Friday, December 9, 2016

Diari Papi Ubii #10: RIP In Loving Memory of Our Childhood

Diari Papi Ubii #10: RIP In Loving Memory of Our Childhood. Untuk tulisan ini, saya nggak menyodorkan tema apa pun. Adit sendiri yang came up with this idea. Dia selalu kepengin menulis tentang cita-cita. Atau pekerjaan, ya? Hehehe. Dia kepengin nulis ini karena kami pernah sama-sama bahas kami berharap Ubii dan Aiden bisa apa atau punya hobi apa.

Baca: Answering Parenting Questions with Adit


Di situ ada pertanyaan, "What abilities would you like your kids to have?" Adit itu lagi berharap banget anak-anaknya bakal bisa dan suka coding. Karena dia lihat beberapa teman nya yang sekarang sukses banget dan dicari-cari oleh banyak perusahaan karena coding skill nya. Yaudah cus ke tulisan Adit aja lah.

Adit:

“I had this rare privilege of being able to pursue in my adult life, what had been my childhood dream.”
— Andrew Wiles

Saya sebenernya pernah nulis tentang childhood dulu banget pas jamannya Friendster keluar fitur blog. It was ages ago, I know. And now I’ll try to rewrite that up again. Basically saya pengen highlighting kegelisahan saya saat menyadari ternyata banyak banget dari kita yang menjalani kehidupan yang nggak sesuai dengan passion. Banyak yang bekerja di tempat yang ngga sesuai dengan skillset yang dia miliki. Berapa persen sih dari kita yang bener-bener tahu apa yang kita mau? I bet nggak banyak. I mean, dilihat dari pilihan jurusan waktu masuk kuliah aja deh. Do we really know what we were about to face?

Saya iri sekali dengan salah satu teman saya di kantor lama yang kebetulan belakangan baru ngeh kalo doi juga adik kelas saya, sebut saja Gilang Putera Mahardhika. Ini nama samaran. Sumpah. Dia sudah tahu apa yang dia mau sedari SMA, dan pursue his passion up to now: coding. Walau ketertarikannya di software development baru muncul saat kuliah semester 3 ilmu komputer, namun Gilang sudah punya great interest di komputer dan IT sejak duduk di bangku SMA atas perkenalan doi dengan audio production. Merangkak dari coder Ruby on Rails, kerja freelance, sampe sekarang dia kerja di giant job portal website sebagai Head of Software Engineer dengan gaji kepala 2 di usia yang masih sangat muda. Di Jogja pula. His interest in coding benefits himself, financially. Sepanjang bekerja bersama, dia tidak pernah mengeluh tentang apa yang dia kerjakan. This indicates that he loves what he does.

Untuk menyegarkan ingatan Anda perihal Gilang yang satu ini. 

Bocah ini juga lah yang mengajarkan kepada saya bahwa if you don't like something, change it or at least do something about it.

Coba bandingkan dengan saya: sampai dewasa saya tidak punya passion yang pasti. Hahaha... sounds pathetic but it is true somehow. Saat kecil, ada satu guru saya yang menanyai muridnya pengen jadi apa kelak. Kebanyakan jawaban ya standar anak kecil: insinyur, dokter, pengacara, polisi, presiden, dan sebagainya. Karena dulu saya terkesima dengan Om saya yang seorang diplomat -- bisa keliling dunia dengan dalih "tugas negara", dengan mantap saya menjawab cita-cita saya menjadi diplomat (yang kemudian diketawain, "diplomat itu apa sih kok mirip merek rokok?")  Lol ngga penting.

Menjelang remaja, saya menonton video klip Guns 'N Roses yang "Welcome to the Jungle" untuk pertama kalinya. Terkesima dengan solo gitarnya Saul Hudson, saya kemudian bertekad untuk menjadi musisi. Peduli setan dengan cita-cita kecil saya menjadi diplomat. Pokoknya musisi! Sempet membentuk beberapa band -- terakhir pas kuliah bikin group band macem Alec Empire/Atari Teenage Riot gitu. Sempet dikenal di kalangan buruh karena pernah manggung di Istana Negara Yogyakarta saat demo Mayday dengan menyanyikan lagu yang liriknya sarat akan makna subliminal palu dan arit hahaha… We were bunch of leftist students trying to look cool.


As the time went by, lama-lama keinginan buat jadi musisi sirna juga. I love music – ternyata sebatas sebagai penikmat saja. Tidak sebagai pelaku.

Ada saat dimana saya kehilangan arah – “Mau dibawa kemana ini hidup saya ya?” It was highschool graduation. Saya harus memutuskan mau kuliah dimana. And I had no idea. 5W-1H nya ngga dapet. Blank. Saya ngga punya gambaran kehidupan perkuliahan itu seperti apa. So dulu waktu sekolah SMA, saya badung minta ampun. Countless cases lah sampe saya kudu pindah sekolah juga gara-gara dikeluarin. Waktu lulusan, Mama tanya, “Mau kuliah dimana Dit?”

