Friday, September 2, 2016

Diari Papi Ubii #5: Sistem Pendidikan Ideal Itu...

Diari Papi Ubii #5 - To be honest, 2 mingguan ini saya blank dan nggak kepikiran mau menyodorkan tema apa ke Adit. So, I left it up to him mau bahas apa. Ternyata Adit kepengin bahas tentang sekolah atau sistem pendidikan di Indonesia pada zamannya. Yasuda monggo aja. Saya anaknya mauan aja yah *__*


Begitu Adit kelar nulis dan sent draft nya ke saya via email, dia ngechat saya, "Mi, kok kayaknya aku isinya marah-marah terus ya di blogmu." Pfft. So, here it is, yah!

Adit:

“What makes a child gifted and talented may not always be good grades in school, but a different way of looking at the world and learning.”
— Chuck Grassley

Trending topic digantinya menteri pendidikan mahabaik Anies Baswedan kayaknya lewat sudah. Tapi namanya ngomongin sistem pendidikan di Indonesia ini ngga habisnya— ada aja yang dicela. Kemarin saya sempet lihat ada konten video sliweran di timeline saya, yang membandingkan sistem pendidikan di Indonesia dan Finlandia. Bisa ditebak, komentar-komentarnya lebih banyakan nyinyir daripada mewacanakan solusi. Saya sendiri bukan pendidik. Saya selalu ngga bisa kalo dimintain tolong, “Dit ajarin ngomong bahasa Inggris yang baik dan benar dong.” — disamping saya akui bahasa Inggris saya masih jauh dari sempurna karena Inggris  bukan bahasa ibu saya, seriously I can’t teach. Mengajar itu butuh kemampuan pedagogis yang ngga dimiliki semua orang. Menjadi guru bukanlah perkara mudah.

(*)

Saya adalah produk sistem pendidikan Indonesia— nggak pernah punya kesempatan buat mengecap jadi diaspora scholar, walaupun pengen banget. Nah, di entry ini, tanpa bermaksud menggeneralisir dan mendiskreditkan profesi guru maupun pihak yang berkecimpung di dunia pendidikan Indonesia, saya kepingin berbagi cerita beberapa pengalaman buruk yang saya alami semasa sekolah. Sebelum selepas SMA, saya nggak nyadar kalau yang saya alami adalah afirmasi dari betapa banyak celah yang harus dibenahi untuk menuju sistem pendidikan yang ideal— menurut perspektif saya. Jadi, saya akan menceritakan case-by-case permasalahannya, lalu saya akan mencoba menawarkan diskursus (yang mungkin sudah diterapkan di beberapa institusi pendidikan di Indonesia). 

So, this writing will be pure opinion.


1. Sekolah tidak mengakomodir kemampuan saya yang bisa mengimbangi teman yang usianya lebih tua.

Ceritanya, saya masih balita sewaktu Mama memasukkan saya ke sekolah SD negeri. Sebelumnya saya juga masuk TK, walaupun banyak part yang skip karena nasib keluarga PNS— sekeluarga harus pindah-pindah keliling Indonesia. All in all, saya masuk kelas 1 SD di umur 4.5 tahun. Waktu masuk, sama sekali nggak dipersulit karena saya sudah bisa calistung. Tapi yang bikin jengkel adalah saat kenaikan kelas: rapor saya kebakaran. Nilai paling baik adalah Bahasa Indonesia, dapet 7 di raport. Sisanya 6,5,4— dan saya dinyatakan TIDAK naik kelas. Mama marah besar. Bukan ke saya, tapi ke wali kelasnya. Kenapa? Tugas sekolah ngga pernah skip. THB (haha ketahuan tua pake term THB) nilainya nggak ada yang kurang dari 8. Nggak pernah absen. Cuma lemah di 1 mapel: olahraga. Terus, kenapa bisa nggak naik? Rupanya si Ibu wali kelas sengaja mark-up nilai saya menjadi jelek agar saya tinggal kelas, karena menurut dia saya masih terlalu muda untuk naik ke kelas 2.

Well, mungkin kalau dinilai dari sisi psikologi perkembangan ada benernya juga argumen si Ibu ini— tapi saya lihat kok ini nggak jadi masalah ya? Asal murid bisa catch-up dengan materi pelajaran, voila. Toh gap umurnya nggak jauh-jauh amat. Saya dan kakak saya terpaut 3 tahun, but we can get along very, very well up to now. Dan caranya itu lho: mark-up nilai raport. Apa nggak ada cara yang lebih civilized seperti dialog ke orang tua atau apalah. Ibu wali kelas mungkin nggak nyadar nilai-nilai yang dia tulis di raport saya tidak bisa dirubah sampai saya kelas 6 besok— dan ini awal mula saya pernah dipanggil “anak goblok dari Kalimantan”: karena ada teman yang berhasil mengintip raport saya— ada info disitu bahwa saya lahir di Martapura, dan nilai Matematika saat Cawu III kelas 1: empat. Tae.


2. Sekolah tidak memfasilitasi otak kanan

Obsesi yang berlebihan sistem pendidikan Indonesia terhadap ilmu pasti dan sosial, membuat pelajaran seni menjadi tersingkir. Dari jadwal padat seminggu, art class (saat itu) hanya diberi porsi satu jam mapel saja. Lihat coba Matematika atau IPA, sehari bisa 4 jam mapel. Hasilnya, karya gambar anak sekolahan jadi tipikal bertemakan lanskap romantisme agraris: gunung 2, matahari, sawah, jalan setapak, rumah sederhana, dan bapak tani yang sedang menggarap kebun. Kadang ada burung lagi terbang beberapa biji. Giliran saya mencoba menggambar suasana perang antar galaksi, cuma dikasih nilai 6.5. Sudah jamnya seiprit, kreativitas dibatasi.

Saya inget pernah ngobrol sama supervisor saya di kantor— bahwa pasca Affandi, pelukis Indonesia yang kesohor sampe “disembah” di panggung mancanegara siapa sih? Paling ya Barli Sasmitawinata, Basuki Abdullah, Said… muter-muter disitu aja kayak nggak ada yang lain. Yang masih hidup? Nasirun, siapa lagi? Sedikit ya. Mungkin ini efek dari sistem pendidikan gambar pemandangan dua gunung ini— manusia-manusia yang preference-nya otak kanan tidak diakomodir. Orientasi pendidikan Indonesia saat ini masih terpaut ke kurikulum, bukan minat dan bakat murid. Menurut saya ya idealnya ragam mata pelajaran diberi porsi yang berimbang.

