Friday, August 15, 2014

Mejeng di For Her Jawa Pos


Hai hai hai, kali ini saya mau berbagi cerita sambil bernarsis ria ya. Hehehe. Pengen cerita tentang pengalaman saya diulas di media cetak Jawa Pos dalam rubrik For Her. Walau ini bukan kali pertama saya diizinkan Tuhan diulas di media, tetap saja pengalaman ini punya warna dan cerita tersendiri untuk saya. Terima kasih untuk Mbak Puspita, reporter yang luwes juga Mas Bayu, fotografer yang sabar untuk kesempatan berharga ini.

Kesempatan ini datang dengan cara sederhana. Suatu siang menjelang sore ada telepon dari Mbak Puspita. Mbak Puspita menanyakan kesediaan saya untuk diulas di Jawa Pos. Kebetulan Mbak Puspita memang sedang mencari sumber di Jogja. Selain saya, ada juga Mbak Herlina Dewi, PimRed Stiletto Book, yang akan ikut diwawancara. Rencananya saya akan diwawancara di kantor Stiletto saja biar sekalian dan Mbak Puspita lebih hemat waktu dan tenaga cari lokasi. Berhubung lokasi nggak di rumah, otomatis saya harus menitipkan Ubii di rumah Eyang nya. Jadi, pertama-tama, saya izin ke suami dulu, boleh nggak. Syukurlah, suami saya yang budiman itu *tsah* kasih lampu ijo. Yeay!

Setelah Mbak Puspita dan Mas Bayu sampai di kantor Stiletto, agenda pertama adalah foto-foto dulu untuk liputannya karena Mas Bayu masih ada tugas lain jadi nggak bisa menunggu kami selesai wawancara. Walau saya amatir, boleh kan saya berbagi tips. Barangkali bermanfaat kalau kalian diulas di media yang butuh foto on the spot juga. Hehehe.

Tips supaya cethar membahana di media cetak ala Gesi:
  1. Sebelum hari-H tanya dulu ke orang media, ada dress code nggak *halah* Takutnya salah kostum kan. Hehehe.
  2. Pilih pakaian yang sopan tapi tetap kamu banget.
  3. Enaknya sih pilih outfit yang adem karena foto-foto itu bisa keringetan loh. (Atau cuma saya ya?)
  4. Kalau info wawancara sudah datang jauh hari sebelumnya, mending pilih pakaian jauh-jauh hari juga biar nggak makan waktu pagi-pagi bingung mau pakai baju apa. Saya nggak pilih baju jauh-jauh hari. Pas hari-H, baru sadar ternyata baju yang saya rencanakan mau dipakai masih di laundry. Ihiks. Gagal deh tampil maksimal.
  5. Kalau kamu ngerasa nggak fotogenik, jangan malu jangan galau minta bantuan fotografer atau reporter nya untuk mengarahkan pose yang oke. Malu bertanya sesat di jalan. Malu minta bantuan alhasil foto nggak cethar.
  6. Kalau kamu terbiasa foto dengan angle dari samping atau memiringkan kepala supaya pipi tembem kamu tersamarkan, PLEASE, latihan dulu foto dengan pose 'normal' di depan cermin. Untuk Jawa Pos, ternyata nggak bolehin narasumber foto dengan gaya alay kepala miring walaupun kita sudah nunjukkin gimana tembemnya pipi kita kalau foto dari depan. Jadi, biar nggak kagok foto dengan angle yang nggak biasanya kita lakukan, mending latihan dulu deh. Hehehe.
  7. Kalau kamu merasa nggak oke difoto sehingga pengen diulang-ulang-ulang sampai ada foto yang kamu rasa paling spektakuler mending, jangan sepelekan pentingnya mencairkan suasana dengan ngobrol dan bercanda bareng fotografer dan reporter. Lumayan bisa nutupin rikuh nya. Mereka juga jadi lebih sabar. Huehehehehe.
  8. Kalau akhirnya kamu beneran nggak juga dapat foto yang oke terus minta ulang-ulang, jangan lupa bilang 'Maaf ya ngerepotin' dan 'Makasih banyak-banyak ya' sama fotografer dan reporternya. Hihihihi.
Sesi foto kemarin bener-bener bikin saya keringetan. Saya terbiasa foto dengan angle dari samping atau memiringkan kepala saya karena pipi saya tuh tembem bukan main. Kalau di foto dari depan, astaga, muka saya jadi pipi semua isinya. Meweknya, Mbak Puspita bener-bener wanti-wanti kalau di Jawa Pos sebaiknya nggak foto model begitu. Hiks. Pupus sudah harapan saya untuk tampil kece di foto. Berhubung sama sekali nggak terbiasa foto dari depan, foto saya jelek terus (Yang mau ngejek silahkan grr). Akhirnya saya sering minta fotonya diulangi. Hehehe. Setelah diulang-ulang, foto saya....masih jelek. Pasrah deh. Aslinya ya begini. Tapi Mbak Puspita nggak membiarkan saya menyerah *tsah bahasanya*. Mbak Puspita yang akhirnya malah makin getol mengarahkan gaya saya dan meminta Mas Bayu untuk mengulangi foto. Syukurlah, akhirnya dapet juga foto yang mendingan (maksudnya muka saya ya, bukan kualitas fotonya) dan nggak alay.

