Wednesday, July 20, 2016

Ketika Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus Melihat #HariPertamaSekolah

Helloooo! Ya ampun, #GesiWindiTalk sudah libur berapa kali yah! Padahal dulu saya dan Windi janjian #GesiWindiTalk itu tayang seminggu sekali. Sungguh durjana banget kemalasan kami ini emang! 

Sempet bingung deh mau bahas apa di blog kami. Tengok-tengok timeline FB, kayaknya yang sedang hot sekarang adalah #HariPertamaSekolah. Di timeline FB saya banyak banget ceritanya. Mulai dari PAUD, TK, dan SD. Yang SMP dan SMA belum liat sih. 


So, deal, hal itu kami jadikan tema buat #GesiWindiTalk kali ini yah!

Windi memang pas banget mengalami anaknya mulai sekolah. Putri sulungnya, Tara Si Negara Api, baru saja mulai masuk playgroup kemarin. Baca cerita Windi Teguh:
Lhah, saya apa kabar? Emangnya anak saya udah ada yang mulai sekolah kok nulis tentang ini? BELOM. Hahahaha. Kakak Ubii, sekarang usianya sudah 4 tahun. Anak-anak usia 4 tahun sudah banyak yah yang mulai bersekolah, playgroup ya biasanya? *tolong koreksi kalau saya keliru*

Nah, Kakak Ubii ini belum bisa bersekolah karena kebutuhan khususnya (cerebral palsy dan profound hearing loss). Jadi, saya mau cerita aja tentang #HariPertamaSekolah dari perspektif ibu yang anaknya difabel sehingga belum bisa sekolah, yah.

Sebetulnya awal tahun ini saya sudah mendaftarkan Kakak Ubii untuk bersekolah. Bukan sekolah umum tentu saja, melainkan sekolah khusus untuk anak-anak dengan cerebral palsy. Kalau nggak salah ingat, saya mendaftarkan Kakak Ubii dan menjalani assessment penerimaan di bulan Januari tahun ini. Saya cukup optimis Kakak Ubii bisa diterima karena hasil assessment nya cukup baik.

Ternyata, dokter dan dewan guru *haish bahasanya* merasa bahwa Kakak Ubii lebih baik melanjutkan terapi-terapinya dulu dan nggak sekolah dulu tahun ini. Menurut neurolog kami, kemampuan motorik anak akan berkembang optimal sampai usia 5 tahun. Jadi, saya disarankan untuk menggetolkan terapinya dulu dan baru mendaftar sekolah lagi tahun depan saat Kakak Ubii sudah 5 tahun.

Perasaan saya campur aduk. Di satu sisi, lega. Lega karena nggak harus nambah agenda dan bangun lebih pagi. Bahahaha! Soalnya saat ini Kakak Ubii terapinya seminggu 5x euy. Sudah berasa kayak sekolah juga sebenernya. LOL. Di sisi lain, saya sempat kecewa juga sih.. Karena sudah membayangkan bahwa tahun ini saya bisa mewujudkan angan-angan saya semenjak hamil Kakak Ubii dulu: mengantarnya ke sekolah.

Saya tuh memang suka berkhayal sih anaknya. Saya suka membayangkan kalau Kakak Ubii sekolah, mau pakai tas model apa. Pakai jepit rambut. Pakai kaos kaki dan sepatu. Dan tentu saja, pakai baju seragam. Seperti anak-anak lain. :')))) Shallow banget yah.

Tahun ini memang belum waktunya buat kami. Gak papa Gesiiii gak papaaaaaaa!!!

Nah karena saya emang dari dulu bermimpi banget mengantar Kakak Ubii sekolah, saya sudah menyiapkan beberapa printilan loh sebenarnya. Ada tas, jepit rambut (teuteup), kotak makan, dan lain-lain. Berhubung tahun ini belum bisa kepakai, maka izinkanlah saya pamerkan di sini yah pemirsa. Wkwkwk.

Ini nih beberapa tas yang sudah saya 'tabung' sejak dini. LOL.


Untuk tas nya. Ada yang sudah saya beli sejak lama dan ada juga yang dikasih. Biar bisa ganti-ganti. Kan Kakak Ubii anaknya banyak gaya. Yang dompet bentuk kepala cewek itu entah buat apa nanti. Lucu aja pokoknya.

Ada juga jepit rambut, biar makin kece. Siapa tau ada yang naksir Kakak Ubii di sekolahan. Tapi pada nyebar entah ke mana karena memang sudah mulai dipake.

Lalu kotak makan dan printilan sendoknya.


Kemudian saya baper sendiri. Bahahaha!

Terus saat saya melihat #HariPertamaSekolah di timeline saya, rasanya gimana? Baper? Sedih? Enggaaakkk!

