Tuesday, December 31, 2013

'Aubrey Tidak Akan Minder' di Media Indonesia

credit
Leganya, saya sudah sampai di rumah dengan selamat setelah menghabiskan libur Natal di kampung halaman, Salatiga tercinta. Bayangan leyeh-leyeh setelah sampai di rumah langsung ambyar begitu melihat dapur. Yes, atap dapur beserta kanopi di atas area jemuran saya ambrol 2 minggu yang lalu. Sudah dibetulkan sih. Tapi piring dan kawan-kawannya belum ditata kembali ke tempatnya. FIUH! Batal deh acara leyeh-leyeh.

Ini nih penampakan atap dapur saya yang ambrol. Anyway, ambrol itu Bahasa Indonesia bukan sih? *misfokus*


Sebelum menata piring dan keroco-keroconya ke rak, saya ingin mengalasi permukaan rak dengan kertas koran. Mulai lah saya mengubek-ubek tumpukan koran bekas. Eh, nggak sengaja nemu harian Media Indonesia yang memuat saya, Ubii, dan suami. I want to remember this thing. Tulis di blog ah. :'))

Cerita tentang saya ini dimuat bersama cerita dua keluarga lain yang juga menjadi narasumber di Kick Andy untuk episode 'Aku Ingin Terus Hidup' yang ditayangkan tanggal 13 September 2013 lalu. Judul cerita keluarga saya adalah 'Aubrey Tidak Akan Minder'


***

PERJUANGAN tak kalah panjang juga dialami Aditya dan Grace Melia. Mereka memiliki seorang putri yang saat dalam kandungan terinfeksi virus rubella atau campak jerman. Aubrey, putri sulung mereka, mengalami gangguan pendengaran, kebocoran jantung, serta kerusakan syaraf otak.

Aubrey lahir pada 19 Mei 2012 melalui proses operasi sesar. Ketika dilahirkan, Aubrey tak menangis layaknya bayi pada umumnya.

Kondisinya sangat lemah sehingga harus dimasukkan ke inkubator. "Jadi harus dicubit dulu sama suster, baru menangis," ujarnya.

Ternyata, Aubrey tertular virus Rubella dari sang ibu. Kata Grace, ketika mengandung, tubuhnya mengalami gejala munculnya bintik-bintik merah di sekujur kulit.

Akibat virus itu, pertumbuhan Aubrey tak normal. Berat badannya kurang, sulit berbicara dan bergerak.

Sejak usia enam bulan, Aubrey menjalani fisioterapi di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada, tiga kali seminggu.

Setelah selama delapan bulan menjalani fisioterapi, Aubrey berangsur membaik. "Sudah bisa bergerak, tengkurap, angkat kepala. Sekarang sudah bisa makan, kalau dulu sulit karena lidahnya sering keluar," kata Grace.

Grace dan Adit tak pernah menyesal memiliki Aubrey. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, bagi mereka, Aubrey adalah anugerah dan berkat Tuhan.

"Meski penyakit ini sulit disembuhkan, Aubrey kami harapkan bisa tumbuh normal, tidak minder. Kami yakin dia bisa karena Aubrey sudah kami persiapkan dari sekarang," ujar Grace. (Pol/M-3)

***

And, yes, Ubii is a miracle from God! :)





Wednesday, December 25, 2013

DIY Christmas Stick Decoration




We wish you a merry Christmas
We wish you a merry Christmas
We wish you a merry Christmas
And a happy New Year

Ah, it's Christmas already! I always love Christmas for its warm atmosphere. Buat saya, ada 2 hal yang identik dengan Natal, yaitu film Home Alone 1 & 2 di RCTI dan Christmas craft. Natal tanpa nonton Home Alone 1 & 2 itu kurang lengkap. Hehehe. I am so crazy about Home Alone, dengan catatan saat pemerannya adalah Macaulay Culkin. Setelah itu, bye-bye! Oke, enough for the Home Alone already. Hal kedua yang membuat Natal saya lengkap adalah prakarya Natal. Yah, memang suka bikin-bikin aja sih sebenernya. Hohoho.

Craft tahun ini sangat mudah. Idenya saya dapat saat googling dengan keyword 'christmas stcik decoration' yang kemudian saya modif dan tambahkan karakternya. Yang saya suka dari craft ini adalah bentuknya yang lucu dan caem. Bahan-bahan yang diperlukan juga mudah dicari. Selain itu, craft ini menurut saya multifungsi. Satu, bisa dijadikan hiasan untuk dipajang di rumah saja. Kedua, bisa juga difungsikan sebagai kartu Natal. Ucapan Natal bisa dituliskan di bagian belakang.

Tuesday, December 24, 2013

Juara II 'Peran Ibu untuk Si Pemimpin Kecil' Nutrisi Untuk Bangsa

Ada yang mengira-ngira nggak mengapa saya bikin post dengan label Menang Lomba ini? Nggak ada ya? Saya geer dong. Hihihi. Jadi saya punya dua alasan mengapa saya ingin menuliskan kenangan-kenangan saat menang lomba ini. Pertama, saya ingin ini menjadi pengingat sekaligus motivasi saya untuk mencapai hal serupa kelak. Kedua, ini terinspirasi dari beberapa Emak Blogger yang sudah punya nama di dunia tulis-menulis. Yah, siapa tau bisa jadi portfolio kecil-kecilan. Hehehe.

Lomba yang kali ini saya menangkan adalah lomba blog yang diselenggarakan oleh Nutrisi Untuk Bangsa dengan tema Peran Ibu untuk Si Pemimpin Kecil. Begitu tau ada lomba ini saya langsung tertarik untuk ikut serta karena saya suka dengan topiknya. Saat menulis saya cukup percaya diri. Begitu melihat tulisan peserta lain, langsung minder karena tulisan-tulisan mereka bagus-bagus. Bahkan ada yang dilengkapi dengan banyak foto penunjang. Saya makin minder karena saya nggak menampilkan foto penunjang cerita. Saya hanya memasang foto saya dengan Ubii. Hahaha.

But, yeay! Ternyata tulisan saya yang berjudul Mulai Dari Diri Sendiri Untuk Kemudian Membentuk Seorang Pemimpin Kecil terpilih menjadi Juara II. Pengen ngintip tulisan saya? Hyuk mari klik judulnya. Hehehe.


Ternyata selain mendapat sejumlah uang, para pemenang juga diberi sertifikat dan gimmick. Wah, saya tambah girang dong pastinya. I love certificate! Uang bisa habis. Tapi sertifikat bisa dipajang. Setiap melihat sertifikat rasanya hati ini senang dan bersyukur. Hore hore hore!

