Friday, September 8, 2017

Mompetition


Mompetition. Something we hear quite often lately. Ini namanya kata apa yah, intinya mom dan competition digabung. Artinya bisa ditebak kan. Gampangnya, kompetisi antar ibu. Hadiahnya bukan piala atau medali. Hadiahnya 'cuman' pride. Something abstract.


Mompetition ini bahannya macem-macem. Kemampuan anak masing-masing. Pola parenting si ibu. Jumlah stok ASI berapa botol di freezer. Berat badan anak. You can name the rest, karena beneran banyak yang bisa dijadiin bahan. Tapi, apa sehat kompetisi yang macam ini?

Saya udah ngerasa adanya kecenderungan mompetition dari sejak zaman Kakak Ubii. Awalnya bikin baper sih. Apalagi anak-anak lain seusia Ubii udah bisa ini dan itu, meanwhile Ubii terlambatnya buanyak banget. Bapernya baper yang ke sedih. Kayak, "Kapan ya Ubii bisa seperti anak-anak lain?"

Kondisi Ubii yang spesial lama-lama bikin saya lebih ... lebih apa ya haha bingung jelasinnya euy. Eventually bikin saya lebih woles dan nggak baperan lagi karena yaaa baper sama progress anak yang sehat dan normal jelas nggak masuk akal kan. 

Pelan-pelan saya jadi nyantai karena ya Ubii memang berbeda. Mungkin ini hikmah dari Ubii punya special needs loh beneran. Saya jadi tidak terganggu dan tidak terlibat dalam mompetition ibu-ibu kebanyakan. Walau ibu-ibu dengan anak berkebutuhan khusus juga tetep punya bahan war sih ofc.

Baca: Special Needs Mom War

Sedih karena Ubii belum ada progress baru lagi, ya pasti masih terasa sometimes. Especially mendekati pertambahan usia Ubii. Tapi itu murni karena perasaan khawatir aja sama masa depan Ubii, I guess.


Bukan karena abis denger anak A, B, C udah bisa ini itu meanwhile Ubii belum bisa. So that's not considered as mompetition lah ya.

4 tahunan merdeka dan tidak tersentuh imbas mompetition, punya Aiden yang puji syukur sehat dan normal saya jadi harus belajar banyak hal baru. Punya anak special needs dan anak yang sehat itu soalnya beda banget rasanya. Semua tingkah Aiden itu buat saya lucu. Lucu banget malah. Itu pasti juga dirasain sama buibu lain deh ya. 

πŸ‘Ά Aiden ngiler pas bobo lalu jadi kering di pipi, lucu.
πŸ‘Ά Aiden udah bisa ngeyel bilang moh dan nggak mau, lucu.
πŸ‘Ά Aiden mulai rewel karena nggak mau pakai baju yang saya pilihin, lucu.
πŸ‘Ά Aiden kejedot, lucu.
πŸ‘Ά Aiden kentut dan pup, lucu.

SEMUANYA LUCU. Plus bikin excited karena kan saya belum ngalamin itu sama Ubii. Except kejedot, kentut, dan pup. LOL.


Saya suka nulis. Banget. Baik di blog maupun di media sosial. Makanya caption di Instagram saya sering panjang-panjang kan. Saya suka mengabadikan momen dan peristiwa. That's why I share so many things about me and my family (and ofc my kids). Tapi ya saya harus belajar bagaimana agar tidak berujung jadi kayak mengecilkan anak lain dan pola asuh orangtua yang lain.

Kalau ditanya saya bangga nggak sama Ubii dan Aiden? Ya dong. Sama anak sendiri pasti bangga. Tapi membanggakan anak sendiri juga bukan lantas jadi menganggap anak lain kurang membanggakan.

Menurut saya, mompetition itu bisa menempatkan kita di dua posisi. Menyakiti dan tersakiti. Oke itu diksi yang berlebihan, but I hope you've got my point hehehe.

Kita bisa menyakiti Ibu A kalau ternyata hal-hal yang kita share tentang anak kita bikin Ibu A sedih karena anaknya belum bisa. Ibu A bisa merasa kecil setelah melihat ratusan koleksi botol ASI perah kita, karena ASI nya seret padahal beliau sudah berusaha mati-matian.

