Monday, October 7, 2013

Rumah Ramah Rubella



Hidup itu indah. Memiliki anak itu luar biasa. Namun, memiliki anak yang spesial tentu membutuhkan lebih banyak kesabaran, teman berbagi, dan upaya untuk mengusahakan kesembuhannya. Setelah aktif menulis tentang Ubii yang terkena Congenital Rubella Syndrome, ada cukup banyak orangtua yang menghubungi saya untuk sekedar bertukar cerita tentang anaknya yang juga terkena Congenital Rubella Syndrome atau menanyakan langkah-langkah apa yang mereka harus ambil untuk menyembuhkan putra-putri mereka dan di mana mereka bisa menemukan dokter syaraf atau terapis untuk anak-anak mereka. Ada juga sekedar mengungkapkan unek-unek di mana mereka merasa sendiri dan merasa jatuh karena dicemooh lingkungan sekitarnya. Senang sekali rasanya saya bisa menambah teman dan saudara. Syukur-syukur kalau saya bisa membantu dengan memberikan sedikit info. Sayangnya saya tidak selalu mempunyai cukup pulsa untuk membalas pesan-pesan mereka. Hiks.

Terilhami dari keadaan itulah, saya membuat sebuah komunitas bernama Rumah Ramah Rubella.

Apakah Rumah Ramah Rubella itu?

Rumah Ramah Rubella adalah komunitas terbuka yang diperuntukkan khususnya bagi para orang tua dengan anak yang terkena Congenital Rubella Syndrome. Orang tua yang sekedar ingin tahu apa itu Congenital Rubella Syndrome dan dampaknya atau ingin tau tentang fisioterapi, pengasuhan, dll dari anak yang spesial juga boleh bergabung. Di sini kita semua berbagi, belajar, dan berkeluh kesah bersama.

'Rumah' adalah suatu tempat di mana kita merasa diterima oleh keluarga kita. 'Ramah' adalah attitude yang diharapkan antar sesama anggota keluarga. 'Rubella' mengacu pada Congenital Rubella Syndrome yang saat ini menjadi concern kita.

Jadi, harapannya adalah di Rumah Ramah Rubella ini kita tidak merasa sendiri melainkan memiliki sebuah keluarga yang sama-sama berjuang untuk melawan Congenital Rubella Syndrome dan membantu menyadarkan masyarakat tentang bahaya virus Rubella dan pentingnya tes TORCH serta vaksin MMR untuk mencegahnya.


Siapa yang boleh bergabung di Rumah Ramah Rubella?

Komunitas ini adalah komunitas terbuka. Siapa pun boleh bergabung. Memang komunitas ini lebih ditujukan kepada para orangtua dengan anak yang terkena Congenital Rubella Syndrome. Namun, orangtua lain yang anaknya mengalami gangguan kesehatan seperti Down Syndrome, Cerebral Palsy, infeksi virus TORCH lain, dan lain-lain yang membutuhkan informasi dan sharing dari orangtua lain tentang fisioterapi, biaya pengobatan, atau pola pengasuhan anak-anak yang spesial juga sangat boleh untuk bergabung. Para tenaga kesehatan atau orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap Congenital Rubella Syndrome juga sangat diterima di Rumah Ramah Rubella ini. 

Apa tujuan dari Rumah Ramah Rubella?

Tujuan dari Rumah Ramah Rubella adalah:
  1. Untuk tempat berbagi cerita dan belajar bersama dari pengalaman orangtua lain. Juga untuk menyadarkan para orangtua yang memiliki anak dengan Congenital Rubella Syndrome bahwa mereka tidak dan tidak akan pernah sendiri karena mereka memiliki banyak kawan yang berjuang bersama.
  2. Untuk mengkampanyekan pentingnya melakukan tes TORCH dan vaksin MMR sebelum mengandung pada pasangan-pasangan baru. Banyak sekali kasus seperti ini disebabkan karena kami tidak tau apa itu virus Rubella, bagaimana kami bisa terinfeksi, dan apa bahayanya pada janin yang kami kandung sehingga kami TIDAK melakukan tes TORCH dan vaksin MMR sebelum mengandung. Pun, sangat sedikit dokter atau tenaga kesehatan yang menginfokan untuk melakukan kedua hal tersebut sehingga kami juga tidak tau bahwa itu penting.
  3. Untuk pelan-pelan mengurangi jumlah anak-anak yang terinfeksi Congenital Rubella Syndrome ke depannya karena seperti yang saya singgung sebelumnya, kita tidak bisa hanya mengandalkan tenaga kesehatan untuk mensosialisasikan hal tersebut. Lebih lagi, penyakit-penyakit yang timbul dari Congenital Rubella Syndrome sama sekali tidak tercover oleh asuransi (jika diketahui setelah kelahiran) dan belum ada bantuan yang dialokasikan pemerintah bagi anak-anak dengan Congenital Rubella Syndrome sehingga beban para orangtua untuk menyembuhkan anak-anaknya bisa dibilang cukup berat (dari segi biaya).
Mengapa para orangtua yang ekonominya lemah harus dibantu?

