Monday, January 2, 2017

Jujur Pada Diri Sendiri dan Lebih Damai, Resolusi 2017

Jujur Pada Diri Sendiri dan Lebih Damai, Resolusi 2017. Beberapa hari lalu saya ngobrol sama Windi Teguh dan dia bikin saya mikir. Obrolannya sih remeh aja sebenernya. Dan Windi juga spontan banget ngomongnya. Tapi karena saya melankolis, hal remeh pun bisa saya pikirin. ZZZ. 



Intinya, Windi bilang ke saya, "Ges, kamu sadar nggak sih belakangan ini tulisanmu di blog tuh agak beda?" Udah deg-deg an pas baca itu, karena saya langsung mikir, "Hah beda gimana? Different good or bad nih ah Windi nyebelin bikin orang mikir aja!"

Lengkapnya more or less kayak gini ya.

Windi: Ges kamu sadar nggak belakangan ini tulisanmu beda?

Gesi: Hah beda gimana emang?

Windi: Dulu aku mandang kamu tuh kayak ibu-ibu panutan. Kamu yang wise, yang suka stimulasi anak. Makanya aku jarang mampir ke blog kamu karena aku lebih suka mampir ke tulisan yang isinya curhat.

Gesi: Damn.

Windi: Eh iya lho. Baru belakangan ini kan kamu lebih berani nulis curhat-curhatmu di blog.

Gesi: Oh iya ya. Kayak kemaren aku berani cerita di blog aku punya tato baru.

Windi: Iya itu. Dulu kan kamu kalo cerita tato nggak seterang-terangan itu. Intinya gitu lah. Masa kamu nggak nyadar sih? WTF

Gesi: Ya nyadar sih.

***

Saya emang nyadar sekarang saya lebih berani menceritakan sesuatu di blog. Ya wong saya yang nulis dengan sadar. Tapi ternyata orang lain yang baca bisa nyadar juga yah? Hehehe.

Saya belakangan ini memang kepengin lebih apa adanya. Apa yah kata yang tepat. Bingung juga. Intinya saya kepengin lebih jujur dan lebih Gesi, dan itu membuat saya lebih enteng dan damai. Kayak misal duluuuuu, saya pernah nulis tentang orangtua yang bertato. Tapi, yang saya ceritakan mainly adalah Adit yang emang tatonya segede gaban. Bagian tato saya, cuman saya tulis sekilas like:

Kalau saya sih jarang dapat tatapan "wah tatoan, preman nih" karena tato saya ketutupan baju.

Baca: Parents with Tattoos Can Be Great Parents Too

Udah gitu doang kayaknya. Nggak berani lebih detil padahal sebenernya masih banyak cerita nggak enak ketika orang ngeliatin tato saya yang pengin saya tulis juga.

Beda sama Oktober 2016 kemarin, saya cerita tentang saya punya tato baru specifically di 1 blogpost.

Baca: New Tattoo

Call me munafik atau pencitraan, it's okay. 

Dulu memang saya pilih-pilih banget apa yang boleh saya ceritakan di blog dan apa yang sebaiknya jangan. Saya mikirin kira-kira gimana nanti reaksi orang saat baca. Apakah mereka akan judge saya? Will they hate me? Will they talk about me behind my back? Will they preach me? And many more.

Dulu, saya ngerasa kalau saya nggak bisa sejujur ini karena baru bikin komunitas kesehatan. Masih baru banget mengalami berurusan sama rumah sakit, klinik, dokter, direktur rumah sakit, blablabla untuk bikin agenda event kesehatan. Ya jadi saya kayak ngerasa, saya harus 'menyesuaikan' mereka. Ibarat mereka tampil rapi pakai jas, ya saya menyesuaikan dengan pakai baju yang nggak keliatan tato nya. Tapi tentu saja itu bukan cuma perkara outfit. Saya jadi menyesuaikan cara berbicara dan cara bertingkah laku mereka-mereka yang mayoritas jauh lebih senior daripada saya dari segi usia.

The bottom line is, dulu saya mikir banget kira-kira kalau saya nyablak di tulisan-tulisan saya seperti aslinya saya, kira-kira bakal berdampak ke komunitas yang saya bikin nggak ya?