Baca: When Mertua Said, "Kok ASImu Dikit?" Then Do This

Sebaliknya, kita juga bisa ada di posisi Ibu A. Baper lihat banyak hal. Padahal sebenernya belum tentu orang yang share stok ASI perah itu niatnya buat manas-manasin ibu-ibu lain kan? Bisa aja dia tipe ingin mengabadikan segalanya macam saya karena ada loh orang kayak gitu. Lha ini saya contohnya, lol. Atau bisa juga kan niatnya ingin memotivasi ibu lain misal dengan caption penuh kata-kata penyemangat agar ibu-ibu lain terus berkobar untuk mengusahakan ASI.


Mompetition pun bisa dibagi jadi dua. Ini bukan based on theory yah, cuman hasil perenungan saya doang yang kamu boleh setuju dan boleh nggak sepakat. Dibagi jadi dua, sengaja dan tanpa sengaja.

Yang sengaja itu buat saya contohnya kayak gini. Ibu A curhat sama saya tentang anaknya kok belum bisa ngomong. Cuman ingin didengar. Tapi alih-alih hanya mendengar, saya malah kemudian jembreng Aiden sudah bisa ngomong apa aja. Lalu jembreng pula mainan-mainan yang saya belikan untuk Aiden demi mensupport progress bicaranya.

Baca: Update Perkembangan Aiden Setelah Konsultasi Speech Delay (23 Bulan)

Lhah padahal saya kan nggak dimintain tips apa-apa, nggak diminta sharing tentang perkembangan bicara Aiden, kenapa saya harus nyerocos di saat Ibu A hanya butuh didengar? Kenapa saya nggak bisa menahan diri untuk nyerocos di saat Ibu A ngerasa down? Yang ada malah cerocosan saya bikin beliau makin down.

Yang nggak sengaja, contohnya gini. Saya scroll timeline di Instagram. Kebetulan lihat postingan Neng A yang lagi ceritain anaknya gampang banget makan dan sudah bisa BLW alias pegang makanannya sendiri. Langsung aja saya baper karena Aiden ya ampun makan harus sambil lari-larian dikejar sana-sini. Padahal Neng A mah cuman pengin mengabadikan anaknya aja kan. Dia bukan yang dengan sengaja bikin saya (atau buibu lain) baper. Saya nya aja yang baperan. Titik.


Nah, kita seringnya di posisi kompor atau baper, nih?

Kalau kita lebih sering di posisi baper, menurut saya nggak adil juga kalau kita jadi menyalahkan ibu-ibu lain. Ini kitanya juga harus evaluasi diri sendiri.

Kebaperan kita seringnya karena abis liat postingan-postingan ibu-ibu artis? Ya mengapa difollow? Kenapa masih aja terus stalk? Kenapa juga kita nggak rasional dengan membandingkan fasilitas yang kita punya sama fasilitas yang dimiliki artis, padahal kita kelas menengah yang jelas beda kasta sama artis?

(((Kasta di dunia yah, kalau nanti di akhirat mah ya sama aja. Dijelasin sebelum ada yang komen "kan semua manusia sama di mata Gusti.)))

Kayak yang pernah saya tulis dulu, buat ibu-ibu artis, mereka beli mainan ya judulnya beli mainan doang. Bukan beli mainan mahal seperti yang ada di kamus kita para ibu kelas menengah. Kenapa kita yang terpaku sama harga dan merk, padahal come on kita emang beda kelas sama artis.

Baca: Cool Parenting Nggak Harus Mahal Kok

Nggak masuk akal dong kalau kita merasa minder karena pakai biskuit Milna beli di Alfamart di wadah plastik LION setelah lihat artis upload foto anak mereka lagi ngemil biskuit Gerber pakai wadah EZPZ atau Nuby. Salah kita yang nggak logis. Bukan salah artis.

Baca: Daftar Perlengkapan MPASI Bayi Dan Harganya


Saya sering ngereview mainan atau baby stuff di blog. Kebetulan beberapa memang bermerk. Kebetulan saya sedang ada uang untuk beli. Kebetulan saya dibayar klien untuk mereview. Kebetulan mengulas produk adalah jalan saya cari uang. Kalau berbagai kebetulan itu ternyata bikin yang baca jadi merasa kecil karena belum bisa beli, apakah itu salah saya?