Yang membuat saya lebih girang lagi, ternyata pihak Nutrisi Untuk Bangsa sangat cak-cek dalam proses mentransfer hadiah lomba dan mengirimkan sertifikat serta gimmick nya. Mereka selalu menanggapi email saya dengan cepat. Saat email saya sudah diterima pun mereka juga selalu mengirimkan email konfirmasi sehingga saya nggak perlu khawatir kalau-kalau email saya nyangkut nggak sampai. Hadiahnya juga nggak dipotong pajak pula. Lagi-lagi, kemenangan ini pas sekali timing nya dengan kami yang sedang membutuhkan biaya untuk pengobatan Ubii. CT Scan Ubii dibiayai dari hadiah lomba blog ini. :'))

Ah, pokoknya two thumbs up for Nutrisi Untuk Bangsa deh! :)



Juara I 'Surat Cinta Mama' Lactamil Mamacare


Hari ini tanggal 24 Desember dini hari. Dua hari berselang dari perayaan Hari Ibu. Hari Ibu tahun ini saya rayakan dengan ikut membuat post serentak dengan judul Ibu, Cinta Tanpa Akhir bersama Kumpulan Emak Blogger. Tiba-tiba saya teringat apa yang saya lakukan pada Hari Ibu tahun lalu..

Tahun lalu saya belum bergabung dengan komunitas menulis apa pun. Tapi saya tetap menulis dong. Tahun lalu saya mengikuti lomba menulis surat yang diadakan oleh Lactamil Mama Care. Lomba tersebut dinamai Surat Cinta Mama. Dalam lomba tersebut, kami harus menulis surat untuk anak kami, boleh anak yang sudah lahir ke dunia atau anak yang masih dikandung. Dan tentu saja, saya menulis tentang Ubii.

Ubii masih berusia sekitar enam bulan tahun lalu. Saya baru mendapati bahwa ia mengalami gangguan pendengaran. Ubii belum memakai alat bantu dengar tahun lalu. Pengetahuan saya tentang hearing aids pun masih sangat minim sehingga saya mengira satu-satunya cara Ubii berkomunikasi kelak adalah melalui bahasa isyarat. Dan itu yang saya tulis.

Rasanya itu adalah lomba menulis yang pertama kali saya ikuti. Saya nggak punya harapan untuk menang karena banyak sekali mama yang mengikuti lomba Surat Cinta Mama ini. Apalagi tiap mama diperbolehkan untuk mengirim lebih dari satu surat. Ah ikut aja, iseng-iseng, begitu pikir saya. Pemenang lomba Surat Cinta Mama diumumkan bertepatan dengan Hari Ibu. Saya juga nggak dengan sengaja mantengin linimasa @MamaCareID, because I didn't expect anything.

Saya ingat betul hari itu saya sedang menunggu giliran untuk bertemu dengan dokter spesialis kulit untuk mengkonsultasikan eksema pada pipi Ubii. Antrian yang banyak membuat saya bosan sehingga saya kluthak-kluthik dengan smartphone dan mengamati tweets di linimasa saya. Nggak sengaja saya lihat @MamaCareID sedang mengumumkan pemenang lomba Surat Cinta Mama.

Aaaakkk, saya Juara I! *happy* *kegirangan* *sadar diliatin pasien lain* *duduk manis lagi*


Serius! Saya tuh nggak ngeh kalau hadiahnya adalah Samsung Galaxy Tab 7.0. Waktu itu saya ikut murni iseng, tanpa niat mengejar hadiah. Setelah tau hadiahnya, saya langsung lemes. Senang sekali karena itu akan menjadi tab pertama saya. Langsung saja saya mengirimkan data diri saya pada Lactamil Mamacare.

Setiap hal pasti memiliki pro dan kontra. Itu juga yang saya alami dengan kemenangan ini. Selain ucapan selamat, saya juga mendengar membaca ada seorang mama yang memprotes @MamaCareID karena memenangkan surat saya. Ia bertanya dengan nada pedas mengapa surat yang dimenangkan sebagai Juara I harus dari surat yang menceritakan tentang penyakit anaknya. Ia menganggap saya menjual cerita sedih dan mencari simpati untuk menang. Syukurlah @MamaCareID bisa menanggapi protes tersebut dengan bijaksana. Thank you Lactamil Mamacare! :)

Satu hal lagi yang sempat membuat saya kalang kabut adalah ketidakpastian pengiriman hadiah lomba ini. Saat itu pihak Lactamil nggak memberitahu dengan pasti kapan hadiah akan dikirim. Saking lamanya menunggu, saya sempat berkali-kali bertukar message dengan Juara II Surat Cinta Mama karena ia pun juga kalang kabut mengapa nggak kunjung ada kabar. Syukurlah akhirnya hadiah saya sampai dengan selamat, masih diberi bonus sekotak susu Lactamam pula. Yeay!

Hanya berselang seminggu kemudian, Samsung Galaxy Tab 7.0 hadiah itu saya jual karena sedang membutuhkan biaya untuk pengobatan Ubii. Batal deh memakai gadget baru. Hihihi. But it's fine, really! Saya bersyukur Tuhan mengirimkan rejeki-Nya untuk Ubii melalui Lactamil Mamacare.

Ini tulisan saya yang memenangkan lomba Surat Cinta Mama itu.

Kalau kurang jelas, bisa lihat di sini ya

E-Learning untuk Siswa Tunarungu dan Tunanetra

https://www.facebook.com/indberprestasi
 
Education is the most powerful weapon which you can use to change the world. - Nelson Mandela

Itulah sebuah quotation yang sangat apik dari seorang pria hebat. Saya sangat mengamini kalimat yang menegaskan pentingnya pendidikan tersebut. Dan menurut saya, setiap orang memiliki hak dan kewajibannya sesuai dengan kapasitasnya masing-masing untuk berkontribusi terhadap perubahan dunia, atau minimal dirinya sendiri, ke arah yang lebih baik. Sayangnya tidak semua orang mampu mengenyam pendidikan. But, the good news is, perkembangan zaman menghadirkan pendidikan yang lebih mudah diakses untuk semua orang, yaitu melalui e-learning.

Saya yakin kita sudah akrab dengan e-learning. Ada beberapa definisi dari e-learning yang sebenarnya memiliki poin yang sama. Salah satu definisi e-learning yang cukup dikenal adalah definisi menurut Darin E. Hartley, yaitu "E-learning merupakan sebuah jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet, atau media jaringan komputer lain" (Hartley, 2001).

