Thursday, September 21, 2017

Pacaran Beda Agama, Lanjut Nggak?


Udah 2 kali #GesiWindiTalk absen karena saya dan Windi lagi sama-sama banyak urusan. Dan kami sempet bingung juga sih mau nulis apa. Minggu lalu saya instastory minta ide tulisan. Wah ternyata dapet lebih dari 7 request.


Tapi nggak semuanya saya punya bahan. Jadi saya dan Windi mau bahas ini aja yah. Apa pendapat kami tentang pacaran beda agama, dilanjut sampai jenjang pernikahan or not? Thank you @logophile_est2016 buat idenya.

Ada cukup banyak hal yang saya dan Windi satu suara. Tapi ini bukan salah satunya. Kemarin kami berdua sempet ngobrol, kayaknya Windi masuk ke team tidak usah dilanjutkan sampai nikah. Nggak tahu deng, ini posisinya saya belum baca tulisan Windi sih. Read her opinion yah.


Kalau saya, lihat-lihat dulu. Ada case yang (menurut saya) aman-aman aja kalau mau sampai nikah, tapi ada juga yang (again, in my opinion) lebih baik break up aja untuk menghindari konflik berkepanjangan setelah nanti berkeluarga.

Anyway, kalau kamu dari awal berkeyakinan bahwa mending tidak dilanjutkan karena agama tidak memperbolehkan, sudah pasti nggak akan sependapat sama tulisan saya ini. So, let's just agree to disagree yah.

One difference between being single and married is... ketika masih single, saya cenderung menyambut tantangan walaupun kayaknya bakal menguras pikiran dan tenaga. Kayak, "Go ahead, dare me, I'm up to challenges!"

But now that I'm married with two kids, saya cenderung lebih ingin waras.

Menantang diri sendiri, masih. Tapi itu cuman dalam hal-hal yang saya bisa usahakan sendiri tanpa harus mengubah orang lain yang related dalam hidup saya. Pengin bisa nyetir, bisa renang, rutin baca buku lagi seperti dulu, nerbitin at least satu buku lagi sebelum saya umur 30, those are challenging for me, but still manageable. Saya cuman perlu disiplin dan berusaha.


Baca: 9 Things I Wanna Do Before 30

Beda kan sama tantangan mengatasi konflik dalam keluarga. Bisa bayangin nggak capeknya bakal gimana kalau saya dan Adit saling ngotot nanti Ubii dan Aiden mau diajari beribadah ikut ayah atau ibunya. Belum kalau misalkan pihak keluarga ikut tarik sana-sini. Padahal definisi keluarga di Indonesia itu luas sekali. Ya orangtua kita, orangtua suami, kakek-nenek kita dan suami, pakdhe, budhe, om, tante, dan sebutin aja terus juga masih bisa.

Ingat, menikah di Indonesia kan tidak hanya menikahi pasangan, tapi juga menikahi keluarganya.

Keluarga ipar kita aja dihitung keluarga, kan? Padahal keluarga ipar juga di dalamnya ada pakdhe, budhe, sepupu, wah banyak.


Ya, ketika sudah berkeluarga, kita akan cenderung ingin aman-rukun-damai sama semuanya. Karena nggak nyaman sekali kalau kumpul keluarga besar tapi awkward nggak bisa basa-basi. Or worse, kalau kumpul keluarga yang paling cuman 1-2 tahun sekali tapi kita ditanya atau diceramahin ini itu sama generasi di atas kita. Karena bagaimana pun, keluarga tetap keluarga yang kita inginnya akur-akur kan. I would wanna be sane.

Setelah artikel tentang saya dan Adit dimuat di Hipwee, ada beberapa orang yang kontak saya untuk sharing. Semua perempuan yang masih dalam tahap pacaran sama laki-laki yang beda agama. They asked for my opinion, better diterusin nikah nggak.

Dari sekitar 4-5 orang yang kontak, saya pakai dua contoh case yah.

Case #1: Sanchai dan Tau Ming Se (nama samaran of course).

Sanchai udah pacaran lama sama Tau Ming Se. Sanchai non Muslim, Tau Ming Se Muslim. Pacaran lama dan serius sampai level keluarga udah saling kenal dan ketemu. Even keluarga juga udah ada obrolan, "Kalau kalian jadi menikah lalala."