Seriously, saya nggak tahu harus jawab apa selain jawaban klise macem, “Aku pikir-pikir dulu deh.” 

Karena saya berusaha keras menebus dosa masa lalu, di sebuah acara makan siang saya jawab,

“Aku ngikut Mama deh, mau kuliah dimana, you decide.”
“Ya udah, ikut jejak Papa aja ya, kuliah ilmu hukum.”
“Oke.”

And voila, saya diterima di 2 universitas: UGM dan UII, yang mana fakultas hukumnya sama-sama bagus. Eventually saya pilih UGM, and then my college life began, miserably.

Tidak ada yang bilang bahwa kuliah ilmu hukum itu bakal hapalan semua lah, beratus-ratus ayat KUHP dan KUHAP, belajar Bahasa Belanda… saya stress – dengan bukti sangat jelas di KHS: IP saya enol koma di semester pertama. Cuma dapat nilai A di Bahasa Inggris. Selebihnya kalo ngga D, E, ya fail. Ngelihat IP kayak gitu rasanya males banget lanjutin kuliah. Semester 2 dan 3 saya lanjutkan dengan ogah-ogahan. Rugi 2 tahun nggak ngapa-ngapain.

Saya mengecewakan banyak orang di point ini. Papa terutama sih, secara dia ngarep banyak banget dari saya kuliah di fakultas hukum untuk meneruskan jejaknya. Anyway, saya mencoba focus di what I am really good at, daripada meratapi nilai jelek terus-terusan, ngga ada gunanya. Yep, saya mencoba ikut ujian masuk UGM lagi, kali ini mengincar Sastra Inggris sebagai pilihan utama, dan pilihan keduanya ngasal – waktu itu saya pilih ilmu pemerintahan. Saya keterima di pilihan kedua. Sastra Inggris UGM kandas. Kecewa? Nggak juga sih, karena masih ada backup – fakultas sastra Inggris almamater saya Universitas Sanata Dharma. Kampus dimana saya bertemu dengan pujaan hati saya. Yek…

Berkuliahlah saya disitu dengan segala keasyikannya. Saya ngga tahu besok habis lulus mau jadi apa, ga ada gambaran sama sekali. Yang jelas, saya sadar bahwa dari dulu nilai Bahasa Inggris saya selalu di atas rata-rata. Itu yang akan saya asah terus. Gambling sih emang hahaha… namanya juga milenial LOL. Di titik ini saya membuka diri untuk belajar hal-hal baru. Mulai dari fotografi, bikin film, berorganisasi, belajar desain, copywriting – hard skill yang tidak akan saya dapat di sekolah formal.

Walhasil, setelah lulus, saya bener-bener bingung mau bekerja di bidang apa. You will understand if you see my CV – kerja hampir di bidang yang ngga pernah konsisten. Setelah pursue master degree di sekolah seni (dan gagal), ini profesi yang pernah saya jalani:
  1. Fotografer
  2. Operator warnet
  3. Researcher
  4. Marketing staff
  5. Customer service
  6. Web copywriter
  7. iOS quality engineer
  8. Project manager
  9. Digital information assistant

Semuanya pernah.

Saya ngga tau ya inconsistency bidang kerja ini good thing atau bad thing. Tapi yang jelas, my life is a little bit lucky, saya kerja di bidang yang kebetulan saya demen. Banyak cerita dimana ada orang yang “melacur” demi dapat kerjaan. Job fair disambangi dan ngeblast CV ke semua perusahaan tanpa mau tahu job description-nya apa. Alhasil setelah dipanggil, ternyata kerjaannya sama sekali ngga sesuai dengan minatnya. Terus mikir “ambil aja deh daripada ngga kerja”, Lalu kerja di perusahaan itu, lulus probation, jadi karyawan tetap, lalu udah pewe, mau pursue the dream udah takut kalah saing sama yang muda, dan kemudian menjalani kerjaan yang “salah” for the rest of his/her life. Money-earning zombie.

Lalu salah siapa ini?

Jokowi.


Saya sudah nemu apa yang saya demen, tapi saya belum nemu passion saya even up to now. Beda dengan Grace – yang emang udah nemu passion dia dengan menulis. I know goals and dream can be changed, replaced, or even added. Karena mimpi tidak berbanding lurus dengan realita. However,jadi ingat sama motivational poster yang saya baca di Bandara Narita:

“Ordinary people adjust their dream with the reality. Extraordinary people adjust their reality with their dream.”

Mind-blowing.

So yeah, saya membayangkan alangkah bahagianya jika teman-teman saya yang bilang mau jadi dokter/insinyur/presiden di masa kecilnya living their dreams dengan menjadi apa yang mereka mau.

Teman-teman, adakah dari kalian yang menjalani hidup sesuai idealismemu? Atau ada yang sampe sekarang kerja jauh dari apa yang dicita-citakan? Or even, malah lupa dengan mimpi masa kecilnya? Cerita dong di comment section. Saya bener-bener penasaran.