Tanpa saya sejujur ini pun, saya merasa dibedakan. Kayak orang-orang yang lebih tua dari saya saat liat saya ngeliat dari atas sampai bawah balik ke atas lagi lalu komentar, "Wah masih muda ya, dari email dan telepon nya saya kira padahal Bu Grace sudah lebih tua." Dan percaya lah itu bukan pujian yang maksudnya saya keliatan awet muda, NO. Itu lebih ke "Kok masih kayak anak-anak sih ternyata ni orang."

Lalu beberapa orang yang tadinya memanggil saya 'Bu' di email dan telepon jadi mengubah panggilannya ke 'Mbak.'

Saya menangkap kesan bahwa orang-orang yang menyuarakan isu kesehatan diharapkan punya mature and serious look, something that I don't have. Kalau udah gini, saya mengutuki kenapa wajah dan postur saya terlalu kayak anak-anak dan nggak ada kesan dewasa nya. Believe it or not, I get judged karena itu.


Makanya saya jadi mikir, "Aku sudah berpenampilan 'menyesuaikan' mereka aja, aku tetep disepelein karena aku masih muda dan kayak anak-anak. Gimana kalau aku be my self, ketawa ngakak, suka becanda remeh alay, suka pake celana pendek, dan punya tato? Apa nggak bakalan makin dijudge?"

And eventually saya jadi kayak menyembunyikan my true self. Jadi kayak nggak banyak yang tahu saya suka dan bisa becanda heboh, ketawa ngakak, dan nyeletuk 'anjir, what the f*ck' saat becanda. Yang tahu ya sahabat-sahabat saya sejak SMA dan kuliah aja. Yang emang udah kenal saya dari dulu. Yang emang kenal saya sebagai Gesi instead of Grace Melia yang aktivis isu Rubella. 

Sama temen-temen baru yang kenal dari komunitas kesehatan atau komunitas blogger, ya ada juga yang tahu banget aslinya saya. Tapi ya paling berapa orang doang. Dan saya jadi sayang banget sama mereka karena mereka bikin saya merasa diterima apa adanya. Saya nggak perlu hati-hati saat becanda, nggak perlu ngerem saat mengumpat, nggak perlu mencitrakan diri saya sebagai seseorang yang dewasa. Mereka tetap yakin sama saya, mereka tetap percaya saya mau campaign Rubella tanpa saya harus jadi orang lain.

Dulu saya merasa perlu 'menyesuaikan' ekspektasi orang supaya saya didengar dan agar isu yang saya ingin gaungkan lebih diperhatikan. I worked my ass off for that.

Thanks to blog and media social. Saya mulai bisa bercerita dan menyerukan tentang Rubella dan special needs di sini. Orang bisa baca dan bisa lihat fotonya tanpa saya harus sok dewasa. Saya bisa jadi diri sendiri.

I've begun to feel peaceful. 

Ke depan nya, saya pasti tetap masih ingin sounding tentang Rubella, gimana mencegah, dan apa saja bahayanya pada janin. Saya pasti tetap sharing hal-hal seputar disability supaya anak-anak berkebutuhan khusus mendapat support system yang lebih baik.

Baca: 10 Gambar Kampanye Disabilitas

Tapi saya juga mau lebih jujur. Saya mau lebih apa adanya. Saya mau sharing hal-hal yang jadi concern saya dengan gaya saya, bukan dengan gaya ibu-ibu aktivis lain yang memang dari awal setelannya udah dewasa. 

Karena ternyata nggak be myself itu capek. I don't think I would give a shit anymore to what people say about me. You wanna judge, be my guest. I'll do it for myself, to find peace.

Saat saya menceritakan masa remaja saya yang pernah jadi rebel kayak Awkarin, saya minta Adit baca dulu.

Baca: Catatan untuk Para Orangtua, Dulu Saya Pernah Menjadi Karin Novilda

Adit bilang ya gak papa, tapi siap-siap aja kalau ada yang ngomen negatif. Dan memang ada. Komen-komen semacam, "Ini sih cari pembenaran doank" atau "Ini kok kesannya nyalahin ibunya padahal dia nya juga brengsek" atau lucunya lagi "Mana nih foto-fotonya pas dia masih muda? Jangan-jangan cuman ngaku-ngaku aja dulunya pernah nakal."

