Tuesday, December 10, 2013

Edukasi TORCH untuk Masyarakat Indonesia

Puji syukur, tulisan ini diapresiasi sebagai
Karya terpilih untuk ikut dibukukan dalam antologi 
Mereka Bicara Fakta


***

Membicarakan sistem kesehatan di Indonesia memang rasanya tak akan ada habisnya. Selalu banyak unek-unek dan keluh kesan berkaitan dengan bagaimana masyarakat menikmati sistem kesehatan di negara tercinta kita ini. Unek-unek yang dikeluhkan pun beragam mulai dari biaya kesehatan yang tak terjangkau bagi kaum dhuafa, mengularnya antrian untuk menemui dokter karena dokter-dokter di Indonesia terbatas jumlahnya sehingga harus praktik di banyak tempat, salahnya diagnosa atau dosis yang diberikan dokter atau apoteker, serta minimnya peran serta tenaga kesehatan untuk mensosialisasikan isu kesehatan yang sebenarnya urgent. Unek-unek terakhir ini lah yang ingin saya angkat dalam tulisan kali ini. Tulisan ini lahir dari pengalaman pribadi saya dan teman-teman yang kecolongan terjangkit virus karena ketidaktahuan kami untuk waspada dan karena minimnya edukasi dari dinas kesehatan.

Cerita kelam kehamilan saya

Saya berusia hampir 23 tahun saat saya mengandung. Kehamilan yang belum direncanakan ini membuat saya cukup kalang kabut dan kebingungan. Mengingat saya dan suami yang masih di usia produktif yang sedang getol-getol nya bekerja dan mengejar karir, kami memutuskan untuk menunda momongan. Tapi, Tuhan berkata lain. Ia melengkapi kodrat saya sebagai perempuan dengan mengirimkan janin dalam rahim saya. Saya menjalani kehamilan dengan santai. Tak pernah sedikit pun terbersit pikiran yang negatif melihat semua kawan saya yang sudah lebih dulu hamil tidak mengalami gangguan apa pun. Suatu hari di trimester pertama kehamilan saya, saya merasa tidak enak badan. Yang saya rasakan saat itu adalah lemas luar biasa, pusing, dan nyeri pada sendi otot saya. Mata saya pun mudah berarir dan saya juga sempat mengalami demam tinggi selama 3 hari. Saat membawa keluhan-keluhan ini pada dokter spesialis kandungan, beliau mengatakan bahwa saya masuk angin biasa. Saat itu saya masih tinggal di Sangatta, sebuah kota pertambangan kecil di Kalimantan Timur. Lingkungan, udara, dan air yang tidak higienis membuat saya memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta, kota asal saya. Di Yogyakarta, saya sempat berganti dokter spesialis kandungan sebanyak 3 kali. Sama dengan dokter di Sangatta, ketiga dokter spesialis kandungan di Yogyakarta pun juga meyakinkan bahwa kehamilan saya sehat wal'afiat.

Buah hati saya lahir dengan banyak 'kado'

Akhirnya, lahirlah putri saya pada tanggal 19 Mei 2012. Namanya Aubrey Naiym Kayacinta. Banyak harapan yang saya sematkan dalam namanya. Namun, Aubrey tidak seperti bayi-bayi pada umumnya. Aubrey selalu rewel siang dan malam. Ia hanya diam ketika menyusu dan tidur. Selebihnya ia selalu menangis. Di samping itu, Aubrey juga sangat kaku. Ia tak seaktif bayi-bayi seusianya. Aubrey, saat terjaga, hanya mampu tiduran di kasur tanpa menggerakkan anggota tubuhnya. Hanya kepala saja yang ia mampu gerakkan. Itu pun dengan posisi yang aneh, yaitu mendangak, padahal posisi mendangakkan kepala sangat tidak lazim. Melihat itu tentu saya tak bisa diam. Saya membawa Aubrey menemui dokter spesialis anak. Sampai 4 dokter yang saya temui hanya untuk mendapatkan jawaban atas kekakuan dan ketidakaktifan Aubrey. Alih-alih mendapat jawaban yang saya cari, saya malah mendapat ucapan-ucapan seperti Ya ampun Bu, ini bayinya ndak apa-apa. Wong sehat gini. Ibu masih muda sih jadi gampang parno ya Bu. Jujur, saya sakit hati. Bukan ucapan seperti itu yang saya ingin dengar. Bukan tuduhan bahwa saya parno yang ingin saya dapatkan. Saya memang masih muda. Saya mungkin tidak sepengalaman ibu-ibu lain yang sudah lebih matang secara usia. Namun, saya tetap memiliki yang kita sebut dengan naluri seorang ibu. Dan naluri saya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Belum mendapat jawaban yang memuaskan atas keadaan Aubrey, saya menemukan hal mencengangkan lain. Aubrey sama sekali tidak bereaksi terhadap suara! Saya mencoba bernyanyi dan membanting pintu keras-keras tapi Aubrey tetap tidak merespon. Puncaknya saya meniup beberapa balon lalu saya letuskan balon-balon itu di dekat telinga Aubrey ketika ia sedang tidur. Ia tetap terlelap. Maka saya yakin there is absolutely something very very wrong with my daughter. Saya kembali membawa Aubrey ke dokter spesialis anak. Kali ini beliau berkata bahwa wajar kalau Aubrey belum merespon suara karena ia masih berusia 5 bulan. Wajar gimana sih? Semua literatur yang saya baca menegaskan kalau bayi  5 bulan seharusnya sudah mulai merespon suara kok. Akhirnya saya memaksa beliau untuk memberikan surat pengantar untuk melakukan tes BERA (tes untuk mengetahui ambang dengar) untuk Aubrey.
Hasilnya: Aubrey mengalami gangguan pendengaran sangat berat. Ia baru bisa mendengar di 105 dB, suara itu setara dengan suara pesawat. Orang-orang normal berkomunikasi di 25-30 dB.