***

Grace:

Bicara tentang cita-cita, saya sama banget kayak Adit. Sampai kuliah, saya nggak tahu mau kerja apa dan nggak ada bayangan mau ngapain setelah lulus. Saat masih kecil, kalau ditanya soal cita-cita, saya even lupa saya jawab apa. LOL.

Naik ke kelas XI (zaman saya kelas 2 SMA udah disebut kelas XI), sudah harus penjurusan. Itu juga saya nggak tahu mau masuk apa. Nggak tahu saya pengin apa. Masuk ke jurusan IPA, IPS, atau Bahasa sih bisa semua karena nilai-nilai saya equally good. Akhirnya masuk ke jurusan IPA simply because anak IPA terlihat smart, walaupun nerd. I wanted to look smart. Remeh amat prinsip saya saat itu.

Sudah masuk IPA, ternyata saya nggak enjoy dong. Biologi doank yang enjoy karena hapalan. Mata pelajaran Fisika dan Kimia, nilai saya mepet sekedar mencukupi target naik kelas. Matematika apa lagi. Saya sekedar hapal rumus aja. Tapi nggak bisa menggunakan rumusnya dalam hitungan di soal. Intinya, saya merasa salah jurusan banget nget nget.

Saya yang nggak punya prestasi menonjol di bidang IPA, lumayan terselamatkan karena saya cukup sering mewakili sekolah untuk ikut lomba pidato Bahasa Inggris. Yang terselamatkan adalah harga diri saya, maksudnya. HAHAHAHA.

Jadi lama-lama saya menyadari bahwa saya lebih suka dan lebih bisa di bidang hapalan dan bahasa. Tapi ya telat. Wong sudah kadung masuk jurusan IPA kan. 2 tahun saya lewati dengan penuh perjuangan because I really hate Kimia dan Fisika haduh susahhhhhhhhhhhhhhh. Terima kasih Bu Endah dan Pak Darjito, guru Kimia dan Fisika saya yang sabar menghadapi saya yang begajulan demi menghalau kebosanan saya menyimak materi.

Walaupun sudah mulai mengenal kemampuan saya adalah di hapalan dan bahasa, saya masuk ke fakultas Sastra Inggris di Jogja bukan karena saya sudah betulan tahu yang saya mau. Alasan nya remeh like super duper remeh. Saya milih kuliah di Jogja dan specifically di kampus Sanata Dharma karena ngikut mantan pacar aja. I was like really dependant to my boyfriend.

Udah diikutin kuliah sampai Jogja eh tahu nya putus dong. BHAY!

But, tetap ada yang saya syukuri sih sebenernya. Dengan saya terdampar di Sastra Inggris, ternyata saya enjoy banget menjalaninya. Enjoy bangeeetttttt. Enjoy sampai level sekarang saya kepengin mengulang masa kuliah lagi, ketemu dosen-dosen yang dulu, diajari lagi mater-materi yang dulu, saya mauuuuu.

Ada mata kuliah Writing, Prose, dan Poetry di jurusan saya. Suruh bikin karangan naratif, deskriptif, persuasif, puisi, ballad, lirik, prosa, cerpen, dan macam-macam. Di situ lah saya merasa, "Ternyata aku suka nulis!"


Dan ya keterusan sampai sekarang lewat blog ini.

Saya baru menyadari saya suka menulis saat kuliah. Tapi, sebenernya ada orang lain yang sudah menyadari itu sejak saya masih SMA loh. Mantan pacar saya.

(Papi, maaf aku belum cerita ini ke kamu kayaknya ya. Hehehe...)

Ini mantan yang beda sama mantan yang saya ikuti kuliah sampai ke Jogja. Mantan yang ini, sekelas pas kelas XI. Intinya dia pernah bilang, "Grace, kayaknya kamu suka nulis. Besok kamu pasti bisa cari makan dengan nulis."

And he's right. Sekarang saya ngeblog karena saya memang menikmati. Dan saya bisa dapet duit juga dari blog ini.

(Hi, Ricko! If you're reading this, thanks ya! LOL)

Kira-kira apa yang salah dengan sistem pendidikan dan pola asuh kita, ya? Kenapa hanya segelintir orang aja yang bener-bener tahu apa yang diinginkan dan dikerjakan, sehingga mengambil jurusan yang sesuai saat SMA dan kuliah?

Wanna share your thoughts?


Love,






26 comments:

  1. Hahaa..samaaa, aku juga ga tau mau ngapain, dan memang bener nemu passion itu susah, harus digali sehjak kecil. Makanya sekarnag kalo ke anak anak aku mau tunjukin berbagai macam profesi, bahkan yang bisa dikerjakan dari rumah, dan diajakin kesana kemarin buat bermain, biar mereka tau dunia itu luas ^^

    ReplyDelete
  2. yaaaay... jumat is papii ubii's day!

    gue kayak Adit (pengen banget disamain)

    I have been through several jobs which was totally different like langit dan bumi.

