Showing posts with label Menang Lomba. Show all posts
Showing posts with label Menang Lomba. Show all posts

Thursday, February 5, 2015

Tips Menang Lomba Blog Ala Mami Ubii


Beberapa kali saya mendapat message dari teman blogger yang menanyakan tips untuk bisa menang lomba blog. Terutama kalau saya habis menang lomba. Bukannya pelit atau nggak mau berbagi. Saya sebenernya merasa kalau saya masih belum seafdol itu untuk berbagi tips. Liat aja, saya udah jarang menang loh. Hehehe. Tapi ya, saya coba deh menuliskan tips ala Mami Ubii. Maaf sebelumnya kalau ini bukan hal yang baru, karena sebenarnya sudah ada beberapa blogger yang menuliskan kiatnya supaya menang lomba blog versi mereka masing-masing.

Memilih Lomba Blog Sesuai Passion


Credit

Pertanyaan yang paling sering saya dapatkan adalah... "Kok bisa kamu kepikiran nulis tentang itu?" Nah, kalau saya nih tipe orang yang nggak ngoyo-ngoyo amat kalau ikutan lomba blog. Nggak ngoyo di sini maksudnya adalah saya kebanyakan hanya mengikuti lomba blog dengan tema-tema yang saya bisa atau familiar. Atau, masih bisa saya pelajari at least. Kalau berkenan, coba intip list achievement saya dalam blogging di sini. Lihat deh, kalau saya kebetulan diberkati dengan menang lomba blog, ya paling tema itu-itu saja, kan? Antara parenting, kesehatan khususnya infeksi TORCH pada ibu hamil atau kesehatan anak, atau keluarga. Karena ketiga hal tersebut adalah hal yang minati.

Wednesday, December 31, 2014

Surat Dari Mami Ubii di For Her Jawa Pos


Melihat teman-teman blogger dan penulis yang sering mengirim tulisan ke surat kabar, sebenernya saya kepengen juga. Tapi, selalu masih nggak pede. Nggak pede dan bingung mau nulis apa sih. Hehehe.

Saya ingat banget hari itu tanggal 15 Desember 2014, saya sedang siap-siap mengantarkan Ubii untuk fisioterapi rutinnya. Tiba-tiba saya mendapat LINE dari Mba Puspita dari Jawa Pos. Mba Puspita ini adalah reporter yang dulu mewawancarai saya untuk rubrik For Her Jawa Pos. Ceritanya bisa dibaca di sini yah. Mba Puspita bertanya kok saya nggak ikutan lomba menulis surat untuk anak yang diadakan oleh Jawa Pos? Wuih, saya malah nggak tahu ada hajat itu. Jadi semangat banget saya untuk ikutan. Jadi saya langsung cari infonya. Ketemu deh infonya di sini.

Badalah. Ternyata deadline nya tanggal 15 Desember 2014 which means hari itu juga. Mana sempat saya bikin, apalagi pas banget mau mengantar Ubii fisioterapi malam itu. Jadi saya LINE Mba Puspita lagi, saya bilang batal aja deh ikutan. Kayaknya nggak bakal sempat. Tapi, Mba Puspita menyemangati saya terus. Saya jadi ikutan semangat. Coba-coba aja ah. Nggak berhasil juga nggak apa-apa karena emang bikinnya nggak semedi dulu.

Thursday, October 30, 2014

Sehari di Anugerah Jurnalistik Aqua IV


Pernah nggak berniat keras buat tidur awal karena badan udah rontok dibuat begadang terus tapi malah nggak bisa tidur? Hiks. Saya lagi ngalamin nih. Nggak bisa tidur sama sekali. Nggak ngantuk blas! Hih! Yaudah yah, daripada bengong mending cerita tentang acara puncak Anugerah Jurnalistik AQUA (AJA) IV tanggal 23 Oktober lalu. :))) Note: tulisan ini banyak ngalor-ngidul nya. Jadi, bacanya santai aja yah. ^_^

Monday, June 30, 2014

Letters to Aubrey di Festival Buku Indonesia 2014

Puji syukur, tulisan ini diapresiasi sebagai
Juara I Lomba Blog - Festival Buku Indonesia 2014
2 Juli 2014, Gedung Wanitatama Yogyakarta

***



Sering sekali ada festival buku di kota berhati nyaman ini, Yogyakarta. Biasanya saya selalu datang, apa lagi kalau bukan untuk memborong buku-buku yang memang menawarkan diskon yang sangat lumayan. Hehehe. Maklum gadis muda emak-emak, mupeng berat kalau dengar kata diskon. Tahun ini, Yogyakarta kembali mengadakan Festival Buku Indonesia 2014. Tempatnya di Gedung Wanitatama Jl. Solo. Yeay!


Tahun ini saya lebih update daripada sebelumnya loh karena saya selalu mengikuti Twitter dan Fan Page Festival Buku Indonesia 2014. Dari media sosial mereka, saya jadi tau apa saja kegiatan yang ada di festival ini. Wah, macam-macam. Ada diskusi umum, bedah buku, wisata buku, live performance, stand up comedy, dan berbagai macam lomba untuk anak-anak. Info itu saya lihat di pamflet yang dipublish online di media sosial seperti ini, lengkap dengan tanggal-tanggalnya:


Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini saya nggak hanya datang sebagai pengunjung. Ehem. Yes, saya juga datang sebagai narasumber di acara bedah buku yang diadakan karena buku saya yang berjudul Letters to Aubrey baru saja diterbitkan oleh penerbit Stiletto. Hore.


Saya pengen cerita tentang acara bedah buku saya, Letters to Aubrey, ya. Bedah buku saya diadakan di hari Jumat, 27 Juni 2014 pukul 18.30. Sesiangan notifikasi di Twitter saya berbunyi terus. Kirain siapa sih kok sampai ada mention lebih dari 20. Tumben! Hihihi. Ternyata mention-mention itu datang dari @FestivalBukuIND yang membagikan kabar tentang acara bedah buku saya sambil menyertakan pamflet online nya.


Jujur, saya senang sekali melihat panitia Festival Buku Indonesia 2014 yang sangat giat mempromosikan kegiatan di hari Jumat lalu. Jelas saja saya ikut senang karena hari itu kan saya mau dibedah. Hihihi. Nggak tanggung-tanggung loh promosinya karena @FestivalBukuIND juga mention akun-akun dengan banyak followers seperti @Jogja Student, @jogjaviewnet, @JogjaUpdate, @twitUGM, @twitUNY, and many more. Two thumbs up deh untuk kegigihan panitia! :))

Syukurlah, Jumat petang cuaca cerah. Nggak hujan, nggak badai, nggak tsunami. *lebay* Sebelum acara bedah buku Letters to Aubrey dimulai, panitia berkali-kali memperkenalkan buku nya lebih dulu supaya pengunjung juga kenal tentang apa sih buku saya itu. MC membacakan sinopsis dan testimoni dari Om Andy Noya. Nggak ketinggalan, MC sangat luwes dan grapyak mengajak para pengunjung yang sedang berada di dalam pameran atau di stand makanan untuk ikut bergabung di panggung bedah buku. Thank you MC dan panitia. :)

Sebelum maju, saya didaulat PimRed Stiletto untuk membacakan salah satu surat yang ada di dalam buku Letters to Aubrey. Dan inilah surat yang saya bacakan. *Sstt, bocoran nih*