(**)


3. Sekolah tidak mengafirmasi jiwa kebhinnekaan

Saya membayangkan sekolah Indonesia yang ideal adalah sekolah yang bener-bener kerasa Bhinneka Tunggal Ika-nya, which means dalam satu sekolah ada tuh anak dari Sabang sampai Merauke, dan bisa experience first-hand tentang keberagaman budaya di sekolah. Tapi kayaknya bakalan susah terwujud karena faktor geografis. Dan, inilah yang jadi masalah- di beberapa daerah malah kesan chauvinisme kedaerahannya sungguh terasa.

Pernah denger istilah “muatan lokal”? Ini pelajaran bagus yang ingin memperkenalkan akar budaya masing-masing daerah. Namun, ini jadi problem buat saya yang sering pindah-pindah. Kebayang nggak— saya dari Kalimantan Selatan yang pakai Bahasa Banjar, lalu pindah ke Jogja yang pakai Bahasa Jawa. Mengganti “ikam” dengan “sampeyan”, lalu “setumat” dengan “sedilit”— ini bikin anak seusia saya saat itu stres akut. Saya sempat nggak mau sekolah karena benci setengah mati dengan Bahasa Jawa. Saya tidak mau makan gudeg karena saya pikir masakan manis untuk main course itu menjijikkan. Ditambah aksara Jawa yang waaay too complicated buat saya. Alhasil, di rapor dapet 4. Bikin rata-rata nilai keseluruhan saya njegleg.

Saya pro muatan lokal untuk satu hal: menghalau salah kaprah Sumpah Pemuda. Salah kaprah gimana? Mari kita tinjau isi Sumpah Pemuda:

Pertama: Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.
Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia.

Ada yang salah? Ya, poin ketiga diatas salah, walaupun banyak orang yang mengamininya. Yang benar adalah:

Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Indonesia punya banyak bahasa. Nggak cuma satu. Bahasa Indonesia memang patut dijunjung karena doi adalah bahasa persatuan. Namun, selain alat pemersatu bangsa, ia adalah alat pembunuh bahasa daerah: https://beritagar.id/artikel/sains-tekno/139-bahasa-daerah-di-indonesia-terancam-punah. Kenapa bisa punah? Ya karena sudah tidak ada penuturnya. Disinilah mapel muatan lokal bahasa daerah berperan penting. PBB aja menganggap bahasa daerah itu penting, dengan mencanangkan Hari Bahasa Ibu Internasional setiap 21 Februari sejak tahun 2000.

Agak lompat sedikit— tapi masih ada kaitannya dengan kebhinnekaan, ada pula satu kejadian yang sampai saat ini saya sangat menyesalinya. Waktu saya menginjak kelas 3 SD, saya sekolah di sekolah negeri. Ada satu murid baru, namanya Handi. Doi Tionghoa, orangtuanya mengadu nasib ke Jogja dan merintis warung mi Bangka di deket sekolah. Awal-awal kami ngobrol, nyambung banget— soalnya sama-sama sering pindah dan sama-sama benci gudeg. Obrolan receh macem siapa Satria Emas favorit di anime Saint Seiya, atau siapa musuh paling keren Kamen Rider menghiasi percakapan kami. Tapi cuma sama saya saja si Handi nyambung. Teman-teman saya yang lain benci dengan Handi— simply karena dia Cina. Setiap Handi lewat lorong, semua teman-teman nyanyi “Cina loling panganane tai garing” (roughly translated: “dasar Cina pemakan tai kering”). Saya mencoba berempati tapi nggak bisa— karena diejek teman-teman karena warna kulit berbeda, adalah hal yang sangat baru buat saya. Karena posisi saya sebagai anak pindahan anyar, saya takut— dan diam saja. Suatu hari ejekan mereka ke Handi makin menjadi. Teman-teman bikin lingkaran manusia, dan ditengahnya ada si Handi. Dia diejek constantly sampai hampir nangis. Terus ada “preman kelas” yang nyuruh saya buat masuk ke dalam lingkaran dan menyuruh saya dan beberapa teman untuk memukuli Handi rame-rame. Kalau nggak mau, saya diancam akan berada dalam posisi yang sama dengan Handi saat itu. Overwhelmed by fear, saya ikut memukuli Handi.

Esoknya Handi nggak berangkat sekolah. Esoknya lagi juga nggak. Belakangan saya tahu kalau Handi sekeluarga pindah karena usaha orangtuanya bangkrut. Handi berlalu begitu saja dalam hidup saya, tanpa ada kesempatan saya meminta maaf. Handi Setiawan, kalau kamu baca tulisan ini, saya pengen minta maaf sebesar-besarnya. I was a coward and you were very brave taking my punches and kicks without crying. I am sorry.

Pra-1998, pernah baca buku paket sekolah yang memakai model sampel orang Tionghoa di dalamnya? Belajar sejarah, apa ada materi yang membahas kontribusi diplomasi Admiral Cheng Ho dalam penyebaran agama Islam secara damai di Nusantara? Nggak ada. Empat orang Tionghoa: Liem Koen Hian, Tan Eng Hoa, Oey Tiang Tjoe, dan Oey Tjong Hauw— nggak disebut. Padahal mereka yang merumuskan UUD'45 lewat BPUPKI. Mayor John Lie yang menyelundupkan barang-barang ke Singapura dan Malaysia untuk kepentingan pembiayaan Republik juga nggak kedengeran gaungnya di buku. Kontribusinya aja nggak diakui, no wonder lah kalau orang Tionghoa diperlakukan seperti warga negara kelas dua di Indonesia. Kita hanya dididik untuk tahu, tapi tidak untuk paham. Ini adalah kealpaan sektor pendidikan yang seharusnya mencerahkan. Terima kasih pada Pak Harto dan Orde Baru-nya.

(***)

“Piye, penak jamanku to?”
“Yaya whatever."