Ini foto saya dengan angle miring dari samping yang ditolak mentah-mentah sama Mbak Puspita. Tapi syukurlah, saya kebagian simpen foto ini buat kenang-kenangan. Hehehe.


Nah ini foto dari depan yang dikehendaki Jawa Pos. Bandingkan sama foto dengan pose dan angle ala Gesi. Yang ini pipi semua, kan? :'))))


Selesai foto-foto, wawancara dimulai. Awalnya Mbak Puspita mewawancara Mbak Herlina Dewi duluan. Saya nungguin sambil ngerusuhin kantor Stiletto. Hehehe. Kelar ngobrol dengan Mbak Dewi, giliran saya pun tiba. So let's get started! Mbak Puspita tampak sudah cukup well-prepared dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Wawancara berlangsung santai dan mengalir sambil ditemani secangkir kopi. Setelah pertanyaan-pertanyaan yang Mbak Puspita siapkan sudah habis, Mbak Puspita bertanya, "Masih pengen cerita tentang apa nih Mbak Ges?" Jadi hari itu saya puas dan seneng banget dengan sesi wawancara nya. Rasanya semua hal yang ingin saya bagikan baik tentang Ubii, Rumah Ramah Rubella, dan buku saya yang berjudul Letters to Aubrey bisa saya ceritakan selengkap-lengkapnya (semoga ya).


Akhirnya profil saya benar-benar ada di rubrik For Her koran Jawa Pos hari Rabu, 6 Agustus 2014 kemarin. Overall saya suka banget dengan tulisan Mbak Puspita. Caranya menceritakan, memberikan judul, memberikan caption foto, dan menggambarkan apa yang saya alami itu pas banget menurut saya. Thank you very much, Mbak Puspita! Thank you, Jawa Pos! :))

Nah ini profil saya yang ditulis oleh Mbak Puspita di Jawa Pos, barangkali ada yang pengen baca tapi nggak sempat beli koran nya. :)

***

Hati Hancur Cinta Tak Luntur

Grace Melia Kristanto, 25, tidak menyadari adanya virus dalam tubuhnya semasa hamil. Hingga kemudian sang buah hati lahir dengan kondisi congenital rubella syndrome. Hatinya hancur. Namun, cinta pada si kecil tak pernah luntur. Bahkan, Grace berjuang membuat wadah untuk orangtua seperti dirinya.

TAK ada yang curiga pada kondisi kesehatan bayi dalam kandungan ketika Grace Melia mengalami demam dan ruam di tubuh. Kata dokter, Grace hanya perlu beradaptasi karena baru pindah dari Jawa ke luar pulau. Apalagi, ini adalah kehamilan pertamanya. Grace yang semula khawatir kembali lega.

Hingga saat anaknya lahir pada 19 Mei 2012. Kondisi bayi yang diberi nama Aubrey Naiym Kayacinta itu tidak begitu baik. Terlambat menangis dan sulit bernapas pertanda ada kelainan pada otak dan jantung. Ubii, panggilan sayang Aubrey, melakoni serangkaian tes. Mulai tes ekokardiografi, tes pendengaran, hingga USG otak. Semua hasilnya merupakan kabar buruk. Grace ditanya dokter, "Dulu ibu kena rubella, ya. Sebelum hamil ibu tes TORCH tidak?"

Untuk kali pertama dalam hidupnya, istri Aditya Suryaputra itu mendengar TORCH dan rubella. "Pulangnya saya langsung googling, ditemani suami. Saya baca sambil bergetar, bahkan tak sanggup melanjutkan bacaan. Semuanya cocok, gejala sejak kehamilan hingga kejanggalan perkembangan Ubii sekarang," kenang ibu muda kelahiran 1989 itu saat ditemui di Jogjakarta pekan lalu.

