Wednesday, May 25, 2016

First Time Experience: Membawa Ubii Keluar Rumah dengan Kursi Roda

Beberapa hari yang lalu, Kakak Ubii, anak gadis saya berulang tahun yang ke-4. Banyak ucapan, harapan, dan doa yang disampaikan untuk Kakak Ubii, which I am really really thankful for. Terima kasih banyak semuanya.. Walau saya memang tidak sempat membalas semua ucapan (terutama di komen Facebook) satu-per-satu, tapi sungguh, saya sangat bersyukur atas doa-doa dari teman-teman. 

Saya nggak mengharapkan kado. Buat saya, yang terpenting adalah doa untuk Kakak Ubii, mengingat kebutuhan khususnya saat ini yang masih kami perjuangkan. Doa-doa yang disematkan oleh teman-teman adalah penyemangat dan harapan baru untuk kami sekeluarga. Tapi, ternyata beberapa teman saya dari Rumah Ramah Rubella kompakan memberikan hadiah untuk Kakak Ubii.


Hadiahnya adalah... KURSI RODA!

Dulu, kira-kira bulan Januari, saya memang pernah curhat pada salah seorang sahabat saya. Sahabat saya ini juga memiliki anak berkebutuhan khusus seperti Kakak Ubii. Sebut saja, Mama Arrya. Arrya ini sudah berumur 7 tahun dan memakai kursi roda. Kami bertemu dan banyak ngobrol di sekolah khusus anak cerebral palsy di Jogja saat saya mengikutkan Kakak Ubii untuk assessment.

Saat itu Kakak Ubii duduk di stroller. Sebelum kami berpisah, kami foto-foto dulu dan menjejerkan Kakak Ubii dan Arrya. Di situ saya perhatikan posisi Arrya saat duduk di kursi roda jadi bisa duduk tegak. Sementara Kakak Ubii yang duduk di stroller, posisinya melorot dan nggak bisa tegak karena Kakak Ubii juga malas meneggakkan tubuhnya. 

Arrya dan Mama. Keliatan banget kan Kakak Ubii yang duduknya melorot ogah tegak

Posisi ini memang jadi concern saya karena menurut terapis, Kakak Ubii jadi punya postur tubuh yang kurang baik sekarang. Postur tubuh Kakak Ubii sekarang cenderung bungkuk karena terlalu sering duduk dengan posisi W-sitting.

Di mana pun, kapan pun: duduknya ogah tegak dengan stroller

Nah, makanya saya nyeletuk ke Mama Arrya, "Kayaknya Ubii perlu kursi roda ya ini supaya bisa belajar duduk tegak saat aku bawa bepergian ke mana-mana."

Tapi celetukan itu nggak saya follow up lebih jauh. Walaupun saya sudah menerima keadaan Kakak Ubii dengan lapang hati, tetap saja membayangkan Kakak Ubii duduk di kursi roda bukan bayangan yang indah..

Beberapa kali saat saya mengajak Kakak Ubii ke tempat umum seperti rumah sakit, mall, tempat makan, dan lain-lain, orang-orang memperhatikan alat bantu dengar Kakak Ubii dengan tatapan kurang menyenangkan. Kadang ada yang jadi suka nanya-nanya dan kasih komentar yang nggak enak didengar. Jadi saya pikir, "Ubii 'cuma' pakai alat bantu dengar yang sebetulnya nggak kentara-kentara amat aja diliatin kayak gitu, apa kabar kalau aku bawa dia ke mana-mana dengan kursi roda? Makin diliatin pasti. Hufft."

Saya bukan ibu yang selalu kuat 24/7. Ada kalanya juga saya kecil hati dan merasa kecut. Ada kalanya saya kurang punya nyali karena membayangkan hal-hal yang jelek-jelek dulu. Jadi wacana ingin belikan Kakak Ubii kursi roda pun menguap, apalagi saya belum pernah mengutarakan niat ini pada para Eyang. Kan gimana pun juga, keluarga besar juga butuh adaptasi nantinya, kan?

Back to Kakak Ubii's getting older last week. Kami mengadakan syukuran sederhana yang berisi tiup lilin dan doa bersama di tempat terapi Kakak Ubii. Lalu teman-teman saya (yang anak-anaknya juga difabel) terlihat menurunkan kado segede gaban dari mobil. Di situ saya membatin, "Apa tuh gede amat?" Malahan saya kira isinya TV plasma soalnya bentuknya persegi panjang gitu. Hahaha.

Kirain ini tipi *___*

Hari itu saya nggak langsung membuka kado dari mereka. Saya memang punya kebiasaan menyimpan kado-kado yang saya atau anak-anak dapat untuk dibuka di hari selanjutnya atau malah lusa. Alasannya, karena sayang merobek kertas kado nya. Hahahaha. Apalagi kado untuk Kakak Ubii kemarin kertas kado nya gambar Hello Kitty. Makin nggak tega lah saya merobeknya. Pun hari itu, selepas syukuran di tempat terapi, saya dan Adit langsung ke rumah sakit untuk memeriksakan Adik Aiden yang terkena flu Singapore. Jadi saya makin nggak pegang-pegang kadonya lagi hari itu.

