Monday, October 26, 2015

Berdamai dengan Peran Ibu


How do you see this picture? How do you understand this well-known quote said by one Dona Ball? For some reasons, I always find this quote quite deep indeed. Like this Dona Ball does really live in her role as what's so called mother. Like this woman does really understand how a mother should be. Because this quote, I have to say, seems to work to all mothers. From all ages, races, countries, religions, and many more. When first seeing this quote, I thought it was an over statement. I didn't see how it made sense. But, now I do.

Credit

Peran ibu buat saya kadang-kadang masih bagaikan sesuatu yang terasa tidak nyata. Rasanya baru kemarin saya menonton pertandingan basket dan memperhatikan kakak kelas pemain basket yang keren di bangku SMA. Rasanya baru kemarin saya dan teman se-geng (((GENG))) begitu ribetnya memilih outfit keren untuk memenuhi dresscode hajatan sweet-seventeen teman. Rasanya baru kemarin saya dan sahabat-sahabat ngopi-ngopi di angkringan murah meriah yang banyak ditongkrongi anak sekolahan sambil cekikikan dan ngobrol remeh-temeh tanpa beban. Rasanya baru kemarin saya ikut kumpulan motor Mio dan mengabsen siapa saja yang datang karena saya sekertaris geng motornya (((GENG MOTOR))). 


Peran ibu buat saya kadang-kadang masih bagaikan sesuatu yang terasa ajaib. Rasanya baru kemarin saya tenggelam dalam euphoria mahasiswa yang bebas berpakaian apa saja. Rasanya baru kemarin saya menghapal rumus tenses untuk ujian kelas Structure bersama teman-teman se-kos. Rasanya baru kemarin saya mengincar bangku terdepan atau kedua dari depan untuk beberapa kelas mata kuliah. Rasanya baru kemarin saya mencatat beberapa lexicon di post-it supaya bisa cepat hapal sebelum ujian kelas Vocabulary. Rasanya baru kemarin saya puas karena saya dapat nilai 96 di mata kuliah Syntax padahal rata-rata nilai teman-teman saya lumayan jeblok. Rasanya baru kemarin saya membatin, "Kok banyak ya kakak angkatan yang mengulang kelas Structure V ini?" - di mana salah satu kakak angkatan yang mengulang kelas itu kini jadi suami saya. Rasanya baru kemarin saya menerima hasil thesis defense dengan rasa bangga yang luar biasa. 

Rasanya baru kemarin saya bangun tidur dengan deretan rencana, harapan, perasaan ingin menantang hari dan diri sendiri, dan target yang tersusun dengan rapi, atau kadang spontan.

Perasaan melakukan semuanya untuk diri sendiri itu, saya lupa-lupa ingat. Perasaan menjalani kehidupan sebagai seorang human being tunggal itu, sekarang jadi barang langka. Karena sekarang tiap pagi saya bangun dengan rencana dan harapan yang melibatkan anak-anak. Selalu ada anak-anak di dalamnya. Bahkan ketika menyusun rencana untuk diri sendiri pun, pasti ada pemikiran tentang anak-anak. Saat menyusun target untuk kebutuhan pemenuhan diri pun, pasti ada unsur tentang anak-anak yang jadi ikut mengekori. Rencana harian sesederhana ingin makan di luar akan diikuti dengan 'enaknya di mana ya yang tempatnya nyaman buat anak-anak' lalu 'resto mana ya yang ada baby chair untuk si kakak' lalu 'resto mana ya yang ada menu yang bisa dimakan si kakak' - sehingga akhirnya makan di luar menjadi makan di luar di mana si kakak bisa makan dengan nyaman dan si adik juga nyaman. Target sesederhana ingin bangun pagi lalu mulai rutinitas jogging demi hidup lebih sehat juga diekori dengan 'nanti kalau pas lari si kakak bangun dan rewel, gimana ya' atau 'duh kalau beneran rewel, kasihan suami mawangin sendirian, gimana kalau pas si kakak maunya sama maminya' - sehingga akhirnya batal lari. 

Rencana, target, dan harapan sesederhana apa pun akhirnya menjadi tidak pernah lagi sederhana setelah menjadi ibu. Karena kenyamanan anak-anak, mau tidak mau, suka tidak suka, menjadi pertimbangan di urutan teratas daftar prioritas. Hal ini membuat saya sadar bahwa bagian ini,

Motherhood is a choice you make everyday, to put someone else's happiness and well-being ahead of your own,

adalah BENAR.