Bukan karena saya sekuat dan setegar itu yah. Tapi karena masa kebaperan saya melihat anak lain sudah sekolah sementara Kakak Ubii belum itu sudah lewat. Saya bapernya sudah tahun lalu karena tahun lalu sepupu Kakak Ubii mulai masuk PAUD padahal sepupu ini usianya lebih muda daripada Kakak Ubii. Jadi dulu, awal-awal, saat saya lihat foto-foto sepupu ini, lihat dia pakai seragam, foto di sekolahnya, dan melihatnya diantar-jemput, rasanya sedih.

But as time went by, lama-lama biasa juga dan bapernya sudah hilang. Jadi, kemarin baca-baca cerita hari pertama sekolah temen-temen di FB mah saya nggak yang jadi sedih gimana gitu. Memang, masih ada perasaan kecil hati menyelinap. I actually don't really know what's the perfect word to describe my feeling. Entah kecil hati, baper, sedih, galau, iri, kepengin, atau apa. You got what I mean ya, hopefully.

Saya rasa perasaan ini wajar banget sampai taraf tertentu. Siapa sih Ibu di dunia yang nggak kepengin melihat anaknya bisa sekolah? Pasti semua kepengin, kan? Kalau merasa kecil hatinya cuman sekelibat lalu biasa lagi, menurut saya itu masih taraf okay. Tapi, kalau bisa, jangan sampai sedihnya berkepanjangan. Capek sendiri nanti. Beneran. Trust me!

Dari cerita-cerita hari pertama sekolah di timeline saya, saya malah jadi bisa melihat banyak hal yang sebelumnya saya nggak pernah tahu. Seperti misalnya ada anak yang nangis terus di hari pertamanya, sebaliknya ada juga yang happy-happy aja. Ada juga yang cerita bahwa Pak Kepsek kasih sambutan kelamaan padahal matahari sedang terik banget sampai pada kepanasan. Lucu sih itu, hehehe. Ada juga yang cerita sekilas tentang peraturan di sekolah anaknya seperti nggak boleh bawa handphone, harus pakai sepatu hitam, dan lain-lain. Foto-foto ruang kelas juga banyak. I've never seen or experienced those things before in my life as a mother. So, buat saya, cerita-cerita kayak gitu seru dan saya nikmati.

Puji Tuhan, alhamdulillah, perasaan kecil hati saya cuman sekelumit. Nggak lama kemudian hilang diganti dengan mesam-mesem nontonin foto-foto anak-anak dengan berbagai ekspresi di hari pertama mereka bersekolah. 

Bagaimana dengan ibu-ibu lain yang punya anak berkebutuhan khusus yang belum bisa mulai sekolah juga? Berikut ada beberapa sharing dari mereka.

Ippeh M. Faiq: Tetangga-tetanggaku yang umurnya 3 tahun sama kayak Faiq sudah pada mulai sekolah. Suamiku sudah membayangkan jagoan kami pakai seragam sekolah yang unyu, gendong tas, dan pamit sun tangan ke kami. Ah baper.. Impiannya entah bisa tercapai tidak. Tapi, buat kami, Faiq bisa mandiri pun sudah bahagia luar biasa. Namun, tetap kami nggak bisa bohon. Harapan untuk lihat Faiq sekolah pasti masih ada.

Curly Oye: Affan kini berusia 3 tahun, itu berarti seharusnya 2 tahun lagi sudah masuk TK. Teman-temannya sudah pandai bernyanyi dan mengenal nama-nama hewan, benda, anggota tubuh, dan lain-lain, tapi Affan bahkan belum bisa menunjuk anggota tubuh selain perut. Jangankan menyanyi, bicara saja belum bisa. Masih babbling. Sedih juga jika membayangkan kelak di usianya yang ke-5 akan dibawa ke mana anak saya. Apakah harus menunda sampai Affan siap sekolah atau bagaimana. Bingung membayangkan bagaimana reaksi mertua jika Affan nggak bisa mengikuti pelajaran seperti teman seusianya. Sedih jika membayangkan nantinya Affan dijauhi dan jadi tontonan mengingat ada stigma negatif tentang epilepsi.

Shofi Fida Azzizah: Anak saya, Zaim, tahun ini semestinya sudah kelas 2 SD. Tapi, alhamdulillah, saya nggak pakai emosi saat melihat anak lain bersekolah karena saya sadar bahwa anak saya spesial. Saya selalu bilang ke Zaim bahwa tempat sekolahnya ya di rumah dengan nenek, kakek, ayah, dan mama sebagai gurunya karena sesungguhnya sekolah terbaik adalah rumah dan guru terbaik adalah orangtua.

***

Kesimpulan cerita ini apa yah? Oh ya, ada! ADA! 

