Saturday, February 18, 2017

Ibu Boleh Mengeluh Kok


Ibu Boleh Mengeluh Kok. Belakangan ini timeline Facebook saya lumayan ramai ngeshare sebuah gambar kartun ibu yang multitasking dengan narasi yang membuat emosi campur aduk. Emosi nya macam-macam banget. Ada yang sepertinya maklum "ya inilah namanya jadi ibu." Ada yang kayaknya kasihan "huhuhu segitu nelangsanya." Dan ada juga yang kayak jengkel "ih suaminya emang cuman bisa nyalahin doang apa?"


Iseng bin kepo, saya klik postingan aslinya. Amazing! Puluhan ribu shares dan ribuan comments. Selo banget deh kayaknya saya, sampai saya buka-buka juga komentarnya. Penasaran pada komen apa sih. Mostly sih hanya bilang, "Amin" untuk mengamini kalimat terakhir yang berbunyi, "Semoga lelahku menjadi berkah menjemput surga yang dinantikan." Ibu itu boleh mengeluh nggak sih?


Untuk #GesiWindiTalk yang harusnya tayang Rabu kemarin ini, saya dan Windi Teguh ngomenin postingan viral tersebut. Briefnya, terserah mau ngomenin apanya. Hahaha. Baca juga versi Windi Teguh. 


Anyway, udah lihat postingan yang viral itu belum? Saya tempel yah, supaya nyambung sama apa yang mau saya bahas.



Saya juga ikut mengamini doa di penghujung narasi itu. Tapi, ada segelintir komentar yang lumayan bikin jidat lebar saya sukses berkerut. Semacam ini:

"Kalau dijalani dengan ikhlas, pasti nggak terasa berat kok."
"Emang itulah kodrat perempuan yang sudah jadi ibu."
"Jangan ngeluh, nanti pahala nya berkurang."

Kata-kata nya maybe nggak persis kayak gitu ya, tapi intinya kurang lebih seperti ituh.

Yang terlintas di pikiran saya adalah ...

Wtf masa perempuan yang udah jadi ibu nggak boleh ngeluh. Atau, masa ikhlas itu berarti nggak boleh mengeluh like AT ALL?


Itu di pikiran saya. 

Sekali lagi, saya. 

Jadi, monggo banget kalau punya opini yang lain, ya. Peace out!

Manusia itu punya limit. Batas kesabaran, kekuatan, kewarasan, kedamaian hati, dan lain-lain. Ketika limit itu sudah terlewati, pasti perasaan jadi negatif. Entah sedih, kecewa, marah, gondok, kesel, etc. Kalau sudah punya perasaan negatif, hal yang kemudian default dilakukan apa? Ya mengeluh.

Mengeluh sebenernya ada banyak versi, kalau buat saya.

Kalau diucapkan sama udara atau sama diri sendiri > ngedumel.
Kalau diomongin ke suami > ngomel / mengeluarkan unek-unek.
Kalau disalurkan ke sahabat > curhat.
Kalau disampaikan Ke Gusti > berdoa.
Kalau ditulis di media sosial > mengeluarkan unek-unek / cari teman senasib / ingin menguatkan orang lain yang baca / nyindir halus supaya si oknum merasa.

Tapi, kalau 'bahan' nya adalah misal,

"Huhuhu aku capek banget. Anak-anakku rewel semua hari ini. Pada susah disuapin. Rumah nggak beres-beres. Mana ujan terus, jadi jemuran nggak ada yang kering. Suami nggak bantuin apa-apa pula"

... ya itu namanya mengeluh sami mawon.
...
...
...

Esensinya sama aja, cuman beda ke siapa kita ngomong dan gimana nada bicara kita saat mengucap.

Buat saya, masuk akal banget kalau mengeluh. Ingat, kita manusia biasa yang bisa capek dan meledak. 

Ketika kita capek lahir batin, kita pasti merasa butuh output untuk menyalurkan keletihan kita. Output tiap orang bisa macem-macem banget. Kalau saya dengan ngeblog, makan mie rebus lombok rawit (karena kalo kepedesen dan keringetan, rasanya capeknya ikut ilang LOL), nonton film di lappy, atau kalau pas memungkinkan, pergi sendirian tanpa anak-anak.

Baca: Me Time Ibu-Ibu Ala Saya

Ada juga yang output nya dengan nonton serial Korea, mantengin akun gosip (ini saya juga deng), window shopping di lapak online, tidur, etc.

