Friday, March 15, 2019

Anjing Berkepala Kucing


Pas SD di Salatiga dulu, saya punya temen namanya Alvina. Kami cukup deket, seinget saya sih. Lumayan sering nginep di rumah satu sama lain. Jajan di kantin bareng. Yah kedekatan anak SD lah, you can imagine. Satu memori tentang Alvina, dia punya kotak pensil Barbie yang bagus banget nget nget! 😆


Tapi postingan ini bukan tentang kotak pensil Barbie yang rupawan itu.

Ada satu celotehan khas Alvina yang saya inget banget. Bahkan melekat di kepala sampai sekarang. Dia sering nyeletuk,
Apa sih yang nggak mungkin?! Anjing berkepala kucing aja mungkin kok
Alvina bakal jawab begitu saat saya gumunan akan sesuatu. Suka nyeletuk ke dia, "Hah kok bisa, nggak mungkin lah!"

Kok berkesan dalem ya untuk pembicaraan anak SD hahaha. Tapi percayalah, aslinya topik keheranan saya cuman masalah remeh temeh belaka. Ya iyalah, emang anak SD mau bingungin apa coba ya kan.

Jadi kangen masa SD huhu. Ada satu post yang isinya hal-hal yang saya kangeeenn. Baca di sini: Sebagai Anak Generasi 90an, Kurindu Ini

Kembali ke Alvina.

Ocehan Alvina itu ternyata mujarab sebagai reminder untuk ngerem gumunan saya sampai dewasa. Tiap kali dalam hati terbersit, "Hah kok bisa sih? Gak mungkin lah" di kepala, saya akan kebayang sosok anjing yang kepalanya kepala kucing. Lucu-lucu-serem.

Setelah ada media sosial, rasanya bakat gumunan kita-kita ini makin terpancing keluar. Media sosial membuat kita menyematkan ekspektasi dan opini terhadap orang lain. Aneka sharing di dunia sosial membentuk standard kita tentang seperti apa orang, perempuan, istri, suami, pasangan, dan lain-lain yang baik.

Padahal definisi baik itu sendiri sangat luas dan tolak ukurnya banyak sekali.

👀 Ada pasangan yang memutuskan cerai: "Hah kok bisa sih, padahal di sosmed romantis terus lho!" Talk about Gisel dan Gading, lol. Baca tulisan saya tentang itu yaa: Tentang Perceraian Gisel Gading

👀 Ada temen berhijab, terus kita tahu ternyata dia merokok: "Hah serius, padahal pakai kerudung!"

👀  Ada bapak-bapak penuh tato yang ternyata family man: "Wow nggak nyangka, padahal tatoan kaya preman"

Yang barusan ini true story loh pengalaman Adit. Ceritanya saat itu Adit lagi ajak Aiden cuci mobil. Mereka nunggu di ruang tunggu, ada snack-snack yang dijual. Aiden pengin snack dan nanya dulu ke Adit boleh nggak beli. Sambil ngemil, ada yang jatuh ke lantai. Aiden pungutin dan buang ke tempat sampah sebelum Adit suruh.

Di situ pas ada bapak-bapak dengan tampilan agamis. Beliau ngomong ke Adit, "Wah jebule pinter men ngajari anak mas. Padahal sampeyan tatoan sak awak." Kata Adit, setelah Aiden buang sampah sendiri tanpa disuruh itu, tatapan si bapak yang tadinya sinis ngeliatin tato jadi ramah, lol. Mohon tydac ditiru, because staring is impolite huhu.

Pernah nulis kisah tato lain, baca di sini: Parents With Tattoos Can Be Great Parents Too

👀 Kalau ada yang memutuskan nikah muda: "Hih kok mau sih nikah umur segitu"

👀 Sampai usia pertengahan 30-an belum nikah: "Hih kok bisa umur segitu nggak nikah-nikah." Baca ini: Memang Kenapa Kalau Nggak Menikah?

👀 Next, ketika ada perempuan yang memutuskan jadi SAHM meanwhile kita tahu dia punya titel magister: "Kok bisa ya dia malah pengin nganggur, nggak sayang gelar"

👀 Vice versa, ada perempuan yang memutuskan jadi WM, diheranin lagi: "Astaga, kok bisa sih tega ninggalin anak ditaroh daycare, dititip nanny. Padahal gaji suaminya aja udah cukup"

Yang butuh pukpuk karena dijulidin nitip anak sama nanny, mari kemari: Ibu Yang Menitipkan Anak Pada Pengasuh. Yang galau iya nggak iya nggak masukin anak ke daycare, bisa baca yang ini: Suka Duka Menitipkan Anak Di Daycare

👀 Ada orangtua yang bela-belain nabung demi sekolah mahal: "Ih kok segitunya banget sih padahal sekolah nggak harus mahal"

👀 Terus kalau ada yang pilih sekolah dengan jarak sebagai pertimbangan utama: "Kok bisa cari sekolah anak nggak liat-liat programnya, cuma liat jarak"

Buat yang lagi cari sekolah dan butuh tips, baca ini yaa: Tips Memilih Sekolah + Printable School Survey Sheet

👀 Ada pasangan yang mencanangkan anak cuma mau satu saja: "Lho kok cuma pengin satu anak, padahal banyak anak banyak rejeki"

👀 Ada juga pasangan yang mau anak banyak: "Lho kok punya anak banyak-banyak"

👀 Anak SMA bisa ngerokok bebas di rumah: "Kok bisa ada orangtua bebasin anak ngerokok"

Semua kita heranin. Hidup. Manusia.