Intinya, orangtua Sanchai dan Tau Ming Se boleh-boleh aja kalau mereka sampai nikah. Keluarga inti dari dua belah pihak sama-sama setuju, bahkan mau juga bantuin mikir gimana caranya bisa nikah dengan sah di mata negara.

Tau Ming Se dari awal juga udah bilang ke Sanchai kalau nanti mereka punya anak, biar anak-anak ikut beribadah dengan Sanchai saja. Orangtua Tau Ming Se juga have no probs with that decision.

Jadi intinya, orangtua semua setuju, agama anak-anak bakalan ikut siapa sudah dibahas dan keluarga nggak keberatan, dan mereka tidak saling memaksa salah satu mengikuti kepercayaan yang lain.


So, I don't see any problems. Ya udah nikah aja. Ini cuman bahas perkara beda agamanya doang yah. Saya nggak tahu dan nggak diceritain background lain seperti apakah mereka sudah bekerja, punya steady income, dan lain-lain.


Case #2: Sizuka dan Nobita (ya nama samaran lah pastinya hahaha).

Sama kayak case #1, Sizuka dan Nobita juga pacaran udah cukup lama. Kalau nggak salah inget, Sizuka bilang udah 5 tahunan deh. Sizuka Muslim dan Nobita non Muslim.

Keluarga mereka udah tahu tentang hubungan mereka, tapi nggak semuanya mendukung. Keluarga Sizuka kasih rule sangat jelas, boleh menikah HANYA kalau Nobita mau menjadi mualaf dan anak-anak mereka kelak juga menjadi Muslim. Sizuka juga sempet disuruh putus aja karena orangtuanya pesimis sama hubungan mereka. Pun, kakak kedua Sizuka adalah pemuka agama. Jadi, tentu ada pihak lain di luar keluarga yang perlu dijaga perasaannya.

Pilihan pasangan menjadi penting karena di sini, menikah juga untuk society.

Keluarga Nobita sebenernya nggak apa-apa kalau misal Nobita mau memeluk Islam. Tapi, Nobita tidak ingin. Dia mau nya itu hanya sebagai pembuka jalan untuk menikah saja. Tapi setelah itu dia tetap kembali bergereja. Nobita juga inginnya anak-anak mereka kelak ke gereja. Sizuka nggak mau ngotot, karena dia tahu kepercayaan adalah keputusan yang personal.

Jadi mereka pacaran diam-diam dan nggak tahu hubungan mereka mau dibawa ke mana. Saat Sizuka kontak saya itu akhirnya saya telepon. Nada dan caranya bercerita sudah kayak orang pasrah gitu. Kayak udah tahu endingnya bakal gimana, tapi masih butuh waktu untuk mencerna.


Sempat dia nyeletuk, "Apa aku hamil dulu aja ya biar dibolehin nikah."

Saya langsung jawab, jangan.

Baca: Why Being So Honest? Because I Don't See Why Not

Nggak semua pernikahan yang diawali dengan hamil duluan itu bisa dipertahankan dan berakhir happy ending untuk semuanya. Nggak semudah itu. Apalagi Sizuka yang kakaknya adalah pemuka agama, apa nggak bakal murka banget kalau adiknya hamil duluan. Sama orang yang tidak satu agama pula.

Baca: Pernikahan Tidak Semudah Bilang 'I Do'

Nah, untuk Sizuka, menurut saya nggak usah dilanjut sampai nikah. Daripada ke depannya hidup nggak tenang, terbeban sama rasa bersalah dan perdebatan anak ikut siapa dan lain sebagainya.

I hope those two cases have already stated my opinion on this matter, but here's to sum up.


👌 Menurut saya, tidak apa-apa jika mau lanjut menikah kalau dari awal terlihat semuanya bisa dibicarakan dengan damai dan ada solusi. Nggak apa-apa nikah kalau keluarga dua belah pihak (minimal orangtua) sudah sama-sama setuju. It's okay to get married kalau dari awal sudah disetujui nanti anak-anak bakal ikut siapa dan nggak ada perdebatan yang berdarah-darah.

