Friday, April 14, 2017

Diari Papi Ubii #17: In Regards to Bullying

Diari Papi Ubii #17: In Regards to Bullying. Saya yakin banget, nggak ada satu orangtua pun yang rela kalau anaknya jadi korban bullying, entah itu verbal atau fisik. Zaman dulu saya sekolah dasar, bullying juga udah ada lah pasti. Tapi saya 'hanya' dibully verbal dan nggak yang nyakitin amat sih, so no biggy. Sekarang apa-apa jauh lebih gampang ke-up karena media sosial. Udah banyak banget video anak sekolah dibully yang saya tonton. Semuanya bikin sedih.


Heran saya. Kok bullying kayaknya jadi semakin lazim yah? Kok kayaknya the bullies juga makin enteng aja menindas temennya? What is wrong with society nowadays? Jadi untuk Diari Papi Ubii #17 ini, saya request Adit untuk bahas pengalamannya. Dia pernah dibully di sekolah padahal nggak salah apa-apa. Semoga ada yang bisa dipetik dari cerita Adit, yah.

Untuk yang baru pertama kali main ke blog saya, FYI, Adit itu suami saya. Saya kasih dia ruang untuk ikut mengisi blog ini dengan label/tag Diari Papi Ubii. Ubii adalah anak pertama saya. Okay, enough perkenalan nya yah. 

So this is Adit's writing:

Adit:
Courage is fire, and bullying is smoke.
— Benjamin Disraeli 

What I’m about to tell you is quite ugly, and I won’t sugarcoat this.

Saya yakin saat masa sekolah dulu, ada temen sekelas kita yang dapat nickname. Dari faktor fisik ada yang dapet panggilan Si Gendut, Si Kerempeng, Kutilang Darat, atau Si Pendek. Dari faktor traits/behavior/sexual orientation ada yang dipanggil sebagai Si Gagap, Si Bencong, dan sebagainya. Even dari pekerjaan/keadaan fisik orangtua pun, lahir julukan (kalau tidak mau disebut ejekan) macam-macam. Ada yang punya nickname Anak Ijo (gara-gara bapaknya TNI), Si Grandong (gara-gara bapaknya hitam tinggi besar berbulu), name it all.

It’s cool if the ones whose being called by those nicknames are fine with that. Nah, kalau engga? Kita ngga pernah mempertimbangkan efek sosial yang terpapar ke teman kita sebelum memanggilnya dengan degrading nicknames. Banyak lho yang ngga nyadar bahwa hal tersebut telah menjadikan kita part of the bullies. Dan banyak juga yang ngga nyadar dampak dari verbal bullying ini gede banget.

Suatu malam di bulan Maret lalu saya dan Grace baru nonton channel National Geographic. Waktu itu ada program favorit kami, Taboo, yang lagi membahas bagaimana salah paham orang awam tentang Satanisme modern. Saat jeda iklan, ada iklan acara lain di Nat Geo juga yang mengangkat profil seorang wanita (bulan Maret emang Women’s History Month di Amerika so banyak acara yang highlighting pencapaian-pencapaian wanita). Profil yang diangkat ngga main-main — Nat Geo featured Lizzie Velasquez, wanita yang pernah dirundung oleh netizen dan menyematkan gelar “The Ugliest Woman in the World.” Grace langsung semangat: ambil Coca-Cola terus pasang posisi senyaman mungkin di depan TV. Kalau posisinya kayak gini, gempa bumi pun doi ngga bakal gerak. Macam Snorlax kalau sudah tidur.