    1. guru privat (up 2 now)
    2. operator warnet nyambi penerjemah
    3. pelatih renang (see? random abis!)
    4. guru SD
    5. guru SMK (masih)
    6. penulis konten
    7. freelance VO talent
    8. bloher ala ala(cieeeh)
    9. tukang dagang

    cita-cita: pramugari.

    nggak nyambung, kan? 😂😂😂

    overall, I enjoy this life (like I have any other choice. bah!😂😂)

    ReplyDelete
  3. Pertama kali komen di sini, just because this topic occupy my mind all the time. Lulus SMU, aku bertekad mau kuliah astronomi, dulu hobi banget memandang langit malam, ceilee..Pas smu, benci banget sama biologi, nilai ebtanas cuma 5, pas umptn dr seluruh soal biologi cm jawab 3. Tapi ujung2nya kuliah di farmasi dan lanjut kuliah di biologi medik sampai sekarang. Hidup bs berbelok sedemikian rupa, haha. Still wonder all the time what if I dare to choose astronomy at that time.:(

    ReplyDelete
  4. mau cerita juga ahhh...waktu mau penjurusan di SMA,,aku tuh kepengen bangettt masuk urusan bahasa,,secara nilai bahasa inggris tuh slalu mayan lah ditambah lagi kalo masuk jurusan bahasa dpt pelajaran tambahan bahasa jerman..kan keren tuuhh..eh tapiii ternyata bokap kagak stuju kalo aku masuk jurusan bahasa dia keukeuhh bgt pgn anaknya masuk jur IPA..akhirnya dengan amat sangat terpaksa masuk jur IPa lah aku..di kelas tu ngerasa bored bgt secara eike kagak suka pelajaran fisika..tapi yaa mau gmn lg terpaksa hrs dijalanin juga...sampe alhirnya lulus SMA & ditanya jg sama bokap"mau kuliah ngambil jurusan apa?dia nanya tapi sambil udh ngasi jawaban sendiri gt, bokap blg udh lah ambil jur analis kimia aja ya..tar gampang lho cari kerja nya...hadeeehh..daftar lah SPMB di UNPAD,jur analis kimia & gak lulus sodarah2..hahaa..akhirnya eike kuliah di D3 UNPAD ngambil jur Manajemen..ya setengah hati juga sich kuliah nya coz gak sesuai sama suara hati..bhahaaaa..sekarang udh jadi emak aku berfikir nya tar anak2 ku jangan lah ngerasaian yg sama kyak emaknya..biar anak2 ngelakuin apa yg emang bener2 mereka mau kerjain bukan karna paksaan..jdnya mereka enjoy ngejalanin nya...

    ReplyDelete
  5. Halo mami ubii.. Salam kenal ya. Saya silent reader aja selama ini, tapi sekarang tergelitik utk komen. Cita-cita saya waktu kecil? Mmmm... Jadi ibu rumah tangga!!! Beneran, hahahaaa... Alasannya, krn mama saya wanita karir yg sangat sangat sibuk dan saya iri dgn teman2 yg selalu diantar-jemput mamanya ke/dari sekolah. Dan saya (yg masih kecil) bertekad, gak mau perasaan iri itu terjadi pd anak2 saya (nanti). Jadi lah.. walaupun saya lulusan S2 -dari LN pula- tetap kembali ke cita2 masa kecil, dan suami pun mendukung. Sayang (gelarnya)?? Iya sih.. Tapi lebih sayang anak2 ;-)
    Untungnya, saya enjoy dgn peran saya. Sepertinya passion saya memang "mengabdi pada keluarga" :-D

    ReplyDelete
  6. Cita-citaku dulu jadi pramugari atau guru TK. Berjalannya waktu, ternyata aku suka nulis dan main musik. Akhirnya jadi editor dan si-gadis-bergitar-di-dalam-kamar. Untungnya orang tuaku selalu mendukung dan mereka bahkan nganter2in aku manggung ke mana2 dulu pas zaman sekolah, bahkan Papaku yg menjadi pembela nomor satu waktu orang 'menyayangkan' kok aku manggung2 aja, ngegig2 di mana, kok jadi penulis 'aja' (banyak yg nganggep smp sekarang kerja di dunia kreatif itu dapat uangnya dari 'ngepet' dan seolah gak ada jluntrungannya huehehhe ... )

    ReplyDelete
    Replies
    1. ketawa baca ini, dpt uangnya dikira dari ngepet:))

      Delete
  7. ya ampun..idem lah sama juga pe sekarang masih nyobain banyak hal. pas SMA sukanya sejarah sama biologi, kimia dikit2lah. lalu caru jurusan apa sih yang ada pelajaran tersebut, dan nemu Farmasi (padahal ga kenal apoteker itu siapa, farmasi itu ngapain aja, wkkka). meski begitu ternyata aku ga salah jurusan, means pas banget memang sesuai yg aku sukai. dan makin ke sini sebenernya prefer yang ke pasien langsung, alias pelayanan,konseling obat, alias ngobrol sm mereka. kadang ada yg bilang kalau aku cocoknya masuk psikologi, tapi kayaknya ga juga sih, secara psikis diri sendiri aja masih kacau balau, gimana mau kasih saran ke org lain, hehe.

