Thursday, January 4, 2018

Menikahlah dengan Yang Selevel?


Kalo abis nonton film romance, saya bawaannya yang, "Cinta dapat mengalahkan segalanya tanpa peduli status, lifestyle, atau apapun!" Ya iya kan. Rose aja nyatanya nggak masalahin Jack yang hanya pelukis jalanan dan bajunya dekil. Yang jadi masalah hanya gunung es kenapa nabrak Titanic segala.


Terus yah makin ke sini, makin mikir, "Apa iya, cinta bisa mengalahkan segala perbedaan?" Tentunya karena udah liat referensi nyata dari curhatan dan kisah orang-orang. Nggak sekedar dari film lagi. Katanya mending nikah sama yang selevel, what do you think?

Selevel itu maksudnya level apa? Banyak loh ternyata. Level ekonomi, level (gap) usia, level keindahan paras wajah menurut standard orang Indonesia, level background keluarga gimana, level kedalaman agama (ini saya bingung diksi pasnya apa, tbh), level wawasan, you name it. Boleh loh kalo mau nambahin.

Kalau mau bahas semua, bakal sepanjang apa kira-kira. Saya bahas dua aja deh ya hehehe. Baca juga yah menurut Windi Teguh:


Recently yang banyak dibahas (dan banyak yang ngerequest ini juga ke saya) adalah tentang Taqy dan Alma. Ngikutin, nggak?

Buat yang belum pernah tahu, Taqy dan Alma itu pasangan yang menikah di usia muda, tanpa pacaran, lalu LDRan Jakarta-Kairo H+7 mereka nikah. Netizen rada shocked sekarang mereka sedang proses cerai, soalnya nikahnya baru 3 bulanan kali ya, cmiiw.

Baca: Pernikahan Remaja, Yay Or Nay?


Kalau saya baca-bacain komen netizen di akun gosip, banyak yang lebih hujat Alma. Banyak juga yang menilai mereka sering ada konflik karena beda levelnya lumayan jauh. Level di sini adalah tentang pendalaman agama.

Taqy itu hafiz Quran, Alma itu sohibnya Awkarin. Dulu hobi clubbing, lalu memutuskan hijrah nggak gitu lama sebelum nikah sama Taqy.

Baca: Catatan untuk Orangtua, Dulu Saya Pernah Menjadi Karin Novilda

Mereka pernah berantem karena Taqy nggak setuju Alma pakai celana dan main sampai malam. Meanwhile Alma mikir masa 'hanya' kayak gitu aja Taqy ngingetinnya galak, padahal namanya baru aja hijrah kan masih perlu banyak dituntun.

Ya gimana ya. Taqy hafiz pasti punya citra positif untuk dijaga banget. Kalau dia remind Alma, saya pikir sih lumrah. Mungkin dia juga ngarepnya Alma, by default, bisa tahu apa yang boleh dan nggak boleh untuk menjaga nama suami.

On the other hand, saya juga mikir Alma nggak sepenuhnya salah. Namanya orang baru belajar agama bukannya emang pelan-pelan gitu ya. Masa bisa kita expect orang berubah hanya dalam hitungan 3 bulan setelah nikah? Mending 3 bulan kalau ada yang nuntun ngajarin di sampingnya. Lhah ini LDR nya aja beda negara pun.


Buat saya yah yang cuman liat dari luar, beda level agamanya mereka itu jomplang. It's not an easy peasy thing to cope with karena ngaruh juga ke gaya hidup mereka. Alma udah kebiasaan hang out sama temen-temen sampai malam. Jadi buat dia, main sampai malamnya after nikah itu gapapa. Toh cuma ngumpul makan, bukan clubbing. Toh dibolehin ayah ibu. Toh pamit Taqy.

Alma juga emang anak orkay. Barang-barangnya branded. Suka mempercantik diri dengan pakai eyelash extension, facial lalala, dan nggak ada yang protes. Setelah nikah sama Taqy, baru deh kena protes kok pakai eyelash exten bukannya haram, kok sering selfie padahal baiknya kecantikan perempuan nggak terlalu diumbar biar yang bisa nikmatin ya suami doang, etc.

