Tuesday, March 3, 2020

Diari Papi Ubii #39: Play Therapy Doesn't Solve My Problem

Hai gengs, apa kabar? Kali ini tulisan Adit publish nggak nunggu hari Jumat, sekalian ngisi blog ehe. Adit mau share tentang pengalaman nya ikut play therapy tahun lalu. Penasaran nggak how play therapy works for adults?


Kalau mau tau, baca sampai abis yaa.

Adit:
Art can permeate the very deepest part of us, where no words exist ― Eileen Miller
Last year, I was in a state where I couldn’t think straight. Saya mendapatkan 2 award kantor di tahun 2018 karena saya perform dengan sangat cemerlang. Tapi 2019 beda cerita: saya gemar menunda pekerjaan. Tiap pagi saya berharap ada bencana alam terjadi biar saya nggak usah masuk kantor. Walaupun saya bisa menyelesaikan semua pekerjaan tanpa melewati batas deadline, tapi kinerja saya jauh dari standar saya sendiri. Alhasil, saya cuma jadi pegawai yang mediocre — and I hate myself for that.

Di luar pekerjaan, saya semakin terisolir dari society karena saya semakin malas berinteraksi dengan orang-orang. Begitu bubaran kantor, saya pengennya di kamar aja — tidur, atau baca buku. Main PS pun saya malas. Waktu pulang ke Jogja juga saya isi dengan malas-malasan. Sampai satu titik di mana saya merasa jijik dengan behavior saya yang seperti itu. Merasa jadi suami nggak becus, jadi orangtua nggak becus, jadi karyawan nggak becus, jadi anak nggak becus, bahkan jadi pendengar untuk teman dekat yang sedang berkeluh kesah juga nggak becus. Saya merasa entitled atas apa yang menimpa saya. “Masalah saya lebih besar dari kamu. Kamu nggak berhak berkeluh kesah ke saya untuk masalah sesepele itu.” — I was thinking that way, even though I know it’s wrong. Saya nyadar, episode-episode yang saya alami ini adalah manifestasi dari depresi — and I have to do something about it.

Mungkin Grace juga fed-up kali ya, ngelihat saya lifeless seperti itu. It hurt her even more. Then she suggested that I should seek help. Firstly I was like, what the f*. Buat apa? Saya merasa masalah-masalah saya akan bisa terselesaikan dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Naif memang. But then she said, “If you really love me, please at least try.”

Jujur, saya males banget waktu itu. Lalu, lagi-lagi saya teringat dengan 5 panel komik One Piece yang pernah menyelamatkan saya 8 tahun lalu:


Saya lelah dengan pola pikir di mana saya merasa jadi korban. Saya lelah dengan segala hitung-hitungan siapa yang lebih menderita: saya atau Grace.

It’s good enough that Grace encouraged me to seek help. And why should I reject it? After all shits the universe throw at me, Grace masih ada dan masih mau berdiri tegak di samping saya. Let’s appreciate that.

So then I nod. I said yes to her request.

Karena saya sudah pernah ikut hipnoterapi maupun menyambangi psikolog, saya ingin mencoba sesuatu yang baru. Grace menyarankan saya untuk ikut play therapy — ilmu yang sertifikasinya memang sedang dikejar dia saat itu. Saya mendadak jadi skeptis: jangan-jangan dia encourage saya buat ikut play therapy hanya untuk dijadikan kelinci percobaan? LOL.

FIRST MEETING, AND THE MEETINGS THAT FOLLOW

Note: Play therapy for adults disebut juga Creative art therapy.

Setelah membuat janji dengan resepsionis, saya diberitahu bahwa saya akan dihandle oleh terapis bernama Pak Y. Saya oke-oke aja mah. Lha wong saya nggak tahu gimana gimananya, I’ve got nothing to lose so I think let’s give it a shot. Saya diberi beberapa pilihan hari — kemudian saya pilih hari Rabu jam 4. Meaning, selama 12 minggu kedepan, pada hari Rabu jam 4 sore, saya harus meluangkan 1 jam waktu saya untuk ini. Artinya, selama 12 Rabu, saya harus izin cabut dari kantor jam 3 sore, buat otw. Belum apa-apa sudah  gini amat yha  tuntutannya, pikir saya. But then again I realized, it’s for greater good. So I had no problem with that.

