Monday, May 15, 2017

Kenapa Tidak Sekolah Agama?

Bahasan tentang sekolah, mau nggak mau, sudah mulai mampir di obrolan saya dan Adit karena kami sudah mulai menabung dana pendidikan untuk Aiden. Lanjutannya adalah perbincangan tentang kami kepengin Aiden sekolah di mana kelak. 


Sekolah yang seperti apa yang kami sasar? Yang diobrolin ya semacam itu. Thank God, saya dan Adit punya keinginan yang sejalan. Kami sepakat untuk tidak memasukkan Aiden ke sekolah yang berbasis agama. Kenapa tidak sekolah agama?

Alasannya sederhana, kami ingin Aiden punya lingkungan belajar yang heterogen. Heterogen dari segi suku, agama, dan ras. Buat kami, itu sebuah cara untuk mengajarkan keberagaman pada Aiden. Kami ingin Aiden tahu bahwa di Indonesia ini ada banyak sekali orang. Orang Jawa, orang Sunda, orang Tionghoa, orang Batak, orang Manado, dan lain-lain.

Baca: Diari Papi Ubii #5 - Sistem Pendidikan Ideal Itu

Agama pun bermacam-macam. Tidak hanya agama yang dianut Adit dan agama yang saya anut. Kami harap Aiden akan bisa melihat hal itu secara langsung, bukan hanya dari buku atau televisi.


Kenapa ingin Aiden bisa melihat keberagaman? Jelas, karena ingin Aiden punya toleransi dan nggak pilih-pilih teman. Toleransi bahwa semua suku, agama, dan ras itu baik dan tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya. Nggak pilih-pilih teman ketika bergaul dan menolong orang. Siapa pun yang butuh dibantu, maka bantulah, tanpa harus tanya apa suku, agama, atau ras nya. Karena untuk apa?

Baca: Cinta Yang Kuterima dari Mereka Yang Berbeda Agama

Apakah lantas tidak menyekolahkan anak di sekolah berbasis agama menjadi satu-satu nya cara untuk mengajarkan keberagaman? Tentu tidak.

Tiap orangtua pasti punya cara nya masing-masing and I totally respect every decision. Saya pun sudah mulai menunjukkan bahwa agama itu ada macam-macam lewat buku cerita anak. Itu juga salah satu cara, kan? 


Tapi buat saya dan Adit, dengan Aiden kelak bersekolah di lingkungan yang heterogen, dia akan bisa menjalani praktik langsung dengan aktif. Bukan hanya pasif dengan melihat gambar orang-orang dengan aneka baju adat dan atribut keagamaan berpose di bangunan-bangunan ibadah atau bergandengan mengelilingi bola dunia. Ketika nanti ngobrol dengan teman nya yang berbeda suku atau agama, Aiden akan bisa belajar berinteraksi langsung. Aiden akan belajar memilih-milih topik pembicaraan general yang bisa diobrolkan olehnya dan oleh teman nya yang berbeda suku, agama, dan ras. Aiden akan belajar berkomunikasi dan buat kami itu penting.


Sekolah adalah tempat Aiden menghabiskan banyak waktu nya kelak selain di rumah. Jadi, saya pikir, dia akan banyak terpapar dengan keberagaman and that's a good thing.

Bisa juga mengenal banyak orang dengan latar belakang yang beragam di lingkungan rumah kalau Aiden main sama tetangga. Tapi, main-main sama tetangga mah paling berapa lama. 1-2 jam doang kalau saya dulu. Tetep lebih banyak interaksi nya sama teman-teman di sekolah.

Kalau lebih dispesifikkan lagi, saya dan Adit kepengin Aiden sekolah di sekolah yang inklusi. Sekolah inklusi adalah sekolah yang juga menerima siswa berkebutuhan khusus. Ini lebih untuk alasan supaya Aiden tahu bahwa ada anak-anak lain yang juga punya special needs, bukan hanya Ubii, kakaknya. Just in case someday Aiden merasa 'terbeban' dengan Ubii. Terbeban dalam arti karena untuk beberapa hal, saya lebih mendahulukan Ubii ketimbang Aiden and stuff.

Baca: Ketika Anak Difabel Memiliki Adik




So far, saya dan Adit hanya ngobrolin sekolah level TK sampai SMA. Untuk kuliah di mana kelak, kami nggak begitu bahas karena kami merasa palingan nanti Aiden sudah punya mau sendiri kepengin kuliah di mana.

