Saturday, May 10, 2014

Pendidikan Seks untuk Anak: Lakukan Sekarang!

Sumber

Hai, kali ini saya pengen cuap-cuap tentang sexual abuse pada anak-anak. Panas hati ini mengikuti kasus siswa JIS yang dilecehkan. Ketambahan panas membaca kasus Emon yang jumlah korbannya mencapai 110 orang (itu yang terakhir saya baca, apa sudah nambah lagi?)

Apa sih definisi sexual abuse? Apa faktanya?


Sumber
Sumber
Sumber

Saya gemas, getir, dan sebal kok baru sekarang sex education digembar-gemborkan?! Okay, I know, better late than never. Mungkin inilah hikmah dari kasus siswa JIS, untuk MEMBUKA mata kita semua bahwa pendidikan sex itu PENTING. Berapa banyak orangtua yang sudah mengajarkan itu pada anaknya? Berapa banyak orangtua yang masih saja merasa risih membahas dan menerangkan hal itu pada anaknya? Berapa banyak orangtua yang merasa bahwa bicara tentang alat vital itu belum waktunya? Belum saatnya? Belum tepat waktunya? Belum perlu? Belum penting? Tabu? Saru? Porno? Berapa?

Sumber

Saya pengen sedikit cerita tentang apa yang saya alami di masa SD. Suatu hari saya dan teman-teman pulang berjalan kaki tanpa ditemani orang dewasa. Ada seorang bapak yang duduk di dekat sekolah saya. Bapak itu berkacamata hitam, memakai topi biru, dan berkumis. Wajahnya pun saya masih ingat sampai sekarang. Ketika kami melewati si bapak, dia mengangkangkan/membuka lebar-lebar kakinya. Ternyata dia sudah merancang celana jeans yang dipakainya sedemikian rupa sehingga ketika ia duduk dengan posisi ngangkang, penisnya akan mencuat dan terekspos dengan sangat amat jelas sekali pakai banget. Kami yang melihat penis itu tentu takut, jijik, dan ngeri sehingga kami lari sekencang mungkin. Memang, kami nggak sampai diraba/disentuh, syukurlah. Tapi, itu tetap saja PELECEHAN pada anak, bukan? Berarti pelecehan pada anak kecil (apa pun bentuknya) sudah ada loh dari dulu (saya anak SD era 90-an). Sudah lama berlalu tapi nyatanya saya masih ingat wajah bapak itu. Kenapa? Saking terpukau nya? Tentu bukan karena itu tapi karena saking TRAUMA nya! Rasa takut, jijik, dan ngeri sangat terasa saat itu. Padahal yang saya alami 'hanya' pelecehan ringan ya. Gimana dengan anak-anak yang sampai diperkosa atau disodomi? Bisa bayangkan trauma mereka seperti apa? Kita tentu tau kan apa yang mereka alami bisa menimbulkan potensi penyimpangan seksual juga?

Sumber

Saya ada cerita lain. Cerita ini saya dengar dari teman saya. Ada seorang anak lelaki kelas 1 SD yang akan disunat. Dibawalah anak itu ke dokter. Eh, kok dokternya malah menyatakan kalau anak itu belum bisa disunat karena ukuran penisnya nggak normal. Menurut dokter, ukuran penis si anak terlalu besar dibandingkan dengan penis anak seusianya. Shockingly, dokter lanjut berkata bahwa ukuran penis anak tersebut bukan besar yang besar secara alami. Entah gimana caranya, dokter menebak kalau ukuran yang melebihi normal itu kemungkinan besar disebabkan oleh BLOW JOB. Yes, BLOW JOB! Apa yang kalian pikirkan? Wuih gilak anak SD udah tau BJ? atau Astagaaaaa, pergaulan anak masa kini ye, cepet amat matengnye! Kalian SALAH. Usut punya usut (kronologinya gimana saya nggak tau), ternyata anak tersebut memang di-blow job oleh... PENGASUHnya! Ya, PENGASUH! Baiklah mungkin ukuran penisnya yang kurang normal bisa diobati. Tapi bagaimana mentalnya? Traumanya? Sedihnya lagi, baby sitter pelaku blow job tersebut hanya dihukum selama 6 bulan. What the hell...! Tapi marilah kita nggak fokus dengan ketidakadilan hukuman di Indonesia pada para pelaku pelecehan seksual. Marilah juga kita nggak menghakimi ibu anak tersebut karena kecolongan oleh orang rumahnya sendiri. Mungkin si ibu sibuk bekerja mencari nafkah, mungkin. Lebih baik kita menitipkan doa semoga anaknya dalam keadaan baik.

