Friday, February 28, 2014

Peserta GA Ide untuk Rumah Ramah Rubella


Tadaaaa, akhirnya hari ini tanggal 28, which is hari terakhir untuk mengikuti Giveaway sederhana yang saya adakan tentang ide-ide yang bermanfaat untuk mengembangkan Rumah Ramah Rubella. Ada beberapa teman blogger yang, saya tahu, sedang sibuk tapi masih menyempatkan untuk berpartisipasi. Untuk itu, saya pingin sekali bilang thank you very very much. Your ideas are much appreciated.

Awalnya tim juri saya ambil dari pengurus, berjumlah 3 orang termasuk saya. Tapi karena ada penambahan jumlah pengurus, maka tim juri bertambah dari 3 orang menjadi 5 orang. Jadi nanti masing-masing akan memilih ide dari teman blogger sehingga terkumpul 5 ide. Berarti, sistem pemenang dengan undian akan dihapus ya. Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan. Karena 2 pemenang undian akan ditiadakan sehingga pemenang pilihan juri akan berjumlah 5 orang, maka semua teman dengan ide terpilih akan mendapat hadiah yang sama, yaitu: 1 buah antologi Mereka Bicara Fakta, pulsa @25.000, dan @3 pcs bros jilbab.

Tuesday, February 25, 2014

Suvenir Lucu dan Catchy: Bingkai Ketjil [Ads]

Pernah nggak sih dikasih barang sama teman, misalnya mug, hiasan meja, atau bingkai ketjil buat memajang foto, terus barangnya kita biarkan teronggok di tempat berdebu (malah justru keliatan kayak rongsokan saking dahsyatnya si debu), terus ke-gap sama teman yang ngasih barang itu? Saya pernah. Rasanya campur aduk, antara malu, menyesal, rikuh, guilty, dan terutama pertanyaan kenapa dia harus datang di saat yang nggak tepat. Hahaha.

Teman saya itu, sebut saja Mawar, adalah teman kuliah saya yang tahun lalu menikah. Sebagai teman yang suka memanfaatkan kesempatan makan gratis baik, tentu saya datang. Seperti biasa, ada souvenir untuk para pengunjung di acara nikahan Mawar. Souvenir yang ia berikan adalah cangkir mini. Jujur saja, menurut saya cangkir mini itu nggak punya fungsi yang berarti (at least untuk saya di rumah). Mau untuk cangkir minum, ukurannya mini banget boo. Saya dan suami tipe orang yang malas kalau harus mengisi air ke gelas atau cangkir berulang-ulang. Jadi yang kami pakai untuk minum selalu cangkir atau gelas yang cukup besar, pas untuk porsi air sekali minum sampai puas ukuran kami. Mau untuk tempat permen, paling-paling cuma muat 5 permen, sekali lagi karena terlalu mini. Mau untuk tempat lilin, kebetulan saya lebih pilih emergency lamp saat lampu mati karena lebih terang dan lebih aman. Untuk apa dong?

Sebenarnya, cangkir mini suvenir nikahan Mawar bukan satu-satunya souvenir nikahan yang teronggok nggak berdaya di rumah. Masih banyak tuh. Ada handuk kecil (yang kainnya gampang brodol jadi nggak afdol juga dipakai), bingkai ketjil (nggak terpakai karena saya malas mencetak foto), gunting kuku (nggak kepakai juga karena saya sudah punya gunting kuku kesayangan sejak kuliah), kipas (Jogja nggak sepanas itu sampai harus kipas-kipas sehari-hari), satu set alat meni pedi, pencabut bulu ketiak, dan pemithes jerawat (nggak terpakai juga, ketiak saya puji Tuhan nggak ditumbuhi rambut sama sekali, beneran nih, boleh dicek, hihi), dan masih banyak lagi souvenir nikahan menggelepar dengan mengenaskan. Tapi kebanyakan sih kalau nggak kipas, gunting kuku, ya cangkir.

Setuju nggak kalau saya bilang, 'Inilah saatnya ada inovasi baru di dunia per-souvenir-an nikahan'? Setuju dong ya. Ya iya lah, masa ya iya dong? Mulan aja Jamilah bukan Jamidong. Why did I say so? Of course, biar nggak mubazir! Saya coba memposisikan diri saya (tsah bahasanye) sebagai Mawar. Rasa kecewa nya kayak apa lihat souvenir salah satu momen terpenting dalam hidup cuma ditumpuk bersama barang rongsokan lain, diselimuti debu, sarang laba-laba, dan pasti kegalauan membabi buta. Tapi, gimana souvenir nikahan kita mau disimpen kalau memang kurang berfaedah gitu kan?

Alternatif buat souvenir nikahan yang menurut saya tokcer adalah Photobooth. Udah pada familiar kan? Itu loh, jadi pengantin menyediakan area untuk foto-foto buat para pengunjung resepsi mereka. Fasilitas ini lengkap dengan fotografer dan property lucu-lucu kayak saya untuk menambah keseruan bernarsis ria di depan kamera. Fotonya langsung dicetak dan bisa dibawa pulang pengunjung. Terus di mana letak unsur souvenir nya? Nah biasanya, foto yang dicetak itu sudah tercetak di template yang dibuat khusus sehingga bakal ada tulisan siapa pengantinnya dan tanggal berapa mereka menikah. Ada juga yang menyertakan  backdrop khusus sebagai latar dengan menampilkan foto si pengantin yang berbahagia segede gaban (yang gede fotonya, bukan pengantinnya). Lebih afdol kan yak? Biasanya sih souvenir berupa foto-foto diri sendiri ini malah lebih disimpan daripada kipas, gunting kuku, gelas, dan kawan-kawannya. Selain karena kita suka narsis, juga karena fotonya seru berkat property yang lucu-lucu.

Di Jogja sih kayaknya belum terlalu booming usaha Photobooth sebagai souvenir event begini. Terhitung dari 1012 6 kondangan yang saya jarah makanannya tahun lalu, cuma ada 1 pasangan yang memanfaatkan jasa Photobooth sebagai souvenir. Jadi, yang di Jogja kalau mau mengkomersilkan hobi menjepret, boleh tuh ide ini dicoba. Prediksi saya: bakal laris manis tanjung kimpul.

Di Jakarta dan sekitarnya, ada tuh cukup banyak jasa Photobooth bersliweran. Salah satunya adalah Bingkai Ketjil. Kebetulan ownernya adalah fans teman saya di komunitas New Mom, Mbak Kunti. Sebelum ngalor-ngidul tentang usaha Photobooth nya, ada baiknya saya memperkenalkan Mbak Kunti karena saya penganut paham tak kenal maka tak sayang.

Apa yang terlintas di benak kalian ketika dengar baca kata Kunti? Pasti LKS dengan warna sampul kuning, merah, ijo, biru yang merampas waktu bermain anak-anak SD di era 90-an. Hahaha. Apa saya doank? Mbak Kunti adalah ibu rumah tangga yang berbahagia dengan anak perempuan yang berkuping caplang bernama Lumi. Kebetulan suami Mbak Kunti, Mas Andi, penggila fotografi. Suami suka jepret-jepret + istri kreatif yang suka bikin property lucu = Lumi dan Bingkai Ketjil Photobooth. Buat saya, jasa atau produk sebagus apa pun nggak akan kinclong tanpa owner yang ramah, menyenangkan, dan informatif. Bingkai Ketjil is a package of good quality pictures, cute and adorable properties, and informative yet fun owners. Dijamin, mau nanya-nanya atau bahkan curhat colongan pasti ditanggapi dengan menyenangkan sama Mbak Kunti (asal doi udah makan, kalau laper doi beringas ngas!).

