Sunday, June 8, 2014

Yuk Belajar CMV: Sifat, Penularan, & Pencegahan


Hari Senin kemarin Ubii akhirnya boleh pulang ke rumah setelah opname di rumah sakit selama 9 hari. Banyak sekali teman yang bertanya mengapa Ubii perlu diopname, kok bisa begini, kok bisa begitu, selanjutnya bagaimana, dan masih banyak lagi. Saya jadi kepikiran untuk menuliskan tetek bengek terkait opname Ubii kemarin. Berhubung judulnya saja tetek bengek, pasti bakal panjang nih. Maaf kalau tulisan ini bakal membuat kalian bosan. :)

"Adududuh, musti nginep di rumah atit nih akuuhh"
Saking tetek bengek nya, saya sampai bingung harus mulai dari mana. Hehehe. Dari persiapan opname saja kali ya. Saya membawa banyak barang untuk dibawa menginap di rumah sakit mulai dari barang saya, Ubii, dan suami. Kebetulan saya adalah tipe orang yang lebih memilih untuk membawa barang kebanyakan daripada kekurangan. Kalau barang yang bejibun itu memang nggak terpakai, ya sudah, nothing to lose. Tapi kalau ternyata ada yang kurang, kayaknya kok ribet kalau saya harus pulang ke rumah untuk mengambil atau ke supermarket terdekat untuk membeli. Ya kalau supermarketnya menyediakan barang yang saya butuhkan, ya kalau ada supermarket di dekat rumah sakit, ya kalau saya bisa meninggalkan Ubii sebentar, that's why buat saya mending turah-turah. Hehehe. Berikut list barang yang saya angkut ke rumah sakit, siapa tau bermanfaat kalau ada teman-teman yang bayinya perlu opname. Anyway, di sini saya menyebut dengan kata bayi walaupun Ubii sudah berusia 2 tahun karena kemampuan motorik dan kognisinya masih seperti bayi berumur 5 bulan-an.

Ubii (pasien):
  1. Popok sekali pakai.
  2. Tissue basah. Tissue kering saya juga bawa sih, tapi ternyata di rumah sakit disediakan buanyak banget. Hehehe.
  3. Baju dan celana: Memang rumah sakit menyediakan baju untuk pasien bayi, tapi pakaian yang disediakan belum tentu pas di tubuh bayi kita. Kasus Ubii kemarin, pakaian dari rumah sakit kebesaran semuanya. Jadi untunglah saya mengangkut banyak pakaian, hehehe.
  4. Peralatan mandi: Sabun, sampo, minyak telon, minyak rambut, sisir, gunting kuku, cotton bud, losion, baby oil, handuk, waslap yang pasti berguna karena biasanya pasien bayi yang diinfus dimandikan di atas kasur dengan waslap (Saya bawa 4 buah).
  5. Obat sederhana: Salep untuk iritasi kulit yang ternyata memang terpakai karena area vital Ubii sempat iritasi karena nonstop memakai popok sekali pakai, balsem bayi merk Transpulmin BB yang sebetulnya juga bisa dibeli di apotik rumah sakit tapi kebetulan saya masih punya stok.
  6. Mainan kesukaan. Tentunya bayi belum bisa menghibur diri dengan baca-baca. Jadi perlu bawa mainan supaya nggak bosan. 
  7. Baby chair. Saya membawa kursi makan  untuk Ubii saat saya menyuapinya. Kebetulan Ubii sudah nggak mau makan sambil disenderkan di bantal. Makan sambil duduk sendiri juga dia belum bisa. Jadi pilihan saya mengangkut kursi makan nya sekalian.
  8. Stroller. Sangat bermanfaat saat sudah bosan banget banget banget (HAHAHA) di kamar. Jadi bisa bawa Ubii jalan-jalan sebentar pakai stroller nya. 
  9. Peralatan makan: Mangkuk, piring, sendok, cupfeeder (untuk meminumkan obat), slabber/celemek. Bagus juga kalau mau jaga-jaga membawa pipet. Pipet bisa berguna banget kalau bayi sedang malas minum lewat dot padahal ada kebutuhan cairan yang perlu dikejar. Saya bawa blender, telenan, dan pisau juga kemarin. Hihihi. Dan memang semuanya terpakai. Hore. Kadang makanan bayi yang disediakan dari rumah sakit kurang sesuai dengan apa yang dipesan. Pesan teksturnya sehalus ini, tapi dibikinkan yang terlalu keras teksturnya. Mau mengembalikan ke petugas untuk minta diblenderkan, malas nunggunya. Jadi saya blender sendiri. Cepattttt. Hehehe.
  10. Peralatan minum susu: Dot bayi, saya bawa 4 buah. 
  11. Selimut. Nah kalau yang ini nggak terpakai. Hehehe.
  12. Hasil-hasil tes. Kebetulan semua hasil tes Ubii mulai dari tes pendengaran, jantung, urin, ginjal, darah, paru-paru, otak, CT Scan, EEG, dan riwayat imunisasi saya jadikan satu dalam 1 tas. Jadi tinggal cangklong ajah. 
Stroller nya kepakai buat ngider hihihi
Hari pertama, masih bisa berwajah tengil :))
Biar nggak bosen :'))

Saya dan suami (si penunggu *halah*):
  1. Pakaian (of course!) dan tentunya pakaian dalam yang cukup.
  2. Peralatan mandi: Sabun, sampo, odol, sikat gigi, losion, deodoran, dan handuk.
  3. Buku, majalah, film, atau apa pun untuk mengisi waktu karena menunggui di rumah sakit itu bosen banget. Hiks. Kalau saya kemarin akhirnya bawa craft yang belum kelar, jadi saya selesaikan sambil nungguin Ubii. Hehehe.
  4. Charger. Karena kebutuhan primer manusia adalah sandang, pangan, papan, dan cas-an. HAHA!
  5. Peralatan makan: Gelas (kalau pengen ngopi atau ngeteh), sendok, dan piring plastik (biar nggak berat, hehehe).
Ribbon wreath saya berhasil kelar. Yeay. Tunggu tutorialnya yak *cie gaya*
Lain-lain:
  1. Cemilan. *teteeeppp yeee*
  2. Kopi sachet *ini juga teteeeeppp yeeee*
  3. Kantong plastik alias tas kresek untuk pakaian kotor.
  4. Bantal karena biasanya cuma disediakan 1 bantal, padahal yang ngejagain Ubii 2 ekor orang.
But, above all, yang wajib disiapkan adalah HATI dan KESABARAN. Hehehe. Siap hati lihat anak disuntik-suntik. Dan sabar lihat anak menarik-narik infus padahal nyari pembuluh darah untuk dimasuki infus aja susah bukan main -___- Kalau si penunggu perlu cuti dari kantor, jangan lupa minta izin untuk cuti jauh-jauh hari.