Baru besoknya saya buka dan kaget banget liat isinya kursi roda.

Campur aduk deh perasaan saya, antara terharu, bahagia, girang, pengen mewek, tapi juga jadi mempertanyakan kesiapan hati saya sendiri.

Ini pertama kali Kakak Ubii coba duduk di kursi rodanya di rumah.

First trial

Setelah punya kursi roda, saya jadi sering mendudukkan Kakak Ubii di situ. Saya menyuapi Kakak Ubii di kursi roda juga. 

Sudah mulai capek kayaknya

Wah, enak banget. Betul harapan saya, Kakak Ubii jadi bisa duduk tegak dan jadi lebih terdorong untuk menegakkan badan. Kalau dia sudah capek, duduknya akan melorot lagi. Jadi saya turunkan kalau memang Kakak Ubii sudah terlihat capek.

Hari ini (Rabu, 25 Mei 2016), Kakak Ubii ada jadwal fisioterapi di rumah sakit. Sebelum berangkat saya mikir-mikir, mau pakai stroller atau kursi roda yah. Akhirnya saya pilih pakai kursi roda. Bismillah berkali-kali saat di mobil. Saya harus latihan berani. Gesi pasti bisa! Bismillah!

Daaann, eng ing eng, tebakan saya beneran terjadi. Kakak Ubii jadi makin diliatin.

Saat saya menurunkan kursi roda di lobby, orang-orang yang sedang menunggu jemputan langsung kompak memperhatikan. Ada pula yang saya tangkap jadi bisik-bisik. 

Lanjut jalan ke meja pendaftaran untuk ambil nomor dan ke lift (karena ruang terapi ada di lantai paling bawah). Begitu kami mendekat, orang-orang jadi ngeliatin. Di lift, ada yang ngeliatin dari atas sampai bawah. Anak-anak yang di lift juga ikutan orangtua nya memperhatikan Kakak Ubii.

Entah kenapa, hari ini saya merasa in a very very good mood. Saya sama sekali nggak merasa tersinggung, apalagi marah. Malahan saya tebarkan senyum berlian ala Close Up ke orang-orang yang memperhatikan Kakak Ubii dan sekalian saya sapa walau nggak kenal. Ternyata mereka jadi ikutan senyum ramah begitu saya senyumin. Mereka jadi berani bertanya langsung tentang Kakak Ubii, kenapa pakai kursi roda, sakit apa, umurnya berapa, dan lain-lain. Mungkin mereka juga jadi seneng kali ya bisa punya kesempatan nanya langsung daripada cuma membatin kepo. Hehehe.

Lesson learned: Ternyata kadang-kadang kenyataan tidak semenakutkan bayangan kita. Kadang-kadang, kita sendiri lah yang creating our own fear. So, just do it nggak usah bayang-bayangin yang macam-macam dan parno sendiri duluan. Catat itu baik-baik, Gesi!!!

Lucunya, saya malah lebih senang membawa Kakak Ubii ke rumah sakit dengan kursi roda. Ini hal-hal yang bikin saya hepi:
  1. Mendorong Kakak Ubii jadi lebih enak. Kursi rodanya enteng banget. Kalau pakai stroller, malahan kadang saya kewalahan karena stroller Kakak Ubii berat.
  2. Orang-orang jadi lebih mendahulukan kami saat mau masuk dan keluar lift. Aseeeekkkkkkkkkkk. Hahaha.
  3. Orang-orang dan mobil-mobil di belakang kami jadi lebih sabar saat saya menurunkan kursi roda, menurunkan Kakak Ubii dari car seat, dan mendudukkan Kakak Ubii di kursi roda. Dulu, kalau saya pakai stroller biasa, saat saya menurunkan stroller dulu, mereka pasti ada aja yang klakson-klakson nggak sabaran. Kan biasanya kami turun di lobi dulu baru mobilnya menuju tempat parkir. Nah, kalau sedang menurunkan muatan gitu, otomatis kan mobil belakang-belakang yang juga mau ngedrop pasien jadi harus antre. Dulu saya rasanya jadi kemrungsung dan keburu-buru karena ada yang klakson. Sekarang saya lemah gemulai bak putri kraton menurunkan Kakak Ubii dan kursi rodanya pun, mobil belakang pada sabar. Hahaha.
  4. Kakak Ubii pun juga keliatan sumringah tuh, sama sekali nggak rewel. Yeay!


Ini baru pengalaman bawa Kakak Ubii dengan kursi roda ke rumah sakit. Next time, saya coba ah bawa Kakak Ubii pakai kursi roda ke tempat makan atau ke mall. Latihan berani lagi and let's see what will happen. Huehehehehe.

