Friday, September 26, 2014

Edukasi Finansial Asyik untuk Anak

Kita pasti setuju bahwa anak harus dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan berharga untuk menyambut masa depan gemilangnya. Pengetahuan di sini bisa bermacam-macam sekali. Bisa pengetahuan berbahasa Inggris, Biologi, bermain alat musik, Sejarah, dan lain sebagainya. Tentu kita bisa menyebutkan list panjang pengetahuan apalagi jika mengacu pada mata pelajaran yang akan didapat di sekolah kelak. Namun, selain meningkatkan kemampuan akademis, life-skill seorang anak pun tak kalah penting untuk terus diasah. Salah satu life-skill yang akan saya bahas di sini adalah kemampuan mengenal dan mengelola finansial untuk anak. Ya, financial literacy itu sangat mungkin dan sangat perlu untuk juga dikenalkan, bahkan sejak dini.

Mengapa edukasi finansial itu sebegitu pentingnya, sih? Apa manfaatnya? Menurut Bisnis[dot]com di link ini, edukasi finansial sejak dini itu penting supaya (1)anak dapat memiliki financial planning yang baik dan supaya (2)anak terhindar dari perilaku konsumtif. Kalau saya boleh menambah dengan opini pribadi, menurut saya melek finansial itu penting supaya anak (3)bisa menghargai uang, (4)memahami bahwa uang itu bisa habis, (5)dapat mandiri di masa yang akan datang, dan (6)tidak punya kebiasaan berhutang.


Ini sih pengalaman pribadi sebetulnya. Dulu saat saya masih jadi mahasiswi, saya susah sekali menahan keinginan untuk membeli baju baru. Apalagi kalau sedang ada sale atau cuci gudang. Wah, saya langsung kalap. Padahal, sebenarnya saya menyadari kalau saya tidak butuh baju baru karena baju-baju lama saya masih cukup oke. Tapi, ya itulah, hasrat tak terbendung tanpa melihat isi dompet. Namanya juga mahasiswi perantau ya. Harus pandai mengatur uang bulanan untuk makan, pulsa, bensin kendaraan, dan kebutuhan tak terduga. Alhasil, saya kerap sekali berhutang pada teman. Sayangnya (atau untungnya ya?), teman-teman saya selalu bermurah hati meminjami saya uang. Makin kalap lah saya belanja-belenji. Sangking menumpuknya utang, saya sampai bingung bagaimana melunasinya. Akhirnya smartphone saya terpaksa dijual untuk melunasi hutang. Itu belum cukup sampai kemudian saya mengambil uang jatah makan bulanan. Saat teman-teman makan steak di restaurant, saya harus puas dengan mie instan dan kuah makanan Padang. Nah! Tentunya saya harus jadikan pengalaman pahit-tapi-memorable itu sebagai pelajaran. Jangan sampai putri saya besok meniru kebiasaan saya berhutang deh. Amit-amit. Mumpung putri saya, Ubii, masih berusia 2,5 tahun, saya punya banyak waktu untuk memberikan edukasi finansial untuknya.

Edukasi finansial sejak dini memang penting. Tapi, saya tetap harus ingat juga kalau yang akan saya edukasi ini anak-anak. Jadi, keterlaluan banget kalau saya mengajarinya tentang tetek bengek finansial dengan pengertian apa itu laba, rugi, arus pemasukan, dan kata-kata berat lainnya. Mari dimulai dengan cara sederhana, menyenangkan, dan pastinya harus child friendly. Emang bisa? Bisa dong!

Boleh percaya, boleh tidak. Saya sudah bercita-cita untuk mengajari keuangan pada anak saya, Ubii, sejak ia masih bayi. Tapi berhubung ia saat itu masih bayi, kegiatan ini belum melibatkannya secara aktif. Simple saja kok. Saat ada hari raya, hampir bisa dipastikan eyang, om, dan tante Ubii memberikan angpao. Alih-alih menggunakan angpao tersebut, saya menabungnya untuk Ubii. Saya beli celengan murah di pasar lalu saya hias supaya makin semangat mengisi celengannya.


Saat ini Ubii belum bisa berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar keuangan. Tapi tentu boleh kan kalau saya punya rencana kecil-kecilan tentang bagaimana saya akan memberikan edukasi finansial kelak. I've had several things on my mind. Semuanya mengacu pada keyakinan saya dan suami lagi bahwa belajar itu lebih baik dengan cara yang menyenangkan. Syukur-syukur, edukasi finansial ini bisa dikombinasikan dengan edukasi yang lain.

