Wednesday, October 15, 2014

Anak SD Kok Sudah Pacaran?

Ya ampun, blogpost terakhir saya itu tanggal 1 Oktober 2014. 2 minggu absen ngisi blog ini (Halah, gaya), cuma blogwalking aja dan ngisi blog Letters to Aubrey. Eh, udah pada pernah mampir ke blog Ubii? Boleh loh kalau mau mampir. Hihihi. Teteup. Yah, saya bingung nih mau nulis apaan. Yang lagi marak itu tentang video bullying murid SD di Bukittinggi yah. Kemarin saya nulis tentang itu di status Facebook saja. Di blog udah banyak yang nulis, salah satunya kawan saya, Mak Winda. Tulisannya bisa diintip di sini. Jadi saya menulis yang lain aja deh. :)))

Siapa sih orang waras yang nggak mengerutkan dahi dan merasa miris saat melihat video bullying siswa SD yang sedang hot itu? Yakin, pasti semuanya ikut sedih dan terutama nggak habis pikir kenapa anak SD zaman sekarang bisa sebrutal itu (Brutal, am I using the right word?). Bagaimana bisa anak usia SD terpikir melakukan aksi sekejam itu. Nggak hanya menyakiti secara fisik, tapi juga mempermalukan si siswi yang dibully. Lantas, kita juga jadi mengenang masa SD kita dan membandingkan dengan masa SD zaman sekarang. Dulu, saat saya SD, kenakalan paling berani kawan-kawan paling-paling 'hanya' sekedar mencontek, bolos jam piket, atau nggak mengerjakan PR. Makanya saya juga gagal paham, ada apa dengan generasi kanak-kanak usia SD kini? Apa yang terjadi? Terlalu banyak menonton tayangan kekerasan kah? Dulunya juga korban bullying sehingga ia jadi melampiaskan dendamnya dengan membully anak lain kah? Bergaul dengan tetangga/teman yang lebih tua sehingga terpengaruh hal kurang baik kah? Atau, kurang komunikasi dan pengawasan dengan orangtua nya? Atau, mencontoh apa yang dilakukan ibu nya saat ibu nya nyinyirin emak-emak lain? Kita tentu tau dong, sekarang ibu-ibu pun dengan mudahnya saling nyinyir untuk urusan ASI vs sufor, stay at home mom vs working mom, dan lahiran normal vs operasi. Nah, bisa jadi kan? Karena, children see, children do. Kalau sebagai ibu saja kita mempertontonkan aksi menyinyiri emak lain dan itu menunjukkan bahwa kita kurang toleransi dan simpati, masa iya kita menuntut anak-anak kita bisa tumbuh dengan pembawaan berempati dan penuh kasih? 


Sumber

Keheranan saya pada anak-anak usia SD masa kini sebetulnya bukan hanya tentang bullying saja, tapi juga tentang cepatnya mereka 'matang' (atau sok matang) dan merasa sudah butuh cinta-cintaan. Keheranan ini berawal beberapa bulan lalu sebetulnya. Tapi saya nggak jadi-jadi mau cerita, hihihi. Saat itu seorang kawan saya, ibu dari anak lelaki yang berdomisili di Tangerang, mem-post 2 buah surat cinta yang ditujukan pada anak lelakinya dari seorang anak perempuan teman sekelasnya. Oh ya, mereka masih kelas 3 SD loh. Kita sebut saja anak lelaki teman saya ini dengan Tono dan teman perempuan yang mengirim surat cinta ini dengan Tini ya. Sebenarnya ada 5 surat yang dikirimkan Tini untuk Tono, tapi teman saya hanya post 2 buah surat saja. Walau hanya 2 surat, itu sudah cukup bikin saya shocked, bok.

Seperti ini surat pertama nya:


Tono aku cinta mati sama kamu tapi kenapa aku di depan kelas kamu kenapa kamu asam terus dari kemarin aku kangen sama kamu. Setiap aku kemana-mana aku selalu mikirin kamu jadi aku serba salah Aku main ingat kamu, aku tidur mimpi kamu jadi aku selalu mikirin kamu jadinya aku cinta mati Inshaallah kita selalu ketemu ya walopun kamu gak cinta sama aku ga apa-apa yang penting aku cinta mati sama kamu Kenapa setiap aku jalan-jalan dengan teman-teman atau orangtua aku sedih mikirin kamu Tono jadinya aku sedih kaya aku sedang dikurung Aku ingin kamu selalu ada kamu. Kamu kenapa cuekin aku kalau kamu marah sama aku aku minta maaf ya Aku janji bakal ingetin kamu waktu kita kelas 2 aku itu cinta sama kamu tapi maaf ya Tono waktu kita kenaikan kayaknya kamu sombong ekh taunya aku kenal sama Bunga (nama samaran juga) jadi aku bilang ke Tina kalau misalnya Tono cinta mati sama aku makanya aku cinta mati sama kamu. I love you Tono.