Hasil tes BERA Aubrey
Posisi mendangakkan kepala
Aubrey sedang menjalani CT Scan
Aubrey sedang menjalani tes ASSR
Aubrey and her hearing aids

Setelah mendapat hasil tes BERA, saya membawa Aubrey menemui dokter spesialis anak kembali. Baru lah beliau bertanya, "Dulu TORCH Ibu gimana?" Saya baru mendengar TORCH detik itu juga. Kemudian Aubrey melakukan tes darah untuk screening TORCH. Hasilnya Aubrey positif terinfeksi virus Rubella saat ia masih berada dalam kandungan. Singkat cerita virus Rubella menyebabkan Aubrey mengalami kebocoran jantung (PDA dan ASD), mikrosefali (ukuran kepala kecil), encephalitis (pengapuran otak), TB paru-paru, retardasi psikomotorik, gangguan berat badan, dan gangguan pendengaran sangat berat. Saat ini di usianya yang ke 18 bulan, Aubrey masih 8 kg saja dan baru belajar duduk. Semua perkembangannya terlambat.

Apa itu TORCH?

Setelah mendapati keadaan Aubrey, saya mulai mencari tau tentang TORCH. Mengapa ia begitu kejam. Saya jadi getol browsing di internet dan mengikuti seminar tentang TORCH. Dari yang saya pelajari, TORCH adalah kumpulan virus Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes. TORCH tidak berbahaya jika menginfeksi dewasa yang tidak mengandung dan anak-anak. TORCH menjadi sangat berbahaya jika menginfeksi ibu yang sedang mengandung karena dapat menginfeksi janin yang dikandung dan menyebabkan berbagai macam gangguan.

Menurut sumber di sini, infeksi TORCH yang menyerang ibu hamil dapat memberikan dampak-dampak ini pada janin:
  • kerusakan mata (radang mata)
  • kerusakan telinga (tuli)
  • kerusakan jantung
  • gangguan pertumbuhan
  • gangguan saraf pusat
  • kerusakan otak (radang otak)
  • keterbelakangan mental
  • pembesaran hati dan limpa
Sungguh serius dampak yang dapat ditimbulkan oleh TORCH bukan? Infeksi TORCH yang cukup berat bisa membuat seorang anak terlahir (maaf) cacat. Itu lah yang lazim dikatakan orang. Tapi saya menolak memakai kata cacat tersebut. Saya menyebut Aubrey luar biasa atau spesial.

Cerita kelam kawan-kawan

Tak hanya saya yang kecolongan karena saya buta akan TORCH selama hamil, banyak kawan saya yang ternyata mengalami pengalaman serupa. Saat mereka merencanakan kehamilan dengan menemui dokter spesialis kandungan, mereka tak mendapatkan edukasi tentang TORCH; bahaya dan cara mencegahnya. Itu membuat mereka tidak tahu bahwa mereka perlu memproteksi diri mereka sebelum mengandung. Gimana mau memproteksi wong ndak tau TORCH itu apa, apa bahaya nya, dan gimana mencegahnya

Wajah kesehatan di Indonesia

Berdasarkan pengalaman pribadi saya dan teman-teman, saya menyimpulkan beberapa hal. Yang pertama, dinas kesehatan dan tenaga kesehatan di Indonesia sama sekali belum menyadari bahwa isu TORCH sudah semakin merebak. Data terakhir mengenai anak yang lahir dengan Congenital Rubella Syndrome seperti Aubrey diambil sudah lama sekali, yaitu pada tahun 1999. Di tahun 1999 tercatat 'hanya' ada 7 kasus. Sekarang sudah tahun berapa? Jelas data tersebut sudah tidak valid dan perlu diperbaharui. Yang kedua, tenaga kesehatan sebenarnya paham betul bahwa TORCH bisa memberikan dampak membahayakan pada janin tapi memilih untuk tidak menganjurkan pasien mereka untuk screening TORCH dan vaksin MMR. Itu mereka lakukan mungkin karena mereka terlalu positive thinking atau takut dibilang meribetkan pasien untuk tes ini dan itu. Yang ketiga, dinas kesehatan sama sekali belum mengalokasikan dana khusus bagi anak-anak yang lahir dengan TORCH kongenital. Berbeda sekali dengan anak-anak penderita kanker, Down Syndome, atau Cereblal Palsy, anak-anak dengan TORCH kongenital masih sangat jarang diperhatikan. Sekali lagi, itu karena isu TORCH masih dianggap sebelah mata.