Ubii mengalami congenital rubella syndrome sehingga menderita gangguan pendengaran berat, kelainan jantung, dan retardasi (kelainan) motorik. Pada kasus sejenis, biasanya anak terinfeksi rubella bawaan alias sejak lahir, mengidap katarak hingga kebutaan. Syukurlah mata Ubii sehat.

Rubella adalah salah satu kawanan TORCH, yaitu toxoplasma gondii (toxo), rubella (campak jerman), cyto megalo virus (CMV), dan herpes simplex virus (HSV). Jika seorang ibu punya virus itu pada dirinya, ketika hamil besar kemungkinan mengakibatkan gangguan kesehatan bawaan yang fatal pada jabang bayi. "Itu pentingnya screening TORCH sebelum hamil. Dampaknya pada anak semengerikan ini. Saya merasa bersalah sekali pada Ubii," ungkap alumnus Sastra Inggris Univeritas Sanata Dharma Jogjakarta tersebut.

Menurut informasi dokter, memang virus yang ada di tubuh ibu tidak bisa hilang. Tapi, ada saat virus itu lemah. Bila kesehatan ibu dijaga dengan baik sehingga virus menjadi lemah, jabang bayi bisa baik-baik saja.

Menghadapi kenyataan itu, Grace shock, sedih, dan putus asa. Tapi dia sadar bahwa Ubii membutuhkan ibu yang kuat untuk menyokongnya menjadi anak yang kuat juga. Grace segera mencari grup diskusi bagi orangtua yang dikaruniai anak-anak seperti Ubii. Selain butuh teman seperjuangan, Grace butuh banyak informasi untuk membesarkan Ubii. "Ternyata banyak anak yang lahir seperti Ubii karena ketidaktahuan orang tua seperti saya. Padahal, dengan screening TORCH dan vaksin, hal seperti ini bisa dicegah," jelas perempuan yang aktif sebagai mami blogger itu.

Grace pun tergerak untuk mengampanyekan sadar TORCH dan mewadahi segala macam informasi tentang rubella. Dia membuat note di Facebook, menulis di blog pribadi, hingga akhirnya berbagi di komunitas parenting. Responsnya luar biasa. "Akhirnya, saya bikin Rumah Ramah Rubella secara online. Ada informasi mulai dari pencegahan sampai penanganan. Kami anggap semuanya keluarga dalam satu rumah yang sedang berjuang bersama," jelas Grace.

Rumah Ramah Rubella dibentuk pada 2 Oktober 2013. Kini lebih dari 1000 anggota bergabung. Dengan Rumah Ramah Rubella, semua bisa saling menyokong. Misalnya di luar pulau jawa, apalagi di Jayapura, masih banyak kekurangan tenaga medis. "Ada anggota dari Jayapura mau CT-scan anaknya di Jakarta dibantu anggota di Jakarta. Ditampung menginap dan direkom rumah sakitnya," cerita Grace mencontohkan.

Rumah Ramah Rubella pun membuat channel YouTube untuk melihat video sesi fisioterapi dan panduannya untuk bisa dilakukan sendiri di rumah. "Tidak semua orang tua punya akses membawa anaknya fisioterapi. Terkendala jarak atau biaya, video ini bisa membantu," imbuh Grace yang belum berencana menambah momongan karena masih ingin fokus membesarkan Ubii itu.

Beberapa kali Grace atau Rumah Ramah Rubella mendapat kesempatan untuk tampil di depan publik seperti diundang ke acara talk show atau pembicara di seminar-seminar parenting dan kesehatan. Tentu saja ini disambut gembira. "Impian kami, bahaya TORCH itu dapat diketahui sebanyak mungkin orang," harap Grace.

Perempuan yang tahun ini terpilih sebagai Kartini Next Generation versi Kementrian Komunikasi dan Informatika itu ingin orang aware TORCH sebelum tertular dan menurun pada anaknya. (puz/c17/ayi)

BERDASAR PENGALAMAN: Grace dalam salah satu gathering yang diadakan Rumah Ramah Rubella

***

Bukukan Perasaan di Letters to Aubrey

PADA minggu-minggu pertama kelahiran Ubii, Grace belum tahu apa yang terjadi pada buah hatinya itu selain kebocoran jantung. Ubii sangat rewel. Tidak bisa berhenti menangis kecuali ditimang dan didekap untuk diberi ASI. Datang ke dokter, Grace dihujani diagnosis yang membuatnya langganan menangis di depan dokter. Hati yang berkecamuk membuat Grace setengah hati mengurus Ubii.