4. Segregasi intelektualitas

Karena sistem sekolah jaman saya dulu menyembah prestasi akademik diatas segalanya, muncullah kemudian kaum elitis intelektual yang selalu dapat ranking. Saya salah satunya. Selalu dapat tiga besar semasa SD, saya jadi murid kesayangan. Dampaknya? Banyak yang cemburu. Dampak lebih jauh, saya dirundung. Saya diharuskan memberikan contekan tiap ujian. Kalau nggak mau, diancam dihajar rame-rame. Pernah saya iseng memberikan jawaban yang salah semua. Waktu istirahat, saya dihajar dan dipaksa menginjak tinja manusia di kebun sekolah. Sampai kelas saya dituduh ngebrok (eek di celana) gara-gara bau menyengat dari sepatu— lalu saya disuruh pulang. Besoknya saya wajib menyumbangkan seluruh uang saku saya ke preman kelas. Jadi, hampir selama 1 tahun saya selalu kelaparan saat mengikuti pelajaran, soalnya udah nggak ada uang buat beli apapun. Mau mengadu ke orangtua, nggak berani. Saya sampai pura-pura goblok dengan sengaja mendapat nilai jelek di ujian agar teman-teman yang lain tidak terlalu keras ke saya. Entah bagaimana, Papa Mama tahu akan hal ini. Saat kelas 5 SD, saya kemudian dipindahkan ke sekolah swasta.

Menginjak SMP, saya menemukan bentuk segregasi intelektualitas yang parah mampus. Per angkatan ada 5 kelas. A sampai E. Kelas A adalah kelas unggulan, karena yang ada di sana semuanya murid-murid “pintar”. Kelas lainnya, ya gradual. B: agak pintar. C: average joes. D: agak goblok. Dan E: imbisil. Secara akademik. Alasannya klise banget sih: karena daya tangkapnya anak-anak kelas A berbeda dengan yang lain— lebih advanced. Ini apa ya? Seolah-olah sekolah tidak mau tahu yang lain: pokoknya prestasi akademik numero uno. Sistem ini membuat murid selain kelas A menjadi minder, dipaksa berlomba-lomba menuju kelas kasta yang lebih tinggi. Sementara, murid kelas A mati-matian mempertahankan status quo agar tetap di kelas unggulan. Ini sekolah apa Liga Inggris? Patokannya? Lagi-lagi Matematika, IPA, IPS dan sebangsanya. Apakah murid yang punya bakat seni maupun calon atlet, nggak berhak duduk di kelas A?

Dari awal standpoint saya sudah kelihatan ya— sebenernya saya sangat menentang sistem nilai dan ranking gini. Mungkin idealnya kita seperti Jepang: 3 tahun pertama primary school nggak diajari pelajaran dan nggak ada nilai. Mereka diajari budi pekerti dan cara bersosialisasi: cara mengantre, cara memilah dan buang sampah, saling menghormati— semuanya skill fundamental bermasyarakat. Begitu fondasinya kuat, baru diajari mata pelajaran.

(****)

Sepinter-pinternya orang, kalau nggak bisa buang sampah pada tempatnya atau nggak mau antre, tetep aja bego di mata saya.


5. Guru selalu benar dan murid selalu salah

Menginjak SMA, saya masuk sekolah swasta berbasis Islam. Salah satu mata pelajarannya adalah  Ibadah— dimana ada ujian kami harus membacakan bacaan sholat dengan lantang, kemudian dinilai. Dua malam susah payah menghafal bacaan dari niat, takbiratul ihram sampai tahiyat akhir dan salam, saya maju ujian dengan penuh percaya diri. Saya hapal tanpa cela. Namun, saya disuruh mengulang oleh Ibu guru. Saya tanya kenapa, penjelasan beliau bikin saya tertawa terbahak-bahak. Dia bilang pelafalan saya masih terlalu Jawa, nggak ada cengkok Arabnya blas. Lha? What do you expect? Saya bukan orang Arab. Lalu dia bilang, kalau pelafalannya salah, artinya akan beda. Dan kalau artinya beda, sholat saya tidak akan diterima. Wah! Ibu guru ini hebat sekali playing God, batin saya. Kemudian saya jawab, “Bu, berarti Allah cuma mudheng bahasa Arab ya? Besok surga isinya orang Arab semua, gitu? Soalnya saya yang medhok gini salah terus baca bacaan sholat.” Ibu guru pun meradang, dan saya diskors dengan alasan berani menentang guru.

Saya akan maklum jika itu adalah ujian bahasa Arab (yang juga diajarkan di sekolah tersebut). Namun, ini pelajaran Ibadah— yang menurut saya adalah mata pelajaran paling lancang: meremehkan kemampuan Tuhan untuk memahami komunikasi kita dengan-Nya. Jika mapel Ibadah ini mengajarkan sekedar tata cara ibadat: sholat ini berapa rakaat, sholat itu berapa rakaat, cara wudhu yang baik, saya setuju. Namun kalau sudah sampai ranah bahasa, saya sangat keberatan. Ibadah yang baik nggak perlu melulu ngarab. Ibadah yang baik itu gimana? Ya saya nggak tahu. Cuma pribadi masing-masing dan Tuhan yang tahu.



Begitulah kiranya sekelumit pengalaman dan pandangan saya mengenai sistem pendidikan di Indonesia (jaman saya). Kira-kira ada kawan yang ingin bercerita mengenai pengalaman buruk yang dialami semasa sekolah— dan bagaimana, menurut kamu, hal tersebut seharusnya ditangani? Saya pengen denger ceritanya. Silakan cerita di section comment. Mau nyela atau mendekonstruksi tulisan ini juga boleh. 10 komentator pertama akan saya jadikan sahabat karib.

Tabik.


Grace:

Cerita tentang Adit pernah, bahkan sering, dapat bullying semasa sekolah sebenernya sudah sering saya dengar. Adit sering cerita dengan berapi-api. Dan kayaknya memang dia belum move on. LOL. But, I guess, pengalaman dipermalukan di depan banyak anak memang bukan jenis pengalaman yang gampang terlupa begitu aja, yes?

Tentang bullying, sudah sering dengar. Tentang ketidakpuasan Adit terhadap sistem pendidikan di eranya dulu, sering denger juga sih, tapi nggak selengkap ini. Saya baru tahu kisah temannya yang bernama Handi juga setelah baca draft Adit ini.

