Monday, September 25, 2017

Friendship Doesn't Always Last


Sebenarnya saya adalah tipe orang yang inginnya bisa tetap akrab sama teman lama walaupun sekarang sudah tinggal berjauhan dan beda kehidupan. Definisi teman lama di sini adalah temen masa sekolah/kuliah dulu, yang bener-bener temen yah. Beneran kenal dan dulu sering curhat bareng. Bukan 'sekedar' teman yang kenal hanya dari dunia maya dan belum pernah ketemu.


Mungkin karena saya punya bakat melankolis, or idk, buat saya teman lama itu ya bakal tetep temenan aja pokoknya sampai tua. Dan saya kira bakal yang selalu cocok dan klik, karena toh dulu juga nyambung banget, kan? Ternyata tidak. It's a lesson I just got recently.

Btw, pas banget. Saya ngedraft postingan tentang pertemanan, ternyata Icha juga. Jadi akhirnya kami tukeran link. So baca juga tulisan Icha yah.


Belum lama ini, saya chat temen lama saya. Tanya kabar, ask her if she's doing okay, dan kok udah jarang ada kabar, sedang sibuk apa. Dibilang pertanyaan basa-basi ya nggak salah sih. Emang kesannya basi. Tapi yah gimana namanya dulu deket banget, lalu sekarang nggak pernah kontakan kok rasanya something's missing aja.

It came to my surprise, dia jawabnya singkat-singkat banget. Padahal biasanya kami bisa chat panjang lebar, diselingi voice note juga malah, hanya untuk bahas hal remeh. Saya sampai mikir, apa saya ada salah sama dia terakhir kami bertemu, yang udah lama banget terakhir ketemu itu.

Makin kaget lagi, dia akhirnya ngomong something harsh ke saya.

Intinya, sekarang dia malas sama saya. Malas lihat Instagram saya sampai rasanya mau unfollow aja karena menurut dia saya tidak jujur di Instagram.


I asked her, then, nggak jujur gimana sih. Ternyata maksudnya adalah gini. Dalam idealisme dia, seseorang itu harus 100% sama di dunia nyata dan dunia maya. Contoh yang menurut dia memenuhi idealismenya adalah Awkarin. 

Karin ngerokok, clubbing, swearing ke teman pakai kata-kata vulgar, and such, SEMUA dia unggah di Instagram. Dia merasa harusnya saya pun seperti itu.

Buat dia, adalah hal yang aneh ketika saya nulis di blog dan caption media sosial TANPA swearing, karena memang aslinya saya masih sering swearing saat kumpul dengan teman dekat.

Sama temen yang udah dekat banget, kami memang enteng banget kalau bercanda. Saling nyeletuk hal-hal macam anj*r, t*i, f*ck you, what the f*ck, dan lain-lain. Itu sih paling. Di circle teman dekat saya, umpatan-umpatan mah paling itu. Nggak sampai yang sebut kelamin.

Nah menurut dia, kenapa saya nggak menunjukkan itu di dunia maya.

WOW. YAKALI.


Jangankan di dunia maya yah, ngobrol langsung sama orang aja kan kita juga pilih-pilih kan mau nyeletuk anj*r ke siapa. Pasti cuman sama temen-temen deket doang kan. Nggak mungkin banget kita bisa bebas nyeletuk kayak gitu sama semua orang. Bener nggak?

Saya udah cerita deh dulu saya bengal saat masih single. Saya aliran pacaran yang lalu upload foto-foto mesra sama pacar di Friendster (thank God, Friendster udah nggak ada). Itu juga dipermasalahkan. Kenapa sekarang saya cuman upload foto sama Adit yang 'biasa-biasa' aja. Bukan yang lagi ciuman bibir atau apa. Kenapa seolah berlagak sopan sekarang.

WOW. YAKALI.

Masih ada contoh lain sih. Cuman saya malas jembrengnya. But you've got my point, I hope.

Di satu sisi, saya heran banget loh kok temen saya itu bisa-bisanya mikir gitu. Heran karena nggak make sense buat saya sehingga buat apa saya ambil pusing seharusnya. But on the other hand, saya juga overwhelmed banget dibilang fake sama teman yang dulunya sangat dekat.

