Monday, January 14, 2019

Diari Papi Ubii #34: How Do We Value The Valuables?

Tulisan Adit kali ini bahas tentang uang. Belajar menghargai uang, lebih tepatnya. Topik yang keluar dari kepala Adit sendiri, tanpa saya request. Seperti biasa sebelum dipublish, saya baca dulu kan sampai selesai.


Dua reaksi yang langsung datang adalah: 1) Anjir, nampar banget buat saya (dan Adit!), terus 2) Waw tumben Adit pakai celetukan-celetukan ngocol kekinian di tulisannya, seperti bukan Adit 😂 Oke, cus silakan dibaca yah.


Adit:
Money is not the only answer, but it makes a difference.
— Barack Obama
Karena satu dan lain hal, minggu ini saya nggak pulang Jogja. Jadilah saya menghabiskan weekend di Jakarta, main game PS judulnya Gravity Rush 2 sampe mata juling.

(Btw, Adit pernah bikin tulisan yang mempertanyakan apakah main game itu selalu unfaedah dan mutlak merupakan bad habit. Baca di sini ya: Diari Papi Ubii #2 ― Is Video Gaming Really That Dangerous?)

Hari Minggunya, Mama ngajakin makan siang bareng Papa. I don’t see why not. Makan gratislah, lumayan. Mama bilang, ini Papa mau ditraktir makan sama Om Adi (nama disamarkan). Om Adi ini bisa dibilang teman keluarga kami. Papa dan Om Adi sudah lama kenal. Mama juga lumayan deket dengan istrinya Om Adi. Saya dan Grace berteman dengan anaknya doi pun.

Long story short, kami pergi ke sebuah restoran buat ketemuan. Resto yang dipilih lumayan wah — lokasinya di menara pusat kota, di rooftop lantai 56, satu-satunya resto Jakpus yang menyajikan brutally delicious Black Angus Tomahawk steak yang seporsinya berharga satu juta rupiah lebih, sebelum pajak. Anyway, I’m not impressed. Karena ya memang Om Adi mampu. Saat novelnya Kevin Kwan nge-hype, begitu denger judulnya — Crazy Rich Asian, yang terlintas di pikiran saya ya sosok Om Adi ini.

Doi adalah pengusaha multibidang, tapi bisnis utamanya main di properti. Makannya itu, kalau saya Googling namanya, kebanyakan yang keluar adalah arsip pengadilan kasus sengketa tanah. Selebihnya nggak ada yang menarik. Ngga punya social media pun. Dari perawakannya, Om Adi kelihatan seperti orkay standar lah. Mobil yang sering dipake ya “cuma” Alphard. Sepatunya juga moccasin biasa tipikal om-om gitu. Namun begitu lihat jam yang dikenakan, pasti orang tahu lah ini orang lebih dari sekedar kaya — doi sering pake jam Richard Millie yang konon harganya lebih mahal dari mobil Lamborghini Urus, on the road. Tapi ya itu, yang menonjol cuma arlojinya saja. Selebihnya biasa banget.

Makanlah kami dengan lahap. Di sela makan, Om Adi sibuk bercerita habis ketemu si A, si B… habis makan malam sama si C here and there. Nama-nama yang disebut public figure semua. Nggak jarang pengunjung lain yang tahu Om Adi ada di situ, dateng ke meja kami sambil sungkem. Okay, saya rasa kalian sudah punya gambaran ya gimana tajirnya Om Adi.


Yang menarik, di sela-sela proses pembayaran, doi riweuh nanya ke waitress, “Mbak, promo kartu kredit yang diskonnya banyak pake apa? Bisa pakai poin kan, Mbak?” Saya heran. Lah ini orang dipikir-pikir kalo mau beli restonya sekalian juga bisa, kenapa mbayar aja kudu ribet nanya diskon dan point ya? Terus, begitu transaksi sudah settled, Om Adi ngelihat billnya dengan sangat cermat — sesekali nunjukin ke saya dan bilang, “Ini bener yang kamu pesen kan, Dit?” I replied with an awkward nod, and said to the waitress, “Beres, Mbak. Terima kasih.”