Ini disebabkan oleh biaya penyembuhan yang tidak bisa dibilang murah. Sebagai gambaran, biasanya virus Rubella yang menginfeksi ibu yang sedang hamil akan menyebabkan gangguan pendengaran (ringan-berat), gangguan penglihatan (katarak atau retinopati), gangguan syaraf dan motorik, kebocoran jantung (PDA, ASD, dll), mikrosephal (ukuran kepala kecil), hidrosephal (ukuran kepala besar), dan lain-lain. Ini adalah sedikit gambaran tentang biaya yang harus dikeluarkan untuk upaya penyembuhan. Dalam catatan kasar ini, saya ambil contoh dari Ubii, anak saya sendiri, yang memiliki gangguan pendengaran, syaraf dan motorik, TB paru-paru (flek), serta kebocoran jantung (PDA dan ASD):
  • Biaya berkonsultasi dengan dokter syaraf: 300.000/datang.
  • Biaya obat rutin: 100.000-300.000/bulan.
  • Biaya fisioterapi: 60.000/datang (Ubii mengambil 3x seminggu).
  • Biaya membeli kebutuhan fisioterapi: 100.000 (physiotherapy tape, semacam plester untuk meluruskan kaki dan punggung karena kaki dan punggung Ubii cenderung belum bisa lurus), 120.000 (back slab elbow, untuk membantu latihan duduk karena tangan Ubii sering menekuk).
  • Biaya tes darah (untuk mengecek apa Ubii terinfeksi virus TORCH lain): kurang lebih 1.000.000.
  • Biaya CT Scan (untuk melihat apakah otak Ubii terinfeksi): 1.500.000.
  • Biaya ronsen paru-paru: 100.000
  • Biaya tes Mantoux (untuk menegakkan diagnosa TB paru): 110.000
  • Biaya tes Echo (USG Jantung): 500.000/datang.
  • Biaya tes BERA (tes ambang pendengaran): 500.000-600.000.
  • Biaya tes ASSR, OAE, & Tympanometri (untuk men-setting ABD): 900.000.
  • Biaya ABD (Alat Bantu Dengar): setara dengan harga motor matic/telinga.
 
Back slab elbow ketika dipakai

 
Taping ketika dipakai di kaki


Dengan sedemikian banyaknya biaya yang harus kami keluarkan, tentu rasanya sangatlah berat jika kami berusaha sendiri (kalau Ubii juga terkena gangguan penglihatan seperti katarak maka biaya akan jauh lebih besar karena upaya penyembuhannya adalah dengan jalan operasi). Puji Tuhan, banyak yang membantu Ubii terutama keluarga besar (kakek, nenek, pakdhe, budhe, dll). Saya juga sempat menjual motor dan suami saya sempat menjual kameranya. Namun, bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki sanak saudara untuk membantu meringankan beban mereka? Bagaimana dengan mereka yang sudah tidak memiliki apa pun untuk dijual? Tentu hanya bisa berharap uluran tangan dari kita semua yang lebih mampu, bukan? Apa kita yang lebih mampu tega untuk menutup mata? Ketuklah hati nurani kita masing-masing.

Terimakasih teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk membaca tentang Rumah Ramah Rubella. Terimakasih jika teman-teman ikut membantu mengkampanyekan pentingnya tes TORCH dan vaksin MMR sebelum hamil. Terimakasih jika teman-teman terketuk hatinya untuk membantu.
Tuhan memberkati kita semua. :)

Rumah Ramah Rubella bisa dikunjungi di http://www.facebook.com/groups/rumahramahrubella/

Grace

Friday, October 4, 2013

Daftar 10 Hal Bahagiaku, Apa Punyamu?