    dan 1hal yang baru kusadari, ternyata saat SMA, aq juga jatuh cinta sama nulis. Sejak ada guru bahasaku yang saat masuk, kami diminta nulis sebelum pelajaran dimulai, biasanya sih dengan tema tertentu, dan aku menikmati banget, excited. buku diary di rumah juga nggak pernah kosong, selalu penuh cerita galau, haha. tapi ada juga yg pernah bilang, bahwa bakatku dagang?? hmm, ga tahu juga sih. yang jelas dari ketiganya, entah nulis, farmasi, sama dagang, aku suka semua..terus gimana dong?:D

    ReplyDelete
  8. Aku aku aku sama kyak mas adit (sok sok nyamain) HAHAHA...
    Awal2 pgen jd dokter, trus jd duta besar biar bs jlan2 kluar negri, eh ujung2nya pas kelas 3sma bingung mw kuliah dmn... Ya cm ngikut2 aja karna kbetulan dl suka ngutek2 komputer jd deh nyemplung ke jurusan IT, tak pikir gampang eh ternyata syusyah mas bro. Belajar coding kl bukan passion itu bikin stress, temenku ada yg sampe muntah2 wkwkwk... Aq belajar coding karna kepaksa soalny kl gbs nilaiku jelek wkwkwk... Trus hbis lulus kuliah ambyar kabeh menguap ilmune... Padahal kerja ya di software house, tp milih yg gampang aja jadi implementator sistem hahaha... Itu jg syusyah ding... Ya ga jelaslah mw dibawa kemana cm pikirku jalani aja dulu...

    Ok aq ikutan curhat dsni ya ges hahaha...

    ReplyDelete
  9. Hi Mba Gesi, salam kenal.. :) Saya pengen cerita ni,,hehehe,, sampe sekarang saya belum nemu passion saya apa. Tapi akhir2 ini saya sering update blog saya yang usang. Yap, saya balik nulis lagi tapi ya cuma seputar curhatan saja. Jujur aja semenjak baca blog mba tentang awkarin itu saya terus baca postingan mba yang lain. Jadi silent reader lebih tepatnya.. :D Lalu saya jadi punya semangat lagi buat nulis, rasanya sayang banget kalau hal-hal kecil yg saya lakukan ini ga didokumentasikan. Seenggaknya saya bisa dikenang nanti lewat tulisan di blog saya..hehehe.. Akhirnya saya balik nulis.. Saya merasa senang sekali, saya nulis sampai lupa waktu, nulis dengan perasaan berseri-seri.. Apa mungkin ini yg dimanakan passion? :D
    Saya adalah mantan seorang IT engineer. Saya ga bahagia kerja di bidang itu, karena saya memang ga bisa coding. Suatu kebodohan banget memang karena waktu mengambil SPMB dulu saya ga ngerti jurusan Ilmu Komputer itu kayak gimana. Saya kira seperti kuliah design atau grafis animasi yang sepertinya menarik. Setelah kecemplung di IT, untuk mentas pun saya ga tega karena biaya kuliah yg dikeluarin ortu juga ga murah. Akhirnya mau ga mau saya menjalani itu semua dan lulus dengan susah payah.
    Setelah lulus pun pekerjaan yang saya incar juga IT engineer, karena untuk bersaing di pekerjaan bidang umum tentu banyak pesaing apalagi saya orangnya ga pandai bersosial. Saya keterima di salah satu perusahaan IT di Bali yang sekarang juga buka cabang di Jogja. Syukurnya di perusahaan tempat saya bekerja ada sistem pindah stream job, dari Software Engineer ke Software Quality. Akhirnya saya pindah ke SQ dimana job desk saya sekarang adalah testing. I love my job.. Saya jadi sedikit teringat jaman kuliah dulu dimana saya mengeluh putus asa ke teman saya saat mengerjakan tugas coding yang super berat "Aku emoh koding, aku pengen ngetest-ngetest wae". Dan sekarang omongan saya didengar Tuhan.
    Saya pengen nanti anak saya ga kayak saya ini waktu sekolah dan kuliah karena ga ngerti apa yang dipengen, ga ngerti minatnya apa. Jadi sebisa mungkin saya harus kenalin berbagai macam profesi atau berbagai macam hobby ke anak, sehingga orang tua jadi ngerti apa yang mereka minati.
    Maaf mba Gesi saya jadi ikut curhat.. (bow)

    ReplyDelete
  10. Sistem pendidikan yang masih harus dibenahi dan juga pola asuh turut memberikan andil terhadap kekurangpahaman pengambilan jurusan setelah SMP maupun SMA. faktor ekonomi keluarga juga sangat berpengaruh
    h

    ReplyDelete
  11. Saya juga salah jurusan sih.. Etapiiii secara kekeluargaan aku ngerasa pas. Eh ngga nyambung ya

    ReplyDelete
  12. Kayaknya support ortu ngaruh bgt Mba Grace.. Dari kecil ortu udh ngasih liat beragam profesi, suka diajak ke pameran rumah liat maket2 trus pingin jd arsitek sampai akhirnya aku nyaman bgitu ngobrolin berita di koran di tv sama ortu dan tercetuslah cita2 jd wartawan dr waktu msh kecil.. Ditambah pelajaran sosial dan bhasa emang paling menonjol.. Sempetjd reporter dan skrg kerja di media yg aku bisa nyalurin passion nulis aku.. Kebebasan yg dikasih ortu terhadap pilihan anak kyaknya jg bisa bikin anak itu jadi pede dgn pilihannya sendiri..

