Wednesday, April 22, 2020

Diari Papi Ubii #40: Auf Wiedersehen, Social Media

Adit udah 2 bulan ini deactivate media sosialnya (Facebook dan Instagram). Sekarang jadi nggak bisa mention-mention dia lagi huhuhu. Saya kadang rada kangen dia punya sosmed karena alasan itu lol.


So kali ini Adit mau cerita tentang capcus dari media sosial buat Diari Papi Ubii. Dia udah kirim draft tulisan ini sejak 24 Maret, tapi baru saya publish huhu maaf ya, Adit. Cus baca.

Adit:
An open Facebook page is simply a psychiatric dry erase board that screams, “Look at me. I am insecure. I need your reaction to what I am doing, but you’re not cool enough to be my friend. Therefore, I will just pray you see this because the approval of God is not all I need.― Shannon L. Alder
Sudah satu bulan ini saya deactivate akun Facebook dan Instagram saya. Bukannya kenapa-kenapa. Saya nggak totally against social media. Lha wong kerjaan saya itu 70% ngurusin social media kok. Saya sangat setuju sekali bahwasannya “social media for social good” is a thing. Contohnya, saya melihat Grace utilizes platform dia untuk social good — walau tidak dipungkiri doi juga dapat material benefit dari itu.

So, one fine day, saya dapat notifikasi di hape saya: screen time rata-rata saya dalam sehari mencapai 6 jam…

EXCUSE ME BUT WHAT THE F***?


Lalu saya cermati lagi: 50% dari 6 jam (meaning 3 jam) saya habiskan untuk social media. This is too much, pikir saya. I mean, saya siapa sih? Influencer, bukan. Content creator, juga bukan. Saya cuma commoner yang kebetulan punya akun social media, and I’ve spent 3 hours every day on it? Saya lalu menyesal, membayangkan waktu yang terbuang scrolling social media, checking people I barely knew on what they are doing. 3 jam itu saya bisa pakai buat lari indoor, dapet 30 km. 3 jam saya baca buku, bisa dapet 100-an halaman if in English and could be even more if in Indonesian. 3 jam bisa saya pakai buat powering up karakter game di SoulCalibur 6 — yang kemudian saya nyadar, PS4 saya sudah mulai berdebu gara-gara jarang banget saya mainin. And on and on… list penyesalan terus bertambah.

Gongnya adalah waktu saya berantem sama Grace gara-gara social media. Konyol dan cringeworthy, memang. But for me it was an eye-opening moment. Saya sering share kegiatan sehari-hari saya di InstaStory. Sejak berhenti merokok, saya sering (bahkan kelewat sering) overcompensate my accomplishment by eating fancy foods. Saya juga sering “pamer” koleksi sepatu yang memang dari dulu sangat saya banggakan. Semua saya upload di Story — insensitively, without thinking, “Grace bakal ngerasa gimana ya ngeliat Story saya? Dia disana ngurus dua anak dan saya disini malah ena-ena.” Dan iya, at one point Grace marah. Well, I was thinking, dengan keadaan kami yang LDR-an, she has every right to be paranoid.

Quoting Maarten van Doorn, I present myself to the world as how I want to be seen. And not as how I am. I no longer relax to relax, but to recover so that I can be awesome tomorrow again. I no longer socialize to have fun, but to showcase how cool my life is. In my defense, I try to express thru social media. But then I realize, I wasn’t trying to express, but to impress. Impress siapa? People I barely knew on social media — because everybody does that too, apparently.

So then, I took quite a radical move.

Saya deactivate Facebook dan Instagram, 2 platform yang paling sering saya pakai. Saya deactivate tanpa woro-woro dulu di status. Cling, ngilang gitu aja. Target saya cuma deactivate selama sebulan, dan sekarang sudah sebulan lebih — yet I have no desire to reactivate my accounts. Lalu apa saja takeaway yang bisa saya ambil selama sebulan lebih hidup tanpa social media?


WE ARE NOTHING BUT A STATUS UPDATES YANG CUMA BERTAHAN SELAMA MILISECOND SCROLL.

Ya, seperti yang saya ungkapkan diatas, I am nobody to begin with. Saya bukan influencer, bukan vlogger, bukan content creator — saya tidak cari duit di social media. So, waktu saya berhenti main social media, ya hidup saya nggak ada yang berubah. Saya nggak mendadak jadi miskin. Saya masih jadi Aditya Suryaputra, suami dari Grace Melia, pegawai biasa di sebuah kantor di Jakarta. Jokowi masih jadi presiden, dan Jonru masih terus mengkritik beliau. Bir masih ngga boleh dijual di Alfamart dan Paus masih menganut Katholik. OK, cukup.