Ini nih penampakan si empunya Bingkai Ketjil, udah kayak keluarga Cemara belom?

Mas Andi, Lumi, Mbak Kunti
Bingkai Ketjil Photobooth nggak hanya untuk nikahan aja loh. Mereka juga bisa diundang ke acara ulang tahun, office gathering, dan acara-acara lain yang butuh suuvenir catchy. Asalkan di kawasan Jabodetabek, Bingkai Ketjil is ready to add excitement and blast to your events. Ada yang suka diskon? Ngacung! Sstt, event yang berlokasi di area Depok, ada diskon loh soalnya masih tetanggaan dengan Mbak Kunti. Kalau mengadakan acara yang sepertinya bakal didatangi oleh teman-teman hobi narsis, colek aja Bingkai Ketjil. Don't worry, narsis is NOT a crime. Hohoho. Ini nih contoh portfolio foto Bingkai Ketjil Photobooth:

Wedding Annisa & Amri: Keluarga pengantin dilarang ketinggalan narsis
Wedding Yulia & Deni: Sahabat pengantin wajib narsis
Wedding Yulia & Deni: Cocok juga nih mengabadikan kemesraan & kelanggengan Eyang
Wedding Mia & Dikri: Foto keluarga nggak harus ke studio ^^
Birthday Keisha: The birthday girl who loves Justin Bieber
Birthday Keisha: Kompak sama si buah hati ^^
Employee Gathering Indonesia Power: We are cheerful employees! ^^
Birthday Bianca: Si gadis yang berulang tahun bersama Papi dan Mami
Birthday Bianca: Cucok buat foto keluarga kan? ^^

Ada beberapa paket yang bisa dinikmati di Bingkai Ketjil. Bentar yah, dihitung dulu ada berapa paket. *dan waktu pun berjalan* Aha! Ada 6 Paket, yaitu: Paket 100 Lembar, paket 200 Lembar, Paket Unlimited 2 Hours, Paket Unlimited 3 Hours, dan Paket Unlimited 4 Hours. Ke-6 paket tersebut sudah dibarengi dengan:
  • Fotografer
  • 1 Crew
  • Canon Camera Professional
  • Mesin Printer (12 detik/photo print) 
  • Frame Photo / Exclusive Paper Frame by Bingkai Ketjil
  • Studio Lighting
  • Set Backdrop, yang disesuaikan dengan ketersediaan
  • E-Frame Photo atawa Template foto nya
  • Semua foto yang sudah dicompile dalam CD
  • Semua foto yang diupload ke Fan Page Bingkai Ketjil
Mau ngintip contoh frame foto Bingkai Ketjil? Hmm, tunjukin nggak yah *berlagak mikir keras* Oke, karena saya baik, saya tunjukin deh. Tadaaaaa ^_^

Bingkai nya Bingkai Ketjil, langsung bisa dipajang di rumah

Oh iya, tadi saya sebut-sebut property kan yah? Ternyata belum dipamerin foto property-nya. Oops, maaf khilaf. Efek belum makan. Ini nih property Bingkai Ketjil:

Let's pick a prop, guys!
Property yang sudah tertata rapi di event Bingkai Ketjil
Nah itu dia opsi souvenir yang menurut saya pas buat acara-acara selebrasi. Dari segi fun, dapet. Dari segi unik, dapet. Dan, tentunya, supaya suvenir acara teman nggak perlu berakhir mengenaskan seperti punya saya. Jangan sampai deh sudah susah-susah buang rupiah buat prepare suvenir, eh ternyata dibiarkan menggelepar di kardus di pojokan. Kasian suvenirnya, nanti mereka nangis.... *apa sih Grace?!*

Yang pengen kenalan sama Bingkai Ketjil, atau sama Mbak Kunti, atau sama Mas Andy, kontak aja di Fan Page Bingkai Ketjil, atau  0857-1735-0362, atau BBM 75228258, atau boleh juga nih email ke bingkaiketjil@gmail.com. Pesan dari saya: sebelum ngajak ngobrol panjang lebar, pastikan Mbak Kunti sudah makan. Sekian.

Selamat menambah keseruan di momen selebrasi kalian ^^

Sunday, February 23, 2014

Cinta Seorang Ayah

My father gave me the greatest gift anyone could give to another person. He believed in me. - Jim Valvano

Tadi siang saya nggak sengaja nonton acara gosip yang makin digosok makin sip sambil menyuapi Ubii. Hehehe. Maaf, khilaf. Pas sekali berita yang saya tonton adalah tentang Ayah Angelina Sondakh, Luki Sondakh, yang mengunjungi putrinya di tahanan. Tentu kita masih ingat dong mengapa Angie berakhir jadi pesakitan di bui. Yes, seperti masalah Indonesia yang sudah-sudah, ko-rup-si. Si Angie korupsi apa dan gimana, saya kurang tahu jelas sih. Memang jarang ngikutin berita. Hehehe. Tapi, yang tadi saya dengar di acara gosip, pokoknya Angie dihukum 12 tahun masa tahanan. Feel sorry for you, Angie. Okay, back to Angie's daddy. Biasa lah, kalau jenguk sanak keluarga yang artis, pasti ikut diwawancarai. Itu juga yang tadi saya tonton. Ayah Angie diwawancarai sama wartawan. Pertanyaan pastinya gimana, saya rada lupa. Yang jelas ya terkait dengan gimana perasaan Ayah Angie.

Dan, jawaban Ayah Angie, membuat hati saya mencelos. Terharu banget denger jawaban beliau. Mewek se-mewek-mewek-nya deh. Kurang lebih begini jawaban beliau:

Ya, mau jenguk anak saya. Pokoknya kewajiban saya sebagai Ayah ya terus mendampingi Angie dan tentu mendoakannya sesuai dengan iman Kristiani saya. Itu sudah kewajiban saya untuk terus ada di sampingnya.

Jedier. Jlebh sekali, bukan? Betapa berjiwa besar Ayah Angie itu. Beliau tetap segitu sayangnya sama Angie meanwhile, as we all know, what she did was terribly wrong. She took what wasn't hers to take and that was evil. Tapi Ayah Angie tetap menerima Angie, mendampinginya, menjenguknya, dan memperhatikannya sedemikian rupa. Kita juga tahu (dari acara gosip tentunya) kalau Angie berpindah keyakinan menjadi seorang mualaf. Benar, bahwa itu adalah hak asasi Angie. Tapi, tentu biasanya orang tua pasti merasa sedikit kecewa jika anaknya memutuskan untuk melakukan itu, kan? Banyak contoh teman saya yang berpindah keyakinan dan harus rela nggak dianggap bagian dari keluarga lagi karena orang tua mereka nggak bisa legowo. Sumpah! Ayah Angie ini keren bukan main, menurut saya. Ternyata bukan hanya kasih Ibu yang sepanjang jaman. Kasih Ayah pun juga tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Eh, itu lagu! Hahaha.

Nonton statement Ayah Angie tadi bikin saya teringat sama Papa saya. Papa saya kurang lebih begitu. Papa selalu menerima saya apa adanya, baik buruknya saya, salah benarnya saya, dan kurang lebihnya saya. Kasih Papa pada saya sangat amat terasa sekali (sampai harus ditekankan, hihihi) saat saya cerita ke Papa kalau saya berbadan dua. Saya ingat, saya cerita dengan takut-takut, was-was, dan mewek. Saat itu saya siap dengan segala kemungkinan terburuk. Saya rela kalau Papa membenci dan mengusir saya, because I let him down very much. 