Tentu sistem e-learning sangat menguntungkan bagi banyak orang. Namun, apakah anak berkebutuhan khusus juga bisa menikmati manfaat dari e-learning tersebut? Jawabannya, ya. Once again, thank to technology yang menyediakan banyak sumber bagi anak berkebutuhan khusus untuk belajar secara online.

Menurut Wikipedia.com, anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karateristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya. Yang termasuk dalam golongan anak berkebutuhan khusus antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, anak dengan kesulitan belajar, dan anak dengan gangguan perilaku (Autis, ADHD, hiperaktif). Karena keluarbiasaan mereka, tentu anak berkebutuhan khusus membutuhkan perangkat electronic learning yang berbeda dari anak yang normal. Tentunya perangkat belajar ini harus dilengkapi dengan software untuk mengakomodasi karakteristik, hambatan, dan potensi mereka. Yang akan saya bahas di sini adalah siswa tunarungu dan tunanetra. :)

Tunarungu

Sebenarnya saya selalu meyakini bahwa anak tunarungu adalah mereka yang sudah tidak bisa mendengar suara sama sekali karena anatomi telinga atau koklea di telinga tengah mereka sudah rusak. Anak-anak yang masih bisa mendengar suara, walaupun hanya suara yang sangat keras saja, disebut dengan anak yang memiliki gangguan pendengaran. Seperti anak saya misalnya, ia mampu mendengar pada frekuensi 95 dB, di mana komunikasi normal terjadi pada frekuensi 25-30 dB. Itu artinya ia dikategorikan pada anak dengan gangguan pendengaran sangat berat. In fact, ada 4 tingkatan pada gangguan pendengaran.

1) Gangguan pendengaran ringan (26-41 dB): Penderita tidak bisa mendengar suara yang lembut dan ia kesulitan mengerti apa yang diucapkan lawan bicara di area yang ramai.
2) Gangguan pendengaran sedang (41-70 dB): Penderita tidak bisa mendengar suara yang lembut dan agak keras. Ia sangat kesulitan menangkap pembicaraan di area yang ramai.
3) Gangguan pendengaran berat (71-90 dB): Lawan bicara harus berbicara dengan suara yang sangat keras (hampir berteriak) agar penderita dapat mendengarnya.
4) Gangguan pendengaran sangat berat (+91 dB): Penderita masih dapat mendengar suara. Namun suara tersebut harus sama kerasnya dengan suara truk, pesawat, dan mesin bor. Komunikasi verbal tidak mungkin dilakukan kecuali penderita menggunakan hearing aids.

Salah satu pilihan berkomunikasi bagi anak-anak tunarungu adalah dengan bahasa isyarat. Syukurlah ada sebuah website yang khusus dirancang untuk membantu anak-anak tunarungu pengguna bahasa isyarat untuk belajar dan berkomunikasi. Website tersebut adalah i-CHAT (I Can Hear and Talk). Website ini digagas oleh Telkom Indonesia bekerja sama dengan FNKTRI, Yayasan AKRAB, UPI, SLB Santirama, Yayasan Sehjira, dan Kementrian Sosial.

Tampilan Home dalam i-CHAT
Program dalam i-CHAT dilengkapi dengan 5 feature belajar, yaitu Kamus, Abjad Jari, Isyarat Bilangan, Tematik dan Susun Kalimat. Semua feature itu menyediakan tutorial bagi anak tunarungu untuk mempelajari bahasa isyarat dengan mudah. Pada feature Abjad Jari dan Isyarat Bilangan kita hanya perlu mengetikkan sebuah kata atau memilih angka, lalu akan muncul tutorial bahasa isyarat yang diperagakan oleh seorang model.

Feature Abjad Jari

Feature Isyarat Bilangan
Selain menyediakan feature untuk mempelajari bahasa isyarat per huruf dan angka, i-CHAT juga menyediakan sarana untuk berlatih bahasa isyarat untuk kelompok-kelompok kata dalam featureTematik. Terdapat beberapa kelompok kata dalam feature Tematik, antara lain: Anggota Keluarga & Kenalan, Benda-Benda di Sekitar Kita, Tubuh, Kesehatan, & Perlengkapan Diri, Aktivitas Manusia, Jenis Pekerjaan, Hari Besar & Hari Libur, Empat Sehat Lima Sempurna, Mari Kita Pergi Jalan-Jalan, Menghargai Waktu & Uang, Padanan Kata, dan Lawan Kata. Masing-masing kategori dilengkapi dengan video bahasa isyarat, video pengucapan, dan contoh kalimat. Feature selanjutnya adalah Susun Kalimat. Ada 3 pilihan dalam feature ini, yaitu Kalimat Pilih Gambar, Kalimat Berstruktur, dan Kalimat Bebas. Program i-CHAT juga menawarkan feature Latihan & Game. Ada 8 permainan edukatif sehingga proses belajar pun tidak boring. Menurut saya situs i-CHAT ini sangat bermanfaat tidak hanya untuk murid, tapi juga untuk guru sekolah luar biasa (SLB). Guru SLB bisa menmanfaatkan situs i-CHAT ini sebagai bahan pengajaran di sekolah.

Feature Tematik
Feature Susun Kalimat
Game Mencocokkan Kata

Website i-CHAT diperuntukkan bagi siswa tunarungu yang menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Lalu bagaimana dengan anak tunarungu yang menggunakan hearing aids atau implan koklea? Mereka tidak menggunakan bahasa isyarat. Pasti mereka diharapkan mampu berkomunikasi secara normal seperti anak pada umumnya karena mereka bisa mendengar dengan dibantu oleh alat. Nah, yang menjadi PR mereka kemudian adalah bagaimana supaya mereka bisa mendengar untuk kemudian bisa bicara. Tujuan itu bisa dicapai melalui e-learning dari Cochlear. Cohlear menyediakan materi-materi untuk belajar mendengar yang disusun per minggu. Materi per minggu dilengkapi dengan lembar evaluasi untuk menilai sejauh mana seorang anak mengalami kemajuan. Website ini juga dilengkapi dengan lagu dan video sebagai pendukung e-learning. Tidak hanya itu, Cohlear juga menyediakan materi gambar-gambar yang menarik dalam bentuk Powerpoint yang bisa diunduh dengan gratis.

