Saturday, October 7, 2017

Sebut Saja Resiko Cari Duit Dari Blog


Selama ini saya gemes sama blogger yang apa-apa tentang pembayaran telat distatusin karena ya ampun kan saru ih. Tapi sekarang saya malah mau tulis keluhan yang sama di satu blogpost. Kemakan omongan sendiri at its best. Hahaha.


Buat temen-temen blogger/buzzer, selama ini kalau terima sponsored post baik di blog atau di media sosial, ada kontraknya/SPK nya nggak? Kalau ada, selalu dibaca sampai benar-benar mengerti hak, kewajiban, dan posisi kita, atau asal tandatangan doang?

Selama ini, saya selalu baca sebelum tanda tangan. Tapi tanpa benar-benar tahu seperti apa posisi saya kalau pihak pertama (klien) melakukan contract breaching.

Saya cerita dulu aja background pengalaman yang melahirkan postingan ini yah.

Note: Ini bakalan panjang.

Jadi di suatu masa hahaha, saya dapet sebuah job yang nominalnya sungguh besar. Berkali-kali lipat dari nominal pekerjaan yang biasanya saya terima. Bukan karena rate saya fantastis kok, tapi karena kerjaan yang ini klien ambil banyak. Nggak cuman satu postingan blog dan satu Instagram post, tapi sampai lebih dari 8 Instagram post plus 1 blogpost. It's something pokoknya. Nggak dikit untuk kantong saya.


Baca: Mengimbangi Suami

Supaya gampang, mari kita sebut saja saya mempromosikan produk beras dari brand Doraemon.

Di kontrak, kewajiban dan hal-hal yang tidak boleh saya lakukan lumayan banyak. Poin-poinnya nggak saya tulis semua yah:

πŸ’¬ X kali post di Instagram @grace.melia dan 1 blogpost di blog www.gracemelia.com selama masa periode kampanye yang akan dilakukan sesuai arahan pihak pertama.

πŸ’₯ Simplenya: Harus posting sesuai jadwal dan arahan walaupun misal brief dikasih sehari sebelum jadwal, yang artinya saya harus kemrungsung nulis, foto, atau cari stok foto yang sesuai padahal keseharian saya nggak mungkin ya cuman utak-atik laptop. Itu ada dua anak yang perlu diurusin.

πŸ’¬ Tidak boleh mengikatkan diri dengan pihak lain. Tidak boleh menerima tawaran menjadi model iklan, brand ambassador, buzzer, blogger, endorser, atau apapun itu untuk brand kompetitor.

πŸ’₯ Simplenya: Selama periode kerjasama, saya nggak boleh ambil tawaran apapun dari brand kompetior Doraemon. Nggak boleh ngiklanin beras dari brand Upin Ipin. Nggak boleh juga ngiklanin susu kedelai dari brand Sailor Moon kalau ternyata Sailor Moon juga punya produk beras.

πŸ’¬ Tidak boleh memberikan dukungan secara lisan dan tertulis terhadap produk brand kompetitor.

πŸ’₯ Simplenya: Misal ada yang nanya di media sosial saya, "Mbak Ges, aku kan pakai berasnya Sailor Moon. Menurut Mba Ges, bagus nggak sih?" Nah, saya nggak boleh bilang itu bagus (walau misal menurut saya ya bagus-bagus aja) karena Sailor Moon kan kompetitor dari Doraemon yang sedang jadi klien saya.

πŸ’¬ Tidak boleh terpublikasi oleh media baik cetak atau elektronik sedang membeli, memiliki, atau mengonsumsi produk kompetitor.

πŸ’₯ Simplenya: Misal nih saya diwawancarai sama media tentang program imunisasi Measles Rubella, ndilalah backgroundnya adalah rumah saya yang keliatan ada produk dari kompetitor, nggak boleh.

πŸ’¬ Tidak boleh mengeluarkan pernyataan baik lisan atau tertulis pada publik yang mengakui keunggulan produk kompetitor.

πŸ’₯ Simplenya: Misal ada yang nanya di media sosial saya, "Mbak Ges, aku sebenernya mau makan beras Doraemon tapi kan mahal, kutak sanggup. Jadi aku masaknya pakai beras Upin Ipin soalnya lebih murah." Nah itu gaboleh tuh kalau saya tanggapi dengan, "Oh ya, Mba, gapapa. Beras Upin Ipin walau murah tapi enak juga kok." Nggak boleh.

〰〰〰

Kesan awal: Oke, got it, wajar kok ada kewajiban seperti ini. 

πŸ˜ͺ Kenyataan #1: Bener loh jadi harus hati-hati di media sosial sendiri. Mau nanggepin sharing orang lain di sosmed, mikir dulu, eh saya nyebut brand pesaing Doraemon nggak ya. 

πŸ˜ͺ Kenyataan #2: Aduh malah ada orang yang komen di IG nyebut brand pesaing Doraemon. Shit, hapus aja nggak ya. Mikir.