SMA juga mungkin Aiden sudah bisa pilih sendiri, yah. Tapi mengingat bahwa yang disebut anak adalah 0-18 tahun, maka saya dan Adit tetap bicara sampai level SMA. 

To sum up, ketika nanti Aiden bersekolah, kami ingin dia belajar banyak hal. Tidak hanya pelajaran, tapi juga karakter dan kehidupan sosial yang lebih bisa dipraktikkan dengan interaksi nyata. Saat ini kami lebih menitikberatkan pengasuhan Aiden pada kindness, bukan agama. 


Belum sampai yang mengajak mengikuti mempraktikkan suatu agama tertentu karena nanti Aiden mungkin akan ingin memilih sendiri apa yang akan ia anut. We would like him to understand that every religion is good and that we are free to choose what we want to believe. That freedom is even stated in the UUD, right?

Kenapa sekolah agama dan kenapa tidak sekolah agama, tentu semua kembali lagi kepada prinsip dan keputusan tiap orangtua. Tidak ada keputusan yang lebih benar atau lebih keliru karena tiap orangtua pasti punya pertimbangan, kondisi, latar belakang, dan ekspektasi yang berbeda.

Baca: Memanusiakan Manusia

Ekspektasi juga akan memberikan bahan pertimbangan dalam porsi besar di sini. Mau ekspektasi yang seperti apa? Ingin anak juga hapal berbagai hal yang ada di agamanya? Ingin anak lebih memahami agamanya karena ilmu agama kita (kita rasa) belum cukup? Ingin anak di sekolah 'hanya' belajar pelajaran, karakter, dan bergaul saja dan pelajaran agama nya cukup di rumah? Ingin anak bertemu dengan banyak teman dari macam-macam latar belakang? And the list of expectations can go on and on.

Well, anyway, cerita ini hanya cerita tentang pilihan personal saya aja. I hope this post ignite any fire or hatred yah. Hehehe.


Buat tambahan sharing, boleh juga nih baca cerita dari temen saya, Noni Rosliyani tentang sekolah seperti apa yang dia inginkan untuk anak gadisnya, Luna.

Baca: Pertimbangan Memilih Sekolah untuk Anak

Semangat semuanya yang sedang menabung untuk dana pendidikan anak. Semoga kita lekas mencapai checkpoint yah! LOL.



Love,





24 comments:

  1. Jgnkan kamu ges, aku aja yg sama2 muslim dengan suami, ga pengen nyekolahin anak di sekolah agama. Aku pgn anakku berbaur.. Aku pgn dia tau agama itu ada banyak, dan walopun menurut dia agama dia yg terbaik, tp bagi temennya yg beragama lain, agama merekalah yg terbaik.. Jd jgn saling menghakimi, jgn saling menghina, jgn saling ribut. Belajar toleransi.. Jgn terlalu gampang melabeli org lain dgn sebutan kafir. Itu yg terpenting..kalo aku mau dia bljr tambahan utk agama, aku bisa cariin dia guru ngaji nantinya.. Tp pokoknya utk urusan sekolah, aku pgn yg heterogen :)

    ReplyDelete
  2. Sebenernya aku juga sedikit mikir soal sekolah juga untuk anakku. Pengen nyekolahin dia di sekolah alam untuk tk dan sdnya karena kulihat energinya banyak jadi bisa tersalurkan. Lagipula cara belajarnya lebih banyak praktek2 ketimbang teori sehingga pelajaran lebih nyantol. Gak cuma materi sekolah tapi budi pekerti dsb.
    Cuma itu sih kepikiranku aja. Ngga didiskusikan sama suami. Soalnya dy pengen sekolah yg heterogen.

    ReplyDelete
  3. Di sekolah Nathan malah ga ada pelajaran agama, Krn tugas mengenalkan Tuhan dan agama tugas orang tua menurut sekolahan,pelajaran disana kebanyakan toleransi tak hanya pada teman tapi juga tetangga2 sekolahan. Jadi agak repot karena emaknya yg harus ngajarin, hehehe..padahal ilmuku juga cetek :)

    ReplyDelete
  4. pasangan saya orang Argentina dan sekarang kami tinggal di Kolombia. Kami belum punya anak sih, tapi sudah kebayang akan "sekaya" apa anak kami kelak karena tumbuh di budaya yang campur ini.

    pasangan saya tetep gak mau ngasih ide anak kami untuk beragama, tapi saya tetep pengen karena mau gak mau lingkungan tempat tinggal kami dikelilingi oleh orang beragama (Kolombia penganut Katolik taat) selain itu keluarga saya juga taat sama agama. enggak ada salahnya untuk memperkenalkan soal agama, tapi ya nantinya urusan si anak2 ini juga sih ya mau milih apa untuk hidupnya.