Tapi, kalau sampai kita nggak punya waktu dan kesempatan sama sekali bahkan sekedar untuk menikmati mie rebus pedes dengan asap yang masih ngepul atau tidur nyenyak, output yang paling doable apa? Ya mengeluh.

Kalau mengeluh aja nggak boleh, terus apa dong output keletihan kita? Apa hal yang bisa kita lakukan untuk menchannel perasaan negatif kita? Apa coba? Please tell me right now.

Makan tanpa anak-anak ngerusuhin, nggak bisa. Tidur nyenyak, tak mungkin. Nonton serial atau nyalon bentaran, apalagi. Eh, ngeluh masih nggak boleh. Aduh, saya sedih. Kalau manusia nggak punya output untuk mengeluarkan keletihan, gimana bisa waras dan bahagia? 

Saya selalu bilang kalau saya ikhlas punya Ubii yang berkebutuhan khusus, because I am! Tapi bukan berarti saya nggak pernah mengeluh saat Ubii begitu challenging. Ubii rewel banget sampai harus digendong lama dan pinggang saya sakit, saya WhatsApp Adit dan bilang, "Pi, capek banget hari ini Ubii rewel. Besok kalo kamu pulang pijetin ya." Saat Ubii tidur nggak nyenyak, dikit-dikit bangun sambil nangis sampai Aiden ikut kebangun sehingga saya harus menjinakkan dua bocah, subuh-subuh saya chat Adit, "Aku capek, anak-anak rewel semua, aku pusing dikit-dikit bangun. Argh, coba kamu ada di sini. Besok weekend gantian kamu yang bangun ya kalo pada rewel." Blablabla.

Saya ngeluh begitu tapi ya abis itu udah, kelar. Bukan berarti nggak sayang Ubii dan Aiden. Kalau dibilang nggak ikhlas gendong Ubii lama sampai pinggang sakit, ya gimana ya. Pinggang sakit kan mengganggu dan nggak nyaman banget. Mau ngapa-ngapain rasanya jadi kaku kan nggak enak. Masa nggak boleh dikeluhin?

Adit pun juga nggak masalah baca chat keluhan saya yang kayak gitu. Biasanya dia bilang, "I'm so sorry to know that" lalu dikasih emoji sad face. Jawaban nya default banget. Itu lagi itu lagi. Tapi itu cukup. At least saya tahu, Adit menganggap saya manusia doang yang emang lumrah banget kalau capek. And most importantly, Adit nggak menganggap saya payah atau apa karena mengeluh.

Baca: Ketika Aku Jadi Ibu Pengeluh

Kalau Adit sedang iseng, dia akan cari meme-meme kocak lalu dikirim ke saya biar saya ngaqaq terus happy lagi. Dan meme-meme selera kami tuh receh banget, sereceh ini. 


Tbh, baca postingan viral itu saya jadi kesel sama si suami. Kebacanya kayak suaminya cuman bisa menuntut dan menyalahkan tanpa pernah turun tangan untuk bantuin. Well, hello, your wife is only a human being! She's got feelings, she can be hurt kalau disalahin melulu. Dia bisa capek.

Buat saya, kejam banget suami-suami yang kayak begitu, sorry for saying this. Saya selalu percaya sama "It takes two to tango" dalam menjaga pernikahan. Nggak bisa cuman salah satu aja yang capek dan berusaha, sementara yang lainnya cuman nuntut ini itu inu anu. Nay.

My logic is quite simple.

Mau rumah bersih, makanan selalu tersedia dengan cita rasa sekelas rumah makan, kebutuhan anak-anak ada yang nyiapin, dan istri bisa tampil segar dan wangi all the time? Pekerjakan ART dan baby sitter serta sediakan budget khusus untuk istri supaya istri juga bisa punya waktu dan perlengkapan perang untuk merawat diri.

Nggak ada dana untuk sewa ART dan baby sitter? Ya bantu lah istri mengerjakan pekerjaan rumah dan mengasuh anak. Kerjain yang gampil-gampil aja deh kayak misal buang kresek sampah ke tong sampah depan biar besoknya diangkut truk sampah, cuci piring bekas makan sendiri, atau rebus air. Nggak mungkin banget kan buang sampah, cuci piring satu dua biji, dan rebus air aja nggak bisa. Tidak mau membantu melakukan itu? Oke fine. Tapi at least jangan nyalahin istri semua hal yang nggak beres is salah istri. What the heck, dude? Tangan cuman dua loh ini, bukan dua puluh.