Lizzie Velasquez

Indeed, programnya keren banget. Saya merinding berkali-kali. Disitu Nat Geo menceritakan bagaimana perjuangan Lizzie untuk merebut kembali self-esteemnya setelah direnggut oleh justifikasi netizen dengan mengolok-olok doi mati-matian. She, fortunately, survived — dan sekarang sukses jadi motivator. She, fortunately, is very lucky. Orangtuanya sangat suportif. Dan dengan liat acara ini saya bisa observe bagaimana peran orangtua untuk menangkal bullying ini sungguh krusial. Karena, ada juga korban bully yang kurang beruntung — orangtuanya nganggep bullying itu rite of passage. Hal remeh yang ngga perlu dikhawatirkan. “Suck it up and carry on,” they said. Namun penyesalan orangtuanya datang terlambat setelah suatu sore sang Ibu mengetuk pintu kamar si anak untuk memberitahu bahwa makan malam sudah siap. Pas buka pintu, si anak ada di kamar, gelap, sedang menghadap jendela, ngga bersuara. Badannya bertambah tinggi tapi kakinya ngga napak lantai. Yep. Gantung diri.

You want statistics? Fine:

According to statistics reported by ABC News, nearly 30 percent of students are either bullies or victims of bullying, and 160,000 kids stay home from school every day because of fear of bullying, and at least half of suicides among young people are related to bullying.

Source: http://www.bullyingstatistics.org/content/bullying-and-suicide.html 


Untuk urusan bullying, saya lumayan concern. Simply because I was a victim.

(Mungkin sebagian sudah saya ceritakan di entry Diari Papi Ubii yang sudah-sudah.)

Baca: Diari Papi Ubii #5 - Sistem Pendidikan Ideal Itu...

Anyway, yang namanya anak baru, pasti jadi sasaran empuk bullying. Unfortunately, karena pekerjaan Papa Mama saya sebagai pegawai negeri mengharuskan mutasi tiap lima tahun sekali, saya juga harus menyesuaikan. Termasuk sekolah. Saya sering banget pindah-pindah. Dan setiap cycle pasti sama: di hari pertama saya harus dipaksa turun mobil. Saya takut dengan gimana teman-teman sekolah baru menerima saya. Some of them were nice, and some of them were just mean.

Bentuk bully-nya macam-macam pula. Mulai dari verbal dengan mengatai saya Si Kerempeng (yes, dulu saya menderita flex debu makannya badannya cungkring banget). Lalu dapet juga julukan Cebol. Well, people always compare siblings — and unfortunately my brother was quite tall for his age.

Saya dan kakak semasa kecil

Nggak hanya itu, saya juga mengalami kekerasan fisik. Why? Just simply because my family was living in a compound nearby the school. Teman-teman saya menganggap bahwa keluarga yang tinggal di kompleks itu tajir melintir gitu ya. Tiap hari dibawain uang saku beribu-ribu. Nyatanya? Itu sekitar tahun 1993, uang saku saya 300 rupiah. Tapi saya ngga pernah merasakan manfaatnya. Gimana mau jajan kalo tiap hari dipalakin? Hahaha…

Saya masih inget bener omongan salah satu bully ke saya. Doi ngomong sambil nyekik leher saya — said that anak kompleks ngga butuh uang jajan. So then I gave all of my pocket money to him a year full. And as a bonus, I got beaten occasionally kalau saya menolak memberikan uang saku. Kebayang kan anak SD ngga jajan apa-apa seharian? It sucks.


Pernah juga saya digebukin gara-gara dapet nilai ujian paling bagus. Temen-temen pada ngiri. Seumur gitu logika saya ngga bisa nyampe kenapa kok saya harus mendapatkan kekerasan fisik karena nilai saya bagus? Padahal di rumah Mama selalu membangunkan saya jam 5 pagi untuk belajar agar nilai bagus. Setelah saya dapat nilai bagus, malah digebukin. Serta merta saya jadi sedikit membenci Mama. She’s the one who made my friends mad at me, pikir saya. Ujian berikutnya, nilai saya deep dive. Jeblok. Karena saya sengaja ngerjain ujiannya ngga bener. Rasanya aneh banget sih. Tapi ya I had to do it. Takut digebukin lagi.