Mungkin ini sudah sering saya ungkapkan, dan akan saya ungkapkan lagi di kalimat selanjutnya. Saya masih terperangah melihat diri saya lebih mengutamakan anak-anak daripada diri saya. Ini bukan statement untuk menunjukkan bahwa saya secinta itu pada anak-anak. Ini statement orang yang diliputi heran. Heran mengapa anak-anak bisa sedemikian rupa membuatnya ingin mendahulukan mereka dan menunda kepentingannya sendiri. Seandainya bisa, saya ingin sekali mencari tahu sejak kapan saya merasakan ini. Yang jelas, bukan saat pertama kali melihat wujud mereka setelah lahir ke dunia. Saya tidak dianugerahi sense keibuan sekuat dan secepat itu. Yang jelas, bukan saat membawa mereka pulang ke rumah. Karena yang ada dalam pikiran saya saat pulang ke rumah adalah 'Kapan perban nya boleh dibuka ya, aku pengin cepet-cepet mandi gebyuran, gak betah cuma mandi seka' - dan itu terjadi dua kali, saat membawa anak pertama dan kedua pulang ke rumah.

***

Credit

and to forgive yourself, over and over again, for doing everything wrong

Saat pertama membaca bagian itu, saya berpikir, "Why on earth should I forgive myself? Memangnya aku bakal ngapain anakku sendiri? Kan nggak mungkin aku dengan sengaja menjahati mereka toh?"

Ternyata memang betul, saya harus memaafkan diri saya sendiri berulang-ulang kali. Countless times.

Hal itu baru saya sadari belakangan ini, tepatnya setelah saya kerepotan mengasuh dua anak sendiri pasca ditinggal ART resign.

Baca: Balada Asisten Rumah Tangga (ART)

Ternyata badan yang letih dan pikiran kusut adalah kombinasi sempurna untuk membuat saya kehilangan kesabaran. Ada waktu-waktu di mana saya merasa sebal mendengar tangisan si adik yang kehausan minta menyusu. Kalau dipikir-pikir, bukankah itu tidak masuk akal? Namanya juga bayi sebulanan, ya pasti masih sering menyusu dong. Ada waktu-waktu di mana saya merasa geregetan karena ritual makan dan mandi harus saya jalani dengan terburu-buru. Entah karena si adik sudah menangis atau karena si kakak mendadak rewel. Ada waktu-waktu di mana saya merasa kesal setengah mati karena si kakak makannya lambat dan kadang melepeh-lepeh makanannya sehingga mengundang semut di saat yang bersamaan dengan si adik yang kehausan minta menyusu. Ada waktu-waktu di mana saya ingin berteriak saat saya menyuapi si kakak sambil menyusui si adik dengan posisi berdiri sehingga badan saya penuh keringat padahal habis mandi. Ada waktu-waktu di mana saya frustrasi karena sekarang sulit sekali meminumkan obat pada si kakak yang badannya makin berat dan sudah bisa dengan sengaja melepeh obat. Satu obat yang dulunya bisa sekali masuk kini bisa empat kali, karena di upaya pertama sampai ketiga berhasil dilepeh semua sehingga tidak ada yang masuk.

Akhirnya, di saat-saat itu, nada bicara saya meninggi pada si kakak. Akhirnya, saya menyusui si adik dengan terburu-buru dibarengi harapan supaya menyusunya cepat selesai. Akhirnya, saya mengurus mereka dengan wajah tertekuk dan setengah hati, sambil berharap agar waktu mereka tidur lekas tiba lalu saya merdeka. Akhirnya, ada waktu di mana saya menepuk pantat si kakak dengan cukup keras atau mencubitnya karena saya sudah tidak tau harus apa.

Saat-saat itu kemudian, biasanya malam-malam, akan membuat saya merasa sangat amat bersalah luar biasa.

Baca: Minta Maaf pada Anak: Yay or Nay?

Namun, ketika hari sedang baik dan anak-anak mudah diurus, tetap saja ada yang harus saya maafkan dari diri saya sendiri. Hal-hal keseharian saja, tapi tetap membuat saya kepikiran malam-malam. Biasanya akan muncul banyak pengandaian di kepala.

Seandainya tadi aku bangun lebih pagi, jadi aku bisa memulai rutinitas mengurus anak dengan tidak tebruru-buru. Harusnya tadi aku nggak kelupaan beli brokoli, masak si kakak makan tanpa lauk sayur hari ini. Andai saja tadi aku sudah mencuci botol susu kakak, sebelum tidur kakak nggak harus menungguku cuci botol dulu untuknya minum susu. Coba tadi aku buru-buru mandi sore saat anak-anak tidur siang, pasti mereka bisa langsung kumandikan setelah mereka bangun. Harusnya tadi aku nggak bangun kesiangan, jadi aku nggak melewatkan sesi pumping sehingga payudaraku pegal dan si adik jadi harus menungguiku pumping dulu. 

Atau yang paling nggak penting.

Seandainya tadi aku nggak ngupil dulu padahal si adik sudah nangis minta nenen, kan dia nggak harus menungguiku cuci tangan dan mengeringkan tangan dulu jadi nangisnya tambah lama. Ya gimana, habis kalau nggak dapat upilnya, kan penasaran.... Hahaha.