Mengurutkan Nominal Uang

Menurut saya edukasi finansial harus dilandasi dengan mengenal nominal uang, di sini berarti nominal rupiah. Ubii perlu tahu Rp 1.000 itu lebih sedikit/lebih kecil daripada Rp 5.000. Itu fondasi awal dari edukasi finansial selanjutnya. Setelah mengenal nominal rupiah, harapannya kelak Ubii bisa kemudian memahami konsep finansial lainnya. Mengenal nominal rupiah bisa diberikan dalam permainan mengurutkan nominal uang. Dalam kegiatan ini, saya akan menyediakan selembar kertas, lem, selotip, dan uang mainan. Saya akan minta Ubii mengurutkan entah dari nominal kecil ke besar atau sebaliknya kemudian menempelkannya di kertas. Selain belajar mengenal nominal uang, ini bisa dimanfaatkan sebagai stimulasi motorik halus yaitu dengan kegiatan menempel-nempel. Bisa sekalian deh. Kenapa uang mainan? Yah, saya sih tak sanggup merelakan uang betulan. Tapi kalau untuk uang koin/receh, nah itu saya masih bisa ikhlas. Saya beli uang mainan ini seharga Rp 5.000 dan dapat 100 lembar. Sayangnya tidak ada pecahan Rp 20.000 dan Rp 100.000, jadi nanti bikin dulu. Bisa dengan scan uang betulan lalu di-print out. :)

Mengurutkan nominal uang

Role Play Penjual-Pembeli

Biasanya anak suka diajak bermain pura-pura atau bahasa kerennya, role play. Untuk tujuan melek finansial, saya rasa yang pas adalah role play antara penjual dan pembeli. Let's say Ubii sudah memahami nominal rupiah di tahap ini. Jadi bermain penjual dan pembeli nya bisa memakai uang mainan yang dipakai di kegiatan sebelumnya. Pura-puranya Ubii adalah si penjual dan saya yang membeli. Misalnya saya ingin membeli es krim yang harganya adalah Rp.5.000. Saya membayar dengan Rp.10.000 sehingga butuh kembalian dari Ubii. Dari kegiatan ini kami bisa belajar keuangan (konsep jual dan beli), berhitung (memberi kembalian), dan mengembangkan imajinasi (dari role play itu sendiri). Seru dan gampang, kan?

Ayo mampir ke Warung Jajan Ubii 
Dagangan Ubii: snack manis, gurih, dan buah
Berdoa dulu biar laris jualannya 
"Ayo mampir ke warung-ku"
"Nunggu pembeli sambil mainan dulu ah"
"Cukup jualannya hari ini, saatnya beres-beres"
"Dapet berapa yaahhh..."
"Hore hari ini jualanku berkah, saatnya leyeh-leyeh"

Mencatat Pengeluaran Sambil Mewarnai

Saat nanti Ubii sudah lebih besar dan sudah bisa/sudah ingin berkreasi dengan pensil warna, saya sudah menyiapkan kegiatan belajar keuangan untuknya. Ini juga mudah saja. Saya akan menyiapkan Catatan Pengeluaran Ubii. Lalu setiap kali ia memakai uangnya untuk jajan, saya akan minta ia mencatatnya. Lhoh berarti saya bakal bolehin Ubii jajan? Iya. Buat saya itu tak masalah. Sesekali beli permen atau cokelat bukan tindakan berbahaya. Lagipula, lewat kegiatan jajan itu nantinya Ubii bisa belajar tentang memakai dan mengelola uangnya. Untuk urusan cemilan, saya memang tidak saklek asalkan kalau bisa ya tidak setiap hari jajan di luar. Jajan di sini juga tidak melulu tentang cemilan. Biasanya anak-anak kan suka ya membeli stiker atau aksesoris mainan dari plastik. Apapun itu, yang penting Ubii didorong untuk mencatatnya. Mencatat pengeluaran ini juga bisa dikombinasikan dengan kegiatan yang lain, yaitu mewarnai. Jangan lupa minta Ubii menuliskan tanggal pengeluarannya juga. Jadi, di kegiatan ini Ubii akan bisa belajar keuangan sederhana, mewarnai, menulis, dan disiplin. Berikut contohnya:


Mengalokasikan Uang

Pelajaran selanjutnya adalah mengalokasikan uang pribadi Ubii. Saya akan menyiapkan 3 buah toples tembus pandang. Masing-masing diberi label: Tabungan, Belanja, dan Donasi. Ide ini saya dapatkan dari sumber ini.