Untuk teman-teman yang punya anak berkebutuhan khusus seperti saya,

Kadang, saat lihat anak lain (apalagi yang lebih kecil) sudah mulai bersekolah sementara anak kita belum karena kondisinya, mungkin di awal-awal kita akan baper. If you're feeling it right now, jangan merasa lemah, you're not alone. Semua ibu dengan anak difabel pasti pernah baper juga. TAPI, bapernya jangan kelamaan yah. Percaya saja, suatu saat nanti ada masanya anak-anak kita bisa sekolah juga, entah itu di sekolah umum, inklusi, atau sekolah luar biasa. Kalau sedang baca cerita anak sekolah di FB lalu baper, PLEASE STOP scrolling your timeline. Nanti bapernya berkepanjangan. Taroh dulu gadgetnya dan lakukan hal lain yang bisa menyalurkan emosi baper kita. Misalnya nguras bak atau ngosek kamar mandi. Itu capek banget. Dijamin emosi tersalurkan. LOL.

Untuk teman-teman yang anaknya sehat dan lincah, bisa sekolah sesuai pertambahan usianya,

Kalau kalian punya tetangga/saudara/kenalan yang anaknya berkebutuhan khusus dan mereka tampak nggak antusias saat kalian bercerita tentang hari pertama sekolah anak kalian, jangan langsung sebel merasa nggak ditanggapi dan diambil hati ya. Bisa jadi mereka belum bisa menata kebaperan mereka karena sedih anaknya belum bisa sekolah seperti anak kalian. Just like me last year. Sungguh, bukan berarti kami nggak senang anak kalian sudah sekolah. Ikut senang dong pastinya. It's just us. Kami nya aja yang mungkin belum bisa menghalau baper kami.

***

So, bagaimana hari pertama sekolah anak-anak kalian? Ada cerita apa nih? Atau, ada juga yang punya anak berkebutuhan khusus seperti Kakak Ubii yang belum bisa ikut meramaikan #HariPertama Sekolah? How do you feel? 

Let's share it!



Love,



12 comments:

  1. Wuaaa... aku kemaren juga agak baper plus pengen sih nganterin anak ke sekolah, apalagi sebelah ruang kerjaku itu TK, ngebayangin nganter Juna ajahh... tapi Juna masih 20 Bulan, Insya Allah tahun depan sekolahnya, Kak Ubii juga yak...

    ReplyDelete
  2. tempat minum dan tempat bekalnya sama kayak punya Marwah hihih. Pasti para emaknya yang milih hehe. Sehat terus yaaa Ubii, tahun depan mami Grace pasti anter kamu sekolah

    ReplyDelete
  3. Dompet kepala ceweknya lucuukk... semangat ya Ubii... thn depan Ubii sekolah 😀

    ReplyDelete
  4. Langsung ngebayangin Ubii thn dpn mulai sekolah pake tas2 itu ;)..lucu bangetttt pastiii ^o^..trs dianter ama adeknya juga ya mbak ;)..

    anakku pertama masuk TK A sih kmrn.. sebelumnya dia ikutan paud.. tapi jujurnya aku ga bisa anter juga mbak :(.. kerjaan kantor biasalah.. cuti udh ga bisa diambil makanya ga bisa nganterin si mba fylly.. terpaksa babysitternya juga as usual yg nganterin... :( tapi ngeliat foto2nya aja udh cukup seneng kok :)

    ReplyDelete
  5. iyaa mbak, baper secukupnya saja....tetap smangat ya, dirimu emak keereennn lhoo #salam kenal

    ReplyDelete
  6. Makasih sharingnya mami Ubii, Ubii yg semangat terapinya biar bisa sekolah tahun depan. Anak saya juga nangis masuk sekolah pertama setelah libur kemarin, tapi pas udah ketemu teman yg udah dikenal dia mau ditinggal :)

    ReplyDelete
  7. Sekolah ga gitu penting ges, yang penting tas sekolahnya banyak. Hahaha kidding. Itu tas banyak banget, jelas mamanya yg mupeng bukan anaknya. Hahaha

    ReplyDelete
  8. Tempat makan dan minumnya lucu amat deh. Hihihi, wajar ya Mba Ges, ada terselip rasa kurang nyaman, mengingat kehebohan yang ada. Tapi, tips dari Mba Ges bagus banget, bukan hanya untuk Ibu2 dengan ABK saja tapi buat Ibu2 yg mungkin belum memiliki anak hingga usia pernikahan mereka beranjak menua. Dan saya yakin, dengan saling mengingatkan bisa sedikit meringankan beban pembaca yang merasakan hal yang sama.

    Semangat Mba Ges, Ubii akan menjadi anak yang sehat dan bahagia :)

    ReplyDelete
  9. Hari pertama sekolah saya malah baper, mami ubii. Lha hari H (sampai hari ini) malah ga mau berangkat padahal sebelumnya semangat banget. Tapi baru 3,5 tahun sich, jadi biarin aja dulu :)

    Kakak ubii semangat terapinya ya... :)

    ReplyDelete
  10. Koreksi Mami Ubi, Ka Tara itu setauku penguasa kerajaan air dah. Makanya dia bisa ngajarin Aang buat balon air. *lalu ditoyor Windi :D

    ReplyDelete
  11. Telat tapi pasti :) Semangat ya mama ubii dan kakak ubii dalam menjalankan therapi :)

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...