Nggak ada ART dan baby sitter, semua hal yang nggak sesuai standard disalahkan ke istri, lalu masih protes kok istri dasteran terus dan nggak pernah look kinclong lagi? Kecuali punya wajah seganteng dan body semantapjiwa Joe Taslim, you'd better zip it.


Oke ralat. Kokoh Joe Taslim juga jangan jahat sama istri biarpun kamu ganteng dan macho ya, koh...

Husband, please, don't treat us, your wives like we're nothing. We deserve to be happy, too.

Untuk para gadis yang belum menikah, please talk about this later when you've already got any calon suami. Bicarakan pembagian tugas rumah tangga kalian akan seperti apa. Make a deal sejauh mana nanti peran suami dan istri dalam urusan rumah dan pengasuhan anak. Kalau dari awal kayaknya calon ogah banget bantu bahkan untuk hal remeh doang, think twice huhuhuhu karena pernikahan itu perjalanan panjang di mana kalian pasti penginnya bahagia.

Baca: When Being A Mother Is Not Enough

Adit mau turun tangan bantu beres-beres rumah sebelum kami mempekerjakan asisten rumah tangga dan dia juga mau ikut ngurus anak-anak, saya bersyukur. I said bersyukur, bukan bangga. Nggak bangga karena ya biasa aja. Itu bukan sesuatu yang extra ordinary gimana-gimana karena emang ini hanya saya butuh dibantu maka dia membantu.

Oke, dulu memang saya pernah bangga banget Adit mau terjun bantu beresin rumah. Tapi dulu alasan saya bangga lebih karena akhirnya Adit mau tergerak untuk mencoba, mengingat dulu sebelum nikah Adit itu nggak pernah susah. Apa-apa ada mbak dan nggak pernah kekurangan. Jadi ya dulu banget akhirnya Adit minta diajarin nyuci baju dan lain-lain, ya saya bangga karena oh finally dia menyadari bahwa dia harus menyesuaikan diri. Lalu ya sudah.

Adit juga nggak selalu mau kok. Untuk urusan menyuapi anak-anak, dia biasanya ogah karena dia nggak telaten nyuapin. Nyebokin abis pada pup, Adit hampir selalu menolak karena dia jijik sama pup. Jadi sebagai gantinya, dia akan, "Kamu aja ya, Mi. Nanti malem pijetnya aku lamain deh" atau "Ah kamu aja ya plis plis plis. Nanti aku yang minumin Ubii obat deh."

Buat saya itu tetep fair sih. Saya lagi yang kerjain, tapi Adit 'bayar' dengan melakukan hal lain karena pernikahan adalah tentang berkompromi.

Anyway, maaf ya, tulisan ini dari tadi lari ke mana-mana. But the point is, I stand with ibu itu boleh mengeluh dan suami/ayah jangan cuman bisa nyalahin apa-apa ke istri doang tanpa membantu.

Ibu mengeluh, yay or nay?

For me, it's a YAY

Kita boleh mengeluh karena kita manusia biasa.

Suami jangan bisanya hanya nyalahin. Istri berhak bahagia juga.



Love,






17 comments:

  1. emang ada loh Mi, suami yang bisanya nyalahin tanpa mau mengerti bahkan membantu sang isteri, aku sih bersyukur punya Wendi... hahah
    meskipun juga pernah sih nyalahin aku karena Juna makannya susah... tapi yah wajar dong...

    tapi status yang viral itu kok bikin aku KZL yah... suami kayak benar terus dech kesannya...

    ReplyDelete
  2. ngeluh sih boleh aja tp jgn sering kali ya, sumpek juga yg denger, haha. Aku berusaha untuk gak sering ngeluh ke suami sih soalnya takut kasian juga dengerin keluhan. Soalnya kadang aku juga bete dikeluhin sama orang, wakaka. Paling ya kalau bete minta peluk2 ajalah kan malah sama2 seneng LoL

    ReplyDelete
  3. Bersyukur suamiku orangnya ringan tangan mau bantu2 istri, entah itu mandiin anak, ngasuh anak, bersih-bersih bahkan jemurin dan melipat baju. Karena suamiku sudah terbiasa melakukan semua pekerjaan itu dari kecil jadi dia mau bantu2. Dari awal nikah aku dan suami memang sdh ngomongin ttg berbagi tugas rumah tangga, jadi semua pekerjaan RT ga dibebankan ke istri doang.