WHEN IT COMES TO SOCIAL MEDIA, IT’S ALL ABOUT YOU, YOU, AND YOU.

Setelah beberapa saat berhenti main social media, beberapa teman menanyakan saya, “Dit, aku cari kamu di Instagram, kok ngga ada sih?” Then I answered what there was. Saya jelaskan, saya butuh break dari social media karena saya sudah mulai overwhelmed by it. Reaksinya, mostly just an “OK” or “wow, good luck” thingy. Namun, ada beberapa orang yang bikin saya geleng-geleng kepala.


Malam-malam pas saya mau tidur, ada WhatsApp dari salah satu temen saya, intinya: “Dit, aku salah apa sih?” I was like, errr… what? “Iya, kenapa kamu blok aku dari Facebook? Aku salah apa sih ke kamu? Coba jelasin baik-baik jangan main blok aja.” … whoa — bisa gini yak? Yang deactivate siapa, yang sewot siapa. Then I realized, ternyata dengan sekedar nama saya sudah tidak bisa ditemukan di search tab, bisa bikin orang jadi insecure sampe ngelabrak LOL. Yeah, when you are in social media, it’s all about you, you, and you.


MENGHILANG DARI SOCIAL MEDIA = DEPRESI.

Ada pula temen yang tau-tau ngajak ketemuan. Pas ketemuan, dia make sure that I’m doing okay. I was like, hmmm ada apa ini? Begitu saya yakinkan mereka bahwa saya baik-baik saja, salah satu dari mereka bilang, “Ya habisnya kamu ngilang gitu aja dari Instagram…” Hooo… menarik juga ini point-of-viewnya. Mereka berpikir terkoneksi via social media adalah kebutuhan pokok setelah tiga kebutuhan primer: sandang, pangan, papan. Hence, jika konektivitas tidak terpenuhi, maka ada sesuatu yang salah.


EVERYONE THINKS THAT YOU ARE WATCHING THEM THROUGH THEIR STORY UPLOADS.

“Dit, menurutmu lensa yang kemarin gimana? Mending aku beli apa cari yang lain ya?”
“Ha? Lensa yang mana?”
“Halah. Itu, yang kemarin aku upload di Story.”
“Ha?”
“Masa’ kamu ngga lihat sih?”
“Woi aku kan baru deactivate!”
“Oiya ding.”

Well, sebelum deactivate pun, nggak semua story orang saya lihat sih. Ini kenapa doi bisa beranggapan saya PASTI melihat Story dia yak?


Anyway…


QUALITY OF LIFE = IMPROVED.

Sejak deactivate social media, saya merasa kualitas hidup saya bener-bener meningkat. Terhitung setelah memutuskan untuk deactivate, saya sudah menghabiskan 5 buku fisik dan 3 e-book. 8 buku dalam kurang dari sebulan. Kemudian, saya juga mengisi hape dengan app yang bisa menggantikan keinginan idle scrolling saya. Karena memang saya hobi baca, saya langganan Medium. Nggak murah, but it’s worth every penny. Nggak ada lagi idle scrolling. Saya menghabiskan waktu dengan hal yang menurut saya lebih bermanfaat.

Nggak cuma itu, kualitas tidur saya jadi meningkat. Dulu, saya sering kebangun malam-malam, lalu cek social media. Sekarang mah bodo amat. Setiap mau tidur, saya taruh hape jauh-jauh dari tempat tidur, and since then I’ve been enjoying very good sleep every night.

Saya jadi lebih mudah fokus. Dulu, sedikit-sedikit saya cek hape. Sekarang, saya lebih bisa implement gaya hidup sini-kini: living the moment. Ternyata memanfaatkan 3 jam untuk hal-hal produktif (yang dulunya habis buat social media), imbasnya jauh banget ke aspek kehidupan saya yang lain. Saya masih amazed sampai sekarang.


I’VE MISSED SOME OF MY FRIENDS.