"Sebelum tahu Ubii nggak bisa dengar, aku cerewet sekali. Mengajak ngobrol dan nyanyi setiap waktu. Sering mendongeng juga. Setelah itu, jadi merawat dalam diam," kenang Grace yang baru mengetahui kondisi Ubii beberapa bulan setelah melahirkan.

Grace dan suami, Aditya, memutuskan hidup mandiri, terpisah dari orangtua sejak menikah. Mereka hanya merawat Ubii berdua. Keduanya sering uring-uringan dan berujung pada pertengkaran karena capek dan tidak mau saling mengerti.

"Hal sepele bisa jadi masalah, saling menuntut. Waktu itu kami masih belum deal with all these things. Kami berdua sampai ikut hipnoterapi pasangan lho. Akhirnya saya dan suami sepakat, kami butuh manajemen stres yang bagus demi Ubii," kenang Grace menghadapi masa sulit itu.

Mereka mulai saling menghargai keluhan pasangan. "Saya capek, papinya siap menggantikan. Begitu pula kalau Papi bilang capek, saya sama sekali tidak akan menuntut macam-macam. Kalau dua-duanya capek, Ubii dititipkan sama eyang dan kami punya waktu berdua," jelas Grace.

Dengan kekompakan, mereka berharap Ubii tumbuh menjadi anak yang kuat dan percaya diri. Grace bersyukur suaminya selalu mendampingi apa pun agenda untuk Ubii, seperti melakoni berbagai tes, berobat, hingga kunjungan fisioterapi. Grace memilih menulis di blog untuk menyalurkan semua hasrat "cerewet"-nya pada sang buah hati. "Saya nggak sabar pengin ngobrol sama Ubii. Jadi, saya bikin semacam surat di blog untuk dibaca Ubii kelak. Biar suatu hari nanti, Ubii tahu orangtuanya selalu cinta sama dia," jelas Grace.

Isi surat-surat itu berisi curhat, cerita keseharian, tindakan medis, kisah manis, hingga terapi yang dijalani Ubii di rumah. Saat ini surat-surat di blog itu sudah dibukukan dengan judul Letters to Aubrey. "Bisa jadi kisah penyemangat dan informatif ibu-ibu seperti aku. Sebagian hasilnya disumbangkan untuk Rumah Ramah Rubella," kata Grace. (puz/c7/ayi)

ANUGERAH ISTIMEWA: Grace dan suami, Aditya Suryaputra, serta si kecil Aubrey.


***

Yang Sering Ditanyakan pada Grace

Apa itu Rubella?
Rubella atau campak jerman adalah virus yang ditularkan lewat cairan tubuh penderita, bisa air liur maupun darah. Bagaimana sampai ada virus rubella yang masih belum diketahui sampai sekarang. Rubella termasuk dalam virus TORCH.


Apa dampaknya pda ibu hamil?
Pada ibu hamil, virus rubella mengakibatkan sang ibu demam akut, mata berair karena infeksi, sendi-sendi ngilu, dan keluar ruam di sekujur tubuh. Ibu hamil menularkan virus tersebut ke anak sehingga anak mengalami congenital rubella syndrome atau rubella bawaan.

Apa yang terjadi pada anak dengan congenital rubella syndrome?
Jantung bocor, gangguan pendengaran, katarak, microcephally, retardasi psikomotorik, dan kognitif.

Adakah upaya peneymbuhannya?
Tidak bisa berharap untuk sembuh 100% dan seperti anak-anak sehat kebanyakan. Tetapi, satu per satu bisa diringankan dengan pola asuh, pengobatan medis, dan berbagai terapi. Misalnya, menggunakan alat bantu dengar, operasi katarak, dan fisioterapi.

Bagaimana mencegahnya?
Melakukan tes pre-marital atau screening TORCH untuk memastikan kondisi ibu sehat siap hamil. Juga, disuntik vaksin MMR, yakni Measles (campak), Mumps (gondongan), dan Rubella (campak jerman).

Mengapa rumah ramah rubella?
Mengampanyekan bahaya TORCH sehingga bisa dicegah. Berbagi informasi dan saling menguatkan untuk mengasuh anak-anak yang spesial. Selain itu, ingin mewadahi donatur untuk membantu orangtua yang tidak mampu mengobati putra-putrinya di masa mendatang. Sebab, biayanya sangat mahal. (puz/c15/ayi)

APRESIASI: Terpilih sebagai Kartini Next Generation 2014 versi Kemenkominfo
***
Selain versi cetaknya, ternyata ada juga versi online nya. Hehehe. Nggak selengkap di versi cetak sih. Bisa diintip di sini.