Baca: Tips Menulis Review Produk

Nggak dong, ya. Itu contoh real aja sih tentang bagaimana kadang kita-kita ini yang terlalu mudah sensi padahal sebenarnya nggak perlu.

Kalau kita seringnya baper karena temen-temen kita defaultnya suka membanggakan anak masing-masing padahal mereka tahu anak kita belum bisa, ya mungkin kita butuh cari circle pertemanan baru. Yang lebih bikin kita nyaman dan nggak bikin kita ngerasa kecil sebagai ibu.

Logikanya semudah itu. Ada sesuatu yang nggak enak, sadari penyebabnya, cari dan kerjakan solusinya. Period.

Tinggal penyebabnya adalah karena circle yang kurang accomodating and comforting atau jangan-jangan kitanya yang terlalu mudah sensi dan nggak bisa terima kalau kita (atau anak kita) 'kalah' dari orang lain?

Sebaliknya, kalau kita lebih sering ada di posisi kompor, sebenernya what to do nya lebih simple loh: TAHAN DIRI. Tahan mulut dan jari untuk komentar menanggapi curhatan ibu-ibu lain kalau mereka nggak nanya komentar atau saran masukan atau apapun itu dari kita.


Kalau ditanya, baru deh mari kita berapi-api cerita balik. But if they don't ask for our advices whatsoever, simply just listen to them.

Media sosial sekarang tuh luas banget dengan segala macam yay and nay nya. Ofc it's a yay when we can gather many useful information, experience sharing, tips, and whatnot. It can also become nay, salah satunya ya mompetition ini kalau kita bicara lingkup ibu dan keluarga.

Pakai media sosial butuh persiapan. Siap kagum kalau ada yang lebih dari kita. Siap stok rendah hati kalau ada aspek parenting atau kemampuan anak kita yang dipuji-puji sama orang lain. Siap tabungan rasa syukur dan terus mengingat bahwa apa yang kita punya saat ini sudah cukup. Siap reminder bahwa kita ini sudah bisa bahagia kok tanpa harus meniru atau menjadi si A, B, dan C. Siap menghargai orang lain yang berbeda sama kita. Siap menghargai diri sendiri dan apa yang kita miliki.


Kalau kita bahas mompetition yang often related to our own kids, dalam mengasuh Aiden ini puji syukur saya hampir nggak pernah deh baper hanya karena lihat anak lain kok sudah bisa goyang dombret tapi kok Aiden belum bisa. Mungkin karena saya orangnya nyantai dan nggak mau pakai standard anak orang lain.

Ketika saya bawa Aiden konsultasi ke dokter tumbuh kembang karena kok dia pernah tampak lambat bicara, itu karena saya nyocokkin sama milestone perkembangan bicara. Bukan karena anaknya si Tini, Tina, Tono, Toni udah bisa ngomong macem-macem dan saya emoh Aiden ketinggalan.

Saat Aiden belum bisa-bisa pipis dan pup di toilet, yaudah woles aja, walaupun banyak anak temen saya yang udah bisa toilet training. Soalnya saya percaya tiap anak ada masa nya sendiri-sendiri. That's it.

Baca: That Kinda Challenge Called Toilet Training

Saya suka cerita Aiden demen nonton lagu-lagu anak di YouTube lalu ada yang japri harusnya di bawah dua tahun belum boleh dikasih gadget, nggak baik untuk kemampuan sosialnya, dan lain-lain lalu ibu itu cerita anaknya sampai usia 4 tahun sekarang nggak suka nonton YouTube kemudian jadi pandai bersosialisasi. Ya udah, saya makasih diperhatiin. Tapi nggak yang baper atau menyesali keputusan ngasih Aiden nonton YouTube deh. Because I don't have any reasons to regret.

First, Aiden nonton YouTube hanya di rumah dan nggak yang sore sampai malam suntuk habis untuk nonton YouTube doang. Pagi sampai sore dia di daycare bermain dan bersosialisasi sama temen-temennya. Second, dari YouTube dia jadi bisa nambah kosakata baru dari lagu-lagu anak, belajar warna, dan lain-lain. Third and most importantly, beberapa bulan lalu saya baca sebuah artikel di majalah parenting, kalau nggak salah Mom & Baby atau Parenting Indonesia ya huhu maaf saya lupa.

Artikelnya bilang bahwa menurut penelitian terbaru, anak main gadget itu tidak apa-apa ASALKAN kebutuhan main di luar rumah bersama manusia lain selama minimal 30 menit itu terpenuhi.