Berbeda dari website i-CHAT yang bisa digunakan sendiri oleh siswa tunarungu, website Cohlear ini lebih diperuntukkan bagi guru atau orangtua. Saya sendiri memanfaatkan materi-materi dari Cohlear ini untuk e-learning. Saya banyak belajar tentang aktivitas-aktivitas apa saja yang harus saya lakukan untuk menstimulasi pendengaran anak saya pasca memakai hearing aids. Sejauh ini saya merasakan manfaat yang cukup besar karena materi-materinya sangat lengkap. Anak saya juga terhibur dari video animasi yang lucu namun tetap edukatif. Jadi situs ini adalah media e-learning sekaligus playing buat kami. Kelemahan dari website ini adalah dari segi bahasa. Bahasa pengantar yang dipakai di Cohlear adalah Bahasa Inggris. Jadi guru atau orangtua yang tidak bisa berbahasa Inggris harus meminta bantuan penerjemah dulu untuk menikmati manfaatnya. Selebihnya, this website is super awesome!

Materi Expressive Language minggu I
Animasi yang saya unduh dalam format Powerpoint
Tunanetra

Anak tunanetra adalah anak-anak yang memiliki kesulitan untuk melihat. Ada 2 golongan tunanetra, yaitu blind (buta total) dan low vision. Nah, anak-anak tunanetra tentunya membutuhkan e-learning yang menggunakan indra pendengar dan peraba. Maka media untuk mendukung e-learning bagi anak tunanetra ialah keyboard braille (untuk blind), keyboard bertombol besar dan berwarna mencolok (untuk low vision), dan perangkat Screen Reader seperti Thunder dan Natural Reader yang dapat menyuarakan teks pada halaman website, Ms. Word, PDF, dan email. Software Thunder dan Natural Reader ini harus didownload terlebih dulu untuk bisa dinikmati manfaatnya.

Keyboard Braille

Keyboard untuk low vision

Mouse Braille

Software Natural Reader
Tampilan Google yang disuarakan dengan Thunder
Dengan software yang dapat menyuarakan teks seperti Thunder dan Natural Reader, siswa tunanetra tetap dapat menyerap ilmu sebanyak mungkin secara mandiri seperti siswa pada umumnya. Kendala penglihatan pun tidak lagi menjadi aral yang berarti. Memang, buku-buku yang diterjemahkan dalam format Braille sudah banyak. Namun, tentunya e-learning memungkinkan lebih banyak lagi ilmu untuk dilahap. Selain itu, e-learning ini juga dapat menjembatani mereka dengan dunia teknologi. Anak berkebutuhan khusus juga berhak menjadi canggih dan tidak gaptek, bukan?

All in all, I'd have to say that saya bersyukur melihat perkembangan e-learning dewasa ini. E-learning tidak hanya dapat dinikmati oleh siswa pada umumnya, tapi juga oleh siswa berkebutuhan khusus. Saya berharap media e-learning untuk siswa tunarungu dan tunanetra ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para siswa, guru SLB, dan orangtua sehingga ilmu dan potensi mereka dapat berkembang dengan optimal. Dalam hal ini, kuncinya adalah kemauan untuk meng-update pengetahuan kita. Para guru harus aktif membuat terobosan baru dalam mengajar; entah itu dari cara menerangkan atau materi yang diterangkan sehingga proses belajar siswa tunarungu dan tunanetra menjadi atraktif. Sayangnya banyak guru yang sudah puas dengan apa yang mereka miliki dan menjadikan diri mereka sebagai subjek dalam pendidikan sehingga mereka tidak lagi memperkaya bahan ajar mereka. Dampaknya, materi yang diterima siswa dari tahun ajaran ke tahun ajaran berikutnya itu-itu saja. Siswa tunarungu dan tunanetra di sini menjadi objek pendidikan semata, yang hanya menerima materi dengan pasif. Itu patut disayangkan karena sangat banyak yang bisa dipelajari dengan e-learning.

Selain itu, berdasarkan pengamatan saya, tampaknya e-learning untuk siswa berkubutuhan khusus belum marak. Saya mencoba bertanya pada beberapa kawan tunarungu dan low vision saya apakah mereka  mengetahui dan memanfaatkan program i-CHAT atau Natural Reader. Kebanyakan dari mereka mengaku baru pertama kali mendengar program tersebut. What a shame! Websites untuk e-learning sebagus itu namun tidak dirasakan manfaatnya oleh banyak siswa tunarungu dan tunanetra? Sangat disayangkan. Mengapa? Entahlah. Mungkin karena 1) Telkom kurang mensosialisasikan program i-CHAT, 2) Kita sendiri yang kurang termotivasi untuk mencari tahu perkembangan dan hal baru apa saja yang hadir di tengah kita, atau 3) Sekolah-sekolah Luar Biasa berikut pengajarnya tidak menggunakan media e-learning tersebut sehingga siswa pun tidak tahu keberadaan program pendukung e-learning itu.

Ada perumpamaan mudah untuk menggambarkan fenomena di atas. Katakanlah kita lapar sehingga kita butuh makan. Biasanya makanan sudah disediakan oleh ibu di meja makan. Kali ini hidangan di meja makan habis. Tapi, masih banyak makanan yang disimpan ibu di lemari dapur. Kita tidak menemukan makanan itu karena kita malas mencari dan langsung berpuas diri dengan pemikiran oh di meja makan nggak ada makanan, berarti makanan udah habis dong. Akhirnya perut kita tetap keroncongan dan bahkan menjadi maag. Siapa yang rugi? Kita. Mengapa? Karena kita enggan mencari tahu. Ya, begitulah kurang lebih-nya.

E-learning memungkinkan kita mampu belajar, now a question remains, apa kita mau belajar?



Referensi:
  1. http://www.zainalhakim.web.id/pengertian-e-learning.html
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_berkebutuhan_khusus
  3. http://app.i-chat.web.id/
  4. http://cochlear.com/wps/wcm/connect/intl/home/support/rehabilitation-resources/rehabilitation-resources 
  5. http://www.sightandsound.co.uk/shop/product_images/d/485/braille-display-Focus40-perkins-keyboard-web__81005_zoom.jpg
  6. http://store.aramedia.com/shopimages/products/normal/KUSykb-lpkid-i_1a.jpg
  7. http://www.thenutgraph.com/user_uploads/images/2009/05/13/webyrical-blind-mouse.jpg
  8. http://justfwd.com/?dn=naturalreader.com&pid=7PONP4W1U


f

Salah satu definisi yang cukup dapat diterima banyak pihak misalnya dari Darin E. Hartley [Hartley, 2001] yang menyatakan : "e-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain". - See more at: http://www.zainalhakim.web.id/pengertian-e-learning.html#sthash.BxOmEfnx.dpuf
Salah satu definisi yang cukup dapat diterima banyak pihak misalnya dari Darin E. Hartley [Hartley, 2001] yang menyatakan : "e-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain". - See more at: http://www.zainalhakim.web.id/pengertian-e-learning.html#sthash.BxOmEfnx.dpuf
Salah satu definisi yang cukup dapat diterima banyak pihak misalnya dari Darin E. Hartley [Hartley, 2001] yang menyatakan : "e-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain". - See more at: http://www.zainalhakim.web.id/pengertian-e-learning.html#sthash.BxOmEfnx.dpuf