Cerita ketiga, bukan cerita saya juga. Lagi-lagi, saya mendapat cerita ini dari kawan saya. Ceritanya adalah tentang anak laki-laki yang disodomi di toilet yang terletak di... MALL. Bayangkan, mall itu tempat ramai. Toilet mall juga masa iya sih sesepi itu? Nyatanya bisa saja itu toilet jadi lokasi pelecehan seksual pada anak. Kelanjutan cerita ini saya nggak tau. Yang jelas, semoga anak itu sudah mendapat pendampingan untuk meringankan traumanya. Amin. Kedua cerita yang saya dengar itu pernah saya tulis dalam sebuah artikel yang dipublikasikan di situs parenting Mommies Daily. Artikelnya bisa dilihat di sini

Kenapa sih masih banyak orangtua yang merasa bahwa pendidikan seks itu tabu? Karena kita hidup di negara yang menjunjung tinggi azas ketimuran? Karena kita hidup di negara yang mengagung-agungkan pendidikan agama? Sekarang lihat kan, nilai baik di pelajaran agama nggak selalu menjadi jaminan bahwa moral juga akan ikut menjadi baik. Ada satu fakta menarik tentang Swedia. Swedia, menurut WIN-Gallup International dalam Global Religiosity and Atheism Index in 2012, memiliki:
  • 29% responden yang menyatakan dirinya relijius.
  • 50% responden yang menyatakan dirinya tidak relijius.
  • 8% responden yang menyatakan dirinya ateis.
  • 12% responden yang tidak tahu bagaimana harus menjawab / tidak memberi jawaban.
Lucunya, negara yang hanya memiliki 29% warga yang relijius itu malah baru-baru ini menutup 4 penjara karena minimnya penghuni. Lucu ya, bandingkan dengan negara kita yang seolah-olah ingin meneriakkan bahwa ini adalah negara yang penduduknya relijius... Apa yang terjadi di negara ini? Lapas  kelebihan kapasitas.. :)) Berita tentang Swedia yang menutup 4 penjara bisa dibaca di sini. Saya bukannya mau nggebyah uyah: negara yang nggak relijius PASTI lebih adem ayem. Nggak gitu, saya bukannya mau bilang begitu. Hanya ingin menunjukkan contoh kecil saja kalau pelajaran agama bukan selalu jadi jawaban untuk membentuk moral yang baik. Warga Indonesia yang beragama kuat dan rajin beribadah lantas moralnya baik, BANYAK. Warga Indonesia yang nggak percaya adanya Tuhan tapi moralnya tetap baik, BANYAK. Warga Indonesia yang mengaku dan terlihat relijius dan rajin beribadah tapi menyakiti dan merugikan orang lain, JUGA BANYAK. Jadi, buat saya, kalau nantinya saya mencari sekolah untuk Ubii, saya nggak akan serta-merta memasukkan Ubii ke sekolah yang pelajaran agamanya intens. Itu memang penting, tapi bukan yang TERpenting buat saya dan suami. Masih banyak pertimbangan lain dalam pemilihan sekolah kelak seperti: letak ruang kelas dan toilet, posisi guru saat jam istirahat, jarak sekolah dari rumah, biaya (pastinya, heuheu), apa ada kegiatan/mata pelajaran untuk mengembangkan bakat dan minat, dan apa siswa lain yang normal diajarkan untuk menghargai anak berkebutuhan khusus seperti Ubii. Dan satu lagi, apakah sekolah tersebut memiliki sex education yang memadai. Zaman boleh makin edan, tapi orangtua lebih edan lagi kalau masih menutup diri dari pendidikan seks. No offense. :))

Sumber

Saking risihnya untuk membahas sex, banyak orangtua yang memakai istilah untuk menyebut alat kelamin anak, misalnya burung, anu, itu, ucok, ucik, dan lain-lain. Sebut saja penis dan vagina, lha wong memang itu namanya. Berikut saya copy paste dari artikel di Mother and Baby:

"Orangtua sering kali memilih tidak menggunakan nama sebenarnya untuk menyebut alat vital. Padahal, penyebutan alat vital sesuai nama aslinya sangat penting dan membantu menghindari kebingungan si kecil. Jika sewaktu-waktu  terjadi masalah pada bagian alat vitalnya, ia pun bisa berkomunikasi dengan jelas kepada Anda atau dokter yang menanganinya. Jadi, sebaiknya Anda tetap mengenalkan organ vital sesuai dengan nama sebenarnya, yaitu penis dan vagina."