    .: efi :.

    ReplyDelete
  5. Sekarang anakku SD Negeri.
    Tapi SMP nanti pingin aku masukin SD Islam.
    Ngga tau ya, kok menurutku SD Negeri itu kurang challenging
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  6. Najla skrg tk berbasis agama, rencananya SD mau masuk SD islam atau SD sekolah alam entah yang mana belum tahu soalnya belum survei, hehe (baru survei biayanya yg sama2 mahal, hoho). Alasannya simpel, karena di usia anak2 ini otaknya msh menyerap kayak spons, dan buatku memang goal utamanya anak2 musti mengenal Tuhannya,bisa doa,salat dan ngaji dulu, soalnya kalo diajarin di rumah malah kabur, hiks, mgkn dia lebih "manut" kalo belajar rame2 ada teman seusianya. Meski tdk dipungkiri yg namanya pelajaran agama jg tetep harus diulangi lagi dan dicontohkan sama ortunya di rumah. Percuma sekolah ngajarin ini itu tp di rumah nggak dipraktekkin kan?

    Dulu pernah survei KB dan TK Montessori gitu, asyik sih kayaknya, sayang nggak jadi trial karena pas ga pas waktunya, cm entah kenapa aku ngrasa lebih ayem aja masuk ke TK yg berbasis agama.

    Malah tadinya pgn yang pakai pengantar bahasa Inggris, alasannya juga sama, msh kayak spons otak anak, jd dijamin bakal nyerap dan caz cis cuz bahasa inggrisnya, cm kok ga jd ya, haha. Kalau dulu aku baru les bahasa Inggris pas SMP udah telat kayaknya, jadilah banyak lupanya..:)

    Dulu aku juga TK dan SD islam, baru SMP dan SMA Negeri, meski di negeri juga jadi mayoritas sih, tapi juga punya banyak teman yang berbeda agama, dan nggak ada masalah dalam menerima keheterogenan. Tapi itu zaman aku dulu sih ya, nggak tahu kalo zaman sekarang. Semoga anak2 kita selalu menjunjung toleransi dan keberagaman ya:)

    ReplyDelete
  7. Awalnya pengen milih sekolah agama, karena SD negeri di lingkunganku kebanyakan sekolah agama lain, dan sekolah negeri nya kurang deh :(

    Aah, jadi kepikiran. :( Kombinasi pendidikan yang heterogen dan agama malah lebih balance sh menurutku. Tapi emang emaknya jadi lebih rempong sih. Apalagi jaman sekarang ini banyak guru2 yang punya pemahaman beda, aku agak khawatir juga, pemahaman agama anak bisa melenceng ke yang ekstrim *aaak~ pusing dah*

    Karena kita terbiasa hidup dalam lingkungan heterogen, otomatis bisa memilah2 bagaimana cara bergaul dengan rekan2 yang berbeda agama. Dan nggak asal njeplak :D

    ReplyDelete
  8. Aku setuju sepenuhnya sama tulisan ini, karena memang ini juga yang jadi pertimbangan kami saar memilih sekolah untuk Prema

    Sejak TK, Prema sekolah di TK umum yabg menerima semua agama, jadi saat disekolah meski mayoritas Islam, Prema dan teman2 non muslim tetap berdoa sesuai agama masing-masing

    Sekarang Prema kami masukkan SD Swasta, dengan pertimbangan yang sama. Swastanya umum, menerima semua agama dan benar2 berisi 6 agama (Islam, Kristen, katolik, Hindu, Budha dan Konghucu) plus guru agamanya masing-masing. Setiap hari besar agama tertentu, ada perayaan di sekolah. Doa, dalam bahasa inggris dengan kalimat yang sangat umum