Kenapa tembus pandang? Supaya Ubii bisa memonitor jumlah uang di setiap toplesnya. Lalu, dari mana uangnya? Tergantung usia Ubii saat mulai melakukan kegiatan ini. Kalau ia sudah cukup besar untuk diberi jatah uang mingguan, maka uangnya berasal dari situ. Kalau belum, uangnya akan saya ambil dari tabungan angpao-angpaonya semasa bayi. Either way, saya akan minta Ubii untuk memutuskan sendiri bagaimana ia akan membagi uangnya tersebut. Berapa yang akan masuk ke celengan Tabungan, Belanja, dan Donasi. Dalam kegiatan ini saya hanya akan berperan sebagai pengingatnya supaya memakai uang di masing-masing celengan sesuai tujuan dan fungsinya. Harapan dalam celengan Belanja, Ubii dapat menyadari sendiri kapan ia harus berbelanja. Penting kah? Kalau uang di celengan Belanja sudah habis, apa konsekuensinya? Supaya tidak habis sebelum akhir minggu, apa yang harus dilakukan? Harapan dalam celengan Donasi, Ubii tetap mengingat lingkungan dan sesamanya yang membutuhkan. Entah itu untuk pengamen, untuk dimasukkan dalam kotak amal di supermarket, atau lainnya, akan menjadi kebebasan Ubii dalam menentukan. Yang penting sesuai dengan tujuannya, yaitu donasi. Dalam kacamata saya, lewat kegiatan ini Ubii bisa mengembangkan kemampuan finansial (mengalokasikan uang), kedisiplinan (memakai uang sesuai tujuan yang sudah disepakati bersama), pengendalian diri (terutama jika celengan Belanja sudah menipis), kesadaran bersosial (dengan berdonasi), dan decision-making skill (menyadari konsekuensi jika uang habis, bagaimana supaya tidak habis sebelum weekend, dan lain-lain). Yang penting untuk diingat, saya harus memulai kegiatan ini dengan memberikan pengertian tentang tujuan dan fungsi kegiatan ini dan masing-masing celengan.


Mencatat Pengeluaran Rutin

Ketika Ubii sudah memiliki jatah uang mingguan dan bersekolah, mungkin akan lebih besar kemungkinan ia membeli sesuatu baik makanan atau barang. Di fase ini, saya akan memberikan buku catatan kecil untuk Ubii mencatat pengeluarannya. Tujuannya simple, yaitu supaya tidak ada kejadian Ubii bingung atau lupa uangnya lari ke mana dan habis untuk apa. Saya juga akan menunjukkan buku catatan pengeluaran saya pada Ubii supaya ia menyadari bahwa mencatat pengeluaran adalah kebiasaan bersama. Bukan sekedar PR yang harus dikerjakan dan ia akan mendapatkan hukuman kalau lupa mengerjakan.

Buku catatan pengeluaran Mami
Buku catatan pengeluaran Ubii (contoh)

Membedakan Ingin dan Butuh

Mungkin ini tidak perlu kegiatan terencana dan spesifik seperti yang lainnya, tapi learning by doing saja. Sambil jalan dengan kegiatan lain. Yang jelas, Ubii perlu punya kesadaran untuk membedakan yang mana keinginan dan kebutuhan. Saya sudah berandai-andai kalau kelak saya akan jadi ibu yang tega. Misalnya kami berjalan-jalan ke mall dan tak sengaja melewati toko mainan. Ubii langsung jatuh hati pada boneka besar berbulu seharga ratusan ribu dan merengek pada saya agar dibelikan padahal di rumah sudah ada beberapa boneka berbulu. Saya sudah mengancam suami (karena suami orangnya suka tidak tega) agar tidak langsung membelikan. Kami akan mengajaknya berdiskusi, "Apa Ubii butuh? Tidak kan? Karena di rumah sudah ada. Maaf Mami tidak selalu bisa membelikan apa yang Ubii inginkan." Menyadarkan anak tentang ingin dan butuh juga butuh kerja sama dan konsistensi orangtua. Kan tidak lucu ya kalau kami akhirnya membelikan hanya karena tidak tega padahal di rumah belum tentu dimainkan karena anak cenderung cepat bosan. Mungkin saya bisa mengajaknya melakukan kegiatan yang sangat sederhana untuk mengenali keinginan dan kebutuhan. Ini kegiatan yang terpikirkan:
  1. Minta Ubii mengamati kulkas dan menyadari apa saja bahan makanan yang habis.
  2. Mengajak Ubii ke pasar.
  3. Memintanya menunjukkan bahan-bahan makanan yang sudah tidak tersedia di kulkas kami, yang berarti itu kebutuhan.
  4. Mengambil 2 benda misalnya telur dan permen lalu menanyakan padanya yang mana kah lebih penting atau dibutuhkan, telur atau permen.
Kegiatan sederhana ini selain bertujuan untuk memberi pemahaman nyata tentang keinginan dan kebutuhan, juga bisa mengembangkan memory anak karena Ubii didorong untuk mengamati, mengingat, dan mengeluarkan ingatannya tentang sesuatu (isi kulkas). Di poin nomor 4, Ubii juga bisa mengasah kemampuannya dalam mengambil keputusan. Selanjutnya, Ubii bisa mulai diberi pemahaman tentang konsekuensi dari membeli barang yang diinginkan dan dibutuhkan.