Mau pindahan, Neng? LOL
Mengapa Ubii Perlu Opname

Lanjut tentang mengapa Ubii perlu opname di rumah sakit yak. Seperti yang biasa saya ceritakan, Ubii terinfeksi virus Rubella selama ada di kandungan saya. Tahun 2012, saat Ubii berumur kira-kira 5 bulan hampir 6, komponen dari TORCH yang aktif pada Ubii adalah Rubella saja. In case you're not familiar with TORCH, TORCH stands for Toksoplasmosis, Others, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes Simpleks. Kemudian, pada bulan November 2013, Ubii menjalani CT-Scan. Dari CT-Scan diketahui bahwa terdapat encephalitis (peradangan) di otak Ubii, pelebaran rongga otak (yang bila nggak ditangani bisa menyebabkan hidrosefalus), dan kalsifikasi (pengapuran) di batang otak Ubii. Dokter yang menangani Ubii cukup terkejut dengan hasil itu karena menurut beliau Rubella saja nggak menyebabkan itu (menyebabkan pun kemungkinannya sangat kecil). Masih menurut beliau, kerusakan di otak Ubii biasanya disebabkan oleh virus Cytomegalo atau yang sering disebut dengan CMV. Long story short, Ubii mendapat surat rujukan untuk screening CMV lagi. Hasilnya: IgG CMV negatif, IgM CMV negatif, Antigenemia urin CMV positif, dan Antigenemia darah CMV negatif.

Cytomegalovirus / CMV

Sebelum ngobrol lanjutan cerita Ubii, yuk mengenal CMV sedikit. Siapa tau ini akan bermanfaat. Berikut saya rangkum dari materi seminar TORCH yang saya ikuti di Yogyakarta dan dari sini. CMV adalah virus yang masih 1 keluarga dengan Herpes. Virus ini biasanya nggak terlalu berbahaya pada orang dewasa. Yang nyebelin adalah sekali ada CMV dalam tubuh kita, virus itu akan tetap berada dalam tubuh kita selamanya. Dengan kata lain, virus ini belum ada obatnya. Kebanyakan infeksi CMV pada orang dewasa yang sehat itu nggak menunjukkan gelaja. Gejala (kalau ada) pun hanya ringan misalnya pegal-pegal, demam, nggereges/meriang, dan sendinya ngilu. Gejala nya memang mirip dengan masuk angin biasa. That's why sering kali keberadaan CMV dalam tubuh nggak disadari. Sedangkan, pada orang dewasa yang daya tahan tubuh/kekebalan tubuh rendah, gejala CMV bisa berupa penurunan kemampuan penglihatan, diare, pneumonia, luka di lambung, kejang, peradangan otak, dan bahkan koma.

Karakter Cytomegalovirus / CMV

Meskipun sama-sama berada dalam satu kelompok TORCH, karakter CMV menurut saya cukup unik. Karakter CMV berbeda dengan Rubella (Rubella juga menginfeksi Ubii sehingga saya membandingkan CMV dengan Rubella ya). Rubella, jika kita sudah terkena, tubuh kita akan membentuk antibodi/kekebalan terhadap Rubella. Antibodi ini biasa kita sebut dengan IgG dan IgM. Antibodi Rubella yang terbentuk ini bersifat protektif. Artinya, antibodi ini akan melindungi kita terhadap virus Rubella yang di kemudian hari menyerang kita sehingga kecil kemungkinan kita akan terserang Rubella lebih dari satu kali. Kalau pun memang terserang lebih dari satu kali pun, dampaknya nggak senakal infeksi pertama. CMV berbeda. Antibodi CMV yang sudah terbentuk dalam tubuh kita nggak bersifat protektif, namun dormant (inactive). Artinya, CMV dalam tubuh kita hanya bobok-bobok cantik dan nggak bisa melindungi tubuh kita dari infeksi CMV di kemudian hari. Maka dari itu, CMV selalu bisa untuk reaktivasi atau menjadi aktif kembali.

Antigenemia, IgG, dan IgM CMV

Bersentuhan dengan TORCH artinya akan sering mendapati IgG dan IgM. Sebetulnya apa sih IgG dan IgM itu? Tentunya saya nggak akan menjelaskan dengan bahasa medis. Saya ceritakan sedikit saja dengan kata-kata yang mudah dipahami ya. IgM artinya antibodi yang dihasilkan tubuh segera setelah terpapar suatu virus atau bakteri. IgG adalah kekebalan jangka panjang terhadap virus atau bakteri. IgM sifatnya hanya sementara dan akan digantikan dengan IgG. Sekengkapnya bisa dibaca di sini. Nah, khusus untuk CMV, ada juga yang disebut dengan Antigenemia CMV Urine dan Antigenemia CMV Darah. Antigenemia berfungsi untuk menunjukkan bahwa CMV sedang aktif-aktifnya di tubuh kita. Sedang aktif-aktifnya berarti CMV sedang beredar di darah (jika Antigenemia Darah positif) dan/atau sedang beredar di urine (jika Antigenemia Urine positif). Antigenemia ini muncul paling pertama sebelum IgG dan IgM muncul / sebelum tubuh kita membentuk respon antibodi terhadap CMV.

Sudah pusing belum? Hehehe. Semoga belum ya. :)) Lanjut ke cerita tentang kasus Ubii dulu saja ya supaya nggak serius-serius amat. Heuheuheu.