πŸ˜ͺ Kenyataan #3: Brief postingan IG yang X kali itu diberikan sungguh mepet. Udah deal dan tanda tangan kontrak sejak Januari, katakanlah. Brief baru dikasih bulan Maret tanggal 25, untuk jadwal post tanggal 27 Maret. 

πŸ˜ͺ Kenyataan #4: Briefnya langsung rapelan. Brief tanggal 25 Maret itu jadwalnya untuk tanggal 27, 28, 29, 30 Maret (misal). Jadi udah kemrungsung karena mepet, makin kemrungsung karena yang perlu disiapkan lebih dari satu konten.

πŸ˜ͺ Kenyataan #5: Ini personal sih. Pas brief yang mepet itu turun, itu pas nanny saya lagi cuti. Jadi saya lagi ribet-ribetnya di rumah tuh.

Baca: Libur Lebaran Tanpa Asisten, Bisaaa!

πŸ˜ͺ Kenyataan #6: Ini general aja deh. Ada beberapa post IG yang mengharuskan foto bersama anak. Astaga apa dikira Aiden (atau balita pada umumnya) itu selalu kooperatif dan mau difoto? NGGAK LAH. Balita se-Aiden itu belum bisa disuruh, "Yak, tahan posenya ya, biar Papi dapet dulu fotonya." Belom bisa. Jadi yang selama ini saya lakukan sama Aiden itu bukan pose, tapi main bareng dengan memegang produk. Lalu Adit akan siaga cekrek kamera puluhan kali sampai ada foto yang layak. Kalau ternyata belum dapet, maka cari waktu lain untuk main bareng dengan produknya LAGI dan foto LAGI sampai dapet. Layak di sini means: produk keliatan, muka saya dan Aiden keliatan, nggak blur.

Baca: Endorsing Kids

πŸ˜ͺ Kenyataan #7: Fotoin Aiden itu really difficult. Produk keliatan, wajah bahagia, tapi blur karena dia gerak terus kan. Gantian tidak blur dan produk keliatan, mimik wajahnya lagi serius banget sampai mecucu yang takutnya malah dikira anaknya tidak bahagia atau dipaksa sampai terluka batinnya.


πŸ˜ͺ Kenyataan #8: Semua oke, produk jelas, mimik wajah Aiden bahagia, namun Mami keliatan gembrot.

πŸ˜ͺ Kenyataan #9: Apakah setelah dapet foto lalu end? No. Masih kudu bikin caption kan. Bikin caption yang menampilkan poin-poin yang diminta klien namun tetap sesuai style saya dan nggak terkesan hardselling banget itu ya pake mikir. Nggak sekedar merem langsung voila!

Btw, sebelum lanjut, saya mau negesin dulu bahwa walaupun saya dibayar untuk mengiklankan atau mendukung sebuah produk, bukan berarti saya 100% lip service doang ya. Karena saya cuman ambil campaign/kerjasama produk yang: saya pernah pakai, sedang pakai, atau at least tertarik untuk pakai. 

#ribet #dijelasin

Baca: Tentang Sponsored Post Di Blog Diari Mami Ubii

〰〰〰

Dengan kewajiban saya sebagai pihak kedua yang sampai lebih dari 10 poin, kewajiban pihak pertama cuman 3 poin doang:

πŸ‘Œ Memberikan honorarium pada pihak kedua selaku KOL (Key Opinion Leader) sejumlah XX.000.000 rupiah.

πŸ‘Œ Memberikan honorarium tersebut nett setelah dipotong pajak.

πŸ‘Œ Memberikan honorarium selambat-lambatnya 30 hari setelah masa kontrak berlangsung melalui bank transfer.

Catat ya poin penting nomor tiga di atas: selambat-lambatnya 30 hari.

Dan mari katakanlah kemarin masa kontraknya habis 30 Maret, jadi aturannya saya harus sudah dibayar paling lambat 30 April. 

Untuk kewajiban-kewajiban demanding di atas dan kenyataan-kenyataan yang challenging, saya terima sebagai resiko pekerjaan. Really, I did. BUT, tentu saya juga mengharapkan hak saya diberikan sesuai kontrak.

There are some reasons:

πŸ’ First, beneran kemarin itu saya keponthal-ponthal kerjain karena brief turunnya mepet dan di saat nanny libur. Coba kalau jauh-jauh hari udah dikasih, maka saya tidak perlu kemrungsung. Benar bahwa seseorang itu harusnya bisa bekerja di bawah tekanan. Tapi, brief baru turun setelah dua bulan dari waktu deal lalu ternyata schedule postnya mepet amat, ya wajar dong kesel.

πŸ’ Second, I did my best I possibly could. Dan itu DIBUKTIKAN dengan laporan statistik postingan blog dan IG post yang bagus. Untuk postingan blognya doang, udah 4000 pageviews hanya dalam waktu kurang dari seminggu setelah published, padahal saya awalnya cuman janjiin 2000 pageviews doang malah.