Kayaknya itu dulu deh di postingan ini. Semoga tips foto saat diulas di media cetak bisa terpakai. Huahahaha. Semoga info seputar TORCH, khususnya Rubella ini bisa bermanfaat buat kita semua ya. :)



Love,


Ges



Thursday, August 14, 2014

[REVIEW] StimuLearn Rumah Cerita: Asah Kemampuan Berbahasa Anak Tuna Rungu


Anak tuna rungu membutuhkan nutrisi dan stimulasi ekstra untuk memaksimalkan tahap awal tumbuh kembang mereka supaya bisa berkomunikasi layaknya anak normal. Kebetulan, saya dipercaya menjadi ibu dari seorang putri tuna rungu bernama Aubrey (26 bulan). Tuna rungu bukan berarti Aubrey sama sekali tidak bisa mendengar. Aubrey baru bisa mendengar suara atau bunyi di kekuatan 95 dB, setara dengan deru pesawat. Syukurlah, teknologi semakin berkembang. Aubrey bisa memakai hearing aids untuk memperbesar volume suara di sekitar sehingga ia bisa menangkapnya.

Yang belum banyak diketahui adalah.. pasca menggunakan hearing aids bukan lantas Aubrey langsung mendengar. Perlu proses untuk menyadari, mengenali, dan merespons suara sebelum berlanjut belajar bicara. Di sini lah peran saya untuk memberi stimulasi yang tepat.

Tuesday, July 29, 2014

CHSI-ABK

CHSI di RCTI artinya Catatan Hati Seorang Istri. Siapa sih yang nggak kenal sama Mbak Hana, Mas Bram, dan Karin yang sudah mencoreng nama Hello Kitty idola saya? Kayaknya semua pernah denger deh tentang CHSI karena emang booming banget. Sangking booming nya, sekarang ada juga tuh jilbab Hana, maksudnya jilbab dengan model yang sama seperti jilbab tokoh Hana di CHSI. Hihihi. Tapi emang sih, CHSI itu asyik ditonton. Saya pun suka. Suka gemes sama Karin maksudnya --_______--

Sumber
CHSI saya bukan Catatan Hati Seorang Istri yah. CHSI saya CHSI-ABK, yang artinya Catatan Hati Seorang Ibu (dengan) Anak Berkebutuhan Khusus. Maksa yak? Biarin. Huehehe. Kepikiran untuk bikin blogpost ini setelah baca sebuah tulisan yang berjudul You Know We Have a Special Needs Child, But Here are 10 Things We Migh Not Have Told You. Tulisan itu berisi tentang isi hati seorang ibu bernama Hannah yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus.

Monday, July 21, 2014

Pengumuman #HONESTLY Giveaway Nokia Lumia 1520

Mungkin ini adalah blogpost yang paling ditunggu-tunggu minggu ini. Jiahahaha. Maapkeun atas ke-geer-an akut saya. Yes, this blogpost is the announcement of the winners for #Honestly Gue Banget Giveaway yang saya adakan dengan disponsori oleh Nokia Indonesia. Sebelumnya, saya mewakili sponsor, yaitu Nokia Indonesia, pengen minta maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan pengumuman pemenang ini. Semoga dimaapkeun ya temans. :))

Honestly, is there anyone of you yang ngerasa bakal menang? Hihihi. Nggak apa-apa, pede itu kadang juga lebih baik kok daripada minder nggak berkesudahan. Jadi, siapa yah yang beruntung di #Honestly Gue Banget Giveaway inih? *sok misteriyus dulu*

Honestly, memilih siapa yang menang itu sama sekali nggak gampang. Rasanya pengen deh menangin semua. Saya tuh orangnya nggak tegaan. Tapi kali ini harus harus harus bisa objektif. Menilai tulisan, bukan berdasarkan kenal orangnya atau enggak, temenan sama pesertanya atau enggak, dan blablabla lainnya. Syukurlah, akhirnya saya bisa menunaikan tugas mulia ini. Tsaah.