    ReplyDelete
  13. nah lo mantan yang mana ini...hayoooooo...hahaha...betewe ibuku baru2 ini sepertinya benar2 merasa kecewa akan keputusanku nggak make ijazahku buat cari kerja alias cari duit...tapi dibalik kekecewaannya tanpa sadar beliau ngakuin kalo sebenarnya sudah sejak awal (mulai smp) "sadar" kalo aku suka nulis :D

    ReplyDelete
  14. seru banget ya ceritanya...
    ternyata banyak banget ya profesi yang pernah dijalani,
    dan ternyata nge-blog juga profesi yang bagus ya...
    bagaimana sih tips agar konsisten menulis dan kreatif Mbak?
    terima kasih

    ReplyDelete
  15. Basic education perawat..lulus S1 dari UGM, PNS di RS..trus pindah ke Greenland kerja jd perawat di RS..trus makin suka sama motret..aku seriusin sampe skrg ...Passion motret lebih besar daripada kerja di RS--skrg dibarengi ngeblog :)

    ReplyDelete
  16. passionku sepertinya nulis tapi kalau cita-cita pengen bisa bisnis dari rumah biar bisa sambil urus anak. Ini sudah tercapai.

    Sebelum ini pernah kerja sebagai:
    1. Videographer
    2. CS Bimbel tapi kerjaannya lebih kayak penjaga warnet. Jaga lapak sambil internetan
    3. Account officer yang ngider2 keliling kota cari klien
    4. Marketing
    5. Customer Service

    saya ga tau sih kenapa seseorang itu ada yang cepat nemu passion, ada yang ga nemu-nemu. Tapi buat saya sebagai orangtua, inginnya sebisa mungkin mendukung apapun yang anak inginkan selama itu positif.
    Ortu saya gitu juga soalnya memperlakukan kamim memberi kebebasan sambil mengajarkan tanggungjawab :)

    ReplyDelete
  17. aku juga mau ceritaaah :D
    dari SMP suka nulis cuman ngga pede kalo dibaca orang. eh baru inget, dulu pas SD suka bikin cerita pendek kecil-kecilan gitu di kertas buku tulis dibagi empat trus distaples, trus dibagiin ke temen-temen hahaha eh pas tuanya kok malu ya waktu cerpen hasil lombanya terbit wkk..
    saya dulu pengen masuk kuliah sastra indonesia karena emang gila baca, tiap baca majalah horison selalu misuh-misuh sendiri karena "ih kok bagus, ih aku ngga mungkin bikin yang kayak gini.." trus pada akhirnya bingung karena kalo ditanya "emang kalo kuliah di situ tuh ntar kerjanya apa?"
    trus langsung mikir juga.
    habis itu daftar di teknologi pangan. kiraain bikin-bikin makanan doong yaaaa ternyata ya belajar kimia pangannya, pengawetnya, ngapalin bakteri, RUMUS GLUKOSA FRUKTOSA dan kawan-kawannya! Akhirnya apa? IP standaaart, organisasi endaak, pengalaman apalagii.. akhirnya 6 bulan ini saya masih nganggur LOL.
    pas mau usaha bikin roti pun juga masih harus berhadapan dengan banyak tetek bengek lainnya. trus sekarang mikir "kenapa dulu nggak kursus roti aja ya, yang mahal gitu wkk"
    mungkin bakalan melawan pandangan orang-orang ya, kayak nggak biasa gituu.. tapi kalo udah gini kan kayak setengah-setengah. bikin roti ya standart, nulis standart, sarjana pangan buangaan..
    banyak kok temen-temen saya dulu yang jurusan kuliahnya nggak biasa, misal tata rias. dulu kan belum boom banget tuh mekap-mekap gitu ya mbak. sekarang dong yang lainnya masih mbabu ke orang, dia udah punya salon sendiri hihihi.
    Intinya apapun jurusan kuliah, kalo kita beneran suka, beneran serius dan emang kita nyemplung bener-bener ke situ, keluarannya pasti beneran bagus kok. (kalimatnya embuhlah, pokoknya maksudnya ya gitu ya mbak..)
    sekian curhatan saya sore ini. hihihi

    ReplyDelete
  18. if you don't like something, change it or at least do something about it.