Sunday, December 22, 2013

Ibu, Cinta Tanpa Akhir

Picture's taken from here

Selamat Hari Ibu! Nggak terasa sudah hari Ibu kedua yang saya lalui sebagai seorang ibu. Ternyata ada perbedaan yang saya rasakan saat melewati tanggal 22 ini sebagai anak saja dan sebagai perempuan yang sudah jadi ibu. Whooshaaah! Dulu ketika masih gadis, yang saya pikirkan tiap tanggal 22 Desember ini adalah bagaimana cara mengucapkan 'Selamat Hari Ibu, Mah' dengan wajar; nggak berlebihan tapi juga nggak canggung. It's a pretty knotty task, I'd say karena hubungan saya dan Mama nggak dekat. Kami bukan kelompok ibu dan anak yang biasa saling curhat dan saling memeluk. But I love her very much. Kalau bukan karena tangan dingin Mama, mungkin saya akan menjadi gadis yang lembek dan lemah. Mungkin saya akan dengan mudahnya menyerah pada keadaan. Saya yakin, kesabaran dan keikhlasan saya menerima kondisi Ubii nggak lain karena Mama membentuk saya menjadi pribadi yang nggak boleh cengeng dan putus asa berlama-lama.

Mama bukan tipe ibu yang mau mendengar cerita saya tentang pujaan hati saya, tapi Mama tau setiap saya menangis karena patah hati. Mama tau dalam diam. Mama nggak bilang apa-apa. Mama bukan tipe ibu yang memuji saya setiap kali saya pulang membawa lembar indeks prestasi yang sangat memuaskan. Jangankan memuji, wajahnya pun nggak berbinar. Nggak ada hadiah atau makan-makan keluarga untuk merayakan hasil kerja keras saya selama satu semester. Bahkan Mama tetap stayed cool ketika suatu kali melihat angka 4 di lembar indeks prestasi semester saya. Mama juga bukan tipe ibu yang mau tau siapa sahabat yang dekat dengan saya. Mama nggak pernah bertanya mengapa saya senang berkawan dengan si A atau si B, apa kami pernah bertengkar, atau apakah kami punya selera cowok yang sama. Tapi, Mama bisa cerewet juga loh. Mama akan cerewet ketika saya lupa mematikan lampu kamar mandi atau mengembalikan piring kotor ke bak cuci piring. Lucu ya?

Sempat suatu kali saya ada dalam satu titik dimana saya mempertanyakan seberapa besar cinta Mama untuk saya. In fact, itu berkali-kali, nggak cuma sekali. Hehehe. Saya penasaran mengapa Mama nggak pernah mengajak saya berdekatan dengan saya seperti mama dan anak gadis lainnya. Sampai ketika saya mendapat pekerjaan di Kalimantan. Tiap hari Mama menelpon saya atau minimal mengirimkan SMS. SMS-SMS nya cool ala Mama seperti "Dah bangun?" atau "Dah di barak?" atau "Piye tadi?" tanpa kata-kata manis yang melambungkan hati. Tapi entah mengapa saya bisa merasakan perhatiannya. Nyata. Nggak dibuat-buat. Nggak dimanis-maniskan. And, hey, she loves me that much.

Eventually I realize this:

Mama memang bukan tipe ibu yang gemar melayangkan pujian. Mama bukan ibu yang selalu ada saat saya mengalami gejolak-gejolak masa muda dan berbagai kesalahan lainnya. Tapi itu bukan berarti Mama nggak sayang sama saya. Cintanya memang nggak diwujudkan dengan hal-hal yang saya harapkan. Tapi itu lah Mama. Mama hanya kebetulan diasuh dengan didikan yang cukup keras oleh Nenek sehingga Mama menjadi pribadi yang cukup kaku. Mama nggak bisa menunjukkan perasaannya dengan mudah. Namun Mama yang begitu lah yang membentuk saya menjadi pribadi yang kuat dan selalu bangkit. Kalau Mama nggak mendidik saya dengan keras, mungkin saya masih akan bersembunyi di kamar dan meratapi keadaan Ubii. Betapa semuanya sudah dirancang dengan indah oleh-Nya. Mama mempersiapkan saya menjadi ibu yang tegar untuk Ubii. Itu lah cinta tanpa akhir seorang ibu versi Mama saya.

Nah, dalam rangka memperingati Hari Ibu ini, saya mengajak beberapa kawan ikut menyumbangkan pendapatnya tentang ibu.

Apa yang terlintas dalam benak kalian ketika mengingat sosok ibu?

Meilisa, 25 tahun: Ibu itu my everything, temen curhat, temen nggosip, sering juga jadi pahlawan, pokoknya segalanya..

Indriani, 27 tahun: Penanggung jawab, pemaaf, tidak sabaran tapi dipaksa sabar, capek, pemaaf, pemaaf, pemaaf. Wanita yang merusak keindahannya demi anak yang suatu saat bisa melawannya. Seketika marah dan seketika itu juga memaafkan.

Esti, 30 tahun: Cerewet, neror mulu nanya: udah makan belum, lagi di mana, lagi ngapain, pulang jam berapa, pergi sama siapa. Gengges pokoknya. Itu dulu pas jaman aku belum married. Sekarang ketika aku sudah menjadi seorang ibu baru aku mengerti semua 'gangguan' itu adalah wujud cintanya. Murni. Suci.

Randika, 25 tahun: Ibu. Tak dapat dilihat namun selalu di hati.

Kunti, 28 tahun: Selalu bisa mengorbankan dan menomerduakan keinginannya sendiri demi kepentingan anaknya.

Itu beberapa opini dari kawan-kawan saya tentang Mama mereka. How about you guys? Seperti apa Mama di mata kalian? Mari share bersama! :)

Nggak banyak foto saya bersama Mama. Ini yang paling favorit. I was a 3 yo girl.

Saturday, December 14, 2013

Pengasuhan Positif bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Hola! Yogyakarta hari ini cerah setelah dua hari sebelumnya hujan deras disertai angin cukup kencang. Di hari yang cerah ini saya pengin berbagi tentang mendidik anak dengan positif. Hmm, sebenarnya saya masih termasuk newbie sih dalam hal mendidik anak. Anak saya, Ubii, sekarang masih berusia 18 bulan (hampir 19 bulan), jadi yah memang to be honest saya belum makan banyak asam-garam dalam pengasuhan Ubii. But, let's just share anyway.