Dear Ubii,

Maaf, Mami nggak bisa menunggu lebih lama lagi untuk melihat Ubii aktif dan merespons suara. Mami sedikit memaksa dokter untuk memberi surat rujukan guna melakukan tes BERA pada Ubii. Skor di hasil tes BERA Ubii menunjukkan angka 105 dB. Itu artinya Ubii baru bisa mendengar suara yang sangat keras seperti suara pesawat terbang atau mesin pemotong rumput. Bayangan-bayangan negatif langsung muncul di pikiran Mami. Bagaimana Ubii bisa bertahan nanti? Bagaimana jika Ubii diejek teman-teman Ubii? Apa Ubii harus selamanya hidup di dunia yang sunyi? Bagaimana jika nanti Ubii kesepian? Bagaimana jika Ubii ketakutan? Apa kita tidak bisa bernyanyi bersama? Buat apa lagi Mami menyanyikan lagu untuk menidurkan Ubii? Buat apa lagi Mami memanggil nama Ubii? Untuk apa Mami menutup pintu pelan-pelan dan berjalan mengendap-endap ketika Ubii tidur? Ubii tidak bisa mendengar semua itu. Hancur hati Mami. Mami menangis saat itu juga di hadapan dokter dan perawat. Papi hanya diam. (Letters to Aubrey, hal. 31)


Setelah saya selesai membacakan sedikit penggalan surat dalam Letters to Aubrey itu, moderator dari Stiletto yaitu Mbak Weka memanggil saya untuk maju dan memperkenalkan saya. And the question and answer session started. Woohoo. Pertama-tama Mbak Weka memberikan pertanyaan-pertanyaan, kemudian disusul dengan pertanyaan dari beberapa pengunjung. Kurang lebih ini dia obrolan di acara bedah buku Letters to Aubrey:

Question (Q): Sebenarnya TORCH itu apa sih dan mengapa berbahaya untuk ibu hamil?
Answer (A): TORCH adalah singkatan dari Toksoplasma, Others, Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan Herpes. TORCH ini bisa menyerang siapa saja, tapi memang akan jauh lebih bahaya kalau menginfeksi ibu hamil karena bisa menembus ke plasenta sehingga janin pun akan ikut terinfeksi. Penularan TORCH sendiri macem-macem. Untuk Toksoplasma bisa disebarkan lewat kotoran kucing dan konsumsi sayuran atau daging yang kurang matang. Untuk yang lainnya, bisa lewat hubungan seksual, cairan tubuh penderita seperti ingus, air liur, dan air seni.

Q: Gimana bisa ada ide untuk membuat blog Letters to Aubrey yang akhirnya menjadi buku ini?
A: Awalnya cuma karena saya pengen merasakan bisa ngobrol sama Ubii. Tapi itu kan belum bisa saya lakukan karena Ubii ada gangguan pendengaran sangat berat sehingga belum bisa diajak berkomunikasi. Makanya akhirnya saya tulis surat di blog Letters to Aubrey saja biar bisa seolah lagi ngobrol sama Ubii. Juga supaya Ubii bisa tau waktu dia kecil, dia ngapain aja sih. Semacam kenang-kenangan untuk Ubii, gitu.

Q: Pasti ada rasa sedih ya saat pertama kali mengetahui keadaan Ubii. How can you handle that?
A: Hmm.. Saya mikirnya gini.. Kelak, saya ingin Ubii jadi anak seperti apa sih? Apa saya pengen Ubii jadi anak yang lemah, lembek, dan nggak optimis? ENGGAK. Saya nggak pengen Ubii begitu. Sebaliknya, saya pengen Ubii jadi anak yang kuat, optimis, dan bisa survive di tengah kondisinya. Kalau saya pengen anak saya kuat, ya saya harus contohkan itu dong. Ubii nggak akan bisa jadi anak yang kuat kalau ibunya sendiri nggak optimis dan gampang jatuh. Itu awalnya kenapa saya akhirnya bisa optimis dan lebih santai.

Q: Awalnya gimana sehingga bisa menerbitkan buku Letters to Aubrey ini? Apa dari awal memang ingin blog Letters to Aubrey diterbitkan?
A: Wah enggak sama sekali. Awal ngeblog nggak berani berpikir dan bermimpi seperti itu karena seperti yang saya ceritakan, saya ngeblog hanya karena pengen bisa seolah sedang ngobrol sama Ubii. Nah suatu hari saya lihat tweets Stiletto sliweran di timeline saya. Saat itu Stiletto ngetweet tentang genre buku mereka yaitu Momlit dan bertanya ke followers nya apa ada ibu yang suka menulis lewat blog. Dari situ saya memberanikan diri untuk menghubungi Stiletto dan menceritakan tentang blog Letters to Aubrey. Saya tanya kira-kira blog Letters to Aubrey ini layak nggak ya kalau dijadikan buku. Eh, ternyata gayung bersambut. Puji Tuhan.


Terus, Mbak Weka memanggil Mbak Dewi, PimRed Stiletto yang berperan besar dalam membidani buku Letters to Aubrey. Sesi tanya jawab berlanjut bareng Mbak Dewi juga.

Q: Mengapa Stiletto akhirnya memutuskan untuk menerbitkan buku Letters to Aubrey?
A: Awalnya ya seperti yang diceritakan Grace. Dia cerita kalau punya blog lalu saya mengintip blognya. Ternyata isi blognya sangat inspiratif. Walau formatnya seperti curhatan, tapi ada informasi dan hal positif yang bisa didapatkan setelah membacanya. Jadi Stiletto nggak punya alasan untuk nggak menerbitkan Letters to Aubrey.

Q: Bagaimana proses editing Letters to Aubrey? Apa ada kesulitan mengedit naskah yang format awalnya adalah postingan blog? Apa ada beda pendapat dengan penulis Mbak Ges?
A: Ada banget terutama dari segi bahasa karena Grace banyak menuliskan surat dengan Bahasa Inggris di blognya dan Bahasa Inggris yang dipakai bukan kata-kata percakapan sehari-hari yang sudah lazim didengar orang. Jadi ya harus disesuaikan dan banyak surat yang perlu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dulu. Terus sempat 'cekcok' sama Grace juga karena ada beda pendapat mana surat yang perlu dan nggak perlu untuk dimasukkan dalam buku. Grace nya suka ngeyel. Hahaha.

Hiks, saya dibilang suka ngeyel. Ergh.. Setelah sesi tanya jawab itu, Mbak Weka membuka kesempatan dari pengunjung bedah buku untuk melontarkan pertanyaan. To my surprise, semua penanya adalah laki-laki! Hihihihi.

Q: Gimana ya Mbak supaya saat kita menulis itu kita bisa membuat pembaca terhanyut? Kan kadang kita pengennya nulis cerita sedih tapi pembaca nggak merasakan kesedihan kita. Lalu, Mbak Grace saat menulis di blog itu mengalir saja atau dipikirkan dulu pemilihan katanya?
A: Jawaban saya klise banget nih Mas. Menurut saya, asal kita menulis dari hati maka tulisan kita akan menjadi enak dibaca. Hehehe. Kalau saya biasanya membangun mood dulu. Misalnya, saya suka minum kopi. Nah biasanya sebelum menulis, saya menyeduh kopi dulu. Ngopi-ngopi dulu sampai moodnya bagus baru deh nulis. Kalau untuk nulis di blog, biasanya saya mengalir aja. Nggak saya pikirkan diksinya. Saking mengalirnya, makanya kadang saya nggak sadar kalau saya memakai kata-kata dalam Bahasa Inggris yang nggak gampang dipahami. Hehehe.