    Yes, empat tahun lalu, ketika bekerja sebagai PR Internal sebuah start up yang baru banget, saya merasa pekerjaan itu bukan saya banget. Ops, ralat, lingkungan kerjanya bukan saya banget. Karyawan cuma tiga (sales dan markom di kantor yang lain), dan ketiga-tiganya sibuk sama komputer masing-masing, saya merasa kalau pekerjaan selama 7 jam dan jarak dari rumah ke kantor sangat dekat lamaaaaa dan membosankan.

    AKhirnya, setelah berpikir cukup lama, seminggu lebih, saya putuskan untuk... Oke, gw harus cabut. dengan konsekuensi gw nggak kerja tapi itu bisa dicari.

    Baru sebulan bekerja, saya pilih resign, dan saya ikhlas untuk tidak menerima gaji karena saat itu saya merasa kerja tidak maksimal. Kerja saya belum bisa bikin keuangan kantor bertambah. Buat apa saya menerima gaji kalau kerjanya belum ada apa-apanya?

    Sebelum jadi jurnalis, saya kerja sebagai

    1. Figuran sinetron Indosiar dan alay INBOX
    2. Assiten dosen laboratorium Wirausaha (padahal saya anak fakultas Ilmu Komputer jurusan Sistem Informasi) selama empat tahun
    3. Media sosial di salah satu ahensi selama tiga bulan
    4. PR internal selama satu bulan dan pilih resign tanpa terima gaji
    5. Jurnlis yang sudah masuk tahun kelima. Saya betah menjalani profesi ini

    ReplyDelete
  19. Before comment, Thanks Mas Adit ang Mbak Grace for sharing this theme.
    Kenalin, saya Raisa (tanpa Andriana) 😀 mahasiswi jogja. Saya tertarik memberikan jawaban tentang pertanyaan yang dilempar mbak Grace,
    Kira-kira apa yang salah dengan sistem pendidikan dan pola asuh kita, ya? Kenapa hanya segelintir orang aja yang bener-bener tahu apa yang diinginkan dan dikerjakan, sehingga mengambil jurusan yang sesuai saat SMA dan kuliah?
    .
    Saya pikir itu kesalahan orangtua kita hehehe meski tidak mutlak.
    Just sharing, dalam Islam kan ada 4 kriteria dalam memilih pasangan, salah satunya "hasab". Hasab itu masih seduluran sama nasab mbak. Kalau nasab itu silsilahnya, kalau Hasab itu kemuliaan atau keunggulan silsilah tersebut. Itu yang pertama.
    yang kedua, sifat atau karakter pada anak itu terbentuk dari dua hal, hasab dan pendidikan. hasab tadi harus digali oleh orangtua dan kemudian diarahkan juga oleh orangtua. Kemudian pendidikan,ini memang bagian "kasb" atau diusahakan dan dilatih oleh orangtua kepada anaknya.
    Pengalaman saya, orangtua saya hanya membiarkan saya mengalir apa adanya, tanpa pernah mengarahkan dan juga tanpa memaksa saya harus jadi apa atau gimana-gimana (dalam hal passion atau jurusan masa SMA atau kuliah). They just said "It's up to you,you know what you have to choose". saya rasa itu adalah sebuah kesalahan, Alih-alih tidak ingin memaksa untuk mengambil sesuatu, tapi ya sudahlah. It's ok :).
    Kesimpulannya ya mbak, kelak jika saya jadi orangtua, saya akan lihat nasab dan hasab saya sendiri dan calon suami. Saya akan menggali apa yang jadi pembawaan anak saya yang berasal dari suami saya kelak dan saya. Saya tidak akan memaksa jika nanti berbeda dari apa yang saya arahkan, mereka punya hak untuk itu. Kelak,sebagai orangtua saya akan mendukung keputusan apapun itu selama tidak melanggar nilai kebaikan dan agama.
    Saya mendoakan agar Mbak Grace dan Mas Adit bisa memberikan arahan dan bimbingan bagi Ubi dan Aiden kelak. Saya percaya dibawa asuhan mbak Grace dan Mas Adit, mereka tidak akan menjadi anak-anak yang biasa-biasa saja. Mereka akan luar biasa, I'd like to look that in future mbak. Apalagi saya tahu bahwa mbak dan mas adalah orangtua yang punya budaya literasi yang keren. Itu poin terpenting dan utama, seperti wahyu pertama yang turun "Iqra'" yang artinya perintah membaca. Terima kasih sudah memberikan ruang berbagi ilmu, khususnya parenting. Semoga bermanfaat bagi semua dan jadi amal bagi kita semua. Aamiin.
    Keep writing!
    Salam,
    Raisa

    ReplyDelete
  20. kerjaan sekarang udah sama dengan cita2 masa kecil dulu
    walaupun sebelumnya sempat berubahn pengen jadi yang lain..
    nah kepengenan yang lain itu yang sekarang menjadi tema blog aku, sejarah, budaya dan biologi he..he..

    ReplyDelete
  21. Saya dulu pengen jadi petani. Tapi sawah di daerah saya mulai habis jadi perumahan. Gak jadi deh..hehehe
    Btw saya serius baca awal tulisan papi Ubii tapi langsung gubraakk..ngakak pas salah jokowi plus fotonya *ampuun dehh..