Edukasi kesehatan pada masyarakat

Lantas, langkah apa yang harus segera diambil supaya jumlah anak yang lahir dengan TORCH kongenital tidak semakin bertambah? Menurut saya, sudah jelas, edukasi TORCH pada masyarakat. Masyarakat kita tidak mungkin paham pentingnya memproteksi kehamilan mereka dengan melakukan screening TORCH dan vaksin MMR jika mereka tidak mengerti mengapa itu penting, bukan? Biaya screening TORCH dan vaksin MMR yang tidak bisa dikatakan murah juga semakin membuat masyarakat enggan melakukannya. Tapi saya yakin ketika mereka paham betul tentang bahaya TORCH, mereka akan mengesampingkan biaya screening TORCH dan vaksin MMR. Apalagi biaya mengobati anak dengan TORCH kongenital berkali-kali lipat lebih mahal daripada upaya pencegahan dengan screening TORCH dan vaksin MMR. Mencegah jauh lebih baik dan lebih murah daripada mengobati, bukan?

Edukasi TORCH pada masyarakat menjadi esensial di sini untuk menyadarkan masyarakat bahwa kehamilan layak diproteksi dari TORCH. Firstly, harus ada edukasi terlebih dahulu mengenai apa itu TORCH dan apa dampaknya pada janin. Secondly, edukasi tersebut harus diikuti dengan edukasi bagaimana untuk memproteksi kehamilan dari TORCH, yaitu dengan screening TORCH dan vaksin MMR. Edukasi TORCH pada masyarakat ini saya harapkan nantinya akan menjadi sosialisasi dan kampanye sehingga masyarakat Indonesia semakin melek terhadap TORCH. Dinas kesehatan bisa mulai memasukkan edukasi TORCH ini dalam MDG mereka. Kemudian mereka bisa mengalokasikan dana untuk mendukung jalannya edukasi dengan membuat media seperti poster, flyer, spanduk, kaos, bahkan seminar untuk mengedukasi masyarakat. Edukasi ini tentunya juga harus menggandeng rumah sakit di daerah-daerah supaya edukasi dapat diterima oleh semua masyarakat.

Rumah Ramah Rubella


Saya sadar saya tidak bisa dan tidak boleh berpangku tangan menunggu aksi nyata dari dinas kesehatan untuk mengedukasi TORCH pada masyarakat. Saya ingin berbuat sesuatu untuk mengedukasi masyarakat akan TORCH. Pada tanggal 2 Oktober 2013 lalu, saya mendirikan komunitas Rumah Ramah Rubella. Komunitas ini memiliki visi dan misi untuk mensosialisasikan dan mengkampanyekan tetek bengek dari TORCH mulai dari pemahaman tentang TORCH, pecegahannya, dan dampaknya pada janin. Saat ini kami masih bergerak di dunia maya. Tahun depan kami sudah mengagendakan beberapa hal untuk mewujudkan visi dan misi kami. Harapan saya adalah masyarakat Indonesia semakin terdukasi mengenai bahaya TORCH pada kehamilan supaya tidak ada lagi Aubrey-Aubrey yang lain. Kalau menunggu dinas kesehatan bergerak, kapan masyarakat Indonesia mendapatkan edukasi perihal TORCH?

Masyarakat Indonesia Belum Terdukasi tentang TORCH

Setiap orang melihat keadaan Aubrey yang kecil, tidak aktif, dan memakai alat bantu dengar, mereka selalu bertanya ada apa dengan Aubrey. Ketika saya jawab kondisi Aubrey disebabkan oleh virus Rubella yang menyerang kehamilan saya, begini rata-rata jawaban mereka,

"Rubella itu apa toh bun?"
"Itu yang karena kucing itu ya?"
"TORCH itu apa?"
"Oh, bisa ya kena virus waktu hamil?"
"Dulu waktu hamil suka makan daging ndak mateng ya pasti?"
"Itu bisa sembuh ndak bunda?"

Jawaban-jawaban mereka yang jujur bukan kah semakin menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum mendapatkan edukasi yang layak perihal TORCH?

"Rubella itu apa toh bun?" 
Rubella adalah salah satu virus yang tergolong dalam kumpulan virus TORCH yang dapat membahayakan janin jika menyerang ibu hamil.
"Itu yang karena kucing itu ya?" 
Salah. Rubella tidak disebabkan oleh kucing. Toksoplasma lah yang disebabkan oleh hal-hal yang berkaitan dengan kucing. Penting untuk diingat bahwa bukan kucing nya yang menyebabkan Toksoplasma, namun tinja kucing lah yang membawa bakteri Toksoplasma karena tinja kucing mengandung ookista.
"TORCH itu apa?"
TORCH adalah kumpulan virus yang terdiri dari Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes.
"Oh, bisa ya kena virus waktu hamil?"
Sangat bisa, jika kita tidak mempersiapkan dan memproteksi kehamilan dengan baik.
"Dulu waktu hamil suka makan daging ndak mateng ya pasti?"
Salah. Rubella tidak disebabkan oleh daging yang kurang matang. Bakteri Toksplasma lah yang disebabkan oleh daging yang kurang matang. Rubella sendiri ditularkan melalui cairan tubuh seperti air liur.
"Itu bisa sembuh ndak bunda?"
Tidak tepat. Rubella bukan penyakit. Rubella adalah penyebab dampak-dampak gangguan pada anak. Rubella tidak bisa disembuhkan karena memang bukan penyakit. Virus Rubella akan mati/tidak aktif dengan sendirinya. Jadi, yang disembuhkan bukan virus Rubella nya melainkan dampak-dampak yang diberikan oleh virus Rubella.