    ReplyDelete
  4. kadang kasian juga sama ibu2 yang komen di postingan viral itu yg nyuruh jangan ngeluh nanti pahala nya berkurang, atau bla..bla.. kayaknya suaminya pada ga pengertian banget ya, suami kejam huhu.. bersyukur aku sama suami mah udah sepemahanan masalah urusan rumah tangga begini, bener banget "It takes two to tango" dalam menjaga pernikahan.

    ReplyDelete
  5. Bersyukur suamiku dari jaman SMA udah tinggal sendiri jauh dari mertuaku. Jadi dia terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri. Akhirnya sekarang ini setelah ada anak, saya yang pegang anak, kerjaan rumah (selain masak) malah seringan suami yang kerjain.

    ReplyDelete
  6. Itu meme nya bikin ngakak Ges hahaha ampun dah kenapa bisa begitu Pak Sandi. Maap gagal fokuS.

    AKU kok kesel sama suami pemalas yg nggak mau bantu2 kerjaan rumah. Istri mengeluh ya wajarlah ya. Aku sih yes

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau aku mau menikah...tapi calon istri aku yg menolak ajakan untuk menikah..(maaf)soal hubungan intim

      Delete
  7. Saya kok salah fokus sama 82.3K shares nya ya? Hahaha
    Well,, nggak tau ah mau komen apa.

    ReplyDelete
  8. Iya boleh lah ngeluh atau curhat, kan emang harus disalurkan biar ga jadi jerawat

    ReplyDelete
  9. whoaaa paling ekstrim maksud hati ngeluh trus responnya "yaudah anaknya kasiin ke ibu (ibunya suami- mertua) aja, kmu sanah jalan2 bebas"

    ReplyDelete
  10. Tapi kupikir si ibu itu juga terlalu, yaaa. Udah sampe tahap begitu masak cuma diselesaikan dg share postingan terus pengin diaminin. Bukannya dikomunikasikan gitu. Duh, mami aku padahal udah yakin lho mau nikah, tapi kok jadi gamang lagi.

    ReplyDelete
  11. Adakalanya aku juga ngeluh mbk, terutama kalau udah capek batin, pastii modusin papa duo Ai biar diajak jalan2 hahaha

    ReplyDelete
  12. Aku termasuk istri yang ngeluh capek saat urus anak2 tiap hari ke suami, lha kan enak curhat drpd dipendem jd bisul enakan dikeluarin. Tapi gak pernah mnengeluh soal rumah tangga/ anak2 di medsos jg sih :D

    ReplyDelete
  13. Langsung cium istri deh baca ini

    ReplyDelete
  14. Setuju! Ngeluh tuh manusiawi banget lah.. Ibu kan tetap manusia meski surga di telapak kakinya :P

    Koordinasi dengan suami juga penting sih, apalagi kalau suaminya kurang peka atau tipe-tipe konservatif lama yang semua urusan rumah tuh tugas istri..

    ReplyDelete
  15. Saya sepakat sama mak Gesi..ibu itu boleh kok ngeluh,tapi mungkin ngeluhnya di olah kali ya,jangan yang kedengeran kurang penting lantas di keluhin melulu tiap jam misalnya "haduh laper" atau ngeluhin sifat suami setiap hari karena gak mau bantu nyuci,atau gaji nya kurang terus..menurut saya keluhan kaya gitu jangan sampai deh di publish,kayanya gimana gitu..

    Tapi bener banget kalau ibu itu manusia juga,kalo kesusahan nya lama membaik,ngeluh lumayan bisa mengurangi sedikit..

    ReplyDelete
  16. aku baru tau loh ttg gambar viral ibu2 itu... dan abis baca captionnya, jujur aja ya ges, lgs sebel ;p.. sebel ama suaminya yg tega banget biarin istrinya begitu, yg selalu nyalahin si istri, tp sebel juga ama si istri yg kok mau2nya sih disalahin trus -__- . duuuuh, kalo aku bakal ngelawan kali.. enak aja semua disalahin ke kita.. ya kayak kata kamu, kitakan manusia, tanggung jawab anak ama rumah ya ditanggung berdua lah... untung aja suamiku ga tiran begtu ;p ..

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^