Kebetulan anak saya, Ubii, lahir dengan kebutuhan khusus akibat Congenital Rubella Syndrome. Ia mengalami kebocoran jantung, TB paru-paru, encephalitis (pengapuran otak), retardasi psikomotorik, dan gangguan pendengaran sangat berat. Akibat retardasi psikomotorik, Ubii mengalami keterlambatan yang cukup kentara pada kemampuan motoriknya. Di saat anak-anak seusianya sudah bisa berdiri atau bahkan berjalan, Ubii baru mampu tengkurap dan telentang sendiri saja. Progress nya untuk mampu tengkurap dan telentang sendiri ini pun dicapai setelah fisioterapi rutin tiga kali dalam seminggu sejak ia berusia 6 bulan. Gangguan pendengaran sangat berat membuat Ubii harus memakai hearing aids di kedua telinga nya. Ini lah yang sangat kentara. Sayangnya, masyarakat Indonesia belum terbiasa melihat anak-anak dengan hearing aids. Memakai hearing aids dianggap sebuah kecacatan. Padahal apa bedanya dengan memakai kacamata? Toh fungsi kedua benda itu sama-sama untuk mengoptimalkan indra, bukan? Nah, karena belum banyak orang yang terbiasa melihat anak-anak dengan hearing aids, Ubii sering sekali diamati saat kami membawanya ke tempat umum yang ramai. Suatu ketika saya pernah membawa Ubii ke sebuat supermarket. Ada seorang ibu yang sedang menggandeng anaknya. Begitu melihat Ubii dengan hearing aidsnya, ia berkata, "Lihat dek ada anak cacat" sambil menunjuk-nunjuk Ubii. Dari situ saya sadar bahwa hal-hal yang mendegradasi mental dan kepercayaan diri Ubii seperti itu tidak bisa dihindari. Bisa sih saya dengan sengaja 'menyimpan' Ubii di rumah sehingga ia nggak perlu bertemu dengan orang lain supaya nggak menerima cemoohan. Tapi, apa itu bijaksana untuk perkembangan sosialnya kelak? Pilihan saya hanya satu, yaitu mendidiknya dengan cara-cara sepositif mungkin semampu saya.

Tuesday, December 10, 2013

Edukasi TORCH untuk Masyarakat Indonesia

Puji syukur, tulisan ini diapresiasi sebagai
Karya terpilih untuk ikut dibukukan dalam antologi 
Mereka Bicara Fakta


***

Membicarakan sistem kesehatan di Indonesia memang rasanya tak akan ada habisnya. Selalu banyak unek-unek dan keluh kesan berkaitan dengan bagaimana masyarakat menikmati sistem kesehatan di negara tercinta kita ini. Unek-unek yang dikeluhkan pun beragam mulai dari biaya kesehatan yang tak terjangkau bagi kaum dhuafa, mengularnya antrian untuk menemui dokter karena dokter-dokter di Indonesia terbatas jumlahnya sehingga harus praktik di banyak tempat, salahnya diagnosa atau dosis yang diberikan dokter atau apoteker, serta minimnya peran serta tenaga kesehatan untuk mensosialisasikan isu kesehatan yang sebenarnya urgent. Unek-unek terakhir ini lah yang ingin saya angkat dalam tulisan kali ini. Tulisan ini lahir dari pengalaman pribadi saya dan teman-teman yang kecolongan terjangkit virus karena ketidaktahuan kami untuk waspada dan karena minimnya edukasi dari dinas kesehatan.

Cerita kelam kehamilan saya

Saya berusia hampir 23 tahun saat saya mengandung. Kehamilan yang belum direncanakan ini membuat saya cukup kalang kabut dan kebingungan. Mengingat saya dan suami yang masih di usia produktif yang sedang getol-getol nya bekerja dan mengejar karir, kami memutuskan untuk menunda momongan. Tapi, Tuhan berkata lain. Ia melengkapi kodrat saya sebagai perempuan dengan mengirimkan janin dalam rahim saya. Saya menjalani kehamilan dengan santai. Tak pernah sedikit pun terbersit pikiran yang negatif melihat semua kawan saya yang sudah lebih dulu hamil tidak mengalami gangguan apa pun. Suatu hari di trimester pertama kehamilan saya, saya merasa tidak enak badan. Yang saya rasakan saat itu adalah lemas luar biasa, pusing, dan nyeri pada sendi otot saya. Mata saya pun mudah berarir dan saya juga sempat mengalami demam tinggi selama 3 hari. Saat membawa keluhan-keluhan ini pada dokter spesialis kandungan, beliau mengatakan bahwa saya masuk angin biasa. Saat itu saya masih tinggal di Sangatta, sebuah kota pertambangan kecil di Kalimantan Timur. Lingkungan, udara, dan air yang tidak higienis membuat saya memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta, kota asal saya. Di Yogyakarta, saya sempat berganti dokter spesialis kandungan sebanyak 3 kali. Sama dengan dokter di Sangatta, ketiga dokter spesialis kandungan di Yogyakarta pun juga meyakinkan bahwa kehamilan saya sehat wal'afiat.

Buah hati saya lahir dengan banyak 'kado'