Kasus Ubii

Kasus CMV pada Ubii dari hasil screening di lab adalah hanya Antigenemia Urine saja yang positif sedangkan IgG, IgM, dan Antigenemia Darah semuanya negatif. Apa artinya hayo? Ini artinya saat ini CMV sedang beredar di urine Ubii, belum sampai beredar di darah (Puji Tuhan). Dan saat ini Ubii belum mempunyai kekebalan terhadap CMV karena tubuh Ubii belum membentuk antibodi CMV (ditunjukkan dengan nilai IgG dan IgM yang masih negatif). Saat berkonsultasi ke dokter, sebetulnya dokter belum menyarankan untuk opname. Menurut beliau, biasanya untuk pasien anak yang hasil lab nya HANYA Antigenemia Urine nya saja yang positif, belum langsung dirujuk untuk opname. Nah, tapi akhirnya Ubii opname juga. Hihihi. Dokter Ubii nggak pernah mendewakan hasil lab. Beliau selalu berpedoman kalau hasil lab 'hanya' sebagai penunjang diagnosa saja. Observasi klinis anak sehari-hari tetap yang terpenting. Terus saya cerita pada beliau tentang kemampuan motorik Ubii yang sepertinya menurun/melambat. Saat Ubii pertama kali ikut fisioterapi, Ubii belum bisa apa-apa sehingga agenda pertama yang harus dikejar adalah tengkurap dan membalikkan badan ke posisi telentang lagi. Fase itu terkejar dalam waktu 7 bulan. Next, agenda selanjutnya adalah belajar duduk. Sejak awal belajar duduk sampai sekarang sudah 1 tahun, tapi Ubii masih belum bisa. Jadi kelihatan ya di mana penurunan kemampuan motoriknya. Kesimpulan ini saya dapatkan juga setelah berdialog dengan fisioterapis Ubii. Selain itu, tubuh Ubii belakangan (sebelum diopname) lebih cepat kaku. Dini hari Ubii juga sering rewel serewel-rewelnya. Dinenenin nggak mau, diminumin susu dot ogah. Maunya digendong terus dan kalau ditaruh ke kasur langsung nangis lagi. Mungkin ada yang bilang bahwa ini biasa namanya juga bayi. Tapi buat Ubii, ini nggak biasa karena rewel Ubii ini sama persis dengan rewelnya saat dulu Ubii belum mengkonsumsi obat dan ikut fisioterapi. Menurut dokter, bisa jadi rewelnya itu adalah karena badannya nggak enak (emangnya makanan?). So, fix, butuh opname.

Terapi Gancyclovir

Opname nya Ubii jelas untuk treatment CMV nya, yaitu dengan Gancyclovir. Gancyclovir pada anak diberikan lewat infus supaya langsung makcess masuk pembuluh darah dan lebih efektif. Gancyclovir diberikan sebanyak 18 kali pada kasus Ubii (untuk anak lain belum tentu dosisnya sama). Sehari maksimal 2 kali per 12 jam. Jadi pas 9 hari Ubii mondok di rumah sakit. Fungsi Gancyclovir ini adalah untuk menembak mati CMV yang beredar di darah atau urine. Lhoh, bukannya CMV nggak bisa mati tapi bisa aktif lagi ya? Betul. Gancyclovir HANYA membunuh CMV yang beredar di darah dan urine, BUKAN membunuh CMV yang ada di sel-sel tubuh Ubii. Ya, jadi, tetap masih ada virus Cytomegalo dalam sel-sel tubuh Ubii dan itu lah yang bisa aktif kembali (reaktivasi). Analoginya sederhana aja. Virus Cytomegalo yang nggak aktif tetap ada di tubuh kita. Tapi dia bersembunyi di balik sel-sel tubuh kita. Sewaktu-waktu saat kondisi kita drop/kecapekan, virus Cytomegalo bisa keluar dari persembunyiannya lalu memperbanyak diri dan mengedarkan dirinya lagi di darah dan urine kita. Itulah maksud dari reaktivasi.

Nggak boleh drop, eh pas opname malah batuk pilek :')
Gancyclovir ini punya sisi baik dan jahat. Baik karena dapat membunuh CMV yang beredar. Jahat karena obat ini keras sehingga bisa menyakiti ginjal Ubii. Itu lah kenapa saat menjalani terapi Gancyclovir kemarin, Ubii diwajibkan minum susu khusus yang tinggi protein yang baik untuk ginjal bernama susu Proten. Nggak sampai di situ aja. Balance cairan Ubii per hari juga dihitung. Popok sekali pakai yang sudah terpakai selalu ditimbang oleh perawat. Jumlah cairan (Proten campur susu formula Ubii, jus, madu, dan lain-lain) harus selalu dicatat. Jadi per 24 jam perawat akan menghitung perbandingan cairan yang masuk dan keluar. Kalau balance cairan Ubii negatif, Proten harus makin digenjot. Ini yang bikin capek dan stres saya selama di rumah sakit. Ubii sering menolak ngedot Proten campur susu formulanya. Saya maklum sih karena Proten itu pekat, mungkin Ubii eneg. Tapi, Ubii harus minum itu demi ginjalnya. Jadilah saya harus telaten meminumkan Proten dicampur susu formula memakai pipet. Sedikit-sedikit sampai satu botol habis. Capek dan jengkel apalagi kalau Ubii melepeh susunya. Saking kerasnya efek Gancyclovir untuk ginjal Ubii, tes fungsi ginjalnya harus dilakukan tiap 4 kali pemberian Gancyclovir, yaitu dengan diambil darahnya. Kalau fungsi ginjalnya kurang baik, pemberian Gancyclovir harus ditunda dulu sambil menggenjot lagi Proten nya. Kebayang kan pressure nya. Hihihi. Semoga saya jadi kurus setelah ini, belum nimbang sih. Kerasnya Gancyclovir juga membuat lokasi infus tempat masuknya Gancyclovir harus dipindah per 5 kali Ganclyclovir. Nyatanya, lokasi infus Ubii dipindah bukan cuma karena sudah waktunya, tapi juga karena lokasi infus Ubii sering bermasalah. Infus nya rembes lah, kaki nya bengkak lah. Memindah lokasi infus juga nggak gampang karena pembuluh darah Ubii kecil sekali. Beberapa kali kaki/tangan Ubii disuntik untuk dipasang infus tapi infus nggak mengalir atau infus mengalir tapi dalam hitungan detik area kaki/tangan yang diinfus membengkak. Supaya Ubii nggak terlalu meronta dan mengganggu perawat yang memasang infus, tubuh Ubii selalu dibedong saat disuntik. Pemasangan infus terakhir yang cukup dramatis. 3 kali gagal. Ubii yang dibedong awalnya masih bisa menangis, menjerit, dan meronta. Akhirnya saking capeknya Ubii meronta, dia jadi ketiduran sendiri dan tetap tidur saat disuntik ulang. Saya nggak tega tapi apa saya punya pilihan lain? Gancyclovir yang cukup keras ini juga membuat rambut Ubii sedikit rontok. Saatnya hunting lidah buaya lagi nih. Hehehehe.