Sampai di level heran saja sebenernya masih nggak apa-apa, menurut saya. Gumun lantas bertanya-tanya dalam hati itu mekanisme natural ketika kita melihat sesuatu atau seseorang yang prinsipnya bersebrangan sama kita.

Tapi ketika gumun berkelanjutan menjadi judgment, nah itu.

Kita judge orang lain karena tidak ideal, tapi kita pakai kacamata ideal kita. Seperti kebenaran, keidealan itu nggak ada yang absolut. Idealnya saya dan kalian sangat bisa berbeda.

Mempertanyakan hidup orang lain dalam hati atau dibahas sama geng yang sama-sama bisa jaga mulut, oke. Tapi mempertanyakan ke yang bersangkutan? Too much. Bukan ranahnya kita. Or worse, berusaha mengubah keputusan orang lain sesuai pandangan kita yang hanya tahu permukaan saja.

"Jangan cerai dong. Tolong pikirkan lagi. Kasihan Gempi," misalnya. Lalu hestek #SaveGempi membabibuta di mana-mana termasuk di komenan channel MLI, hahaha kocak.

Dengan gumunan yang berlanjut ke judge, tanpa sadar kita jadi mengkotak-kotak kan orang lain. Lalu judge berlanjut ke memberi advice atau koreksi tanpa diminta, sadar nggak kita jadi annoying.

Dunia ini sangat luas, teramat luas. Dengan berbagai macam manusia di dalam nya. Manusia yang datang dari aneka latar belakang finansial, belief, pola bagaimana mereka diasuh, prinsip yang ditanamkan orangtua mereka, dan masih banyak lagi. Keberagaman itu terlalu kompleks untuk bisa kita rengkuh dan pahami satu demi satu.

Itu satu hal yang selalu saya ulang di kepala tiap ketemu orang yang prinsip hidup atau keputusannya beda dengan saya.

Saya masih gumunan, again it's kind of natural. Tapi saya harus bikin batasan, supaya gumunan nggak keterusan jadi ngejudge orang. Jadi inget salah satu wejangan Papa saya. Dulu beliau suka bilang, "Grace, jadi orang jangan gumunan" yang back then saya nggak begitu ngerti apa maksudnya. Now, I do.

Karena ya keberagaman manusia dalam dunia yang luas ini membuat segala sesuatunya menjadi mungkin.

Jadi, suatu saat kita gumun akan sesuatu dan bertanya-tanya, "Hah bagaimana mungkin ada orang begini, mana mungkin ada orang yang begitu, nggak mungkin lah!" ingat kata Alvina, temen SD saya itu.

"Apa sih yang nggak mungkin? Anjing berkepala kucing aja mungkin"

Dan saya nggak tahu kabar Alvina sekarang. Lost contact banget karena begitu dia lulus SD langsung pindah ke Semarang. How are you, Alvina?




Luv,





4 comments:

  1. Aduh, aku tuh termasuk yang sering BANGET bergumam kemudian tergoda untuk menjadi judge T_T

    Tapi dari situ aku pun sadar, dunia itu luas banget, nggak hanya di "bubble" ku sendiri. Terkadang kita ngerasa hidup tuh cuma di lingkup diri sendiri doang, lupa kalo manusia di dunia itu buanyak banget, jadi pilihan hidup pun buanyak.

    Wejangan sorenya ternyata cukup dalam, ya. Kukira ini postingan receh ((:

    ReplyDelete
  2. Suka bingung sih kl ada temen curhat soal hidupnya atau rumah tangganya terus ngegumam sendiri kan dalem hati, sampe nge judge juga kadang (dalem hati doang sih) tapi jadi bingung nge responnya gmn sementara dia ga minta saran, takutnya kl ngasih saran malah jadi annoying kaya mba geci bilang tadi :( any suggestion?

    ReplyDelete
  3. Aku nih tiap ada temen mulai tanda2 ngajakin gosip, ku cut dgn "yaudahlah kondisi orang kan beda2 kita nggak ngalamin sendiri kaya gimana"

    ReplyDelete
  4. Kalau aku biasanya kujadiin bahan sharing (halah bilang aja bahan gosip) ama suami. Haha ... eh tapi bukan gosip yang jelek sih mbak, soalnya emang beneran buat sharing dan diskusi biasanya nanti kita bakal ngalor ngidul ngobrolnya trs selalu ada kata oke berarti kita ambil positifnya ya ... jadi bisa buat koreksi ke diri sendiri, semacam self reminder gitu ... misal kalau dia aja bisa berarti kita juga harusnya bisa kan ��

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^