Baca: Ekspektasi VS Realita Pernikahan

Kasihan sih kalau semua-mua dikritik gitu. Tapi Taqy nya juga sama-sama kasihan. Dia dicibir juga karena dianggap nggak bisa nuntun istri. Hafiz kok ngebiarin istrinya begitu, kok nggak bisa bikin istrinya nurut, etc.

Kalo Alma hijrah, tetep nikah muda, tapi nggak sama hafiz Quran, mungkin nggak sebanyak ini protes dan tuntutan masyarakat buat dia. Coba nikahnya misal sama Baim Wong, kayaknya nggak bakal pada julid kalo dia pake bulu mata palsu. Kalo Taqy tetep nikah muda tapi sama perempuan yang pemahaman agamanya lebih sesuai standard istri seorang hafiz, akan lebih sama-sama menjaga juga tanpa harus berantem karena nuntun dari enol.




Level ekonomi juga sering saya lihat case nya. Pasutri nikah dengan background ekonomi yang jomplangnya banget itu sering ada konflik, terutama kalau keluarga perempuan yang lebih tajir.

True story. Saya ada temen, sebut saja Nobita. Hahaha 2018 ternyata nggak bikin Gesi kreatif cari nama samaran! Dia nikah sama Shizuka yang lebih tajir dari dia. Awal-awal nikah sih mulus-mulus aja, toh udah pacaran 5 tahunan ini, jadi kayak udah saling kenal.

Lama-lama Nobita ngerasa istrinya demanding karena:

💣 Shizuka minta Nobita yang bayar semua urusan rumah, kendaraan, etc.

💣 Shizuka juga kerja punya duit, tapi prinsipnya itu uang dia sendiri, untuk kebutuhan dia sendiri.

Baca: Istri Punya Penghasilan Sendiri, Yay Or Nay?

💣 Shizuka walau punya duit tetep masih minta jatah bulanan dari Nobita untuk nyalon, shopping, etc.

💣 Shizuka nggak bisa absen beli barang baru tiap bulan padahal kantong Nobita lagi kering.

💣 Shizuka tetep belinya barang branded, nggak bisa yang lebih murah padahal Nobita kantongnya udah makin kering.

💣 Shizuka marah-marah kalau jatah bulanannya berkurang.


Itu numpuk-numpuk bertahun-tahun, dan sekarang mereka sudah bercerai. Sekilas, kayaknya bakal mikir kok Shizuka keterlaluan, nggak ngertiin suami, boros, etc. But the way I see it, nggak bisa serta-merta bilang Shizuka yang nggak tahu diri.

Why?

👉 Karena seumur hidupnya sebelum menikah, gaya hidupnya ya seperti itu. Belanja barang tiap bulan. Nyalon secara rutin. Pakainya barang branded.

👉 Karena seumur hidupnya selama masih ditanggung kedua orangtua ya ayahnya memberi contoh suami yang bayarin semua keperluan rumah tangga dan rutin kasih jatah bulanan buat leisure ke ibunya.

👉 Karena seumur hidupnya saat masih single, dia terbiasa dapat yang dia mau. Kepengin ini tinggal order atau gesek. Tiba-tiba kepengin Sushi Tei yaudah cus, boro-boro mikir makan sederhana itu gapapa kan sama-sama bikin kenyang. Nggak pernah kekurangan. Nggak pernah sampai harus nabung untuk beli barang branded.

👉 Karena definisi boros Nobita dan Shizuka udah jelas beda.

Baca: Kantong Orang Dan Kantong Kita



Beda level wawasan kayaknya nggak gitu big deal. Bisa diakalin dengan banyak baca apa gimana. Saya dan Adit itu juga wawasannya jomplang. Terus saya coba lebih sering baca berita, nggak melulu akun gosip. Walaupun cuman dari LINE Today. Saya coba baca novel lagi, nggak melulu Miiko. Walau masih cuman novel Bahasa Indonesia, belum yang kayak Adit novel English semua.

