Friday, February 7, 2014

Surat untuk Stiletto Book

Dear Stilo,

First of all, allow me to say 'HAPPY 3rd BIRTHDAY TO YOU!' Kalau anak-anak yang umurnya 3 tahun biasanya sudah mulai cerewet dan kritis. Itu juga yang aku lihat dari Stilo. Cerewet! (Terutama Mamah Stilo). Kritis. Dan semakin berkembang. Aku memang nggak selalu aktif ngikutin Timeline Stiletto, tapi sejauh ini program Stilo oke punya. Ada acara FreeTalk bareng penulis di Stiletto dan ada juga paket-paket buku diskon berbonus. Yah terakhir ini nih yang bikin pembaca semangit (saking semangatnya jadi semangit). Ya iyalah, siapa sih yang nggak suka diskon, Stilo? Hehehe. Acara FreeTalk juga menarik, in my opinion, karena lewat acara ini pembaca bisa kenal lebih dalam dan lebih dalam lagi lalu jatuh tertidur pada hitungan ketiga dengan si penulis favorit mereka. Ini memfasilitasi kekepoan pembaca tentang proses kreatif penulis juga. So, it's kinda exciting, I'd say.

 Dear Stilo,

Aku pengen cerita deh tentang pengalamanku mengirim naskah ke Stiletto. Stilo masih ingat nggak gimana awalnya? Awas kalau lupa! *getok Mbak Momodewi dan Mbak Tikahzelmania* Ceritain aja yah, biar Stilo nostalgi(l)a. Jadi, awal perkenalanku dengan Stilo itu sebenarnya dari mantan teman sekantorku. Desy. Desy ini pernah me-RT tweet Mbak Tikah dan ditujukan ke aku. Aku ingat banget, saat itu Mbak Tikah lagi ngetweet apakah ada ibu-ibu yang suka nulis di blog. Aku langsung kepoin deh linimasa Mbak Tikah. Ternyata tweets selanjutnya adalah woro-woro tentang kategori Momlit di Stiletto. Hmm, radar imutku langsung tegang. Dalam hati ada suara 'Aku aku aku!'

Lanjutannya bisa ditebak ya, Stilo. Aku memberanikan diri untuk mengirim DM ke Mbak Tikah untuk menanyakan emailnya. Di email, aku menawarkan cerita tentang perjalananku dan putri semata wayangku lalu menanyakan apa kira-kira itu masuk dalam kategori Momlit. Ya keles, kan masih tentang ibu-ibuan juga. Hihihi. Kalau aku flashback ke email-emailku dengan Mbak Tikah, aku suka mikir, "Gila, aku lancang banget dan kepedean yah kayaknya." Aku nggak kenal Mbak Tikah secara personal saat itu. Aku juga belum punya contoh tulisan yang layak ditunjukkan ke Mbak Tikah. In a word or two, muka badak! Di email itu aku cerita kalau aku punya kisah bersama anakku dalam memerangi dampak-dampak virus Rubella yang menjahati putriku. Aku bilang ke Mbak Tikah kalau aku punya keinginan besar untuk menuliskan perjalanan itu karena aku punya misi untuk membuat masyarakat lebih kenal dengan yang namanya TORCH. Aku juga punya harapan kalau misalnya ada ibu-ibu lain di luar sana yang senasib denganku kemudian bisa menemukan aku untuk sharing bersama. That's how it all began. Selanjutnya, Mbak Tikah merespon emailku dengan dua garis positif. So cheer for myself. Yeay!

Dari kontak-kontak sama Mbak Tikahzelmania di Twitter, akhirnya kami ketemu juga. Hua senangnya. Jadi saat itu ceritanya aku main ke rumah Stilo buat menukarkan buku yang beberapa halamannya hilang. Sempet nyasar sih. Err. Dan Mbak Tikah dengan sabarnya jelasin arah-arah via telepon. Terus kami ngobrol sebentar. Usut punya usut, dunia ini nggak luas-luas amat. Ternyata Mbak Tikah itu temannya temanku yang pacarnya juga temannya Mbak Tikah dan juga teman dari suamiku. Halah. Intinya, Mbak Tikah punya teman yang ternyata jadi kakak angkatankyu di kampus. Hahaha. Baru tau juga ternyata Mbak Tikah angkatan 2006. Unyu juga ternyata. Hahaha. Sayang seribu kerinduan sayang, kami nggak sempat foto bareng. Hiks.