"... Untuk proses yang tak selalu mudah tapi selalu indah." - Dee Lestari, "Rimba Amniotik", Madre, 75


Sebuah kalimat yang amat sederhana, tapi sangat mengena buat saya. Saya setuju bahwa hidup memang tidak selalu mudah (bahkan sering sukar, ya?), tapi entah kenapa saya selalu menemukan keindahannya jika cukup jeli mencari dan mensyukuri. Besides, if life were easy, what's the point of living anyway? ;)

Malam ini saya menghabiskan waktu sendirian dengan me time yang amat nikmat. Pukul tujuh malam berangkat dari rumah, ke toko buku yang sedang mengadakan pesta buku murah, menemukan buku-buku yang saya sukai dengan harga miring, lalu ngopi-ngopi sejenak di coffee shop baru tak jauh dari rumah, dan akhirnya kembali ke rumah pukul sebelas malam. Ah, nikmatnya. It's been a while since the last time I spent quality time with myself, alone. Sudah lama lupa rasanya ngopi-ngopi duduk santai di pojok coffee shop sambil membaca. Sudah hampir lupa sejuknya bermotor malam-malam saat kendaraan tak lagi lalu lalang. What an amazing night, indeed!

Sampai di rumah, tiba-tiba saja terpikir bahwa ada begitu banyak hal yang bisa saya syukuri dalam hidup saya. Buat saya, hal-hal yang layak disyukuri tak melulu harus hal besar. Hal-hal remeh pun bisa membuat hati sejuk dan rasanya ingin teriak, "GOD, MY LIFE'S PRETTY AMAZING! THANKS A LOT!!!" Tiba-tiba juga jadi ingin membuat daftar tentang 10 hal yang membuat saya bahagia dan bersyukur.

Ini ke-10 hal tersebut:

  1. Suami yang pengertian; yang selalu mengijinkan saya untuk menghabiskan waktu sendirian. Suami yang tidak hidup dalam dunia patriarki sehingga ia tidak mewajibkan saya untuk bisa memasak. Ia pun sama sekali tak keberatan mengerjakan pekerjaan wanita (baca: rumah tangga).
  2. Anak yang luar biasa; yang mengajarkan pada saya untuk menjadi lebih sabar, lebih legowo, lebih ikhlas, dan lebih bersyukur. Ubii adalah guru terbesar dan terhebat saya so far.
  3. Netbook pink kesayangan yang walapun sudah uzur dan lumayan lemot tapi masih bisa menemani saat-saat menulis dan jalan-jalan di dunia maya.
  4. Keluarga, sahabat SMA, sahabat kuliah, sahabat di komunitas New Mom, teman-teman di komunitas Dunia Tak Lagi Sunyi, dan emak-emak di KEB yang selalu membantu, memberi support, dan mendoakan Ubii.
  5. Proyek bikin headbands di Potato-po Baby yang bisa menemani saat-saat me time dini hari.
  6. Customers yang walau belum banyak tapi selalu kembali untuk membeli atau sekedar menyapa.
  7. Jagung bakar Wirobrajan yang enaknya selalu bikin ketagihan dan lupa semua rasa sebal dan capai.
  8. Donat J-Co dan Thai Green Tea di Ambarrukmo Plaza yang selalu berhasil jadi mood booster.
  9. Hello Kitty stuff yang selalu bikin tersenyum centil.
  10. Mbak Yam, PRT pocokan yang datang dua kali dalam seminggu untuk membantu meringankan beban beberes rumah (karena saya sudah kapok memakai jasa PRT yang menginap).

Wah, ternyata saya tidak punya sedikit pun alasan untuk menggerutu dan merasa Tuhan tidak adil.


Ini daftar 10 hal bahagiaku, apa 10 hal punyamu? :)

Wednesday, September 25, 2013

Orangtua Tegas: Yay or Nay?



 
Hola!
Lama sekali saya nggak mengisi blog pribadi ini karena sekarang setiap selo lebih prefer untuk mengisi blog Letters to Aubrey with Rubella. Kangen juga rasanya pada blog ini karena blog ini sudah menemani saya sejak saya masih kuliah. It's been years ago.

Kali ini saya ingin sekali berbincang sedikit tentang dunia parenting. Saya masih baru menjadi ibu. Saya masih butuh banyak belajar, banyak membaca, dan banyak 'mencuri' ilmu dari teman-teman lainnya yang sudah lebih berpengalaman. Itu, saya sadar betul.

Belakangan ini saya sedikit terusik dengan komentar-komentar "Kok kamu tega banget sama Ubii?" atau "Sama anak sendiri kok tega ya, aku sih nggak mungkin bisa tega kayak kamu" dan lain-lain.