Baca: Diari Papi Ubii #19 - Memangnya Suami Perlu Diimbangi?

Mayan loh 3 bulan terakhir tahun 2017 kemarin, saya kelarin baca 4 novel yeay! Masih remeh sih tapi seneng aja soalnya saya bacanya Miiko melulu sebelum ini.


Beda level usia, masalah nggak ya? Kayaknya nggak gitu juga, asal ekonomi dan agamanya nggak jomplang.



Jadi kalau ditanya mending menikah sama yang selevel nggak?

Buat saya, IYA. Kalau nggak bisa bener-bener selevel, ya at least jangan yang jomplang kejauhan.

Untuk menghindari konflik antar berdua dan antar keluarga.

Dan yang saya garisbawahi di sini lebih ke level agama sama level ekonomi aja, karena dua itu yang bisa lead ke beda prinsip. Capek loh kalau beda prinsip sama pasangan. Pasti akan gampang banget ada konflik tentang penting dan tidak penting, boleh dan tidak boleh, boros dan tidak boros, etc. Capek.

Kalo beda agama? Jadi kalo menurut saya, better single atau married? Pernah saya tulis di postingan sebelumnya, cus ke situ aja yah.

Baca: Pacaran Beda Agama, Lanjut Nggak?

Baca: What I Recommend You, Single Or Married?

Abis bahas ini sama Adit, kami yang mikir besok kalau Aiden memutuskan untuk menikah, gapapa banget kalau calon istrinya di bawah kami dari segi ekonomi. Mendingan begitu, daripada keluarga calon istrinya jauh lebih tajir. Kasihan kalau Aiden nggak bisa ngopeni. Khawatir Aiden dipandang remeh juga sama istrinya.

Yaudah deh, udah panjang. Plus ini publishnya kesiangan huhuhu. Let me know what you're thinking on this topic in comment section below 👇👇👇

Btw, kalau Jack nggak tenggelam, bakal awet nggak kira-kira sama Rose? 💭





Love,






47 comments:

  1. Setuju mbak Ges,menikah memangharus dengan yang selevel.Apalagi kyk Yg di alamin Alma, berubah itu butuh proses,ga ujug2 cling langsung berubah, dan itu mungkin berat buat sebagian orang, saya juga ngalamin dan kadang bikin emosi naik turun.

    ReplyDelete
  2. Aku beda umur, 2 tahun sama calonku (ceilah sekarang ngomongnya calon wakakak), so far nggak ada yg aneh - aneh karena gaji kami berdua hampir sama even sekarang sih masih gedean aku hahaha.

    Tbh, balik lagi ke pribadinya sih. Alasan aku mau sama Odi juga karena dia wawasannya luas, beda banget sama aku yang hobinya stalking lambe turah hahaha. Jadi ngerasa punya banyak obrolan seru. Setiap hari.

    Semoga begitu terus sih setelah nikah. Amin.
    *lho malah curhat*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ka Putri, ga stalk TID? hahahahaha. Semoga dilancarin selalu sama Ka Odi yah. Aminn.

      Delete
  3. Mbak Ges, kalau kasusnya si cewek yang wawasannya lebih luas gimana mbak ges?��

    ReplyDelete
    Replies
    1. mau nanya ini juga. apalagi mungkin si cowoknya lebih fokus nyari uang ketimbang nambah wawasan...

      Delete
    2. Iya, gimana ya? *loh malah balik nanya* hahahaha. Kayaknya aku jarang banget dapet curhatan/sharing yang case nya kaya gini. Yang sering aku dapet itu sebaliknya. Pernah cuman 1-2x doang dicurhatin yang case wawasan perempuan lebih luas karena, kayak yang dibilang Mba Turfa tuh laki-laki sibuk fokus cari uang.

      Kalo dari yang curhat sama aku itu, mereka jembatan-in nya dengan yang perempuan kalo malem cerita ke suaminya abis baca apa aja. Sebelum tidur gitu, ngobrol bentaran sambil cerita-cerita gitu, jadi suaminya tetep nggak ketinggalan jauh.