Saya Tionghoa, dan memang entah kenapa rentan banget anak-anak Tionghoa ini dapat bullying yah. Dulu saya juga pernah, meskipun masih sebatas verbal bullying saja dengan dijuluki, "Cino cino" yang rasanya nggak enak banget. Dulu saya sekolah di SD swasta. Ada aja yang manggil gitu. Lalu setelah itu saya nggak berani masuk sekolah negeri karena takut makin keliatan beda. Jadilah SMP, SMA, dan kuliah saya selalu memilih institusi swasta.

Kalo Adit bilang: Sepinter-pinter apapun tapi kalau nggak bisa buang sampah pada tempatnya, orang itu keliatan bego di mata saya.

Versi saya: Sepinter dan sekeren apapun kamu, kalau kamu ngebully orang lain cuma karena dia terlahir Cina (dan lain-lain yang kita nggak bisa milih mau dilahirkan kayak apa), kamu keliatan lame di mata saya.

Sistem ranking, dulu di SMP saya juga menerapkan. Bedanya dengan sekolah Adit, kalau sekolah Adit gap-nya terlihat dari pembagian kelas. Kelas A kumpulan anak-anak cerdas, endebrew-endebrew, dan kelas E kumpulan anak-anak paling nggak cerdas. Di SMP saya dulu, agak lucu, menurut saya. Kelas A, B, C, dan D sih nggak dibagi berdasar kepandaian, tapi nomor absen!

Biasanya, nomor absen anak itu sesuai alfabet nama kita, yah. Jadi biasanya nomor absen depan-depan adalan anak-anak yang namanya dimulai dengan huruf A: Abi, Alia, Amora, dll dan seterusnya sampai Z kalau emang ada anak yang namanya dimulai dengan huruf Z.

Di SMP saya dulu, nomor absen ditentukan based on prestasi each anak yang dilihat dari rapor kenaikan kelas sebelumnya. Jadi, nomor absen awal 1, 2, 3, dll itu ya yang isinya anak-anak pintar dan prestasi akademiknya bagus. Lalu nomor-nomor absen akhir-akhir, bisa ditebak, anak-anak yang rapor tahun lalu nya kebakaran atau anak-anak yang tinggal kelas.

Nomor absen saya dulu kalau nggak 1 ya 3 (ganjil untuk murid cewek, genap untuk murid cowok), lumayan bisa dijadikan alasan untuk bangga sih ya. Tapi, kalau dipikir-pikir, rasanya nggak adil untuk anak-anak absen belakang. Nggak adil aja. Kesannya dikotak-kotakkan banget siapa pandai siapa tidak. Dan ya sama, karena saya dapat nomor absen depan berarti bisa disimpulkan saya pinter, temen-temen jadi suka minta contekan dan saya dikatai Cina pelit kalau nggak mau kasih contekan. Mainnya ke ras lagi. Terus jadi stereotype: Pantesan Grace pelit, lha dia Cina sih.

WTF.

I and Adit hate all craps related to SARA. Dan semoga jangan sampai anak-anak kami nanti dibully karena SARA juga. Atau Ubii, semoga nggak dibully yang gimana-gimana banget hanya karena dia difabel. Karena saya bisa bayangin, kalau itu terjadi, kayaknya Adit akan patah hati banget dan kenangan pahit di masa kecilnya bakal mampir lagi ke otaknya.

***

Anyway, what do you guys think? Cerita yuk apa saja tentang sekolah kalian dulu atau apapun. As what Adit said, mau mengkritik tulisan ini juga boleh banget.

Previous posts of Adit:






Love,







Credits:
(*) https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/3a/ca/82/3aca82c1da1cc0e49369476f1ed9a6cc.jpg
(**) http://bebrainfit.com/wp-content/uploads/2015/03/right-brain-left-brain.jpg
(***) https://pbs.twimg.com/media/BKCcaZNCYAQxEIc.jpg
(****) http://66.media.tumblr.com/tumblr_lh0pikkCo61qdzhrqo1_500.jp

29 comments:

  1. Hai.. ikutan komen ya soal pendidikan di indonesia. pengalaman sendiri waktu kelas 3 sd, suka banget baca buku kayak intisari, natgeo dll. jadi waktu itu pengetahuan saya melebihi tmn2 sekelas. tmn2 ga ada yg tau, saya sudah bosan sama pelajaran di kelas yg itu2 aja.. saya suka ngobrol soal astronomi, soal sejarah, mitologi yunani/romawi yg saya baca. dan guru kemudian manggil ortu ke sekolah nyuruh membatasi bacaan buku saya krna ga pas untuk anak sd. suruh baca buku pelajaran aja.. jadi kayaknya sekolah itu gak memfasilitasi anak2 yg lebih maju, semua harus sama.. -_-
    Akhirnya ortu ttp ngasih buku2 itu tapi berpesan gak boleh dibahas di sekolah. kalo bosen, nggambar aja.. dan pada akhirnya guru juga komentar, saya di kelas nggambar terus.. bosen tauk sama pelajaran yg gitu2 aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. SAMA! saya dulu bawa seabreg seri ilmu pengetahuan untuk dibaca saat istirahat, malah dimarahin dan bukunya disita. WTF lah masih emosi kalo inget2 itu.

      Anyways, thanks udah mampir baca yak! :D

      Delete
  2. Aku setuju untuk pendidikan Anak pertama Tanpa nilai, tanpa naik kelas tidak naik kelas, tanpa ranking. Aku pernah stress berat disekolah, Karena saat naik kelas, aku masuk ke kelas unggulan tetapi akhirnya di kelas unggulan JD ngga dapet ranking 5 besar. Sumpah down banget, keluarga jg jadi kecewa, Karena yahhh klasik, kamu ranking satu dan kamu akan sukses. Dan aku menyesal sekarang Karena lebih memilih fokus ekskul olimpiade yang mentok cuma sampe provinsi dibandingkan ekskul soft skill seperti English atau bahasa lainnya yang itu buatku akan lebih berguna sekarang. Menang/ranking di bidang akademis tanpa follow up ke depannya hanya akan jadi prestasi angin lalu yang nggak akan pernah ditanya bahkan saat skripsi, interview kerja, atau customer....nggak penting....

