Wednesday, May 18, 2016

Tips Memilih Dokter Anak

Kalau sudah jadi orangtua, salah satu tempat yang langganan kita datangi adalah rumah sakit atau klinik untuk bertemu dokter anak, yes? Entah untuk konsultasi rutin, cek tumbuh kembang sudah sesuai tahapan usia atau belum, konsultasi saat anak terserang demam, batuk, atau pilek, dan tentunya.. imunisasi rutin.

Apalagi kalau kita punya bayi di bawah satu tahun, pasti jadi harus sering ketemu dokter anak, wong jadwal imunisasinya padat merayap begitchu.


Apakah teman-teman sudah menemukan dokter anak yang cocok? Selama ini punya kriteria tertentu nggak dalam memilih dokter anak?

Saya pribadi, kadang-kadang coba-coba beberapa dokter dulu sampai bertemu yang cocok. Nggak cuman untuk dokter anak ya, tapi juga untuk dokter spesialis yang lain juga. Untuk dokter anak, apalagi, saya bener-bener pengin menemukan yang cocok dan pas karena saya pasti akan sering bertemu dengan beliau untuk kepentingan-kepentingan yang saya sebut di atas.

Oh ya, ini adalah postingan #GesiWindiTalk yang ke-4 yah. Baca juga dari kacamata Windi Teguh:

Berikut beberapa kriteria dokter anak pilihan saya dari pengalaman pribadi:



1) Komunikatif dan Informatif

Hal ini bertengger di urutan pertama dan jadi prioritas saya. Saya kepengin punya dokter anak yang komunikatif dan informatif. Buat saya, ini penting banget. Dengan dokter yang komunikatif, saya nggak akan sungkan kalau saya mau nanya-nanya misal tentang:

"Kalau imunisasi ini telat, masih boleh dikejar sampai batas usia berapa?"
"Kok berat badan Baby Aiden stuck ya dok, gimana baiknya?"

Baca: Tips Menambah Berat Badan Anak

"Dok, boleh minta contoh jadwal menu MPASI yang baik dan bergizi?"

Baca: Daftar Perlengkapan MPASI Bayi dan Harganya

"Dok, kok saya kesulitan memplot grafik pertumbuhan Baby Aiden di growth chart, boleh dibantu?"
dan lain-lain

Pernah saya ketemu dengan dokter anak yang irit bicara. Pertanyaan saya dijawab ala-kadarnya. Bahkan, beliau cenderung terlihat kurang menyimak dan buru-buru. Yah nggak puas dong rasanya. Sayang uang yang sudah keluar untuk tarif ketemu dokter anak juga, kan?


2) Menghargai Pasien yang Talkative

Setelah beberapa kali coba-coba dokter, saya bisa menyimpulkan kalau ada 2 tipe dokter anak. Satu, yang suka dan malah ikut antusias jika bertemu ibu pasien yang banyak bicara dan detil saat menjelaskan kondisi anaknya dan banyak bertanya. Dua, yang malah merasa annoyed mendapati ibu pasien yang talkative. Saya jelas suka tipe dokter anak yang pertama.

Lha kalau saya banyak omong tapi dokter anaknya malah keliatan annoyed, gimana saya bisa menjelaskan, dong? Padahal kadang kan kita perlu menjelaskan dengan rinci. Misalnya anak demam, kita perlu menjelaskan berapa derajat celcius, mulai demam sejak kapan, malas makan atau minum enggak karena demamnya, frekuensi buang air nya gimana setelah demam, dan lain-lain.

Baca: Membuat Buku Kesehatan Anak


3) Jarak Terjangkau

Walaupun faktor yang paling saya perhatikan dalam memilih dokter anak adalah gaya dokter anaknya, tapi saya juga tetap mempertimbangkan jarak rumah sakit/klinik tempat si dokter praktik dari rumah saya. Terjangkau nggak (untuk hitungan jarak saya)? Terlalu jauh nggak? Kalau sekiranya nanti terlalu jauh, kira-kira ada transport untuk ke sana nggak?

Tapi, puji syukur sih, selama ini dokter anak yang saya rasa klop, lokasi praktiknya terjangkau semua dari rumah saya. Kalau memang ada rumah sakit/klinik tempat beliau praktik yang saya rasa terlalu jauh, biasanya saya tanya opsi tempat praktik beliau yang lain.


