Sunday, December 21, 2014

Grace Melia & Rumah Ramah Rubella di Liputan 6 SCTV


Puji syukur, diberi kesempatan sekali lagi untuk memperkenalkan Rumah Ramah Rubella melalui media, tepatnya media tipih. Lagi-lagi, datangnya nggak saya duga. Begini ceritanya. Oktober 2014 lalu, Rumah Ramah Rubella berulangtahun yang pertama. Sebagai bentuk syukuran sederhana, kami mengadakan Toys Charity di mana kami mengumpulkan donasi berupa uang dan mainan bekas layak dimainkan kemudian kami bagikan ke anak-anak difabel di Rumah Ramah Rubella. Saya sebar pamfletnya di mana-mana. Ya di Facebook, Twitter, WhatsApp, dan Path. Rupanya, ada kakak angkatan saya semasa kuliah yang ikut membagikan infonya ke teman-temannya. Ndilalah, salah satu temannya ada yang berprofesi sebagai reporter untuk program Liputan 6 SCTV. Puji syukur, Mas Dika, sang reporter, tertarik untuk mengenal saya lebih lanjut dan juga Rumah Ramah Rubella. Jadilah, saya dikontak sore-sore untuk arrange jadwal taping dan interview. Lesson learned: Tuhan selalu bukakan jalan lewat tangan-tangannya yang nggak pernah kita duga. Thank God.





Kebetulan tanggal 25 November 2014 kemarin, Rumah Ramah Rubella berkesempatan untuk berpartisipasi dalam pameran Hari Kesehatan Nasional di RS UGM Yogyakarta. Jadilah, kami diliput di acara pameran tersebut. Saya sempat waswas, gimana kalau ternyata keluarga Rumah Ramah Rubella nggak pada datang. Maklum, pamerannya diadakan di hari kerja. Puji syukur, ada beberapa keluarga Rumah Ramah Rubella yang hadir. Mungkin hanya sekitar 10 orang. Ada yang berhalangan karena pekerjaan. Ada pula yang terbentur jadwal terapi rutin buah hatinya. Siangan, ternyata cuaca mendung, langit cukup gelap pula. Nggak banyak, tapi puji syukur peliputan tetap bisa berjalan dengan lancar. Jadilah kegiatan pameran kami diliput, agak desak-desakan karena booth kami hanya 2x2 meter. Mas Dika dan beberapa dari kami terlihat berkeringat. Tapi, semuanya tetap semangat. Lesson learned: Selalu syukurilah tim dan keluarga komunitas atau kelompok kita. Kadang cuaca dan situasi kurang pewe tapi mereka masih bersemangat dan tertawa, benar-benar harus disyukuri.


Keeseokan harinya, 26 November 2014, taping dilanjutkan. Kali ini nggak lagi meliput tentang Rumah Ramah Rubella, melainkan meliput keseharian saya membawa Ubii fisioterapi dan keseharian di rumah. Awalnya agak rungsing. Ubii bangunnya kesiangan karena tidur kemalaman. Jadi mandi dan sarapannya proses kilat banget. Sesampainya di ruang terapi, Ubii sempat rewel sebentar. Eh, begitu kamera dikeluarkan dan rekaman dimulai, Ubii langsung kicep anteng. Sadar kamera? Entahlah. Begitu taping selesai dan kamera disimpan, Ubii langsung rewel lagi. Terapis Ubii nyeletuk, "Wah, Ubii semangatnya kalau ada kamera nih." Eh, benar loh. Begitu Mas Dika mengeluarkan kamera dan berpura-pura merekam Ubii lagi, Ubii langsung ketawa-ketiwi lagi. Yayaya. Lesson learned: Kalau ada agenda yang melibatkan anak kita, boboknya jangan kemalaman supaya paginya nggak keteteran. Kalau perlu, siapkan juga segala macam baju, celana, dan lain-lain yang akan kita dan anak pakai di hari-H. Lumayan. Cukup membantu proses kilat. Hahaha.


Seusai fisioterapi, kami semua beranjak ke rumah saya. Taping dilanjutkan di rumah dengan merekam saya yang sedang online berkomunikasi di Facebook group Rumah Ramah Rubella dan menemani Ubii bermain. Ubii rewel lagi dong. Maklum, malamnya tidur kemalaman tapi paginya dipaksa bangun. Jadi kayaknya Ubii cepet ngantuk siang hari itu. Bersyukurnya, taping sudah selesai. Ubii langsung diboyong sama Adit untuk tidur siang sementara saya mengobrol dengan Mas Dika. Hari itu adalah hari kerja, jadi Adit minta izin untuk kerja di rumah. Trimikisi suamikuh. Terakhir, Mas Dika minta beberapa foto penunjang liputan ini. Kira-kira yang Mas Dika minta adalah foto saya bersama Rumah Ramah Rubella, foto saya bersama Ubii, dan foto bersama buku Letters to Aubrey. Saya langsung kelimpungan. Pasalnya, foto-foto saya bener-bener nyebar. Ada yang di henpon. Ada yang di laptop lama yang sudah almarhumah. Bisa dinyalain cuma kadang-kadang aja, sisanya membandel bobok terus. Dan ada yang di laptop baru, tapi itu pun hanya sedikit karena belum sempat pindahin foto-foto. Di situ, saya merasa rikuh sama Mas Dika. Mas Dika jadi harus menunggu saya buka ketiga gadget itu untuk mengumpulkan foto. Akhirnya, Mas Dika bilang, "Nanti saya save dari Facebook saja ya, Grace." Kelamaan nunggu kali ya? Lesson learned: Kalau sudah tau ada agenda taping atau peliputan apapun, siapkan foto-foto penunjang sebelumnya. Jadi kalau betulan diminta, kita langsung bisa kasih dan nggak perlu ngubek-ngubek sampai keringetan dan membuat reporter menunggu. Ingat itu, Ges!!! *Maaf ya, Mas Dika*

Beberapa teman bilang tayangannya kurang lama, cuma 5 menit. Nggak apa-apa. 5 menit saja sudah membuat saya betul-betul bersyukur. Sudah cukup kok untuk menginfokan bahwa ada loh sebuah komunitas bernama Rumah Ramah Rubella di mana kita bisa belajar sama-sama tentang infeksi TORCH pada ibu hamil. Kaget saya. Setelah ditayangkan, ada 200an request untuk join ke komunitas sederhana ini. Semoga memang bisa bermanfaat dan berbagi bersama. Amin.