    Mbak grace, salam buat Ubi dan ayden yah....kalian so sweet banget main bareng, laff.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senasib nih Mbak Intan.
      Aku juga pas SMA dimasukkin ke kelas unggulan yg isinya pada ambisius sama nilai semua sementara aku tipe santai santai gak obsesi sama nilai. Alhasil jeblok rangking 28 dari 30 orang -___-

      Naik kelas 11, sukarela masuk IPS yang gak pakai kelas unggulan.
      Lebih rileks dan balik masuk 10 besar.

      Delete
  3. Sepakat banget sama tulisan Papi Ubi utamanya sekolah ga mampu untuk memfasilitasi kemampuaan otak kanan. Dulu teman SD saya jago banget gambarnya tetapi ga didukung yang justru dititik beratkan adalah pelajaran. AKhirnya dia jadi anak minder, menutup diri dan parahnya saya juga kemasuk dalam rombongan anak2 yang suka bully dia *tobat sekrang mah* sampe dia susah buat ngomong saking mindernya dikatain g*blok sama teman2 dan guru :(. Ga hanya guru dan sistem pendidikan, zaman dulu ortu juga dicekokin bahwa anak tuh mesti dapet rangking ga dapat rangking sama dengan membuat malu keluarga. Saya pribadi menjadi pribadi anxiety berlebihan hal ini dikarenakan saya ketakutan dengan aturan dan ancaman ortu jadi dikit2 saya sakit sebelum ujian. Untunglah saya masuk jurusan psikologi yang akhirnya berobat jalan hehehe. *malah curhat*

    ReplyDelete
  4. Saya ketawa, kok yaa ceritanya hampir samaan kaya saya. Tinggal di Bekasi dengan nebeng di Provinsi Jawa Barat tidak membuat saya sebagai warga bekasi asli turun temurun bangga. Lah pasalnya kami dituntut untuk bisa mengerjakan ujian Bahasa Sunda, wich is setiap hari ngomongnya pake bahasa nyablak ala betawi dan bahasa serapan daerah lain.

    Ora Danta Acan ini mah... X))) Itulah kenapa saya bingung kalo disuruh ngomong bahasa Sunda, gak bakalan bisa sama sekali. Gak kebayang kalau diajarin huruf sanskerta huhuhuhu

    ReplyDelete
  5. Sharing pengalaman juga. Dulu ada anak dikelas 5 yang gak naik kelas di periode sebelumnya. Jadi kami cuma sekelas dalam 2 tahun. Yang bikin gak naik ternyata raport anak ini memang nilai rata ratanya jatuh, tapi nilai matematikanya gak pernah kurang dari 9. Dia jago banget di satu mapel bahkan ikut olimpiade matematika pun juara. Sampe bisa bikin rumus baru semacam rumus praktis gitu loh, dan bisa jelasin di depan kelas ckckckck....

    Menurutku sih, sistem pendidikan yang baik adalah yang mengakomodasi anak anak sesuai minatnya. Bukan dibikin standar semua anak harus bisa bagus di semua mata pelajaran. Kayanya seru yaa klo dari SD anak udah bisa milih mata pelajaran kaya jaman kita kuliah :D

    Ke depannya ikut berdoa semoga pendidikan Indonesia bisa jauh lebih baik untuk anak anak kita :) salam

    ReplyDelete
  6. Ada mba gez yg depannya Z, suami saya zuhair namanya karena dia emg keturunan arab dan yg saya tau teman2 sma/smp nya sampai skrg msh ada yg manggil dia arab/onta, kayanya paling aman jd orang jawa ya minim gak kena bully soal ras hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah, siapa bilang.. kalo ke tatar sunda dengan logat jawa yang medok udah pasti pernah kena bully masalah logatnya.. trus dikasih nickname jawir atau mas jawa.. secara sundanese ini gak pernah mau ngaku sebagai orang jawa, padahal tinggal di pulau jawa :)))

      Delete
  7. Ayah saya orang Malang. Ibu orang sunda. Sehari-hari kami berbahasa indonesia.

    pas ayah saya ditugaskan ke Aceh, saya dapat muatan lokal Bahasa Aceh. BLANK bgt dong.

    tiap ulangan selalu minta teman bantuin.

    di rapor selalu dpt angka 6 untuk bahasa aceh. sekolah saya baik hati yaaa

    ReplyDelete
  8. hehehe. saya konon adalah supervisornya Adit. makanya Dit, apa kita rame2 migrasi aja? jangan ke amrik sih, banyak senjata, mending ke copenhagen yuk. heheh.

    ReplyDelete
  9. Ada mba gez yg depannya Z, suami saya zuhair namanya karena dia emg keturunan arab dan yg saya tau teman2 sma/smp nya sampai skrg msh ada yg manggil dia arab/onta, kayanya paling aman jd orang jawa ya minim gak kena bully soal ras hehe

    ReplyDelete
  10. Hadeuh, tulisan ini membuat saya marah lagi pada masa lalu saya.

    Saya, mungkin termasuk anak kelas A di SMP-nya Adit itu. Kami dituntut membuat nilai fisika kami jadi 8-9, padahal saya nggak bisa memahami pelajaran itu dengan baik. Setiap gurunya menerangkan, saya selalu kebosanan, dan saya malah bikin cerpen di buku tulis saya. Akhirnya saban kali ulangan, saya selalu memohon contekan ke teman saya supaya bisa lulus. Tapi kemampuan saya berbahasa dengan runut berkembang pesat, dan itu membuat saya jadi penulis seperti sekarang. Dan saya lebih happy menulis ketimbang menghapal rumus gravitasi Newton.

    Saya juga pernah ngebully teman di SD. Karena..semua teman ngebully dia. Dan saya merasa harus ikutan ngebully karena peer pressure. Sekarang setelah dewasa, saya menyesal. Alasan saya childish banget waktu itu ikutan ngebully. Kalau saya pikir-pikir, sebenarnya teman saya yang dibully itu nggak kerdil-kerdil amat. Kasihab, guru-guru kami di sekolah nggak punya prioritas buat ngebela dia dari kami. Oh, dia nggak dibela, saya yang dibela. Karena saya anak ranking 1. *tepok jidat*

    Saya nggak happy di sekolah, saya merasakan itu. Sekarang saya punya grup Whatsapp teman-teman SD, SMP, tapi saya nggak terlalu senang di sana. Karena saya merasa saya nggak bisa menjadi diri saya yang terbaik selama masa kanak-kanak itu.

