Wednesday, November 20, 2019

Financial Coaching: Money Autobiography


Hari Minggu, 17 November kemarin, saya dan Adit ikut workshop financial coaching. Ini adalah kali pertama banget buat kami berdua ikutan acara bertema keuangan begini. Saya pribadi biasanya sama sekali nggak tertarik ikutan kelas finansial.


Soalnya jangankan ikut kelas, baca sharing online pun, biasanya saya pening. Di saya, efeknya bukan makin tercerahkan. Justru sebaliknya, seolah drive dalam tiap keputusan dan perasaan (baik itu happy or fear) adalah selalu tentang uang, and for me it's draining. Setelah ikut financial coaching, wow, enlightened banget. Sangat worth ditulis di sini, semoga ada manfaatnya juga buat kalian yang baca yaa.

Workshop kemarin diadain sama @oilansisterjogja btw. Dengan narasumber Daniel Wicaksana, seorang coach yang mengambil fokus di finansial. Sedikit cerita tentang Mas Daniel, dulunya beliau financial planner. Jadi memang udah ngerti ya ilmu-ilmu finansial. Kemudian dia ikut pendidikan coaching. Coach ini kan pada praktiknya bisa jadi macem-macem. Ada yang lebih fokus di kehidupan, pekerjaan, parenting, dan lain-lain. Nah Mas Daniel lebih fokusnya di finansial.


Hal pertama yang membuat saya 'nyimak' banget adalah quote Mas Daniel bahwa financial coaching itu bukanlah lomba irit-iritan, lomba ngerem hasrat beli-beli barang. Financial coaching adalah bagaimana membawa kesadaran dalam setiap keputusan terkait keuangan yang kita ambil.

Buat saya, ini kayak setengah jalan menuju AHA moment. Bagaimana berkesadaran, itu yang lebih ditekankan. Segala hal yang diawali dengan encouragement untuk mengenali diri sendiri terlebih dahulu rasanya resonate banget buat saya.

Mas Daniel menjabarkan finansial bukan dari sudut pandang financial planner semata, tapi juga seorang coach. Jadi rasanya lebih personal dan humane. Ini juga akhirnya bikin saya tersentil dan bisa merefleksi diri dalam hal keuangan saya. Karena akhirnya, kesadaran itu bisa datang dari dalam diri saya sendiri, bukan karena didikte oleh orang lain.

Menurut Mas Daniel, cara orang dalam menyimpan atau memakai uang itu sangat beragam dan personal. Nggak bisa disamain sama sekali, karena setiap orang unik. Bagaimana persepsi orang terhadap uang aja kan udah beda-beda ya kan. Hence, klien Mas Daniel itu nggak selalu semua dipukul rata dianjurin harus nabung sekian per bulan. Ada juga klien yang justru disuggest untuk spending/belanja kalau Mas Daniel ngeliat klien itu menjadi 'lupa' membahagiakan dirinya dan terlalu fokus pada masa depan dalam perjalanan nya menabung.

Ini yang menarik, dan ini yang saya suka dari financial coaching. Betapa kita didampingi untuk realistis dan berpikir ke depan (terhadap uang) tanpa melupakan aspek diri kita yang ada di masa sekarang (present). Menurut Mas Daniel, kadang orang-orang yang sangat getol menabung untuk persiapan hari depan, menjadi menarik future terlalu banyak ke present. Itu jadi kurang pas, karena mindset kita jadi di future terus, jadi seolah goalnya adalah membahagiakan diri di masa depan. Padahal being kita yang di present juga butuh berbahagia.

Baca: Mengenali Diri Sendiri

Hal baru lagi buat saya adalah ternyata perilaku kita dalam keputusan terkait keuangan itu sangat bisa dipengaruhi oleh masa lalu. Bagaimana kita dan keluarga memperlakukan uang, apa yang kita rasakan terhadap uang saat kita kecil dan remaja, dan lain-lain, ternyata itu pengaruh banget. Gimana caranya untuk tahu? Dengan Money Autobiography.

Money Autobiography ini adalah list yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa kita jawab masing-masing. Setelah kejawab, ambil waktu untuk merefleksi dan melihat korelasinya dengan cara kita memakai uang di hari ini. Ini dari persentasi Mas Daniel ya:
  1. Apa ingatan ingatan kita paling awal tentang uang saat masih kecil? Rasa apa yang muncul?
  2. Apa saja persepsi yang kita tangkap tentang uang?
  3. Apa saja saat-saat paling menyenangkan waktu kita kecil terkait dengan uang?
  4. Apa saja saat-saat paling tidak menyenangkan di masa itu terkait dengan uang?
  5. Pengalaman apa yang membuat kita memiliki pengetahuan bahwa ada orang yang lebih kaya dan ada orang yang lebih miskin?
  6. Saat itu apakah kita merasa kekurangan atau berlebih dalam hal keuangan?
  7. Saat masih kecil, hal apa yang kita pahami tentang uang? 

