Friday, March 23, 2018

Diari Papi Ubii #28: My Parenting Fails

Kalau kalian nyadar, belakangan ini Adit udah makin bolong-bolong nulis buat Diari Papi Ubii. In case you wanna know why, belakangan ini dia punya kesibukan baru yaitu ... bermain PS hhh. Dan emang he doesn't enjoy writing as much as I do sih, jadi tidak bisa dipaksa.


Gladly (or sadly?), kemarin saya sempet drop lalu kudu opname. Adit jadi dapet motivasi untuk bikin saya hepi dengan ... nulis Diari Papi Ubii. Harus istrinya sakit dulu? What the ... lol. But anyway, yeay! Akhirnya kita bisa baca lagi tulisan Adit seri nomor 28!

Adit:
There is no innovation and creativity without failure. Period ― Brene Brown

Seperti halnya para pendusta yang masuk ke bilik pengakuan lalu berkata, “Forgive me Father for I have sinned,” di blogpost ini saya akan ngelist kelakuan buruk saya sebagai seorang ayah. I will be the sinner. My writing will be the chamber, and you audience as the Father. LOL.

Jadi, yang namanya manusia itu kan tidak luput dari kesalahan, karena kesempurnaan hanyalah milik Susanne Sundfør. Termasuk saya ini. Banyak banget #parentingfail yang sudah saya lakukan. Tentu saja, semua kesalahan yang saya umbar disini bisa digunakan sebagai referensi kamu buat fail yang lebih buruk lagi. Marilah berpacu dalam tragedi. JK. Anggap saja blogpost ini adalah antitesis dari feed Instagramnya Andien.

Baca: Diari Papi Ubii #26 ― That Instagram Husband

Karena, menurut artikel dalam World Economic Forum, salah satu digital skill yang harus dikuasai adalah digital citizen identity -- yaitu kemampuan untuk membangun dan mengatur identitas diri yang sehat baik pada saat online maupun offline. Nah, kehidupan online kita yang dijurnalkan di feed Instagram masing-masing kan kebanyakan adalah hal-hal yang sudah curated, sudah terseleksi sedemikian rupa. Kita cenderung menutupi sisi manusia kita yang lain: failure, trivialities, etc. sehingga mengaburkan batasan antara realita dunia maya dan nyata.

Baca: Mompetition

Sering kan denger celetukan: “Ih, si A ini buluk jelek, ngga kayak feed Instagramnya.” atau “Wah ternyata Jonru nggak segarang online ya!” - ini mungkin gara-gara si A ataupun Jonru tidak piawai me-manage digital citizen identity-nya dengan baik. Maka dari itu, saya mengumbar failure saya disini biar orang-orang jadi low expectation sama saya. Kalau orang sudah low expectation sama kita, tiap kali kita berbuat sesuatu yang surpasses ekspektasi dia, kita akan dianggap orang keren.


You know I’m kidding, right? LOL. So here we go.

1) I almost strangled Aubrey to death

Ya. Saya hampir membunuh anak pertama saya -- tentu saja secara tidak sengaja. Jadi ceritanya berawal dari kebiasaan saya sedari SMA: tidur sambil mendengarkan musik pake earphone. Saya setel lagu-lagu post rock macam Explosion in the Sky atau God Is an Astronaut, low light and max volume, sampai terlelap. Dan, kebiasaan ini saya bawa sampai saya punya anak.

Ubii tidur sekasur dengan saya dan Grace. Biasanya dia ditempatin di tengah biar nggak nggelundung. Singkat cerita, malam itu saya tidur sambil dengerin musik lewat earphone, lupa dengerin apaan, sampe ketiduran. Saya dibangunkan oleh suara bayi menangis. Masih meraba antara mimpi dan realita, saya melihat Ubii terjerat kabel earphone saya tepat di leher. Pemandangan ini lebih thrilling dari adegan film horor manapun. Coba kalau saya tetap terlelap. Ubii bakalan… I don’t know, bayanginnya aja udah males banget.


Tapi syukurlah, nggak ada luka atau kurang apapun.

Yang berkurang hanyalah wibawa di depan Grace. Yes, she was very angry. Doi langsung bikin peraturan bahwa ngga boleh naruh hape di kasur kalau mau menjelang tidur. Apalagi bawa earphone. Jangan ditiru ya gaes.


2) I backflipped Aiden (then his head landed on hard floor)

Aiden, anak saya yang nomer dua ini punya love-hate relationship sama saya. Dari umur 3 bulan sudah saya tinggal ke Jakarta. Ketemu paling cuma 1-2 minggu sekali. Sering banget saya godain. Dan, dia menganggap saya sebagai rivalnya dalam memperebutkan perhatian Grace.