(Sumber) - Bisa juga mengenalkan penis dan vagina lewat gambar.
Sex education juga harus age appropriate. Pendidikan seks untuk anak usia 12 tahun tentunya beda dengan pendidikan seks untuk anak usia 5 tahun. Kebetulan saya menemukan artikel yang menurut saya sangat informatif tentang pendidikan seks seperti apa yang harus kita berikan pada anak sesuai dengan usianya. Dalam artikel di Ruang Psikologi tersebut ada pembagian usia yaitu untuk anak 5 tahun, 6-9 tahun, 9-12 tahun, dan 12-14 tahun. Yuk kita belajar dari artikenya, bisa dibaca di sini.

Selain mengenalkan penis dan vagina, penting juga untuk mengajari anak bagaimana harus bereaksi jika anak menerima tindakan/sentuhan yang mengarah ke pelecehan seksual. Saya juga pernah membahas itu dalam tulisan saya di Mommies Daily. Monggo diintip di sini.

Memakai panduan ini juga oke banget:

Sumber
Sumber
Dari Jawa Pos
Sumber
Ada video yang juga bagus banget:



Lega banget akhirnya bisa nulis tentang ini. Maaf kalau ada kata-kata yang nyelekit, nulis sambil emosi. Heuheuheu. Yuk lah kita sebagai orangtua mulai menyadari pentingnya pendidikan seks bagi anak-anak kita. Memang, kita tinggal di negara dengan adat timur, tapi bukan berarti kita harus menutup pintu komunikasi dan informasi tentang hal yang penting pada anak kita kan. Lindungi anak-anak kita dari predator-predator mesum yang nggak pandang usia. Itu tanggung jawab kita yang seharusnya. Semoga anak-anak kita terhindar dari hal-hal menyakitkan semacam ini, ya.

Amin...



Satu fakta lucu lagi: Googling gambar/ilustrasi informatif dan edukatif tentang pendidikan seks dalam Bahasa Indonesia hampir nggak ada. Yang banyak dalam Bahasa Indonesia adalah ilustrasi siluet meratap/pegang jendela/nangis (di mana manfaatnya?) dan cuplikan berita tentang kasus pelecehan seksual pada anak (Whaaattt....). Kebanyakan Bahasa Inggris. Malah, BANYAK banget artikel, gambar, ilustrasi, gerakan, komunitas, buku, dan video tentang pendidikan seks untuk anak atau pelecehan seksual pada anak dalam Bahasa Inggris. Ada careline dari suatu komunitas juga yang menawarkan pendampingan konseling bagi anak yang jadi korban. See? Ketinggalan banget kan kita dalam kampanye melawan child sexual abuse ini? Tabu? Sampai kapan? :)))

Sumber


30 comments:

  1. Postingan yg sangat bermanfaat...MAK Ges..

    ReplyDelete
  2. Makasi, Mak Lies. Kapan main bareng sama Ubii lagi? :D

    ReplyDelete
  3. mampir maak...ulasannya bikin tambah ilmu deh...makasih

    ReplyDelete
  4. makasih mommy ubie,,sangat bermanfaat artikelnya

    ReplyDelete
  5. wah keren artikelnya..bermanfaat n nambah pengetahuan...ya sya sendiri dari ngajarkan fitry 2,8 thn klu kemaluan dia adalah virgin..krn dia masih kecil dia nyebutnya viji...sya jg ajarkan jgn mau dipegang kemaluan dia olh orang lain selain saya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba. Keren keren, sudah mulai ngajarin Fitry di usia dini ya. Perlu dicontoh nih :))

      Delete
  6. trims infonya Mak, sudah mengingatkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Mak. Sebagai sesama ibu, saling mengingatkan ya :)

      Delete
  7. Iya mak, harus sudah sejak dini mestinya....