I wouldn't lie about this, kadang-kadang saya membayangkan gimana sih nikmatnya beribadah sama suami. But it's not a big deal. Itu bukan sesuatu yang levelnya bisa bikin kami terpecah belah karena saling ngotot. Lagipula ngotot-ngototan juga untuk apa? Nggak ada yang bisa menjamin kalau saya akan lebih bahagia dengan bisa beribadah bersama Adit.

💔 On the other hand, menurut saya lebih baik sudahi hubungan pacaran beda agama kalau dari awal aja udah kelihatan bakal banyak konflik. Saling memaksa satu sama lain untuk berpindah keyakinan. Ada pihak keluarga (atau malah dua keluarga) nggak setuju. Sama-sama ngotot nanti anaknya harus ikut siapa.  Ternyata ada anggota keluarga yang perlu menjaga nama atau citra di mata masyarakat sehingga ke depan harus menyembunyikan status beda agama. Berdua stuck bingung nggak dapet solusi.

Yaudah, solusinya adalah sudahi saja.

Pedih sih, apalagi kalau pacarannya udah bertahun-tahun banget dan udah kayak nggak bisa sayang sama orang lain lagi. Tapi at least hanya kita (dan pacar) yang akan sedih secara terpisah. Kita jadi nggak menyakiti orangtua yang kita sayang. Makin kecil juga kemungkinan kelak saling menyakiti sama pasangan karena ternyata setelah nikah pun masih aja ribut anak mau ikut siapa. Dan jadi menutup kemungkinan untuk kelepasan bertengkar di depan anak.

Kelepasan bertengkar di depan anak karena masing-masing memuji-muji agamanya sendiri, lalu kelak bagaimana menjelaskan ke anak? Padahal agama itu adalah sebuah tuntunan untuk berkelakuan baik, bukan untuk saling mencela dan bermusuhan, kan?


Baca: Cinta Yang Kuterima Dari Mereka Yang Berbeda Agama

Putus cinta itu bukan doang. Saya nggak pernah meremehkan putus cinta karena toh nyatanya saya pernah stress berat saat putus sama pacar sampai silet-silet tangan. Putus cinta karena beda keyakinan itu lebih tidak doang lagi. Pasti jadi wondering ah kenapa juga ada agama, siapa yang bikin agama, kenapa kita diciptakan berbeda, kenapa kita nggak bisa request mau dilahirkan di tengah keluarga yang beragama apa, and such.

But ya kembali ke poin tadi sih. Mending sakit 'sebentar' daripada sakit bertahun-tahun dalam pernikahan yang banyak konflik dan menyakiti yang lainnya juga. At the end, kita hidup itu pasti ingin kedamaian kok.

Baca: Dear Ibu-Ibu Yang Kadang Lupa Bahagia

Once again, ini pertimbangan saya kalau hanya menilik satu hal yaitu agama, yah. Hal-hal lain seperti pasangan juga harus bisa jadi partner menjalani hidup, membesarkan anak, mencari rezeki, dan lain-lain, serta better yang 11-12 prinsip hidupnya, saya bahas di postingan lain.

Baca: What I Recommend You, Single Or Married?

So yeah that's my two cents. What do you think?




Love,






16 comments:

  1. hai mba... dulu aku pernah pacaran beda agama.. diawal pacaran udah serius sih krn well... kita mikir kalo ga serius mending gausah diusahain.. si waktu-itu-pacar sempet blg kalo dia mau pindah HANYA untuk supaya dibolehin nikah oleh keluargaku.. mamaku ga setuju aku nikah kecuali si waktu-itu-pacar pindah agama.. entah papaku ngomong apa ke mama atau ada kejadian apa tapi lama lama si waktu-itu-pacar diterima sm mamaku (sebagai pacar) waktu kita blg kita mau nikah jg mamaku yg heboh mau disegerakan... skrg udah berjalan hampir 3 tahun (masih anget2nya ��)

    ReplyDelete
  2. waa pengen nulis topik ini takut baperrr karna pernah ngalamin,6 tahun lalu pacaran 2,5th..now im mommy with 1 kid and im happy ktemu jodoh sebenarnya, hahahaa which is kalo aku sih mau diusahakan bagaimanapun kalo tidak jodoh pasti ada pemisahnya ya mba gak cuma agama saja. Jadi,emg bener balik lagi kitanya mantep apa gak. Keputusan terbaik sih condong ke cewe sih,karna yg ngelaksanain pernikahan adl kel cewe kalo org jawa mah,hehehe