Suatu saat saya pernah dikerjai habis-habisan dengan disuruh menginjak seonggok tinja manusia — entah punya siapa, di kebun sekolah. Saat masuk kelas, teman-teman menuduh saya boker di celana karena memang baunya sangat menyengat. Saya kemudian disuruh pulang sama Guru saat itu juga. They threw away my dignity. I cried constantly when I got home. Sampai saat ini, tingkat toleransi saya terhadap segala jenis feses sangatlah minim. Jijik banget. Well, memang properti semantiknya tokai = jijik. But that bad experience escalates the disgust.

Kalau ditanya perasaannya gimana — mostly waktu itu yang saya rasakan adalah kebingungan dan takut.

Bingung karena saya ngga ngerasa salah, tapi kok pada jahat. Salah saya apa coba? Gara-gara badannya kecil? Gara-gara tinggal di kompleks? Gara-gara bisa ngerjain ujian?

Takut soalnya diancem macem-macem. That’s why saya ngga cerita ke siapa-siapa. And sadly my parents wasn’t around much. Jadi mereka mungkin ngga ngeh atas perubahan sikap saya setelah menerima kekerasan verbal dan fisik di sekolah. Mungkin mereka mikir toh Adit selalu dapat rangking 3 besar so nothing to worry. He’s doing fine.

In fact, saya selalu melangkah dengan rasa takut tiap kali berangkat sekolah. Sedikit demi sedikit saya withdraw dari pergaulan. Saya sering ditegur guru, alih-alih main di bak pasir sendirian, kenapa ngga gabung main sama teman-teman yang lain? Saya cuma menjawab dengan gelengan. Lah mau gabung gimana? Mereka pada main di deket warung jajan. Saya ngga punya duit buat jajan. Jadilah main sendirian di bak pasir buat pelarian. Saking seringnya mainan pasir sampai titit saya digigit tungau dan kena penyakit gondong. Sounds pathetic, eh?


Menginjak kelas 4, saya dipindah ke sekolah swasta yang lumayan jauh dari rumah. Eventually Papa Mama tahu kalau saya sering dipalakin dan dibully, thus they made a move. Untung banget sekolah yang baru ini temen-temennya baik semua and the transition was very smooth. Those days may be over, tapi efeknya kerasa sampai saya sudah gede — at least sampe SMA dan awal-awal kuliah. Saya jadi picky banget milih temen. Simply because of trust issue. Saya juga punya rasa percaya diri yang rendah dan kecemasan berlebih sampe sulit kalo ngomong ke orang sambil menatap mata. Fortunately, it was all healed when the bunch of right friends came to my life during college time.

Yang saya alami ini termasuknya ngga parah-parah amat yah. Ngga sampe yang menjadikan saya orang brengsek yang melampiaskan balas dendam dengan cara bully balik orang lain. Ngga sampe self-harm. Ngga sampe drugs/alcohol abuse — walaupun pas udah gede doyan bir LOL!! Dan yang paling penting, leher saya masih utuh tanpa ada bekas jerat tali.

Bullying is a serious shit. Mungkin saya bisa memberikan sedikit tips biar anak-anak kita terhindar dari praktek bully — baik sebagai pelaku maupun korban.

1) Small gesture of appreciation won’t kill your neighbor’s dog

Sesimpel mengajarkan anak untuk buang sampah di tempatnya, atau masukkan pakaian kotor ke dalam keranjang lalu jika berhasil, beri anak kita hadiah berupa pujian ataupun tepuk tangan — ini akan sangat signifikan dalam membangun self-esteem anak sih menurut saya.


2) You are Mahatma Gandhi and your kids are Badshah Khan

Ajaklah anak kita nonton Star Wars Episode I-III dan highlight ke anak bahwa Jedi sehebat Anakin Skywalker pun bisa berubah jahat menjadi Darth Vader. Karena apa? Violence! Dia dipapar habis-habisan oleh Darth Sidious untuk jadi jahat.