Nah yaudah itu saya jadikan pegangan aja. Aiden main sama temen-temen daycare lebih dari 5 jam. Lalu sama saya tiap sore jalan-jalan muterin komplek kejar-kejaran kek, liat pesawat lewat kek, main bola kek, 30 menit ada.


Untuk hal-hal seperti pekerjaan, prestasi pribadi, dan hal-hal yang sifatnya profesional, memang ada standard dan penting untuk punya target. Tapi itu nggak bisa diapply ke ngasuh anak. Each kid has their own timing. Ngecek panduan tumbuh kembang anak dan konsultasi dokter penting untuk panduan. Tapi jelas tidak dari anak-anak lain hanya karena kita nggak mau kalah doang.

Menjadi ibu itu bukan kompetisi. Akan sangat melelahkan kalau kita ngusahain ini itu hanya demi menyamai atau menyaingi anak lain. Hiduplah yang bener-bener 'hidup' untuk diri kita sendiri, bukan untuk orang lain. Bahagiakan diri sendiri bukan bahagiakan feed Instagram.

Namun, tentulah ada kalanya niat pun disalah artikan. Niat mengabadikan, dikira pamer. Niat share cerita anak, dikira menganggap anak lain kurang pandai. Kalau menurut saya mah cuekin aja. Hahaha. Kita bisa menilai niat hati kecil kita, kan. Kalau emang kita nggak bertujuan untuk memancing mompetition, tapi ada yang ngira begitu, yasudah bisa apa? Cuek is the best, percayalah.

Cuek bukan berarti nggak peduli sama orang lain. Tapi lebih untuk ketenangan hati kita sendiri. Cuek karena kita harusnya sadar that we can't please everyone in this world. Cuek karena sebelum kita upload sesuatu di dunia maya, kita harus tahu bahwa pasti ada yang pro dan kontra. Kalau pro ya siap aja diajak tos virtual. Kalau kontra ya siap aja dikomen atau dinyinyirin di belakang. It's inevitable.

Contoh real, saya terbuka tentang asal muasal pernikahan saya di blog dan di Instagram. Banyak loh yang japri kok saya malah mengumbar? Jawabannya tuh simple, gengs. Karena di dunia nyata pun saya juga nggak menutupi itu kok. It's NOT that the world should know about it, BUT it's more to it's something I can talk about casually.

Siap dijudge? Ya siap lah, karena itu konsekuensi nya, kan? Diceramahin panjang lebar depan muka saya sama orang yang kenal aja, saya santai. Apalagi dijudge hanya dengan ketikan tulisan di dunia maya sama orang yang nggak kenal, ya bodo amat. Why should I give a damn?


Well, I do give a damn deng. Dengan menceritakan perjalanan saya dan Adit untuk bisa tune in dan bertahan sampai sekarang itu berliku.

Baca: Our Experience, Hipnoterapi Pasutri

Jadi messagenya tetap menikahlah ketika kamu sudah siap dengan kondisi yang baik. And second message, bahwa pernikahan itu layak diusahakan namun butuh real effort dari dua belah pihak. Nggak pernah loh saya yang ngajak-ngajak, "Yaudah ayo hamil duluan aja baru terus nikah gapapa kok." That's how I give a damn.

Baca: Why Being So Honest? Because I Don't See Why Not

Btw, maaf ya, tulisan ini lompat ke sana-sini padahal awalnya mau bahas mompetition doang. HAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHHAHA.

Oke saya list poin-poin saya aja deh biar jelas tentang mompetition ini.

πŸ’‹ Ada buibu artis atau selebgram tertentu yang sering bikin kita merasa kecil? Stop stalking their feeds for God's sake!

πŸ’‹ Sadari kemampuan diri sendiri, including kemampuan finansial, kemampuan bikin mainan DIY, ketersediaan waktu bermain sama anak. Kelas menengah tapi iri sama barang-barang artis yang tajir? Nggak masuk akal. Sendirinya nggak trampil atau simply nggak menikmati bikin mainan DIY atau Montessori? Yaudah, nggak harus juga kok main itu. Nggak bisa 24/7 sama anak karena kita bekerja tapi mupeng liat temen siang-siang bobok-bobok an sama bayinya? Ah, jalan hidup memang beda-beda kan.