Baca: Tips Menjaga Traffic Blog Ala Mami Ubii


πŸ’ Third, ya wajar kali deh berharap dibayar sesuai tanggal perjanjian ya kan. Mau nominalnya berapa pun sih. Kecil, lumayan, atau gede. Pasti ngarepnya dibayar tepat waktu.

πŸ’ Fourth, nominal XX juta itu bukan nominal yang bisa bikin saya bilang, "Yaudah lah ikhlasin aja. Mungkin aku lagi apes. Mungkin reminder kalau aku kurang sedekah." Hati saya tidak seluas samudra.

〰〰〰

30 April ternyata belum ada payment. Sampai Mei dan Juni kelar juga belum ada payment. Masih bisa dimaklumi kalau:

πŸ’š Ada alasan yang jelas mengapa payment terlambat.

πŸ’š Agency mudah dihubungi. Nggak yang hanya read chat doang lalu raib ditelan bumi.

πŸ’š Sekalinya mengirim email memberitahukan keterlambatan pakai bahasa yang ramah dan please ada kata MAAF nya. Ini mah nggak. Blas nggak ada permintaan maaf malah terkesan ngotot kalau yang namanya agency itu punya peraturan dan timeline sendiri dalam urusan pembayaran. WOW!


Sudah jelas ada contract breaching. Di kontrak tertera paling lambat harus sudah dibayarkan 30 April, tapi sampai Juni masih tetap belum dibayar.

Saya paham ada contract breaching, namun saya tidak paham apakah saya ada di posisi yang bisa mengajukan kompensasi dari keterlambatan yang tidak bermartabat ini.

Lalu saya buka-buka lagi kontraknya. Masih nggak paham. Saya kirim ke Papa Adit. Mertua saya hakim kamar perdata, btw. Jadi beliau paham banget sama gini-ginian.

Dan mertua saya pun highlight kelucuan dari kontrak kerjasama beras Doraemon ini.

😩 Kontraknya sangat berat sebelah, di mana kewajiban pihak kedua (saya) banyak banget dan kewajiban pihak pertama (agency) cuman begitu doang. 

😩 TIDAK ADA pasal kontrak yang mengatur konsekuensi / denda / pinalti jika pihak pertama tidak menepati kewajiban waktu pembayaran. Ini yang bikin saya posisinya lemah. Ya iya agency langgar kontrak, tapi saya juga nggak bisa meminta kompensasi apapun wong nggak ada pasal pinalti untuk agency.

😩 Ada poin seperti ini: Apabila terjadi perselisihan, kedua belah pihak sepakat untuk menyelesaikan secara damai dan musyawarah. Apabila cara tersebut tidak terselesaikan, maka para pihak sepakat untuk menyelesaikannya melalui arbitrase di Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) sesuai prosedur BANI > yang kata mertua saya sungguh doesn't make any sense. Kenapa harus ke BANI hanya untuk kerjasama yang nilainya segitunya doang. It's not a million dollar worth partnership. Padahal sekali kasus ke BANI itu 20 juta biayanya. Dan padahal semestinya nggak usah jauh-jauh deh wong di pengadilan negeri aja punya prosedur small claim court yang sangat simple dan biayanya 'hanya' 500 ribu. Biar apa ke BANI? Biar ribet dan mahal kalau saya mau nuntut?

Dan berikut nih chat dari mertua saya:
Setelah tak baca, kontrak itu berat sebelah. Tidak imbang kedudukan pihak. Terlalu banyak kewajiban pihak kedua. Tapi tidak ada sangsi bila pihak pertama lalai. Perjanjian tidak boleh berisi pengesampingan pasal suatu peraturan perundangan. Kalau pihak pertama tidak mengeluarkan surat tertulis pengakhiran padahal waktu telah terlampaui, bagaimana?

Lalu, lesson nya apa? Kalau saya pribadi menarik pelajarannya sebagai berikut:

πŸ’ͺ Posisi blogger/buzzer itu memang biasanya lemah. Saya jadi iseng buka kontrak-kontrak kerjasama yang lain. Dan nggak ada satu pun yang punya pasal pinalti kalau klien telat bayar. Vice versa, banyak sangsi yang diberlakukan kalau blogger/buzzer dirasa mengecewakan seperti: diputus kerjasama nya secara sepihak, klien berhak tidak membayar, etc.

πŸ’ͺ Awareness blogger/buzzer tentang ini masih kurang. Saya yakin deh masih banyak yang nggak bener-bener ngerti posisi kaya gini. Jadi, ada baiknya punya temen yang ngerti tentang hukum. Nggak cuman untuk perkara ini doang sih. Tetek bengek tentang hukum kalau ngerti dikit-dikit itu pasti ada manfaatnya.