    Saya mungkin lebih senang mengingat masa SMA dan masa kuliah. Karena masa itu, saya dicintai teman-teman sebab saya sering bikin cerber yang menggunakan nama-nama teman saya, dan itu membuat teman merasa "dianggap sebagai teman". Masa itu saya juga sudah nggak lagi membully orang. Dan nggak ada yang memarahi saya cuma gara-gara nggak bisa fisika. Sepertinya guru sudah mafhum bahwa saya lebih pandai bahasa ketimbang ilmu pasti.

    Saya tetap berusaha berprestasi bagus ketika remaja. Saya cukup pandai di biologi dan sedikit bagus di bidang kimia, dan itu membuat saya jadi dokter seperti sekarang. Saya juga lumayan bagus di matematika, dan itu membuat saya sekarang bisa jadi trader di pasar modal. Dan karena kemampuan saya bagus di pelajaran bahasa Indonesia, saya bisa menjelaskan rumitnya penyakit dan cara-cara trading saham dengan kalimat-kalimat yang sederhana kepada orang awam.

    Sebetulnya tujuan pendidikan Indonesia itu bagus, tapi memang sistem implementasinya di sekolah-sekolah itu super dudul berat. Saya mengharap anak saya mendapatkan pengalaman sekolah yang lebih bagus, tidak cuma sekedar jadi ranking 1 di sekolah (seperti saya), tapi jadi anak yang bisa berempati kepada sesamanya (yang mungkin saya itu gagal di sini). Saya sungguh menyesal Anies Baswedan diganti dari posisi menteri pendidikan.

    Oh ya, sebetulnya ada sekolah yang mengakomodasi multikultural di Indonesia, namanya SMA Taruna Nusantara di Magelang. Toleransi terhadap perbedaannya cukup bagus di sana, dan beberapa alumninya yang saya kenal itu lumayan baik.
    Saya sendiri sekolah di SMA 3 Bandung, penerimaannya terhadap murid-murid dari berbagai geografis di Indonesia juga cukup bagus. Tapi waktu jaman saya sih, lingkungan pertemanannya masih kurang welcome terhadap murid non-muslim.

    Adit, kamu menulis bagus sekali. Apakah kamu nggak punya blog sendiri?
    Punya account Twitter/Instagram? Temenan yuk.. :-)

    ReplyDelete
  11. Wah ternyata budaya ngebully udah sejak dulu ya. Untung sih dimasa sekolah nggak pernah ngalamin kayak gitu, paling ejek2 kan biasa nggak sampe dikeroyok n ngebully rame2.

    Emang sih, adanya cuma pelajaran eksakta, otak kanan. Ketrampilan, kesenian dan olahraga dianggap kelas 2.

    Tabiiik

    ReplyDelete
  12. Yeyeee aku bakalan dijadikan sahabat karib. LOL
    Oke oke sebagai guru saya terpancing utk komen.
    Pada dasarnya setiap sekolah itu pasti ada saja anak yg level atas maupun bawah, kalau jaman Adit dl mungkin SARA masih terasa, apalagi anak pindahan dan Cina. Duuuh komplit je bahan bully. Saya salut sama Adit yg bisa berargumen dg guru agama, kenapa ibu guru malah meradang (walau sejujurnya memang susah lho Dit guru mengaku salah, tapi percayalah jaman sekarang terutama di jamanku sendiri guru mau mengadu salah bahkan ke parents sekalipun). Untuk temanmu handi mudah2an dia memaafkanmu ya.

    Kalau masalah anak Cina justru aku mengaku gak ada SARA lagi (di tempatku tapi) karena mayoritas muridku Cina, dan mereka baik sama anak2 indo, mereka baik jg sama guru medhok keturunan jawa macam aku ini.

    Tapi aku yakin sih Sara masih ada sampai sekarang. Ya Allah mudah2an cepet deh sadar apa gunanya beda2in agama suku maupun ras. Payah!

    Masalah muatan lokal sih bener katamu, susah2 gampang apalagi kalau kita bukan anak asli di daerah tsb.

    Overall mungkin sudah ada beberapa perbaikan lho Dit sistem pendidikan kita. Ya itu contohnya sekolahku, otak kanan tetap dinilai dan dihargai. Gak ada SARA dan yg pasti diajari buang sampah pada tempatnya.

    Gitu sih, kalau pengalamanku dl ya pernah sih dibully tp ga sampai parah (tapictetep bully ga baik) kok

    Eh salam kenal yooo Adit papinya Ubiiiiii Aiden

    ReplyDelete
  13. Ada rasa rindu dgn sistem pendidikan jaman saya dulu di TK/SD. Jadwal libur sama, seragam sama, buku pelajaran sama, materi dan kurikulum sama. Tapi ya lebih maju skrg terutama di sisi kewirausahaannya. Semoga terus membaik pendidikan di indonesia.

    ReplyDelete
  14. Sepinter-pinternya orang, kalau nggak bisa buang sampah pada tempatnya atau nggak mau antre, tetep aja bego di mata saya.

    -------

    Setuju pake banget sama bagian ini

    ReplyDelete
  15. Aku suka tulisanmu
    Dan sara masih ada sampe skrg. Karena itu aku dan banyak ibu2 lainnya menyekolahkan anaknya di sekolah dimana ras anak kita adalah mayoritas. Simply utk menghindari bully. Plus sekolah yg mengedepankan karakter, karena dgn begitu kita orang tua berharap anak2 kita aman di sekolah karena semuanya karakter murid2nya baik2.

    ReplyDelete
  16. Bener, ngajar emang ggmudah. Aku bukan dr fak. Pendidikan, kerja di dunia pendidikan, disuruh ngajar malah bingung sendiri...

    Terus soal bahasa ya, setuju sih ngangkat budaya daerah
    Tp. Zaman sekarang mah anak2 udah diajarin bhs indo ... Termasuk aku ngajarin juna, alasannya sih krn aku ggmau juna pake bahasa jawa kasar,

    Kl bullying, pernah ngalamin sd dan smp

    Sementara soal bagi kelas, pas smp sih diacak... Sma kls x kayake juga gitu...