Jawaban-jawaban yang digarisbawahi lah yang sebenarnya saya harapkan dari masyarakat untuk menunjukkan bahwa mereka sudah melek TORCH. Nyatanya? Mereka sama sekali belum melek TORCH karena memang belum ada edukasi TORCH pada masyarakat Indonesia yang layak.

Jadi, apakah kita akan berdiam diri saja sambil melihat angka anak-anak yang lahir dengan TORCH kongenital semakin banyak? Tentu tidak, bukan? Maka dari itu, mari bersama tingkatkan kesadaran akan TORCH pada masyarakat dengan cara memberikan edukasi TORCH pada masyarakat Indonesia. Saya mengajak teman-teman, siapa saja yang membaca tulisan saya ini, untuk ikut aktif mensosialisasikan TORCH minimal pada 1 orang setiap harinya.

Mari berbagi peran dengan dinas kesehatan untuk mewujudkan edukasi TORCH untuk masyarakat Indonesia.

Friday, December 6, 2013

Sehari di Press Briefing #TitikBalik Manulife


Hola! Dalam pos kali ini saya ingin berbagi cerita yang menggembirakan hati saya. Yes! I'm super happy and grateful at the moment because what's so called #TitikBalik. God is great!

Cerita ini diawali dengan keisengan saya mengikuti lomba menulis cerita #TitikBalik yang diadakan oleh asuransi Manulife di Facebook mereka. Ini murni iseng! Ya sih, saya memang kadang suka cari-cari sedang ada lomba atau kuis apa gitu yang saya mampu ikuti. Tapi ini nggak. Saya cuma nggak sengaja lihat seorang teman posted link lomba ini karena ia minta dukungan untuk like ceritanya. That was how I bumped into this competition. Menulis ceritanya pun tanpa merancang kata-kata atau apa. Malah sebenarnya saya kesulitan di lomba menulis #TitikBalik ini karena jumlah karakter yang dibatasi di tiap bagian. Saya memang kurang bisa menulis yang singkat. Jadi kemarin saya banyak menghapus kata-kata saya karena jumlah karakter sangat kebanyakan. Hihihi. Fiuh. Harus belajar lagi tampaknya. :)

Sampai pada tanggal 26 November lalu, saya ditelepon Mbak Adella dari Manulife yang meminta saya mengirimkan surat pernyataan bahwa cerita saya adalah kisah nyata dan foto saya. Mbak Adella nggak bicara banyak. Beliau hanya menyampaikan ini untuk kepentingan menampilkan tulisan saya di pameran #TitikBalik yang akan diselenggarakan Manulife pada tanggal 5-8 Desember di Kota Kasablanka. So, still, I had no expectation nor clue. Masih lempeng-lempeng aja gitu. Kebagian ikut dipasang di pameran aja sudah happy sekali loh. Suwer! ^^

Lalu nggak ada kabar apa pun lagi.......... *hening* *krik krik krik* *jangkrik pacaran*

Tiba-tiba, tak ada angin tak ada hujan tak ada apa pun itu untuk menampilkan efek lebay dari alam *halah*, kemarin Rabu tanggal 4 Desember, saya dapat telepon dari Mbak Dian dari Manulife. Mbak Dian mengundang saya untuk hadir di acara Manulife hari Kamis tanggal 5. Gilee mepet banget sih bilangnya, batin saya. Jadi awalnya saya kepikiran untuk meminta seorang teman dari Rumah Ramah Rubella untuk mewakili saya. Yah nggak papa sih kalau diwakilin, tapi sebenernya kami berharap Mbak Gracie bisa hadir karena nanti ada press con bersama teman media juga, tapi yaudah lah nggak papa kok Mbak, tolong kabarin saya aja siapa yang bisa datang, begitu kata Mbak Dian selanjutnya. Serius, saya kira saya termasuk dalam finalis berapa besar gitu makanya diundang hadir. Ternyata Mbak Dian mengirimkan email yang bunyinya:

Sehubungan dengan kampanye Titik Balik Manulife yang telah diselenggarakan oleh Manulife Indonesia dari September–November 2013 dan partisipasi Anda berbagi kisah Titik Balik, bersama ini kami mengundang Anda untuk hadir di acara penyerahan penghargaan kepada 3 (tiga) penulis kisah Titik Balik paling inspiratif.

*sorak sorai* *bersyukur* *happy*

Langsung saja saya ingin untuk hadir begitu dengar ada teman media yang diundang. Bukannya mau ngeksis, tepe-tepe, atau malah pingin diorbitin jadi artis (ya eyalaahh bodi bantet kate cebol begini), tapi saya pikir saya jadi punya kesempatan untuk memperkenalkan Rumah Ramah Rubella pada teman-teman. Memang saat ini teman-teman dari Rumah Ramah Rubella sedang menyusun banyak agenda campaign tahun depan. Kesempatan emas broh!, pikir saya. Jadilah saya minta tolong mertua saya mencarikan tiket dan dapat! Puji Tuhan. Mertuaku memang jempolan. *salim* Okay, so that's the plan. Flight to Jakarta at 7 AM dan back to Yogyakarta at  5 PM.