      Delete
  4. setuju... yg selevel aja msh bs banyak problemnya apalagi yg jomplang. untuk ekonomi mau selevel ato gk yg penting sebelum nikah perjelas dulu nantinya keuangan keluarga gmn, misal istri ato suami msh hrs bantu ortu masing2, uang belanja dr suami untuk apa aja. untuk meminimalkan perbedaan persepsi kedepannya. krn ada kenalan yg suaminya cuma bs ksh uang bulanan dikit n gaji istri lebih gede, jdnya untuk by hidup istri pake gaji sendiri n gk pernah sentuh uang dr suaminya n pada akhirnya suaminya tersinggung merasa gk dihargain padahal maksud istriny biar uang itu buat tabungan anaknya. intinya krn gk dibicarain jd misscom

    ReplyDelete
  5. Setuju sama topik ini. Dan iya, menurut saya sebaiknya menikah dengan yang levelnya gak beda jauh. Biar pas menjalani pernikahan sinkronisasinya enak. Yang selevel aja masih perlu penyesuaian krna perbedaan kebiasaan. Dan kedalaman agama dan ekonomi itu principal banget. Kalo gak slaah satu mesti ngalah banget, susah lanjutnya. Penting juga karena buat menghindari konflik antar keluarga besar. Kalo udah keluarga ikut ribut juga..begh...kelar!

    Btw, kita kok sama banget sih nambah wawasan lewat LINE Today hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, dan apalagi di sini masih yang mostly keluarga besar itu suka ikut urun rembuk, begh. Oke toss kita jamaah LINE Today! Hahaha.

      Delete
  6. Mbak mbak..kalo menikah dengan yang selevel garing krikkrik nya termasuk juga ndak? Hehehe
    Biar kalo yang satu jokes nya garing, yang satu gak bete.. Wkwkwk
    Aku sih yes..menikah dengan yang selevel..soalnya menikah itu kan pekerjaan kompromi dengan pasangan sampai Akhir hayat..jadi kalau level nya sama,level apapun.. Itu mungkin akan sedikit memudahkan dalam mengarungi kehidupan Rumah tangga nya nanti.. Kan katanya mah Jodohmu adalah cerminan hidupmu...

    ReplyDelete
  7. aku team yg pro tentang menikah dengan yg selevel, bener2 nggak kebayang sih kalo ada kejomplangan mah secara selevel satu pemikiran satu agama satu adat aja aku sama suami masih ada aja hal-hal yg kalo kesenggol pecah perang dingin. and totally true bahwa at least, secara level ekonomi ceweknya gapapa banget di bawah suami krn fakta bahwa gaji/pendapatan istri yg lebih gede atau level ekonomi keluarga cewek lebih mapan selalu jadi bom waktu utk rumah tangga. fakta bahwa suami akan merasa rendah diri kalo berada di bawah istri dari sisi ekonomi ini yg susah dipungkiri.

    dan untuk pertanyaan terakhir, menurutku sih jack n rose will never lasts. i dont believe that kind of romance, yg ketemu krn suatu momen saling jatuh cintrong then end up happily ever after. that's why si gunung es muncul to end their love story there. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kinda agree, it can be a ticking time bomb if the wives make more money than the husbands. Apalagi, kalo yang perempuan karakternya alpha female.

      Btw, abt the Titanic, belum lama nonton NatGeo, katanya recent discovery found out that the biggest cause of the sinking ternyata bukan gunung es loh. Tapi sayangnya belum kelar nonton, aku udah cus jadi info terbarunya cuman tahu sampe situ doang hahahahahaha.