    ReplyDelete
  17. duuuh, miris baca yg bagian membully, sampe mukulin anaknya gitu :(.. kalo kecilnya aja udh jd preman sekolah, gedenya aku ga bisa bayangin mbak :(.. tapi ttg adit yg ikut mukulin, itu aku ngerti krn terpaksa dan takut.. akupun, kalo diumur segitu mungkin akan melakukan hal yg sama :(

    jaman aku sekolah ga terlalu istimewa.. dari TK-SMU kls 2, aku di swasta khusus anak karyawan Perusahaan oil & gas di aceh.. jd bisa dibilang dr TK-SMU temen2ku yaa itu2 aja ;p.. kami semua kebnyakan anak2 perantau dari jawa, medan, sulawesi, ambon dll.. yg org acehnya juga banyak, tp perbandingannya hampir seimbang.. jd bisa dibilang bhinneka tunggal ika bgt yg aku rasain dr dulu..

    nah suamiku nih, yg pengalaman sekolahnya 'asyik' ;p.. dr TK di korea utara, trs pindah ke jepang, SD di jerman, SMP di Finland, baru SMU di Jakarta, dia stress banget pas nyampe jakarta ;p.. ya iyalah... ngerasain sekolah2 di negara2 maju yg sistem pendidikannya sangat mengutamakan kreativitas, keberanian utk tampil, berani speak up, mengutamakan kecerdasan emotional drpd akademis, nyampe jakarta, semua itu ga kepake -__-.. yg dituntut ama gurunya cuma nilai, nilai dan nilai.. gimana suamiku ga stress ;p.. mana pas sekolah di jkt dia diejek, jerman kere, krn uang sakunya sedikit.. temen2nya ngira dia anak orang kaya krn lama di eropa.. pdhl, suamiku males bawa duit krn tau bakal di palak :D.. jd semua uangnya ditinggal, dan dia bawa bekal..

    tapi ya gitu deh Ges, sekolah di Indo ini memang blm bisa ya ngikuti sistem kyk di finland, jerman... mw masukin anak ke sekolah swasta yg kebarat2an itu kyk JIS, BIS, global school, tapi apa daya, ga kuat ama school fees nya ;p.. secara itu sekolah2 asing punya rekening di bank ku, jd aku tau banget uang sekolahnya berapa per semester, USD 20,000 bok utk anak SD ;p.. wkwkwkwkwkwkw, trs aku makan apah!! ;p

    ReplyDelete
  18. Bingung mau ngomong apa...jaman kecil sempat ikut pindah ortu beberapa kali karna tuntutan ikatan kerja. Hasilnya memang agak jetlag sosial sih

    sering kena bully pas jaman smp karena badan gembrot -_-
    sayangnya tanpa sadar ibu ikut ngebully fisik dengan ngolok2 meskipun niatnya biar aku malu dan mau usaha langsing tapi hasilnya justru aku sempet bulimia. Baru sembuh ketika kuliah itupun ga sembuh total sempet kambuh2an yg pada akhirnya ketika menikah suami ikutan bantu nyembuhin dampaknya secara psikologis. bullying itu memang menyakitkan dan akan terkenang selalu -_-

    ReplyDelete
  19. Wah kelas satu SD masih 4,5 tahun Mas?
    Jadi teringat adek iparku jg gtu krn pengen sekelas sama kakaknya (suamiku)
    Tapi krn kepseknya neneknya sendiri jd dibiarin aja, soal pelajaran nyantai aja waktu itu. Bahkan adek iparku gak pernah mencatat, mamanya yg bantuin nyatat. Gak ada yg berani ngejek wong cucunya kepsek. Tapi akhirnya pas udah gedhean dia mau aja misah kelas dr kakaknya :))

    Soal absen, krn namaku A, dulu aku suka aja sesuai alfabet biar klo ada giliran apa2 cepet hahaha :P

    ReplyDelete
  20. Saya dulu termasuk yang ditempatkan di kelas B karena selalu masuk raking 1-3, kenapa bukan A? Karena kelas A khusus untuk yang beragama selain Islam. WTF banget kan? Haha. Waktu itu di kepala saya memang berlompatan pertanyaan kenapa harus ada kelas A dan kelas B? (meskipun bangga banget kalo dibilang "Dani dari kelas B".

    Pemisahan-pemisahan itu yang akhirnya kemudian membuat segregasi yang bisa jadi kita yakini sampai saat ini. Let us just be honest, yang masuk kelas A kalo misalkan dia selain islam, dan sekolahnya di pulau Jawa, ya (hampir) pastinya bukan orang Jawa kan? Dan itu adalah sekolah negeri! Makanya generasi saya yang besar bareng dan seumuran saya kalo saya lihat status FBnya masih melakukan praktik menurutkan prasangka dan juga menganggap bahwasannya agama dan golongannya dia yang paling bener. Sorry to say, itu udah dari jaman SD SMP kok dilakukan. Kalo kemudian banyak yang mempertanyakan kenapa kita orang Indonesia gak bisa melepaskan prasangka dan kecurigaan, ya sistem pendidikannya juga bener-bener harus dirombak.

    Termasuk tuntutan akan nilai. Saya sepakat kalau 3 tahun pertama misalkan diterapkan kayak di Jepang. Kemudian di tahun berikutnya dikembangkan kurikulum yang memang mengakomodir minat dan bakat dari siswanya. Perubahan radikal memang tapi akan berbuah manis saya rasa untuk Indonesia dengan akan melahirkan manusia-manusia berpikiran bebas. Inget banget dulu saya itu paling suka menggambar. Nilai mata pelajaran kesenian gak pernah kurang dari 8. Cuman karena katanya menggambar gak bisa menghidupi masa depan, saya pun usahakan dapet 10 di matematika dan IPA. Dan sekarang masih selalu bertanya-tanya gimana kalo dulu saya lebih memilih untuk fokus ke dunia seni gambar. Hiks. Tapi ya namanya juga jaman dulu anak gak diberikan pilihan (sama pihak sekolah) kan?

    Vote Mas Adit for Ministry of Education!