Akhirnya, lahirlah putri saya pada tanggal 19 Mei 2012. Namanya Aubrey Naiym Kayacinta. Banyak harapan yang saya sematkan dalam namanya. Namun, Aubrey tidak seperti bayi-bayi pada umumnya. Aubrey selalu rewel siang dan malam. Ia hanya diam ketika menyusu dan tidur. Selebihnya ia selalu menangis. Di samping itu, Aubrey juga sangat kaku. Ia tak seaktif bayi-bayi seusianya. Aubrey, saat terjaga, hanya mampu tiduran di kasur tanpa menggerakkan anggota tubuhnya. Hanya kepala saja yang ia mampu gerakkan. Itu pun dengan posisi yang aneh, yaitu mendangak, padahal posisi mendangakkan kepala sangat tidak lazim. Melihat itu tentu saya tak bisa diam. Saya membawa Aubrey menemui dokter spesialis anak. Sampai 4 dokter yang saya temui hanya untuk mendapatkan jawaban atas kekakuan dan ketidakaktifan Aubrey. Alih-alih mendapat jawaban yang saya cari, saya malah mendapat ucapan-ucapan seperti Ya ampun Bu, ini bayinya ndak apa-apa. Wong sehat gini. Ibu masih muda sih jadi gampang parno ya Bu. Jujur, saya sakit hati. Bukan ucapan seperti itu yang saya ingin dengar. Bukan tuduhan bahwa saya parno yang ingin saya dapatkan. Saya memang masih muda. Saya mungkin tidak sepengalaman ibu-ibu lain yang sudah lebih matang secara usia. Namun, saya tetap memiliki yang kita sebut dengan naluri seorang ibu. Dan naluri saya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Belum mendapat jawaban yang memuaskan atas keadaan Aubrey, saya menemukan hal mencengangkan lain. Aubrey sama sekali tidak bereaksi terhadap suara! Saya mencoba bernyanyi dan membanting pintu keras-keras tapi Aubrey tetap tidak merespon. Puncaknya saya meniup beberapa balon lalu saya letuskan balon-balon itu di dekat telinga Aubrey ketika ia sedang tidur. Ia tetap terlelap. Maka saya yakin there is absolutely something very very wrong with my daughter. Saya kembali membawa Aubrey ke dokter spesialis anak. Kali ini beliau berkata bahwa wajar kalau Aubrey belum merespon suara karena ia masih berusia 5 bulan. Wajar gimana sih? Semua literatur yang saya baca menegaskan kalau bayi  5 bulan seharusnya sudah mulai merespon suara kok. Akhirnya saya memaksa beliau untuk memberikan surat pengantar untuk melakukan tes BERA (tes untuk mengetahui ambang dengar) untuk Aubrey.
Hasilnya: Aubrey mengalami gangguan pendengaran sangat berat. Ia baru bisa mendengar di 105 dB, suara itu setara dengan suara pesawat. Orang-orang normal berkomunikasi di 25-30 dB.

Hasil tes BERA Aubrey
Posisi mendangakkan kepala
Aubrey sedang menjalani CT Scan
Aubrey sedang menjalani tes ASSR
Aubrey and her hearing aids

Setelah mendapat hasil tes BERA, saya membawa Aubrey menemui dokter spesialis anak kembali. Baru lah beliau bertanya, "Dulu TORCH Ibu gimana?" Saya baru mendengar TORCH detik itu juga. Kemudian Aubrey melakukan tes darah untuk screening TORCH. Hasilnya Aubrey positif terinfeksi virus Rubella saat ia masih berada dalam kandungan. Singkat cerita virus Rubella menyebabkan Aubrey mengalami kebocoran jantung (PDA dan ASD), mikrosefali (ukuran kepala kecil), encephalitis (pengapuran otak), TB paru-paru, retardasi psikomotorik, gangguan berat badan, dan gangguan pendengaran sangat berat. Saat ini di usianya yang ke 18 bulan, Aubrey masih 8 kg saja dan baru belajar duduk. Semua perkembangannya terlambat.

Apa itu TORCH?

Setelah mendapati keadaan Aubrey, saya mulai mencari tau tentang TORCH. Mengapa ia begitu kejam. Saya jadi getol browsing di internet dan mengikuti seminar tentang TORCH. Dari yang saya pelajari, TORCH adalah kumpulan virus Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes. TORCH tidak berbahaya jika menginfeksi dewasa yang tidak mengandung dan anak-anak. TORCH menjadi sangat berbahaya jika menginfeksi ibu yang sedang mengandung karena dapat menginfeksi janin yang dikandung dan menyebabkan berbagai macam gangguan.

Menurut sumber di sini, infeksi TORCH yang menyerang ibu hamil dapat memberikan dampak-dampak ini pada janin:
  • kerusakan mata (radang mata)
  • kerusakan telinga (tuli)
  • kerusakan jantung
  • gangguan pertumbuhan
  • gangguan saraf pusat
  • kerusakan otak (radang otak)
  • keterbelakangan mental
  • pembesaran hati dan limpa
Sungguh serius dampak yang dapat ditimbulkan oleh TORCH bukan? Infeksi TORCH yang cukup berat bisa membuat seorang anak terlahir (maaf) cacat. Itu lah yang lazim dikatakan orang. Tapi saya menolak memakai kata cacat tersebut. Saya menyebut Aubrey luar biasa atau spesial.

Cerita kelam kawan-kawan

Tak hanya saya yang kecolongan karena saya buta akan TORCH selama hamil, banyak kawan saya yang ternyata mengalami pengalaman serupa. Saat mereka merencanakan kehamilan dengan menemui dokter spesialis kandungan, mereka tak mendapatkan edukasi tentang TORCH; bahaya dan cara mencegahnya. Itu membuat mereka tidak tahu bahwa mereka perlu memproteksi diri mereka sebelum mengandung. Gimana mau memproteksi wong ndak tau TORCH itu apa, apa bahaya nya, dan gimana mencegahnya

Wajah kesehatan di Indonesia

Berdasarkan pengalaman pribadi saya dan teman-teman, saya menyimpulkan beberapa hal. Yang pertama, dinas kesehatan dan tenaga kesehatan di Indonesia sama sekali belum menyadari bahwa isu TORCH sudah semakin merebak. Data terakhir mengenai anak yang lahir dengan Congenital Rubella Syndrome seperti Aubrey diambil sudah lama sekali, yaitu pada tahun 1999. Di tahun 1999 tercatat 'hanya' ada 7 kasus. Sekarang sudah tahun berapa? Jelas data tersebut sudah tidak valid dan perlu diperbaharui. Yang kedua, tenaga kesehatan sebenarnya paham betul bahwa TORCH bisa memberikan dampak membahayakan pada janin tapi memilih untuk tidak menganjurkan pasien mereka untuk screening TORCH dan vaksin MMR. Itu mereka lakukan mungkin karena mereka terlalu positive thinking atau takut dibilang meribetkan pasien untuk tes ini dan itu. Yang ketiga, dinas kesehatan sama sekali belum mengalokasikan dana khusus bagi anak-anak yang lahir dengan TORCH kongenital. Berbeda sekali dengan anak-anak penderita kanker, Down Syndome, atau Cereblal Palsy, anak-anak dengan TORCH kongenital masih sangat jarang diperhatikan. Sekali lagi, itu karena isu TORCH masih dianggap sebelah mata.