      Delete
  8. Aku juga team yang selevel, soalnya banyak kasus yang karena beda level jadinya berpisah

    ReplyDelete
  9. Rose kayaknya bakal cerai lah ama Jack, kalo dese kagak tenggelam.
    Realistis shay! 😂
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  10. Menurutku sih cara berpikir di kluarga yg berpengaruh 😮 Kayaknya latar belakang pendidikan..Bagusnya selevel deh jadi bisa satu pandangan dlm menghadapi masalah.Agama juga eeee amat penting jua.Stuju dgn jabaran Gesi di atas 😀..Hmmmmm ng tau yach gmn kabar Jacknya??? Kepinginnya mrk happy ending deh 😢 Sampe sedih liatnya waktu mrk berpisah..

    ReplyDelete
  11. Beda level apalagi level si cewek lebih tinggi, duh bakalan masalah muluu... Kebanyakan aku liatnya gituuu

    Aku sih team setuju sama yang selevel kalaopun beda yaa tipis, dan aku pribadi such lebih suka yang selevel tp levelnya yaa tinggian si cowok gt, dr pendidikan, usia, ekonomi, kedewasaan dan lainnyaaa

    ReplyDelete
  12. hmmm... nyentil bgt ini hahaha jadiiii... secara agama aku dan suamiku ga "selevel" alias beda agama.. dari segi ekonomi sih gaji dia masih diatasku tapi dari segi ekonomi background (keluarga) mayan jomplang...

    untuk pengeluaran kalo masalah anak kita sih fair2an aja bagi 2.. toh anak gw jg gt haha untuk hura2 porsiku lebih besar krn dia harus kirim ke ibu nya (dan adek2nya pdhl udah berkeluarga tuh.... hmmm)

    ini tahun ketiga nikah... so far ya masalah pasti ada tp bisa diselesaikan.. doakan kamiiii...

    ReplyDelete
  13. Bisa awet jack dan rose kalopun kapalnya gag tenggelam. Karena filmnya laris! Eh... 😳

    ReplyDelete
  14. Setuju banget mba Ges! Dari jaman pacaran (atau taaruf, kalo case Alma Taqy) harusnya jg dipertimbangkan, makanya Miiko ga pas jadian sama Yoshida kan, lebih pas sama Tappei :D #lahkokjadimiiko btw udah baca Miiko baru belom Mba? :D

    ReplyDelete
  15. Jack sama Rose. Tenggelam aja mereka awet, sampai di kehidupan nyata diharapkan jodoh. :D

    ReplyDelete
  16. Agreee mom gesi..saya dan suami yang kurleb selevel aja sering beda pendapat soal keuangan, yg buat saya biasa aja buat suami boros dan sebaliknya ������ untungnya soal cara didik anak kita hampir selalu sependapat..dan setelah 5 taon dengan banyak penyesuaian kita uda jadi lebih saling ngerti dan ngisi ������ kalo dulu jaman abg bayangin cinderella story yg happily ever after setelah merit sama pangeran di kehidupan nyata malah perjuangan baru dimulai..beberapa case temen2 saya yang merit dengan pasangan yg secara ekonomi keluarganya jauh diatas kenyataannya susah menyesuaikan dan kadang diremehkan..bayangannya dapet orang berada bakal hidup enak..dan kenyataan berkata sebaliknya ������

    ReplyDelete
  17. Selevel kl dlm agama namanya sekufu. Ini dl jadi wanti2 banget sama ibuku seblum menikah. Tp bener kok menikah dgn org yg beda latar blkg scr ekonomi trkdg bikin nyesek kok. Berbeda kebiasaan di lingk. Keluarga pengaruh banget sama treatment pasangan kpd kita. Yasudahlah. Kuncinya mmg hrs pandai2 menyesuaikan diri aja. Dan komunikasi apa yg nyaman dan ga nyaman buat kita... 😊

    ReplyDelete
  18. Setuju yang selevel setelah baca.. hhhehe bener juga ya, aku juga Alhamdulillah dapetnya selevel
    Kayaknya cuma di drama Korea aja yg bisa awet hhihhhiii