    ReplyDelete
  3. Jadi ingat teman dekatku banget nget juga pacaran beda agama selama 10 tahun. Si cewek kristen, cowoknya muslim. Awalnya keluarga baik-baik aja, nggak dilarang dan sangat open. Hubungan antara keluarga juga baik. Namun di tahun yang udah semakin menua usia pacarannya (9-10 tahun) dan mulai membahas pernikahan, keluarga kedua belah pihak keberatan khususnya keluarga laki-laki. Sang laki-laki pun mulai ogah-ogahan mengurusi pernikahan, tapi temenku tetap semangat nyari info ini itu sampai udah jahit baju. Akhirnya karena jalan menuju pernikahan sangat rapuh karena keluarganya saling nggak setuju (dan aku nasehati kalau udah serapuh itu gimana nanti pas nikah, dia harus punya ekstrahati dan kesabaran buat menghadapi berbagai kemungkinan masalah baru) pacaran yang udah berumur 10 tahun itu pun bubar jalan.

    ReplyDelete
  4. pacaran dengan perbedaan keyakinan memang banyak banget tantangannya mbak. Ada temenku punya pacar beda agama,lumayan lama pacarannya. Tapi akhirnya putus juga.

    ReplyDelete
  5. Jadi intinya, tergantung kebesaran hati kedua belah pihak ya. Bravo buat Adit-Grace, toleransi kalian top banget. Langgeng selalu Papa Mama Ubii Aiden..

    ReplyDelete
  6. Pernah mengalami ini dan masig berlanjut sampai sekarang. Awalnya dia Protestan dan saya Muslim. Kelarrga kami semuanya Muslim. Lalu kami sama2 belajar dan akhirnya saya maauk Katolik. Karena selama saya belajar pendalaman iman katolik dia sering menemani, akhirnya di tahun berikutnya dia yg ikut kelas pendalaman iman katolik dan akhirnya baptis katolik. Sudah 5 tahun kami sama2, tapi kamu belum menikah karena saya belum selesai kuliah. Doanya sekarang ya semuanya baik2 saja. Walau dari pihak keluarga besar ibu saya pastinya menentang. Dan hal yang paling saya tidak sanggup tanggung adalah jikalau ibu saya dimusuhi keluarganya atas tindakan saya yg berpindah agama.

    ReplyDelete
  7. Waaahh sensitif hr ini temanya ya ges :D. Btw, walopun aku sangat toleran terhadap semua temen yg berbeda keyakinan, tp urusan utk diriku pribadi dlm hal pasangan, drdulu juga lbh memilih 1 agama :) . Makanya dulu tiap pacaran, aku ga mw kalo udah tau dia berbeda keyakinan. Pasti lbh memilih jd temen aja :p. Ga mau ribet nantinya sih.. Udah pasti dr pihak keluargaku bakal ditentang hebat. Jd mending dari awal ga usah main api :D.

    Apapun, aku ga pernah mau ikut campur kalo masalah bgini kena ke teman, keluarga ato siapapun yg aku kenal. Itu hak dan pilihan mereka. Apapun konsekuensinya, aku yakin mereka pasti sudah mikirin dan tau. Jadi aku ga bakal sok sok an ikutan nge judge seolah akunya alim gitu :p, ga lah... Dunia bakal lebih tenang kalo semua orang ga ikut campur urusan keyakinan orang lain

    ReplyDelete
  8. Halo ak temen suami kamu, Mel.. Ak married beda agama dan tdk ada yg pindah dan jalan masing2. Sah secara hukum dan agama loh kita marrried.. Kedua keluarga fine2 jg.. Intinya open minded semua. Anak dah satu dan ndak khawatir tuh.. Kita didik secara ethic moral dan kalau sudah umur 21 bebas dia mau menganut apa.