Dear Stilo,

Next, ada woro-woro dari Stiletto tentang proyek menulis. Aku pun iseng-iseng ikutan. Yang pertama adalah A Cup of Tea Cinta Buta. Hasilnya.. GAK lolos. Ihik. Padahal aku pede banget waktu ngirim itu ke kamu, Stilo. Siyal. Yang kedua adalah proyek menulis buku non-fiksi tentang panduan bagi mahmud-mahmud. Hasilnya.. GAK lolos..LAGI. Ihik. Padahal aku mikirin outlinenya matang-matang loh, Stilo. Siyal. Ternyata kekecewaaku terobati. Cieileh. Beberapa hari kemudian, ada email darimu yang meminta aku menuliskan lanjutan dari 30 halaman contoh naskah tentang perjalanan anakku. Hore. Aku jadi berharap lagi.

Dear Stilo,

Aku kadang mampir ke rumah mayamu loh. Di situ tertulis kalau penulis yang 30 halaman pertama naskahnya lolos bersedia merampungkan naskahnya dalam jangka waktu sebulan. Waw, ini berat Jendral. Nggak setiap hari aku punya waktu untuk menulis. Maklum, nggak punya PRT sehingga aku harus ready mbabu di rumah. Anakku juga termasuk gadis malam. Doi tidur jam 11 ke atas, cyint. But you know what, Stilo? Kamu friendly sekali dalam menetapkan deadline untukku menyelesaikan naskah. Aku bersyukur sekali, sekaligus rikuh binti pekewuh. Semoga hal ini nggak selalu harus jadi alasan untuk dimaklumi. I'll do a better time management. *mengepalkan tangan dengan jari-jari bantet di udara*

Dear Stilo,

Akhirnya naskahku untuk Stiletto selesai juga. Fiuh. Entah gimana awal mulanya aku bisa janjian sama Bu PimRed untuk menyerahkan naskah jadi. Kayaknya itu gara-gara kami berikhtiar mau ngopi-ngopi cantik deh. Tapi, lucunya, waktu kupdar sama Mamah Stilo kami malah minum Thai Tea. Err. Mamah Stilo semacam aneh. Aku jadi ketularan deh. Hahaha. Ini betulan loh, Stilo. Niatnya aku cuma mau menyerahkan naskahku. Kenyataannya? Rumpi ala wanita berkelas emak-emak rempong. Waks.

Aku dan Mamah Stilo
Kesan pertama kali saat ketemu Mamah Stilo, ya ampyun, mirip sekali sama Angelina Jolie Momo Geisha. Se-poni-poninya mirip amat. Makanya aku juluki Mamah Stilo dengan panggilan Momodewi. Maksa? Biarin. Selanjutnya, aku ngerasa nyaman berdiskusi ngobrol dengan Mamah kamu, Stilo. Dan buatku, itu penting. Aku memang dari dulu kurang bisa kerja sama dengan maksimal sama orang-orang yang aku kurang nyaman. Nggak baik sih ya sebenarnya. harusnya bisa profesional yah. Huhuhu. Lanjut, aku iseng menanyakan kenapa naskahku nggak lolos di A Cup of Tea Cinta Buta. Dengan lugas dan penuh wibawa, Mamah Stilo berkata, "Ceritamu itu kayak lagi asyik sendiri." Oh. Oke. Makasih. Jedier.

Dear Stilo,

Masa penantian itu pun akhirnya datang juga. Aku harap-harap cemas apa naskahku bakalan lolos. Aku mau cerita nih, Stilo. Sebenarnya di masa penantian itu, ada dua orang yang menghubungi aku. Satu, ghostwriter. Satunya lagi, editor salah satu penerbit. Mereka semua mengajak aku untuk nulis buku tentang perjalanan anakku. Secara mereka berdua dari penerbit yang sudah lebih lama makan asam garam dunia perbukuan, mungkin bisa saja yah aku ternodagoda. Tapi, nyatanya ENGGAK. Aku setia padamu, Stilo. Bahahaha. Pret. Tapi, serius, aku lebih prefer kerja bareng sama orang yang bisa bikin aku ngerasa seperti keluarga. Dan, aku merasakan itu di Stiletto. Aku merasakan koneksi itu di antara kita. Apa Stilo juga bisa ngerasain itu? Plis say YES, puhleasee. Aku ngerasa sama Stilo aku nggak perlu jadi orang lain. Aku bisa jujur se ajur-ajur jujur-jujur nya sama Stilo. Aku lebih percaya sama orang yang sudah seperti keluarga untuk aku pasrahi cerita perjalanan hidup anakku. Sebenarnya ada hal lain lagi yang bikin aku merasa nyaman. Jadi, gini, aku tuh semacam detail freak dan planner. Aku suka banget bikin ancang-ancang ke depan mau ngapain dan harus gimana. Termasuk dalam urusan naskah yang aku kirim ke Stilo itu. Jadi tiap ada ide, aku sering menggengges Bu Momodewi. Senangnya, Mamah Stilo itu mau menanggapi ide-ide spontanku dengan asyik. Eh, iya nggak sih? Jangan-jangan aku yang kegeeran. Jangan-jangan dalam hati Mamah Stilo ngerasa tergengges. Amit-amit.