I love YOU
Tono

Lalu surat kedua nya:


Tono kamu suka gak sama aku. Aku gak ada pilihan selain kamu Tono. Coba satu kali aja harus dibales setiap aku kasih surat. Sebenernya aku cinta sama kamu tapi maaf ya setiap kita bertemu kita selalu malu.

Salam 
Manis

Tini
love
Tono

Astaga, itu kelas 3 SD. Menulis surat dengan baik dan benar saja belum bisa, tapi sudah bisa merasa cinta mati, sedih bak sedang dikurung, dan lain sebagainya. Seriously? Saya bukan bermaksud sok suci atau apa di sini. Saya juga dulu punya pacar yang bikin saya berbunga-bunga mawar melati indahnya berdua yang lainnya ngontrak. Tapi nggak pas SD jugaaaa. Dulu kelas 3 SD saya masih hobinya main dakon, engklek, tazos, barbie, bongkar pasang pakaian kertas, dan gobag sodor. Masih nggak ada 'rasa' apa pun sama anak lelaki kecuali "Oh kalau main gobag sodor sama cowok, biasanya jadi menang. Sekelompok sama dia ah!" Apakah cinta-cintaan si Tini ini nggak terlalu cepat?

Mungkin ada beberapa pendapat tentang ini. Beberapa kawan saya menanggapi ini sebagai hal yang kocak. Lucu-lucuan saja. Tapi, entah kenapa, saya gagal paham di mana letak kocak dan lucu nya. Saya malah jadi takut, aduh besok zaman nya Ubii seperti apa ya? Saya nggak mau kelak di usia SD nya, Ubii malah merasa terkekang dan terkurung saat berjalan-jalan dengan saya dan suami hanya karena kangen berat pada pujaan hatinya. Masa itu pasti datang, tapi jangan lah saat Ubii masih SD. It's too soon. Dunia SD adalah dunia bermain bersama kawan-kawan. Jajan bareng di kantin sekolah. Puyeng karena PR Matematika dari guru terlalu susah. Merengek minta dibelikan boneka. Belajar kelompok membuat kliping dari surat kabar. Bukan malah galau karena dicuekin pujaan hati, stres karena surat cinta nggak dibalas, dan bikin isu kalau kita pacaran dengan si A hanya karena kita nggak pengen ada teman perempuan lain yang naksir si A.

Lalu saya coba mencari artikel tentang anak zaman sekarang yang sudah mulai pacaran. Saya penasaran saja. Untuk jaga-jaga jika kelak akhirnya saat itu tiba di tengah keluarga kecil saya. Saya ketik "anak SD" di mesin pencari. Yang keluar kok kayak gini. Nggak saya telusuri lagi. Belum siap, takut tambah shocked malam-malam.


Akhirnya saya coba dengan keyword lain, nah baru deh muncul artikel-artikel yang bermanfaat. Salah satunya dari HealthDetik dengan narasumber psikolog anak (Efnie Indrianie) dan obsgyn (dr. Ricky Susanto). Artikel dengan judul 'Ketika Anak SD Mulai Berpacaran, Begini Sebaiknya Orangtua Meresponnya' ini bisa diintip di sini. Berikut saya rangkum poin-poin yang menurut saya penting:

  • Sebaiknya orangtua nggak marah atau mendiamkan jika melihat anak nya yang masih kecil berpacaran.
  • Berpacaran adalah hal yang alamiah dan tak perlu dikhawatirkan berlebihan.
  • Anak-anak sekarang memang matang lebih cepat daripada kita di zaman dulu pada usia yang sama.
  • Saat anak mulai membuka obrolan tentang pacaran, tanyakan mengapa ia ingin pacaran.
  • Jelaskan bahwa pacaran itu berarti memiliki orang terdekat dengan jenis kelamin yang berbeda.
  • Alih-alih menanamkan konsep pacaran, lebih baik menenamkan konsep best friend yang berarti memerhatikan dan memperdulikan.
  • Alokasikan waktu spesial untuk mendengar curahan hati anak-anak kita sehingga kita bisa memantau dan mengarahkannya.
  • Beri peringatan pada anak agar nggak terlalu dekat dengan lawan jenisnya terutama jika anak sudah memliki keinginan untuk menggandeng anak lawan jenis yang ingin ia jadikan pacar.
  • Ajarkan nilai dan norma sejak anak masih kecil untuk dijadikan pegangan dan filter saat mereka mulai mendapat informasi yang kurang baik tentang seks.
  • Informasi yang sedemikian mudah dan massive di masa sekarang diduga menstimulasi otak lebih cepat sehingga anak zaman sekarang mengalami masa puber lebih cepat dibandingkan kita dahulu.
  • Buktinya, anak-anak perempuan sekarang banyak yang sudah mendapatkan haid pertama di usia 9 tahun, padahal dulu kita, para ibu, baru mendapat haid pertama di usia 14-16 tahun.
  • Bisa juga haid yang datang lebih awal ini dipengaruhi oleh terlalu banyak konsumsi makanan cepat saji.
Setelah membaca artikel tersebut, saya agak lebih kalem. Wajar ya ternyata karena memang kondisi di era masa kini seperti ini. Arus informasi di dunia maya yang sangat accesible, tontonan-tontonan yang kurang mendidik, dan mungkin memang budaya kita dan anak masa kini juga sudah berbeda. Dulu saya pernah melakukan kesalahan. Saya nggak pengen anak saya mengulang kesalahan yang sama, semoga. Makanya sebisa mungkin saya benar-benar ingin menjaganya dari arus pergaulan yang seperti sekarang ini. Saya setuju, orangtua wajib meluangkan waktu khusus untuk mendengar cerita anak-anaknya. Belajar menjadi pendengar yang baik terlebih dulu dan menahan hati (dan mulut) untuk nggak langsung mengomel kalau ada cerita si anak yang mengejutkan supaya anak merasa bebas bercerita apa saja pada kita dan mau terbuka. Menjadi sahabat untuk anak yang (semoga) selalu ada. Setuju juga bahwa nilai dan norma perlu diajarkan. Juga tentang pendidikan seks sejak dini, ini sangat penting. Tentang pendidikan seks untuk anak, juga pernah saya tulis di blog ini. Monggo kalau mau mampir, bisa diintip di sini yah. :))

Apakah ada tips lain? Yuk berbagi sama-sama. Saya yang masih ibu baru ini perlu banyak belajar dan mendapat banyak masukan dari teman-teman semua. :))


Sumber


35 comments:

  1. Iya sy jg ngeri liat anak sekarang yang cpt bgt sok dewasa. Mgkin ini pengaruh dari sinetron dan tontonan yang krg bermutu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertanyaan lebih besarnya lagi, di mana orangtua saat anak-anaknya menonton tayangan yg kurang bermutu itu? :"(((

      Delete
  2. Replies
    1. Saya sih malah jadi parno sendiri, Mas Adi. Hiks hiks hiks.

      Delete
  3. Mama Ubii.. Aku sesak baca nya. Anak SD. Apa yang mau diobrolin kalau udah pacaran :( matang sebelum waktunya, matang karbit

    ReplyDelete
  4. wajarnya karena terlalu banyak input kepada anak anak tanpa ada filter, sumbernya buanyak sekali dari mulai tv, internet dll nah tidak wajarnya ya mereka kan masih kecil bukan waktunya terjun dalam dunia percintaan :D

    ReplyDelete
  5. Replies
    1. Iya, Mak Donath. Kalau surat cinta biasa yg kata-kata nya nggak begini mungkin masih bisa dimaklumi yah. Kalau sampai begini, aku pun parno.. Hiks

      Delete
  6. Mak Ges, saya punya temen yang pacarannya duuuh mungkin sedikit kelewatan buat ukuran anak SMA dulunya. Tapi Bundanya tetep sayang dan tidak serta merta memberi perlakuan keras. Jujur, meski gaya pacaran teman saya berlebihan, tapi dia tetap dalam batas kontrol. Luar biasa ya Bundanya... bisa menempatkan posisi sebagai Ibu dan teman.
    Mungkin ini sedikit dari citra yang digambarkan Mak Ges ya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah keren! Iya Mak Hilda, aku pengen banget bisa jadi ibu yg seperti itu. Semoga kita bisa yaa :')))

      Delete
  7. Wahahaaha kok aku ngakak ya baca ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngakaknya jangan lebar-lebar, ntar kemasukan lalat :p *apa sih, jayusss* hihihi

      Delete
  8. aduh pak knp tiba2 gue pusing yaaa... hahhaha kepikiran anak2 jaman sekarang... hemm dlu aku sd mainannya cuma pasaran, masak-masakan... gakak tau apa itu pacaran.... nakal-nakalnya ya pulang sekolah ke tempat penyewaan komik nyewa komik 3 bawa pulang kwkkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nyewa komiknya nggak lupa bayar kan, Mak? :p

      Delete
  9. kita yang udah dewasa ini, kadang masih sering kaget-kaget kalau anak SD atau remaja SMP sudah sebegitu dekatnya dengan dunia pacaran atau sex. tapi akhirnya, saya pun menyadari, memang itulah perubahan hormon yang berbeda perkembangannya antara jaman kita SD dulu dan jaman anak-anak SD jaman sekarang.