πŸ’ͺ Sadly, in this kind of partnership, biasanya klien/agency lah yang berwenang merumuskan poin-poin kontrak dan kita hanya diminta tanda tangan doang. We don't get to revise, suggest, or add anything. Jadi ya emang cuman bisa take it or leave it sih. And if decide to take it, maka berarti kita juga harus siap dirugikan. Dirugikan dalam arti dibayar nggak tepat waktu dan kita nggak punya kekuatan berlandaskan hukum untuk menuntut pembayaran on time. I know it sucks but what choice do we have anyway?

πŸ’ͺ Bisa juga dirugikannya dalam bentuk lain. Misal kita diminta meng-host sebuah lomba di blog kita. Ternyata tiba-tiba ada masalah sehingga lomba dibatalkan sepihak oleh penyelenggara. Kita sebagai host lomba tentu rugi lah! Rugi effort dan waktu udah bikin tulisan dan woro-woro, rugi materi kalau kita udah pasang ads, dan ini yang nggak bisa ditukar sama apa pun: rugi kredibilitas. Karena mau nggak mau, nama kita sebagai host lomba pasti jadi kena bisik-bisik walau sebenernya kita mah dirugikan juga dan kita nggak salah. It happened to my friend. Dear you, stay strong!

πŸ’ͺ Dengan tahu posisi dan konsekuensi kerjaan model begini, at least kita lebih siap sih kalau dibayar lelet. Dan at least bisa nggak menjagakan fee dari kerjaan ngeblog untuk bayar sesuatu yang ada tenggat waktunya. Misal kita jatah bayar hutang atau bayar biaya sekolah anak maksimal tanggal 20 Maret. Kita santai aja mikir, "Ah gampang. Toh fee ngeblogku tanggal 15 harusnya udah cair, jadi bisa bayar pakai fee itu." Itu mendingan jangan sih. Ya kalau dibayar tepat waktu. Jadi mending cari backup plan mau bayar pakai apa kalau emang fee dari kerjaan blog ternyata belum cair tanggal 15.

πŸ’ͺ Yang bisa berpotensi jadi masalah juga adalah karena di kontrak biasanya pihak pertama adalah agency. Jadi agency yang tanda tangan. Bukan brand. Jadi kalau amit-amit ada masalah antara brand dan agency, kita nggak bisa nagih apa-apa ke brand nya juga. Mereka pasti lepas tangan karena nggak tanda tangan kontrak.

〰〰〰

Anyway, yang saya rant di atas itu BUKAN memukul rata semua agency pasti kaya gitu yah. Baru sekali ini saya ngalamin hal kaya gini.

πŸ’ž Nggak semua kontrak kerjasama se-demanding itu.

πŸ’ž Nggak semua kontrak kasih larangan untuk nyebut nama brand kompetitor di postingan pribadi yang bukan sponsored.

πŸ’ž Nggak semua klien kasih briefnya semepet itu sama jadwal post. Banyak juga yang udah jauh-jauh hari banget sehingga saya bisa all out kerjainnya. Kayak misal sponsored post Downy Easy Iron ini, ngasih briefnya malah satu bulan sebelum schedule. Aduh enak banget.

πŸ’ž Sering sih saya dibayar telat melebihi batas waktu pembayaran. Tapi biasanya (kecuali yang Doraemon ini yah) bisa ngejelasin dengan friendly, meminta pengertian dengan sopan, dan tidak lupa meminta maaf. Dan, penting: mereka telat bayar tapi nggak lalu ngilang ditelan angin. Chat diread DAN direply. Lalu kalau misal saya remind bahwa ini sudah melebihi deadline pembayaran, nggak lama juga mereka kemudian bayar.

πŸ’ž Dan banyak juga yang melakukan pembayaran tepat waktu, bahkan di awal. Jadi begitu saya ngumpulin draft (belum publish postnya) itu udah ditransfer aja. Itu juga banyak.

〰〰〰

Oh gosh it's such a long post yah ternyata hahahaha. Lega akhirnya bisa mengeluarkan unek-unek ini. So maybe my point is: dapet duit dari blog emang enak banget tapi siap-siap aja sama pembayaran telat dan kita nggak bisa nuntut apa-apa.

Ini tulisan yang nggak ada solusinya sama sekali. But I hope ini bisa ningkatin awareness kita, para blogger, untuk lebih memahami kontrak dan resiko-resikonya. Semoga someday ada aliansi blogger atau apa kek gitu untuk melindungi para blogger. Aminin aja. Hehe.

Another lesson learned for me: Saya jadi kepikiran banget jadinya pengin jualan apa kek gitu biar ada pemasukan lain. Jual apa enaknya yah? Hahahaha.