Hari pertama — masih skeptis. Saya bertemu Pak Y dan mulai melakukan asesmen. Pak Y melontarkan pertanyaan seputar harapan apa yang pengen saya capai setelah saya selesai mengikuti semua sesi. Ada beberapa poin yang saya lontarkan, lalu Pak Y meminta saya untuk menggambarkan semuanya ke dalam doodle. Jujur, ekspektasi saya mengenai metode ini masih mengawang. Soalnya ya emang ngga bisa ngerasain secara langsung — ngga ada instant changes seperti hypnotherapy ataupun perasaan tervalidasi oleh semua anggukan psikolog seusai mereka mendengarkan keluh kesah kalian. Di sini, Pak Y diam saja. Semua yang saya katakan, dipentalkan balik sama doi dengan paraphrasing. I was like, alright — this guy is good. But good is not enough for me.

Pertemuan pertama, intinya cuma asesmen. Pertemuan kedua dan seterusnya mulailah saya mengeksplor semua kegiatan play therapy ini. Mainly menggambar — karena memang saya yang meminta lebih diperbanyak porsi gambarnya. Selebihnya, ada mask painting, sand tray, dan 3D object building.


Prosesnya gimana?

Monmaap, kalau saya menarasikan apa saja yang terjadi di ruang terapi, saya mau nggak mau harus menceritakan masalah saya. Dan, saya nggak mau Anda-Anda semua tahu masalah saya — karena itu adalah privasi. Pak Y juga sudah make sure apa yang terjadi di dalam ruangan, tidak akan bocor keluar. What happened there stays there. Saya hanya akan menceritakan kesan-kesan apa saja yang saya rasakan selama mengikuti play therapy ini:

Skeptical

Yep. Ini yang saya rasakan di stage awal terapi. Seperti yang saya bilang, ini nggak seperti hipnoterapi ataupun datang ke psikolog/psikiater. Truth be told, saya mulai merasakan “dampak” dari play therapy ini setelah pertemuan ke-3 atau 4, gitu.

Awe

Mulanya skeptis, terus saya kagum begitu efek play therapy kicks in. I used to be a pushover. But no more. Saya lebih mengenal diri saya sendiri. Saya lebih aware dengan emosi-emosi yang saya rasakan. Saya lebih bisa berkomunikasi dengan baik — menyampaikan ide-ide saya dengan runut (walaupun kalau disuruh nulis masih males-malesan LOL).


Explore pake sandtray juga — salah satu sesi yang paling menarik!

Secure and safe

Yang saya suka dari play therapy ini, saya bener-bener diberi wadah untuk berekspresi. Safe haven tanpa ada judgment. So, seancur-ancurnya masalahmu, ya terapisnya ada disana, buat kamu, mendengarkan semuanya. Ngga usah takut dapet pandangan sinis atau apa. They are trained not to be judgy.


Mask painting

Surprised

Saya memang belajar secara teori bahwa seni adalah manifestasi dari alam bawah sadar kita. Namun, saya baru nyadar disini betapa proses kreasi seni dapat membawa kita ke kenangan-kenangan manis yang (kita sangka) sudah dilupakan. Jadi, ada satu sesi dimana saya disuruh oleh Pak Y untuk menggambar badai. Saat saya menggambar bagian awan, secara nggak nyadar saya bersenandung sepotong lagu. Inipun nyadarnya setelah sesi evaluasi. Pak Y bilang, “Adit nyadar ngga sih kalau tadi kamu nyanyi waktu nggambar? Itu lagu apa ya?” I was like… Okay — this is surprising. Lagu yang saya nyanyikan itu “Little Black Cloud”-nya The Cardigans. Lagu yang jarang sekali saya dengarkan. Setelah saya ingat-ingat, lagu itu saya setel berulang-ulang di sebuah perjalanan darat bersama Papa. It was a very heartwarming journey — thus I treasure the memory, unconsciously. Dan memori tersebut bangkit saat saya menggambar. And I cried so, so ugly. I felt, liberated.


Me and my artwork lol

Satu hal yang pasti, play therapy ini membimbing saya untuk “let go”.


Conclusion

Seperti yang terpampang jelas di judul: play therapy doesn’t solve my problem. Tapi, play therapy makes me recognize myself better. It doesn’t solve my problem, but it identifies who your enemies and threats are, baik yang dari dalam maupun dari luar. It embraces every spectrum of your emotions and releases it in a healthy way.