    ReplyDelete
  19. Ak nikah sedikit beda level dgn suami mba ges, tp suamiku paham bgt uang istrinya ya uang istrinya jd nga dia ganggu gugat...dan ak jg nga pernah mnta uang ke suami,tp untuk gaya hidup krng lbh ak sama jd beli apapun dia nga bakal protes (asal pakai duit sndiri, haha) kel suami jg sdh paham dan ngajarin...km nga boleh ngotak atik uang istri itu hak dia....bersyukur dpt suami kaya gini walp kami sedikit beda ( usia dan penghasilan ak lbh tua dan lbh besar)asal ada komunikasi dan pengertian saling memahami semoga bisa langgeng....NB: bener asal jangan jomplang jomplang bangeeeeet yaaa...kl kaya langit dan bumi gt susah jg lah

    ReplyDelete
  20. Istilah lainnya, sekufu.Dan kalau nggak salah, emang nikah itu dianjurkan dengan yang sekufu.
    Emang berat ngejalaninnya kalau ga selevel gitu. Ada aja konflik yang bikin nyeess.. Hahhaa

    ReplyDelete
  21. Setuju banget mbak , menikah emang baiknya sama yang selevel . Level yang dimaksud bisa beda-beda tiap orang . Buat meminimalisir konflik aja sih, walaupun pasti teteup ada konfliknya 😬

    Salam kenal
    Diah
    www.diahestika.com

    ReplyDelete
  22. Hmm aku ga ngikutin ttg kasus si pasangan muda ini, tapi kalau menurut tulisan ini kok sepertinya mereka terlalu "mengikuti" pandangan masyarakat ya hwhehe .. mau hafidz atau gak hafidz .. mau baru belajar atau sudah paham betul .. tetep yg menilai kualitas beragama kita bukan manusia tapi Tuhan.
    Emangnya kalo sudah hafidz trus dibilang paham agama hehehe.. aku malah kasihan sama si cewe krn dia harusnya ditemani dalam berproses.

    Dan menurutku pernikahan beda "status" masalahnya bukan di bedanya tapi apakah kita (pasangan) mau sama-sama legowo mamahami satu sama lain.

    Aku menikah dengan WNA yg baru belajar tentang Islam, mualaf .. dan kami LDR-an hampir 2th .. banyak sekali jomplangnya .. nah intinya tinggal kita mau belajar untuk memahami dan mengerti apa gak. Pernikahan itu bukan hanya untuk "menghindari maksiat" tapi lebij ke pemikiran yang matang :) untuk menjalani hidup berumah tangga .. hehehe duhh panjang

    ReplyDelete
  23. Sebenernya kalau beda level tapi bisa dan mau mengimbangi sih menurutku masih bisa.

    Lagipula kalau poinnya si Shizuka tadi biasa hidup "enak" dari bapaknya, berarti dari awal baik Nobita dan Shizuka harus tau kalau setelah menikah udah gak ada lagi tuh harta orang tua. Kalo si Shizuka ya ga mau istilahnya hidup susah (susahnya dia kan beda ya sama Nobita), dan Nobita gak mampu better jangan lanjutin hubungan.

    Aku cukup salut sama temen perempuan yang hidupnya bisa dibilang mewah karena orang tua, tapi pas sudah menikah dengan suami yang level ekonomi di bawahnya dia bisa mengimbangi.

    ReplyDelete
  24. Numpang nyimak dikit2 yach.... :)

    ReplyDelete
  25. Klo sama2 bisa nerima harusnya sih happy ending :) niat pernikahan nya gmn dulu.. tapi emang ada pendapat, anjurannya utk nikah sekufu, sepadan..
    Aku jg bahas ginian sama adek aku yg masih kuliah, beritanya heboh yaa

    ReplyDelete
  26. Ekonomi..mending cew nya di bawah suami mba. Balik2 ke gaya hidup itu soalnya. Klo udah dr kecil makmur-sentosa-terbiasa foya2, ntar klo nikah dan tiba2 mesti prihatin...kyknya bkkan susah

    ReplyDelete
  27. Lho mbak ges... Rose kan sesungguhnya kismin juga. Kan dia tunangan sm mamang tajir ajaa makanya hidupnya jg bergelimang harta pas di kapal itu krn mau kiwin. Kalo jack sm rose sama2 selamat dr titanic yaa insyaAllah long lasting, kan selevel sama2 kismin tp saling cintrong hihi.. *malah bahas titanicnya doang