Pas jalan pulang, Papa bilang, “Dit, hebat ya orang sekaya Om Adi aja nggak malu lho nanya-nanya diskon. Aku nggak yakin orang kaya baru bakalan kayak gitu. Mereka itu rumangsa bisa bayar, ya udah, bayar. Nggak mikir dua kali. Kalau Om Adi lain, ya. Sekaya-kayanya dia, dia nggak mikir gengsi when it comes to money. Dia bener-bener menghargai uang.”

“Memang sih makan kita tadi habisnya ngga seberapa buat kantongnya Om Adi. Tapi tetep ya, dia cermat. Ya harus gitu, sih. Gimana kamu bisa tanggung jawab sama uang besar kalau menghargai uang kecil saja tidak bisa, kan?” Dad continues.

AKU LANGSUNG MAK JLEB, GAES!

(di sini mulai bukan seperti Adit yha 😂, ― Gesi)

Kata orang-orang pinter, ada beberapa tanda yang menyatakan kalau kamu itu tidak menghargai uang.

Yang pertama, tidak punya budget. Budget disini perhitungan penghasilan bulanan, cicilan, porsi investasi, dan perlindungan melalui asuransi. Jadi yhaa istilah koboinya “go with the flow” sama keuangan.

Yang kedua, tidak bisa menabung. Maksudnya bukan nabung 3-4 bulan buat beli tiket platinum konser Blackpink yha. Tapi menabung jangka panjang. Paling krusial ya buat hari-hari retirement besok, kita masih punya uang biar ngga ngerepotin sanak sodara.

Yang ketiga, ngutang. Sebenernya ngutang sih ngga masalah. Lha wong negara superpower macam Amerika aja utangnya bhuanyak gaes. Yang jadi masalah adalah, menggampangkan aktivitas hutangnya itu. “Ah si Anu kan gampang diutangin” atau “lah utangnya si Itu dibayar besok aja ngga papa” — this kind of “shell short” attitude will backfire at you someday.


Sa ae lu tutup panci.

Yang keempat, BOROS. Sebodo amat sebanyak apapun penghasilan yang kamu terima, kalo semisal uang yang kamu keluarin lebih gede dari penghasilan, ya artinya kamu adalah sobat misqueen. Memang, rempong banget sih buat lebih bijak dalam konsumsi. The appreciation of small pennies will be distracted by discount schemes and “beli satu dapet banyak” lol.


Yang kelima adalah tidak cermat dalam pemakaian uang — yang mana contoh baiknya sudah saya jabarkan pakai contoh Om Adi di atas.

Bagaimana dengan saya? Well, walaupun saya belum termasuk dalam kategori crazy spender yang peribahasanya “lebih besar pasak dari pada tiang”, tapi harus saya akui, saya (dan Grace ehem!) sangat amat impulsif dalam berbelanja.

Kami sangat mudah terpengaruh oleh potongan harga, dan sialnya ngga ada dari kami yang bertindak sebagai rem kalau sudah kebablasan. “Asal kamu bahagia” atau “sekali ini aja” atau “halah kan nggak tiap hari” udah jadi mantra kami untuk berboros ria. Hadeh~

Dengan malu, saya pun mengakui, saya belum bisa menghargai uang. Saya masih kepatok dengan prinsip: “Halah uang kan bisa dicari lagi, tapi kebahagian belum tentu bisa diraih besok-besok. Ayo beli! Beli! Konsumsi!” *lalu nyanyi lagu Barisan Nisan-nya Homicide.*

Jadi, pulang kantor itu biasanya saya paling males bayangin suasana apartemen yang sepi. Untuk menghindari itu, biasanya saya senang kalau ada temen yang ngajakin nongkrong di cafe/pub deket kantor. Awalnya janji ke diri sendiri cuma pesen bir segelas. Terus obrolan jadi seru, pesen makanan. Terus gelas kedua, ketiga, seterusnya — sampe ngga kerasa bill udah ratusan ribu. Terus sepanjang perjalanan pulang nyesel. Tapi terus besoknya diulangin lagi. Nggak kapok-kapok.