And there you go,

Pemenang ke-3 yang berhak mendapatkan 1 buah body kit dari The Body Shop:


Nama: Nural Fafa
Twitter: @nuralfafa
Judul: Realarm Lumia Gue Banget: Makin Keren, Anti Telat, Inget Terus-Terusan
Komentar:
Tulisan ini boleh dibilang lain dari yang lain. Kalau tulisan lain menyebutkan banyak aplikasi yang ingin di-pin di Live Tiles Nokia Lumia, Mbak Nural hanya menyebutkan satu aplikasi saja, yaitu Realarm. Sebagai pengguna Nokia Lumia, Mbak Nural tau banget serunya menggunakan Live Tiles dan aplikasi di Nokia Lumia. And that's what she wrote. Just Realarm, tapi Mbak Nural menjelaskan dengan detil tetek bengek Realarm sehingga pembaca yang nggak punya Nokia Lumia bisa mendapatkan hal yang informatif. Pembaca jadi tau apa itu quick alarm, custom sound, dan kayak apa sih Realarm kalau di-pin di Live Tiles. Poin plus lainnya adalah Mbak Nural juga menyertai tulisannya dengan capture Live Tiles dan Realarm miliknya. Kayaknya blogpost di blog Mbak Nural masih dikit ya.. Semoga dengan ini jadi makin semangat ngeblog nya. ^__^

Pemenang ke-2 yang berhak mendapatkan 1 buah dompet Nine West:


Nama: Noniq
Twitter: @noniqdiary
Judul: Ini Live Tiles-nya Noniq
Komentar:
Mbak Noniq bukan pemakai Nokia Lumia, tapi effortnya dalam #Honestly Gue Banget Giveaway ini kerasa banget dari usahanya mengedit gambar Live Tiles Nokia Lumia sehingga gambar Live Tiles nya berisi ikon aplikasi-aplikasi yang memang Mbak Noniq pengen. Terus, Mbak Noniq juga menjelaskan alasan masing-masing aplikasi yang pengen di-pin di Live Tiles dengan cara penyampaian yang asyik banget. Singkat aja. Nggak perlu berpanjang-panjang pun, karakter asyik dan seru-nya kerasa. Pas banget sama message yang pengen disampaikan sama #Honestly, yaitu asyik dan seru. Tulisan Mbak Noniq bikin nyeletuk dalam hati, "Iya nih, ini mah Noniq banget."

2 orang pemenang utama adalaaaahh..... *drumrolls*
Buat yang belum tau, jadi #HONESTLY giveaway ini diadakan serentak di 12 blog penyelenggara. Juara utama dipilih oleh Nokia dari usulan kandidat juara utama yang diberikan oleh kami, 12 blogger penyelenggara.



Pemenang utama yang berhak mendapatkan cincin emas dengan inisial N:

Nama: Angga Zulika Ramadhani
Twitter: @sikonyols
Judul: Nokia Lumia, Aku Pada Mu!! (via blog Grace Melia alias saya, hihi)
Komentar:
Nggak memiliki Nokia Lumia jelas bukan halangan untuk Mas Angga dalam #Honestly Gue Banget Giveaway ini. Tulisan Mas Angga menunjukkan kalau ia semangat banget untuk cari tau fitur-fitur dalam Nokia Lumia. Itu jelas banget keliatan dari tulisannya. Banyak gambar Nokia Lumia yang Mas Angga ambil dari internet sebagai pelengkap. Tiap aplikasi yang ingin ia pin disertai dengan gambar/logo. Nggak cuma itu, Mas Angga juga membuat semacam ilustrasi dari gambar Nokia Lumia sehingga gambar pertama dalam blogpost nya langsung menarik perhatian. Blogpost nya juga dilengkapi dengan video tentang Live Tiles Nokia Lumia yang ia comot dari YouTube sehingga pembaca yang belum punya Nokia Lumia bisa tau dengan jelas cara kerja Live Tiles. Gaya bahasanya pun renyah *krupuk kali renyah?!*. Tulisannya emang panjang, lebih dari 1200 kata (WOW) tapi sama sekali nggak bikin bosan karena penyampaianya asyik dan seru. Pas banget seperti message yang dibawa oleh #Honestly. Congrats, Mas Angga. I, too, feel happy for you! :))

Pemenang utama yang berhak mendapatkan cincin emas dengan inisial L:

Nama: Nathalia Diana Pitaloka
Twitter: @sweetdonath
Judul: #Honestly, Saya Kepingin Banget Nokia Lumia (via blog Asa Cinta milik Mbak Murtiyarini)

Daannn, saya punya sedikit hadiah tambahan nih. :))

Apresiasi untuk peserta pertama di #Honestly Gue Banget Giveaway yang berhak mendapatkan 1 buah buku saya, Letters to Aubrey:



Nama: Harvinavera
Twitter: @harvinavera
Judul: I Will Pin These on Live Tiles!