Sampe ketiduran, disuntik nggak bangun :')
Kaki kanan Ubii yang bengkak karena pembuluh darahnya pecah jadi harus pindah lokasi infus

CMV Vs. ASI

Saat di rumah sakit, dokter kaget saat tau kalau saya masih menyusui Ubii kalau malam. Beliau berkata bahwa ASI cukup sampai 2 tahun saja. Alasannya lebih ke psikologis anak. Menurut beliau, banyak pasiennya yang masih nenen sampai lebih dari 2 tahun lalu jadi mudah rewel, semaunya sendiri, dan cepat marah. Lagi pula ASI saya pastinya sudah nggak sebergizi saat Ubii masih bayi kan. Gizi juga bisa didapat dari makanan lain. Alasan beliau yang lainnya adalah siapa tau saya juga terinfeksi CMV (Ya, jadi sepertinya Ubii bukan terinfeksi CMV sejak dalam kandungan saya). Lalu saya bertanya memangnya CMV bisa saya tularkan ke Ubii lewat ASI. Kata beliau sangat bisa, virus Cytomegalo can be transmitted through breastmilk. Jadilah saya juga diberi surat rujukan untuk screening CMV hari itu juga. Hasilnya, Antigenemia Darah CMV saya positif sedangkan yang lain (Antigenemia Urine, IgG, dan IgM CMV) saya negatif! Berarti saat ini virus Cytomegalo sedang menjajah dan saya belum punya antibodi.


Menurut saya ada yang bisa kita ambil bersama dalam kasus CMV dan ASI ini. Tentu kita sudah familiar dengan trend donor ASI belakangan ini. Ibu-ibu yang belum bisa memenuhi kebutuhan ASI bayinya tapi menolak memberikan susu formula, memilih mencari donor ASI. Bahkan, ada komunitas atau organisasi yang support dan membantu para ibu untuk mencari donor ASI. Tapi, pernah kah kita berpikir gimana sih riwayat kesehatan atau status virus ibu susu bayi kita? Apakah mereka bersih dari CMV? Padahal kita juga tau bahwa kesadaran untuk screening TORCH pada umumnya dan CMV in particular di Indonesia masih amat sangat rendah. Jadi, gimana kita tau kalau donor ASI bayi kita mendonorkan ASI yang sehat dan nggak mengandung virus Cytomegalo? Saya bukannya anti ASI loh. Saya sangat PRO ASI. Dulu Ubii juga saya carikan donor ASI saat ASI saya nggak cukup. Saya pun cukup sering mendonorkan ASI saya. Sekarang saya merasa waswas. Saya berdoa semoga saat saya sering mendonorkan ASI saya dulu, saya belum terinfeksi CMV. Karena kalau sudah, berarti bayi-bayi susu saya punya resiko tertular CMV dari ASI saya. Semoga enggak ya. Amin. Saya masih beranggapan bahwa ASI adalah asupan paling baik untuk bayi, dengan catatan si ibu nggak terinfeksi virus yang bisa ditularkan lewat ASI nya (CMV dan HIV). Jadi, sekarang saya berpikir kalau mungkin susu formula adalah solusi yang jauh lebih aman ketimbang menerima donor ASI yang kita belum tau pasti status CMV nya. Toh, susu formula bukan racun kok. Nggak bisa memberi ASI juga bukan berarti kita gagal sebagai ibu. Menjadi ibu jauh lebih dari sekedar meng-ASI. Kenapa saya bilang begini? Karena ada di luar sana ibu-ibu yang segitu pro ASI nya jadi semacam membenci susu formula. Setelah kita belajar sama-sama tentang fakta CMV bisa ditularkan melalui ASI ini, semoga bisa mengubah pandangan kita.

Saya sendiri sadar bahwa di kalangan dokter dan konselor laktasi pun pandangan tentang ASI bisa menjadi jalur infeksi CMV masih beda-beda. Ada dokter yang bilang aman, ada yang bilang nggak aman. Saya sampaikan hal itu pada dokter Ubii. Menurut beliau, sebelum kita berkomentar bahwa ASI tetap aman walau si ibu terinfeksi CMV, kita harus tau karakteristik CMV dulu. Ada dokter yang mengatakan bahwa menyusui tetap aman asalkan yang positif hanya IgG nya saja karena itu berarti kita sudah kebal sama CMV. Masih menurut dokter Ubii, walau IgG saja yang positif tetap bahaya karena seperti yang saya tulis sebelumnya, CMV bisa sewaktu-waktu jadi aktif lagi. Kalau IgG positif berarti pernah ada CMV dalam tubuh si ibu. Berarti bisa sewaktu-waktu aktif lagi kan padahal kemungkinannya kecil untuk si ibu 'ngeh' saat CMV nya aktif lagi wong gejalanya saja kayak masuk angin biasa. Ada dokter yang berpendapat bahwa IgG CMV walau sangat tinggi tetap aman untuk menyusui. Menurut dokter Ubii, IgG CMV kalau tinggi berarti kebutuhan antibodi kita terhadap CMV juga tinggi, dan itu berarti CMV dalam tubuh kita pun tinggi karena antibodi diproduksi sebanyak virus/untuk melawan virus. Karena masih ada beda pendapat, saya kembalikan pada setiap ibu. Saya cuma berbagi apa yang saya tau aja. Kalau bisa diterima, syukurlah. Kalau kurang setuju, nggak apa-apa dan nggak usah dibikin jadi masalah ya. ^___^

Kalau saya pribadi, memilih percaya dengan dokter Ubii karena beliau pernah secara khusus mempelajari dan mengadakan penelitian tentang virus di Jepang. Jadi saya anggap beliau lebih paham. Alasan lainnya adalah karena saya nggak mau ambil resiko. Sekali lagi, ini menurut saya pribadi.

Nah, sekarang lanjut ngomongin hal yang agak seriyus ya. Hihihi. Saya pengen share tentang penularan CMV.