    ReplyDelete
  8. Mak Ngkong.. kalo emang di google jarang ada 'media lucu' tentang pendidikan seks, kenapa gak kita yang bikin ada? :D *semacam kode*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah sekarang sudah km realisasikan, kan Pung? *wink*

      Delete
  9. penduduk indonesia memang beragama,,,tapi sebahagian yg beragama itu tidak ber-Tuhan...karena mereka suka melakukan hal2 yg dilarang oleh agama...salah satunya ya pedofilia yg terjadi di JIS dan yg dilakukan oleh orang2 sejenis "EMON"..
    dan menurut saya,,salah satu penyebabnya,,adalah kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan sex dini kepada anak2 mereka,,,karena orang tua terlalu sibuk nonton sinetron yg tidak bermutu,,,nonton YKS dan joget selama 4 jam...sehingga anak2 menjadi terlantar dan mencari dunianya sendiri.....sehingga akhirnya mereka terjebak dalam perangkap buas para pedofilia...dan yg lebih menyedihkan hukum tidak berpihak kepada mereka....., coba saja bila hukum bisa memerintahkan agar alat bukti yg dipakai pelaku pedofilia atau sodomi,,,disita untuk negara....,
    keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, Mas Yanto. Salam kenal ya. Terima kasih sudah berkunjung :))

      Delete
  10. Ada video bagus juga tentang pendidikan seks untuk anak, semoga bermanfaat :)

    http://www.youtube.com/watch?v=7WJpdvlBMlE

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, saling melengkapi ya :)

      Delete
  11. aku juga udah mulai dikit2 ngasih tahu ke thifa tentang organ2 yang boleh dan tidak boileh disentuh

    ReplyDelete
  12. Semoga nggak ada lagi kasus pelecahan maupun kekerasan seksual terhadap anak lagi. Ngeri dan prihatin banget.

    ReplyDelete
  13. postingannya top mak ges. kemana aja nih jarang nongol??

    ReplyDelete
  14. kenapa anak-anak yaa korbannya, jadi mengerutkan kening

    ReplyDelete
  15. setuju tentang pendidikan seks itu.
    dan sekarang naeema juga mulai diberi pengertian ttg private area.

    Thanks for share Ge....

    ReplyDelete
  16. Hai Mak Gesi, ini award dariku untukmu :) http://rumahjurnalku.blogspot.com/2014/05/the-liebster-award-dariku-untukmu.html

    ReplyDelete
  17. Ulasannya menarik banget, dan lengkap, dapat dijadikan refrensi nich untuk merencankan pendidikan anak usia dini di PAUD, terimakasih Udah di share, salam kenal.

    ReplyDelete
  18. WOW Keren nie artikernya
    Sambil baca artikel ini, Aku numpang promosi deh !
    Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

    ReplyDelete
  19. makasih banyak mbak. ulasannya sangat jelas, mantap, dan yg pasti membuka mata saya.

    ReplyDelete
  20. Bagus bgt tulisannya mba. Tapi kok bahasan ttg pendidikan seks berdasarkan rentang usia ga ada artikelnya mba. Kmn ya? Terima kasih mba

    ReplyDelete
  21. Bagus banget tulisannya buat membuka mata orang tua maupun keluarga dan kerabat dekat anak tentang perlunya pendidikan seks sejak usia dini. Semoga orang" Indonesia makin aware sama isu ini :)

    ReplyDelete
  22. thanks for sharing mb, salam kenal. Saya juga baru ngalamin kejadian yang bikin saya shock bgt minggu kemarin jadi anak saya (co 5yo) pas lg.main sama anak tetangga (ce 6yo) d samping rumah ternyata celana anak saya lg dplorotin sama anak cew itu dan penisx lg dpegang2 sama tu anak cew. Yang liat adek sya sih, langsung dia lapor ke saya. W

    Wahh saya marah sampai ubun2 pengen rasanya saya samperin tu ortunya, tp sy pendam dan tunda smpai keesokan harinya. Besoknya saya datengin ortunya dan bicarain hal ini, tapiii baru sampai sy blg anaknya pelorotin celana anak sya ortunya udh histeris dan shock jd g sy terusin yg bagian penis anak.sy dpegang2.

    Hiks...ad saran g ya mak, apa harus dbatasin waktu maen sama tu anak soalnya plg dekat main.sama.dia terus. hadehh...anak jaman sekarang kok y dh gt ya

    ReplyDelete

Thank you for giving your comments. Means A LOT to me. If you ask me a question in this comment section, but need answer ASAP, please poke me on my Instagram @grace.melia ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...