Singkat cerita sampai juga saya di Food Society Atrium Mall Kota Kasablanka Jakarta Selatan tanggal 5 Desember pukul 10 kurang. Hore. Saya in-time nih! *tepuk dada dikit* Belum banyak yang hadir. Suasana masih lengang. Snack di meja pendaftaran untuk awak media pun masih menumpuk. Panitia pun masih terlihat sibuk merapikan ini itu. Jadi saya memilih berjalan-jalan di sekitar stage sambil membaca tulisan-tulisan #TitikBalik lainnya. Tulisan-tulisan #TitikBalik itu ditata dengan apik, dipajang di kaca di depan dan samping kiri kanan stage. Wah ceritanya bagus-bagus. Ada beberapa yang saya kenal; salah duanya adalah Mak Irma Susanti dan Mak Wylvera Windayana. Mereka adalah teman dari Komunitas Emak Blogger. Tulisan mereka bagus dan inspiratif. Semoga someday saya bisa meet up dengan emak-emak hebat ini.

Stage yang masih lengang
'Investasi untuk masa depan, sudah dipikirkan belum?'
Tulisan-tulisan #TitikBalik yang dipajang apik
Tulisan saya yang mojok sama tulisan Mak Irma

Kemudian ada perempuan berbaju putih yang tersenyum ramah dan menghampiri saya. Ternyata itu Mbak Dian. Lalu Mbak Dian mengajak saya duduk di meja di belakang meja pendaftaran dan mengenalkan saya pada Bu Felicia dari Manulife dan Mbak Desy Novianti, host Insert Investigasi, yang akan menjadi MC di acara Press Briefing #TitikBalik untuk Masa Depan Anda 100 Kisah yang Menginspirasi bersama Manulife. Sambil menunggu acara mulai, saya mengobrol dengan Bu Felicia tentang Ubii dan Rumah Ramah Rubella. Bu Felicia kelihatan terkejut ketika saya bercerita tentang teman-teman di Rumah Ramah Rubella. Beliau juga menyayangkan belum ada nya sosialisasi tentang TORCH yang lebih aktif dari dinas kesehatan. Bu Felicia ramah sekali, beliau juga banyak cerita tentang keluarganya saat liburan di Yogyakarta. Mbak Desy, yang saat itu sedang flu, nggak banyak bicara karena Mbak Desy juga menyibukkan diri dengan membaca materi. Dan, saya menyesal kenapa nggak minta foto dengan Mbak Desy. Yah, memang, saya masih katro ketemu artis. Hihihi. *malu-malu kucing*

Akhirnya teman-teman media mulai hadir dan acara pun dimulai. Mbak Desy menyapa kami semua dengan ramah. Setelah berbincang sebentar, Mbak Desy memanggil Bu Nely dan Pak Alex dari Manulife untuk berbicara mengenai kampanye ini. Bu Nely kelihatan anggun dan berwibawa, namun juga ramah. Pak Alex kelihatan sekali sudah biasa bicara di depan umum, pembawaannya sangat santai, menyenangkan, dan humoris. Pak Alex juga murah senyum. Sungguh, I truly feel grateful karena bisa mengenal mereka. Tak lama kemudian, Mbak Desy mengundang Bu Felicia ke stage untuk berbicara mengenai kampanye #TitikBalik dan mengumumkan ketiga cerita inspiratif. Tiga cerita inspiratif, including mine, ditampilkan di layar dan Bu Felicia memberi sedikit gambaran tentang tiap cerita. Dua cerita lain adalah milik Mbak Ning dan Mas Harbi. Mbak Ning bercerita perjuanganya mendapatkan ijazah SMA. Ia hanya lulusan SMP karena orang di sekitarnya selalu bilang buat apa sekolah tinggi wong perempuan itu mbalik ke dapur. Tapi Mbak Ning nggak pernah melupakan mimpinya. Ia melakoni pekerjaan sebagai tukang cari rumput dan tukang cuci; semua uangnya ia tabung untuk mewujudkan mimpinya. Akhirnya ia berhasil mengikuti Paket C sejajar SMU dan mendapat ijazah SMU. Kini Mbak Ning bahkan sudah merintis usaha nya dalam bidang Fashion Lukis. Kisah dari Mas Harbi pun nggak kalah inspiratifnya. Mas Harbi bercerita tentang perjuangan orangtua nya untuk membiayai kuliahnya. Sang ayah pernah bekerja di kebun karet dan sang ibu bahkan nggak keberatan menjadi pembantu rumah tangga. Itu membuat Mas Harbi bertekad untuk menyelesaikan kuliah nya dengan baik. Kini Mas Harbi membuat sebuah Taman Baca Masyarakat karena kepedulian sosialnya. Mas Harbi pun bisa membeli rumah di kompleks perumahan untuknya dan orangtua. Kisah yang luar biasa ya? Dibilang sama inspiratif nya dengan Mbak Ning dan Mas Harbi adalah motivasi supaya saya bisa melakukan hal yang lebih besar lagi untuk teman-teman di Rumah Ramah Rubella kelak. Amin. *mana aminnyaaa?*

Tadaaaaa
Setelah itu, Mbak Desy menanyai saya dan Mbak Ning (Mas Harbi saat itu berhalangan hadir sehingga diwakili oleh kawannya). Mbak Desy menanyai saya Apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran Grace saat pertama kali mengetahui kondisi Aubrey? Kemudian Mbak Desy menanyakan kondisi Aubrey sekarang secara singkat. Saya senang saat itu saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Mbak Desy dengan santai, nggak nervous seperti saat di Kick Andy. Puji Tuhan, sudah lebih berani sekarang untuk bertemu orang.