Saya ingat saya bercerita ke Papa via YM karena saat itu saya sedang bekerja di Sangatta. Saya mengawali dengan bilang, "Pah, Grace mau cerita, tapi Papa jangan marah ya..." Bodoh sekali ya statement saya. 'Jangan marah ya?' Have you lost your mind? He had absolute right to be upset and piss me off! 

Jawaban Papa nggak akan pernah bisa saya lupakan selamanya. Jawaban Papa yang jadi obat galau saya. Saya jadi yakin saat itu bahwa saya nggak dan nggak akan melewati itu sendirian. Papa bilang sama saya,

Papah malah berterimakasih karena Grace mau cerita sama Papah dan ndak berbuat bodoh sendiri. Papah tu sering mikir buat apa to Papah hidup. Sekarang Papah jadi tau, itu buat nemeni Grace, buat support Grace kayak sekarang ini. Ndak usah malu. Biar aja orang bilang apa. Kalo kita ndak munafik, sebenernya kita tau hal kayak gini bisa terjadi ke sapa aja. Berdoa terus ya, sayangku. 

Sampai pada akhirnya saya cerita kalau pria itu berbeda keyakinan dan suku dengan saya, Papa pun nggak berhenti menyatakan dukungannya, tanpa menghakimi. Papa selalu menegaskan kita semua, entah itu agama A, suku B, ras C, dan bla-bla-bla lainnya, adalah SAMA di mata Tuhan.

Wis kamu tenang wae Grace. Tapi memang itu belum lazim di sini, jadi konsekuensinya kamu harus siap. Ndak boleh cengeng!

Finally when I decided to get married (after the effing bureaucracy), Papa pun tetap mendukung setelah menanyakan kemantapan hati saya.

Ndak ada kewajiban nikah kalo cuma karena kamu hamil. Papah ndak keberatan kalau kamu milih ndak nikah dan tinggal di rumah. Tapi kalo memang Grace mantap, yawis, Papah dukung. Kamu dah mantep?

So yeah, here I am, raising my girl in a relationship people call marriage. Am I happy right now? Yes, because I did the right thing. Is it difficult? Yes, because both I and my husband have this huge ego to conquer together. Will I keep trying to make it better? Yes, absolutely. Do I regret anything? No, because I know God's plans for me will always be perfect in His time.

Sebenarnya jauh sebelum peristiwa itu, Papa sudah selalu menunjukkan dukungannya. Termasuk saat saya membuat tato di beberapa bagian tubuh saya, memilih kuliah di luar kota, memilih teman dekat, dan semuanya. Papa selalu memberi kebebasan, dengan pesan untuk selalu berani mempertanggungjawabkan semuanya, dengan pesan bahwa apa yang saya lakukan itu dari hati (bukan sekedar ikut-ikutan).

Kalau ditanya apa arti Papa buat saya, maka Papa adalah role model saya. Lewat Papa saya banyak belajar nilai-nilai kebebasan yang bertanggung jawab, perbedaan yang harus dihargai, dan mewujudkan apa yang saya yakini benar walau itu ditentang pihak ini dan itu. Papa juga selalu membuat saya belajar untuk nggak membiarkan cibiran atau cemoohan orang mengecilkan saya. Biarkan orang mau bicara apa tentang kita, itu hak mereka. Why bother? Kita toh nggak mati dengan dimongin yang enggak-enggak kan. When everyone else looks down on me, it's my daddy, who always believes in me. He always sees what anyone can't see in me. And, I will be forever indebted to him for he has taught me to be I am that I am today.

Tuh kan, jadi mewek beneran deh saya. Hikshiks *kemudian bengek* Benar yah, tak hanya kasih seorang ibu yang sedalam samudra *tsaahh*

Apa ceritamu bersama Ayah/Bapak/Papa/Papi/Abah/Abi-mu? Sudahkah kita bilang I love you, dad hari ini? Saya sudah! ^^

Credit

Monday, February 17, 2014

Pilihan MP-ASI Sehat untuk Sarapan Putri Specialku

Never work before breakfast, if you have to work before breakfast, EAT breakfast FIRST - Josh Blings

Sebuah quote dari Josh Blings yang saya yakini benar, bahwa sarapan itu penting. Tak hanya penting, sarapan itu mutlak.

Saya adalah seorang ibu dengan putri berkebutuhan khusus akibat Congenital Rubella Syndrome. Akibar sindrom Rubella kongenital, putri saya mengalami keterlambatan motorik. Kemampuan motoriknya masih seperti anak enam bulan. Ia baru bisa tengkurap. Saat ini ia baru belajar duduk, padahal ia hampir berumur dua tahun. Untuk mengejar ketinggalan motoriknya, putri saya harus mengikuti sesi fisioterapi tiga kali dalam seminggu, masing-masing selama satu jam. Fisioterapi bersama terapis hanyalah kesempatan untuk mempelajari gerakan-gerakan latihan yang harus saya berikan pada putri saya sehari-hari di rumah. Ya, orang tua adalah terapis utama anak-anaknya. Saya melatihnya untuk duduk dengan memberi sedikit tarikan pada tangannya saat ia berada dalam posisi tidur, saya mendudukkannya di tampah berisi beras yang saya warnai supaya ia berlatih menggenggam untuk memperkuat motorik halusnya, dan masih banyak lagi. Bagi kita, tampaknya itu sepele. Apa sih susahnya menggenggam beras? Di mana sih letak kesulitan untuk duduk? Tidak bagi putri saya. Hal-hal tersebut tak semudah membalikkan telapak tangan. Dan sangat jelas bahwa latihan-latihan tersebut menguras energinya. Sering kali ia terlihat ngos-ngosan bahkan berkeringat di sesi latihan. Jika sudah begitu, serta-merta saya stop dulu latihannya dan mengajaknya beristirahat. Pernah saya tetap melanjutkan sesi latihan karena saya terburu nafsu ingin segera melihat putri kecil saya bisa duduk sendiri. Hasilnya? Berat badannya tidak naik dengan signifikan, cenderung stuck.

Latihan menggenggam dengan beras berwarna
Jika sudah begitu, saya langsung merasa ciut. Saya bukan tipe ibu pengejar berat badan anak gila-gilaan. Tapi faktanya, saya memang masih perlu mengejar berat badan putri saya. Bagaimana tidak? Putri saya masih 8,5 kg saja padahal umurnya hampir dua tahun. Lalu bagaimana? Ternyata jawabannya adalah dengan memberinya sarapan sehat sebelum berkegiatan.

Sesuai dengan UU Kesehatan No 36 Tahun 2009 Pasal 128 Ayat 1 yang berbunyi, "Yang dimaksudkan dengan 'pemberian air susu ibu eksklusif' adalah pemberian hanya air susu ibu selama 6 bulan, dan dapat terus dilanjutkan sampai dengan 2 (dua) tahun dengan memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sebagai makanan tambahan sesuai dengan kebutuhan bayi," saya segera memberikan makanan untuk putri saya begitu umurnya menginjak enam bulan. Sejak umur enam bulan, sarapannya tidak lagi ASI, melainkan homemade MP-ASI. Sebenarnya saya dianjurkan untuk memberikan makanan instan yang katanya dapat menambah berat badan. Tapi saya tetap keukeuh memilih homemade food. Analoginya sama seperti jika saya makan mie instan setiap hari. Enak dan gurih, tapi apa sehat?