Q: Menurut saya buku ini bukan hanya cocok dibaca oleh para ibu. Saya sendiri sebagai seorang bapak merasa perlu membaca buku ini supaya saya juga tahu tentang TORCH. Nah, Mbak Grace, maaf kalau pertanyaan saya cukup banyak. Saya pengen tanya apa yang Mbak Grace lakukan setelah mengetahui kondisi Ubii? Apa langsung cari dokter atau malah cari referensi di internet dulu tentang Rubella? Lalu bagaimana Mbak Grace mengatasi rasa sedih pada awalnya? Terus tadi Mbak Grace berkata biaya mencegah lebih murah daripada mengobati ya, memang biaya pengobatannya berapa? Bisa kah memberi gambaran sedikit? Saya jadi kasihan gimana kalau ada keluarga yang kurang mampu, padahal screening TORCH kan mahal.
A: Syukurlah kalau buku ini dirasa juga cocok dibaca oleh para ayah ya. Hehehe. Setelah saya mengetahui Ubii terkena Rubella, saya segera mencari dokter yang saya pikir bisa mendukung kesembuhan Ubii dan ternyata itu nggak gampang. Ceritanya juga saya tuliskan di buku Letters to Aubrey. Setelah saya berhasil ketemu dengan dokter yang tepat, saya banyak berdiskusi dan berdialog dengan beliau supaya saya makin memahami TORCH dan khususnya Rubella. Sambil baca-baca dari internet juga sih. Hehehe. Kalau waktu pertama kali saya down, saya nitip Ubii di Eyangnya. Lalu saya mengambil waktu sendiri, melakukan apa yang saya suka supaya nggak stress dan saya nanya sama Tuhan apa benar Dia yakin saya bisa dipasrahi Ubii. Lalu saya seperti teryakinkan bahwa jika Dia sampai memberikan Ubii dengan kondisinya yang spesial ini pada saya, berarti Ia yakin saya mampu. Makanya saya jadi optimis lagi. Untuk biaya pengobatan memang lebih mahal berkali-kali lipat, Pak. Biaya pencegahan dengan screening TORCH hanya 2,5 juta. Saya sebut 'hanya' karena saya bandingkan dengan biaya yang harus kami keluarkan untuk berobat. Alat bantu dengar Ubii saja (sepasang) sudah bisa untuk membeli 2 buah motor matic. Belum lagi biaya fisioterapi 720.000/bulan, konsultasi dokter 150.000/bulan, obat 200-300.000/bulan. Kalau ada tes yang perlu dilakukan berarti biaya nambah lagi. USG jantung sekitar 500.000, CT Scan 1,5 juta, tes pendengaran 900.000, dan lain-lain. Jadi terasa kan kalau lebih baik keluar uang 2,5 juta untuk mencegah. Untuk biaya screening TORCH, memang masih terasa mahal. Tapi syukurlah, bulan Februari kemarin, sudah ada advokasi ke Gubernur DIY untuk subsidi screening TORCH. Doakan saja supaya usaha kami ini berhasil ya, Pak.

Q: Saya ndak mau nanya sebenernya. Saya cuma mau cerita sedikit bahwa skripsi saya kemarin adalah tentang anak berkebutuhan khusus. Saya yang ndak mengalami punya ABK saja merasakan sendiri bagimana perjuangan berinteraksi dengan mereka. Apalagi Bu Grace. Saya cuma mau angkat jempol untuk Bu Grace. Semoga Bu Grace selalu sabar. Yakin saja pasti Tuhan menciptakan segala sesuatunya dengan kekurangan dan kelebihan. Mungkin anak Bu Grace memiliki kekurangan, tapi saya yakin ia juga akan memiliki kelebihan-kelebihan.
A: Amin. Terima kasih Pak.

Q: Apakah pesan Mbak Grace pada ibu-ibu lain yang memiliki anak berkebutuhan khusus supaya bisa tetap semangat dan hal positif apa yang Mbak Grace rasakan dengan keadaan Aubrey?
A: Simple aja. Gini, anak berkebutuhan khusus biasa disebut dengan special need kids ya, atau anak luar biasa. Tapi, konteks 'luar biasa' di sini kan negatif karena mengacu pada kekurangannya. Nah marilah kita membuat kata 'luar biasa' ini memiliki konotasi yang positif. Mari kita tunjukkan anak-anak kita itu luar biasa karena misalnya ia selalu optimis, ia mau selalu berjuang, ia nggak gampang jatuh, dll. Tapi, bagaimana mungkin anak kita bisa luar biasa kalau kita tidak menjadi ibu yang juga luar biasa bagi mereka? Maka dari itu, mari kita jadi ibu yang luar biasa. Hal positif yang saya rasakan dari Aubrey adalah dengan keadaannya seperti ini, Aubrey bisa membuat saya lebih terpacu untuk lebih baik. Aubrey bisa membuat saya berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat.

Itu adalah pertanyaan terakhir dalam sesi tanya jawab. Setelah itu, Mbak Weka selaku moderator memberi kesempatan pada saya untuk membacakan sebuah surat lagi. Kali itu, saya memilih membacakan surat untuk Zoey, teman seperjuangan Ubii yang sudah berpulang ke sisi-Nya. Surat ini saya buat untuk mengenang Zoey dan tentunya atas izin dari Mama dan Papa Zoey. Begini penggalan suratnya:

Dear Ubii,

Di surat Mami kali ini Mami pengen cerita tentang Zoey, teman seperjuangan Ubii yang sekarang sudah menjadi malaikat kecil di surga. Mami ingin Ubii kenal Zoey walau hanya melalui surat kecil ini.

Perjuangan Zoey dan Mama Zoey lebih besar daripada perjuangan kita, Ubii. Zoey nggak hanya terinfeksi Rubella, tapi juga CMV dan Toksoplasma. Perjuangan Zoey dimulai sejak ia dilahirkan. Zoey harus dirawat NICU selama satu bulan karena mengalami trombositpenia (kekurangan trombosit) dan sesak napas. Setelah Zoey boleh pulang ke rumah, Mama Zoey mulai mengusahakan pengobatan untuk dampak-dampak dari Toksoplasma, Rubella, dan CMV pada Zoey. Virus dan parasit jahat itu membuat Zoey terkena retinopati, kebocoran jantung, dan gangguan pendengaran.

Belum tuntas semua usaha penyembuhan itu, Zoey mengalami sesak napas lagi saat berusia tiga bulan. Hasil radiologi Zoey menunjukkan adanya pembesaran limpa dan jantung. Kekebalan tubuh Zoey juga menurun. Dokter menduga itu disebabkan oleh infeksi CMV Zoey yang cukup tinggi sehingga trombosit dan hemoglobin Zoey naik turun nggak menentu.

Zoey harus dirawat lagi di ICU. Selama di ICU, Zoey memakai ventilator untuk membantunya bernapas. Ia hanya mendapat asupan makanan dari infus. Zoey dirawat di ICU selama hampir satu bulan hingga akhirnya dipercaya Tuhan untuk menjadi malaikat kecil yang cantik. Di akhir usianya, Zoey berjuang dengan kekebalan tubuh dan trombosit yang terus menurun. Zoey berjuang di saat-saat terakhirnya dengan trombosit yang hanya di angka 7 dari batas minimal 150.000. Zoey nggak berhenti berjuang sampai trombositnya ada di angka 0.

Zoey keren ya, Ubii. Semangat Zoey luar biasa. Mami harap semangat Zoey bisa diteruskan oleh Ubii.

