Friday, March 8, 2019

Masa Lalu Menantu


Belakangan ini infotainment dan akun-akun gosip di Instagram semua kompak bahas Syahreino. Se-overrated itu sampai bosen banget rasanya. Bahasan Syahreino juga menghiasi beberapa WA group yang saya join. Magnet betul.


Banyak juga yang DM saya di Instagram request saya bahas Syahreino di blog. Pada nanya saya masuk kubu siapa, team Syahrini atau Luna. Hahaha. Abstain aja bisa nggak? Lol.

Honestly saya nggak tertarik sih bahas Syahreino panjang lebar.  Saya malah lebih terpaku sama komen netizen yang macam ini,

"Kalau aku sih juga ga akan bolehin anak laki-laki ku nikah sama perempuan dengan track record kayak mba Bulan. Pernah kesandung kasus bokep gitu lho ihhhh."

Stuck di situ karena saya jadi berandai-andai sebagai ibu. Gimana yah kalau saya di posisi ibu dengan anak laki-laki yang pacarnya pernah terlibat penyebaran materi pornografi. Saya akan merestui untuk lanjut ke jenjang selanjutnya atau nggak. Asumsinya, ini kalau mereka memang ingin nikah.

Nggak cuman sampai di merestui atau nggak. Saya juga jadi mikir apa aja yang kira-kira saya perlu lakukan. Oke mungkin overthinking. Tapi buat saya, hal-hal kaya gini tuh perlu dibayangkan karena bisa aja kok kejadian. Bukan cuman public figure loh yang bisa punya masa lalu seperti itu.

Saya jadi ngobrol sama Adit. Dan kami, at least for now yah, berpikir bahwa kami tetap akan kasih restu dengan beberapa pertanyaan dan catatan.

1) Aiden seprinsip nggak sama si pacarnya ini? Sudah kah satu suara tentang pembagian peran dalam rumah tangga dan parenting (kalau emang mau punya anak)? Apakah fundamental values nya sejalan?

2) Minta mereka tes HIV dan tes kesehatan pra nikah lainnya. Asumsinya berarti sudah pernah pre-marital sex yang nggak hanya sama anak saya kan.

3) Sesiap apa mereka berdua sama omongan orang lain? Image pernah bikin bokep dan kesebar itu akan melekat terus sih untuk waktu yang sangat lama.

Ini kalau concern tentang pacar Aiden hanya karena pernah kena kasus pornografi yah. Tapi di luar masa lalu yang itu, saya kenal anaknya pribadi yang baik. Baik yang sesuai definisi baik keluarga kami loh. Dan yang penting dia nggak anti vaksin! #PENTING

Buat saya, nggak adil sekali menilai kelayakan seseorang murni hanya dari masa lalu mereka. Kayak yang masa lalu saya baik-baik aja, lol. Saya selalu mengimani bahwa hidup kita nggak didefinisikan oleh satu kesalahan di masa lalu. People can change to be the better version of themselves, people can learn. At least, I know I do. That's why I kinda have faith in those who had any wrongdoings in their past.

Orang-orang yang masa lalunya pernah buruk, entah itu related to porn atau apapun, berhak dikasih kesempatan untuk dipercaya lagi. Dipandang sebagai sosok manusia utuh tanpa embel-embel masa lalu.

Di samping itu, suatu saat nanti anak pasti memang akan punya pilihan sendiri, bukan? Saya nggak akan bisa kekepin Aiden selamanya dan mengharuskan Aiden untuk ikut kata saya terus. I will consider myself lucky kalau pilihan Aiden sesuai harapan dan comfort zone saya. Tapi kalau pun nggak? Ya itu saya perlu siap-siap juga.

Kalau didoain biar hidupnya baik-baik dan dijaga ya sudah pasti lah yaa. But no one can predict the future sih. Bahas beginian sama Adit sebenernya lumayan sering. Main what ifs.

What if Aiden coba-coba merokok sebelum 17 tahun
What if Aiden sudah mimpi basah
What if Aiden punya temen gay
What if Aiden himself is gay
What if this and that

Tiap ngobrolin hal-hal begini sama Adit, kami semacam diingatkan lagi bahwa peran orangtua yang bisa 'nyetir' anak itu nggak akan selamanya. Momen pulang yang disambut anak dengan senyum lebar penuh kerinduan itu nggak kekal. Porsi anak habisin waktu lebih banyak sama kami instead of sama temen-temen atau kesibukan sekolah itu pelan-pelan akan habis. Semua akan ada jangka waktunya.

Jadi ke-overthinking-an kami ini somehow bagus juga buat kami, karena jadi dapet colekan untuk treasure masa jadi orangtua yang sekarang, yang masih full control dan dicariin anak terus.

Tapi ya itu kami. Orang boleh banget beda pendapat dan prinsip, apalagi menyangkut calon menantu buat anak yang kita sayang, which is a big deal. Kalian gimana? Feel free to share your opinions yah.

Jumat ini mau ajak Aiden ke dokter gigi, doakan mulus!



Love,






16 comments:

  1. Hai mba grace, maaf anonymous, takut ada yg kenal hehehe.
    Ini kejadian bgt sama kerabat aku, dia cukup terpandang di lingkungan, dan dapat mantu dg kondisi masa lalu yg lumayan wow-ing, karena pernah menggugurkan kandungan. Walau awalnya sangat menentang, mereka 'kalah'sama anaknya, dan skrg mereka bisa menerimanya dg baik.