Whoosah, ayo jangan gugup!

Selanjutnya Mbak Desy mengundang saya, Mbak Ning, dan kawan yang mewakili Mas Harbi maju ke stage. Saya pikir di situ saya akan mendapat kesempatan bercerita tentang Rumah Ramah Rubella. Ternyata nggak. *mewek* I was a bit disappointed, to be honest. Padahal saya sudah mengharapkan bisa sekalian menyampaikan supaya kita lebih waspada terhadap TORCH. But, let it go, it's okay. Semoga ada kesempatan lagi lain waktu. Then, Bu Nely dari Manulife memberikan kami penghargaan sebagai 3 cerita terinspiratif secara simbolis.

Acara selanjutnya adalah sesi Q and A untuk kawan-kawan media. Satu wartawan (saya lupa dari media mana) mengusulkan agar 100 kisah inspiratif ini dibukukan selain dibuat menjadi e-book. Wow! Amin! Semoga saja diamini oleh Manulife. Hihihi. Lalu ada seorang reporter dari Kompasiana yang menanyakan alasan 3 cerita ini yang terpilih. Pak Alex menjawab kurang lebih, Karena tema nya adalah titik balik, maka kami mencari cerita yang memiliki unsur tersebut. Titik balik artinya membal, bounce back. Maka kami mencari siapa yang pernah mengalami masa terendah namun kemudian dapat menjadikan itu untuk bangkit lagi. Ini bukan ajang menceritakan siapa yang hidupnya yang paling menderita. Cerita-cerita ini bukan untuk dikasihani tapi untuk membuat kita semua tau apa yang harus kita lakukan jika suatu saat kita mengalaminya sendiri. Kemudian, Pak Alex mengatakan sesuatu untuk saya dari stage yang nggak akan saya lupakan.

"Grace, semua bisa lihat badan saya jauh lebih besar dari kamu. Tapi itu bukan berarti saya lebih kuat dari kamu. Menurut saya, kamu lebih kuat dari saya. Trust me, you are much stronger than me and than you think."

Huaaa. Saya mewek, tapi untung nggak meleleh air mata di situ, kan malu yee. :p

Tak lama kemudian Press Briefing #TitikBalik pun usai dan kami semua dipersilakan untuk makan siang di Penang Bistro bersama-sama. Saya baru beres-beres tas, tiba-tiba ada wartawan yang meminta saya, Mbak Ning, dan kawan Mas Harbi maju untuk berfoto bersama. Nggak apa lah, saya sih senang-senang aja bisa foto. Hehehe. Setelah itu ada mbak dari satu media yang mewawancarai saya karena ia akan mengulas tentang hari Ibu nanti. Sayangnya saya lupa ia dari media mana. Hiks. Ia bilang akan menghubungi saya kalau sudah terbit. Semoga ia nggak lupa. Amin. Udah dong, setelah itu saya lanjut beres-beres. Eh, saking semangatnya, ada insiden kecil. Resleting tas saya jebol! Hiks hiks. Padahal itu tas satu-satu nya. Saya suka banget tas itu karena murah dan muat banyak. Eh, misfokus ya? ;)

Saya, Mbak Ning, kawan Mas Harbi
Mbak reporter, kalau beneran terbit jangan lupa kabarin yaaa
Setelah semua selesai, saya segera menyusul teman-teman ke Penang Bistro. Ternyata dua teman saya dari New Mom sudah menunggu. Saya jadi nggak enak kalau mereka harus menunggu saya makan karena waktu saya nggak lama. Saat itu sudah pukul 12.30 siang dan saya sudah harus bergerak ke airport paling nggak pukul 14.30. Jadi saya ngeteh cantik aja. Kemudian saya pamit pada Bu Felicia dan Bu Nely. Terakhir saya pamit pada Mbak Dian yang malah menarik saya keluar restoran. Di situ Mbak Dian memberitahukan bahwa Manulife akan mengirimkan email berkaitan dengan pengiriman hadiah. I still had no idea how much I would receive di situ. Saat Mbak Dian memberitahukan, ya ampun, saya officially mewek dan langsung memeluk Mbak Dian. Semoga Mbak Dian nggak kebauan karena baju saya sudah basah keringat dan saya lupa pakai parfume dan deodoran pagi itu. Wew. Puji Tuhan, penghargaan dari Manulife ini akan bisa kami tabung untuk ke depannya.