(Adit emang semellow itu sama kesendirian, terutama kalau lagi kangen saya dan anak-anak. Pernah dia tulis juga. Baca ya: Diari Papi Ubii #4 ― The Motherf*cker Called Distance)

Mumpung masih hangat bulan Januari, nih. Salah satu resolusi 2019 saya adalah: tidak boros dan bisa lebih menghargai uang.

Pujangga angkatan Balai Pustaka boleh bilang, uang bukan segalanya. Tapi ini 2019 gaes — hampir segalanya butuh uang. Memang sih para idealis bilang dengan konsep uang ini kan kita terjebak dengan “kebahagiaan semu.” Tapi ya mau gimana lagi, this is the system we are living in. Just suck it up.


Boleh sedih tapi tida mengapa.

Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Tapi at least dengan uang, kita bisa punya pilihan lebih untuk berbahagia. Thus, appreciate it.

Tabik!




Grace:

Jadi, mari jadikan lebih menghargai uang dan lebih bijak dalam memakai uang sebagai resolusi 2019! *ngomong depan kaca yang ukurannya jumbo biar mantapphh!*

Btw, jadi inget dulu saya pernah nulis tips menabung ala-ala haha. Baca di sini ya, tulisan lama sih: Tips Menabung Ibu Rumah Tangga Ala Gesi.

Ayo semangat kerja dan menabung. Ingat lagu anak-anak jaman dulu yang dinyanyiin sama Saskia dan Geovani.


Sungguh pesan yang sangat bhaiq. Dijadiin ringtone aja kali ya biar makin terpatri sama pesan moralnya, lol.

Have a nice Monday yah!




Luv,






8 comments:

  1. Setuju banget bun, kalau kita harus bisa menghargai uang :)

    ReplyDelete
  2. Mas Adit tumben nulisnya dikit ... Hahaha...tapi emang iya sih, kudu bisa menghargai yang sedikit, baru bisa tanggung jawab sama yang banyak.

    ReplyDelete
  3. Pas baca ini langsung ngitung ongkos ke kantor untuk sebulan. Ternyata habisnya bisa sampe limaratus ribu :')
    jadi pengen kekepin dompet biar ga jajan wkwk

    ReplyDelete
  4. Hah.... bagus nih tulisannya.. bagus bagus
    #merasaditampar ��

    ReplyDelete
  5. Wah masaaa, aku juga merasa mak jleb gaes. Walaupun sudah berusaha enggak boros, tapi kalau dalam hal makanan dan jajan masih susah sekali buat ditahan. Habis baca ini langsung mikir pindo buat boros hehe.

    ReplyDelete
  6. Wadaaaw jadi malu. Dulu saya duluan kerja dibanding teman-teman nongkrong. Biar kelihatan udah kerjanya nih saya mulu yang traktir. Eh kok udah bertahun-tahun kerja nggak bisa nabung? ternyata gara-gara sok ingin menunjukkan "gue udah bisa nyari duit nih" ke anak-anak malah berdampak buruk. Tobat.

    ReplyDelete
  7. Baca ini kujadi menatap hampa pada bon-bon jajan micin di Indomaret :'(

    ReplyDelete
  8. Hihihi.... I feel you Adittttt Gesiii.... Kalau pas LDM dulu, memang kayanya boros gapapa yang penting hepi, yang penting waras. Trus tabunganku entek.... Hihihi.... Tapi gapapa yang penting waras sik. #eh

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^