    Aku sm suamiku aga beda level ekonominya, tp kami rukun2 aja krn kami berdua sama2 pelit urusan duit.. jd kalo level agak beda tp prinsip sama kyknya bisa tuh. alhamdulillah aman2 aja sampe skarang heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rose nggak seberada tunangannya, iya. Tapi tetep nggak sekismin Jack yang pelukis jalanan lah, Mba. Tetep rada jomplang. Rose buktinya masih punya nama keluarga untuk dijaga, bangkrut lalu malu kalo kena hutang itu loh. Malah bahas Titanic kita ahahaha.

      Delete
  28. Setuju mba ges, setelah nikah, cinta itu hanya point kesekian, mereka yang bercerai katanya dulu juga saling mencinta. Pada akhirnya kita menikah ga cuma sama pribadi yang dicinta tapi juga menikahi keluarga plus semua kebiasaan mereka. *** aiishhh ngono kui lah pok men mbak ges ������

    ReplyDelete
  29. Kalau jack masih hidup kayaknya bakal awet sama rose, karena jaman segitu belum ada mall dan online shop :-D

    ReplyDelete
  30. Lah ujung-ujungnya balik lagi ke Titanic. Menurut aku sih langgeng, kan di sana ceritanya cinta mengalahkan segalanya.


    Menikah dg yg selevel itu harus banget. Bahkan meski pun udah selevel tapi kadang ada keluarga besar yang suka ikut campur segala macam urusan aja bikin bete. Apalagi kalau nggak selevel. Paling nggak ya level pemahaman. Makanya paham gimana kalau istri lebih banyak gajinya, dll

    ReplyDelete
  31. Ternyata bukan cuma aku yang merasa kasian dengan Alma itu~ baru nikah harus LDR-an pula dan dituntut berubah 360' itu serasa burung di minta berenang.

    ReplyDelete
  32. Yg dikatakan selevel dalam ekonomi itu yg gimana dulu maksudnya.. Gaji/Penghasilannya? Bekerja/Tidak Bekerja? Latar belakang keluarga kaya/Biasa? Pendidikan S1/S2/S3? Etc. Emang sih ya.. masalah ekonomi ini cukup rawan. Apalagi ketika cewenya ngerasa dia levelnya lebih tinggi dibanding cowoknya. Dalam hal ini, gaji lebih gede, lebih berkedudukan, pendidikan lebih tinggi, etc. Trus ada rasa kesombongan, jumawa, tidak bisa menghargai suami. Padahal suami tu, gitu2 pridenya gede loh.. Maka akan jadi masalahlah ini.. Selama ini di sekitarku, aku cuma lihat 1 kasus yg seperti ini dan endingnya cerai.

    Tapi.. banyak banget yg kulihat perbedaan level yg seperti ini dijalani dgn baik2 sama mereka. Istrinya kuliah sampe S3 di US, ditemenin sama suaminya yg disana ngurus anak sambil jadi pengantar pizza. And they fine till now.. Ortunya sahabat aku soalnya, dan mereka keren. Trus adalah lagi yg istrinya pegang jabatan sampe gajinya udah gk terhingga digitnya, suaminya pegawai biasa. Dan mereka bahagia juga. Kalo ini bosku. Dan ada lagi, yg istrinya udah staff World Bank di Philipine, suaminya wiraswasta biasa di Jakarta. Dan mereka masih rukun agawe santosa sampe sekarang.

    Hehehe... Referensiku yg beda level dalam hal ini, tapi hidup bahagia sampai berpuluh2 tahun pernikahan, jauh lebih banyak. Sekian keluarga dibanding 1 yg cerai tadi.