Penularan CMV
  1. Ibu hamil ke janin. Kalau penularannya seperti ini, perkembangan janin akan terganggu sehingga bisa mengalami gangguan pendengaran, retardasi psikomotorik, mikrosefali, katarak bawaan, dan lain-lain.
  2. Di kamar bayi. Banyak kasus bayi terinfeksi CMV di kamar bayi. Biasanya ini terjadi di rumah sakit yang belum punya fasilitas supaya bayi bisa rooming in / sekamar dengan ibunya. Jadi bisa saja ada bayi yang memang sudah terinfeksi CMV sejak dalam kandungan ibu nya. Lalu CMV bayi tersebut menular ke bayi (yang sebenernya sehat) lainnya di kamar bayi. Menurut dokter Ubii lagi, idealnya untuk mencegah penularan di kamar bayi, perawat wajib memakai alat pelindung diri (sarung tangan dan masker) saat bersentuhan dengan bayi dan wajib mencuci tangan setiap akan mengurus bayi lain. Berapa banyak perawat yang melakukan itu? Pasti di luar sana masih ada yang kurang disiplin. Jadi, please, nurse, if you read this, lakukanlah prosedur yang tepat saat menghandle bayi di kamar bayi. Perihal kamar bayi ini juga bisa menjadi pertimbangan untuk para ibu hamil yang akan melahirkan bayinya. Mungkin akan lebih aman melahirkan di rumah sakit yang sudah punya fasilitas rooming in.
  3. Cairan tubuh penderita: urine, percikan air liur, ingus. Ini bisa terjadi pada siapa saja. Misalnya saat anak kita share mainan dengan anak lain yang kebetulan terinfeksi CMV. Biasanya anak (di usia tertentu) suka memasukkan mainan ke mulut. Kalau mainan anak dengan CMV yang sudah terkena air liur itu diemut oleh anak kita, itu bisa jadi jalan penularan CMV. Contoh lain misalnya kebiasaan orang asing (tetangga/pengunjung/dll) yang gemas dengan bayi kita lalu menciuminya di pipi. Ini juga bisa jadi jalur penularan CMV karena pipi dekat dengan mulut sehingga kalau orang yang mencium terkena virus, virusnya bisa dengan mudah masuk ke mulut bayi. Jadi memang kadang ibu perlu untuk protektif terutama kalau anak masih bayi. Kebetulan pada akhir Maret kemarin, Rumah Ramah Rubella mengadakan seminar berjudul Yuk Kenali Ciri-Ciri Gangguan TORCH pada Anak dan dokter Ubii menjadi salah satu pembicara. Dalam seminar yang diliput oleh Detik Health tersebut, dokter Ubii juga menyampaikan tentang larangan akan kebiasaan cium-mencium bayi di mulut/bibir ini. Liputan lengkapnya bisa dibaca di sini.
  4. Hubungan seksual. Berhubung hubungan badan bisa jadi salah satu jalur penularan, kalau istri terinfeksi sebaiknya berkonsultasi ke dokter dulu, apakah mungkin ada tindakan medis yang perlu dilakukan. Jangan sampai berefek pingpong ke suami.
  5. Transfusi darah dan transplantasi organ. Donor darah juga sangat marak dan itu sangat baik. I totally support that! Tapi kalau kita terinfeksi CMV, sebaiknya nggak mendonorkan darah kita ya.
As what I've stated before, CMV paling doyan masuk ke tubuh yang sedang drop daya tahannya. Jadi sebenernya ada beberapa hal sederhana tapi penting yang bisa kita lakukan untuk mencegah infeksi virus Cytomegalo. Yeay! :)

Pencegahan CMV
  1. Cuci tangan dengan air dan sabun selama 15-20 detik, terutama setelah: mengganti popok, menyuapi anak, menyeka ingus atau air liur anak, dan memegang mainan anak (yang diemut/terkena air liur).
  2. Jangan berbagi makanan dan minuman serta peralatan makan yang dipakai oleh anak.
  3. Jangan meletakkan empeng/dot anak di mulut kita.
  4. Hindari kontak air liur saat mencium anak. (lagi-lagi) :))
  5. Bersihkan mainan, benda, atau permukaan yang terkena air liur atau urine anak.
Pengobatan CMV
  1. Untuk janin di dalam kandungan yang terinfeksi CMV dari sang ibu --> nggak ada obatnya. Hiks.
  2. Untuk bayi yang baru lahir dan diketahui punya infeksi CMV yang cukup berat --> ada opsi untuk pemberian Gancyclovir (seperti Ubii). Bukan untuk menghilangkan virus Cytomegalo seluruhnya, tapi untuk menekan virus supaya nggak semakin jahat ke tubuh anak. Tapi, WAJIB berkonsultasi dulu dengan dokter ya. 
  3. Berbeda dengan Rubella yang bisa dicegah dengan vaksinasi MMR, belum ditemukan vaksin untuk mencegah CMV. Saya pernah mengikuti seminar tentang TORCH, kata seorang pembicaranya, vaksin untuk mencegah CMV sekarang masih dikembangkan dan entah kapan jadinya. HIKS.
  4. Saya ingetin sekali lagi ya, jaga kebersihan dan daya tubuh sampai saat ini masih jadi hal yang paling penting dan paling memungkinkan untuk mencegah infeksi CMV pada ibu hamil, dewasa yang nggak hamil, dan anak-anak. :)))
Yah, itu deh tentang CMV dan seluk beluknya. Sekarang mau cerita sedikit (udah banyak kalik!) tentang hari-hari di rumah sakit. Hohoho. Selama di rumah sakit, tiap hari fisioterapis Ubii naik ke kamar Ubii untuk fisioterapi di kamar. Asik asik asik. Berhubung fisioterapi nya sambil berinfus ria, jadi latihannya juga nggak heboh-heboh amat. Daripada infusnya copot lagi. Hihihi. Yang diforsir adalah pijatnya supaya Ubii nggak kaku karena jarang gerakin anggota badannya selama opname. Selain fisioterapi, biasanya siang-siang gitu Ubii duduk-duduk di kasur, mainan, atau... SELFIE sama saya. Heheh. Malamnya, Ubii sering rewel jadi baru bisa bobok kalau digendong si Papih.

Keenakan dipijat sampai merem-melek plus ngiler :D
Mainan tangan -___-
Duck face ala Aubrey Naiym Kayacinta
Si cantik kebanggaan saya yang lagi ceria ^_^
SELFIE! :'D
Setelah pas 9 hari, Ubii boleh pulang. Sebelum pulang saya diberi banyak pesan oleh dokter. Salah banyaknya: bener-bener harus stop nenenin Ubii (beliau tau saya nggak tegaan kalau Ubii sudah narik-narik kaos saya), toilet training, tes pendengaran ulang setahun lagi (karena setelah CMV diberi Gancyclovir diharapkan tingkat gangguan dengar Ubii menurun, AMIN!), tes Echo / USG jantung (untuk ngecek perkembangan kebocoran jantung Ubii), kasih Ubii banyak sayur dan sari buah, serta benar-benar menjaga kondisi Ubii (paling nggak jangan sakit dulu sampai 2 bulan ke depan dan jangan dibawa ke keramaian dulu). Seminggu setelah Ubii keluar dari rumah sakit, saya juga harus membawa Ubii untuk ketemu dokter untuk melihat efek Gancyclovir yang sudah dikasih selama opname.