Homemade MP-ASI
Ada beberapa aliran MP-ASI, di antaranya: aliran WHO, food combining, dan baby led weaning. Saya memilih aliran WHO, yaitu mendahulukan serealia karena tingkat alerginya paling rendah. Jadilah saya memberikan puree beras merah yang diencerkan dengan ASI perah (ASIP) sebagai menu pertamanya selama empat hari. Mengapa empat hari? Karena saya harus memantau apa makanan yang ia konsumsi menimbulkan reaksi alergi (walau sangat jarang ada kasus alergi serealia). Menu selanjutnya adalah puree beras putih dengan ASIP. Selama delapan hari, MP-ASI yang saya berikan hanya di pagi hari, yaitu untuk sarapan. Itu pun dengan tekstur yang amat encer. Baru di hari ke-sembilan, saya memberinya dua kali makan. Semua menu sarapan putri saya selalu saya catat agar jika terjadi reaksi alergi, saya tak perlu susah menebak apa yang menjadi alergennya.

Jadwal MP-ASI dua bulan pertama
Masa awal MP-ASI tak terasa berlalu. Saya mulai memberikan menu yang lebih variatif. Saya memberikannya buah yang dilumat supaya lunak (kebetutulan motorik oral putri saya juga kurang baik). Saya bersyukur anak saya menggemari buah karena banyak vitamin yang terkandung di dalamnya. Kemudian saya juga memberikan red meat, ikan salmon, sayuran, tahu, tempe, dan telur ayam kampung yang baik untuk menghasilkan zat besi dan protein. Untuk karbohidrat biasanya bervariasi antara nasi, kentang, dan jagung. Belakangan ini menu favorit anak saya bertambah, yaitu oatmeal yang dicampur dengan plain yoghurt. Oatmeal yang mengandung karbohidrat baik dalam rangka mengejar ketinggalan berat badannya dan yoghurt baik untuk pencernaannya.

Puree apokat
Puree apel
Plain yoghurt + oatmeal
Sup ikan salmon
Bubur kacang hijau
Nasi merah + bayam merah + kabocha + daging sapi

Saya juga mengusahakan agar anak saya tak menjadi picky eater dengan cara memberikan MP-ASI tanpa tambahan gula dan garam sebelum ia berumur satu tahun untuk mengenalkan rasa alami. Itu juga karena kerja ginjalnya belum siap untun konsumsi gula dan garam. Baru saat ia berumur satu tahun saya mulai menambah gula dan garam, tanpa micin. Sebelumnya, saya menambah bahan alami seperti bawang putih, bawang bombai, serai, daun salam, dan kunyit untuk menambah rasa.

Tempe + daging + kembang kol diungkep dengan kunyit + serai + daun salam
Kini saya selalu memberikan MP-ASI sehat sebagai sarapan untuk anak saya. Menu andalan saya untuk sarapan sehatnya adalah nasi dengan sup daging sapi, brokoli, wortel, dan kentang. Dobel karbohidrat untuk booster berat badan dan tenaganya sebelum latihan fisik. Tak lupa saya memberikan jus jeruk atau tomat sebagai pelengkap jika sarapannya mengandung red meat karena vitamin C di buah tersebut sangat berperan dalam penyerapan zat besi.

Jus jeruk
Jus jeruk
Jus tomat
Setelah rutin mengonsumsi sarapan sehat tiap pagi, anak saya terlihat lebih bertenaga saat latihan motorik. Ia tak lagi cepat kecapaian. Malah kadang saya yang capai duluan. Sekarang anak saya sudah mulai bisa bertepuk tangan dan menahan posisi duduk lebih lama berkat MP-ASI sehat sebagai sarapannya yang memberikan ia energi untuk latihan. Belakangan ini anak saya juga sudah mulai bisa makan nasi tanpa harus saya lunakkan. Kemajuan-kemajuan yang cukup signifikan ini baru terasa setelah saya mengawali aktivitasnya dengan sarapan. Jujur saja, dulu kadang saya malas membuat MP-ASI untuk sarapannya. Jadi saya baru menyuapinya di siang hari. Saya juga bersyukur saya bersikeras memakai bahan alami tanpa pemanis dan micin sehingga ginjalnya sehat. Itu dibuktikan dengan cek fungsi ginjal tiga bulan silam. Saya yakin anak saya bisa mengejar ketinggalannya dan menjadi generasi bangsa yang sehat dan cerdas selama saya memberikan sarapan sehat setiap pagi. Salam semangat! Salam sarapan sehat! :)

Generasi sehat & cerdas berkat sarapan



Love,






Sunday, February 16, 2014

Suka(SAMA)Suka

Belakangan ini, tepatnya setelah punya Ubii, saya getol nulis tentang parenting, TORCH, dan Rumah Ramah Rubella. Jadi amnesia kelas berat kalau dulu saya suka menulis fiksi (nggak jelas itu cerpen, puisi, atau apa, err). Mendadak kangen nulis begituan. Sekarang sudah hampir nggak bisa nulis yang kayak gitu. Mari kita mulai lagii. Trekdungjes!

Ini tulisan saya dulu, kali aja ada yang mau baca-baca tulisan saya waktu masih single and happy and free and crazy and silly and lain-lain. Hahaha.

***

Rabu, 26 Mei 2011, di situ

Kami duduk. Menunggu dilayani. Menunggu menu diberi. Menunggu untuk memesan kopi. Dan seorang pelayan datang. Wajahnya bersinar. Wajahnya rupawan.  Saya tercengang. Pelayan itu menyodorkan menu. Saya hanya diam membisu. Bingung, antara ingin memesan kopi atau si pelayan itu.

Tersadar oleh colekan kawan, saya pun segera mengambil menu. Memesan kopi. Walau dalam hati saya ingin memesan pelayan itu.

Pelayan itu lalu pergi. Membuat kopi. Saya duduk menanti. Menanti kopi.. dan pelayan itu untuk menyuguhkan kopi. Dan semoga senyum manisnya sekali lagi.

Akhirnya ia datang lagi dengan membawa kopi kami. Akhirnya ia datang membawa alasan mengapa saya harus dagdigdug tak karuan.

Saya tersenyum, berusaha supaya ia punya alasan untu tersenyum. Dan ia pun tersenyum. Manis sekali. Saya makin kalang kabut. Hati ini makin ribut. Saya pun serta merta yakin bahwa saya akan punya alasan untuk kembali ke sini lagi dan lagi esok hari.

Sahabat mengajak berbincang. Sahabat menyodorkan topik menarik untuk diperbincangkan. Ah, mau perbincangan macam apa? Saya kehabisan kata dan energi untuk sebuah perbincangan. Semua indera saya terpusat pada si pelayan itu. Saya tak ingin berbincang. Saya tak mau ada perbincangan di sela minum kopi. Saya hanya mau menikmati. Menikmati bayangan si pelayan itu sibuk ke sana dan ke mari. Menikmati sosok si pelayan saat membawa buku menu untuk pengunjung lain yang mau minum kopi. Menikmati setiap gerak yang dilenggangkan si pelayan kedai kopi ini.

Pengunjung lain berdatangan. Si pelayan mondar-mandir menawarkan menu. Ah semoga ia tak menawarkan dirinya. Karena jika ia sampai membuka harga atas dirinya, saya yang akan dan harus jadi pembelinya. Syukurlah. Tampaknya ia tak menawarkan yang lain selain kopi.

Sudah jam dua-belasan. Sahabat sudah letih dan minta pulang. Saya tak mau pulang. Saya ingin menunggu si pelayan keluar. Saya ingin ada perbincangan dengan si pelayan, walau sebentar. Akhirnya! Ia datang, membawa bill dan.. dirinya.. dan senyumnya.. dan sorot matanya. Saya terpana untuk yang kesekian kalinya. Berharap bahwa diri, senyum, dan matanya mampu menjadi hak milik saya sepenuhnya.

Akhirnya perbincangan kecil dimulai. Saya yang mulai. Saya mau tanya siapa namanya. Itu saja. Saya ingin terlihat sedikit menahan diri di pertemuan kali pertama. Dan si pelayan pun menjawab tanya saya, sekaligus mengejutkan saya. Membuat remuk hati dan logika saya.