Love,






77 comments:

  1. Tulisan yang berguna banget buat para blogger untuk lebih aware terhadap kontrak. Selama ini aku masih sebatas baca sebentar lalu main tanda tangan. Thanks for sharing

    ReplyDelete
  2. Dear you, stay strong! Semoga semua dapat solusi yang terbaik.
    Setelah baca ini awareness ku makin meningkat. Setidaknya aku harus hati2 dan benar2 baca SPK sama klien biar nggak keblinger juga. Thanks ya ges sudah berbagi. Moga2 kita semua dapat menjalankan kerjasama dg bagus bersama brand. Amin

    Btw jual mie lidi rasa macam2 aja, atau cemilan2 gitu. Aku suka makan hahahaa gak nyambung

    ReplyDelete
  3. duh aku ga kebayang kalo nominal segrde itu telat bayar, hoho. thanks Mom Ges jadi bikin pikiranku lebih terbuka soal SPK

    ReplyDelete
  4. Huhuhu.. syedihhh bacanya. Ayo kita sama-sama tingkatin awareness tentang masalah ini. Semoga teman-teman blogger yang juga berkecimpung di dunia hukum atau at least punya temen-temen hukum, someday bisa ikut memberikan titik terang, lalu membuka jalan lebar sebagai solusinya. Aamiin.

    ReplyDelete
  5. Tenang mam, sekelas Diana Rikasari aja pernah nulis ttg kerjasama yang salah satunya kayak gini kok dikeluhin juga. Bukan masalah duitnya, bukan. Tapi dimana letak peofesionalnya, gitu

    ReplyDelete
  6. Kalau aku tetep seperti apa yg pernah kuungkapkan dulu. Bukan masalah nominal berapanya tapi lebih pada komitmen kedua belah pihak. Brief yang mepet wakti padahal sudah bolak balik ditagih, tambahan persyaratan ini itu yang (mungkin) tak pernah dibicarakan sejak awal, dan segala permintaan yang jatuhnya memberatkan secara sepihak, masih ditambahn lagi dengan keterlambatan pembayaran tanpa kabar apapun. Duuuuh ngenes

    Jadi ya menurutku, ini jadi pelajaran buat kita semua. Besarnya nominal bukan alasan untuk memaklumi segala keribetan yang ditimbulkan. Nominal kecil atau besar hanya masalah deal dan pandai-pandainya nego di awal, tapi seharusnya semua tetap memperhatikan kaidah perjanjian dan saling menghargai satu sama lain.

    ReplyDelete
  7. Thanks for sharing mamges. Usulku jastipbaja mam lg ngetren hehe

    ReplyDelete
  8. Noted mba grace,,,, mesti bner2 faham kontrak kerja, fahami pasal2nya y kdng udh Lihat nominal gk peduli,, nuhun,,, kpn sy spt mba grace yg dpt /kontrak harga Mio����

    ReplyDelete
  9. Huwaa...TFS mak Gesi...jadi lebih paham ttg SPK dsb. Btw, moga segera ada jkn keluar ya kasus beras Doraemonnya. Semangat!

    ReplyDelete
  10. Wah...ilmu penting banget Ges. Thank you so much for sharing. Nemu dua kasus kaya gini dari teman-teman blogger emang bikin serem.Tapi jadi lebih aware.

    ReplyDelete
  11. Dan jadi penasaran siapakah Doraemon itu wkwkwk

    ReplyDelete
  12. Aku selalu review dan minta perjanjian diubah kalau ada yang ga sreg. Cuma masalahnya suka ga ada kontrak hard copy plus materai walaupun nominalnya di atas 1juta.

    Udah pernah minta dikirim, tapi ditolak dengan halus. Mau maksa kok takutnya terkesan arogan. Apalagi mau nambahin klausul denda buat agency kalau mereka yang salah.

    Memang agak ribet dan gambling kadang untuk urusan ini :(

    ReplyDelete
  13. Jadi kepikiran emang mbak. Terutama klo terjadi pelanggaran kontrak dari agensi tidak ada solusi tertuang dlm SPK

    ReplyDelete
  14. Sangat bermanfaat, Mba, semoga bisa lebih berhati-hati ke depannya. Dan semoga ada agensi yang baca ini, supaya tau persoalan blogger seperti apa. Jadi biar kerjasamanya sama-sama enak..

    ReplyDelete
  15. Sangat bermanfaat, Mba, semoga bisa lebih berhati-hati ke depannya. Dan semoga ada agensi yang baca ini, supaya tau persoalan blogger seperti apa. Jadi biar kerjasamanya sama-sama enak..

    ReplyDelete
  16. Bener banget mba, jadi pelajaran buat content creator untuk lebih memahami kontrak perjanjian lagi

    ReplyDelete
  17. Halo Mami Ubii, sudah lama gak main ke mari, eh ninggalin jejak. Pernah main ke mari tapi belum ninggalin jejak hehe.

    Sedih baca tulisan ini. Tapi, yah ... begitulah ... posisi kita memang tidak kuat. Harus siap-siap menghadapi hal-hal tak terduga -_-

    ReplyDelete
  18. nggak cuma blogger, mami...freelance content writer pun demikian... 😩😫😡ucing ala ebi kl fee telat...

    eh, setuju tuh kl ada aliansi blogger... bikin atuh, mami...πŸ˜‚

    ReplyDelete
  19. Nggak dipungkiri, jangankan masalah kontrak yang detail. Masalah ada fee atau enggak aja masih ada teman2 yg katanya sungkan untuk nanya, apalagi kalau ditawarin sama somebody yang dia bakalan takut nggak kebagian job lagi dari orang itu.