Baca: Diari Papi Ubii #14 ― Dear Aiden (Ode To My Son)

Sampai sekarang, dia bakal marah besar kalau saya kepergok sedang bermesraan dengan Grace. Benar kata orang tua: kalau mesra-mesraan sebelum nikah, bakal digerebeg warga. Kalau sudah menikah, yang gerebeg anak sendiri.

Anyway, mengesampingkan itu semua, Aiden juga mengagumi saya karena saya satu-satunya orang di rumah yang bisa nyetir mobil. Dan, naik mobil adalah kegiatan favorit dia nomer satu. Nomer duanya: mandi. Kebetulan, Aiden juga suka saya mandikan.

Nah, satu sore setelah mandi, tiba saatnya bagian paling tricky: menyisir rambut. Aiden ini punya dua gaya andalan: sisir Opa (sisir belah pinggir biar mirip Opa) atau sisir Mami (pake poni biar kayak Mami Grace).

Baca: Feeling Pretty With Hair Color (Sorry, Narsis Dikit Eaa)

Awalnya, Aiden minta disisir belah pinggir, tapi di tengah-tengah minta pake poni. I didn’t listen. Pas dia ngaca, dia #tersakiti karena sisirannya tidak sesuai dengan apa yang dia minta. Sambil saya godain, saya terus nyisirin rambutnya doi ke samping tanpa ada niat buat bikin poni.

Marahlah Aiden dengan jurus andalannya: menjatuhkan diri ke belakang (dengan harapan ada yang nahan - yes, he’s a drama king). Entah kesambit apa, saya ketawa aja pas dia jatohin diri ke belakang, walhasil, kepala kejedot lantai. Nangis sejadi-jadinya. Setengah jam berikutnya diisi dengan Grace marah-marah.


3) I encouraged Aiden to be a criminal

Saya terlalu malu untuk menjelaskan. Kisi-kisinya bisa dibaca di tulisan Grace.


4) We brought Aubrey to noraebang cafe in the middle of the night

Menurut sebuah blog bayi sehat, pada usia 1-3 tahun, anak mulai kehilangan pola tidur di pagi hari. Anak hanya akan tidur di siang hari satu kali yang biasanya menghabiskan waktu tidur sekitar 2 – 3 jam dan malam hari 1 kali sekitar 9 – 10 jam. Pada malam hari biasanya akan dimulai antara jam 7 – 9 dan akan terbangun pada pukul 5 – 7. Deep sleep akan terjadi pada kisaran tengah malam sampai jam 3 atau menjelang bangun.

Baca: Ritual Sebelum Tidur Bersama Anak

Alih-alih menjaga kualitas tidur Aubrey tetap baik, kami yang saat itu belum punya asisten rumah tangga, mendadak punya keinginan untuk channeling our inner Kurt Cobain. Berangkatlah kami ke tempat karaoke tengah malam, order satu kamar, pesen bir satu pitcher, lalu mulai bernyanyi. Tentu saja anthem saya dan Grace, Smells Like Teen Spirit-nya Nirvana jadi lagu pertama yang kita nyanyikan. Aubrey kami taruh di sofa. Untungnya tidak terbangun sama sekali.


Tapi tetap saja kita menerima banyak tatapan sinis. Ada yang tanya, “Apa ngga keberisikan itu bayinya, Mas? Kasihan.”

Lalu dengan pedenya saya jawab, “Enggak Mbak, dia kan tuli.”


Sepersekian detik saya mencoba menelaah kata-kata yang saya ucapkan. LOL. I think it was too much for everyone to comprehend.

Baca: Sesekali Special Needs Moms Juga Berhak Dimanjakan

5) Sex ed way too early

Pernah baca blognya Grace yang menghimbau orangtua agar jangan sampai terlihat anaknya sedang berhubungan badan?

Baca: Ayah Ibu, Jangan Sampai Aku Melihat Kalian Berhubungan Badan

Well, postingannya bagus, bukan? Sayangnya, kami pernah sekali ketahuan Aiden. Ini ngga disangka-sangka sih. Saya sudah posisi “ambush”, eeh tau-tau ada anak bayi bangun terus ngeliatin kita beberapa saat. Ke-gap pas gituan, kita ngeles kayak yang Grace tulis di blog. Tapi tetep aja, walaupun Aiden belum lancar ngomongnya, saya merasa Aiden ngejudge saya dengan memberikan tatapan persis seperti ini:


Baca: Pendidikan Seks Usia Dini, Yay Or Nay?



Begitulah. Grace dan saya (khususnya saya) sangat jauh dari sempurna. List yang diatas ini masih sepersekian persen dari total dari seluruh daftar failure yang saya buat sebagai ayah. As per Parentingmojo said, diberi tanggung jawab sebagai orangtua adalah satu pengalaman yang paling rewarding, namun juga sangat menantang. Banyak yang beranggapan bahwa menjadi orangtua harus punya jawaban untuk setiap pertanyaan, punya solusi untuk setiap masalah, dan akan membesarkan anak-anaknya secara bertanggung jawab.