Memilih Barang untuk Dibeli

Ketika Ubii sudah lebih besar lagi, saya akan membiarkannya memilih barang untuk dibeli. Saya akan mengajaknya ke supermarket, misalnya. Lalu saya akan memberikannya sejumlah uang untuk membeli sayuran dan membiarkannya memilih sayuran apa untuk dibeli dengan uang tersebut. Di sini Ubii belajar memahami bahwa ada pilihan yang harus diambil dalam membelanjakan uang karena kita tidak bisa membeli semuanya. Uang tidak jatuh dari langit. Sayur apa pun yang Ubii beli di sini tidak ada benar atau salah. Ini hanya untuk belajar memilih dengan mengetahui bahwa ada nilai batasan dalam uang yang ia pegang.

Sekarang Ubii baru sebatas menemani Mami berbelanja

Di kesempatan lain mungkin saya akan mengenalkan padanya tentang konsep mencari harga yang paling murah dengan membandingkan harga. Misalnya saya akan mengajaknya ke beberapa toko alat tulis. Lalu kami akan membandingkan harga pensil warna merk WarnaWarni di toko Maju Mapan, Maju Makmur, dan Maju Tak Gentar. Pensil warna di toko yang paling murah harganya lah yang akan kami beli. Kegiatan ini adalah agar Ubii tahu bahwa kita bisa berhemat dengan memilih barang (yang sama) dengan harga yang lebih murah.

Menetapkan Goal tentang Benda yang Ingin Dibeli

Pastinya Ubii nanti akan punya keinginan untuk membeli benda entah itu boneka atau mainan. Berhubung saya dan suami sepakat untuk tidak selalu menuruti keinginannya, maka solusinya adalah meminta ia menabung untuk membeli yang ia inginkan. Terserah pada Ubii berapa banyak yang ia ingin sisihkan per minggu nya supaya uang untuk membeli bisa terkumpul. Saya harap dengan ini, Ubii bisa belajar untuk mandiri, bijaksana dalam mengelola keuangannya, dan memahami bahwa ia perlu berusaha untuk mendapatkan apa yang ia mau. Semoga ya. Amin.

Nah, itu lah beberapa rencana saya untuk memberikan edukasi finansial untuk putri tercinta. Semoga ke depannya bisa direalisasikan dan dinikmati oleh Ubii. Keluarga kami sepakat bahwa life skill seperti financial literacy tak kalah penting dari pelajaran lainnya. Di beberapa sekolah di luar negeri, sudah mulai ada kelas/mata pelajaran Finansial untuk murid-murid di berbagai jenjang pendidikan yang bahkan dimulai di tahap pre-school tentunya dengan cara sederhana. Menurut saya itu sangat positif ya karena belajar bersama dengan teman-teman mungkin lebih seru sekaligus mendorong para orangtua murid untuk ikut menyadari manfaat melek finansial untuk anak-anaknya. Ternyata Indonesia juga akan menerapkan pelajaran finansial lho. Saya baca di artikel yang berjudul 'Dorong Anak SMP dan SMA 'Melek' Finansial, Materi Jasa Keuangan akan Masuk Kurikulum' yang bisa dibaca di sini. Hmm menarik ya. Semoga segera terlaksana. Tapi, saya juga berharap materi finansial juga bisa ada di jenjang pendidikan lebih rendah seperti TK dan SD. Mungkin bisa masuk ekstrakurikuler atau kelas tambahan, tentunya dengan kegiatan yang menyenangkan dan asyik supaya tidak memberatkan anak-anak. Jadi sekolah tak hanya menekankan kemampuan akademis saja, tapi juga mengasah life-skill yang pastinya bermanfaat dalam kemampuan survive di dunia nyata di masa yang akan datang.

Sambil menunggu sekolah-sekolah di Indonesia menerapkan hal itu, yuk kita sebagai orangtua juga mengambil peran dalam mengusahakan supaya anak-anak melek finansial sejak dini. Semoga dengan itu, anak-anak kita lebih dapat mencapai kesejahteraan dalam hidupnya kelak.