    Masalah kontrak kerja gini memang mesti baca ulang2. Terkadang kalau ribet, saya kasih lihat salah seorang teman blogger, takutnya saya salah baca.

    ReplyDelete
  20. Bener, emang SPK harus dibaca baik-baik ya.

    ReplyDelete
  21. Gatau mau komen apa, tapi sharingnya pasti sangat bermanfaat bagi blogger profesional ��

    ReplyDelete
  22. Thanks for sharing mamGes, jadi lebih aware terhadap hal-hal yang kadang nggak kupikirin sebagai blogger pemula

    ReplyDelete
  23. Semangat ya Mbak Ges, buat teman kita yang baru saja ngalamin hal tidak enak atas pemutusan sepihak lomba blog nya..
    Semoga segala urusannya segera selesai dan dilancarkan. Amin...

    ReplyDelete
  24. Bermanfaat sekali mbk tulisannya,pernah ngalamin sekali.Semoga jd pelajaran tuk lebih cermat lg kedepannya.

    ReplyDelete
  25. Aku masih digaji receh, belum pernah sampe XX juta, haha. Semoga suatu saat bisa merasakan, hehe.
    Makasih sharingnya Mba', semoga segera selesai ya masalahnya. :)

    ReplyDelete
  26. Sya Full irt tp dr tulisan ini sya belajar.. heihehe

    ReplyDelete
  27. Selalu ada pelajaran dari setiap pengalaman baru yang kita dapatkan.

    Good share, Gesi πŸ‘ thanx for sharing this.

    ReplyDelete
  28. Semua kerjaan ada resikonya. Semoga jadi pelajaran untuk kita smua. Semoga Mba Gesi segera ada solusi dari Doraemon yaa..

    ReplyDelete
  29. Serem juga kalau ketemu yang kaya gitu ya, Mbak. :( Amit-amit dah

    ReplyDelete
  30. Ternyata ada udang di balik lembaran kertas. :'D Lha, gimana jadinya kalau nggak ngerti kaya aku gini?

    ReplyDelete
  31. bagus banget postingnya Gees.. thanks ya

    ReplyDelete
  32. Sedih bacanya MomGes 😒 Salam peluk ya πŸ˜„ ternyata ng segampang dapat fee dari blog ya.Ada resiko yg lumayan besar kalo pas kena...Saya termasuk orang yang beranggapan enak n tidak ada resiko sama skali.Ternyata stl dijembrengi baru tau ada juga resikonya.Apalgi kalo kredibilitas yang jadi taruhannya.Padahal point itu yang penting menurut saya.Stay strong ya#colek#Smoga dgn kejadian ini Rezeki mengalir dgn lancarπŸ˜‡ #Plisdiaripapiubii#Uda lama ng baca tulisannya Mom.Dukung komen yang lain mau tulis ttg perasaan Adit waktu liburan tanpa Ubii kmarin 😊

    ReplyDelete
  33. Semoga ke depannya ada aliansi blogger atau badan sejenisnya yang bisa melindungi para blogger, ya, Mbak Ges.

    Eh, apa Mbak Ges aja sebagai pendirinya? Hihihi...
    Pasti didukuung...!!!

    ReplyDelete
  34. makasih ya mak, jadi makin aware kalo ttd SPK
    semoga agency beras doraemon dilembutkan hatinya untuk bayar 'hutangnya; ke mak gesi

    ReplyDelete
  35. Kalo nominalnya gede begini, apa nggak sebaiknya ada/minta DP? Just in case...kita rasa lebih aman aja kalo ada DP

    ReplyDelete
  36. Keep strong mami ubii ... Tuhan ga tidur mbak. Ntar agency nya bakal kena karma sendiri. Thx for sharing ya mba. Jadi lebih hati2 deh terima job.

    ReplyDelete
  37. Terutama buat blogger newbie tapi yang udah punya engagement tinggi kayak temenku, dia udah effort jadi buzzer tapi bayarannya telat pakai banget. Sadly, dia gak bisa apa2 karena alasan, "ya gue kudu gimana? Nuntut ke mana?" Huh!

    Satuju banget sama cita-cita adanya aliansi blogger mbak. Ehehe!

    katagadis.id

    ReplyDelete
  38. Pelajaran yang paling bisa aku ambil kayanya yang bagian "nggak usah njagakke duit ngeblog buat bayar kebutuhan sehari-hari". Beneran keponthal-ponthal, Mbak. Alhamdulillah sekarang dah mulai aware dan nggak njagain banget. This article is sooo worth to share!