Dear Stilo,

Suatu hari di mana Jogja sedang cerah ceria, seperti suasana hatiku yang unyu, ada satu email dari kamu yang membuat hatiku makin unyu. Kamu bilang kalau naskahku lolos dan berjodoh untuk diterbitkan. Puji Tuhan. Alhamdulillah. Demi apapun, aku bahagia. Thank you, Stiletto for giving me this huge trust and opportunity to share my daughter's story. I'm forever indebted to you, Stilo. I really am. Yuk, Stilo, kita ketemuan lagi buat ngobrol-ngobrol lagi tentang perjodohan ini. :D

Dear Stilo,

Mau sekalian ngewes tentang buku-buku Stiletto ah. Boleh ya, Stilo? Harus boleh. Hahaha. Aku sudah punya 9 buku terbitanmu, Stilo. Memang sih belum semuanya selesai aku baca. Saat ini aku masih membaca Dunia Trisa. Eh, terus aku happy nih, Stilo. Kemarin aku beli paket Chicklit Stilo dengan harga sangat bersahabat. Ternyata, masih dapat bonus note, bookmarks, dan stickers. Hore. Mataku selalu jereng sama yang namanya.. BONUS! Usul dong, lain kali coba bonusnya gadget, paket wisata, atau mobil barangkali?

Buku-buku Stilo yang aku punya
Chicklit Stilo cocok menemani leyeh-leyeh sambil mawangin anakku

Langsung dong, stikernya aku tempelkan ke pintu kamar kerjaku. Halah, gaya banget kamar kerja. Kamar ini super duper berantakan. Ini adalah tempatku menulis dan membuat orderan headbands untuk online shop Potatopo Baby. Jangan ilfil ya, Stilo. Hahaha.

Stikernya sudah tememplek di pintu kamar kerjaku
Badalah! Kamar kerja yang awesome, bukan? -_-

Dear Stilo,

Kayaknya aku ngomong panjang lebar banget yah. So far sudah 1201 kata. Bah! Melenceng jauh dari 600 kata. Err. Biarin ah. By writing this love letter to you, I'm not after any of the prizes. Pengen ikutan meramaikan aja dan pengen mengapresiasi hubunganku dan Stiletto selama ini. Hahaha. Itu gombal.

Di ulang tahun Stiletto yang ketiga ini, I want to say that you've been doing a great job so far. Semoga Stilo semakin sukses dan eksis di dunia perbukuan Indonesia Raya ini. Blah! Dulu aku pernah lihat Stilo punya kultwit tentang EYD. Masih ada nggak sih? Dirutinkan aja, Stilo. Aku suka banget baca-baca itu kalau pas ngeliat di Timeline. Bagus banget itu buat menambah ilmu para penulis, calon penulis, dan pembaca. Terus, jangan lupa lebih teliti lagi dalam spelling dan grammar kata-kata berbahasa Inggris ya, Stilo. Walau itu cuma minor mistakes, tapi lebih bagus lagi kalau ditiadakan, kan? Hihi. Maaf ya kadang aku terlalu polisi grammar. Tampar aku, tampar!

Happy 3rd Birthday, Stiletto, my family. Keep up the fabulous work. Love ya.

Kado kecil untuk Stiletto

Tulisan ini diposting olehku, Grace Melia Kristanto (gracie.pixy@gmail.com) dalam rangka ikut memeriahkan Writing Contest: Surat untuk Stiletto Book



6 comments:

  1. namanya unik ya mbk,stiletto.....wuih,demen banget sma kamar bawah sendiri xixixixixixi....*kaburrrr*

    ReplyDelete
  2. koleksinyaaa banyaaak, pinjeeeem ...eh :D

    ReplyDelete
  3. wah keren mak, banyak koleksinya semoga menang ya mak

    ReplyDelete
  4. @Mak Hanna: Jiahahaha, bikin ilfil banget ya, Mak? :p

    @Mak Fenny: Boleh, yuk Mak pinjem-pinjeman buku kitah :D

    @Mak Dame: Hihihi, iya Maks *malu-malu gajah*

    @Mak Susan: Tengkyu, Mak Susan :**

    ReplyDelete
  5. wow, koleksinyaaa... Semangat baca Mak :)

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...