Ternyata, ia perempuan! Sama seperti saya.

Dan, oh, namanya Debby.

***

Sebenarnya ini sudah pernah saya published di blog ini. Tapi barusan saya perbaiki dikit-dikit. Hehehe. Wah, susah ternyata. Bener-bener udah ngawang bikin beginian. Hiks. Nggak kepikiran judul yang lain. Auk deh, sepertinya ini nggak pas judulnya. Yang mau kasih masukan, komentar, atau tutorial bikin fiksi, ayok ayok, saya tunggu yaaa. :D

Credit

Wednesday, February 12, 2014

Surat Ibu pada Anaknya

Kepada: Anakku

Anakku,
Ibu selalu berharap bahwa kamu akan tumbuh menjadi manusia dengan segudang rasa ingin tahu.
Ibu selalu berdoa bahwa kamu akan mempunyai banyak tanya, yang harus kamu tuntaskan jawabannya dalam cara berprosesmu.
Ibu selalu berkeinginan bahwa kamu akan menjadi anak yang manis sekaligus kritis, yang memunculkan pertanyaan baru dalam tiap jawaban yang sudah kamu temu.
Tapi, belakangan ini Ibu sadar bahwa doa Ibumu yang satu itu mungkin akan membuat kamu tahu hal-hal yang terjadi di masa lalu.
Tidak, bukan Ibu malu.
Tidak, bukan Ibu ingin menutupi kisah apapun itu.
Ibu hanya ingin menjaga perasaan orang yang sudah membesarkan Ibu.
Ternyata belakangan ini mereka sudah bisa terbebas dari beban kisah-kisah itu.
Dan Ibu tak mau dianggap sebagai seseorang dengan kisah yang bukan kisah Ibu.
Itu terlalu membebani buat Ibu.
Itu bertentangan dari prinsip Ibu untuk menjadi apa adanya dan berani menghadapi masa lalu.
Sehingga, buat Ibu, tak ada lagi yang perlu Ibu sembunyikan dari kamu.

Anakku,
Jangan terkejut, ketika nanti kamu mendapati dunia di mana kita hidup penuh dengan orang yang selalu memberikan penilaian tentang apa pun itu.
Tentang cara berpakaianmu, prestasimu, cara bersosialisasimu, cara tertawamu, caramu menghabiskan waktu, dan... cerita orang tuamu.
Ibu tahu, itu sama sekali tak adil bagimu, dan pada anak lain selain dirimu.
Tapi, begitulah adanya kehidupan, anakku:
bahwa kamu tak selalu bisa mendapat inginmu,
bahwa sebagian orang mementingkan nama baik Ibu dan Ayahmu (tak peduli seberapa baik dan beprestasinya dirimu),
bahwa hal-hal yang terasa tak mengenakkan, malah akan jadi sesuatu yang menguatkanmu.

Anakku,
Mungkin di perjalanan hidupmu, kamu akan mendengar beberapa komentar iseng tentang bagaimana kamu ada.
Mungkin orang-orang akan menyebut-nyebut kata 'karma'.
Mungkin kamu akan bertanya-tanya kenapa Ibu memilikimu ketika Ibu masih belia.
Mungkin kamu akan dibuat heran kenapa Ibu dan Ayahmu menyebut Tuhan dengan nama yang berbeda.

Anakku,
Sudah menjadi tugas Ibu untuk menjelaskan padamu, saat nanti kamu sudah bisa memahami itu.
Karena cepat atau lambat, kamu juga akan tahu.
Itu hanya masalah waktu.
Satu hal tentang waktu,
Ia bisa bergerak sedemikian cepat tanpa kita sempat tertegun untuk menyadari bahwa ia sudah berlalu.

Anakku,
Ibu sama sekali jauh dari kata sempurna.
Ibu punya banyak kesalahan saat Ibu masih belia.
Ibu melakukan beberapa hal impulsif atas nama gejolak kaula muda.
Tapi, jika Ibu ditanya apakah Ibu menyesali itu semua,
maka jawabannya adalah Ibu tidak menyesalinya.
Karena kesalahan-kesalahan dalam perjalanan hidup Ibu membawa Ibu pada hal termegah di semesta.

Yaitu kamu.

Anakku,
Tentang karma,
Orang berbisik, terang-terangan atau diam-diam, bahwa kondisimu saat ini adalah karma.
Kata mereka, ini hukuman buat Ibu karena memilikimu saat waktunya belum tiba.
Orang mencibir, ini adalah hal yang sangat pantas Ibu dapatkan, yaitu dengan menderita.
Sungguh, Ibu tak apa-apa dicaci dan dimaki seperti apa pun juga.
Betul, Ibu sama sekali tak terpengaruh sampai lantas jadi merenungi nasib tanpa ada habisnya.
Benar, caci maki adalah sesuatu yang Ibu sadari bahwa Ibu layak mendapatkannya.
Tapi, Ibu sedih, jika kondisimu dikaitkan sebagai karma.
Karena buat Ibu, keterbatasanmu adalah cara dari-Nya supaya Ibu belajar lebih dewasa.
Sebab bagi Ibu, keluarbiasaanmu adalah cara dari-Nya supaya kita saling jatuh cinta.

Anakku,
Tentang usia belia,
Itu adalah konsekuensi dari kesalahan yang sudah Ibu lakukan tanpa menimbang sebab dan akibatnya,
Itu adalah pelajaran karena Ibu kurang berhati-hati bergaul dengan makhluk bernama pria,
Itu adalah tanggung jawab yang Ibu harus emban karena Ibu tak mau lari dari keadaan begitu saja.
Memang, ada yang harus Ibu korbankan dalam perjalanan kita.
Tapi tak pernah ada sesal karena justru karena kamu lah Ibu mengerti apa yang Ibu cari sebenarnya.
Mau tak mau, Ibu jadi bersyukur telah membuat kealpaan yang membuatmu diturunkan dari surga.
Tanpa bisa Ibu hindari, Ibu bersyukur untuk memilih melahirkanmu ke dunia.

Anakku,
Mungkin Ibu punya peranan besar dalam keadaanmu yang luar biasa.
Dulu Ibu terus-menerus menangis dan putus asa,
karena Ibu tak tahu harus bagaimana.
Mungkin hati Ibu yang terluka membuat badan Ibu lemah sehingga perjalananmu dalam rahim Ibu menjadi terlunta.
Dulu Ibu kalang kabut karena ada satu hal besar yang menyulitkan Ibu dan Ayahmu untuk bersama,
yaitu agama.

Anakku,
Sekarang kamu mengerti mengapa Ibu dan Ayah menyebut Tuhan dengan nama yang berbeda.
Ibu tak berharap kamu bisa mengerti ini sebagaimanamestinya,
karena Ibu pun masih tak terlalu bisa memahaminya.
Buat Ibu dan Ayah, Tuhan itu Esa.
Buat Ibu dan Ayah, Tuhan itu Maha.
Buat Ibu dan Ayah, Tuhan itu Dia,
apa pun sebutannya.
Buat Ibu dan Ayah, perbedaan cara menyebut nama-Nya selalu bisa disatukan dengan cinta.

Anakku,
Karena kamu hadir dalam perbedaan yang kentara,
Ibu berharap kamu bisa menghargai semua manusia meskipun mereka berasal dari suku, gaya hidup, kasta, dan agama yang berbeda.
Ketahuilah, bahwa kita semua sama di mata-Nya.
Harapan Ibu itu Ibu sematkan dalam namamu pada kata pertama.
Kata pertama namamu berarti penuh belas kasih terhadap sesama.
Semoga kamu dapat mewujudkan harapan Ibu yang satu itu senantiasa.