Friday, September 20, 2013

Mulai Dari Diri Sendiri Untuk Kemudian Membentuk Seorang Pemimpin Kecil





#LombaBlogNUB
#LombaBlogNUB

“Siapa yang tidak bangga jika si kecil bernyanyi dengan percaya diri dalam pesta ulang tahun temannya? Siapa yang tidak senang melihat ananda dengan semangat mengangkat tangannya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan guru? Siapa yang tidak takjub mendengar aneka pertanyaan yang meluncur deras dari mulut buyung dan upik? Siapa yang tidak terharu ketika anak kita membantu teman yang terjatuh dari sepeda?”

Saya rasa jawaban yang sama akan diberikan oleh setiap ibu; mereka semua pasti bangga jika melihat  buah hatinya melakukan itu semua dan menunjukkan karakter seorang pemimpin. Saya pun sangat mengamini agar kelak anak saya bisa jadi seorang pemimpin kecil.

Karakter-karakter apa saja sih yang dibutuhkan supaya anak bisa menjadi seorang pemimpin? I’m sure every mother has her own answers. But, in my humble opinion, untuk menjadi seorang pemimpin kecil seorang anak harus memiliki karakter berani, aktif, ingin tau, peka, mau berkorban, percaya diri, dan ringan tangan untuk membantu sesama. Namun kemudian saya mencoba bertanya mundur, “Sebelum jadi pemimpin, anak harus ngapain? Kan anak tidak serta merta lahir dengan karakter itu.” Jadi saya sampai pada sebuah jawaban yaitu, sebelum menjadi seorang pemimpin kecil anak sebaiknya memiliki daya juang tinggi dan keinginan untuk terus belajar.


Buat saya pribadi mungkin hal itu tidak akan mudah. Mungkin saya harus menyiapkan banyak hal supaya Ubii berani menjadi seorang pemimpin kecil. Anak saya, Aubrey Naiym Kayacinta, atau lebih akrab dipanggil Ubii, lahir dengan Congenital Rubella Syndrome (CRS) karena saya terinfeksi virus Rubella di trimester pertama kehamilan saya. CRS membuat Ubii memiliki gangguan jantung, gangguan pendengaran, dan gangguan motorik. Gangguan jantung membuat berat badan Ubii sukar naik sehingga di usianya kini yang menginjak 15 bulan, ia masih 7 kg saja. Gangguan pendengaran mengharuskan Ubii memakai alat bantu dengar (ABD). Gangguan motorik membuat Ubii mengalami keterlambatan motorik sehingga di usianya kini ia baru bisa balik badan (tengkurap) saja. Orang –orang yang melihat badan Ubii yang kecil, motoriknya yang amat terlambat, dan telinganya yang dipasangi alat bantu dengar akan bilang bahwa ia anak dengan kebutuhan khusus. Buat saya, Ubii memang tidak biasa, ia tidak seperti anak normal dan biasa yang beruntung lainnya. Ia luar biasa. Itulah yang saya harapkan dari Ubii, bahwa ia kelak dapat menujukkan ketidak biasaannya dalam arti yang baik. 