Nggak bisa dipungkiri, saya kadang kangen sama temen yang cuma terkoneksi di social media. Biasanya ini teman-teman saya yang berada di negara-negara lain. Ada satu grup Facebook yang isinya temen-temen yang dulu ketemu pas training di Mexico City. Isinya orang dari macem-macem negara, mulai dari Israel sampe Republik Dominika. Sampe sekarang, kami masih berhubungan lewat grup itu — sekedar say hi dan kirim meme-meme lucu sampai update-update penting. Saya juga kangen page-page shitposting yang ngga pernah gagal bikin saya ketawa. Memang sih, saya bisa replace page ini dengan 9GAG. Tapi, interaksi antar audience di page itu sendiri kadang lebih lucu dari main thread-nya. Saya juga kangen lihat foto-foto bagus dari page Instagram temen saya yang memang mendedikasikan platform-nya buat motret. Looking at those photos give me a nice sense of calmness.

*

Entah sampai kapan saya mau deactivate, tapi yang jelas saya baru seneng-senengnya mengalami JOMO (joy of missing out - kebalikan dari FOMO, fear of missing out). Ternyata, it’s okay! Saya tidak perlu tahu orang lain baru ngapain. Saya tidak perlu iri sama saudara saya yang tiap detik upload Story mengenai liburan dia di Balkan countries. Saya tidak perlu merasa insecure ngeliat postingan temen yang habis beli Nike Air Jordan 12 Flu Game.

Saya ketinggalan banyak hal, and it’s awesome! Saya lebih bisa channel and focus my energy to things that I really care about: family, and how do I feed them through my job. I am living a quite awesome life, and apparently I don’t need to question that very fact by begging for validation from strangers on social media. I am enough.

Tabik!

***

Grace:

Dengan Adit deactivate social media, ada satu lagi perubahan nya. Jadi makin sering chat saya. Duh senang! Tapi kadang annoyed juga kalau saya pas lagi riweuh, lol.


Masih suka kangen bisa mention tag Adit di sosmed sebenernya. Kangen liat dia upload foto saya juga BAHAHA. Tapi so far dia merasa lebih hepi dengan nggak punya sosmed. Jadi yaudaaaah.

The way I see it, social media is good. Saya manfaatin banget buat share edukasi, cerita, atau sekedar recehan nggak bermutu. Bisa dapet info-info juga. Tapi memang, kalau self-control nya kurang, media sosial bisa habisin waktu banget dan kadang eman-eman. So don't let social media control your life (time and energy). We're the one who should control it.

Nggak harus dengan meniadakan akun seperti Adit juga kok. Bisa dengan sesederhana atur durasi, atau pasang alarm mungkin, buat waktu bersosmed ria. Ada orang-orang yang bisa dengan kaya gitu. Buat Adit, I guess, sulit karena dia pasti gatel sendiri pengin buka.

Well, tulisan ini subjektif banget yaaa. Feel free to have your own opinion and decide your own action.

Hari ini mau ngapain aja? Selamat Hari Bumi!



Luv,





8 comments:

  1. Aku juga sudah deactive Facebook hampir dua bulan. Salah satu alasannya seerti Adit. Tapi ada hal lain yang mendasar yang bikin aku mikir. "It's enough. I need break." Awalnya cuma mau seminggu. Eh loss sebulan. Malah udah mau dua bulan. Selama 12th aku punya facebook, ini kali pertama deactive. And yeah reaksinya banyak yang update status soal mereka diblok atau apa. Darinyang serius kuatir sampe lebih ke nyari materi ghibah, padahal mereka bisa catch up aku di WA. Dunno what people think.

    Somehow, karena aku pakai socmed untuk bekerja, tentu berpengaruh dengan pemasukan. Tapi aku jadi bisa menyelesaikan apa yang belum terselesaikan. I got my time yang rasanya kemarin kurang terus. Aaaand, aku bisa waras cause it.

    It's quite good rehat saat pandemic ini karena semuanorang post soal covid bertubi2 yang beresiko GERD kumat.

    So this deactive thing kind of good things for me (now).

    ReplyDelete
  2. Intinya sih pilih platform social media yang paling pas buat kita.

    Aku ngga cocok dengan instagram karena isinya lebih banyak orang foto² aja.
    Buatku facebook lebih pas, aku dapat banyak ilmu dan komunitas dari situ.
    Awal mula aku kenal orang² yang menjalani Homeschooling juga dari fb, lalu ikut webinarnya (infonya dari fb), ikut komunitasnya, dan sekarang udah mantap HS.

    Satu akun medsos yg aku deactivate adalah Linkedin, sejak aku resign dan jadi WFH mom.
    Soalnya aku ngga kuat lihat teman² kantorku yg dulu, udah pada jadi orang pentung di perusahaan ini dan itu.

    Seems shallow? Biarin aja. Toh it makes me happy. Aku ngga terpantik utk jadi iri sama mereka.