Apresiasi untuk tulisan ter-favorit saya yang berhak mendapatkan baby gift dari saya:

Sumber


Nama: Rahmah
Twitter: @amma_chemist
Judul: Live Tiles Lumia yang Gue Banget


Selamat ya untuk teman-teman yang terpilih. Yang belum beruntung, jangan berkecil hati ya. Mari tetap semangat ngeblog. Cihuy tralala trilili. Once again, thank you so much atas partisipasinya. Sampai jumpa di giveaway selanjutnya. ^___^


Thursday, July 17, 2014

Ekoyunia, Berbagi Tanpa Perlu Menunggu Ramadhan

Ramadhan memang identik dengan berbagi. Berbagi rezeki, waktu, tenaga, dan pikiran. Atau apa pun, asal bukan berbagi pasangan. Err. Sebagai non-Muslim, mungkin saya nggak punya kenalan sosok yang berbagi di sekitar masjid. Tapi saya ingin berbagi tentang sosok ini, yang setau saya selalu mau berbagi, terutama untuk anak berkebutuhan khusus, tanpa peduli kapan, tanpa harus menunggu Ramadhan.
Sumber
Saya memanggilnya Mbak Nia. Ia adalah fisioterapis Ubii anak saya. Saya sudah mengenal wanita kelahiran 12 Juni 1984 ini kurang lebih 1,5 tahun. Untuk tulisan ini, saya melakukan wawancara kecil sambil menunggui Ubii fisioterapi.:)


Saya rasa semua teman-teman Muslim pasti ingin menyambut Ramadhan dengan suka cita maksimal. Salah satunya dengan tarawih. Tarawih bersama di masjid tentunya membuat suasana Ramadhan lebih terasa. Tapi Mbak Nia sudah puas dengan shalat di rumah, karena ia tetap bekerja di waktu tarawih. Alasannya, "Ndak tega Bu kalau banyak yang ndak kebagian jatah terapi."

Kalau boleh jujur, jawabannya membuat saya heran. Kayaknya dedikasi Mbak Nia nggak kurang. Setiap Senin-Sabtu ia memberi fisioterapi di sebuah rumah sakit mulai jam 8 pagi sampai 12 siang. Setelah itu berlanjut di sebuah klinik pribadi seorang dokter sampai jam 9 malam. Istirahat dan makan siang dilakukan di rumah sakit atau klinik. Jadi Mbak Nia baru pulang ke rumah di atas jam 9 malam. Pernah beberapa kali baru selesai jam 10.30 malam. Lagi-lagi alasannya, "Ndak tega Bu karena pasien dari luar kota."

To my surprise, hari Minggu yang biasanya kita pakai untuk off dari urusan kerja pun masih dipakai untuk membagikan kemampuannya sebagai fisioterapis. Ternyata sering ada pasien yang datang ke rumah hari Minggu. Terus kapan istirahatnya? Lagi-lagi jawabannya, "Ndak tega Bu apalagi kalau pasien dari luar Jogja."

Saya memang orangnya kepo. Jelas saja saya tanya,

"Emang nggak capek, Mbak?"

"Sudah biasa, Bu."

"Emang kalau bulan puasa tetap harus nerapi sampai malam? Ndak boleh cuma sampai jam 5 gitu? Biar bisa buka di rumah terus tarawih."

"Boleh kok, Bu. Sebetulnya Prof (sebutan untuk dokter di klinik tempat Mbak Nia fisioterapi) itu terserah saya. Saya mau nerapi sampai jam berapa. Cuma sampai sore ya boleh. Wong misale saya mau libur nerapi di klinik selama bulan puasa aja boleh kok."

"Lhah...terus kenapa tetep full, Mbak? Masa ya ndak pengen tarawih?" (Saya masih ngotot).

"Kemanusiaan, Bu. Kasian yang ndak dapet jam (untuk fisioterapi). Kalau libur fisioterapi terus jadi kaku. Kalau kaku itu rasanya ndak enak, nyeri. Nanti rewel, nangis terus."