Yang membuat saya cukup senang adalah.. di tayangannya juga ditampilkan sekilas mengenai data Congenital Rubella Syndrome di Indonesia menurut WHO.


Tahun 2013 ada berapa? Ada 2456 kasus. Mungkin itu hanya yang tercatat ya. Yang nggak tercatat tentunya juga ada. Nah, inilah target kita bersama. Bagaimana caranya agar jumlah anak yang lahir dengan kebutuhan khusus akibat infeksi Rubella kongenital dapat berkurang. Caranya masih sederhana saja. Gembar-gemborkan terus menerus apa itu Rubella. Apa itu TORCH. Apa dampaknya. Bagaimana mencegahnya. Harapan saya, orang-orang tahu dulu. Kenal dulu apa itu TORCH. Kalau sudah kenal, kemudian memahami dampak dan pencegahannya. Kemudian baru lah take action supaya terhindar dari TORCH. Perlu langkah panjang, itu sudah pasti. Semoga hal kecil dan sederhana yang kami lakukan ini benar-benar ada impact ke depannya. Pemerintah, ayo dong kita buat agenda bersama. Ayo dong buat iklan layanan masyarakat supaya masyarakat lebih melek lagi dengan yang namanya TORCH. Jangan anggap remeh dan sepele karena membesarkan anak dengan kebutuhan khusus adalah perjuangan panjang. Nggak mungkin lulus hanya dalam hitungan hari atau bulan. Ini menjadi harapan kita bersama yah.

By the way, ada nggak ya artis atau public figure yang punya pengalaman dengan infeksi TORCH selama hamil? Kan bisa diajak ikut kampanye tuh, supaya soundingnya makin luas. Kalau ada yang tau, please info yah.

Ada yang mau nonton saya dan Rumah Ramah Rubella di Liputan 6 SCTV? Yuk tonton yuk. Bisa ditonton di SINI yah. Jangan komenin pipi saya tapi. Memang lagi gembrot-gembrotnya. Hufft.

Lesson learned terakhir: Kalau sudah tahu tembem, jangan segala kuncir rambut. Gerai aja rambutnya tapi jangan lupa sisiran dulu. Lumayan ngurangin tembemnya... dikiiittt.



Love love love,



24 comments:

  1. Mami ubi kerenn...truskan perjuangannyavya mak ges untuk trus mengedukasi masyarakat mengenai rubella ini 😊

    Proud of you mami..

    ReplyDelete
  2. Seeneng banget bisa kenal kamu, mak.. Salam cium utk Ubii yaa

    ReplyDelete
  3. Memang inspiratif banget ya Mama Ubii ini.. salam sayang buat Ubii, Mak :)

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah. Ikut senang dengan kemajuan pesat rumah ramah rubella. Btw, aku kmrn ngobrol sm temen dr Sangata, tyt di Kalimantan sono TORCH memang endemik bgt y? Yg kasus kyk ubii banyak. Miris..

    ReplyDelete
  5. Keren mb liputannya.... Kalau di sekitar saya dr sekian torch kasus cmv yg sering saya temui

    ReplyDelete
  6. Suka dengan tips di akhir reportasenya :D btw, setuju banget kalau terkadang ada tangan tak terduga yang membantu kita ;)

    ReplyDelete
  7. Jujur mbak, kalau torch saya sudah tahu karena banyak temen yang mengalami kasus ini. Kalau rubella saya belum ngerti

    ReplyDelete
  8. Selamat mak Grace, semoga makin menginspirasi banyak orang

    ReplyDelete
  9. waaaa congratsss mak.. so inspiring ^^

    ReplyDelete
  10. Proud of you, mommy, ubiiiiiii kiss kiss kiss

    ReplyDelete
  11. Bangga kenal dan dekat dengan dirimu Mak Ges...

    ReplyDelete
  12. saya salut dengan orang-orang yg tabah dan bisa membuat sesuatu yg bisa berguna buat orang banyak

    ReplyDelete
  13. Ciee...masuk TV lagi....

    iya mak kalau ada artis yg mengalami hal yang sam dgnmu, itu cara yang jitu jg tuk kampanye, krn kalo ada artis, biasanya org semangat mau nonton atau melakukannya. Salam buat Ubiii..

    ReplyDelete
  14. Yang namanya semangat kebaikan, pasti selalu ada jalan untuk terus bertebaran. Sukses ya Mak Gesss ^^

    ReplyDelete
  15. Mami Ubi, mau tanya ada rekomendasi dokter untuk cek USG kepala, THT dan Mata untuk bayi ga ya? Kalo gak keberatan boleh info ke nonihalimi25@gmail.com

    Terima kasih, sukses selalu untuk Mbak sekeluarga..

    ReplyDelete
  16. Momy ubi boleh minta No. Wa or call center rumah ramah rubela. T.kasih bantuannya

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...