Adit sih yang jadi tameng saya. Dia yang ngademin dan bilang nggak usah dipikirin. Tapi ya saya tetep sempat nggak habis pikir sih, masa iya saya harus jembreng foto-foto kenakalan saya. Malu lah. Saya cerita kan harapannya bisa jadi reminder supaya kita (as parents) bisa menjalin kedekatan sama anak especially saat anak-anak sudah masuk ke usia remaja nanti biar mereka nggak segan curhat sama orangtua nya, bukan mau pamer dan minta pengakuan, "Nih loh aku pernah jadi anak nakal" - enggak lah. Karena ngapain juga saya minta diakui dulu pernah nakal. Sudah bukan masa nya lagi membanggakan hal itu.


Resolusi 2017 Grace Melia, saya mau lebih jujur pada diri sendiri. Saya mau jadi diri sendiri. Saya mau berusaha mencapai tujuan dengan cara saya. Nggak yang lagi terlalu all out 'menyesuaikan' ekspektasi orang lain tapi bikin saya nggak hepi. My inner peace matters.

Lebih jadi diri sendiri bukan berarti saya tiba-tiba nulisnya pakai lo-gue, karena emang aslinya nggak pernah juga pakai kata-kata itu. Tetep pakai saya, kamu, kalian, karena emang udah nyaman aja. Ya intinya mau lebih jujur aja dan lebih berani menunjukkan sisi Gesi saya.

Bukan berarti Grace Melia yang kemarin-kemarin fake semua. Saya selalu dan tetap akan jadi Gesi yang suka bikin craft, suka bikin mainan DIY, suka cerita perkembangan Ubii setelah terapi, nggak ngoyo bikin MPASI homemade becoz Aiden saya kasih ayam KFC kalau lagi GTM kok LOL. Tetap perfeksionis melankolis. Tetap terobsesi sama kotoran kuping dan kapal kaki (nggak tahu kan kalian tentang ini LOL). Pokoknya mau lebih jujur aja lah. Susah deh jelasin nya. HAHAHA.

I'm writing this with full consciousness with Adit's support like 100%. Maybe you won't like me as much as you did. Masa ibu-ibu aktivis kesehatan suka pakai celana robek-robek dan punya tato kentara.


Masa mommy blogger mengumpat di blognya dan dulunya pernah jadi remaja rese. Masa seorang ibu bisa segitunya bosen jadi ibu rumah tangga menghabiskan waktu 24/7 sama anak-anak padahal harusnya anak adalah prioritas setelah kita jadi ibu. Endebre-endebre.

Baca: Bosan Jadi Ibu Rumah Tangga

Adit be like, "Jadi nanti aku bisa nulis Diari Papi Ubii tanpa banyak sensor lagi, Yang?" LOL.

It's okay. Hidup hanya sekali. Saya mau hidup saya lebih bahagia.

I think it's not too much to ask.

And for those who still wanna be my friend setelah saya lebih jujur, terima kasih. Much appreciated!


Jadi, apa resolusi 2017 kalian, gengs?

Btw, saya sedang ngadain New Year Giveaway dengan bejibun hadiah. Jangan lupa ikutan yah!!!

Baca: New Year Giveaway Diari Mami Ubii



Love,







Photo's taken by JG (@jago_gerlong), thanks I love it!

19 comments:

  1. Jujur sama diri sendiri? Pasti rasanya akan lebih lega ya, Mbak? :D

    ReplyDelete
  2. I feel u mbak. Hambatan besar saya dalam menulis adalah ketakutan being judge. Karena kita tidak bs membatasi komentar orang lain. Tp beneran, jd diri sendiri saat menulis, membuat tulisan kita lebih jujur dan lebih manusiawi mbak. Semoga tambah sukses di th 2017, mbak grace!

    ReplyDelete
  3. Wah, kadang aku pengen kelihatan cute seperti Mbak Grace. (Peace) :'D

    ReplyDelete
  4. Setuju, daripada coba nyenengin orang lain tapi bertentangan dengan hati, jadi capek sendiri, btw aku lebih senang postingan curhat, soalnya sering ngerasa lonely eh pas baca postingan curhat orng suka merasa senasib dan nggak lonely lg

    ReplyDelete
  5. I love u whoever u are mba ges.. Aku bru ngeh dlu pnh share ttg awkarin itu ternyata tulisan mba gesi. Wktu itu blm msk komunitas keb jd blm kenal mba gesi. Pd masanya aku jg pnh nakal kok, pnh pny rmbut cepak ( aku tunjukin ke anak2 foto cepak aku lho:p) & pd akhrnya masa lalu lah yg membentuk ku jd lbh baik. Keep be ur self..