So yeah, enough with the geeky reference. Jika anak mulai memukul saat keinginannya tidak dipenuhi, intervensi segera dengan memberikan pengertian bahwa that’s not the right thing to do. Ajari anak untuk mengkanalkan energinya secara baik. Caranya? Ya cuma orangtua yang tahu. Untuk kasus anak saya, dia demen banget gebuk-gebuk sesuatu yang empuk. Mungkin kelak bisa saya arahkan untuk menjadi atlet Krav Maga, atau pemain drum. Intinya, teach the kids that violence is not a way to solve problem.


3) Kalau kamu bisa ngepo Lambe Turah seharian maka mendengarkan anakmu menceritakan harinya adalah hal sepele

Baca: Silly Convo #4 - Stop Lambeturah

Kids love attention. Well, adults too. Especially a mom of two named Grace Kristanto. *kabur* LOL. Kepoin anak dengan the most casual way possible — jangan intimidatif. Anak bakal bohong kalau ketakutan gara-gara dicecar secara interogatif — this is my personal experience. I lied a lot to my parents because I was scared. Anyway, anggaplah penting setiap perkataan mereka. Dengan dialog dua sisi macem gini kita bisa tahu mereka habis ngapain aja during our absence. Jangan anggap konyol hal-hal kecil yang membuat mereka excited. Dan sebaliknya, jangan anggap remeh akan ketakutan-ketakutan nonsense mereka. Help them to overcome it.


4) Jangan pandang sebelah mata setiap keluhan

“Halah namanya juga anak-anak.” “Namanya cowo ya berantem wajar. Biarin lah.” HA! Sampai kapan kita mau terus-terusan permisif dengan tindak kekerasan? Menurut saya, pola pikir macam gini juga turut menyuburkan budaya merundung. Intervensi — dengan cara diplomasi terbuka. Via sekolah kek, via WhatsApp grup wali murid kek. Apapun lah.


5) I’m running out of idea. Mau menambahkan di kolom komentar?

Ubii dan Aiden mungkin masih agak lama ya bakal mengecap lingkungan sekolah yang bener-bener dinamis. But I experienced bullying as the worst form of my social life. I was a victim. Now I stand up against bullying. Saya ngga mau anak-anak saya mengalami apa yang saya pernah alami. No one — I said, NO ONE deserves it.




Mungkin sebagai penutup, bolehlah saya melampirkan tulisan dari Anonymous ini (sebenernya pernah saya tulis di blog pribadi saat membahas hipnoterapi keluarga). Menurut saya poin-poin ini bagus sekali untuk pegangan orangtua.

21 MEMO DARI ANAKMU
by Anonymous

1. Jangan manjakan aku. Aku cukup tahu bahwa aku tidak harus memiliki semua apa yang aku minta. Aku hanya mengujimu.

2. Jangan ragu-ragu untuk bersikap tegas denganku. Aku lebih menyukainya, karena itu membuatku merasa lebih aman.

3. Jangan membiarkanku melakukan kebiasaan buruk. Aku harus mengandalkanmu untuk mengetahui baik atau buruknya sesuatu hal di awal-awal kehidupanku.

4. Jangan membuatku merasa kecil. Itu hanya akan membuatku bertingkah dan berusaha untuk "besar" – dengan bodohnya.

5. Kalau bisa, jangan memarahiku di depan banyak orang. Aku akan lebih memperhatikanmu jika kamu berbicara secara halus dan personal.

6. Jangan membuatku merasa bahwa kesalahanku adalah suatu dosa. Hal ini akan mengacaukan batasanku tentang nilai-nilai kehidupan.

7. Jangan lindungi aku dari konsekuensi. Kadang-kadang aku juga perlu belajar dari rasa sakit.

8. Jangan marah saat aku bilang, "aku benci kamu.” Bukanlah kamu, namun kuasamu yang mencegahku melakukan sesuatu, itu yang aku benci.