Baca: What Does Being A Mother Mean To You?

Sayangnya, ekspektasi-ekspektasi mahadahsyat yang dibangun oleh society bisa sangat menjengkelkan dan devastating. “Wah, jadi orangtua tuh harusnya ABCD… Nggak boleh ini-itu.” Well, kalau kita dituntut untuk sempurna dan tidak memberikan ruang untuk melakukan kesalahan, ya nggak manusiawi banget sih. Masalahnya adalah, mau dan mampu nggak untuk embrace the failure? Ubah kesalahan sebagai bahan evaluasi, dan be wise -- jangan mengulanginya. Akibat kesalahan-kesalahan diatas, saya sekarang lebih berhati-hati dalam berkata-kata dan berbuat.


Dengan kesalahan yang saya buat, saya tidak serta merta merasa gagal mengemban tugas mulia sebagai orangtua. Walaupun saya tidak menjamin kelak saya tidak akan melakukan kesalahan bodoh lagi, but I don’t wanna be too hard on myself. I failed to do things -- it didn’t make me a failure. I’m just a dad who are doing the best I can.

***

Grace:

1) Iya, saya kesel banget pas Ubii sampai kejerat earphone, wtf.

2) Iya, saya ngomel banget pas Aiden kejeblak ke belakang. Langsung mikir, coba saya yang di situ, nggak akan Aiden kejedot karena saya tahu gerak-gerik Aiden.

3) Iya, saya menghardik Adit banget pas Adit malah bilang, "Besok Aiden jadi penjahat aja biar bisa naik mobil polisi terus" karena ya what the heck lah.


4) Iya, waktu kami nyadar udah ngomong "Nggak papa, anak saya kan tuli" itu kami abis itu diem ngerasa antara aneh tapi lucu tapi geli yaudah abis itu ngakak bareng.

5) Iya, pernah banget kegap Aiden dan berakhir dengan ... KENTANG. GRRRRR. Dulu saya bisa enteng ya bikin postingan agar jangan sampai anak memergoki orangtuanya berhubungan badan. Soalnya dulu anak masih satu dan belum punya asisten rumah tangga. Jadi mau begituan, keluar kamar, pakai kamar lain, end. Sekarang mau di mana. Tidak ada kamar tersisa. Mau di ruang tamu ntar tiba-tiba Mbak Nur ngelilir mau pipis atau minum terus nge-gap kami gimana. Hu.

Dan, ya, kami sangat jauh dari sempurna. Begitu juga kalian. Karena kesempurnaan hanya milik-Nya.

#MamahGesi

Kalian pernah ngelakuin kesalahan atau kebodohan apa dalam parenting? Hayo sini cerita. Tenang, saya dan Adit tidak judgemental kok hahaha.



Love,








Pic credits:
vignette[dot]wikia[dot]nocookie[dot]net/villains/images/5/5e/Crime_Time_Boxed_in_001_0001.jpg/revision/latest/scale-to-width-down/273?cb=20111227032119
vignette[dot]wikia[dotnocookie[dot]net/r2d/images/2/22/If-you-know-what-i-mean-mr-bean-rage-face-jas-fasola-podtekst-erotyczny-mem-oryginal.png/revision/latest?cb=20150513124703

16 comments:

  1. berarti emang semua ibu-ibu refleks ngocehin suaminya kalau pas diasuh bapaknya si anak kenapa-kenapa. LOL. Tapi sebagai ibu pun saya pernah lengah terus anak kejedot. Atau ngasih makanan instan karena capek banget ngelakuin kerjaan lain. Yah gimanapun nobody's perfect.

    ReplyDelete
  2. Terngakak bagian nyisir model poni apa model BP dan akhirnya Aiden malang terjungkal *pukpuk Aiden* emang ngeselin kalau suruh bapake jagain y mba Ges :D

    ReplyDelete
  3. Akuuu! Waktu itu naro anakku di ban bentuk mobil di kolam renang dewasa, sementara aku berenang sendiri dengan asumsi amanlah bannya. Eh ternyata karena bocah terlalu bertingkah akhirnya dia jatoh dari ban. Baru nyadar pas dia nggapai2 nyoba berenang sendiri. Jantung rasanya berhenti waktu itu TT___TT Untung anaknya ngga trauma. Yang trauma emaknya.

    ReplyDelete
  4. Hahaha.. lucu tapi kasian.. hihi.. tulisan ini bikin jd nyadarin gapapa sih salah2 dikit, manusiawi.. kusukaaaa ❤️

    ReplyDelete
  5. Aku #parentingfail yang nggak bisa dilupain sampe sekarang adalah pernah marah banget sampe banting gayung di depan Wafa hanya karena dia eek di celana T__T
    Meski kayaknya dia nggak inget karena dulu masih 2,5 th tapi akunya kalau inget masih nyesek aja hiks.