Dear Zoey,

Apa kabar? Tante Grace belum kesampaian bertemu dengan Zoey, ya. Zoey pasti betah, ya, di sana? Mungkin sekarang Zoey sedang bermain cilukba bersama malaikat lainnya. Selamat bahagia di sana, ya, Zoey Diarra Fahnudi. (Letters to Aubrey, hal. 170-174)


*maaf jadi mewek lagi* *tarik napas*

Yes, itu lah surat saya untuk Zoey. Selanjutnya, kami menawarkan kesempatan untuk pengunjung yang mau membacakan sepenggal surat yang ditulis oleh suami saya alias Papi nya Ubii dari buku Letters to Aubrey. Sebenernya Papi Ubii rencananya mau datang tapi berhubung nggak ada yang bisa jagain Ubii, dia jadi batal datang deh. Hiks. Tapi nggak apa-apa. Hihihi. Akhirnya ada pengunjung yang voluntarily membacakan surat dari Papi Ubii daaann.... ada gift untuk kamu, Mas. Terima kasih ya! :))


And, that's a wrap! Selesai juga acara bedah buku Letters to Aubrey. Setelah itu, tentunya foto-foto dong. Hihihi.


Dan jangan lupa serbu buku Letters to Aubrey ya, kenapa? Karena, Juli nanti *eh bentar lagi dong* bakal ada LETTERS TO AUBREY GIVEAWAY! Yiipie! *heboh sendiri* *maklum giveaway pertama di blog Ubii nanti* *ngikik manja*

Mumpung Festival Buku Indonesia 2014 masih ada sampai tanggal 3 Juli 2014, mampir aja ke stand Stiletto Book. Lebih asyik kan kalau dapat diskon? *tetup*


Overall, that was a hell of happy and precious moment. Thank you Festival Buku Indonesia 2014 yang sudah kasih kesempatan untuk bedah buku Letters to Aubrey! Sukses selalu ya. :)

PS: Buat yang pengen tau hari ini dan besok-besok ada acara apa aja di Festival Buku Indonesia 2014, langsung aja menuju ke Fan Page atau Twitter @FestivalBukuIND yah. :)




Saturday, April 26, 2014

Grace Melia Kristanto, Penghargaan Khusus Kartini Next Generation Awards 2014


Dheg! Mendengar kalimat yang saya tulis sebagai judul tulisan ini di acara penganugerahan Kartini Next Generation 2014 pada tanggal 22 April 2014 kemarin sontak membuat saya lemas. Rasanya hanya bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Penghargaan ini saya persembahkan untuk Rumah Ramah Rubella. 'Rumah' yang saya bangun tanggal 2 Oktober 2013 lalu dengan penuh cinta dan semangat berbagi cerita. Postingan kali ini akan cukup panjang, sebagai lanjutan tulisan saya sebelumnya yang bisa diintip di sini, jadi yang nggak demen baca cerita panjang-panjang, so sorry, mungkin saya akan membuat kalian bosan. :))

H-1...

Sehari sebelum acara puncak Kartini Next Generation Awards 2014, saya sudah sampai di hotel yang disediakan panitia dari Kominfo untuk para finalis yang berasal dari luar kota, Hotel Bidakara. Sumpah! Baru pertama kali ini saya lihat ada hotel yang areanya juga memiliki toko-toko dan tempat makan. Saya katrok sekali ya... Heuheuheu. Sampai di kamar, saya takjub (lagi) melihat kamar yang bagus. Jarang-jarang banget saya punya kesempatan menginap di kamar seperti itu. Puji Tuhan, berkat-Nya lagi dan lagi. Confession: Saya sampai tidur-tiduran di karpetnya yang empuk saking katroknya. Buahahahahaha. Lebih baik norak daripada sombong, kan? *prinsip macam apa ini hah?!*

Malamya saya dan Mbak Fani (Bisnis) dan Mbak Husna (Edukasi) serta Mbak Suci (adik Mbak Husna) menukarkan kupon welcome drinks dan leyeh-leyeh sambil menyeruput jus. Kami juga mengobrol tentang Flanel Lucu milik Mbak Husna. Dari cerita-cerita malam itu, saya baru tau ternyata Mbak Husna juga memiliki tim yang melayani konseling dan workshop untuk mengenali bakat anak dengan ilmu membaca garis wajah atau fisioknomi. Wah, ini baru banget buat saya, sekaligus menarik. Ini lah sebenarnya yang saya pengen dapatkan dari ajang ini, yaitu saling mengenal banyak teman baru untuk memperluas jaringan dan menambah informasi. Siapa tau kan kalau di kemudian hari bisa bekerja sama atau memiliki proyek bareng. Who knows? :) Yang jelas, saya yakin betul kalau semakin banyak teman maka semakin banyak rezeki. Dan buat saya, rezeki nggak melulu harus berupa rupiah. Dollar kan juga rezeki. Hahahaha. Just kidding. Info baru, pengetahuan baru, wawasan baru juga adalah rezeki, kan? Setuju atau setuju? :))



The Make Up Thingy...

Sesuai yang sudah diinfokan bahwa waktu make up untuk para finalis adalah pukul 10 pagi, maka saya, Teh Nancy (Bisnis), Mbak Fani (Bisnis), dan Idnul (Kesehatan dan Lingkungan) langsung cuss ke ruang make up setelah check out. Berbondong-bondong kami berempat ke ruang make up dan huaa Mbak-Mbak dari Pixy sudah siap dengan make up kit mereka yang super lengkap. Kami nggak bisa langsung dipermak karena tim Pixy sedang mendandani anak-anak yang akan mengisi acara dengan menarikan tarian khas Betawi. Iseng, saya tanyai beberapa dari mereka. Ternyata mereka masih duduk di bangku SMP, ada juga beberapa yang malahan masih SD. Humm, sorry to say, menurut saya dandanan mereka agak berlebihan. Bukan jelek. Bagus sekali malah. Tapi, ya itu, it was just too much for teenagers. Saya pikir anak-anak SD dan SMP yang masih kinyis-kinyis cukup lah hanya dipupuri bedak, lipgloss, dan sedikit blush on. Belum perlu sampai ke mata apalagi dengan bulu mata palsu sebegitu rupa. Saya saja yang sudah cukup umur (baca: ibu-ibu) nggak sampai pakai bulu mata palsu. Mungkin nanti saat sudah SMA lebih pas ya. Saya ingat dulu ketika SD, saya kerap mengikuti lomba karaoke. Oleh Mama, saya hanya diberi bedak dan lipstik. Untuk rambut, cukup diblow. Rasanya itu sudah oke. I know time flies, zaman sudah berubah. Tapi, tetap saja, saya prefer melihat anak SD yang kinyis-kinyis polos dan alami. Bagaimana ya menurut para ibu lain tentang ini? Jadi kepikiran juga, nih. :))



The Talkshow...

Sebelum acara penganugerahan dimulai, acara dibuka dengan talkshow dengan Arzeti Bilbina sebagai MC sekaligus moderator. Narasumber dalam talkshow sangat mumpuni, menurut saya. Ada Bunda Anne Avantie (desainer), Bu Petty Fatimah (Femina), Bu Jenny Lee (IC3), dan Bu Hera Laksmi (Indosat). Honestly, yang paling 'cess' dalam hati saya adalah cerita dari Bunda Anne tentang bagaimana beliau berjuang dari enol sampai saat ini, benar-benar from zero to hero. Salut sekali! Talkshow juga dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil berdiri. Wow, kenapa rasanya terharu ya. Padahal dulu zaman sekolah, tiap kali menyanyikan lagu Indonesia Raya di upacara, saya malas. Karena kepanasan kali ya. Kemarin, dunno why, beda aja. Lebih ngena dari zaman saya muda.

Setelah itu ada sesi talkshow yang lain, kali ini menampilkan selebriti Wulan Guritno juga sebagai narasumber. Dan, seperti biasa, saya katrok. Baru kali ini lihat Wulan Guritno dari dekat. Oh my God, Mbak Wulan Guritno nggak kayak manusia. Kayak terbuat dari pualam saking mulus dan putihnya. Ada juga Titi Rajobintang dan Chef Rinrin Marinka. Sedihnya, saya nggak sempat minta foto bareng mereka. Huhuhuhuhu. Nyesel banget nget nget nget nget! :((


Kartini Next Generation Awards 2014...