9. Jangan terlalu menganggap serius penyakit sepele yang aku derita. Kadang-kadang itu hanyalah caraku untuk mendapatkan perhatian lebih darimu.

10. Jangan menjadi menyebalkan dengan mengulang-ulang perkataanmu. Jika kamu melakukannya, aku akan melindungi diriku sendiri dengan berpura-pura tuli.

11. Jangan lupa bahwa aku tidak bisa menjelaskan hal-hal yang kuperbuat dengan baik. Itulah mengapa aku tidak selalu benar dalam menjelaskannya.

12. Jangan membuat janji-janji palsu. Ingat! Aku akan sangat sedih jika janji-janji itu tidak ditepati.

13. Jangan terlalu menuntut kejujuran dariku. Aku sangat mudah berbohong jika ketakutan.

14. Jangan plin-plan. Itu akan membuatku bingung dan rasa percayaku padamu akan hilang.

15. Jangan anggap ketakutanku adalah sesuatu yang bodoh. Ketakutanku benar-benar nyata, dan kamu akan membantuku menghilangkan ketakutanku jika kamu mencoba untuk mengerti.

16. Jangan mengabaikanku jika aku bertanya tentang sesuatu. Jika kamu mengabaikanku, akan berhenti menanyaimu dan mencari tahu jawaban pertanyaanku pada orang lain.

17. Jangan pernah menganggap bahwa kamu sempurna dan tidak pernah salah. Hal tersebut akan mengakibatkan guncangan pada diriku, jika kelak aku tahu kamu tidak sempurna dan pernah berbuat salah.

18. Jangan pernah mementingkan harga diri saat minta maaf padaku. Permintaan maaf yang jujur akan membuatku hormat padamu.

19. Jangan lupa, aku akan tumbuh besar dalam sekejap mata. Bagimu mungkin akan sangat sulit untuk menuntun langkahku. Namun kumohon, cobalah.

20. Jangan lupa, aku suka bereksperimen dan mencoba hal-hal baru. Aku tidak bisa berkembang tanpanya. Jadi kumohon, bantulah aku.

21. Jangan lupa, aku tidak bisa tumbuh kuat tanpa cinta dan pengertian darimu. Namun, aku tidak perlu mengatakannya padamu, bukan?

Tabik!

***

Grace:

Berhubung tulisan Adit udah panjang banget, jadi saya nggak nambahin banyak deh. But, always, for me: let's be our kids' friend.

Menurut saya itu dulu. Jadi teman mereka. Supaya anak nggak segan mau cerita apa saja ke kita, orangtua. Supaya kita nggak menyepelekan keluhan dan masalah mereka. Supaya kemudian kita bisa suportif terhadap mereka.

Ada yang pernah punya pengalaman dibully di sekolah juga?



Love,






Pics credits:
http://www.newsmax.com/Newsmax/files/fd/fdf42238-480a-481e-9788-348883f35949.jpg 
https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/74/ec/2f/74ec2f4431a07d69ebf548b49018d80b.jpg 
https://68.media.tumblr.com/0147ece74d87fcaa28d682ec7ab36ceb/tumblr_obwi05wzu21rhdp6mo1_500.png 


23 comments:

  1. Aku SD pernah dipalak, SMP yang bener2 ngerasain bully, kalau SMA sich nyenengin

    ReplyDelete
  2. Klo aku,bully cuma numpang mampir sedikit tanpa sampai mengganggu banget.

    Tapi aku jadi saksi hidup banget ketika adikku do bully mba.
    Thb 96 ia terlahir dgn kondisi club foot,lalu operasi thn 98'.
    Operasinya berhasil,tapi dia dia harus melewati fisioterapi rutin sampai thn 2001. Ditahun2 pertamanya dia bisa berjalan dgn disangga sepatu besi,lalu akhirnya bisa lepas dan berjalan walau jalannya lambat.