Surat Ijin Pulang. SIP! :))
Akhirnyaaaaaa, kami pulaaaaannggg. Senangnya bisa sampai ke rumah lagi. Pertama kali masuk ke rumah, Ubii bengong binti melongo. Kira-kira apa ya yang Ubii pikirin begitu ngeliat rumah lagi? :))

Tampang Ubii yang melongo. Seneng ya sampai rumah lagi ^_^

Huaa panjang yak ternyata tulisan ini. Bihihik. Maapkeun kalau bikin pegel mata yah. Tapi ini beban moral buat saya untuk menulis tentang CMV (karena biasanya saya nulis tentang Rubella aja) supaya teman-teman bisa melindungi diri dan keluarga dari infeksi CMV ini. Saya harap tulisan ini bisa bermanfaat dan bisa bikin teman-teman lebih paham blablabla tentang CMV.


Tentang seminar Rumah Ramah Rubella yang berjudul Yuk Kenali Cici-Ciri Gangguan TORCH pada Anak, bisa dibaca liputannya kalau pengen belajar. Ada beberapa hasil liputannya di Detik Health:
  1. Kerap Disepelekan, Inilah Pentingnya Tes TORCH bagi Ibu Hamil.
  2. Hati-Hati, Ini Sebab Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi.
  3. Ibu Kecolongan, Gendis Tumbuh dengan Gangguan Pendengaran karena Rubella. (wawancara reporter dengan salah satu orangtua di Rumah Ramah Rubella yang hadir di seminar)
  4. Di Rumah Ini, Ibu-Ibu yang Anaknya Kena Rubella Bisa Curhat. (wawancara reporter dengan saya *ehem*)
  5. Anak Tuli atau Katarak karena TORCH, Apa Saja yang Bisa Dilakukan Ortu?
  6. Bisa Bikin Bayi Cacat, Ibu Hamil Dilarang Dekat-Dekat Pasien Campak Jerman.
  7. Salah Satu Cara Hindari Tokso: Cuci Telur Sebelum Disimpan di Kulkas.
Sesi seminar tersebut juga bisa ditonton di channel YouTube Rumah Ramah Rubella di sini. Sesi tanya jawab peserta dengan pembicara juga terekam. Semoga bermanfaat. ^___^

Oh iya, barangkali ada teman-teman yang anaknya terinfeksi Rubella dan CMV atau virus lainnya dan pengen coba berkonsultasi ke dokter yang merawat Ubii, beliau adalah Prof. dr. Sunartini Hapsara, Sp.A(K), Ph.D. Beliau praktik di klinik pribadi setiap hari Senin - Kamis mulai pukul 5 sore. Pendaftaran dibuka mulai pukul 9 pagi pada hari-H via telepon ke (0274) 376718. Tips: Mulai lah telepon dari pukul 9 kurang karena jaringannya sering banget sibuk. Beliau juga praktik di RSA UGM setiap hari Sabtu mulai pukul 8 pagi. Pendaftaran dibuka sehari sebelumnya via telepon ke (0274) 4530404. Saya sama sekali nggak promosi loh, cuma pengen berbagi just in case ada orangtua yang masih dalam perjalanan mencari jodoh dokter yang dirasa tepat. Karena saya sendiri pernah mengalami rasanya bingung mencari dokter untuk menangani Ubii. Saya dulunya sampai gonta-ganti dokter sampai 3-4 kali. Pengalaman saya: dokter spesialis anak biasa masih belum terlalu bisa menangani Ubii sehingga saya membutuhkan dokter spesialis syaraf anak yang memang menangani banyak kasus anak dengan infeksi TORCH, Down Syndrome, Cerebral Palsy, dan lain-lain. Cukup saya aja yang merasakan galau dan bingung karena nggak kunjung klop sama dokter. Semoga orangtua lain nggak merasakan. Kalau ada teman-teman yang pengen bertemu dengan beliau tapi nggak berdomisili di Jogja, jangan sungkan mencolek saya di komen tulisan blog ini / Facebook saya. Lebih baik lagi kalau mau gabung di Rumah Ramah Rubella dulu supaya bisa kenal dengan anggota lain. Saya usahakan mendampingi / mencari teman di Rumah Ramah Rubella yang bisa mendampingi kalau memang saya berhalangan. Tapi tentunya nggak tiap hari saya bisa menemani ya, karena Ubii nggak boleh kecapekan dulu. :))

Dan perkenalkan, teman saya, Mbak Rina, yang datang jauh-jauh dari Pangkalanbun, Kalimantan untuk mengobati putrinya, Nazwa, di Yogyakarta. Perkenalan kami hanya berawal di dunia maya lalu berlanjut ke BBM. Puji Tuhan, akhirnya bisa bertemu dan bercerita langsung. Nazwa saat ini hampir berusia 7 bulan dan juga terinfeksi CMV. Saat ini Nazwa sedang diopname, juga untuk mendapat terapi Gancyclovir untuk CMV nya. Mohon doa nya supaya semua lancar, balance cairan Nazwa dan fungsi ginjalnya baik, ya teman-teman. :))

Di Rumah Ramah Rubella, kita semua adalah keluarga yang berjuang bersama :)
Kalau teman-teman mempunyai kenalan yang mungkin membutuhkan informasi ini atau menurut teman-teman tulisan ini bisa bermanfaat, mohon bantuannya untuk share ya. Terima kasih. :))

Oh iya, terakhir, terima kasih ya buat teman-teman yang sudah menjenguk Ubii dan menanyakan kondisi Ubii atau menemani saya ngogbrol via BBM / WhatsApp. Itu berarti banget buat saya. ^___^



I share because I care, how about you? :)




68 comments:

  1. Dari awal sampe akhir saya nggak bosen baca ulasannya mak. Satu kata deh buat Mak Gesi, LUARBIASA, Tuhan menempatkan manusia pada posisinya dengan alasan. Kenapa Ubii dititipkan di Mami Gesi, karna Mami Gesi orang yang hebat, sabar, kuat, bahkan hikmah ujian ini bisa membuat orang awam kayak saya sedikitnya paham tentang Rubella dan kawanannya. Berbagi ilmu pengetahuan, kepedulian, pengalaman yang pasti bermanfaat untuk banyak orang... saya terharu... GBU and your family and all people around.

    Salam hangat selalu.
    Zia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tengkyu sudah mampir mba Zia. Juga untuk support dan semangatnya. Hugs..