Baca: Bosan Jadi Ibu Rumah Tangga

πŸ’‹ Percayalah tiap anak punya timing dan kemampuan masing-masing. So, no rush and no worries aja deh. Nggak perlu banding-bandingin sama anak orang lain.

πŸ’‹ Siap sama konsekuensi apa pun sebelum upload sesuatu. Kadang kita niatnya mengabadikan, tapi dikira yang nggak-nggak. Ya itu resiko dunia maya, sist.

πŸ’‹ Share something di media sosial yang kita di dunia nyata aja juga nggak masalah kalau itu diketahui orang lain.

πŸ’‹ Penting loh punya temen yang bisa dengerin curhat kita tanpa judgment. So I hope you've found that kinda friends. Atau gimana cara kita buat ngerasa lega. Curhat di blog? Di note hape? Anything.

πŸ’‹ Ibu tugasnya banyak, tapi tetep manusia biasa. Jadi nggak usah ngerasa kita harus selalu tampak kuat dan hebat.

πŸ’‹ Sempetin punya me time!

Baca: Ketika Ibu Butuh Me Time

πŸ’‹ Have self-appreciation. Banyakin tabungan rasa syukur biar nggak gampang insecure lihat rumput tetangga.

***

Dear all moms and also future moms who are reading this,

Jadi ibu memang nggak mudah. Bayi nggak lahir komplit sama manual book sih ya LOL. Apalagi kalau anak pertama, wah banyak bingungnya. Saya juga kok dulu. Sekarang woles karena anak udah dua biji aja. Banyak yang harus kita pelajari. Nggak apa-apa, pelan-pelan aja.


Pengin yang terbaik buat anak sih pasti. Tapi sesuaikan sama kemampuan dan kewarasan diri kita juga. Nggak usah ngoyo apa-apa harus sempurna. Enjoy our parenting adventure!


Anak kok makannya dilepeh terus, kok nggak jelas maunya apa. Dikasih ini salah, diambilin itu masih tetep nangis. Ada aja yah tantangannya. Nggak sadar, kita jadi bentak mereka. Mungkin sesekali pakai cubit-cubit segala. Lalu kita nyesel sendiri. Merasa jadi ibu terkejam. 


Hey, cheer up. Kalau mau jujur dan nggak pura-pura jadi ibu sempurna, kayaknya semua ibu pasti pernah bentak anaknya. You're not alone. Here's some reminders!


Being a mom is a lifetime journey and learning process. Embrace it. Embrace yourselves, the goods and the bads, the ups and the downs. Trust me, ketika kita bisa jadi ibu bahagia, kita akan lebih woles. Nggak gampang baper terseret dalam mompetition. Nggak seenak udel kritik ibu-ibu lain. Karena kritik pola asuh ibu lain juga untungnya apa sih buat kita? Nggak bikin kita lebih baik juga, kan? Support other moms!


Atmosfer rumah bakal positif dan menyenangkan untuk anak kalau kita happy!


Kado terbesar kita untuk anak: ibu yang bahagia dari dalam. Bukan bahagia dengan pengakuan orang lain.


And, finally, I hope WE ALL can rock motherhood! 



Let's be happy with who we are and what we have. Kalau kamu suka berkompetisi, sama, saya juga kok. Tapi berkompetisilah mengalahkan diri sendiri yang kemarin, berkompetisi biar hari ini kita lebih baik, berkompetisi menaikkan target kerjaan di kantor, and such. Bukan berkompetisi sama ibu lain. Support other moms!

Citing from my post Cool Parenting Nggak Harus Mahal Kok!
Cool parenting nggak harus mahal. Menjadi orangtua sesuai standard kita masing-masing nggak harus mahal. Karena sumber daya utama nya adalah cinta. Dan cinta itu gratis!



Love,




12 comments:

  1. Syukak tulisan ini ���� Dan ditutupp oleh sumber daya cinta yang gratis

    ReplyDelete
  2. I'm not a mother yet but def love this post 😍😍😍

    ReplyDelete
  3. Sering banget insecure nih mam.. Liat feeds IG ibu2 yang lain, suka share MPASI anaknya, pengen tapi gabisa masak TT.TT anaknya main montessori anaku main kobok2an di ember �� yaah begitulah.. Yang penting bawa happy aja ya mam, thnk you selalu menginsprirasi �� toss virtual boleh yaa hehehe

    ReplyDelete
  4. Saya nih dari hamil sampai mukhlas umur sebulan dikit2 baper, tapi gabung ke grup ibu2 yg supportif, Suami juga support terus lama2 woles. Berusaha yg terbaik tp menyesuaikan kemampuan. Dan postingan kali ini saya setuju dari awal sampai akhir. Love u mami ubii and aiden.

