10. Meskipun tulisannya pendek tapi aku tetep suka tulisan Adit kok Ges :)
    Benar ya kita harus banyak2 cadangan tabungan, bukan karena suudzon tp buat jaga2 juga.
    Sehat dan panjang umur ya buat kalian

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^