Anakku,
Ibu berdoa dengan mengatupkan tangan dan memejamkan mata.
Ayah berdoa dengan membungkukkan badan dan membuka mata.
Tapi, doa kami sama.
Semua yang terbaik untukmu sepanjang masa.
Itu lah yang selayaknya kamu ingat dalam jangka waktu yang lama.

Anakku,
Ketika nanti ada yang mengataimu dengan membawa kisah-kisah lama Ibu,
Berbagilah pada Ibumu selalu.
Berhenti tersedu dan yakinilah bahwa kamu jauh lebih kuat daripada itu.
Berhenti menunduk dan percayalah bahwa kamu selalu mampu.
Berhenti berlari dan imanilah bahwa tak ada yang bisa menjatuhkanmu kecuali kamu memberi ijin bagi mereka untuk mengecilkanmu.

Anakku,
Ibu tak mau menjanjikan sesuatu yang muluk untumu.
Ibu tak berani berkata bahwa kamu harus selalu meneladani segala aspek dalam hidup Ibumu.
Namun ada satu hal yang Ibu punya dan Ibu selalu bangga akan hal itu.
Ibu selalu bangun dari sedan dan sedu.
Ibu selalu bangun dari caci dan maki orang-orang yang menghakimi Ibu.
Ibu selalu bangun tak peduli Ibu sudah jatuh berapa kali pun dalam hidup Ibu.
Hanya itulah yang bisa Ibu wariskan padamu.
Kemauan untuk selalu bangkit dari apa yang menjatuhkanmu.

Anakku,
Dengan segala kekurangan dan kelebihan Ibu, Ibu teramat mencintaimu.
Keberadaanmu adalah hal paling berharga dalam hidup Ibu.
Berdoalah semoga Ibu diberi-Nya usia panjang untuk selalu bisa hadir dalam momen penting hidupmu.
Tumbuhlah menjadi gadis yang jauh lebih baik dari Ibu.
Kita sama-sama tahu, kamu mampu.

Ibu

Credit

Saturday, February 8, 2014

Resume Srikandi Blogger 2014

Mengikuti jejak beberapa Emaks Blogger yang menjadi #50FinalisSB2014, saya juga jadi kepengen untuk memposting resume awal yang saya kirimkan saat mendaftar dalam ajang #SB2014. Latah banget yak? Hihihi. Biarin ah. Resume saya sederhana sekali. Kalau dipikir-pikir, amazed juga dengan resume seperti ini bisa lolos menjadi #50FinalisSB2014. I guess I'm lucky. Gimana nggak? Saya pernah mengintip resume Emaks Blogger lainnya. Wuih, keren. Mupeng saya. Banyak prestasi ngeblog atau menulis yang tertuang (air kali dituang?) di sana. So, this is it, my resume for Srikandi Blogger 2014. :D


***

Nama saya Grace Melia Kristanto, biasa dipanggil Ges. Saya lahir di Semarang, 29 Desember 1989, 24 my age. Saya tinggal di Salatiga, kota kecil yang sejuk di Jawa Tengah sampai SMA. Kemudian saya melanjutkan kuliah di Yogyakarta, tepatnya di Universitas Sanata Dharma, fakultas Sastra Inggris. Saya lulus dengan indeks prestasi  kumulatif 3,86 dan itu membuat saya langsung mendapat tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan tambang batu bara besar di Kalimantan Timur. Sedihnya, pekerjaan ini tak bisa lama-lama saya nikmati karena niat saya menunda kehamilan mendapat jawaban lain dari Tuhan. Dengan alasan lingkungan yang kurang sehat untuk saya dan janin yang saya kandung, saya memutuskan kembali ke Yogyakarta dan bekerja di kantor pusat di kota pelajar ini.

Saya masih bekerja sampai beberapa hari sebelum saya melahirkan. Puji Tuhan, saya dikaruniai putri kecil yang cantik. Kami menamainya Aubrey Naiym Kayacinta, atau sehari-hari kami panggil Ubii. Semua berjalan dengan normal sampai Ubii berusia 5 bulan. Pada usianya yang ke 5 bulan 22 hari, saya mendapati Ubii mengidap Congenital Rubella Syndrome yang memyebabkan ia mengalami kebocoran jantung, gangguan pendengaran sangat berat, retardasi psikomotorik, pengapuran otak, dan mikrosefali. Semua harapan dan mimpi saya sirna. Karena tak yakin PRT bisa telaten merawat anak luar biasa seperti Ubii, saya memilih resign. Rasa sedih, kecewa, marah, dan kesepian bercampur menjadi satu.

Syukurlah Tuhan Maha Menguatkan. Tuhan mengirimkan banyak orang untuk menguatkan saya. Masa-masa menyalahkan Tuhan pun segera berlalu. Saya dimampukan-Nya untuk bangkit dan optimis untuk merawat Ubii. Tuhan membuka mata saya bahwa manusia memang boleh berencana tapi Tuhan lah Yang Maha Menentukan. Saya yang selalu tumbuh dengan berbagai rencana, cita-cita, dan ambisi mulai harus belajar untuk berpasrah diri dan menyerahkan segala aspek kehidupan saya pada-Nya. Buat saya, keadaan Ubii adalah cara Tuhan untuk membentuk pribadi saya menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih nrimo.

Tinggal diam di rumah bukan berarti saya tak punya kegiatan dan kesempatan untuk menjalin pertemanan. Setelah resign, saya membuat online shop kecil yang menjual headbands untuk bayi dan balita berangkat dari kegemaran saya membuat headbands untuk Ubii. Saya juga tergabung di beberapa komunitas parenting, yaitu New Mom Community, Jogja Parenting Community, dan Dunia Tak Lagi Sunyi. Komunitas yang terakhir adalah komunitas yang khusus mewadahi para orang tua dengan anak yang memiliki gangguan pendengaran. Saya juga tergabung di komunitas Kumpulan Emak Blogger, di mana saya bisa semakin mengembangkan hobi menulis saya dan belajar banyak dari tulisan emak-emak lainnya.

Kesibukan saya saat ini masih didominasi dengan tetek bengek pengobatan Ubii. Saya membawa Ubii fisioterapi tiga kali seminggu. Di rumah saya melatih kemampuan motorik dan pendengaran Ubii dengan materi-materi yang saya unduh dari websites. Malam hari saya sibukkan dengan menulis untuk blog pribadi saya atau untuk portal parenting. Kadang-kadang saya juga membuat craft. Di akhir pekan, terkadang saya mengikuti seminar-seminar atau menikmati waktu sendiri di rumah. Belakangan ini saya cukup kerap diundang untuk mengisi sesi sharing di seminar-seminar yang mengangkat tema TORCH. Kesempatan itu saya manfaatkan untuk memperkenalkan Rumah Ramah Rubella dan berkenalan dengan banyak teman baru. Kesibukan saya di Rumah Ramah Rubella sendiri masih bersifat online.Saya mengupload video-video latihan Ubii untuk dipelajari oleh orang tua lain. Saya juga menerjemahkan latihan-latihan pendengaran dalam Bahasa Inggris supaya orang tua lain di Rumah Ramah Rubella juga bisa ikut mempraktekan latihan tersebut. Belakangan ini kesibukan saya bertambah satu yaitu menulis buku yang sekarang sudah 95% jadi. Saya berharap buku ini mendapat jalannya untuk akhirnya diterbitkan. Buku ini masih bercerita tentang Ubii. Rasa-rasanya sekarang semua aktivitas saya melibatkan Ubii karena memang Ubii adalah inspirasi dan berkat terbesar dalam hidup saya.