Sekian dulu cerita tentang pengalaman baru kami ini.

Pernah kah kalian lihat anak didorong dengan kursi roda di tempat umum? Jangan diliatin gimana-gimana loh ya. Kalau kepo, curi-curi pandang aja, do NOT stare. Hahaha.




Love,







17 comments:

  1. Kursi rodanya keren.. Kak Ubii juga terlihat keren.. Happy.. Sumringah senyumnya.. \(^__^)/

    Saya juga masih bingung cari tempat duduk sehari-hari buat Alma.
    Bulan depan 2 tahun, selama ini duduk di bouncer.. Tp posisinya emang nyandar.. Duduk sendiri di lantai juga belum bisa.. Mau cari high chair tp yang gimana yaaaa..?
    Galau emaknya.. :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yg kayak punya Baby Aiden aja Mbak, kayaknya lumayan membantu posisi tegak. Beli di Informa. Atau bisa juga coba Bumbo Chair :)

      Delete
  2. Mak Gesi ini memang mami yang tangguh! Hihi. Setuju banget Mak, kadang kitanya aja yang suka mikir kalo orang tuh mikir jelek tantang kita, padahal sebenernya kita aja yang parno ya.. Hehehee. Ubi cantik banget sih senyumnya diatas kursi rodaaa *kiss jauh* Semangat terus ya mak Gesss, aku padamuuu <3

    ReplyDelete
  3. Mami Gesi..Terharu banget baca cerita tentang kakak Ubi yg selalu ceria.Semangat mama Gesi yg selalu optimistic dan sabar.We all learn a lot from you..

    ReplyDelete
  4. aaak kaka ubi senyumnya sumringah banget. selamat jalan2 pake kursi roda kaka ubiiii

    ReplyDelete
  5. Ubii sama Mami Gesi kereeeeeen! Kompak bener deh. Semoga Ubii makin pesat perkembangannya yaaa. Ciyooomm ciyooomm ah :*

    ReplyDelete
  6. Sumringah semua, Ubii dan Maminya seneng banget :) Alhamdulillah

    ReplyDelete
  7. Ubii makin banyak senyumnya yaaa, sukaa..
    Moga2 pas ubii lagi main ke mall kita bisa ketemu, gak bakal aku liatin deh mak.. Tapi langsung kuserbu hahaaa

    ReplyDelete
  8. Ubiii duh tambah ayuuu .. Itu kursi rodanya motifnya gaul abis. Semoga makin semangat mumumu :*

    ReplyDelete
  9. selamat ulang tahun kaka ubi,,
    keep shining sayang,,,,
    semoga yang terbaik selalu menyertai kaka ubi,,

    aku pernah tu mbak ngalamin diliatin orang waktu bawa kursi roda,,
    jadi papaku kan sakit, susah kalau jalan,,nah kita pakai kursi roda,,
    di keramaian,,orang suka ngeliat dengan sudut matanya,,
    gak enak aja diliatin nya,,tapi ya sudah lah,,

    plusnya adalah,,jadi banyak yang bantuin, buat naik lift,
    sabar kalau kita nurunin kursi roda lama dari mobil,,
    orang-orang lebih berempati kalau kita lelet,,

    ReplyDelete
  10. ah iya mak, posisi duduknya lebih tegak.., iya diberaniin terus ya
    aku pernah di rumah sakit dodorong kursi roda aja rasa2 semua orang ngeliatin, tapi cuek ajalah, lagi nggak kuat jalan ini

    btw, lagian keliatannya strollernya udah kecil

    selamat ulang tahun kakak Ubii

    ReplyDelete
  11. Ini kursi rodanya bagus juga, Grace. Oh ya, ada keterangannya nggak, batas berat badan orang yang boleh duduk di kursi roda ini?

    ReplyDelete
  12. Hanya dengan melihat saja membuat orang lain tidak nyama... harus jaga pandangan... #pelajaran yang ku dapat dari blog ini... maaksih mbak

    ReplyDelete
  13. Duuuh mbak, senyum ubii di foto terakhir, maniiiiis banget :) . Tetap kuat dan sabar ya mbak , yakin deh mba Gesi pasti bisa :) . tutup mata tutup telinga aja ama org2 yg melihat dgn tatapan sinis, mereka bukan org2 pilihan ;)

    ReplyDelete
  14. Kakak Ubi happy banget dengan kursi roda barunya. Jadi senang ngeliatnya. Semangat terus, Kakak Ubi, untuk fisioterapinya :)

    ReplyDelete
  15. Hai kaka ubi.. little princess.. may happines will always be with you.. Semoga cepat sembuh.. biar bisa lari2an sm dd aiden.. selalu inget.. Ketika kaka ubi jatuh tuhan akan selalu ada utk membantu kaka ubi berdiri.. smooch smooch.. happy birtdaay

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...