Akhirnya tiba juga saatnya bagi kami, para finalis, untuk siap-siap di backstage sebelum kami maju ke panggung. Ada satu hal yang paling saya tunggu-tunggu, yaitu pemutaran video tapping para finalis Kartini Next Generation Awards 2014. Unfortunately, karena keterbatasan waktu, video-video kami nggak jadi ditampilkan. I was a bit disappointed. Saya pikir di situ esensi acara ini sebetulnya. Dengan melihat video kami, audience seharusnya menjadi bisa mengenal kami satu-satu (walau hanya sekilas). Minimal audience jadi bisa tau nama kami, domisili kami, dan gerakan/kegiatan apa yang kami lakukan, bukan? Semoga video-video itu diunggah di YouTube ya. :))

Nggak lama kemudian, momen pengumuman siapa-siapa saja yang menerima Kartini Next Generation Awards 2014 pun tiba. Kartini Next Generation Awards 2014 di Bidang Bisnis jatuh pada Teteh Nancy Margried dengan usaha Batik Fractal dan JBatik Software nya. Kartini Next Generation Awards 2014 di Bidang Edukasi jatuh pada Mak Mira Julia, ibu yang menggagas Rumah Inspirasi dan melakukan homeschooling untuk ketiga buah hatinya. Kartini Next Generation Awards 2014 di Bidang Kesehatan dan Lingkungan jatuh pada Mbak Wilda Yanti yang mengajak kita untuk memberdayakan sampah untuk mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Kartini Next Generation Awards 2014 di Bidang Seni dan Budaya jatuh pada Mbak Intan yang mengajak kita untuk mengenal lebih dalam keindahan Indonesia bagian Timur yang eksotis dan mempesona. Sampai di situ, saya sudah lega. Semua pemenang adalah sahabat-sahabat saya. Saya ikut berbahagia dan buat saya semua finalis yang sudah berdiri di panggung sudah memenangkan perjuangannya masing-masing. Ternyata... penghargaan belum selesai. Terakhir diserukan, Penghargaan Khusus Kartini Next Generation Awards 2014 jatuh pada Grace Melia Kristanto! Itu nama pemberian Papa saya, gabungan dari nama beliau dan Mama. Saya dipanggil! Saya dipercaya menerima Special Awards Kartini Next Generation 2014! Puji Tuhan. Thank God! This is huge.




What I Like about Kartini Next Generation Awards 2014...

Ada banyak hal yang saya sukai dari ajang ini. Yang terutama, jelas, spirit dan atmosfernya yang dengan sukses mengajak para perempuan untuk lebih berkarya dan mengenali serta mengembangkan kemampuannya, dengan memanfaatkan TIK. Yang kedua, tapi sama esensialnya, adalah karena ajang ini FAIR. Yes, saya merasa ajang ini fair dan terbuka. Maksud saya dengan fair di sini adalah bahwa kriteria penilaian yang ditetapkan oleh Dewan Juri dan panitia diberitahukan kepada kita semua. Dengan begitu, saya merasa bahwa kita dapat saling belajar dari kelebihan masing-masing finalis. Kenapa kok dia bisa begini, bagaimana dia mengatasi masalah ini, dan lain-lain, kita semua dapat belajar dari itu. Mengutip dari Buku Program Kartini Next Generation 2014 dengan tajuk Women as Agents of Ch@nge, kriteria penilaian meliputi:
  1. Personality, yang meliputi 3 aspek, yaitu: a) Passion (Dilihat dari bagaimana cara peserta menjalankan kegiatan tersebut, kesulitan utama, dan bagaimana mengatasinya), b) Skill & Competence (Dilihat dari keahlian yang dimiliki peserta dalam menjalankan kegiatan, dan c) Networking (Dilihat dari cara peserta membangun jaringan yang berkaitan dengan kegiatan yang dijalankan).
  2. Originality, Creativity, dan Innovation, yang meliputi 2 aspek, yaitu: a) Idea (Dilihat dari bagaimana peserta memulai kegiatan yang dijalankan, bagaimana ide kegiatan tersebut berkembang, dan apa saja yang membedakan kegiatan yang dijalankan dengan kegiatan lainnya), dan b) Technology Used (Dilihat dari penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam kegiatan yang dijalankan).
  3. Promotion, yang meliputi 2 aspek, yaitu: a) Promotion Strategy (Dilihat dari strategi komunikasi/promosi untuk menjalankan kegiatan, dan b) Program Development (Dilihat dari bagaimana mengembangkan kegiatan yang dijalankan saat ini dan kedepannya).
  4. Impact, dilihat dari dampak kegiatan yang dilakukan terhadap lingkungan/masyarakat sekitar.

Selain spirit dan fairness dari ajang ini, saya juga ingin angkat topi untuk para panitia yang mengusahakan transportasi dan akomodasi terbaik untuk para finalis dari luar kota. Saya ingat, tanggal 19 April, saya kalang kabut karena saya kehabisan tiket untuk tanggal 20 April. Saya memang dari awal meminta dicarikan tiket tanggal 20 April karena saya ada acara sebagai narasumber di talkshow Kartini Day Alfamart. Semua penerbangan sudah penuh. Saya juga memastikan sendiri tentang itu dengan menelpon agen perjalanan langganan mertua saya. Benar-benar full dari pagi sampai malam. Sampai saya mencari tiket penerbangan dari Solo atau Semarang, yang mana saja pokoknya saya bisa berangkat tanggal 20 April. Ternyata, Mbak Rina dari Kominfo tetap membantu mencarikan meskipun saya sudah menginfokan bahwa saya sudah mendapat tiket penerbangan dari Semarang. Akhirnya, saya dapat juga penerbangan tanggal 20 April, berangkat dari Jogja. Terima kasih, Mbak Rina dan panitia dari Kominfo. I owed you big time! :))

What Should be Improved from Kartini Next Generation, In My Opinion...

Kesempurnaan hanya milik-Nya, bukan? Sebagai manusia, tentu kita nggak luput dari kekurangan dan kealpaan. Tapi, kalau kekurangan itu bisa diperbaiki supaya di masa mendatang lebih baik, why not? :))

Menurut saya (sekali lagi, menurut saya pribadi loh, yang nggak setuju jangan marahin saya ya, hiks), kebersamaan antara sesama finalis agak kurang. Saya membayangkan semua finalis dikumpulkan, mungkin ada acara dinner bersama gitu, jadi semua finalis punya kesempatan untuk saling mengenal lebih dalam dan lebih dalam lagi lalu tertidur pada hitungan ketiga *emang dihipnotis?* Kan malam sebelum hari-H (baik hari-H seleksi wawancara dan acara puncak) nggak ada agenda apa-apa, jadi kayaknya bakal lebih asyik deh kalau waktu yang free itu diagendakan untuk dinner bersama misalnya. Akan lebih menyenangkan lagi rasanya kalau dinner bersama para finalis juga dihadiri oleh beberapa panitia Kartini Next Generation 2014. Jadi judulnya makan bareng finalis plus panitia. Wah, pasti asyik deh. Karena berdasarkan ngobrol-ngobrol cantik bareng beberapa finalis, sebenarnya yang beberapa dari kami nantikan adalah momen untuk saling mengenal itu. Momen mengobrol itu exciting loh karena kami jadi bisa memperluas jaringan dan wawasan. Ya, bisa sih obrolan itu berlanjut ke BBM, SMS, atau WhatsApp, tapi tetap aja ngobrol langsung lebih menyenangkan, kan? :) Bisa juga sebenarnya kami saling mengenal di tengah acara saat duduk bersama. Tapi, kan kami duduk di dua meja terpisah. Jadi tetap saja nggak bisa ngobrol dengan semuanya. Setelah acara selesai, ada juga yang harus buru-buru mengejar flight. Jadi nggak ada waktu untuk ngobrol deh. :((