    ReplyDelete
  21. Jadi inget kmrn pas ramai2nya full day school itu bnyk yg inbox aku dan tanya gmn pendapatku, mostly, kayaknya yg inbox lupa, anak gw ga sekolah cuyy :D
    Zaman sekolah masih 'aman' aja saya dan suami memutuskan mengeluarkan anak2 dr sekolah apalagi zaman skrg ga perlu mikir dua kali aq Ges. Meskipun habis babak bundhas di bully keluarga dan tetangga :D

    ReplyDelete
  22. Huwaaa itu guru yang ngatrol nilai jadi jeblok kok tega sih, itu rapor kan buat seumur hidup dan gak mungkin di urek-urek atau di tipe x.
    Aku juga sebel banget sama anak-anak yang suka nge bully, tapi untuk kasus Handi memang sangat keterlaluan kalo menurutku sih Mbak, semoga Handi membaca postingan ini dan dia memaafkan suami mbak yang pernah dipaksa mukul dia.
    Semoga pendidikan di Indonesia bener-bener diperbaiki lebih baik kedepannya :)

    ReplyDelete
  23. ortu sya juga suka pindah2 kota karena pekerjaan, dlu sekolah d SD yayasan militer, bahagiak banget, ikut banyak ekskul n sempet ranking 1 jg.. kls 5SD pindah k padang d sekolah islam.. alhmdulillah ya, habis2 an d bully, g sm tmn aja tp jg gurunya.. gila aja, dri sekolah umum d pindh k sekolah islam yg ada pelajaran arab melayu(tulisan arab tanpa tanda baca) yg harus d buat karangan,hafal baca an sholat arti, pelajaran al-qur'an (pdhl dlu msh iqro).. trus SMP d sekolah katolik, tambah d bully lg krn sya g cina.. :p hahaha.. dlu msuk SMP itw dgn tes n hasil ujian q bgus, stlh msuk sering dpet 0 krn d bully sm tmn2 n guru, pulang pun d bully sm ibu sndri.. saat2 perih banget.. mw cerita g tw k siapa.. SMA d negri n masih d padang tp semua lancar n bisa berprestasi.. eh, pas kuliah d jogja, malah kena bully lg krn aq ngomongnya g basa basi n dlu tgl d padang.. pfftt.. SARA lagi.. tp untung udah kebal.. hahaha
    pas sekarang udh nikah n punya anak trus cerita sm ortu tntg masa SMP q yg pedih malah d bego2 in sm ortu krn g cerita.. bukannya menyembuhkan luka tp malah makin parah.. smp sekarang jd males berteman..

    ReplyDelete
  24. Mulok juga jd monok buat gw saat SD. Anak pindahan dari Ranah Minang dengan kemampuan E yang kaku harus bisa luwes melafalkan eu ala Sunda karena pindah ke Bekasi yang masuk wilayah Jawa Barat.

    Alhasil, nilai ga ada yang lebih dr 6. Thank God, kedua ortu mengerti, bahkan sangat mengerti, karena mereka pun ga bs bantu kalau anaknya ini dapet PR mulok bahasa Sunda.

    Verbal Bullying pun juga pernah. Simply because i weight more than most of my friends. Sebutan Gendut, gembrot, gajah endesbre itu udah kenyang bahkan sampai kebal. Bahkan sampai ke tahap ada yg komen, lw gendut sik makanya ga ada yang mau jadi pacar lw (well, i'm married and blessed with a cute daughther now tanpa harus melalui drama pacaran putus nyambung atau gonta ganti pacar thanks to my big size body)


    *kemudian komen isinya tsurhat semua*

    ReplyDelete
  25. Mau ikutan komen ah.. Bkn sy sih tpi sang suami.. Dlu jaman sd/smp gt prnah ada mapel apa lupa yg hrs nyanyi gt (apa mulok ya? Entahlah..) Eniwe, pdhl ya ga smuanya kita suara bgus kan. Kalo bgus smua ya udh atuh jd pnyanyi smua. Nah kbtulan suara suami agak ngga bagus, ngga sumbang sih, cm ngga kaya bang Levine jg gtu.. Trs ada ujian suru nyanyi di dpn kls. Ee bkn tmn2 yg ngerundung tpi malah gurunya lho! Iya, gurunya yg ngejekin & alhasil jdi bkin sluruh kls ketawa. Sejak saat itu sampe skrg suami sy ga prnah mau nyanyi di dpn umum, di dpn sy aja ga prnah. Nyanyinya cm lagu pujian di greja aja (dimana suasananya rame jd suaranya ga kedengeran) segitunya bok! Sedih aja ya.. Kan harusnya guru itu "di gugu lan ditiru" bhs jawanya. Tpi malah jd bkin anak didik trauma smpe skg...

    ReplyDelete
  26. Tulisan ini sama banget kyak pengalamanku

    Saya pribumi bukan tionghoa tapi semua keluarga saya punya muka mirip orang tionghoa, mata sipit, putih..nenek saya pun juga sama kayk mas adit dari martapura. dan mulai lahir sampai saat ini saya tinggal di jawatimur..
    itu yang membuat saya di bully selama hidup saya.

    SD, SMP, SMA saya di negeri dan gak habis2 saya saya dibully dengan kalimat yang gak pantas seperi Cino, Cimeng, Ciko yang berarti cina gak waras.
    sedih rasanya padahal saya bukan cina saya adalah pure pribumi yang punya fisik seperti orang cina..
    disini lah saya bisa merasakan menjadi korban bully dan kaum minoritas.

    sampai dongnya SMA saya dibully gak hanya teman tapi guru saya juga
    saya gak trima saya bentak guru nya eh malah saya yg kena SP ortu saya dipanggil

    akhirnya kuliah saya memutuskan masuk swasta yang mayoritas bukan orang jawa, tapi tetep ada 1 atau 2 orang jawa dan dosen2 kebanyakan tetap orang jawa. saya tetap merasa perbullyan itu berlangsung..

    hingga saat ini 21 tahun saya masih rasakan perbedaan itu apalagi skg saya rasa indonesia semakin banyak kaum yg rasis :"

    tambhan lagi anak sekarang rasisnya udah kelebihan batas
    saya pernah kerja jadi guru di SD negeri
    ada anak pindahan yg beragama nasrani, dan SD yg saya ajar ini 100% muslim.. dan apa yg terjadi anak ini hanya bertahan 4 bulan karena bully yg udah masuk ranah agama dengan menyebut2 tuhan nya..
    sungguh sedih sekali, akhirnya dia pindah ke SD swasta.
    oh Indonesia :"

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...