Satu set pertanyaan ini bisa saja ditanyakan ke diri sendiri dengan melihat masa kecil dan masa remaja ya. Karena kadang, jawaban-jawaban bisa beda antara versi kita anak-anak dan versi remaja kita. Dan pesan dari Mas Daniel lagi adalah to take time answering these questions. Jawaban nggak selalu langsung muncul saat pertama kali berefleksi. Ada kliennya yang butuh seminggu, sebulan untuk bisa dapet awareness nya.

Di saya pribadi, jawabannya beda banget. Saat saya kecil, ternyata rasa yang muncul tentang uang adalah bahwa uang itu hanya alat bayar dan tidak lebih. Ingatan paling kuat saat kecil terkait uang adalah momen saya bergandengan dengan Mama jalan kaki ke warung untuk beli telur dan lihat Mama bayar pakai uang. Rasanya senang sekali, padahal saya nggak dibelikan apa-apa saat itu. Jadi, persepsi tentang uang saat saya kecil adalah bahwa uang kalau dipakai bersama keluarga dan ada bonding sama keluarga itu rasanya menyenangkan. Saya nggak ngerasa kekurangan sama sekali saat saya kecil. Justru sebaliknya, saya merasa berlebihan, karena sekolah saya SD sampai SMP adalah sekolah 'biasa' dengan teman-teman yang status sosialnya juga 11-12 sama saya, bahkan malah banyak yang lebih kekurangan.

Jawaban menjadi sangat berbeda ketika saya berefleksi dengan mengingat masa remaja saya, SMA. Dan masa usia segitu adalah masa manusia membentuk identitas. Kalau direlate dengan teori psikososial, usia 13 sampai 21 tahun adalah stage Identity Vs Confusion. Saya pribadi ngerasa relate banget.

Saat saya SMA, sekolah saya adalah sekolah mahal (untuk ukuran Salatiga ya). Teman-teman saya banyak yang jauh lebih kaya daripada saya. Inget banget, pertama masuk SMA itu sepatu saya Piero dan itu juga udah ngerasa bagus sebenernya. Tapi kemudian ngerasa jelek setelah liat sepatu temen-temen saya yang merk nya Adidas, Reebok, Nike, endebrei-endebrei. Untuk baju juga, ngerasa banget jomplang nya.

Sebelumnya, baju-baju saya adalah baju biasa. Kebetulan Mama punya toko baju di pasar, jadi saya sering ambil dari situ. Sebelum masuk circle teman-teman SMA, saya merasa sangat cukup. Ada satu kejadian yang jadi titik awal saya nggak ngerasa cukup di urusan baju. Gara-gara ikut workshop kemarin ini, saya jadi inget lagi kenangan nya. Dan jadi ngeh itu adalah hal yang sangat mempengaruhi keputusan saya dalam spending money.

Flashback saat kelas 1 SMA. Saya diajak jalan-jalan ke Semarang sama 2 temen saya. Pakai mobil dia dan supir dia. Itu adalah pengalaman pertama saya jalan agak jauh sama temen sendirian. Saya cuman bawa uang jajan, karena saya pikir paling makan siang atau jajan lalu pulang. Ternyata kami main ke mall di Semarang. Temen-temen saya masuk ke Planet Surf (ini sangat hits jaman saya SMA, anak gaul maka pakai baju Planet Surf). Mereka dengan casualnya pilih-pilih dan cobain baju. Saya mau ikutan, tapi anjir kaget banget liat harganya. Jaman itu, kaos udah 168 ribuan paling murah (kecuali di rak sale).

Jadi muncul persepsi, oh temen-temen pakainya baju seperti ini ya. Oh harga baju temen-temen saya segini ya. Terus temen saya nanya, "Kamu kok gak beli?" Di situ lah saya ngerasa kecil. Sebenernya temen saya juga nanya nya biasa banget ya. Dan pertanyaan macam itu juga biasa aja dilontarkan anak kelas 1 SMA. Btw, dua temen saya ini tajir, jadi mungkin ya persepsi mereka adalah "Ayok lah sama-sama beli baju bareng" dan nggak ngeh bahwa harganya bisa jadi mahal buat saya.