Besides, menurut saya akan lebih menyenangkan juga kalau setelah acara selesai ada sesi berfoto bersama antara semua finalis dan panitia. Kalau saya pribadi sih pengen banget bisa punya kenang-kenangan bareng para panitia yang sudah menghadirkan kami ber-18 di ajang ini. Syukur-syukur, silaturahmi bisa berlanjut setelah gawe ini selesai. Sayangnya, setelah penganugerahan selesai, nggak ada sesi ngumpul bareng itu. Saya bisa nyempil saat para panitia berfoto bersama di panggung hanya karena kebetulan saya masih ada di lokasi. Finalis lain yang sudah lebih dulu pulang ya, mau nggak mau, jadi nggak punya kenangan bareng panitia. Setelah penganugerahan, ya wis bubar jalan. Rasanya kok sayang, ya... Setelah Kartini Next Generation Awards 2014 diumumkan, acara dilanjutkan dengan penganugerahan Srikandi Merah Putih Indosat. Kebetulan para Srikandi Merah Putih ini mayoritas adalah public figure yang sudah banyak dikenal. Jadi, para finalis Kartini Next Generation terkesan seperti numpang lewat sekelibatan saja karena setelah itu perhatian langsung mengarah ke para Srikandi Merah Putih. Apalagi audience juga nggak sempat mengenal kami, para finalis, lewat video tapping kami yang batal diputar, jadi ya kesan lewat sekelibat saja itu makin terasa...

Greng acara juga sempat meredup saat kami tau bahwa Bapak Mentri Tifatul Sembiring dan Ibu Menteri Linda Amalia Sari Gumelar berhalangan hadir. But, on this point, it wasn't really a big deal, I'd say. :))

Semoga di tahun-tahun mendatang, akan ada kesempatan berjejaring antara sesama finalis dan panitia yang lebih leluasa ya. Yakin deh, pasti para finalis akan excited loh dengan itu. Dan semoga di tahun-tahun mendatang, setelah selesai acara, minimal ada foto bareng panitia di panggung supaya kesan dan suasana bahwa kita sudah menjadi satu keluarga lebih terasa. :))))

Dok. Ryan Dagur
Dok. Ryan Dagur
Dok. Ryan Dagur

What Suprised Me...

Ada satu hal yang mengejutkan saya (dalam makna positif), sekaligus membuat saya mewek, terharu, ah pokoknya senang banget, yaitu... dukungan dari para Emak dari Kumpulan Emak Blogger!!! Emaks Blogger datang mendukung saya, Mak Winda Krisnadefa (Seni dan Budaya), Mak Mira Julia (Edukasi), dan Mak Achie TM (Edukasi). Wow, heboh nya bukan main, tapi justru itu yang mencairkan suasana dan membuat kami berempat terharu. Sampai-sampai beberapa finalis berkomentar, "Itu pendukungmu dari mana sih, Ges? Heboh banget ya." Buahahaha. Ember. Memang heboh dan meriah syekaleee.

 
Hampir semuanya (kecuali satu Emak Blogger yaitu Mak Indah Nuria Savitri) baru saya temui pertama kalinya di acara Kartini Next Generation Awards 2014. Ada Mak Injul (Indah Juli Sibarani), Mak Popon (Mira Sahid), Mak Haya, Mak Suzie Icuz, Mak Tanti, Mami Icha, Mak Ade Anita, Mak Shinta Ries, Mak Lia, Mak Wylvera, Mak Irma, Mak Echa Cucuth, Mak Vema, Mak Icoel, Mak Aulia Gurdi, Mak Ani Berta, Mak Ade Anita, dan Mak Riski (Ada yang belum saya sebut nggak ya? Hadeuh, masih muda sudah tanda-tanda pikun nih, punten ya kalau ada yang terlewat). Dari sebanyak itu Emak Blogger, banyak buanget yang saya nggak ngenalin karena (menurut saya) foto di FB mereka beda banget sama aslinya. Yang saya langsung kenali itu Mak Haya (saya panggil Mak Haya di dekat ruang ganti, syukurlah nggak salah orang, hehehe), Mak Echa (langsung kelihatan dari auranya yang ruame abes), Mak Popon (karena mirip teman suami saya), Mak Irma, Mami Icha (kebangetan banget kalau sampai nggak mengenali Mami), dan Mak Ani Berta. Ketemu Mami Icha, saya langsung dipeluk. Rasanya kaya dipeluk mama sendiri, nggak salah saya panggil Mak Elisa Koraag dengan sebutan Mami ya. Entah kenapa, dipeluk Mami Icha, saya langsung mewek sampai Mami Icha bilang, "Udah jangan mewek, luntur nanti make-up kamu." Oh. Oke. Jangan. Sampai. Make up. Saya. Luntur. Sekian. Buahahahaha. Mak Echa hari itu mengajak jagoannya, Raffi. Wah, Raffi montok sekali. Please, Raffi, sumbangin dong sedikit ndutnya buat Ubii. Heuheuheu. Mak Echa ini zuper zekali. Bawa-bawa Raffi semontok itu tapi tetap lincah bak gangsing. Resepnya apa, saya wajib contek nih. :)) Suara Mak Echa juga menggelegar. Dari panggung, saya bisa dengar suaranya loh. Huahahaha.


My being moved didn't stop right there. Ada lagi yang bikin saya mewek dengan suksesnya. Dalam hati aja, sekali lagi takut make up luntur. Apalagi kalau bukan tulisan-tulisan yang Emak Blogger bawa buat saya. Di antara tulisan-tulisan itu, ada satu yang paling mencolok karena dipasang bareng boneka-boneka, yaitu buatan Mak Indah Nuria atau yang akrab saya panggil Mak Indah. Saya yakin Mak Indah sibuk, apalagi sebentar lagi Mak Indah akan ditugaskan ke luar planet negeri. Tapi Mak Indah masih mau menyempatkan bikin tulisan kayak gitu buat semangatin saya, lengkap dengan foto suami dan Ubii. Sungguh Mak Indah, saya bahagia. Tapi, saya kecele sih. Kirain boneka-bonekanya bakal dikasihin ke saya. Buahahaha. Apa sih, udah disupporterin kok masih matre! -___-


Satu kata untuk Emaks Blogger, terimakasih. Dari awal sudah ngomporin ikutan dan ternyata masih 'ditemani' sampai akhir perjuangan di Kartini Next Generation Awards 2014. Saya, anak kampung yang katrok ini, jadi merasa punya keluarga di Jakarta. Thanks, Maks. :))


The Prizes...



Nah, mungkin ini bagian yang ditunggu-tunggu oleh beberapa teman yang memang sejak awal sudah nanya-nanya apa hadiahnya tapi belum saya jawab karena belum saya buka semua. Jadi, voila, inilah hadiah yang saya terima.