Ada dua kesadaran besar yang saya dapat sehubungan dengan kondisi Ubii dan harapan saya supaya ia bisa menjadi seorang pemimpin kecil. Firstly, untuk jadi anak dan pemimpin kecil yang berangkat dari kondisi tidak biasa (anyway saya menyebutnya luar biasa, ia membutuhkan ibu yang luar biasa pula. That’s what I intend to be, for her. Bagaimana bisa Ubii menjadi seorang anak dan pemimpin kecil yang aktif, percaya diri, dan tidak minder atas keadaannya jika ibunya sendiri meragukannya hanya karena ia tidak dilahirkan seperti anak-anak sehat lainnya? Anak adalah peniru yang ulung. Jika saya terlihat malu atas keadaannya atau mudah jatuh karena cemoohan orang tentang Ubii, kemungkinan besar Ubii juga akan seperti itu. Maka dari itu, saya yakin bahwa saya harus berbenah diri terlebih dulu. Sebagai langkah awal, saya mau menerima keadaannya dengan ikhlas. Saya mau meyakini bahwa tiap anak dilahirkan special dengan maksud baik dari Tuhan. Saya mau meyakini bahwa keterbatasan Ubii bukan suatu halangan untuk menjadikan ia seseorang yang besar. Saya mau menebalkan hati dan telinga supaya saya tidak mudah jatuh hanya karena ejekan orang atas keadaan putri saya. Ini tidak semudah membalikkan telapak tangan buat saya karena tatapan iba, komentar miring, atau ejekan sering muncul terutama saat saya mengajak Ubii ke tempat umum. Biasanya orang-orang melihat dengan pandangan iba atau aneg pada Ubii. Orang-orang lain yang lebih berani biasanya menanyakan kenapa Ubii kecil, kenapa Ubii tidak seaktif anak lain, atau kenapa Ubii memakai sesuatu di telinganya. Orang-orang yang lebih usil bahkan sampai berani terang-terangan mengejek kondisi Ubii. Jadi, ceritanya suati sore saya mengajak Ubii belanja bulanan di sebuah swalayan yang sangat ramai. Ada seorang ibu yang sedang menggandeng anaknya berjalan berpapasan dengan kami di lorong makanan ringan. Ibu itu dengan jelas menunjuk Ubii sambil berkata pada anaknya, “Tuh lihat dek, ada anak cacat.” Hal-hal seperti itulah yang kadang terasa sulit buat saya. Dulu saya akan langsung terdiam, sedih, dan jadi bête seharian. Supaya saya jadi ibu yang kuat untuk Ubii, inilah langkah nyata yang saya ambil adalah: rutin membawa Ubii ke tempat umum seperti swalayan, rumah makan, laundry, atau pasar. Tujuannya adalah untuk membiasakan diri saya jika Ubii diperhatikan dengan tatapan aneh dan iba serta membiasakan diri Ubii untuk dirinya diperhatikan orang. So far, ini berhasil. Saya jadi makin terbiasa, kebal, dan akhirnya kuat. Semakin ke sini, pola pikir saya menjadi, “Ya memang, Ubii berbeda. Tidak semua orang memahami itu. Tidak semua orang punya cukup empati. Tapi, apa itu akan membuat saya dan Ubii tidak punya empati kelak? TIDAK. Tapi, apa itu akan menutup kemungkinan Ubii untuk jadi pemimpin kecil yang pandai dan berani? TIDAK, asal kami selalu tough dan mau berjuang bersama. Titik.”

Secondly, Ubii harus berjuang keras supaya ia bisa punya karakter seorang pemimpin. Saya sadar betul, it won’t be that easy. But nothing’s impossible, isn’t it? Ubii akan terbekali dengan sifat memaafkan dan tegar, berangkat dari pengalamannya karena ia luar biasa. Tapi tentu sifat itu saja tidak cukup. Jadi inilah rencana-rencana saya untuk menjadikannya seorang pemimpin kecil:

  1. Mengajarkannya menjadi anak yang kenal Tuhan. Menurut saya itu penting supaya Ubii kelak punya pegangan di saat ia jatuh.
  2. Mengejar ketinggalan motoriknya. Ubii harus punya badan yang sehat dan lincah untuk jadi pemimpin yang aktif. Jadi keterlambatan motoriknya harus dikejar. Caranya yaitu dengan fisioterapi rutin tiga kali dalam seminggu. Di rumah pun saya selalu mengurut titik-titik syarafnya setiap selesai mandi seperti yang diajarkan oleh terapisnya supaya perkembangan motorik Ubii makin baik. 
  3. Melatih pendengarannya. Saat ini usia Ubii 15 bulan, tapi Ubii baru memakai alat bantu dengar tanggal 6 Juli lalu. Jadi saat ini usia mendengar Ubii 2 bulan. Untuk membuat Ubii bisa mendengar dan nantinya berkomunikasi seperti anak normal lainnya, saya harus rutin dan telaten melatih pendengarannya. Saya harus sabar karena Ubii mengalami masa sunyi selama setahun lebih. Jadi saya harus mulai dari awal untuk mengenalkan proses mendengar padanya. Awalnya dimulai dari sadar suara, mengenali suara, dan merespon suara. Realisasinya adalah dengan rutin memberikan latihan pendengaran yang bisa saya download dari website. Saat ini latihan kami baru meliputi memperdengarkan ketukan pintu, memperdengarkan musik sambil menari, memanggil namanya sambil bersembunyi, dan mengenalkan vocal dasar. Untuk ke depannya (seiring dengan membaiknya kognitif dan motorik Ubii), saya sudah menyiapkan rencana latihan yang ditemani dengan benda menarik seperti puzzle, buku cerita bergambar, piano suara hewan, dan flashcards.
  4. Mengajarkan Ubii untuk bersyukur atas keadaannya dan berempati terhadap sesama. Realisasinya adalah dengan rutin mengunjungi panti asuhan atau rumah sakit khusus anak berkebutuhan khusus supaya Ubii melihat bahwa masih banyak anak lain yang harus berjuang untuk hidup. 
  5. Mendekatkannya pada alam. Realisasinya adalah dengan membawanya piknik ke tempat terbuka dan ke kebun binatang. Saya berharap Ubii tidak takut pada binatang dan bisa menirukan suara dan gerak-gerik binatang. Jadi saya rasa ide ke kebun binatang akan menyenangkan buat kami dan membuat Ubii jadi pemimpin kecil yang pemberani. 
  6.  Membiasakannya merapikan tempat tidur dan piring kotornya sendiri. Mungkin ini dinilai sepele, tapi saya meyakini bahwa semua kebiasaan baik diawali dari rumah dan keluarga. Jadi saya berharap dengan ini, Ubii bisa menjadi pemimpin kecil yang mandiri dan tidak tergantung pada orang lain.
  7. Membiasakannya menabung. Saya ingin Ubii bisa belajar mengatur uangnya sejak ia kecil. Jadi saya ingin memberikannya uang saku secara rutin dan sebuah celengan. Harapan saya ialah Ubii bisa belajar menyisihkan uangnya dan membeli barang yang ia inginkan dengan jerih payahnya sendiri. Saya ingin mengajarkan bahwa untuk mendapat sesuatu, ia harus berusaha sehingga kelak ia bisa menjadi pemimpin kecil yang gigih berusaha. Semua angpao Ubii dari sejak ia lahir entah itu dari Natal, Lebaran, atau Imlek, selalu saya masukkan ke celengan Ubii. Rencananya uang angpao itu akan saya berikan padanya sebagai ‘modal’ nya untuk belajar menyimpan uang kelak.
  8. Membiasakannya makan di meja makan tanpa ditemani gadget apapun. Hal yang sama berlaku untuk saya dan suami juga. Tujuannya supaya di saat makan kami bisa punya waktu bebas untuk bercerita dan bercanda. Saya meyakini bahwa Ubii tidak akan bisa menjadi pemimpin kecil yang peka jika ia sibuk di dunia maya.
  9. Memberikan permainan-permainan sebagai sarana untuk memberikan informasi baru. Jadi rencananya saya akan membuat banyak flashcards untuk sarana belajar sambil bermain untuk Ubii. Contohnya: saya akan memberikan 3 flashcards binatang dan mendorongnya untuk menyebutkan hal-hal yang ia tau tentang binatang-binatang tersebut. Di akhir permainan saya akan menambahkan informasi yang belum ia tau. Contoh lainnya: saya akan menempelkan flashcards bertuliskan kata bahasa Inggris misalnya lamp, door, dan table. Lalu saya akan memberikan petunjuk ‘Terang, dinyalakan saat malam hari’ sehingga ia bisa menebak bahwa lamp adalah lampu. Tujuannya adalah untuk mengajarkannya hal-hal baru tanpa membuatnya merasa ‘terpaksa’ belajar. Harapan saya, lewat permainan, Ubii bisa memahami bukan sekedar menghafalkan dan ia bisa menikmati waktu belajarnya sehingga ia bisa menjadi pemimpin kecil yang aktif mencari tau. 
  10. Membiasakannya membaca satu cerita per hari. Kebetulan saya dan suami sangat suka membaca. Kami benar-benar merasakan bahwa membaca itu asyik dan bisa memberikan kami banyak hal baru. Harapan saya Ubii bisa menjadi pemimpin kecil yang penuh rasa ingin tau karena ia gemar membaca.

Jadi untuk menjadikannya seorang anak kecil dengan karakter pemimpin, saya akan memulai dari diri saya sendiri; bagaimana supaya saya menjadi ibu yang lebih ‘nrimo’, iklhas, tegar, sabar, telaten, dan selalu mau belajar hal mengasyikkan dalam mengajari Ubii. Kemudian saya akan melatih Ubii untuk mengejar ketinggalannya dalam aspek motorik dan pendengaran, membekali Ubii dengan pengetahuan yang diselingi bermain supaya ia tidak jenuh, namun tidak lupa untuk mengajarkannya menjadi anak yang bisa bersyukur karena hidup ini indah. 


Calon Pemimpin Kecilku :)


Love,

Grace

Urban Mama