Sejak itu saya jadi punya mimpi besar pertama dalam hidup saya: punya baju beli di Planet Surf. Wtf.

Awalnya saya kumpulin duit jajan, ngirit-ngirit nggak jajan saat jam istirahat. Kebeli deh satu baju. Kemudian kebeli dua baju, yang sale. Lama-lama, harus ngumpulin dikit-dikit untuk beli satu baju terasa kurang. Apalagi yang murah kan cuman kaos biasa. Untuk barang Planet Surf model blouse cantik, dress, tas, dll gitu harganya lebih mahal lagi. Akhirnya saya cari jalan pintas yang salah banget.

Saya mulai nyuri-nyuri dari Mama dan Papa. Sekali nggak ketahuan, lanjut ke nyuri kedua kalinya. Terus lanjut ketiga kalinya, dan seterusnya. Sampai pernah juga bohong bilang mau ikut les biar dikasih uang les yang akhirnya ya buat beli baju, buat nongkrong di cafe, buat 'ngasih makan' lifestyle berteman dengan teman-teman kaya. Alasan ikut les dulu tuh aman banget. Karena Mama nggak pernah nanyain les belajar apa, sama siapa, atau minta liat buku les. Saat saya SMA, komunikasi sama Mama itu masa worst nya, I think.

Termaksimal sampai nyolong gelang emas Mama, lalu saya jual. Dapet banyak banget (untuk masa itu), dan saya hura-hura. Yang ini, akhirnya 'tertebus' di tahun 2018 kemarin. Pas saya dapet job Johnson yang keliling 3 area pelosok dengan bayaran gede (menurut saya) itu, hal pertama yang saya lakukan setelah ditransfer payment adalah ke toko perhiasan, beli gelang emas yang bagus buat Mama. Ngaku bahwa saya yang nyuri gelang nya sih udah lama. Tapi baru sanggup gantiin ya baru tahun lalu. Saya bungkus pakai kotak dan saya bilang ini buat 'ganti' gelang yang dulu, although I know for sure perasaan sakit Mama nggak akan bisa saya 'ganti' dengan gelang termahal sekalipun.

Grace yang hari ini, sering banget bocor keuangan di urusan beli baju. Walau belinya lebih sering yang murah, bukan yang harus branded, tapi frekuensi sering dan sekali beli bisa 5-6 pcs. Menurut Mas Daniel, masa lalu remaja saya itu jadi jawaban kenapa saya emotional buying nya di pakaian (atau tas, sepatu, pokoknya yang bisa dipakai). Karena bagi Grace masa remaja, baju (sandangan) kasih sense bagi saya untuk merasa fit in di circle pergaulan, diterima, dan terlihat "aku bisa." Itu ternyata relatable sampai sekarang. Ternyata perasaan yang saya sukai adalah ketika saya merasa diterima.

Adit juga berhasil dapat kesadaran. Saya udah izin Adit ya btw untuk cerita tentang ini, dan dia bolehin.

Adit yang sekarang suka bocor di urusan sepatu. Untuk ukuran laki-laki, sepatu Adit itu buanyak. 20 pasang ada kali, dan semua bermerek dan original. Ternyata, itu kembali ke zaman dia masih SMP. Dulu pas dia SMP, sepatu yang ngehits dan dia idamkan adalah Reebok DMX. Kakak laki-lakinya dibeliin yang ori dan baru. Sementara Adit, yang anak tengah, dibeliin di pasar loak. Dua kali pakai udah jebol.

Jadi, buat Adit versi sekarang, sepatu bermerk dan ori itu kasih dia perasaan layak dan dihargai. Hence, beli sepatu melulu, sampai kadang jadi bahan berantem sama saya. Lol.

Satu set pertanyaan di atas, buat saya dan Adit, sangat berhasil mengantarkan pada kesadaran. Jadi aware kan mengapa saya dan Adit seringkali bocor di area clothing dan sepatu. Karena bagi kami, hal itu punya makna yang lebih, yang ternyata ada ceritanya di masa lalu.

Lantas kemudian apa solusinya setelah dapet awareness? Apa jadi nggak boleh beli-beli lagi sama sekali? Nggak juga kok. Tetep boleh beli, menurut Mas Daniel. Tapi, ada beberapa bahan pemikiran dulu:

  • Ini emotional buying karena mau memuaskan kebutuhan emosional belaka, atau bener-bener butuh?
  • Apakah kepuasan dari emotional buying ini bisa disubstitusi dengan hal lain? Misal kalau Adit beli sepatu jadi simbol ngerasa berharga dan diterima, adakah cara lain biar Adit bisa merasakan itu tanpa harus beli sepatu?
  • Kalau memang butuh, nggak pakai budget dari pos lain, ya silakan beli.