By the way, ada cinderamata untuk kami semua termasuk rekan media. Lucu deh. Ular tangga tentang #TitikBalik. I love it!
Ular tangga asuransi, hihihi
Apakah sudah berakhir di situ? Enggak dong. Saya menghabiskan waktu sambil berjalan-jalan di Mall Kota Kasablanka bersama kedua teman saya dari New Mom itu, Mbak Astri dan Mbak Tami serta baby boy nya, Enzo. Kami makan siang di Eat 'n Eat sambil bercerita heboh. Nggak lama kemudian, saya kedatangan dua teman lagi. Kali ini dari Rumah Ramah Rubella; Mbak Sita dan Mbak Inel. Ini adalah pertemuan pertama saya dengan Mbak Sita dan Mbak Inel serta putra nya, Nadhif. Nadhif adalah anak Mbak Inel yang juga terkena Congenital Rubella Syndrome. Melihat Nadhif yang aktif dan berani, saya jadi makin optimis dalam membesarkan Ubii. Thank you, Nadhif! Senang sekali. Walaupun singkat, kami bisa ngobrol ngalor-ngidul dan seru. Kami juga sempat membahas sedikit tentang rencana Rumah Ramah Rubella untuk pembuatan kaos. That was fun!
Bersama Mbak Sita
Mbak Inel dan Nadhif sudah datang, yeay!
Acara dilanjutkan dengan mampir sebentar ke Toys Kingdom karena saya pingin membelikan Ubii mainan yang pernah saya lihat di kelas AVT (Audiotry Verbal Therapy) nya. Puji Tuhan, dapat! Dan harganya juga terjangkau ternyata. Senangnya bisa bawa oleh-oleh untuk Ubii. Thanks to Mbak Astri dan Mbak Tami yang nggak keberatan mengantar saya lihat-lihat mainan. Nggak terasa sudah hampir pukul 14.30. Saya harus buru-buru ke bandara. Time to go. Saying good-bye is never easy. Hiks. Semoga lain kali bisa jalan-jalan ke Jakarta lebih lama lagi.


Bareng Mbak Tami, Enzo, dan Mbak Astri
Saya senang sekali bisa menghadiri Press Briefing #TitikBalik bersama Manulife hari ini. Acaranya singkat dan padat. Sama sekali nggak bertele-tele. Acaranya juga dikemas dengan komunikatif. Pihak Manulife pun sangat memperhatikan kami supaya kami nggak kelaparan dengan menyediakan tea time sebelum acara dan lunch bersama. Itu poin plus acara Press Briefing #TitikBalik ini. Namun, ada juga hal minor yang sempat membuat kurang nyaman. Yang pertama, karena kadang ada suara dari loud speaker Mall Kota Kasablanka untuk menyapa dan memberikan informasi pada pengunjung. Jadi kejelasan suara orang yang berbicara dri Press Briefing #TitikBalik sempat terganggu. Yang kedua, acara tersebut digelar tepat dibawah (aduh saya bingung menyebutnya nih) atap tembus pandang. Jadi saat mataharinya terik, lumayan panas juga tuh. But, as what I said before, itu gangguan minor saja. Overall, terlihat sekali usaha pihak Manulife untuk mengupayakan kenyamanan kami yang hadir di sana. Salut! It's really an honor to experience this and meet many great people today. Sungguh adalah berkat luar biasa di penghujung tahun. :)


Love.


Friday, November 15, 2013

DIY Bear Christmas Wreath


Christmas is coming! Suasana Natal belum terlalu terasa. Tapi lagu-lagu Natal mulai terdengar di rumah-rumah, pohon-pohon Natal mulai dipasang, & hiasan-hiasan Natal pun nggak ketinggalan. Mulai terlihat styrofoam-styrofoam, karton-karton, dan pita-pita berbentuk Santa Claus, Rudolf, Snowman, Christmas socks, Mr. Gingerbread , and so on.

Saya termasuk yang excited dalam menyambut Natal. Ada beberapa alasan. Firstly, di Natal ini saya banyak berharap akan turun banyak mujizat untuk kesembuhan putri tercinta saya, Ubii. Okay, go on. Secondly, saya excited karena ini Natal pertama kami sebagai keluarga, dengan Ubii tentunya, yang akan kami rayakan di kota asal saya, Salatiga. Woohoo!

Thursday, November 14, 2013

Suami Selingkuh, Wajar?



Hello again. Sebenarnya ini tulisan lama yang pernah dipublish di sini. Ternyata belum ditulis di blog, jadi boleh lah dipaste ke sini (padahal karena belakangan ini nggak ada ide). *Hiks*

Kali ini saya mau sedikit cerita tentang sesuatu yang sangat mengganjal #tsaah.
Jadi, begini … kemarin suami dapat tawaran 1-2 kaleng bir di rumah tetangga sebelah rumah yang sedang merayakan anniversary-nya yang ke-7 bersama istrinya. Itu sudah malam, mungkin pukul 12-an. Atas nama ‘rikuh’ dan nggak enak menolak ajakan (kami penghuni baru), maka suami menjawab ya. So, those guys (my husband & my neighbor) were finally having some beer. Sepertinya mereka cocok. Sama-sama pecinta fotografi dan sama-sama pecinta tato, kloplah sudah.
Di tengah-tengah obrolan mereka (yang nampaknya seru), si tetangga (sebut saja X)  tiba-tiba menerima telpon. Tapi, anehnya, dia ngumpet-ngumpet. Celingak-celinguk dulu baru terima telpon. Bicaranya pun bisik-bisik tetangga #lagunya Elvi Sukaesih jaman dulu LOL.  Suami saya diam saja. Tiba-tiba, X dengan santainya bilang, “Biasa, istri kedua.” :0