    Dari sd-smk bullynya kenceng banget,udah ga keitung lagi brp kali papa ngadep guru bk ketemu ama anak yg bully adikku.

    Untung sekolahnya ngerti ya,adikku diperhatikan,dibebaskan dri pelajaran olahraga krna g memungkinkan(resiko dislokasi)

    Efek dri bully selama ini tuh terpahat banget ke dia,dia pilih2 teman,ga suka keramaian,susah percayaan ama orang.

    Saat kuliah skrg baru dia ktmu teman2 yg mau berteman ama dia,yang malah penasaran kenapa jalannya gitu dan tidak mmebullynya.

    Butuh waktu lama menyakinkan bahwa ini pasti berakhir.


    Maaf mba curhat panjang ya..
    Dukungan keluarga,org sekitar dan guru mmg sangat penting.

    Semoga ga ada lagi yg bully2 di 2017 ini...

    ReplyDelete
  3. I have that experience about bullying .. and youre right, Mas, it sucks. Aku mengalaminya di usia remaja dr teman yg menganggapku gemuk dan tidak cantik. Satu kalimat pukulan adalah "kamu gak pantas diperjuangkan". It hurts me a lot till now. Kemudian beranjak kuliah, aku tetap dijadikan becandaan karena penampilan fisik. Di pekerjaan, dulunya teman, menghancurkan tim dan karirku lewat kasak-kusuk menganggapku (sempat) dapat posisi bagus krn 'karyawan yg multiface dan gak multitalent'.

    Masih sangat menyakitkan sampai hari ini. Dan aku masih berusaha mengatasi perasaanku. Aku benar2 mengecam bullying, krn kita ga tau apa yg bakal terjadi sm korbannya. Mgkn aku msh ndableg meski mengalami kejadian gak enak aku tau pelariannya msh benar. Kalau yang gak kuat, they will hurt their self bahkan committed to suicide kan.

    Sorry jadi panjang ya Mami, nanti kutulis di blogku lah.Terimakasih sdh menulis ini yaa Mami & Papi Adit.

    ReplyDelete
  4. Aku juga pernah jadi korban bully. Parahnya yang ngebully guru. :'D

    ReplyDelete
  5. Aku pas SD-SMP prnah jdi korban bully, sampai tak laporin ke guru BK saking jengkelnya dan gak bisa ngapa-ngapain

    ReplyDelete
  6. Waktu sd dibully karena ga bisa bahasa jawa wkwkwkk

    ReplyDelete
  7. Aku dulu guru BK,tiap waktu ada aja korban billing...eh pas pindah sekolah,ngajar di Batam,aku pernah jd korban bulliying...

    ReplyDelete
  8. Seingetku blm pnh dibully scr fisik cm klo olok2an srg bgt.

    Aku setuju bgt klo kita hrs jd temen anak2 kita. Krn klo mereka smp nemuin teman lain yg menurut dia nyaman tp sbnrnya salah, bisa bahaya. Aku dr awal udh mulai berusaha mengapresiasi tindakan Aisyah tp ttp ya kdg ada aja hinaan dr org2 dkt. Klo gt aku buru2 menimpali dg kata2 positif.

    ReplyDelete
  9. Aku pernah kena bullying pas SMU, waktu itu dianggap freak, karena bukan termasuk anak yang borju. Tapi aku berani melawan, jadinya dibully habis-habisan.

    Sayangnya pada masa itu,orang tua saya tidak memberikan dukungan, dan menganggap itu biasa, akhirnya saya lari ke game online, dan komunitas forum online. untung nggak sampe suicide atau pergaulan nggak bener. impactnya sampe sekarang nggak pernah mau ketemu sm temen2 lama.

    setuju banget kita harus jadi teman anak-anak kita, supaya anak biasa cerita ke kita. :)