***


Yak, itu lah resume yang dulu saya kirimkan pada panitia #SB2014. Puji Tuhan, saya lolos menjadi #50FinalisSB2014. Tantangan selanjutnya adalah menjual mempromosikan diri di akun sosial pribadi dan di Facebook Group Kumpulan Emak Blogger. Saya juga bakal ngepost jualan diri saya ah. Hehehe. Tantangan lainnya adalah membuat tulisan dengan tema Perempuan dan Internet lalu diposting serentak pada tanggal 30 Januari lalu. Mau baca tulisan saya? Mau dong please. Hihihi. Hobi maksa nih. Harap maklum. Kalau mau baca, monggo dimari yah Internet bagi Perempuan: Yay and Nay.

Enaknya ngepost resume di blog, bisa sekalian ditambahin beberapa foto. Hehehe. Asik. Tambah foto-foto aaahhh. :D

Ini foto anak saya, si singkong Ubii:

Ubii Rapper
Ini foto penampakan headbands bikinan saya:





Ini penampakan crafts yang saya bikin:

Ini apa yah namanya -___-
Ceritanya bikin Mr. Ginger Bread tapi nggak mirip -__-
Christmas craft dari karton tissue gulung
Ceritanya sepatu Ubii ilang 1, jadi 1-nya dibikin ini

Saya juga sedang ngadain Giveaway loh. Sudah tau belum? Sudah? Nggak ikutan? Yah T_____T Ikutan doonnggg *maksa* Belum? Nah kalau belum yuk diintip yuk mari GIVEAWAY: Antologi Mereka Bicara Fakta.

Ini salah satu penampakan hadiah Giveaway nya, antologi Mereka Bicara Fakta yang memuat cerita saya sebagai salah satu cerita terpilih dalam lomba blog Wajah dan Sistem Regulasi Kesehatan Indonesia.


Tentang buku yang 95% sudah jadi itu, puji Tuhan sudah ada kepastian dari penerbit untuk diterbitkan. Hore hore hore *joget dengan nggak anggun* Nantikan buku saya di bulan Mei ya :))

Terakhir, jangan lupa dukung saya untuk jadi the next Indonesian Idol Srikandi Blogger 2014. Caranya gampang: Ketik SB 2014(spasi)(PIN ATM Anda). Niscaya saldo anda akan saya kuras. Hahahaha. LOL.


Friday, February 7, 2014

Surat untuk Stiletto Book

Dear Stilo,

First of all, allow me to say 'HAPPY 3rd BIRTHDAY TO YOU!' Kalau anak-anak yang umurnya 3 tahun biasanya sudah mulai cerewet dan kritis. Itu juga yang aku lihat dari Stilo. Cerewet! (Terutama Mamah Stilo). Kritis. Dan semakin berkembang. Aku memang nggak selalu aktif ngikutin Timeline Stiletto, tapi sejauh ini program Stilo oke punya. Ada acara FreeTalk bareng penulis di Stiletto dan ada juga paket-paket buku diskon berbonus. Yah terakhir ini nih yang bikin pembaca semangit (saking semangatnya jadi semangit). Ya iyalah, siapa sih yang nggak suka diskon, Stilo? Hehehe. Acara FreeTalk juga menarik, in my opinion, karena lewat acara ini pembaca bisa kenal lebih dalam dan lebih dalam lagi lalu jatuh tertidur pada hitungan ketiga dengan si penulis favorit mereka. Ini memfasilitasi kekepoan pembaca tentang proses kreatif penulis juga. So, it's kinda exciting, I'd say.

 Dear Stilo,

Aku pengen cerita deh tentang pengalamanku mengirim naskah ke Stiletto. Stilo masih ingat nggak gimana awalnya? Awas kalau lupa! *getok Mbak Momodewi dan Mbak Tikahzelmania* Ceritain aja yah, biar Stilo nostalgi(l)a. Jadi, awal perkenalanku dengan Stilo itu sebenarnya dari mantan teman sekantorku. Desy. Desy ini pernah me-RT tweet Mbak Tikah dan ditujukan ke aku. Aku ingat banget, saat itu Mbak Tikah lagi ngetweet apakah ada ibu-ibu yang suka nulis di blog. Aku langsung kepoin deh linimasa Mbak Tikah. Ternyata tweets selanjutnya adalah woro-woro tentang kategori Momlit di Stiletto. Hmm, radar imutku langsung tegang. Dalam hati ada suara 'Aku aku aku!'

Lanjutannya bisa ditebak ya, Stilo. Aku memberanikan diri untuk mengirim DM ke Mbak Tikah untuk menanyakan emailnya. Di email, aku menawarkan cerita tentang perjalananku dan putri semata wayangku lalu menanyakan apa kira-kira itu masuk dalam kategori Momlit. Ya keles, kan masih tentang ibu-ibuan juga. Hihihi. Kalau aku flashback ke email-emailku dengan Mbak Tikah, aku suka mikir, "Gila, aku lancang banget dan kepedean yah kayaknya." Aku nggak kenal Mbak Tikah secara personal saat itu. Aku juga belum punya contoh tulisan yang layak ditunjukkan ke Mbak Tikah. In a word or two, muka badak! Di email itu aku cerita kalau aku punya kisah bersama anakku dalam memerangi dampak-dampak virus Rubella yang menjahati putriku. Aku bilang ke Mbak Tikah kalau aku punya keinginan besar untuk menuliskan perjalanan itu karena aku punya misi untuk membuat masyarakat lebih kenal dengan yang namanya TORCH. Aku juga punya harapan kalau misalnya ada ibu-ibu lain di luar sana yang senasib denganku kemudian bisa menemukan aku untuk sharing bersama. That's how it all began. Selanjutnya, Mbak Tikah merespon emailku dengan dua garis positif. So cheer for myself. Yeay!

Dari kontak-kontak sama Mbak Tikahzelmania di Twitter, akhirnya kami ketemu juga. Hua senangnya. Jadi saat itu ceritanya aku main ke rumah Stilo buat menukarkan buku yang beberapa halamannya hilang. Sempet nyasar sih. Err. Dan Mbak Tikah dengan sabarnya jelasin arah-arah via telepon. Terus kami ngobrol sebentar. Usut punya usut, dunia ini nggak luas-luas amat. Ternyata Mbak Tikah itu temannya temanku yang pacarnya juga temannya Mbak Tikah dan juga teman dari suamiku. Halah. Intinya, Mbak Tikah punya teman yang ternyata jadi kakak angkatankyu di kampus. Hahaha. Baru tau juga ternyata Mbak Tikah angkatan 2006. Unyu juga ternyata. Hahaha. Sayang seribu kerinduan sayang, kami nggak sempat foto bareng. Hiks.

Dear Stilo,

Next, ada woro-woro dari Stiletto tentang proyek menulis. Aku pun iseng-iseng ikutan. Yang pertama adalah A Cup of Tea Cinta Buta. Hasilnya.. GAK lolos. Ihik. Padahal aku pede banget waktu ngirim itu ke kamu, Stilo. Siyal. Yang kedua adalah proyek menulis buku non-fiksi tentang panduan bagi mahmud-mahmud. Hasilnya.. GAK lolos..LAGI. Ihik. Padahal aku mikirin outlinenya matang-matang loh, Stilo. Siyal. Ternyata kekecewaaku terobati. Cieileh. Beberapa hari kemudian, ada email darimu yang meminta aku menuliskan lanjutan dari 30 halaman contoh naskah tentang perjalanan anakku. Hore. Aku jadi berharap lagi.