    ReplyDelete
  2. Halo Mbak Gesi. Sebenarnya saya percaya ada orang jahat yang berubah menjadi baik. Kalau dia benar-benar berubah menjadi sosok yang jauh lebih baik, seburuk apapun masa lalunya, tentu saya pun berlapang dada menerima menantu seperti itu. Hanya memang saya ada sedikit kekhawatiran kalau anak saya juga "kecipratan" karma dari perbuatannya sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks for sharing, always interesting to know another POV :)

      Delete
  3. Mba Gesi izinkan aku kali ini anonymous yak wkwkwkwk soalnya aku pengen kasih pendapat tapi takut dibully :D kalau aku sebagai ibu yang juga punya anak cowo aku masih ga sanggup dengan cacian orang terkait masa lalu menantuku, meski memang terkesan ga adil buat calon menantu tapi aku ga selapang dada dirimu atau ibu lain yang mau menerima masa lalu kelam begitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, aku jadi mikir kira-kira ini siapa yaaa, lol

      Delete
  4. Ini kenapa anonym syemua yak, entar broken link *eh wkwkkwkw...

    Jadi saya komen pakai nama aja deh hahaha.

    Meskipun agak kesal bacanya, karena jadi mikirin macem2 untuk masa yang masih lama.

    tapi tulisan ini beneran semacam pengingat banget buat saya.

    Setuju banget sih.

    Menikah itu bukan hanya tentang masa lalu, tapi masa depan.
    Dan yang menjalani itu ya yang nikah, bukan ortunya, bukan keluarga besar, bukan orang lain.

    Tapi bagi saya belajar dari masalah mereka.
    Saya jadi lebih concern ke anak agar mengajarinya hidup lebih bermakna juga.

    Karena menurut saya, hidup itu sudah bikin ngos2an, jadi hal2 yang seharusnya bisa dihindari untuk hal yang bakal nambahin susah di kemudian hari ya sebaik ya dihindari.

    Semoga saya dimampukan dan dikuatkan olehNya untuk itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suka banget bagian "ngajarin agar hidupnya lebih bermakna" dan "hindari hal-hal yang nambah tantangan kalau bisa" Amiinn, semoga kita bisa yaa

      Delete
  5. Mbak Grace,,,
    Koq saya yg jadi kepikiran berbeda.
    Bahwa sekarang itu semua orang rajin bully.
    Saya mungkin menanyakan kepada anak dan calon mantu, siap kah mereka d bully seumur hidup mereka.

    Kita hidup di timur, apalagi di jawa, 1 kecamatan aja saling kenal bahkan masih bau2 saudara. Ini yang buat riwuh pernikahan. Bibit, bebet, bobot tetap yg d jaga banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, apalagi kalau domisilinya di kota kecil. Tahu banget dan bisa bayangin banget karena Salatiga, kota asalku, juga sekecil itu yang orang-orang pada kenal. Good question tho, apakah siap dijulid yang (mungkin) seumur hidup.

      Delete
  6. Ci Gesiii, maaf anonymous hahaha.
    Kalau saya...ga tahu. Saya masih bingung juga dengan hal-hal begini. Dalam banyak hal, saya sering mikir, "oh it's okay" if that happened to other people di luar lingkup saya sendiri, dalam konteks ini, keluarga misalnya.
    Contohnya saat, pernah dalam suatu kelas studi gender saya ditanting dengan case, "Kalau anakmu sendiri yang LGBT, gimana?"
    Saya juga masih bingung :") Ya, pada akhirnya saya pikir mungkin saya hanya akan bisa pasrah dengan pilihan anak/anggota keluarga saya dengan catatan mereka sadar dan siap betul akan resikonya (termasuk sudah ada bayangan untuk berusaha jangka panjang juga). Kalau dipikir-pikir, misal memaksakan, menjudge, menolak, ke mana lagi mereka mau pulang di dunia yang minim apresiasi dan cinta kasih sayang sendiri, selain keluarga?

    Jadi ingat, ada satu kutipan dari serian Netflix yang sedang saya gemar tontoni, yang lumayan ngena belakangan.
    "We all mess up and do impure things. Doesn't mean we're bad people."
    (Otis Milburn - S3x Education).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks sharingnya. Aku sependapat sama dirimu. Dalam hati mikir it's okay if it happens to other people. Tapi kalau Aiden, aku pasti akan sedih dulu sih walau ujung-ujungnya akan berusaha menerima.

      Dan bener lagi untuk part ke mana mereka mau pulang selain ke keluarga. Ini kejadian di banyak temenku soalnya. Kebetulan ada beberapa temenku yang gay. Mostly keluarga nggak mau nerima. Akhirnya mereka jadi kayak nggak punya keluarga, nggak punya tempat pulang, nggak punya tempat berkeluh kesah selain ke temen. Padahal, kadang, nggak semua teman bisa kasih pandangan bijak ya.. Sebaliknya, ada juga temenku yang gay yang diterima keluarga dengan tangan terbuka. Hangat rasanya liat mereka

      Pengin banget nonton Sex Education, udah nongol melulu di recommendation Netflix ku huhu, tapi baru kelarin Orange Is The New Black nih lol

      Delete
  7. aku juga ga baik2 amat sih masa lalunya. jadi mungkin aku ga bakal masalahin masalalu calon menantuku sih grace :D. yg ptg kalo anakny memang baik, kliatan sayang ama anakku, ya sudahlah yaaaaaa.. eh tp itu hanya berlaku utk anak cowokku yaaa :p. kalo utk anakku yg ce, ttp sih bakal aku screening pake mikroskop hahahahaha.

    soal syahrinu dan lunmay, akupun kdg ga abis pikir ama 2 kubu ini :p. segitunya yaaaa mereka. kyk ga inget aja gitu, jodoh cuma bisa terjadi kalo Tuhan mengizinkan :p. aku jg netral kok. ga bisa nyalahin reno jg kalo lbh memilih ikut kata mamanya. ya namanya anak, pasti ingin ortunya bahagia.

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^