    ReplyDelete
  10. Zaman SMP dan SMA aku dibully verbal karena kulitku item itu teman cowok dan cewek, tapi aku cuek aku ingin tampil dan pelajaran aku bagus, aku pikir karena aku pede mereka merasa terintimidasi makanya bully fisik karena itu tidak bisa kurubah, aku tetap baik kemereka walau dirumah aku suka nangis, kuliah aku tidak dibully lg dan aku terus fokus dgn kelebihanku dan melakukan hal2 positif jd orang tak melihat kekuranganku lg, sekarang kupikir kekuranganku itulah kelebihanku 😀😀😀

    ReplyDelete
  11. Masa-masa SD adalah masa paling nyebelin. Bullying fisik dan verbal aku rasain semua. Tapi polanya semacam ada 1 cowok yang ditakuti semua orang dan dia punya anak-anak buah gitu. Anak itulah yang suka bully aku selama beberapa tahun di SD.

    Saat itu tahun 2000an awal. Dia udah bisa akses internet full dan demen banget nonton video2 porno. Mungkin dari orang tuanya kurang perhatian atau gimana makanya dia jadi nakal banget.

    Suatu hari, dia pernah ngebentak guru di kelasku. Selain itu, ada 1 guru lain yang dia tampar waktu dia dinasehatin tentang kelakuannya. Nggak ngerti lagi deh ini penyakit apa bocahnya kok bisa sampe tebel ati begitu. Aku sempet berdiri buat belain guruku dan langsung nonjok dia di muka. Dia bales nonjok aku di mulut sampe berdarah.

    Lalu aku nangis. LOL. Cemen sekali. Tapi nggak ada anak cewek yang melakukan tindakan semacam itu ke dia jadi... mungkin aku rodo preman juga ._.

    Thank you for writing this Mas Adit dan Mbak Gesi. Semoga makin banyak orang tua yang aware terhadap bullying setelah ini :')

    ReplyDelete
  12. Ya ampun jahat banget ya kok bs temenx mas adit malakin uang jajannya mpe setahun, ckck dh bakat preman ya. Anakku malah ciwek mb, sering nangis kl main bareng temen2nya. Jadi serba salah juga ya antara mau ngebelain apa biarib dia nyelesain masalahx sendiri

    ReplyDelete
  13. Ada-ada aja ya, aku sendiri waktu SD pernah tuh di palak. Dulu kalau gk di kasih bakal di ancam dan dipukul, kalau dikasih barulah mereka pergi.. Setiap orang tentu punya pengalaman yang berbeda-beda. Semoga kedepannya bisa lebih baik, yang dulunya jahat bisa jadi baik :)

    ReplyDelete
  14. Saya guru SD di cilincing, daerah pinggiran di utara jakarta. lingkungan di sini kurang bersahabat bagi anak-anak dan murid saya mayoritas datang dari keluarga kurang mampu.
    bullying tentu saja makanan sehari-hari.
    akhirnya saya beri mereka sosialisasi anti-bullying dengan menampilkan video tentang anti-bullying yang menjelaskan apa itu bullying, apa saja contohnya, bagaimana efek terhadap pelaku dan korban. setelah itu kami membuat poster anti-bullying bersama-sama.
    saat menonton mereka excited dan akhirnya sadar bahwa perilaku buruk mereka selama ini namanya bullying dan efeknya mengerikan. akhirnya mereka pun enggan dicap sebagai tukang bully.
    yeah, they do it simply just because they don't know about it. jadi intinya mereka harus tau apa itu bullying, bagaimana efeknya dan bagaimana cara mencegah terjadinya bullying
    Alhamdulillah setelah itu efeknya terasa. bullying mulai berkurang dan mereka belajar untuk saling menghargai.
    meski ya masih ada saja yang bebal��

    ReplyDelete
  15. Makasih ceritanya mama dan papa ubii.keren banget. ijin share ya...