***

The bottom line is, begitu banyak hal-hal mulai dari yang serius sampai yang hanya printilan yang bisa membuat saya merasa harusnya saya bisa lebih baik lagi. Rasanya kalau keletihan, kemalasan, dan keterbatasan kesabaran saya membuat anak-anak jadi kurang terurus, guilty nya luar biasa. Hal-hal itu lah yang membuat saya harus memaafkan diri sendiri berulang kali dan meyakini kalau hari esok akan lebih baik. Dan, tentunya, memaafkan diri sendiri adalah berdamai dengan diri sendiri juga, betul?

Kayaknya gampang secara teori yah; berdamai dengan diri sendiri itu. Ternyata praktiknya nggak segampang yang saya bayangkan.

Ada nggak sih yang merasakan hal ini juga? Or am I just being too hard on myself? Anyway, aside from all of these, being a mom makes me find more sides of me which I never found out before.

Baca: A Mother, A Thinker, A Planner: ME

Semoga kita bisa menjadi ibu yang lebih baik lagi ya.. :)





Love,









26 comments:

  1. Mami Ubii...salam kenal. Baru ini punya kesempatan komen di blogmu.
    Ahh...ini situasi yang samaaa..our daily routine as mother of two.
    Cerita-ceritamu tentang Ubi membuat saya langsung terhempas ke bumi kalau mau mengeluh...Terima kasih sudah membagi cerita yang menyentuh.

    Semoga Kakak Ubi dan adiknya selalu dalam lindungan Tuhan, Grace n suami juga selalu diberikan rejeki dan kesehatan yang baik.

    ReplyDelete
  2. Iya maks. Rasa bersalah itu selalu ada saat harapan tak menjelma kenyataan. Saat anak2 udah gede n beranjak abege, lain lagi seninya maks. Repot berkurang, tapi esmosi nambah hahaha. Semoga kita jadi ibu yg selalu berusaha yg terbaik meski harus berdarah2 ya :)

    ReplyDelete
  3. Pernah mbak...waktu anak ke 2 masih bayi....saya kepikiran juga..." begini ya rasanya jadi ibu...se siang hanya pada kegiatan ganti celana ompol-nyusui-ganti baju kena muntah- urus jemuran, muter itu2 aja mpe matahari tenggelam... Itu karena jaman anak pertama juga di handle ARt.

    Semenjak jadi ibu, bnr...tanpa sadar, anak jadi prioritas. Ayah- ibunya gpp bajunya compang- camping tanpa banyak pilihan...yang penting anaknya bisa pke baju layak :-D

    ReplyDelete
  4. nggak tau ya,mau komen apa habis baca cerita panjang ini....belum kebayang aku nanti gimana ya???>_<
    lagi asik2 baca,ngakak pas baca ngupil hahahaha....

    ReplyDelete
  5. rasa bersalah itu sampai sekarang rasanya masih nempel mak, suami dan anak udah minta dd bayi baru lagi, tapii..saya gatau apa saya siap mak, hiks...saya bilang, kalo hamil lagi nanti ada mbak ya? tapi..apa itu menyelesaikn masalah? ih jadi curcol saya ya

    ReplyDelete
  6. mami ubii..
    tetap semangat yah, saya selalu kagum pada kesabaran dan ketegaran mami ubii :*
    semoga kakak ubii, baby aiden, mami ubii dan papi ubii selalu diberi kesehatan, amin..

    ReplyDelete
  7. iya sih.... kadang melakukan sesuatu terburu-buru..karena lalai dengan waktu sebelumnya...

    ReplyDelete
  8. Hal seperti ini yg bikin saya mikir dulu kalau mau nambah anak sekarang :)

    Kebayang gimana rempongnya mami ubii ngurus balita 2, tetep semangat ya mak :)

    ReplyDelete
  9. Kadang memang penyesalan suka aadddaaa aja setiap harinya, hiks. Semoga selalu menjadi ibu yang baik

    ReplyDelete
  10. Mbak Gess, baca postinganmu bikin trenyuh.
    Semoga kita sama2 jadi ibu yang lebih baik buat anak2 ya...

    ReplyDelete
  11. Sama mbak Gesi, sekarang udah jarang mengerjakan hobi, niatnya kalo si baby tidur mau me time, tapi baru mau mulai udah bangun lagi, padahal pengen me time udah dari lama
    Harus lebih bisa memprioritaskan anak-anak, dan dibawa enjoy aja

    ReplyDelete
  12. Ahhh daku blm merasakannya mak. Tapi skrg suka mikir juga si kl berebut makanan sama keponakan. Dalam kondisi makan bareng, sama2 laper, tapi yaa harus ngalah sama lauk yg diambil krucil.