    ReplyDelete
  3. when it comes too toxic than gave us positif things aku setuju deactivated sosmed. Balik lagi ke pilihan masing-masing

    ReplyDelete
  4. eh samaaa...saya juga uda sebulanan ga aktig medsos. jd selain social distancing, sekalian social media distancing.

    Tapi nggak totally sih, sekali2 masih cek buat share blog :)

    ReplyDelete
  5. klo sy gak sampe deactive sih, cuman ya emang aplikasinya gak sy install di hape, jadi yaudah, klo emang perlu, buka aja lewat laptop, abis tu udah. kelar.

    ReplyDelete
  6. Mami Ubiiiii...
    How lucky you are! ��

    Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang suka ubek-ubek tulisan di blog ini dan jadi kayak kenal banget ama Grace, tahu jalan hidupnya, kisahnya sejak lajang dulu, lalu menikah, berjuang dalam adaptasi pernikahan yang damai dan bahagia.

    Dan jujur, Grace adalah saya rasa satu-satunya inspirasi saya dalam berani menulis apa yang saya pikirkan dan alami dengan jujur.

    Dan tentu saja, saya tahu banget bagaimana perjalanan Mami Ubii dan Papi Ubii..
    Awal perkenalan, akhirnya menikah, punya Ubii dan adiknya, dan semua drama-drama yang terjadi.

    Sungguh, saya bisa mengira-ngira semua itu tidak mudah dijalani, tapi Grace berhasil dan membuat kurva hidupnya semakin meningkat.

    Dan semua itu, tidak lepas dari keberuntungan Grace memiliki pasangan CERDAS.

    I mean, dulu jujur saya agak gimana gitu ya melihat orang-orang yang secara penampilan agak kacau, kayak tatoan, merokok dan semacamnya.
    (iyaaakk, saya memang wanita jadoel yang tumbuh besar dalam paksaan harus sempurna��)

    Tapi, setiap kali membaca semua postingan Papi Ubii di blog ini, saya jadi tahu.
    Bahwa, sungguh merugilah orang yang menilai orang lain berdasarkan penampilan semata.

    Karena sesungguhnya, orang yang baik itu bukan semata orang yang (terlihat) baik secara kasat mata.
    Tapi isi pikiran dan pola pikirnya.

    Dan jujur, saya (dan saya rasa ada buanyaaaakkk banget) pecinta tulisan papi Ubii di blog ini, sukaaa banget dengan pola pikirnya.

    Dan memang terbukti, setiap waktunya, seiring bertambah usia, kualitas hidupnya makin membaik.
    Dari yang akhirnya berhenti merokok, sampai akhirnya berhenti eksis di medsos dengan salah satu alasan mencegah diri untuk tidak sengaja menyakiti hati istri, di mana istri sibuk jaga anak, dia (terlihat) enak-enakan saja.

    Karena memang benerrr...
    Salah satu alasan istri-istri ga suka suaminya sok jadi influencer tapi ga ada duitnya (alias eksis mulu kek abegeh di medsos) adalah... Istri jadi insecure dan sedih.

    Terlebih pasangan LDM, ditinggal jaga anak seorang diri tanpa bantuan siapapun, jarang di chat, tapi medsos suami on terooosssss... Eksis teroooss... Upload selfie teroooooossss...
    Padahal jangankan dijadikan buat ajang cari duit like buzzer kek yang biasa aja.
    Bahkan buat jualan sesuatu juga kagak.

    Lebih sedihnya lagi, kalau pasangan seperti itu dulunya adalah sosok yang baik dan manis, seiring waktu dengan tumbuhnya uban, bukannya semakin bijak, malah semakin narsis bin lupa diri (okeh Rey, sudahi numpang curcolmu! ��)

    Ah cuman mau bilang, how lucky you are, Grace!
    Terimakasih sudah berbagi tulisan ini ��

    ReplyDelete
  7. Aku blm sampe deactivate sih. Cuma log off aja. Pas perlu masuk lagi. Dengan alasan yang sama, capek dan ngabisin waktu aja hehe mendingan BW dapat pov baru. Salam kenal ya, Mbak! Btw suka banget aja kartunnya, lucu!

    ReplyDelete
  8. aku sendiri belum sampai tahap deactive, cuman bikin perhitungan sendiri kalo misal udah merasa terlalu banyak liatin sosmed, harus tahan aku tutup dan lebih milih ngerjain hal lain yang selama ini bisa jadi tertunda. biar ga kecanduan juga menurutku kalo terlalu amat sering buka sosmed. ya kadang muncul gatel juga nih tangan hehehe

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^