    Kenapa gak negeri? Bukannya itu juga sekolah umum?
    Iya sih, tapi satu agama sangat mayoritas disana. Doa sehari-hari mengikuti agama tersebut. Kegiatan keagamaan hanya untuk agama tertentu. Dan Prema bisa jadi hanya sendirian. Kalaupun ada teman yg berbeda, itu satu dua saja. Belum ketemu sekolah negeri yang siswanya ada 5 agama. Makanya pilihan jatuh ke swasta :)

    ReplyDelete
  9. Saya muslim.. dari SD sampe SMU disekolahin di sekolah katolik karena mama saya lebih mentingin pendidikan akademik dibanding agama.. hasilnya secara akademik memang saya bagus, tetapi pendidikan agama islam nya nol.. tapi saya jadi toleran banget, ga pilih2 temen berdasarkan agama.. di usia saya yg dewasa ini, saya harus belajar agama sendiri, karena baru sadar agama itu penting..
    Sekarang anak saya, saya sekolahkan di sekolah islam, karena saya gak pengen anak saya ga dapet pendidikan agama kaya saya.. Tetapi akan tetap saya ajarkan toleransi ke agama lain..

    Pendidikan agama itu harus tetep dikasih karena agama itu dasar kalo menurut saya.. memang sih gak menjamin, anak yg sekolah di sekolah agama dr kecil sampe besar akan jadi anak baik dan sebaliknya.. karena pendidikan agama itu harusnya ga cuma pas usia sekolah aja tapi pendidikan seumur hidup..

    Semoga Aiden tetep dapet pendidikan agama walaupun bukan dari sekolahnya ya.. Maaf ya jadi panjang comment nya.. hihihi..

    ReplyDelete
  10. Kalo aku.. walaupun anakku belum umur sekolah, tp sepertinya bakalan sekolahin di sekolah yang agama beragam.. bukan apa2 sih mungkin di daerahku kami mayoritas, tp keluar dr daerahku kami benar2 minoritas.. paling tidak jikalau besar nanti anakku gak kaget kalau ternyata dia minor dan bisa toleransi.. dan pelajaran agama nantinya melalui aku yg cetek ini dan di sekolah nantinya pasti dpt juga.. yg penting aku mengajarkan nilai kebenaran kejujuran dan toleransi.. itu mimpi buat anakku mak gesiiii...

    ReplyDelete
  11. Aku belom punya anak sih (belom nikah pun LOL), tapi udah mulai mencari dan baca seputar ini. Nice sharing, Mba! :)

    ReplyDelete
  12. Wah mami ges udh mulai menabung utk pendidikan anak..keren2.. tp sy td smpt bingung kok smpet ada ide mau nyekolahin aiden di inklusi..mskpn tujuannya jg utk ngenalin aiden sm yg namanya anak berkebutuhan khusus krn si kakak ubi demikian tp bukanny nti mlh menyulitkan aiden ya..

    Yap disekolahin di sklh yg lgkgnnya heterogen it ide yg bagus spy lbh open minded anaknya tp alangkah baikny agama jg perlu dikenalkan sjk sedini mgkn.klo di skolah pljrn agama rata2 1-2 jam aja dan it msh hrus dpt bmbgn lg d rmh dr orgtua.

    Nice artikel mami Ges 😊

    ReplyDelete
  13. Aku kepingin anakku belajar di sekolah agama, seperti aku dulu. Karena aku merasa sangat banyak manfaatnya bagi masa depan. Dan seperti orangtua kebanyakan, aku tentu pingin anakku banyak mengerti agama lebih dari ibu bapaknya. Di sekolah agama juga diajarkan toleransi antar suku dan umat beragama kok :)

    Well, mari kita lebih semangat lagi menabungnya....

    ReplyDelete
  14. klo aku pengennya anakku justru sekolah agama mami apapun alasannya yg ptg memanh kita sbg ortu akan sll berikan arahan paling terbaik buat anak kita ❤️❤️

    ReplyDelete
  15. Aku prefer anak sekolah di sekolah Katolik, bukan karena aku Katolik (aku Kristen) tapi memang aku harus akui displin dan tata cara sekolah Katolik itu lebih displin, lebih baik dari yang lainnya :) - in my opinion :)

    ReplyDelete
  16. ''Belum sampai yang mengajak mengikuti mempraktikkan suatu agama tertentu karena nanti Aiden mungkin akan ingin memilih sendiri apa yang akan ia anut. We would like him to understand that every religion is good and that we are free to choose what we want to believe.''