Play therapy ini adalah sebuah medium. Begitu pula dengan terapisnya. Deep down inside, kamu sudah tahu what your problems are, and how will you cope with those shit. Play therapy dan terapisnya membantu emphasize, and reflect it back at you, for you to see your problem clearer. Play therapy dan terapisnya tidak menawarkan solusi dari masalahmu. Mereka hanyalah alat untuk membantu menerangi jalan. Kamulah main actor yang harus menyelesaikan masalahmu sendiri.

Apakah saya akan menganjurkan orang lain untuk mengambil play therapy? Depends. It’s not for everyone as it’s quite pricey even for Jakarta standard. If you need acute help, just go straight to psychiatrist/psychologist. If you’re artsy and love to experiment on things, then go for it. Kalau kamu ngga into art, well, you might not enjoy it at the beginning. But, this is not about the art itself. It’s about the process.

Tabik!

*

Grace:

Iya, emang saya yang suggest Adit untuk ikut sesi play therapy. Sebagai klien ya, bukan untuk ambil sertifikasi nya seperti saya. Alasannya emang personal awalnya. Karena saya ngerasa metode play therapy ini bagus dan prosesnya dapet, soalnya saya udah ngerasain di kelas. But further, saat itu Adit memang needed help. So I thought why not trying something new?

Semua kesan yang ditulis Adit itu juga memang yang selama ini jadi values dalam play therapy:
  • Terapis menyediakan safe place yang tidak judgmental
  • Terapis kasih reflective comments untuk menuntun klien pada proses berpikirnya sendiri
  • Terapis harus mempercayai proses, tidak berusaha mempercepat proses whatsover
  • Terapis percaya bahwa klien punya kekuatannya sendiri untuk solve

That being said, memang play therapist itu nggak menawarkan jawaban solusi yang tersurat. Terapis 'hanya' akan mendampingi klien untuk menemukan awareness dan jawaban. Makanya judul Adit bilang play therapy tidak menyelesaikan masalah Adit, karena emang Adit lah yang menyelesaikan. Play therapy 'cuman' jadi media supaya Adit lebih clear liat apa aja masalahnya.

Bicara tentang perubahan, saya ngerasa ada perubahan di Adit setelah ikut play therapy. First, dia lebih menyadari apa akar masalahnya. Second, dia lebih asertif sekarang. Third, anger management nya lebih baik juga. Yang lain, saya nggak bisa ceritain because it's not my story to tell.

Tulisan ini bukan untuk promosi supaya kalian ikut ya. Ini cuman sekedar cerita pengalaman aja kok. Jadi saya juga nggak tulis lokasi nya. Kalau memang pengin tahu, boleh DM saya aja.

Whatever your issues are, let's hang on together. Dan Adit, terima kasih sudah terbuka pada upaya mencari bantuan profesional. I appreciate it so much!

Selamat hari Selasa!



Love,





3 comments:

  1. kenapa aku mbrebes mili ya baca tulisan mas adit.. kyk ada berasa sedikit percikan emosinya yang nyampe ke aku. pengen banget suatu saat bisa cobain salah satu dari beberapa terapi mental entah itu ke psikolog, play therapy atau lainnya.. saat ini belum ada dana lebih jadi yaa banyak2in baca2 thread ttg mental health dulu aja..

    ReplyDelete
  2. Salam kenal Mba Gesi, aku Blogger Makassar, tapi baru coba ninggalin jejak disini. Sebelumnya aku ngga kenal dengan yang namanya play therapy, tapi pas baca ini akhirnya jadi tau play therapy itu seperti apa. Aku belum keluarga, tapi suka banget baca ilmu-ilmu parenting dari blog Mba Gesi. Semoga nanti pas berkeluarga bisa nerapin ilmu-ilmu parentingnya Mba Gesi. :) Makasih untuk sharingnya.

    ReplyDelete
  3. Baru tahu, ternyata play therapy ini luas banget ya. Saya kira cuma buat anak-anak aja.
    Jadi pengen nyari tahu lebih jauh tentang Creative Art Theraphy dan manfaatnya. Yey.. pengetahuan baru ��

    Syukurlah setelah ikut terapi ini, membawa perubahan positif ke papi Ubi.

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^