4) Nggak Keberatan Dihubungi Via Chat (WhatsApp/BBM)

Ya, benar, saat kita perlu memeriksakan kondisi anak kita, memang kita dianjurkan untuk membawa anak kita ke dokter anak supaya dokter bisa melihat kondisinya langsung. Itu saya setuju banget. Maksud saya di sini lebih ke chat kalau ada yang saya rasa perlu ditanyakan di luar jam praktik sang dokter.

Baca: What's New From MedicTrust

Seperti misalnya dulu pernah Baby Aiden tampak kuning saat berumur beberapa hari. Kuning saja sih, nggak lemas dan nggak yang jadi malas nenen. Kadang-kadang tuh saya yang gampang parno. Makanya saya fotokan dulu penampakan Baby Aiden lalu kirimkan lewat WhatsApp ke dokter anak Baby Aiden untuk menanyakan apakah dengan seperti ini saya harus segera membawanya ke dokter anak (atau ke IGD bila memang dirasa urgent).

Jadi, kalau buat saya, dokter anak yang mau meluangkan waktu untuk membaca dan membalas pesang/pertanyaan kita (walau singkat padat jelas), jadi faktor pertimbangan juga.


5) Open Minded

Open minded di sini saya artikan sebagai si dokter nggak selalu merasa benar mentang-mentang dia yang dokter. Contohnya gini, ada beberapa dokter anak yang masih menganjurkan kita menelanjangi bayi/anak (atau hanya pakai pampers saja) saat kita menjemurnya di bawah sinar matahari pagi. Padahal, aturan terbaru IDAI jelas menyatakan bahwa itu sudah kuno banget. Aturan yang baru adalah kita tetap memakaikan baju pada bayi/anak saat kita menjemurnya.

Saat saya dianjurkan menelanjangi, otomatis saya bilang kalau aturan itu sudah nggak berlaku sambil saya tunjukkan sekalian literatur yang mendukung. Dokter yang open minded akan menerima dan mau diajak berdialog. Bukannya malah marah karena dikoreksi dan merasa pasien yang salah.

Ingat, pasien juga harus smart yah ;)


6) Nggak Tua-Tua Amat

Biasanya saya prefer dokter anak yang nggak tua-tua amat. Kenapa? Karena dokter yang belum tua-tua banget biasanya akan lebih komunikatif, informatif, dan open minded. Biasanya mereka juga lebih mudah dihubungi lewat chat karena nggak gaptek. Kaitannya dengan poin-poin yang saya jelaskan sebelumnya.

Untuk dokter spesialis anak, banyak kok yang belum tua-tua amat. Beda kalau dokter spesialis anak yang ada subspesialisnya lagi, misalnya subspesialis syaraf anak atau jantung anak. Nah, kalau dokter anak yang subspesialis, biasanya yang mumpuni memang yang sudah berumur. Based on my own experience. Hehehe.


7) Tarif Jasa Dokter

Siapa pun pasti lebih memilih yang lebih murah ya kalau memang ada pilihan, ya kan? Saya pun juga begitu. Misal saya sudah cocok dengan dokter anak X, biasanya saya juga lihat-lihat di tempat praktik mana si dokter X ini praktik yang fee dokternya lebih ramah di kantong saya. Kan lumayan kalau bisa ngirit sedikit. Hehehe.


8) Nggak Hobi Meresepkan Antibiotik

Kalau suka menyimak seminar parenting atau kesehatan, pasti tau ya ada anjuran untuk jangan gampang memberikan antibiotik pada anak. Nah, jadi saya suka dokter anak yang nggak gampang keluar resep atau instruksi untuk beli antibiotik. Misal anak 'hanya' demam ringan, saya lebih suka dokter anak yang menyarankan saya untuk kompres dulu dan memberi paracetamol dulu alih-alih langsung kasih antibiotik.


9) Ada Tempat Menunggu Yang Nyaman

Kadang dokter yang ingin temui antriannya banyak karena termasuk dokter anak yang recommended. Saya sebetulnya nggak masalah kalau memang harus antre. Tapi, cukup penting juga menurut saya, rumah sakit/klinik tempat praktik dokter anak tersebut punya tempat menunggu yang nyaman.

Pernah saya ke dokter yang antrean nya mengular, lhah tapi kursi untuk menunggu nya duikit buanget. Jadi banyak pasien yang harus berdiri, mana kliniknya sempit pula dan parkiran juga agak jauh. Akhirnya banyak deh yang berdiri entah berapa lama.