    Totally agree with this line. Tp belum sepakat sama emaknya nih. Hahahaha...

    ReplyDelete
  17. Aku niatnya di usia 3,5 tahun ini masukin dia ke kelompok belajar aja berbasis agama. Paling enggak sampai TK. SD nanti pikirin ntar deh. *Dilema emak bekerja di luar rumah
    Khawatir juga nanti anak jadi intoleran sama yang beda. Padahal tiap agama ngajarin berbuat baik. Ah, Baper jadinya ��

    ReplyDelete
  18. anak2ku dua2nay sekolah di negeri. Tpi aku nagajr di sekolah katolik di sana juga banyak keberagaman , ada yg muslim, kristen, budha , kong huchu, suku dan ars juag berlainan . Dan mereka bisa menyatu

    ReplyDelete
  19. Aku juga niatnya nick tak masukin sekolah umum aja. Soalnya aku dulu ngalamin sendiri susahnya sekolah di sekolah agama. Madrasah ibtidaiyah. Xixixi.. Bebannya berat bookk.. Taun 1993 dimana anak2 seumuran aku belajar yg ringan2, aku di MI belajar akidah, sejarah islam, bahasa arab dan berbagai hafalan..
    Jadi kmrn diskusi sama pak bojo sepakat masuk sekolah negeri aja. Dan juga ga muluk2 harus sd terbaik di kota tempat tinggal. Yg penting deket rumah, anak ga capek dijalan dan tetep berprestasu walo tak di sekolah favorit

    ReplyDelete
  20. anakku baru 1 stgh taun.. rencananya pgn masukin ke sekolah katolik (aku muslim suamiku protestan) krn disiplinnya bukan krn agama... anakku muslim tp aku gamau masukin ke sekolah islam krn takut anakku di bully.. jaman dulu aja anak2 yg orgtuanya beda dibully (bahkan sama guru2) di sekolahku (yg kebetulan sekolah islam) apalagi jaman skrg :( toh menurut aku pendidikan agama adalah kewajiban orgtua... alasan kedua krn mahal sekolah islam yg aku mau ������

    ReplyDelete
  21. Alasan masukin anak ke SD negeri adm supaya ketemu yg beda agama, dilalah satu agama semua wekekeke. Suami agak parno sama SDIT, aku sbg alumni nantinya lebih parno sama beban pelajaran yg lebih ke hapalan. Namun sering sekali bertemu dgn ortu yg memasukkan anaknya ke SDIT krn mereka dulu di sekolah negeri dan ilmu agamanya memang jauh sekali jika dibandingkan dengan SDIT. Makanya hal ini menantang saya utk belajar ulang agar bisa merepresentasikan agama yg saya yakini dengan sebaik2nya, krn sesungguhnya hanya Tuhan yg berkuasa akan hati manusia. Kiss kiss utk ubii n aiden

    ReplyDelete
  22. Mba Gesi,
    Kalo misalnya ditanyain agama anak (mungkin waktu daftar sekolah), mba Gesi jawab gimana?

    ReplyDelete
  23. Halo mba gesi..jd ikut mikirin mau sekolahin anak ntr dimana *padahal blm lahiran tp gpp ya udh mikirin* di lingkungan tnpat tggal saat ini lbh bnyak sekolah dasar swasta berbasis agama malah sekolah negrinya agak kurang. Tren ibu2 sekitar akan nyekolahin anak pas sd di sekolah agama baru ntr smp dan sma di sekolah umum. Pertimbangan sekolah smp dan sma yg umum/negri adalah sekolah favorit guna menuju universitas yg diinginkan juga.

    Aku dan suami yg dr sd smpe sma di sekolah umum negeri mgkin bakal ngikutin tren tsb. Mskipun rasanya kasian pas liat anak sd d sekolah basis agama mata pelajarannya trll banyak. Jadi beban belajar ikut banyak. Belum lagi nanti klo ikut ekskul dluar sekolah. Jd galau. Hahahaha *komennya mblunder*

    ReplyDelete
  24. Aku sekolah agama pas Sd, jadi sore gitu. Inipun deket rumah. Pas udah masuk remaja sekolah umum. Kuliah malah seasrama dengan orang dari macam2 budaya dan agama. Merasa beruntung tumbuh di lingkungan yang sangat heterogen

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^