Di antara hadiah-hadiah itu, ada 2 hadiah yang paling membuat saya bersyukur, yaitu kamera dan powerbank. Kenapa? Jadi gini ceritanya, hape saya itu entah kenapa gampang banget drop baterainya. Semua hape saya lama-lama jadi begini, padahal rasanya saya sudah rawat dengan penuh cinta loh #tsaah. Kalau gampang low batt begini, hape saya sering tiba-tiba mati terus saya kelimpungan cari colokan untuk charging. Dua hari sebelum saya berangkat ke Jakarta, saya minta dicarikan powerbank sama suami. Ternyata, harganya cukup nyekek. Saya lagi bokek *eh kok jadi berima yak, hihihi* Akhirnya saya batal beli powerbank. Lhah, ini malah dapet powerbank! Wow, syukurlah, Tuhan Maha Tahu apa yang saya butuhin ya. Sudah gitu, warnanya pink pula! Kyaaaaaa~ Kalau ini sih berkat kebaikan Mak Lala (Mira Julia) yang mau saya ajak tukeran sih karena aslinya powerbank saya warna hijau. Hahaha. Makasih ya, Mak Lala.

Satu lagi yang memang lagi saya butuhin adalah...kamera! Yes! Saya sudah sempat cerita sama suami kalau saya kepingin ngumpulin uang untuk beli kamera kecil supaya saya bisa bawa kalau saya mengikuti seminar. Kan kadang-kadang materi seminar di layar nggak boleh dicopy ya, makanya saya pengen punya kamera. Puji Tuhan, terkabul juga sekarang berkat Kartini Next Generation. :))

It's Time to Say Good-Bye...

Saying good-bye is never easy, but it's time. Gini aja sedih loh beneran. Gimana dengan para finalis Indonesian Idol yang dikarantina bareng, hidup serumah ya? Sedihnya kayak apa itu :">

Terimakasih untuk kebersamaan kita yang menyenangkan ini. Sampai jumpa di lain kesempatan ya teman-teman. Pengen kenalan sama semua finalis? Tunggu ya, saya akan mengulas mereka satu-satu di tulisan berikutnya. :))


Love,


@gesgeesges




NB: Foto-foto ini ada yang saya ambil dari tag-tag teman-teman di Facebook saya. Jadi saya nggak hafal yang mana foto milik siapa. Maaf kalau ada yang fotonya terpampang di sini tanpa keterangan. Just let me know ya, nanti saya tambahkan keterangan courtesy nya. :))

Saturday, March 22, 2014

Steak Holycow Pertamaxxx-ku Berkat Sunco

Tadaaa. Hiks. Belakangan ini kok saya nggak serajin biasanya yak untuk ngeblog. Kangeeeen... *ciumin blog sampai jontor* Well, actually, lately I'm kinda busy arranging this event for Rumah Ramah Rubella. Masih ingat kan sama Rumah Ramah Rubella? Semoga masih :'))

Daripada ternyata ada yang lupa, saya ingatkan saja deh ya. Hihihi. Rumah Ramah Rubella itu komunitas yang saya bentuk untuk mewadahi para orangtua yang memiliki buah hati dengan infeksi TORCH kongenital. Rumah kami masih maya, di Facebook dengan sangat sederhana. Monggo yang mau mampir sok atuh intip di sini. Puji Tuhan, akhirnya Rumah Ramah Rubella berkesempatan juga bersilaturahmi secara offline (karena sebelumnya cuma online saja). Event pertama ini cukup saya nanti-nanti loh karena akan direalisasikan dalam bentuk seminar. Penasaran? Nih pamfletnya.. :))


Tapi postingan ini bukan mau woro-woro seminar pertama Rumah Ramah Rubella ya. Hehehe. Tadi promosi dan pamer selewat saja. Postingan ini sebenarnya mau cerita tentang pengalaman pertama saya makan steak di Holycow. Nyam nyam nyam. Sudah pernah makan steak di Holycow? Kalau sudah, pasti tau kalau rasa steaknya endes gilak! Harganya juga... *ehem* lumayan menguras kantong, apalagi kantong ibu-ibu pelit macam saya. Kalau belum, saya puk-puk saja ya. Bisa lihat spoiler steaknya dulu di sini. Hihihi. *digeplak pembaca blog*

Terus, gimana cerita saya yang pelit dan nggak belum kaya (pakai kata belum dengan diiringi doa semoga suatu saat jadi kaya beneran) ini bisa makan steak di Holycow? Saya banyak duit tabungan? Jelas enggak. Saya maksa makan steak di sana terus kabur pas waktunya bayar? Hish, mana berani, jiwa kriminal saya nggak sekuat itu. Lalu? Saya dapat voucher Holycow sebesar 300.000 rupiah! Horeeee! Puji Tuhan, alhamdulillah. Tuhan Maha Tau bahwa hamba-Nya sudah terlalu lama ngiler steak endes yang mihil. Hehehe.

Dari mana saya dapat voucher? Mari simak baik-baik *dandan ala bu guru mau cerita*

Suatu hari, tsaahh, saya jalan-jalan di timeline Facebook. Ketemu lah saya dengan Sunco. Tau kan Sunco? Itu loh minyak goreng. Ibu-ibu pasti tau Sunco. Ternyata Sunco sedang mengadakan kontes cerita dalam rangka menyambit menyambut hari kasih sayang. Nama kontesnya My Sunco Valentine Story Contest. Jiwa quiz hunter yang ada di lubuk hati terdalam saya langsung pengen beraksi. Terus saya intip apa sih hadiah yang ditawarkan. Ternyata hadiah utamanya adalah.... voucher Holycow sebesar 300.000 rupiah untuk 2 orang pemenang. Mekanismenya gampang bingits. Kita cuma diminta bercerita tentang makanan apa yang ingin kita santap bersama orang terkasih di hari Valentine. Jumlah karakter kata nggak dibatasi. Cerita langsung bisa disubmit di kolom komen. Ah, it's a piece of cake, ain't it? Langsung deh saya ikutan :D


Eeehh, ternyata saya menang hadiah utama! Yippie!


Ini cerita saya yang berhasil mendapatkan voucher Holycow itu:


Ah, pokoknya ini berkat luar biasa di awal tahun deh. Saya pengen banget makan steak di Holycow tapi belum punya duit. Saya pengen Valentine-an sama suami, eh pas hujan abu dan suami sakit pula. It was a gloomy Valentine. Voucher ini mem-pink-kan lagi hati saya. Heheheh.

Ditunggu-tunggu sampai agak lumutan, ternyata voucher yang dijanjikan Sunco nggak juga sampai di rumah. Mewek deh. Saya langsung message Sunco di Fan Page mereka. Setelah dicek en ricek oleh Sunco, ternyata masalah ada di jasa pengiriman barangnya. Terus segera dikirim ulang dan 2-3 hari kemudian, vouchernya mendarat dengan selamat di rumah kami. Two thumbs up untuk Sunco yang sangat kooperatif dalam menanggapi pertanyaan ibu rempong macam saya dan dalam menyelesaikan masalah. 


Hari Minggu kemarin, akhirnya saya dan suami merayakan Valentine yang tertunda di Holycow. Hehehe. Pas banget ternyata restonya remang-remang, so it's kinda romantic gitu deh. Segera setelah kami duduk, waitress mengantar buku menu pada kami. Wow! Banyak sekali pilihan menunya. Sampai bingung saya. Akhirnya saya order Wagyu Tenderloin 200 gram, medium rare, dengan french fries dan spinach. Suami pesan Australian Tenderloin 400 gram, medium rare, dengan mashed potato dan spinach. Saat kami bilang ke waitress kalau tingkat kematangan steak yang kami inginkan adalah medium rare, waitress bilang medium rare itu belum matang loh. Hmm. Saya keliatan segitu katroknya kali ya sampai waitress merasa perlu menginfokan itu... :')

Ini makanan Valentine kami :D



Mumpung bisa kencan di Holycow, harus narsis dong tentunya karena #NarsisIsNotACrime, hihihi.