Saya langsung rant ke Icha. Tumben-tumbenan dia nggak heartless sampai mengeluarkan kata-kata, "Lemme hug you" lalu dikasih emoji kiss 2 biji. TUMBEN ICHA TUMBEN!


Then she said these things yang bikin saya feel much better afterwards:
Orang yang bilang gitu berarti nggak beneran kenal kamu, Ges. Pilih-pilih mana yang konsumsi publik dan mana yang bukan doesn't make you fake. Mungkin dia nggak tahu ada beberapa orang yang perlu kamu jaga perasaannya karena ada situasi-situasi tertentu. Kalau ternyata dia tahu tapi masih bilang kamu fake, ya berarti dia aja yang freak.
Btw, it's not that I do care about other people's opinions about me. BUT, kalau yang ngomong adalah teman dekat jaman dulu, ya I CARE lah.

Oh geez, I'm so emotional right now writing this. But here's the thing.

Saya jadi menyadari bahwa tidak selamanya teman akan nyambung dan klik. Saya masih nyambung sama temen-temen masa sekolah atau kuliah, iya. Tapi ya yang dibahas adalah hal-hal zaman dulu. Yang sebenernya udah nggak relevan sama hidup saya yang sekarang.

Nggak relevannya ya karena sekarang kami sudah berbeda. Prinsip menjalani hidup sudah berbeda. Pekerjaan dan minat berbeda. Pertimbangan mengenai apa dan siapa yang penting dan kurang penting juga berbeda. Status pun beda.
Status dalam hal single and married itu ternyata impactnya besar. Ketika saya masih single, saya nggak pikir panjang mau upload apa pun di dunia maya, mau mengumpat macam apa pun, dan lain-lain. Nama baik diri sendiri? Makanan apa itu? Dulu saya nggak kepikiran sama sekali.


Sekarang saya sudah menikah, tentu bertambah pula deretan orang-orang yang perlu saya jaga perasaan dan nama baiknya. Saya tidak lagi melakukan sesuatu hanya memikirkan diri sendiri saja, tapi juga keluarga. Not to mention saya punya sebuah komunitas sosial kesehatan di mana saya berhubungan dengan profesional dan tenaga medis. Sudah jelas makin harus menjaga.

Teman saya itu masih single, by the way. Maka harusnya saya tidak heran kalau kini kami berbeda.

Status single or married juga ternyata menjadi big difference dalam pemilihan topik karena ternyata kini tidak ada lagi persamaan minat obrolan pada kami berdua. As much as I avoid kids stuff saat ngobrol sama temen-temen dekat, tapi nggak bisa dipungkiri obrolan tentang anak itu bisa jadi penyelamat saat ngobrol sama sesama ibu-ibu yang belum deket-deket amat, karena pasti nyambung dan sama-sama punya bahan untuk saling menimpali.

Baca: Mompetition

Saya berstatus married, teman saya berstatus single. Saya suka blogging, dia tidak. Saya lumayan update sama gosip-gosip artis, dia nggak suka bahas itu. So literally we don't have any topics to talk about selain bahas si A, B, C teman sekolah/kuliah dulu sekarang tinggal di mana, kerja apa, sudah nikah atau belum, and stuff. What we can talk about NEVER changes.



So, yeah, I think I just have to embrace that friendship doesn't always last. People change and so does our circle. This can't be denied.

Tentu saya masih open up to invitation kumpul dengan teman-teman lama just to catch up, nostalgia, dan bahas hal-hal zaman dulu. I'm still that Gesi.

But, a friend calling me fake just because I filter what I post online, well.. it's a wake-up call that sometimes things can't just stay where it used to be and we can't please everyone.

Baca: Everyone Has Their Own Battle

Awalnya, saya sempet yang sedih loh. Kan saya melankolis banget hehehe. Tapi sekarang pelan-pelan udah mulai bisa let it go. Justru saya malah jadi kesel. Kalau memang muak lihat saya versi dunia maya, kenapa tidak unfollow sekalian saja. Kenapa itu hanya berupa niat yang disampaikan ke saya dengan kritikan supaya saya kembali seperti Gesi yang dulu. Padahal kan nggak ada urgensinya saya berubah hanya demi seorang teman yang nggak bisa menerima perubahan.