Masa depan seperti apa yang kita harapkan untuk anak-anak kita? Saya sih pilih yang pertama. How about you? :)





Referensi:
  1. Edukasi Keuangan Perlu Sejak Dini: http://m.bisnis.com/lifestyle/read/20140716/236/243876/edukasi-keuangan-perlu-sejak-dini
  2. Save, Spend, & Share dan Three Jars: http://www.sesamestreet.org/parents/topicsandactivities/topics/saveshare
  3. Dorong Anak SMP dan SMA 'Melek' Finansial, Materi Jasa Keuangan akan Masuk Kurikulum: http://finance.detik.com/read/2014/07/02/101828/2625193/5/dorong-anak-smp-dan-sma-melek-finansial-materi-jasa-keuangan-akan-masuk-kurikulum



32 comments:

  1. Komplit banget mak. Sukses ngontesnya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin.. makasih Mak Ika kunjungannya ^_^

      Delete
  2. Kalo maen pasaran,pake uang palsu aja mak,itu lo yg seribu dapat 5lembar aneka nominal uang,lumayan mirip ama aslinya qiqiqi ^.^

    ReplyDelete
  3. klo syafieq udh 2 thn ikut sunlife yg rencana pintar mak,soalnya sy pya rek di bank bni,smg sukses ya mak kontes'y...:)

    ReplyDelete
  4. Walo baru nemenin belanja, kelihatan ikut mikir tuh si Ubii, hehe

    ReplyDelete
  5. Celengannya lucuuuu, role playnya asyik, postingannya keren ... merncerahkan dan runtut .... pokoke okeh deh :))

    Moga sukses ya Mami Ubii :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin.. makasih Kak Niar. Tulisan dirimu juga keren banget. Semoga sukses juga yaah :))

      Delete
  6. Mami ubi selalu keren tulisannya euy..sukses ya mak ngotesnya; , bakal juara nih, amin. btw ubi, ken ikut maen donk, seru tu kaya'nya... : )

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin.. makasih Mak Inda. Tulisan mama Ken juga keren banget tuh. Semoga sukses juga yah :) Hayok Ken main sama Ubii jual-jualan :p

      Delete
  7. hei mak Gess, ilustrasi selalu aja bikin senyum-senyum diriku.. lucu bangetttt.. menginspirasi banyak orang untuk mulai mikir-mikir kalo belanja.. wah, tulisannya keren dan menarik, but boleh dibesarin dikit nggak, saya kewalahan membacanya juga, tapi tetep asyiiik juga samapi titik terakhir :D gudlak ya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, makasih Mak Aida. Kekecilan yah tulisannya? Makasih kritik sarannya. Nanti diservis deh tampilan blognya :))

      Delete
  8. Kereennn... Ubi sudah pintar jual-jualan sama Bunda ya... Semoga nantinya ananda bisa sukses menjadi pengusaha berkat ditanamkan nilai2 untuk menghargai uang... Sukses ya Mbak GA-nya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin.. makasih doanya Mba Rita.. Ikutan lomba blognya juga yuk :))

      Delete
  9. menarik dan inspiratif sekali mak :) good luck yah *garuk2 kepala cari ide

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi Mak Dame.. Ah, postingan Mak Dame nanti pasti bakalan bikin aku jiper juga nih :'D

      Delete
  10. Ubii, ayo menabung bareng tante yuuuk

    #tulisan Mak Gees selalu cethar membahana neh. Layak juara pokoknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk tante Ririe nabung sama-sama.. Traktir Ubii juga yah :p *modus*

      Delete
  11. Wah..ubii jualan...besok belanjaa ke tempat ubii aah:)

    ReplyDelete
  12. Ubii... Tante mau beli tapi lewat online, bisa kan ya sayang?
    Duh, tante gemessss ama kartunnya iiih.... Kok menohok banget gitu loo, hehehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang warung nya masih offline, Tante Nurul :p

      Delete
  13. ubiii besok calon dedeknya onty diajarin nabung yaaak ;))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti dong Tante Qachan, nabung sama kk Ubii yaaahh :))

      Delete
  14. Selalu unik dan fun...caramu nulis, sukses yaaa..Mami Ges..

    Bude mau borong dulu di warung Ubii...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiinn, makasih Budhe Lies. Ayo warungnya Ubii dilarisi :p

      Delete
  15. Asyiknya ubii main jual2an sama mami sambil belajar juga ya. Moga2 ubii selalu sehat n makin rajin menabung :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiinn, makasih Tante Muna. Nanti jual-jualan sama kk Nadia yaaa :))

      Delete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...