    Smg kita bs jadi Ibu yang terbaik untuk anak2 kita kelak yaa mami ubiii. Aamiin

    ReplyDelete
  13. Aduuh.. yang pertama sih pengen nangis haru, tapi kok ke turun ke bawah ada ngupilnya, hihiii
    Tapi, mama Ubii dan Aiden sih the best of Mommy, moga sehat selalu yaaa :)

    ReplyDelete
  14. Ibu2 yang sempurna itu cuma ada di online story yang biasanya cuma diceritain yang bagus2nya ajaaah. Hahahaha, yang kayak kita gini namanya ibu2 realistis. Karena memang sehari2 ya begitu itu. No need to feel guilty (padahal aku juga sering guilty) tapi baca ceritamu, oh well, aku juga kayak gitu. Muka ketekuk, teriak2, kita samaaaaa
    Anak makan ga pake sayur? gapapa sekali2 kalo males. Pingin mereka cepet bobok agar kita merdeka? itu juga aku bangeeeet.
    No need to feel guilty, karena ibu sabar sempurna murah senyum yang selalu masak sayur itu kok kayaknya ga ada ya?

    ReplyDelete
  15. sama gesi...semua sama... semangat ya dijalani ae :*
    aku juga paling males kalo lagi ngupil trus kudu cuci tangan dulu...apalagi kalau mau pup :/ ditahan2 ga boleh masuk kmr mandi :/

    ReplyDelete
  16. aku juga kdg merasa bersalah kalau nyubit Aisyah. Tapi lama2 klo lg kesel aku mikirin klo nnt aku bkl nyesel klo nyubit dy lg.

    ReplyDelete
  17. somehow i feel the same way too, mba grace. all the time deh kayaknya. capek :D bikin bete kalo harus berdamai dengan diri sendiri. makanya saya ngotot anak satu aja sampai lima tahun ke depan :D karena saya orangnya sumbu pendek banget, gampang emosian. butuh waktu buat saya ngadepin hidup ibu-anak meski cuma perkara saya bangun kesiangan karena begadang sementara anak saya udah bangun dari jam 6 pagi & nonton disney nonstop. hadeuh. kalo nabil lagi bobo, saya suka cium2in pipina & peluk2 terus minta maap sambil mewek karena belum jadi ibu yang baik. yah begitulah :D

    ReplyDelete
  18. Saya juga bukan tipe keibuan. Terigat dulu pas wawancara masuk S2, ambil mayor pendidikan dan minor klinis dewasa. "Lho, kok gak ambil klinis anak Mbak? Biasanya yang ambil pendidikan minornya klinis anak" tanya pewawancara.
    Saya menjelaskan panjang kali lebar, agak mbulet gitu.
    "O, Mbaknya gak suka anak-anak ya" kesimpulan dari pewawancara sangat tepat dan membuat saya agak tertergun :D.
    Tapi nyatanya, saya langsung jatuh cinta kepada Fatih dan merasakan jatuh cinta lagi kepada Fattah. Hm, begini rasanya cinta yang sesungguhnya. Mereka yang utama, dan kepentingan saya pun terpinggirkan.

    ReplyDelete
  19. Tenang sajaa, wajah masih nampak 17 tahun, kok. Hahaha
    Iya, ya. Aku bntar lagi juga pasti gitu. Lebih mntingin kebutuhan anak. "Kira2 di kedai ini nyediain mainan buat anak ngga y? Biar aku ngga usah bwa mainan." Hahaha


    Seloow baen. Biar awet mudaa. *teori*

    ReplyDelete
  20. Deeply true Mak \( ö )/ apalagi yang bagian rasa bersalah. adanya anak membuat ortu jadi lebih disiplin wekekekek

    Yang bagian 'upil' bikin ngakak Mak, muehehe

    ReplyDelete
  21. Yang penting tetep yakin ya mak kalo dirimu ibu terbaik buat ubii n aiden. Btw, bikin geng emak blogger jogja yuks. Wkwkkw

    ReplyDelete
  22. persis mami gesi, seperti yang saya rasakan dengan 2 orang anak ini. Setiap hari harus memaafkan diri sendiri, semua sama mak gesi,,bisa persis gitu ya,, pelukan deh kalo gitu T_T semua akan indah pada waktunya :*

    ReplyDelete
  23. That happens to me too. Saya baru pnya anak satu usia 11 bln aja uda berasa feeling yg mbak rasakan. Repot, capek, khawatir, tp ttp happy dgn kehadiran anak dlm hdup saya. Yg ptg selalu mencoba mnjdi ibu yg lbh baik setial harinya. Semngaaaattt..

    ReplyDelete
  24. makasih gan infonya dan semoga bermanfaat

    ReplyDelete
  25. terimakasih bos infonya dan salam sukses

    ReplyDelete
  26. mantap mas infonya dan sangat menarik

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...