Maklum ya kalau saya ngotot. Selain memang saya ngotot-an (HAHA), saya lihat menerapi anak nonstop dari pagi sampai malam itu jelas butuh tenaga. Lha wong saya menerapi Ubii di rumah yang cuma setengah jam saja kadang capek. Padahal cuma setengah jam. Padahal cuma satu anak. Sedangkan Mbak Nia dari pagi sampai malam dengan durasi masing-masing anak selama satu jam. Belum kalau anaknya rewel sehingga Mbak Nia butuh tenaga ekstra untuk menenangkan. Belum kalau gigi anak sudah tumbuh sehingga jari Mbak Nia digigit saat terapi oral. Bahkan pernah jarinya sampai berdarah sangking dahsyatnya gigitan si anak. Belum kalau ada anggota keluarga yang menunggui anak fisioterapi yang nggak tegaan terus jadi menyalahkan Mbak Nia karena menganggap Mbak Nia menyakiti si anak. Biasanya sih ini para Eyangs. :))


Tentang dianggap menyakiti karena Eyang nggak tega-an sudah bukan hal baru. Pernah ada Eyang yang sontak menyuruh Mbak Nia berhenti  karena cucunya nangis. Pernah ada Eyang yang cucunya kebetulan demam sehari setelah fisioterapi, lalu jadi menyalahkan Mbak Nia. Ada juga yang lebih ekstrim. Ada Eyang yang sangking nggak tega nya, nggak memperbolehkan si cucu untuk fisioterapi lagi. Padahal jelas motorik si cucu terlambat. Hmm......


Namanya pekerjaan pasti ada suka dan dukanya. Menurut Mbak Nia suka yang ia rasakan adalah saat ia masuk di Kick Andy episode Ubii menjadi narasumber. Nggak dink, bercanda. Suka yang ia rasakan adalah saat ia tahu kalau ada anak yang mengalami kemajuan. Dan memang, saya yakini itu benar. Buktinya, setiap Ubii ada kemajuan, padahal kecil sekali, yang mungkin buat orangtua dengan anak normal bukan dianggap sebagai kemajuan, selalu ditanggapinya dengan mata berbinar. Kalau Ubii nggak menangis saat fisioterapi atau merespons fisioterapi dengan baik, Mbak Nia selalu memberikan pujian sederhana pada Ubii. Apresiasi sederhana itu membuat saya makin semangat padahal mungkin saya berangkat dengan hati kusut atau badan capek. Nah, dukanya Mbak Nia akan merasa ikut sedih kalau si anak nggak mengalami kemajuan.


When we do something wrong, people judge us. When we do something right, people still judge us. Itu dialami sendiri oleh Mbak Nia. Dedikasinya yang tinggi sampai mengorbankan waktu tarawih, ternyata dianggap karena Mbak Nia mengejar materi semata oleh beberapa orang. Mbak Nia menganggapi itu dengan woles santai. "Kalau saya ngejar materi, ya saya dah buka praktik sendiri aja dari dulu toh, Bu," ujarnya ringan. Ada lagi kejadian yang kurang mengenakkan yang pernah ia alami di bulan Ramadhan. Pernah H-1 Idul Fitri, ada ibu yang mengirimkan SMS pada Mbak Nia karena ingin anaknya fisioterapi. Apesnya, saat itu HP Mbak Nia sedang rusak dan mati seharian. Ibu tersebut tampaknya sakit hati. Seminggu kemudian, SMS bernada kurang enak diterima Mbak Nia dari ibu tersebut. Bunyinya:

Sebagai tenaga medis Anda harusnya selalu siap kapan saja. Saya sekarang sudah menemukan terapis yang jauh lebih baik dari Anda.

Jujur saja, saya sebagai sesama ibu pasien ikut gemas. Fisioterapi bukan sesuatu yang urgent. Beda dengan misalnya anak jatuh dari tempat tidur lalu muntah, sesak napas, atau kejang hebat. Kalau ditolak oleh UGD, wajar kita marah sebagai ibu. Lagipula, misalkan di H-1 Idul Fitri Mbak Nia memilih untuk menghabiskan waktu bersama keluarga nya pun toh sah-sah saja dan wajar banget, kan?

Itulah sekelumit cerita tentang Mbak Nia yang bisa saya bagikan. Dari Mbak Nia, saya belajar bahwa apa pun yang dilakukan dari hati akan terasa menyenangkan. Dari Mbak Nia, saya belajar bahwa ketika kita melakukan sesuatu dari hati, kita akan merasa ikut bertanggungjawab terhadap kebaikan sehingga melakukan yang terbaik. Dari Mbak Nia, saya belajar bahwa nggak ada batasan untuk berbagi. Dari Mbak Nia, saya belajar bahwa berbagi selalu bisa dilakukan kapan saja, tanpa perlu menunggu datangnya Ramadhan.