    ReplyDelete
  39. Thank mam ges infonya, memang nggak ada solusi, tapi minimal blogger harus teliti terhadap kontrak :-)

    ReplyDelete
  40. Hihihi jadi ingat waktu saya nyetatus fee telat karena telatnya 3 bulan. Saya japri agency katanya dia sudah berhenti kerja disitu. Jadi disuruh nanya ke yg satunya. Yang satunya ga balas ya udah saya jadiin status saja. Tapi jadi viral, ya saya hapus deh.

    ReplyDelete
  41. Iya mbak,
    Aku pernah seperti itu.
    Menunggu lama pembayaran sponsored post namun tidak ada mou nya yg menyatakan tanggal pembayaran.
    Seharusnya memang ditindaklanjuyi ya mbak.

    ReplyDelete
  42. Semangat! Know your rights so you can fight back! Kesimpulannya udah dibayar kan Ges walaupun telat banget? Or else? Beberapa kontrak di sini jauh lebih jelas waaupun ada juga yg super simple..

    ReplyDelete
  43. wahhh...agency nakal yg dah kebablasen nakalnya mbak.

    eh kok aku jd kepikiran di SPK-ku kyknya juga ga ada klausul kl agency telat. malah sebagian besar ga pake.

    ReplyDelete
  44. Kok pedih ya dengan nominal sebesar itu, telat dan gak direspon :( Kalau dulu aku pernah ikutan bantu-bantu sebagai pihak agency, emang gak ada poin kalau telat kena pinalti sih pas buat SPK, tapi ya alhamdulillah kejamin semua pembayarannya gak ada yang telat. Bahkan bisa dibilang fleksibel karena pas ada klien yang request pembayarannya kapan, bisa di-acc. Hehe. Semoga cepet cair ya kak :)

    ReplyDelete
  45. Makasih sharingnya mba.
    Walau belum dapet job dari blog ini pelajaran berharga buat saya.

    Jualan makanan yang bisa disantap seluruh keluarga aja mba. πŸ˜‰

    ReplyDelete
  46. Berkaca dari kejadian yg sudah2 emang skrng bener2 kudu teliti ya baca SPK dan kalau dirasa ada yang kurang sreg ditanyakan. Tapi kalau misalnya job-nya dari komunitas gtu, masalahnya aku tu suka percayaan aja, mengingat emang ngeblog ini belum menjadi "penghasilan utama" gtu mbak.
    Semoga dengan tulisan ini, nanti ada yg merumuskan bagaimana ya enaknya supaya blogger ini bisa naik posisinya gtu, minimal punya daya lbh kuat supaya enggak ada yg suka "tipu2" lagi...
    TFS tulisannya Mbak Grace :D

    ReplyDelete
  47. Miris emang Mba. Tiap kali kita disodori surat kerjasama, kitanya cuma bisa manut apa yang mereka syaratkan.
    Semoga kita bisa lebih teliti. Dan semoga semqkin banyak agency yang baik hati macam bayar di awal. Ahahah

    ReplyDelete
  48. Turut prihatin ya mbak. Moga pihak agency dalam waktu dekat membayar segala kewajiban pada mama Ubi. Aamiin ..

    Terima kasih sharingnya. Bermanfaat sekali ��

    ReplyDelete
  49. Ihhh sebel juga bacanya.. Ga suka deh kalo ketemu orang yg ga bisa menepati kontrak begini. Dan mentang2 kita ga ngerti hukum, jd kesannya seperti diperalat yaa.. Semoga bisa cepet selesai masalahnya ya ges.. Dan moga2 agency begini kena batunya nanti.. -_-

    ReplyDelete
  50. Aku jg prnh mbak ada agency nawarin blog post pas udah tayang seolah dia kabur, email ngak dibales dll. Langsung aku delete postingannya, tapi kan effort ngerjainnya gede banget. Aduhhh jadi emosiiii. Sabar ya semoga saat rezeki kita 'dicolong' akan ada banyam pintu rezeki lain yg terbuka. Kecup basah buat Gesi :)

    ReplyDelete
  51. Makasi mba Ges nambah tahu lagi tentang SPK kayak gini biasanya berkutat sama SPK karyawan hahaha beru tau SPK blogger ternyata harus ddibaca juga agar tidak dirugikan semoga someday bisa dapetin project kyk mb Ges *halah jadi ngarep*
    Btw mba Ges, aku salfok kenyataan 8 bolehlah ngakak ditengah keseriusan membaca ini semua :D

    ReplyDelete
  52. Semoga dapet yang lebih besar lagi ya aku kok fokusnya sama XX nya, dan sekelas mami ubii pasti nya banyak kok yang ngantri di promoin brand nya

    ReplyDelete
  53. pengen tak sobek2 itu spk ya.....hikz

    ReplyDelete
  54. Banyak agency yang "nggampangke" Blogger, padahal untuk memenuhi brief aja musti berpayah-payah ngerjainnya.