Saya tidak lagi merasa rugi karena kehilangan teman karena kalau dipikir-pikir, sekarang saya lebih membutuhkan teman yang saling menjaga.

Menjaga dalam arti saling mengingatkan kalau saya salah atau post sesuatu yang negatif. Bukan malah ingin saya post hal-hal yang unfiltered. Ternyata saya lebih butuh teman yang mendorong dan ikut senang kalau saya bisa lebih baik, bukan sebaliknya. Ternyata saya tidak butuh teman yang menuntut agar saya kembali seperti dulu, padahal kini banyak hal dan situasi yang sudah berubah.

Menutup postingan ini dengan kata-kata dari Icha:
Pertemanan itu fragile banget. Ada yang memang hilang seiring waktu. Ada yang berusaha kita pertahankan, padahal sebetulnya tidak perlu. Teman yang benar-benar teman itu tidak perlu dipertahankan. Mereka akan selalu ada di sekitar kita tanpa kita sadari.
Damn she's got a point!

What do you think?





Love,





21 comments:

  1. bener ada yang hilang seiring waktu, lost contact dan memang bener - bener seperti hilang saja, namun kadang ada juga yang mati2an mempertahankan. Kalau saya sih mengalir saja tanpa dipertahankan dan ga dibiarin menghilang juga!

    ReplyDelete
  2. 100% Setuju dengan semua yang ditulis sama Gesi.

    Semua orang akan berubah seiring berjalannya waktu, begitupun dengan circle pertemanan. Ini aku rasaain banget.

    Awal-awal baperan, tapi makin lama makin masa bodoh, banyak hal lain yang lebih penting untuk dipikirin daripada sakit hati dengan perkataan "mantan teman dekat" yang ternyata tidak mengenal kita dengan baik.

    ReplyDelete
  3. *mikir keras*
    Pengen nulis juga jadinya. ��
    Tapi, situasi belum sejauh itu, sih, kayaknya. ��

    ReplyDelete
  4. Stuju Ges with statement teman yg bisa menjaga kita spy lebih baik lagi ๐Ÿ˜...Kalo tetap sama kayak dlu kayaknya kok ng ada perkembangan ya???? ๐Ÿ˜ฎ๐Ÿ˜ง Sayang bangeeeeet d... ๐Ÿ˜ข peace

    ReplyDelete
  5. Entah kenapa, siklus pertemananku berakhir tragis terus. Biasa, akrab, terus akhirnya hilang. Mungkin karena kesibukan maisng2

    ReplyDelete
  6. halo gesi, aku hampir setiap hari selalu buka blog-mu. salam kenal yaa :) rata2, di setiap fase hidup ada aja 'cobaan'macam begini. dan aku setuju banget sm yang icha bilang, tentang pertemanan yang fragile banget. been there, dan akhirnya sampai pada tahap bodo amat. tokh temen, orgtua, anak, atau pasangan gak kita bawa sampai kubur (apalagi perasaan ya bok). just be yourself, yg fabulous, yg inspired others, yg membanggakan buat keluarga. yg cem gitu mah lewatin aja XD, just sayin. walau ya, memang ada saatnya kita boleh mikir "dulu khan kita deket" atau apalah. tapi UDAH. banyak urusan yg lebih urgent yg lebih patut buat diurus :)

    ReplyDelete
  7. Ternyata saya gak sendiri *elap ingus*
    Serius Mak Ges, daku pun mengalami dari yang bisa nongki bareng sampe chat gajebo sepanjang hari, sekarang tinggal beberapa. Alesannya ada yang mirip dengan teman Mak Ges yang katanya over positive, ga ada celanya. Sisanya menuntut pertemuan rutin.

    Sampai akhirnya cuma tinggal beberapa. Sedih emang, apalagi ada yang dari sma deket banget. Sekarang malah...yaa sudah. Tapi ya emang bener sih, ada waktunya mereka datang dan pergi. Hehe.

    Saya termasuk yang praktekin ilmunya MakGes lowh dari ilmu blogging, instagram sampe bikin rate card ahahahaha

    Lope yu pull deh

    ReplyDelete
  8. Aku melongo mbaa... yakin itu dulu temen deket banget? heran yah kok bisa-bisanya mikir gitu ya, huft -_-

    ReplyDelete
  9. Tooss..
    Akupun lama2 punya pemikiran yang sama.."friendship doesn't always last. People change and so does our circle" ini bener banget lho..