    ReplyDelete
  16. Aku terbiasa sekolah di swasta, dr TK ampe kuliah. Dan alhamdulillah ga prnh ngalamin bully.. Tp suami yg sempet sekolah di negri, pernah ngalamin. So, jujurnya aku rada tkut nyekolahin anak di negri.. :( apa kebanyakan bgitukah? Tp suami pgn di negri supaya mereka belajar humble, dan jujurnya aku msh ga mudeng knapa supaya jd humble hrs di negri.. Hufft...

    Tp yg ditulis adit bener sih, kyknya solusi utk skr, kita hrs dengerin anak2, seremeh apapun yg dia cerita, dengerin dgn serius.. Aku jg ga pgn anak2ku jd tkut utk cerita hal2 begini.. Dan pgnnya aku mau masukin anakku bela diri nanti, bukan utk menjadi jagoan, tp supaya mereka bisa membela diri

    ReplyDelete
  17. Meski dipindah sekolah akhirnya saat kelas 4, pasti tidak mudah ya. Jadi bayangin anak lanang yang juga sering dibully di sekolah dan di rumah.

    ReplyDelete
  18. "Ada yang pernah punya pengalaman dibully di sekolah juga?"
    ADa...
    Saya di panggil "TO PUI" karena porsi badan pas kelas 4 SD sudah seberat 80 kg.
    Paling Kesal pas pelajaran "Penjas" disuruh lari dan selalu diketawain . . .

    ReplyDelete
  19. Sy jg pernah jadi korban bully..dan ngilangin traumanya susah mb...
    Setiap ketemu orangnya tu rasanya pengen tak lempar bakso panas semangkok..hihihi

    ReplyDelete
  20. Nice posting.. Bullying memang nyebelin banget. Yang sedih lagi kalau ortu ga sengaja bully anaknya sendiri. Semoga kita bs jadi teman untuk anak2 kita ya. Aamiin

    ReplyDelete
  21. Well... saya baca ini berasa flashback sih. Hehehe Menurut saya Hal yang berbahaya ketika anak menjadi korban bully adalah ketika anak mencoba merasakan menjadi sang pembuli. Karena Ketika anak dibully hal yg selalu dicari adalah pelarian (sama aja kan ya kaya orang gede baru putus cinta). Nah bisa contohnya menyiksa hewan,menyiksa adiknya, bahkan menyiksa dirisendiri dll. Alhamdulilah ya saya pelariannya ke game jadi bully aja musuh2 digame hehe.. Bully itu menular loh pak ibu. Dan gak ada anak yg ridho dgn masa kecil yg dibuli (heh pembuli kembaliin masa kecil gw "jancuk"). Bully itu sama aja kaya virus klo menurut saya. Ya jadi tanggapi ini sebagai penyakit yg harus diobati

    ReplyDelete
  22. Aku juga pernah di-bully, karena badan kurus pastinya. Tapi yasudah lah ku anggap itu pujian dan bentuk perhatian. Tanpa disadari dgn membully, berarti pembully memberi perhatian khusus pada kita.

    ReplyDelete
  23. Baca ini gatel pengen komentar, saya di SD juga korban bullying karena rambut saya yang keribo, dan itu setiap hari jadi bahan olok-olok. Tapi saya lawan, kenapa saya berani karena saya punya orangtua yang berani, ketika saya cerita saya dibully mereka langsung berkata "siapa yang berani ngatain anak mama, besok mama dateng ke sekolah, biar mama gamparin tuh satu-satu" well, walaupun mama saya gak benar-benar datang, karena saya larang juga, tapi dengan sikap mama yang begitu saya merasa aman, karena saya tahu kemana harus mengadu dan saya tahu mama akan selalu siap sedia kalaupun saya kenapa-kenapa di sekolah. Akhirnya sih saya jadi anak yang dikenal galak, karena kalau mereka ngatain gak berhenti langsung saya gaplok. Paling dampaknya setelah kejadian itu saya jadi males reuni SD, untungnya SMP dan SMA anak-anaknya lebih baik dan gak senorak anak-anak SD dulu.

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^