Dear Stilo,

Aku kadang mampir ke rumah mayamu loh. Di situ tertulis kalau penulis yang 30 halaman pertama naskahnya lolos bersedia merampungkan naskahnya dalam jangka waktu sebulan. Waw, ini berat Jendral. Nggak setiap hari aku punya waktu untuk menulis. Maklum, nggak punya PRT sehingga aku harus ready mbabu di rumah. Anakku juga termasuk gadis malam. Doi tidur jam 11 ke atas, cyint. But you know what, Stilo? Kamu friendly sekali dalam menetapkan deadline untukku menyelesaikan naskah. Aku bersyukur sekali, sekaligus rikuh binti pekewuh. Semoga hal ini nggak selalu harus jadi alasan untuk dimaklumi. I'll do a better time management. *mengepalkan tangan dengan jari-jari bantet di udara*

Dear Stilo,

Akhirnya naskahku untuk Stiletto selesai juga. Fiuh. Entah gimana awal mulanya aku bisa janjian sama Bu PimRed untuk menyerahkan naskah jadi. Kayaknya itu gara-gara kami berikhtiar mau ngopi-ngopi cantik deh. Tapi, lucunya, waktu kupdar sama Mamah Stilo kami malah minum Thai Tea. Err. Mamah Stilo semacam aneh. Aku jadi ketularan deh. Hahaha. Ini betulan loh, Stilo. Niatnya aku cuma mau menyerahkan naskahku. Kenyataannya? Rumpi ala wanita berkelas emak-emak rempong. Waks.

Aku dan Mamah Stilo
Kesan pertama kali saat ketemu Mamah Stilo, ya ampyun, mirip sekali sama Angelina Jolie Momo Geisha. Se-poni-poninya mirip amat. Makanya aku juluki Mamah Stilo dengan panggilan Momodewi. Maksa? Biarin. Selanjutnya, aku ngerasa nyaman berdiskusi ngobrol dengan Mamah kamu, Stilo. Dan buatku, itu penting. Aku memang dari dulu kurang bisa kerja sama dengan maksimal sama orang-orang yang aku kurang nyaman. Nggak baik sih ya sebenarnya. harusnya bisa profesional yah. Huhuhu. Lanjut, aku iseng menanyakan kenapa naskahku nggak lolos di A Cup of Tea Cinta Buta. Dengan lugas dan penuh wibawa, Mamah Stilo berkata, "Ceritamu itu kayak lagi asyik sendiri." Oh. Oke. Makasih. Jedier.

Dear Stilo,

Masa penantian itu pun akhirnya datang juga. Aku harap-harap cemas apa naskahku bakalan lolos. Aku mau cerita nih, Stilo. Sebenarnya di masa penantian itu, ada dua orang yang menghubungi aku. Satu, ghostwriter. Satunya lagi, editor salah satu penerbit. Mereka semua mengajak aku untuk nulis buku tentang perjalanan anakku. Secara mereka berdua dari penerbit yang sudah lebih lama makan asam garam dunia perbukuan, mungkin bisa saja yah aku ternodagoda. Tapi, nyatanya ENGGAK. Aku setia padamu, Stilo. Bahahaha. Pret. Tapi, serius, aku lebih prefer kerja bareng sama orang yang bisa bikin aku ngerasa seperti keluarga. Dan, aku merasakan itu di Stiletto. Aku merasakan koneksi itu di antara kita. Apa Stilo juga bisa ngerasain itu? Plis say YES, puhleasee. Aku ngerasa sama Stilo aku nggak perlu jadi orang lain. Aku bisa jujur se ajur-ajur jujur-jujur nya sama Stilo. Aku lebih percaya sama orang yang sudah seperti keluarga untuk aku pasrahi cerita perjalanan hidup anakku. Sebenarnya ada hal lain lagi yang bikin aku merasa nyaman. Jadi, gini, aku tuh semacam detail freak dan planner. Aku suka banget bikin ancang-ancang ke depan mau ngapain dan harus gimana. Termasuk dalam urusan naskah yang aku kirim ke Stilo itu. Jadi tiap ada ide, aku sering menggengges Bu Momodewi. Senangnya, Mamah Stilo itu mau menanggapi ide-ide spontanku dengan asyik. Eh, iya nggak sih? Jangan-jangan aku yang kegeeran. Jangan-jangan dalam hati Mamah Stilo ngerasa tergengges. Amit-amit.

Dear Stilo,

Suatu hari di mana Jogja sedang cerah ceria, seperti suasana hatiku yang unyu, ada satu email dari kamu yang membuat hatiku makin unyu. Kamu bilang kalau naskahku lolos dan berjodoh untuk diterbitkan. Puji Tuhan. Alhamdulillah. Demi apapun, aku bahagia. Thank you, Stiletto for giving me this huge trust and opportunity to share my daughter's story. I'm forever indebted to you, Stilo. I really am. Yuk, Stilo, kita ketemuan lagi buat ngobrol-ngobrol lagi tentang perjodohan ini. :D

Dear Stilo,

Mau sekalian ngewes tentang buku-buku Stiletto ah. Boleh ya, Stilo? Harus boleh. Hahaha. Aku sudah punya 9 buku terbitanmu, Stilo. Memang sih belum semuanya selesai aku baca. Saat ini aku masih membaca Dunia Trisa. Eh, terus aku happy nih, Stilo. Kemarin aku beli paket Chicklit Stilo dengan harga sangat bersahabat. Ternyata, masih dapat bonus note, bookmarks, dan stickers. Hore. Mataku selalu jereng sama yang namanya.. BONUS! Usul dong, lain kali coba bonusnya gadget, paket wisata, atau mobil barangkali?

Buku-buku Stilo yang aku punya
Chicklit Stilo cocok menemani leyeh-leyeh sambil mawangin anakku

Langsung dong, stikernya aku tempelkan ke pintu kamar kerjaku. Halah, gaya banget kamar kerja. Kamar ini super duper berantakan. Ini adalah tempatku menulis dan membuat orderan headbands untuk online shop Potatopo Baby. Jangan ilfil ya, Stilo. Hahaha.

Stikernya sudah tememplek di pintu kamar kerjaku
Badalah! Kamar kerja yang awesome, bukan? -_-

Dear Stilo,

Kayaknya aku ngomong panjang lebar banget yah. So far sudah 1201 kata. Bah! Melenceng jauh dari 600 kata. Err. Biarin ah. By writing this love letter to you, I'm not after any of the prizes. Pengen ikutan meramaikan aja dan pengen mengapresiasi hubunganku dan Stiletto selama ini. Hahaha. Itu gombal.

Di ulang tahun Stiletto yang ketiga ini, I want to say that you've been doing a great job so far. Semoga Stilo semakin sukses dan eksis di dunia perbukuan Indonesia Raya ini. Blah! Dulu aku pernah lihat Stilo punya kultwit tentang EYD. Masih ada nggak sih? Dirutinkan aja, Stilo. Aku suka banget baca-baca itu kalau pas ngeliat di Timeline. Bagus banget itu buat menambah ilmu para penulis, calon penulis, dan pembaca. Terus, jangan lupa lebih teliti lagi dalam spelling dan grammar kata-kata berbahasa Inggris ya, Stilo. Walau itu cuma minor mistakes, tapi lebih bagus lagi kalau ditiadakan, kan? Hihi. Maaf ya kadang aku terlalu polisi grammar. Tampar aku, tampar!

Happy 3rd Birthday, Stiletto, my family. Keep up the fabulous work. Love ya.

Kado kecil untuk Stiletto

Tulisan ini diposting olehku, Grace Melia Kristanto (gracie.pixy@gmail.com) dalam rangka ikut memeriahkan Writing Contest: Surat untuk Stiletto Book