    ReplyDelete
  6. Aku justru lebih suka baca tulisan yg ga trlalu di sensor :p. Yg mau nulis apa ada ajanya.. Yg isi tulisannya ga kayak lg ceramah.. Percaya deh, tulisan yg begitu justru yg bakal ga pernah aku dtangin lagi :p. Tulis apa adanya aja ges.. Jujur ma diri sendiri, ga hrs selalu nyenengin org lain, malah bikin tulisan kita kliatan lbh enak dibaca..

    Aku blm prnh bikin resolusi yg mnyangkut diri sendiri.. Selalunya hanya ttg traveling, brp negara, mau kemana aja, dan berpa kota thn ini bakal aku dtangin. Krn cuma itu yg aku suka di dunia, yg bikin aku slalu semangat utk kerja :D.

    ReplyDelete
  7. Saya suka semua tulisan disini, kocak, serius dan keren. Jadi ga melulu kocak dan juga ga melulu serius. Selamat tahun baru grace

    ReplyDelete
  8. Ibu-ibu aktivis kesehatan yang suka pake celana joger trus tiba2 benerin celananya karena mlorot, terus suka makan krupuk apa itu ges yg dulu km bawa dr tempetku? HAHAHA...

    ReplyDelete
  9. Aku -lagi2- dikatain sama suami, Ges. Nulis itu jangan kebanyakan teori aja ah, yang biasa aja, yang kamu alami sehari-hari. Intinya sih membumi gitu. Doh, seketika aku merasa hidupku penuh dengan teori-teori. LOL.

    Mungkin iyasih manfaat, tapi yakin deh teori itu jarang yang sampai. Paling cuma 'oh, gitu ya'. Abis itu udah.
    Lain dengan teori yang emang udah jadi kenyataan dan kita alami, yang seringnya malah meleset dari teori itu kan? *yaampun mbulet aja ini komenku :p

    Makanya aku suka dengan resolusimu ini. Mau tak sontek ya. Untuk perkara jujur menjadi diri sendiri, yang tentu saja lain tho diriku dan dirimyu. *mbulet maning. Hahahaha.

    Wes ah, sukses terus buatmu, Gesi! <3

    ReplyDelete
  10. Mau nulis serius kek, curhat kek, ibu-ibu panutan kek, ibu-ibu gaul kek, ngehek kek, lahhh apa aja aku mah selalu suka tulisan mba Ges, mengalir dan apa adanya. Enak gitu diabacanya.

    Met taun baru ya mba Ges... :*

    ReplyDelete
  11. Gesiii yang seumuran aku, kayaknya emang tipikal ibu2 macam kita (((kita))) ya emang seperti ini. Tetap semangat ya , jadi gesi yg nyablak tapi tetep ngangenin

    ReplyDelete
  12. Mbaak, aku malah kagum dan salut lho ama keberanianmu n Mas Adit nulis apa adanya tentang kehidupan kalian. Kalau aku untuk curhat2 emang ga di blog Keluarga Biru, rencana nanti di blog pribadi. Jujur pada diri sendiri itu memang melegakan dan bikin hidup lebih enteng dijalani.

    ReplyDelete
  13. Mbak gesi tapi aku beneran salut lo ama mbak gesi, karena apapun yang ditulis ama mbak grace ga pernah ada kata garing. Bahkan beberapa kali ternyata saya nemu di wall saya seliweran tulisan mbak grace dishare oleh teman2 saya dari komunitas lain, yang artinya memang tulisannya di akuin oke.

    ReplyDelete
  14. Sama kayak aku mbak Ges, beberapa kali suami ingetin kalau menulis di blog ya tulis aja seperti yang kamu rasakan. Supaya tulisannya lebih mengalir dan enak dibaca pembaca blog. :D

    ReplyDelete
  15. pencitraan itu emang penting Mami Ubii..
    Aku pun jaim banget kalo di socmed,
    Jangan sampe harga diriku jatuh berantakan dan kemudian dituduh sebagai emak-emak tak bermartabat yang sukanya nyepam foto brondong Korea, jangan sampeee!
    *ckckck, padahal mah emang udah hancur lebur martabatnya*

    Selamat tahun baru yaaah,
    Moga tahun ini makin sukses nge-blognya :)

    ReplyDelete
  16. wah baru memantengi blogmu mba..dan langsung jatuh hati..with you personally apa ada nya :)

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...