    Jadi, level enggak selevel, untuk perkara ekonomi.. Menurutku tiap orang bahkan tiap keluarga takarannya beda2. Mungkin si A akan gak bisa kalo hidup sama suami yg S1 sementara dia S3. Mungkin si B gk bisa kalo jabatannya CEO sementara suaminya wiraswasta biasa. Mungkin si C gk bisa kalo dia kerja di LN dgn gajinya luar biasa lebih gede dibanding penghasilan suami. Dan IMHO, tidak selalu perbedaan level itu jadi hambatan. Tergantung mereka yg jalanin..

    Kalo yg jalanin kita, yg patriaki, suami harus lebih lebih punya uang banyak, latar belakang keluarganya harus lebih tinggi, jabatan di pekerjaan lebih tinggi, etc. Ya hal2 seperti contohku tadi jelas akan bermasalah.. :)

    Jadi kalo aku, memilih yg selevel itu lebih ke pemikiran. Gimana dia diajak diskusi, gimana peran dia sebagai nahkoda kapal rumah tangga, dan gimana etos kerjanya. Males banget itu.. kalo istrinya kerja keras, tapi suami males2an cari uang. Pasrah aja dgn keadaan dan malah jadi istri yg menafkahi.

    Tapi kalo suami udah banting tulang cari uang hasilnya mungkin masih pas2an, misal ternyata penghasilannya lebih dikit dari istri. Ya.. itu dibutuhkan kebijaksaan istri untuk menghormati dan memberi dukungan. Karna hal seperti ini bukan berarti suami jadi enggak selevel sama istri.

    :) pendapatku ya... hahaha, jdi panjang.

    ReplyDelete
  33. IYa sih, memang kasus-kasus seperti ini terjadi di sekitar lingkungan kita. Sedih lihat pernikahan Taqy Salma yang harus cerai.

    ReplyDelete
  34. Latar belakang keluarga sedikit-banyak memang mempengaruhi cara hidup kita dengan pasangan. Tapi semua itu kembali lagi ke pribadi masing-masing.

    Sebagai perempuan, sebaiknya pikirkan lagi tentang persiapan mental saat kita memutuskan menikah atau menerima pinangan dari laki-laki. Siap kah kita lepas dari orang tua? Siapkah menjalani hidup hanya mengandalkan penghasilan suami (atau sendiri) tanpa meminta orang tua, walau orang tua sangat berkecukupan.
    Makanya dedek-dedek gemes yang kebelet kawin, mendingan diajarin bagaimana menghadapi kehidupan pernikahan, bukan gambaran manisnya doang. XD

    Masalah nanti ketika sudah menikah, ternyata penghasilan istri lebih besar, yaa itu juga perlu pemikiran yang dewasa untuk suami dan istri. Suami juga harus berbesar hati, penghasilan istri lebih besar,jangan ngotot karena takut istri nggak patuh. Istri pun juga harus tetap patuh pada suami, karena rejeki untuk keluarga kan nggak mesti lewat suami semua.

    ReplyDelete
  35. Gak selevel usia itu paling bahaya lho menurutku... Soalnya kasian yang muda jadi ikut2 keliatan tuwir, jadi kayak seumuran sama pasangannya padahal beda jauh, hihii...

    Udah banyak yang saya lihat kayak gitu, salah satunya tanteku yang 8 tahun sama suaminya, aduhayyy.. Sekarang udah jadi tante-tante banget wajah dan penampilannya, padahal dia cuman beda 3 tahun denganku ��

    *ini sih komen ngaco kayaknya ��

    ReplyDelete
  36. Menikah dengan pilihan orangtua pokoknya. Biar kalau ada apa-apa orangtua ikut bantuin hahaha /dikeplak/.

    Thanks for sharing kak, ini jadi bahan pertimbangan, nanti ngobrol sama orangtua /smirk/ huehehe.

    ReplyDelete
  37. Dulu... Waktu masih remaja, belum mikir, klo selevel itu penting.

    Ternyata setelah menikah baru berasa perbedaannya. Namun, semua ada jalan keluarnya.

    Ini cerita kami, menikah diusia muda, berbeda agama, namun tetap bisa berbahagia dan bertumbuh bersama.

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^