    Semoga ada solusi ya Mami Ubii Aiden

    ReplyDelete
  55. Sharingnya super bermanfaat Kak Besi, jadi melototin kontrak dengan serius mulai sekarang *halah sok artis gue* πŸ˜‚

    ReplyDelete
  56. Baca berita spt ini lagi tuh, rasa-rasanya saya pengen ngejambak tuh agency nakal. Semoga yah, lereka dibukakan mata hatinya, errr. aamiin.

    ReplyDelete
  57. Amiin... mdh2an cpt selesai ya mami Ubi.
    Proses kreatifnya nggak cuma nulis, harus berjuang kayak moto anak2 itu susah. Aku klo mepet briefnya, dan hrs foto atau video melibatkan anak, nggak sanggup :D

    ReplyDelete
  58. Hi kak gesi ive been there di kedua belah pihak. Kalo saranku sih terror aja di sosmed si agensinya (kalo ada). Buat si nomer mas/mba agensi nakal coba minta tolong hub pake no lain. Karena biasanya yg di block no kitanya aja sih ya...btw ini oot sih, selain agenssi nakal banyak juga content creator yg nakal:((

    Buat revised spk sebenernya content creator juga punya hak sih kalo pengalamanku yah. Dan next time better pilih2 agensi yg nawarin kerjasama hehhee

    Hv a niceday!

    ReplyDelete
  59. Ih pihak satunya nyebelin deh. Iya sih sering perjanjiannya selambat2nya dibayar 30 hari kemudian, nunggunya iti sampai deg2an. Saya yg jarang2 dapet sponsorpost (hiks) dan sekalinya dapat dibayar ratusan ribu ajah hepiiiii bgt, rasanya kayak pgn jungkir walik. Apalagj kalau berjut-jut...??
    Sayangnya pihak sananya kurang tanggung jawab! Moga segera tersadarkan

    ReplyDelete
  60. Mah makasih banyak sharingnya Mak Gessi, sukses selalu ya

    ReplyDelete
  61. Baca ini jadi makin mikir, memang kerjaan blogger nggak segampang itu yah. Makasih banget udah share ini, Ci Gesii. Membuka mata lebar-lebar lebih lagi dan pastinya lebih berhati-hati dan bijak dalam menerima job. Semoga sukses selalu ya!

    ReplyDelete
  62. agh, bener aku pernah didzolimi agency, bayaran krg 100rb kaga dibayar smp skrg. errgh.

    ReplyDelete
  63. Mbaaa, makasih sharingnya. Pikiranku jadi kebuka banget. Btw kelanjutannya gimana mbaa? Apa masalahnya sudah selesai/pihak agency terkait sudah melakukan pembayaran? Makasih mbaa, sukses selaluu yaa, cheers! ^^

    ReplyDelete
  64. Yuhuu..akhirnya bisa komen juga. Semoga segera ada kabar bahagia..ikut sedih kl blogger diginiin..

    ReplyDelete
  65. Aamiin
    Semoga ada agency yang baca ini, biar Tau susahnya jadi blogger dan buzzer ��

    ReplyDelete
  66. Tetep semangat mba Gesi.. Bener banget, blogger masa kini tuntutannya bukan hanya tulisan aja. Jepret dan video butuh effort lebih apalagi modelnya toddler :D

    ReplyDelete
  67. Saya pernah ikut lomba blog, padahal poin lomba sudah jelas saya baca bolak-balik. Eh, pemenangnya jauh dari kriteria lomba, fotonya juga asal, hehe.. sakitnya tuh di dompet.

    ReplyDelete
  68. semoga mnejadi kasus yang terakhir ya mbaaa

    ReplyDelete
  69. Bisa bisikin nama agensinya mbak? hahaha

    Ini ada kerjaan beberapa agensi, takutnya termasuk agensi yg rewel πŸ™ˆ. Kalau agensinya rewel mending reject dr awal. hehe

    ReplyDelete
  70. Wahhh. Bener banget nih. Dari semua kontrak blogger/buzzer gak ada pasar misal telat bayar ada pinalty.

    ReplyDelete
  71. Nah ini masalah yang juga pernah di alamin, posisi kita sebagai blogger memang kadang menyedihkan, begitu deadline dikejar kejar giliran bayaran malah lama banget, giliran nagih ga dibales..duh

    ReplyDelete
  72. catet ah biar hati hati kedepannya

    ReplyDelete
  73. Ini yang sekarang baru saya rasain mbak :') Buat pelajaran, besok-besok jangan langsung ambil tawaran tapi baca kontraknya baik-baik. Thankyou for sharing anw <3

    ReplyDelete
  74. Sangat bermanfaat sekali mbak, makasih ya :)

    ReplyDelete
  75. Usul revisi: "Jika Agency tidak melakukan pembayaran dalam waktu yang ditentukan, [blogger] berhak untuk menghapus sebagian/seluruh postingan di media manapun."
    Nyolot ga tuh? Hehehehe

    ReplyDelete
  76. Thank you for sharing Mba Gesi, sungguh faedah sekali ini post-nya. Tulisan wajib share biar pada 'melek'! :D

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^