Monday, September 27, 2010

Keluh


Anjing menggonggong. Kucing mengeong. Kambing mengembik. Kamu? Kamu mengeluh. Mengeluh. Bukan melenguh. Bukan melenguh seperti sapi. Bukan melenguh saat hasrat menuju nafsu birahi. Bukan melenguh yang itu. Bukan melenguh, tapi mengeluh.

Kamu mengeluh. Tentang apa? Tentang semua. Semua yang kamu dengar, kamu lihat, dan kamu rasa. Di telingamu, semua bunyi tak syahdu. Di hidungmu, semua bau tak semerbak. Di matamu, semua benda terlihat tak menawan. Dan di kulitmu, semua yang tersentuh tak memuaskan. Karena itu kamu mengeluh dan bukannya melenguh.

Kamu mengeluh. Setiap hari. Sampai-sampai, aktifitas mendasarmu bukannya bernapas tapi mengeluh. Pagi, siang, malam, kamu mengeluh. Begitukah kamu menandai eksistensimu? Dengan mengeluh? Pilihan yang… absurd.

Kamu mengeluh. Terhadap siapa? Terhadap siapa saja. Kamu bisa mengeluhkan temanmu yang kamu anggap menjengkelkan. Kamu bisa mengeluhkan ibumu yang terlambat menyiapkan makan siang. Bahkan, kamu bisa mengeluhkan Tuhan yang kamu anggap mencurahkan terlalu banyak panas di hari siang. Kalau Tuhan Yang Maha Segalanya pun bisa menjadi objek keluhanmu, tentu saja aku yang Cuma manusia biasa pun tak akan luput menjadi objek yang kamu keluhkan. Benar bukan? Masuk akal bukan?

Kamu mengeluh karena aku serba terlalu. Terlalu perhatian saat kamu ingin sendirian. Terlalu dingin saat kamu butuh kehangatan. Terlalu pendiam saat kamu menuntut aku mengucap banyak kata. Terlalu bising saat kamu meminta hening dan pembicaraan dalam diam. Terlalu ini dan terlalu itu. Terlalu yang menurutku sama sekali belum terlalu.

Kamu mengeluh tentang keberadaanku. Lagi-lagi tentang itu. Lalu, mengapa kamu memaksaku untuk tetap berdiri di sampingmu? Mengapa tak kamu lepaskan saja aku yang buat kamu sudah sungguh terlalu? Tak tahukah kamu bahwa aku sudah mulai muak dengan keluhan-keluhan konyolmu itu?

Kamu mengeluh. Kapan saja, terhadap apa dan siapa saja. Kapan kamu akan sediakan waktu buatku untuk mengeluh? Toh, kupingmu tak akan terlalu panas mendengar keluhanku. Keluhanku tidak akan mengacu tentang banyak objek seperti keluhan-keluhan yang biasanya keluar dari mulutmu. Keluhanku hanya akan mengacu pada satu hal. Satu hal yang sangat dekat dengan kamu dan kamu pasti familiar dengan hal itu.

Ya! Keluhanku adalah tentang KAMU yang sudah mengeluh terus-menerus dan sudah terlalu. Dan kali ini aku akan mengeluh, bukannya melenguh seperti yang sudah-sudah.

January 6, 2010
-TIRED-

4 comments:

  1. iya..sekuat-kuatnya kuping mendengar.jiwa bisa rusak juga kalau tiap hari mendengar keluhan...aku pernah mengalaminya

    ReplyDelete
  2. Dogs bark, cats meow, goats bleat—but you? You complain, endlessly and effortlessly. Every moment feels like something is lacking, every experience falls short, and instead of seeking change, you let dissatisfaction define your voice. From the smallest inconvenience to life’s bigger struggles, everything becomes a reason to complain, as if that alone shapes your identity. Even in a world full of options and solutions—like when people choose to Buy thesis online to ease academic pressure—you still cling to frustration. At some point, the question isn’t what’s wrong around you, but why complaining feels more natural than change.

    ReplyDelete
  3. Bener banget Kak Gesi, dengerin orang ngeluh terus emang bikin capek jiwa. Kadang kita butuh pelarian bentar biar nggak ikutan stres. Kalau aku sih biasanya cari hiburan simpel lewat HP aja buat refresh otak. Ada yang pernah daftar di https://binobi-id.com/? Bonus new membernya lumayan besar buat tambahan modal iseng-iseng pas lagi butuh me-time di Indonesia. Lumayan lah buat balikin mood daripada dengerin keluhan nggak jelas tiap hari.

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^