    ReplyDelete
  6. Speechless... Aku emak yang banyak bikin salah, tapi ga unik kayak gini sih hahahhaha. ������
    Biasanya aku salah di kata2 dan cara ngomel. Tahu2 udah ditiru si bocah. Atau naruh barang asal lempar atau geser pake kaki biar ceper. Ditiru dah tuh. *tepok jidad

    ReplyDelete
  7. Adit memang lebih jarang nulis daripada Gesi, tapi kalo dia nulis terasa (lebih) jujur n smart.

    ReplyDelete
  8. Wihhhhh...ternyata jadi orang tua itu gak gampang ya. Tapi gpp deh, Mas. Mas dan Mbak Grace juga kan manusia, tentu gak sempurna, tentu ada salahnya. Tapi yang penting, selama niatnya baik, percaya deh, anak juga pasti akan tumbuh menjadi baik hehehe.

    ReplyDelete
  9. Paling sering sih bertengkar di depan anak. Selalu nyesel, tapi ntar kalau udah emosi, diulangi lagi T.T

    ReplyDelete
  10. Grace....Ubiiii...di sentil aja tuh kupingnya Papi Ubi, jangan kasih sun seharian, hehehe....teganya si bunda mau nyetrap si Papi Ubi. Oke Papi Ubii next time dengerin tuh ocehan Mami Ubii...ya...take care all of you.

    ReplyDelete
  11. 1. Sering ngomel ke Suami depan Alfath.
    2. Pernah ngediemin waktu Alfath kecebur kolam renang dengan harapan dia akan berusaha buat ngambang sendiri.
    3. Banyak lagi yang lain kayaknya, huuuft

    ReplyDelete
  12. Sering, Mamiii.. pas Amay masih 7 bulan malah, dia jatuh dari tempat tidur yang lumayan tinggi. Aku udah minta suamiku bongkar dipan, biar pake kasur aja di bawah..karena dipannya emang tinggi banget di rumah bapak. Tapi suami saat itu ngeyel banget. Udah deh, semalaman sejak jam 1 Amay jatuh, sampai pagi, aku omelin aja. Aku juga nangis sih kasihan Amay nya.

    ReplyDelete
  13. Aku ga abis pikir gmn sampe ubii kejerat kabel earphoNe itu.. Syukur ga kenapa2 ya ges.

    Aku sendiri, kyknya sih lbh banyakan aku yg srg ngelakuin hal2 bodoh kalo menyangkut anak. Pernah dulu, saking stressnya abis lahiran, fylly aku tinggal di kasurnya di ruang tv, sementara aku tidur di kamar. Malu sih kalo diinget. Untungnya bbrp saat kemudian raka pulang dan angkat anaknya :D .

    Pernah jg sebel bgt ama raka, krn kalo tidur itu suka kebo banget. Akhirnya ga sadar kalo si bobsky udh kepinggir tidurnya. Jatuh lah dia ke lantai. Aku sendiri sedang pergi sih wkt itu. Duuuh slalu takut kalo anak udh jatih dan kena kepala soalnya. Untungnya ga napa2..

    ReplyDelete
  14. Dosa banget gak sih, pas lagi anu malah anak kebangun eh akhirnya distelin yutub dan dia gak berpaling dan kami meneruskan. Kalau inget merasa bersalah sama anak :(

    ReplyDelete
  15. Karena Adit sudah warning dari awal,sdh siap2 membaca dengan penasaran apa saja isinya.Baru sadar Adit n Gesi adalah manusia biasa.LOL.Tapi memang krn tulisan Adit suka "berisi" terbentuk bayangan bahwa Adit lebih tahu.Hehehe.Syukurlah Adit mau berbagi shg dpt belajar n makin baik lagi.#tetapmaubacadiaripapiubii#

    ReplyDelete
  16. febryn hendriyantiApril 26, 2018 at 4:40 PM

    Hai Mama Ubi salam kenal, gatel mau ikut komen. Aku pribadi sebagai emaknya anak2 pernah ngerasa gagal sebagai ibu waktu ngajak anakku yg pertama Aidan (mirip ya namanya) berenang di Waterpark TMI, aku posisinya lg hamil gede gtu 8 bulanan. Pas mau liat suamiku dari bawah (dia lagi seluncuran) anakku ga sengaja maju dan ternyata lantainya licin, doi langsung kepleset dan masuk ke kolam (kepala duluan) sepersekian detik aku bengong dan mau nolongin pun ga bisa cepet karena perut udah berat plus takut kepleset juga. Jadilah pas ditolong anakku udah keburu minum air kolam yg kotor walaupun abis itu muntah *thanks God*. kalo diinget inget antara lucu dan sedih.hahaha

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^