    hanya, bagaimanapun, semua kembali pada orang tua. kembali pada guru. kembali pada masyarakat. ayo, kita jaga bersama moral anak-anak kita demi Indonesia lebih baik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, Mak. Setuju, harus mulai dari lingkungan terdekat dulu, keluarga, utk bisa filter perubahan-perubahan di zaman edan seperti sekarang :D

      Delete
  10. Anak saya laki2 lahiran tahun 91. Pernah dapet surat dari cewek juga waktu kelas 3 SD. Tapi kata2nya nggak kayak dialog sinetron begini, hehehe...Mudah2n Ubii terlindungi ya, dari pengaruh teman salah arah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mantanku juga kelahiran 91, Mak Mut. Eh, kok malah jadi misfokus nih aku. Hihihi. Amiiinnn, makasih doanya, Mak. Semoga anak-anak kita semua terlindungi ya.

      Delete
  11. Mak, sy inget waktu SD sy mulai naksir2an itu memang kelas 3 SD, malah karena kbanyakan nonton India, sy klo liat si yg ditaksir berasa denger soundtrack India..hehehe
    Lucunya lagi sy pernah naksir tukang bangunan yg dipekerjakan ayah. Akhirnya setelah besar, sy baru tahu yg sy maksud naksir dan cinta dl itu tidak semata2 seksual, tetapi sebenernya lebih ke rasa suka dan kagum saja. Misal krn si tukang bangunan ini baru punya anak dan dia baik sama saya krn dia kangen anaknya di rumah. Sedang si kakak kelas yg sy taksir itu, sy kagum krn dia jago main bola dan larinya paling cepat. Namanya jg anak kecil, masih bingung dgn perasaan sendiri..sy pikir itu cinta hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, sama, aku juga demen banget nonton India loh dulu. Hihihi. Dulu nonton nya sama ART krn Mama-Papa kerja. Tapi ART nya baik, kalau ada bagian yg kurang pas utk anak kecil, TVnya dimatiin sama dia. Dia juga suka jelasin yg dilihat tari-tariannya aja, cinta-cintaannya belum waktunya :p

      Delete
  12. waduh itu bahasa suratnya. Itu biasanya anak meniru. Mungkin dari sinetron? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi, Mak Chi. Sekarang anak banyak belajar bahasa gaul dari sinetron, jadi ditiru. Mungkin ungkapan-ungkapan ini juga didapat dari TV ya..

      Delete
  13. Replies
    1. Iya Mak.. Serem semoga nggak kejadian di anak-anak kita ya. Amiinn..

      Delete
  14. Saya termasuk yg agak kurang sreg kalau anak SD sudah mulai pacaran, apalagi sampai mengirimkan surat kayak gitu. Tapi mau bagaimana lagi, kondisi jaman sekarang memang menjadikan anak2 itu "matang" lebih cepat. Nanti kalau saya punya anak, gimana ya?
    Nice sharing Mami Ubii.. :) Terimakasih ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti kalau Mak Riski punya anak, pasti lebih galau lagi. Hihihi. Semoga kelak kita bisa jadi ibu yg bisa menjaga anak-anak kita ya, Mak :)

      Delete
  15. haduuh... anak saya juga kelas 3 (cowok), jgn sampe deh... menimpa anak saya, bisa stress saya....
    Bahasanya bukan lagi bahasa anak2, sepertinya meniru, entah meniru dari mana...

    ReplyDelete
  16. Amin, semoga nggak menimpa anak-anak kita ya Mak. Kalau kata-katanya berat begini kemungkinannya sih sinetron kayaknya ya secara sekarang sinetron tayang di jam-jam anak-anak nonton TV. Hiks

    ReplyDelete
  17. pacaran jaman sd .... hmmm, jd inget jaman sd dulu, cinta monyet :D
    tp dengan pertimbangan dlu saya sering main sma yg lebih tua jd lebih cepet ngerti tentang tertarik dengan lawan jenis, plus kurang pengawasan juga dari ortu.
    jd mnurut saya, pengawasan n perhatian dr ortu itu mang penting

    ReplyDelete
  18. Miris banget, sampe ngerasa kayak gitu, takutnya pengarus sinetron cinta-cintaan >.<

    ReplyDelete
  19. ehmmm ... zaman sekarang emang sdh gk heran lagi kalau anak SD sdh pintar pacran, pengaruh Tayangan Televisi Kali ya

    ReplyDelete
  20. Anak sd aja udah pacaran gimana nanti masa depan nya
    Disurat nulis cinta mati BASI OMDO ITU MAH
    SMP juga ganti

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...