    ReplyDelete
  22. saya dulu dari TK sampe SD pingin jadi polisi soalnya liat mbak saya keren banget gitu banyak duit lagi hahaha tpi setelah SMP berubah pingin jadi pengacara alasanya remeh karena keliatannya keren lol tapi seiring berjalan nya waktu rasanya ilang dan gak tau mau jadi apa
    lulus SMP bingung masuk mana, akhirnya ngikut sodara saya masuk SMK bingung lagi milih jurusan dan lagi ngikut aja sama sodara masuk IT padahal saya gaptek banget gak pernah megang komputer was was takut jadi anak paling bodoh se kelas tapi kenyataanya gak, saya malah bisa dikatakan masuk golongan anak yang pandai selalu 5 besar hahaha suka banget coding program desain ternyata passion saya rupanya, mau lulus bingung lanjut apa pilih pinginnya sih jurusan lain karena ambisi saya pingin punya keahlian yg banyak XD dan ya akhirnya pilih bahasa inggris karena pingin bisa. sampai saat ini belum tau kedepannya mau jadi apa tapi udah beberapa kali kerja jauh banget dari cita2 yg pertama, pernah jadi Tata usaha sama Guru di SD, jadi pramuniaganya toko roti, pegawai percetakan, jauh banget dari cita2 yg dulu jadi polisi XD

    ReplyDelete
  23. kalo aku mah jelas2 salah ambil jurusan dari smu... tapi sbrnnya itu gara2 papa -__-. dari smu aku udh tau, aku lbh suka bahasa. kalo pelajaran eksakta mah itu udah kayak momok hidup banget dah.. apalagi matematika, fisika dan kimia.. aku sadar 100% aku ga bgs di sana.. jd wajar aku milih IPS pas pemilihan jurusan.. kalo ada bahasa mah aku pasti milih itu.. sayangnya kelas bahasa udah dihapus di sekolahku dulu.

    pas pemilihan kelas, aku berhasil dapat nilai rata2 9 utk IPS, dan rata2 5 untuk IPA ;p.. dont care at all lah ama ipa. Tapi lagi2, papa yg dtg lgs ke sekolah dan nth pake kuasa apa, dia berhasil nyeret aku ke kelas IPA :(.. sampe pak wali kelas nepuk2, nenangin supaya trima aja apa yg disuruh papa... akibatnya apa, aku males belajar. jujur aja, pas ujian akhir, matematikaku dpt nilai 3 Ges wkwkwkwkwkwkw... untungnya jamanku dulu ga ada ceritanya ga lulus.. semua murid pasti dinaikin walo nilainya jeblok gitu ;p.

    pas kuliah, aku udh bertekad mau masak sastra. sastra inggris ato apa ajalah, yg penting sastra. alternatifnya sekolah perhotelan krn aku mikirnya bisa magang di luar negri ;p . lagi2, papa dengan otoritasnya merintahin utk masuk ekonomi ato jurusan eksakta :(.. alasan dia sih, "kalo kamu mau masuk sastra, papa sekolahin kamu di negara bahasa yang kamu ambil, tapi ttp dgn jurusan yg udah papa minta" .. jadi doi mikirnya sastra itu cuma bljr bahasa tok.. mndingan ambil lgs di negaranya sono ..

    jadi gitu deh, nasib anak yg ga bisa ngelawan, harus nurut apa kata ortu, walopun ujung2nya aku jd lebih pemberontak drpd adek2ku :D.. Makanya anak2ku nanti, ga bakal aku paksa mau jd apa ges.. aku cuma bisa nyediain fasilitasnya... yg terpenting mereka bisa excell di salah satu bidang yg mereka kuasai.

    ReplyDelete
  24. Curhat juga ah, ku SMA juga masuk IPA and merasa ga enjoy gt, haha, habis itu kuliah disuruh daftar jurusan matematika sama bahasa inggris sama ibukq alhamdulillah yg ketrima jurusan bahasa Inggris and aku enjoy banget mb, untungg bukan matematika yang ketrima dl Haha...alhamdulillah sampai sekarang bisa bergelut dengan bidang bahasa sampai sekarang

    ReplyDelete
  25. Hidup gw persis yg Adit bilang money earning zombie... Dulu punya cita2 pengen jd reporter, trus kuliah di d3 broadcast, trus mau lanjut ekstensi ke s1 jurnalistik, nampak udh sesuai alurnya ya... Gataunya telat daftar dan kudu nunggu taun dpn nya *damn bgt* cape nganggur, dapet kerjaan di bank lumayanlah buat uang jajan. Tp niat kuliah lg tetep ada, scr udh cita2 pengen jd reporter. Udh daftar kuliah ngerasa sayang amat ya kerjaan gw tinggal, jadinya kuliah ganti haluan ke public relation dgn harapan jd pns. Lulus kuliah sampe skarang msh aja tetep kerja di bank, reporter?? Bhaaayyy~

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^