    ReplyDelete
  9. Salut buat Gesi & Adit yang bisa menjalani hubungan beda agama. Tentunya juga itu karena keluarga besar gak keberatan kan ya dengan perbedaan kalian. Semoga bahagia selalu, Gesi & Adit 😊

    ReplyDelete
  10. klo aku pribadi sih, its okay pacaran beda agama tapi nikahnya seagama aja, karena aku bukan hanya butuh suami tetapi imam keluarga yg bisa memimpin sholat tiap kali paksu lagi di rumah

    semoga adit jadi jodoh dunia akhirat mak, salut sama kalian berdua

    ReplyDelete
  11. Salut untuk Mami Dan papi Ubii.. tapi kalau aku sendiri, seiman Dan aeagama merupakan salah satu syarat utama saat mau menjalin hubungan. Jangankan untuk menikah, dulu mau naksir orang aja, kalau udah keliatan nggak seiman mending aku mundur teratur.. mending temenan aja deh.. hehe..

    ReplyDelete
  12. Aku punya beberapa saudara yang nikah beda agama juga Mba Ges.. Ada yang bertahan, ada juga yang udahan.. Betuuul, nikah beda itu bisa dibikin gampang kalau kedua keluarga sama-sama enggak mempermasalahkan. Tapi, nilai, prinsip yang dianut tiap keluarga beda-beda, ya.. Aku boleh dibilang termasuk yang toleransi, jadi ngeliat orang lain nikah beda agama bukan suatu masalah. Tapiii, untuk nilai yang aku anut sendiri buat aku dan keluarga memang lebih baik seiman.. :) Iya, aku cari yang seiman, kalau suka sama yang beda enggak aku lanjutin sukanya.. eeaaa.. :D Anak-anakku juga aku pingin jodohnya pun nanti seiman.. :)

    ReplyDelete
  13. gokil duluuuuu banget pernah pacaran sama yg beda agama. tapi ya itu.. aku mutusin utk bye bye segera.. padahal masa depannya cerah. eh..

    tapi ya gimana ya kalau soal keyakinan emang susah kalau sudah yakin lebih baik jangan diusik. nanti malah kedepannya runyam dunia (sama orgtua) dan akherat..

    ReplyDelete
  14. Waktu sma sy punya temen cowok dia peranakan sunda china. Papanya muslim, ibub kristen. Kita sebut aja dia ini si x. Nah si x ini dibebasin milih agamanya sama papa maamanya. Dari kecil dia udh dikenalin ke agama islam sama kristen. Waktu sma kita disuruh ngisi biodata gitu, dan ada kolom agama si x ngomong ke wali kls kalau dia bingung mau ngisi apa, x bilang dia gak tau agamanya apa. Semua kaget, tpi milih buat gk komen apapun karna itukan masalah yg sensitif yaa. Sekarg saya udh lulus sma, lagi kuliah semster 5 si x pun sama. Kami ketemu lagi wakti ada festival di kota kita di bandunng. Wktu itu hari jumat dia bilang kalau dia mau ambil wudhu buat jumatan, saya kaget. Kayaknya dia nyadar, dia langsung ngomong kalau dia udh milih agama sekarg dia milih islam. Papanya senang, ibunya juga senang meski berbeda keyakinan dengam ibunya tapi mereka tetap akur, si ibu seneg setlh bertahun tahun si x bingung, akhirnya si x tau apa yg harus dia lakuin buat hidupnya milih sesuatu berdasarkan hati nuraninya bukan paksaan atauoun karena doktrin apapun.

    ReplyDelete
  15. Wah...wah topiknya sensitif dan menarik banget ya ini. Out of topic pernah baca di tulisan sebelumnya kalau Gesi ternyata anak sastra Sadhar ya, ternyata kita satu almamater S1, cuma saya di psikologinya hehe. Btw bakso Mas Kribo, warung Texas, lotek Colombo di dekat kampus Mrican masih ada gak ya? #ehhh?!?!..��

    ReplyDelete
  16. Dan aku 8 tahun dalam masa2 tarik ulur yg cuma bikin sakit, tapi dari awal aku nggak bisa nikah beda agama dan nggak mau nyakitin hati keluarga, yah meskipun nggak cuma aku yg sedih tapi mamiku juga karena terlanjur sayang Ama doi, ya udah bukan jodohnyaaaa, semoga Mak Ges ama Adit langgeng selamanya yes.

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^