Akhirnya, satu set pertanyaan Money Autobiography di atas jadi menuntun ke refleksi dan kesadaran lain juga. Merenung hal lain yang bisa menggantikan sense of merasa berharga, misalnya. Buat saya pribadi, ini jadi perenungan yang finally related ke parenting juga. Bahwa saya perlu menanamkan positive self-worth ke Aiden supaya kelak dia nggak limbung ketika ada di circle teman-teman yang tajir, satu contohnya.


Tips lain yang saya inget adalah dalam hal memperbanyak tabungan. Again, bentuk menyimpan itu bisa macem-macem. Tapi satu hal yang perlu ditanyain dulu adalah: Bisa nggak nambah tabungan dengan mengurangi pengeluaran? Ada nggak pos-pos yang pengeluarannya lebih bisa ditekan? Kalau nggak ada sama sekali, meanwhile kita ngerasa butuh tambahan, then maybe perlu cari pekerjaan / opportunity tambahan selain dari kerjaan utama. 

Untuk cek ada pos yang bisa dikurangin nggak, buat saya dan Adit susah karena kami nggak terbiasa catat. Langsung disuggest untuk mulai catat di app Wallet atau Monefy. Saya dan Adit langsung download dan pakai Monefy hari itu juga hahahaha. Setelah dicatet, kaget sendiri, wow ternyata jajan-jajan itu nguras juga ya wtf.


Btw ini Monefy yang Pro, biar currency nya bisa diset ke rupiah. Harga pro nya 45.000 untuk lifetime usage.

Setelah bahas Money Autobiography, Mas Daniel masuk ke pembahasan yang lebih finance, tentang aset, liabilities, dan lain-lain. Itu nggak usah saya ceritain ya, udah panjang nih hahaha. Anyway, hari Senin saya ke PIM dan masuk counter Cath Kidston. Kalian yang udah sering baca cerita saya kemungkinan ngerti saya luv banget sama merk ini. Kemarin sakseis hanya cuci mata, nggak beli. Berbekal berdiam sebentar nanya ke diri sendiri, beneran butuh atau emotional buying. Hehehe senang. Jatuhnya tetep lebih ngirit, tapi sekarang ada kesadaran dalam ngirit. Itu yang buat saya precious sekali. Jadi nggak beli tas Cath Kidston nggak dibarengi dengan perasaan kesel atau nyesel sama sekali.

Tadi pagi, saya googling Money Autobiography. Nemu sebuah pdf dari Faith And Money Network yang menurut saya brief and clear. Judulnya Guidelines for Writing Your Money Autobiography. 
Writing a money autobiography is a challenging and crucial step in understanding our behavior and powerful feelings evoked by money. Even for those of us who find it difficult to write, reflection on money and our life’s journey yields insights and deepened awareness.
List pertanyaan nya lebih banyak, dan cakupannya juga lebih luas. Sampai ke budaya dan agama juga. Worth reading sekali. Kalau kalian mau baca, ke sini ya.

By writing this, I don't intend to say that financial coach is always a better option than financial planner ya. For me, it is. Tapi ini subjektif sekali, dan saya nggak menggeneralisasikan. Kalau kalian tetep cocoknya ke financial planner ya tentu sangat boleh dan sah-sah aja, okay :)

Semoga bermanfaat yaaaa.




Luv,






2 comments:

  1. Thank you banget Ci Gesi udah berbagi materi yang disampaikan Mas Daniel, bisa jadi bahan diskusi juga bareng suami. Sejak nikah justru aku lebih 'melek' soal keuangan karena suamiku, dia yang ngajarin aku banyak tentang keuangan. Kalo baca ceritanya Ci Gesi tentang emotional buying di pakaian itu aku jadi keinget duluuu waktu kecil aku suka ngabisin uang jajan buat jajan di sekolah, sampe akhirnya ketahuan boros sama papa mama dan aku 'dihukum' dengan cara ngaku salah dan direkam sama papa pake recorder, biar sewaktu-waktu aku melakukan hal yang sama kaset itu bakal diputer. Ngingetnya lucu tapi saat itu aku nangis kejer banget. Dan kayaknya emosi itu kebawa sampe hari ini di mana pos pengeluaran aku banyak di jajan ((:

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^