So, for me, tempat menunggu antrean yang nyaman jadi faktor pertimbangan juga, meskipun nggak urgent-urgent amat. Syukur-syukur di rumah sakit disediakan mini  playground. Asik deh. Kalau klinik sih kayaknya jarang banget yang ada mini playground nya (I'm talking about klinik di Jogja). Kalau di kota besar seperti Jakarta, mungkin ada juga.


***

I guess that's pretty much all about tips memilih dokter anak berdasarkan pengalaman saya. Ada juga orangtua yang menambahkan dengan poin antrian nya nggak lama. But, kembali lagi sih ke kenyamanan keluarga masing-masing.

Kira-kira ada tips apa lagi dalam memilih dokter anak yang pas? Ada yang mau menambah atau ikut sharing? Yuk yuk yuk...

^___^



Love,




12 comments:

  1. Replies
    1. Sama-sama, Mak Tetty. Semoga bermanfaat ^^

      Delete
  2. Alhamdulillah sih, Junjun cocok sama dsa langganan keluarga, dulu itu dsa nya adek aku, kalau sakit adik aku sembuhnya kalau udah ke dsa itu... hehehe

    ReplyDelete
  3. ampe skr aku masih setia ama dokter anak yg dulu merawat anakku yg pertama pas lahiran.. saking senengnya ama dia, pas lahiran kedua, aku minta request dokter anaknya harus dia lagi pas lahiran.. ampe bikin surat requestnya tuh krn sbnrnya pas aku lahiran cesar kedua yg menjadi dokter anak bukan dokter yg aku mau itu.. seneng ama dia mungkin krn tiap anakku sakit, semua obat2nya cocok, dan rasa puyernya ga pahit, jd anakku ga susah minum.. pernah sekali coba k dokter anak lain, wiiih, dilepeh2 obatnya krn pahit bgt ;p

    trs mungkin krn sama suku juga mbak, hahaha, jd kdg kita ngomongin kampung halaman ;p ..yg paling penting dia kliatan sayang ama anak2...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo sama suku nya memang jadi nyambung ya, Mba. Jadi punya topik buat ngobrol ringan dan becanda-canda :D

      Delete
  4. Duh dokter anakku tua syekalihhh jadi ga komunikatif.
    ngomongnya pun daku suka ga paham.
    abis emang niat imunisasi doang ke sana. mudah2an tumbang nya kece :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, entah kenapa dokter yg agak tua kok agak pendiam ya >.<

      Delete
  5. Iyaaahhh...kadang klo dokter yang annoyed kalau kita cerewet itu bikin ilfil yaaa hihihi, apalagi buru buru. Baru dipegang langsung bilang, ini gapapa...hadehhhh. Dulu kalo kami nggak ngeyel, Aisha juga dibilang gapapa gapapa aja kali ya #ehh #curcol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ih iya ih, kesel banget kalo gitu. Kita datang bawa keluhan untuk dapat solusi dan saran malah dibilang nggak papa nggak papa. Kan jadi bingung.. Hiks.

      Delete
  6. Halo mba salam kenal.
    Selama ini saya silent reader dan kagum banget sama mba.
    Boleh tahu gak kalau Aiden daa nya siapa di Jogja. Selama ini saya ke dsa di Happyland dan dsa bawaan lahiran di sardjito. Tapi lebih sering ke dsa yang bawaan lahiran karena selain muda komunikatif juga ga asal kasih resep. Kalo praktek di rumhnya jauh lebih murah malah. Masalahnya kadang pas mau imunisasi ps sayaga bisa datengin karena beberapa hal. Nah ini masih nyari dsa lagi sih yang kriterianya seperti yang mba Grace tulis. Makasih ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo mba Thiti Fitria. Salam kenal juga ya. Makasih sudah mampir-mampir blog Mami Ubii. Sebenernya dokter anak Aiden dari awal (plus dokter anak Kakak Ubii juga) adalah dr. Ade Febrina Lestari, Sp.A praktik di RS UGM dan RSIA Sadewa. Tapi, sama. Kadang aku juga nggak bisa bawa anak-anak ke beliau. Plus, sekarang kami pilih ke dsa di rs yang sudah kerja sama dg asuransinya kantor Adit. Jadi sekarang kami ke JIH. Kalau di JIH, kami ke dr. Nurlaili, mba :)

      Delete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...