    Kita bertumbuh, pun mereka..
    Jadi, wajar kalo suatu saat nanti mungkin sahabat di masa lalu bisa jadi orang asing di masa depan..

    BTW, salam kenal ya :)

    ReplyDelete
  10. Saya juga punya.. teman yang dulu akrab kemudian menghilang. Pernah saya telpon dan tanggapannya dingin padahal dulu suka hahaha hihihi.. saya baperan akhirnya lama ga kontak.

    ReplyDelete
  11. Bener banget mami ubi, saya jg ngerasain. Semenjak saya nikah dan pindah kota ngikutin suami saya banyak teman lama bilang saya berubah. Hmm..... :(

    ReplyDelete
  12. Dan saya meleleh ketika membaca ini "Teman yang benar-benar teman itu tidak perlu dipertahankan. Mereka akan selalu ada di sekitar kita tanpa kita sadari."

    Kenapa bisa pas gini situasinya, mami ubii? Kenapaaa??? *sinetronmode=on. btw, masih zaman ga sih pake mode=on mode=on ginih? haha.. who cares lah hae..

    Memang iya, sih.. a true friend will be a true friend, no explanation needed.

    ReplyDelete
  13. Sedih banget pasti, coba kalo itu aku yang ada di posisi Mbak Gesi pasti juga kepikiran berhari-hari :(
    But we realized then, as we grow older, things change. Udah nggak di lingkungan yang sama, punya kesibukan berbeda jelas bikin pola pikir berbeda. I hope that your friend will understand enough.. sooner or later ^^

    ReplyDelete
  14. Kayanya ini pertama kali aku komen di blog mu deh.
    Soalnya aku pernah ngerasain sedihnya temen yang dulu akrab hampir tiap hari barengan eh sekarang sekalinya ketemu di suatu acara kaya orang lain *mewek
    Cuma bisa mbatin "Kira-kira aku salah apa ya ke dia?!" Sempet juga mikir apa karena status sosial ya secara dia uda sukses, tinggal di ibukota. Lha aku cuma anak daerah ��

    ReplyDelete
  15. Dan menurutku, persahabatan sejati itu tidak harus memiliki intesitas komunikasi tinggi, sering bertemu atau sering chatting. Tetapi sekadar no judging dan mendukung apapun yang kita lakukan, itu sudah lebih dari cukup. Serta ketika ada sesuatu yang ingin dicurhatkan, kita akan saling bercerita tanpa rasa canggung. :)

    ReplyDelete
  16. WOW.YAKALI

    ^^^^^^^^
    Ngakak, hahaha.

    But couldn't more agree mami ubii, huhu. Saya juga ngerasa makin kesini makin dikit temennya. Karena memang status sudah beda, saya sudah ibu-ibu udah nggak ada waktu lagi untuk kongkow2 di cafe kayak dulu.

    Tapi bener sih, teman yang benar-benar teman akan selalu ada. Biarlah teman sedikit asal solid ^^

    ReplyDelete
  17. It came to my surprise, dia jawabnya singkat-singkat banget. Pernah bamget ngalamin tapi setuju sih Mak Gess, saya suka positive vibes mak yang sekata, lebih bermanfaat:)

    ReplyDelete
  18. Gw juga akhirnya semakin memperkecil inner circle. Seleksi alam sik. Ada yg masih hangat meski jarak aangat memisahkan. Bahkan bisa dibilang gw sama temen gw ini ga yang tiap hari ngobrol. Cuma kalau pas butuh ya kami ada untuk satu sama lain. She is my aister not bestfriend sik jdnya.

    ReplyDelete
  19. Yang namanya sahabat sejati, meskipun jarang kontak, tapi sekali bertemu seolah-olah bagaikan tidak pernah berpisah =)

    The most beautiful discovery true friends make is that they can grow separately without growing apart.

    ReplyDelete
  20. ์—๋ณผํ”Œ๋ ˆ์ด ๋จนํŠ€๊ฒ€์ฆ ์•ˆ์ „๋…ธ๋ฆฌํ„ฐ

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^