      Delete
    2. Saya sungguh sependapat dengan Mba Fauzia di atas, bahwa Tuhan tidak pernah salah pilih dalam menempatkan segala sesuatu. Tuhan tau persis Ubi akan aman dan berkecukupan akan kasih sayang, cinta dan upaya penyembuhan dengan dititipkan oleh-Nya ke Mami Gessi.
      Ubi sayang, Mami kamu sungguh luar biasa, tak hanya sabar dalam merawatmu, tapi juga membekali pengetahuan tentang Rubella bagi sesama. Mak Gessi, sungguh, aku salut dgmu, keep fighting and sharing yaaa. GBU and your family and all of us.

      Salam,
      Al.
      http://alaikaabdullah.com

      Delete
  2. Hai Ubii!!! Ubii bukan cuma kebanggaan Maminya... saya juga bangga liat Ubii meski cuma lewat blog :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai tante Orin. Makasih yaaaa. XOXO dari Ubii :))

      Delete
  3. Mami Ubii.. saya IgG CMV dulu pas tes itu positif, IgM negatif.. artinya itu dlm tubuh saya ada CMV yg lg bobo ya.. jadi solusinya harus jaga daya tahan tubuh ya kalau lagi hamil kan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mama Ganesh. Iya betul, CMV nya lagi bobok tuh. Solusinya jaga daya tahan tubuh nggak cuma kalau lagi hamil mak tapi selalu. Kalau mau hamil lagi, screening lagi dulu ya. Jangan sampe IgM nya pas aktif lagi malah hamil. :)

      Delete
  4. Hosh :D
    Bingung mau komen apa... makasih sharringnya ya mak singkong.. makasih banget.. semoga ubii segera membaik! ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin amin amin doanya. XOXO for Jiwo yak :*

      Delete
  5. ih ubii ngegemesin banget sih, sempet selfie di rs :D

    ternyata CMV bisa aktif lagi ya...
    sbelum nikah, hasil tes menunjukan klo saya pernah terinfeksi TORCH, itu IgG yah?
    pas hamil, saya tes lg, IgM negatif...
    brarti klo hamil lg, harusnya tes Antigenemia darah ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya Ubii narsis tuh onty :p

      Iyes bisa, Mak. Hiks. Nyebelin yah. Iya betul itu IgG. Komponen apa yang dulunya positif Mak?

      Delete
  6. sharingnya sangat berguna sekali.. saya jadi tambah semangat untuk tes yg lain lagi.. waktu anak pertama sebelum keguguran dia dinyatakan hidrocephalus, tapi toxo saya negatif, smoga yyg lain juga negatif..
    Salam buat Ubii.. :) Moga tambah sehat dan ceria ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Semoga yg lain negatif. Lagi promil sekarang mba?

      Delete
  7. biar ulasan'y panjang tpi ga bosenin baca'y,thx ya mak bermanfaat bgt nih,sy jdi nambah ilmu,te2p semangat mak n ubii :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thx Mak Aira udah mampir kemari. Tetap semangaaaattt! :D

      Delete
  8. Ituuu duck face buat raffi :*
    Sehat2 ya ubii semangat...

    Thanks sharenya :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duck face bonus cium pake ilerrr. Ilerr nya buat mamak Raffi ajah tapinya :p

      Delete
  9. Terus terang aku skip bagian yg di rumah sakitnya itu, bukan karena nggak ada rencana punya anak lagi, tapi karena mumet heheheee.... Baru terpikir bagian bawa telenan itu. Sing sabar yo mak, semoga Ubii + emaknya + bapaknya selalu sehat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi. Malah bagian telenan yg nyantol ya mak :p Amin amin, tengkyu doanya mak Lus :))

      Delete
  10. Info yg sgt bermanfaat, ubiiiiiiiiiii main donk ama tanteee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahey, tengkyu udah mampir. Ayuk main ama Ubii. Jangan lupa bawa mainan ya *nodong* *emak matre* Buahahaha xD

      Delete
  11. makasih infonya mbak.. berguna banget.. saya bacanya sampai kata per kata.. ubii cepet sembuh ya sayang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin makasih doanya buat Ubii ya mba ^^

      Delete
  12. gak bosen bacanya mak...detail n bermanfaat sekali. semoga ubii cepet sehat ya sayang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syukurlah kalo nggak bikin ketiduran panjang-panjang begini. Hihihi. Amin, makasih doanya ya Mak :)

      Delete
  13. kemarin udah baca dari hp tapi belum komen :) thanks sharingnya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti ini balik lagi kemari ya Mak Lid? Hihihi. Tengkyu yaa :))

      Delete
  14. sehat terus ya ubi sayang,, buat mommy nya juga semangat terus yaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin amin amin. Makasih doanya, Mak. Semangat untuk kita semua :D

      Delete
  15. All the best buat Ubi... Momy Ubi hebat banget deh... super strong mom, smoga selalu sehat n kuat buat ubi dan berbagi buat semua ya mak... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, makasih doanya Mak Ophi. Semangaaatt :D

      Delete
  16. ubii, cepet sembuh sayang :*

    ReplyDelete
  17. makasih banyaak infonya Mak...meskipun panjang, gak bosen bacanya...
    semangat terusss Emak+Ubii *hug*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh jadi GR ekeh, Mak. Tengkyu ya udah mampir dan menjejak kemari. Hugs balik :*

      Delete
  18. Bermanfaat mak :) Ubii bersyukur punya mami yang begitu sayang dan berjuang demi kesehatan Ubii.. Mudah-mudahan semua ini bisa dijalani dan kemudian terlewati dengan baik, aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. AMINNN... Makasih doanya Mak Arifah. Dalem banget :')))

      Delete
  19. What a great share. You are a marvelous mum and dad. Ubii ... semoga semakin sehat ya. Yang masih dirawat, semoga lekas diberi rahmat kesembuhan. Bagi mereka yang masih berjuang mengusahakan kesembuhan, semoga lekas menemukannya. Semoga Tuhan memberkati semua makhluk ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin amin amin. Terima kasih doanya dan terima kasih sudah mampir. Sayang nggak ada foto dan namanya. Jadi nggak bisa kenalan. Hiks. GBU too :))

      Delete
  20. Semoga Ubii lekas sehat. Untuk Mama Ubii semoga selalu diberikan kekuatan untuk merawat Ubii. Thanks for sharing.