Suami juga minta difoto loh -____________-


Lalu foto berdua ^^



Itulah acara pamer pengalaman pertama saya ngeholikaw. Hehehe. Thanks a bunch yes Sunco, berkat dirimu, saya dan suami nggak perlu ngiler lagi. :))

Tuesday, December 24, 2013

Juara II 'Peran Ibu untuk Si Pemimpin Kecil' Nutrisi Untuk Bangsa

Ada yang mengira-ngira nggak mengapa saya bikin post dengan label Menang Lomba ini? Nggak ada ya? Saya geer dong. Hihihi. Jadi saya punya dua alasan mengapa saya ingin menuliskan kenangan-kenangan saat menang lomba ini. Pertama, saya ingin ini menjadi pengingat sekaligus motivasi saya untuk mencapai hal serupa kelak. Kedua, ini terinspirasi dari beberapa Emak Blogger yang sudah punya nama di dunia tulis-menulis. Yah, siapa tau bisa jadi portfolio kecil-kecilan. Hehehe.

Lomba yang kali ini saya menangkan adalah lomba blog yang diselenggarakan oleh Nutrisi Untuk Bangsa dengan tema Peran Ibu untuk Si Pemimpin Kecil. Begitu tau ada lomba ini saya langsung tertarik untuk ikut serta karena saya suka dengan topiknya. Saat menulis saya cukup percaya diri. Begitu melihat tulisan peserta lain, langsung minder karena tulisan-tulisan mereka bagus-bagus. Bahkan ada yang dilengkapi dengan banyak foto penunjang. Saya makin minder karena saya nggak menampilkan foto penunjang cerita. Saya hanya memasang foto saya dengan Ubii. Hahaha.

But, yeay! Ternyata tulisan saya yang berjudul Mulai Dari Diri Sendiri Untuk Kemudian Membentuk Seorang Pemimpin Kecil terpilih menjadi Juara II. Pengen ngintip tulisan saya? Hyuk mari klik judulnya. Hehehe.


Ternyata selain mendapat sejumlah uang, para pemenang juga diberi sertifikat dan gimmick. Wah, saya tambah girang dong pastinya. I love certificate! Uang bisa habis. Tapi sertifikat bisa dipajang. Setiap melihat sertifikat rasanya hati ini senang dan bersyukur. Hore hore hore!

Yang membuat saya lebih girang lagi, ternyata pihak Nutrisi Untuk Bangsa sangat cak-cek dalam proses mentransfer hadiah lomba dan mengirimkan sertifikat serta gimmick nya. Mereka selalu menanggapi email saya dengan cepat. Saat email saya sudah diterima pun mereka juga selalu mengirimkan email konfirmasi sehingga saya nggak perlu khawatir kalau-kalau email saya nyangkut nggak sampai. Hadiahnya juga nggak dipotong pajak pula. Lagi-lagi, kemenangan ini pas sekali timing nya dengan kami yang sedang membutuhkan biaya untuk pengobatan Ubii. CT Scan Ubii dibiayai dari hadiah lomba blog ini. :'))

Ah, pokoknya two thumbs up for Nutrisi Untuk Bangsa deh! :)



Juara I 'Surat Cinta Mama' Lactamil Mamacare


Hari ini tanggal 24 Desember dini hari. Dua hari berselang dari perayaan Hari Ibu. Hari Ibu tahun ini saya rayakan dengan ikut membuat post serentak dengan judul Ibu, Cinta Tanpa Akhir bersama Kumpulan Emak Blogger. Tiba-tiba saya teringat apa yang saya lakukan pada Hari Ibu tahun lalu..

Tahun lalu saya belum bergabung dengan komunitas menulis apa pun. Tapi saya tetap menulis dong. Tahun lalu saya mengikuti lomba menulis surat yang diadakan oleh Lactamil Mama Care. Lomba tersebut dinamai Surat Cinta Mama. Dalam lomba tersebut, kami harus menulis surat untuk anak kami, boleh anak yang sudah lahir ke dunia atau anak yang masih dikandung. Dan tentu saja, saya menulis tentang Ubii.

Ubii masih berusia sekitar enam bulan tahun lalu. Saya baru mendapati bahwa ia mengalami gangguan pendengaran. Ubii belum memakai alat bantu dengar tahun lalu. Pengetahuan saya tentang hearing aids pun masih sangat minim sehingga saya mengira satu-satunya cara Ubii berkomunikasi kelak adalah melalui bahasa isyarat. Dan itu yang saya tulis.

Rasanya itu adalah lomba menulis yang pertama kali saya ikuti. Saya nggak punya harapan untuk menang karena banyak sekali mama yang mengikuti lomba Surat Cinta Mama ini. Apalagi tiap mama diperbolehkan untuk mengirim lebih dari satu surat. Ah ikut aja, iseng-iseng, begitu pikir saya. Pemenang lomba Surat Cinta Mama diumumkan bertepatan dengan Hari Ibu. Saya juga nggak dengan sengaja mantengin linimasa @MamaCareID, because I didn't expect anything.

Saya ingat betul hari itu saya sedang menunggu giliran untuk bertemu dengan dokter spesialis kulit untuk mengkonsultasikan eksema pada pipi Ubii. Antrian yang banyak membuat saya bosan sehingga saya kluthak-kluthik dengan smartphone dan mengamati tweets di linimasa saya. Nggak sengaja saya lihat @MamaCareID sedang mengumumkan pemenang lomba Surat Cinta Mama.

Aaaakkk, saya Juara I! *happy* *kegirangan* *sadar diliatin pasien lain* *duduk manis lagi*


Serius! Saya tuh nggak ngeh kalau hadiahnya adalah Samsung Galaxy Tab 7.0. Waktu itu saya ikut murni iseng, tanpa niat mengejar hadiah. Setelah tau hadiahnya, saya langsung lemes. Senang sekali karena itu akan menjadi tab pertama saya. Langsung saja saya mengirimkan data diri saya pada Lactamil Mamacare.

Setiap hal pasti memiliki pro dan kontra. Itu juga yang saya alami dengan kemenangan ini. Selain ucapan selamat, saya juga mendengar membaca ada seorang mama yang memprotes @MamaCareID karena memenangkan surat saya. Ia bertanya dengan nada pedas mengapa surat yang dimenangkan sebagai Juara I harus dari surat yang menceritakan tentang penyakit anaknya. Ia menganggap saya menjual cerita sedih dan mencari simpati untuk menang. Syukurlah @MamaCareID bisa menanggapi protes tersebut dengan bijaksana. Thank you Lactamil Mamacare! :)

Satu hal lagi yang sempat membuat saya kalang kabut adalah ketidakpastian pengiriman hadiah lomba ini. Saat itu pihak Lactamil nggak memberitahu dengan pasti kapan hadiah akan dikirim. Saking lamanya menunggu, saya sempat berkali-kali bertukar message dengan Juara II Surat Cinta Mama karena ia pun juga kalang kabut mengapa nggak kunjung ada kabar. Syukurlah akhirnya hadiah saya sampai dengan selamat, masih diberi bonus sekotak susu Lactamam pula. Yeay!

Hanya berselang seminggu kemudian, Samsung Galaxy Tab 7.0 hadiah itu saya jual karena sedang membutuhkan biaya untuk pengobatan Ubii. Batal deh memakai gadget baru. Hihihi. But it's fine, really! Saya bersyukur Tuhan mengirimkan rejeki-Nya untuk Ubii melalui Lactamil Mamacare.

Ini tulisan saya yang memenangkan lomba Surat Cinta Mama itu.

Kalau kurang jelas, bisa lihat di sini ya