    ReplyDelete
  5. Matur nuhunnn Mami Gesi telah menyuarakan hati kami para ibu. Dunia jauh lebih indah kalau kita para ibu saling bersatu yaaa ��

    ReplyDelete
  6. Aku tuh kak Ges. Sempet kena baperan. Liat blogger2 ketjeh sering nongki2 di tempat caem. Merasa kecil. Liat mom-mom artis rumahnya instagramable. Merasa kecil. Liat pada pake baju fashionable. Merasa kecil. Yang posting ga salah. Toh bukan pamer melainkan cari nafkah juga berbekal social media. Akunya yang kebaperan aja. Haha. Aku sungguh setuju dengan postingan ini. Ga sabarrr nunggu post2 kak Ges berikutnya. OOT kak, tadi sore udah pantengin kesini belom ada post baru. Barusan nih malem udah ada post baru rasanya seneng. Hihi XD me time aku soalnya bacain blog kak Ges. Hehe.

    ReplyDelete
  7. Dulu saya masih sering terpengaruh, tapi setelah baca quote yang artinya kira2 "setiap orang tua memang adalah orang tua terbaik bagi anaknya masing2", saya mengamini sekali Ges.

    Soalnya menurut saya, kitalah orangtuanya, yang paling kenal dengan anak kita dan paling tau bagaimana cara menghandlenya yang terbaik. Belum tentu cara parenting A, B, C oleh ibu C, D atau E pas dan cocok diterapkan ke anak kita ketika menghadapi kasus yang mirip. Mau di judge sama siapapun juga, memangnya mereka tau, misalnya sebelum pergi kita sudah buat perjanjian untuk tidak beli mainan lagi karena anak baru dapat kado ultah lumayan banyak, terus ternyata anaknya masih nangis2 minta beliin mainan baru waktu lewat etalase toko. Gak dibelikan bukan berarti ortunya pelit, atau gimana, justru karena lagi mengajarkan konsistensi dan disiplin.

    ReplyDelete
  8. huaaa... sukaaa mbak... sukaaaa...
    nampolll deh ini buat ibu baru kayak aku yg masih suka resah dan gelisah kalo liat anak lain udah bisa ini itu tapi anakku belum. huhu
    aku juga berusaha bgt untuk gak membangga-banggakan anakku pada orang lain, karna aku tau itu rawan bikin orang sebel. hehe

    ReplyDelete
  9. Thanks ges udah share masalah mompetition
    Menurutku semua emak2 di dunia pernah ngalamin
    Hahahaaaaa
    Pernah di semua keadaan, yg baper, yg gak sengaja dan sengaja
    Follow ig mommy2 influence yg kdg bikin baper, udah tau gt, tp msh stalking, akhirnya aku follow yg ngasi perasaan yg positif aja, dan yg gak bikin baper akut
    Pernah jg yg secara gak sengaja
    Krn pengen nya yg di share di medsos yg bahagia dan positif aja...
    Dan pengakuan dosa, dg sengaja jg pernah, compare anak sendiri sama org lain, penyakit emak2 bgt
    Skrg berusaha woles, berusaha apa ada nya, menerima dan mencintai anak dan diri sendiri apa ada nya
    Lagi ngurangin baper2nya krn percaya anak semua unik, punya progres masing2
    Tp serius me time itu masih angan2 aja, susah bgt dah mau me time
    Thanks ges, selalu menyampaikan dg cara yg menyenangkan
    Kiss kiss 😘😘😘

    ReplyDelete
  10. hal yang ga kebayang bagiku yang belum jaid ibu. tapi sering baca komen atau status temen yang begini. ternyata dramanya dalaaaam ya sist

    ReplyDelete
  11. μ—λ³Όν”Œλ ˆμ΄ λ¨ΉνŠ€κ²€μ¦ μ•ˆμ „λ…Έλ¦¬ν„°

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^