Obviously, my husband was shocked and didn’t know what to say or how to react. Itu bukan semacam obrolan ringan untuk basa-basi yang mudah untuk dijawab seperti “Tadi dari mana?” atau “Abis makan apa?” atau “Besok mau ngapain?”. Suami saya juga baru kali itu ngobrol dan spent time with X. Jelas, dia bingung … I can even guarantee that he put his ‘bloon’ face that nite :p LOL. Akhirnya, suami basa-basi juga sambil bilang, “Dia tahu kalo Mas X sudah nikah?”

Mas X menjawab dengan jumawa, “Ya, tahulah! Peraturan pertama orang selingkuh, dia harus tahu kalau kita sudah berkeluarga jadi dia nggak macem-macem dan berhati-hati.” #facepalm. Dalam hati saya doa supaya jawabannya yang sebelas-duabelas seperti ngajarin itu tidak dicontoh suami saya … #AMIN berjamaah.

Malam itu kami menghabiskan malam dengan terheran-heran kenapa Mas X bisa punya istri kedua. Istrinya (untuk ukuran perempuan yang sudah punya anak) CANTIK! Anaknya lucuuuu banget. Mereka kaya. Rumahnya merupakan salah satu rumah paling asri dan keren di perumahan kami. Mereka keliatan akur dan mesra. Mereka saling bilang ‘I LOVE YOU‘ di Twitter (saya dan suami malah jadi kepo sama akun mereka :D) How can he possibly cheat on his wife? He seems to have an almost perfect life. Pretty wife and daughter, cool job, nice house, and some expensive cars. HOW COME?

Bukannya saya nggak pernah liat orang selingkuh sebelumnya. Saya, toh, juga pernah selingkuh-selingkuh iseng. Tapi, itu semua sebelum menikah. If we’re already married, how can we dare to break the commitment, break not only our spouse’s heart, but also spouse’s family? Really, that’s something which is very very out of my mind. Apalagi Mas X bilang bahwa dia punya istri kedua dengan sangat-sangat santai seolah itu bukan hal tabu/dosa/salah/memalukan.

Sekarang, saya jadi mikir, apa betul kebanyakan pria (baca: suami) berpendapat bahwa punya istri lebih dari satu itu biasa? Atau, apa saya yang di sini terlalu naif masih percaya bahwa makhluk bernama suami itu PASTI bakal setia kayak Noah di The Notebook, Henry di 50 First Dates, atau Leo di The Vow? Apa ini berarti saya harus mulai lebih mempercantik diri, mengurangi ngemil supaya nggak tambah gendut, belajar masak, dan lain-lain untuk mencegah suami saya mengikuti jejak Mas X? Apa yang sebenarnya benar-benar bisa bikin suami bersyukur? Kehidupan yang nampak nyaris sempurna seperti Mas X, kok, masih bisa bikin dia selingkuh? Apa segitunya menurunnya kualitas pria (baca: suami) zaman sekarang sampai-sampai bisa membuat saya (atau mungkin perempuan-perempuan lain) jadi parno nggak jelas?

Ah...

Friday, November 1, 2013

The Don'ts for Parents


Semalam saya menonton film berjudul Pieces of April. Film ini sangat membekas dalam hati saya sampai saya mewek di akhir cerita. Hihihi. Secara garis besar, Pieces of April menceritakan tentang tokoh bernama April yang memilih pergi dari rumah dan hidup mandiri di kontrakan kecil bersama kekasihnya. Di sini diceritakan bahwa hubungan April dan keluarganya nggak baik. Bahkan di beberapa scenes terlihat bahwa ibunda April kurang begitu menyukai April dan bahkan menganggap April sebagai malapetaka.

Tapi, tentu saya nggak akan bercerita tentang film itu di sini. After effect menonton film tersebut lah yang ingin saya bagikan. Setelah menonton film tersebut, spontan saya teringat mama saya. Saya kangen padanya tapi saya nggak pernah bisa mengungkapkannya karena hubungan kami memang tidak begitu dekat. Mama saya berwatak keras dan tegas. Beliau jarang mengungkapkan kata-kata pujian. Sebaliknya, beliau kerap kali mengkritik dan mengingatkan saya untuk ini dan itu. Sayangnya, cara penyampaiannya kurang nyaman jadi Grace kecil selalu menganggap mamanya galak. Saya pikir saya akan melupakan itu. Ternyata nggak. Jadi saya mencoba mengingat kembali apa-apa saja yang diucapkan mama saya. Bukan untuk mengingat yang buruk-buruk tentangnya, melainkan untuk pembelajaran supaya saya nggak mengulangnya kepada Ubii. Jadi di sini, saya mencoba menulis lebih dari sudut pandang seorang anak daripada seorang ibunya Ubii. (PS: Mama selalu mendukung saya untuk berbagi jadi ini bukan ajang untuk membongkar aib yah, hehehe)