    ReplyDelete
    Replies
    1. AMin amin amin. Makasih doanya ya ^_^

      Delete
  21. Ya ampun gesss.. Ubii cepatlah ta.bah pintar nak.. Tuhan memberkati ya..
    Buat emaknya.. Saluuut bgt buat kesabarannya
    Wonder mother hahaha *asiik
    Ubiii micuuuu :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih doanya tante Renya :* Kapan main ke rumah lagi? :D

      Delete
  22. Makasih teman-teman kunjungan dan komentarnya. Aku pengen balesin satu-satu tapi blogku nggak ada feature reply to each comment nih. Hiks. Yuk kita bagikan ini ke para ibu lain semoga kita semua makin aware dan hati-hati sama CMV ini ya. Semoga anak-anak kita selalu sehat. Amiinn :))

    ReplyDelete
  23. mami Ubii makasih bt info'a..sgt bermanfaat.
    msh ingat sy ? sy mmh'a Hansen..sy penasaran skli knp Ubii hrs opname, tp akhir'a terjwb sdh..hehe...info'a bener2 berharga bt kami..kami jd lbh paham ttg pengobatan gancyclovir...pdhl dl anak kami tdk ditangani spt hal'a Ubii..misal hrs minum susu berprotein tinggi, popok ditimbang, soal cairan yg hrs masuk dll..kami tdk diberitahu oleh dokter ttg baik buruk dr gancyclovir..mgkn itu ya yg mbuat bnyk org lbh baik berobat di kota besar.
    kami jg mrsa bersalah krn tdk mencari info lbh bnyk lg..ya sdhlah, sdh terlanjur..kami hny bs berusaha&berdoa spy anak kami sllu sehat..
    utk mami'a Ubii trs semangat berkarya..bt Ubii smga sllu sehat dan tmbh pinter serta imuuttsss..Tuhan memberkati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mama Hansen. Masih ingat dong ^^
      Iya mama, yg sudah biarlah berlalu. Yg penting tetap semangat ke depannya untuk Hansen :)) Gimana perkembangan Hansen sekarang setelah di gancyclovir? Tuhan memberkati Hansen sekeluarga :)

      Delete
  24. Woww aku sampai speechless. Doa terbaik untuk semua keluarga RRR yang sedang berjuang. I'm very proud of you mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mba Dwee buat doanya untuk kami di RRR. Semoga dikabulkan oleh-Nya ya. :))

      Delete
  25. Tulisan dan pengalaman yang sangat sangat sangat bermanfaat mak :) terima kasih banyak atas share kesehatannya. Saya nggak bosan membacanya, bahkan saya baru tahu kalo ternyata selama ini mak sekeluarga sedang diuji sama Tuhan. Semoga cepat sembuh ya anaknya, dan tetap sabar, ikhlas, dan bersyukur pada Tuhan. Salam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin Mak semoga kami tetap sabar, ikhlas, dan bersyukur. Makasih banget ya udah mau doakan kami :))

      Delete
  26. Pantesan ....bacanya gak mau berentii....ternyata bunda ubi penulis....hijiji semsngat mba grace...sehat terus ubi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, penulis amatir, Mbak :p Amin doanya :D

      Delete
  27. Tfs.. info yang bermanfaat.. sekaligus bikin galau, hehe..
    Semoga Gracie sekeluarga selalu diberi kekuatan oleh Tuhan..
    Ohya, nanya-naya dikit ya.. kalau kasusnya seperti Gracie, IgM dan IgG negatif, tapi antigen positif, itu berarti infeksi primer ya?
    Setelah infeksi primer berakhir dan tubuh membentuk antibodi, virusnya kan dormant dalam tubuh.. nah, virus dormant itu bisa ditularkan gak, via air liur misalnya? Atau baru beresiko tertular pas cmv reaktivasi lagi (penderita reinfeksi)?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama. Senang nya aku kalau ternyata tulisan sederhana ini bisa bermanfaat. Hehehe. Amin doanya. Makasih ya Mbak sudah didoakan :)

      Gampangnya gini, Mbak. Saat CMV sedang dormant, kita nggak pernah tau kapan dia bangun lagi. Bisa aja bangun lagi pas kita sedang drop tapi kita nggak sadar krn kita nggak mungkin screening terus-terusan. Jadi tetap lebih baik waspada dg kontak air liur dsb. :))

      Delete
  28. salam buat ubii ya..dari perawat perawatnya VIP RSA UGM...hehheee..semangat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haloo, siapa ini kok nggak ninggal nama iihhh :p

      Delete
  29. Salam kenal mb Gracie. Senang bisa membaca tulisan mb yang inspiratif & informatif. Oh ya mb berarti ibu dengan igg cmv positif tidak boleh menyusui?

    ReplyDelete
  30. Obat Herba Khusus Penyakit TORCH.
    Berkhasiat untuk membantu menyehatkan rahim dari segala macam penyakit gagal rahim dan penyakit TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus II). Komposisi : Phalariae Fructus, Zedoariae Rhizoma, Morindae Citrifolia, Andrographidis Herba, dll. Harga Rp. 309.000,- (35 kapsul). Permata Depok Regency Cluster Jade E20/17 Depok. Pemesanan hubungi : Hp. 0856 910 910 09 (PIN BB : 266B8265). http://faneliaherbs1.wordpress.com ; faneliaherbs@yahoo.com

    ReplyDelete
  31. Sangat bermanfaat skali tulisannya. Sebagai perawat saya akan lebih meningkatkan profesionalisme dalam bekerja terutama mencegah penularan infeksi cmv dari pasien satu ke pasien lain

    ReplyDelete
  32. Mami ubii dan dek ubii salam kenal dr mas fadil diklaten,,smoga berkenan menjawab pertanyaan sya,,stlh baca tlsan mami ubii sya jd sangat penasaran dng si cmv ini,,begni pertanyaan sya,kalo anak yg br ketahuan cmv di usia 3apakah jg perlu di gancy dng cttn si anak ada keterlambatan wicara dng sdh terapi wicara sejak usia 2y,,trus kalo si ibu jg ada cmv kalo sdh pengobatan dan dinyatakan bersih bersih bs hamil lagi,,dan stlh melahirkan brarti gak boleh nge asi gtu kah mam,takutnya kan si baby kena virus lagi kl maminya virusnya pas aktif,,oiya kalo pas selama hamil si ibu dinyatakan bersih dan rajin berobat smoe melagirkan,apakah si baby jg tetap membawa vurus cmv ini walo dlm keadaan dorman? Trmksh mam ubii..smoga berkenan membaca dan menjawab :)

    ReplyDelete
  33. salam kenal mama ubi... kalo ketemu prof sunartini enaknya dimana mbak/ anak saya sudah 4 bulan saya terapi belum ada kemajuan, kemarin dari dokter dibilang ada kemungkinan kena CMV

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...