Edukasi kesehatan pada masyarakat

Lantas, langkah apa yang harus segera diambil supaya jumlah anak yang lahir dengan TORCH kongenital tidak semakin bertambah? Menurut saya, sudah jelas, edukasi TORCH pada masyarakat. Masyarakat kita tidak mungkin paham pentingnya memproteksi kehamilan mereka dengan melakukan screening TORCH dan vaksin MMR jika mereka tidak mengerti mengapa itu penting, bukan? Biaya screening TORCH dan vaksin MMR yang tidak bisa dikatakan murah juga semakin membuat masyarakat enggan melakukannya. Tapi saya yakin ketika mereka paham betul tentang bahaya TORCH, mereka akan mengesampingkan biaya screening TORCH dan vaksin MMR. Apalagi biaya mengobati anak dengan TORCH kongenital berkali-kali lipat lebih mahal daripada upaya pencegahan dengan screening TORCH dan vaksin MMR. Mencegah jauh lebih baik dan lebih murah daripada mengobati, bukan?

Edukasi TORCH pada masyarakat menjadi esensial di sini untuk menyadarkan masyarakat bahwa kehamilan layak diproteksi dari TORCH. Firstly, harus ada edukasi terlebih dahulu mengenai apa itu TORCH dan apa dampaknya pada janin. Secondly, edukasi tersebut harus diikuti dengan edukasi bagaimana untuk memproteksi kehamilan dari TORCH, yaitu dengan screening TORCH dan vaksin MMR. Edukasi TORCH pada masyarakat ini saya harapkan nantinya akan menjadi sosialisasi dan kampanye sehingga masyarakat Indonesia semakin melek terhadap TORCH. Dinas kesehatan bisa mulai memasukkan edukasi TORCH ini dalam MDG mereka. Kemudian mereka bisa mengalokasikan dana untuk mendukung jalannya edukasi dengan membuat media seperti poster, flyer, spanduk, kaos, bahkan seminar untuk mengedukasi masyarakat. Edukasi ini tentunya juga harus menggandeng rumah sakit di daerah-daerah supaya edukasi dapat diterima oleh semua masyarakat.

Rumah Ramah Rubella


Saya sadar saya tidak bisa dan tidak boleh berpangku tangan menunggu aksi nyata dari dinas kesehatan untuk mengedukasi TORCH pada masyarakat. Saya ingin berbuat sesuatu untuk mengedukasi masyarakat akan TORCH. Pada tanggal 2 Oktober 2013 lalu, saya mendirikan komunitas Rumah Ramah Rubella. Komunitas ini memiliki visi dan misi untuk mensosialisasikan dan mengkampanyekan tetek bengek dari TORCH mulai dari pemahaman tentang TORCH, pecegahannya, dan dampaknya pada janin. Saat ini kami masih bergerak di dunia maya. Tahun depan kami sudah mengagendakan beberapa hal untuk mewujudkan visi dan misi kami. Harapan saya adalah masyarakat Indonesia semakin terdukasi mengenai bahaya TORCH pada kehamilan supaya tidak ada lagi Aubrey-Aubrey yang lain. Kalau menunggu dinas kesehatan bergerak, kapan masyarakat Indonesia mendapatkan edukasi perihal TORCH?

Masyarakat Indonesia Belum Terdukasi tentang TORCH

Setiap orang melihat keadaan Aubrey yang kecil, tidak aktif, dan memakai alat bantu dengar, mereka selalu bertanya ada apa dengan Aubrey. Ketika saya jawab kondisi Aubrey disebabkan oleh virus Rubella yang menyerang kehamilan saya, begini rata-rata jawaban mereka,

"Rubella itu apa toh bun?"
"Itu yang karena kucing itu ya?"
"TORCH itu apa?"
"Oh, bisa ya kena virus waktu hamil?"
"Dulu waktu hamil suka makan daging ndak mateng ya pasti?"
"Itu bisa sembuh ndak bunda?"

Jawaban-jawaban mereka yang jujur bukan kah semakin menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum mendapatkan edukasi yang layak perihal TORCH?

"Rubella itu apa toh bun?" 
Rubella adalah salah satu virus yang tergolong dalam kumpulan virus TORCH yang dapat membahayakan janin jika menyerang ibu hamil.
"Itu yang karena kucing itu ya?" 
Salah. Rubella tidak disebabkan oleh kucing. Toksoplasma lah yang disebabkan oleh hal-hal yang berkaitan dengan kucing. Penting untuk diingat bahwa bukan kucing nya yang menyebabkan Toksoplasma, namun tinja kucing lah yang membawa bakteri Toksoplasma karena tinja kucing mengandung ookista.
"TORCH itu apa?"
TORCH adalah kumpulan virus yang terdiri dari Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes.
"Oh, bisa ya kena virus waktu hamil?"
Sangat bisa, jika kita tidak mempersiapkan dan memproteksi kehamilan dengan baik.
"Dulu waktu hamil suka makan daging ndak mateng ya pasti?"
Salah. Rubella tidak disebabkan oleh daging yang kurang matang. Bakteri Toksplasma lah yang disebabkan oleh daging yang kurang matang. Rubella sendiri ditularkan melalui cairan tubuh seperti air liur.
"Itu bisa sembuh ndak bunda?"
Tidak tepat. Rubella bukan penyakit. Rubella adalah penyebab dampak-dampak gangguan pada anak. Rubella tidak bisa disembuhkan karena memang bukan penyakit. Virus Rubella akan mati/tidak aktif dengan sendirinya. Jadi, yang disembuhkan bukan virus Rubella nya melainkan dampak-dampak yang diberikan oleh virus Rubella.

Jawaban-jawaban yang digarisbawahi lah yang sebenarnya saya harapkan dari masyarakat untuk menunjukkan bahwa mereka sudah melek TORCH. Nyatanya? Mereka sama sekali belum melek TORCH karena memang belum ada edukasi TORCH pada masyarakat Indonesia yang layak.

Jadi, apakah kita akan berdiam diri saja sambil melihat angka anak-anak yang lahir dengan TORCH kongenital semakin banyak? Tentu tidak, bukan? Maka dari itu, mari bersama tingkatkan kesadaran akan TORCH pada masyarakat dengan cara memberikan edukasi TORCH pada masyarakat Indonesia. Saya mengajak teman-teman, siapa saja yang membaca tulisan saya ini, untuk ikut aktif mensosialisasikan TORCH minimal pada 1 orang setiap harinya.

Mari berbagi peran dengan dinas kesehatan untuk mewujudkan edukasi TORCH untuk masyarakat Indonesia.

Friday, December 6, 2013

Sehari di Press Briefing #TitikBalik Manulife


Hola! Dalam pos kali ini saya ingin berbagi cerita yang menggembirakan hati saya. Yes! I'm super happy and grateful at the moment because what's so called #TitikBalik. God is great!

Cerita ini diawali dengan keisengan saya mengikuti lomba menulis cerita #TitikBalik yang diadakan oleh asuransi Manulife di Facebook mereka. Ini murni iseng! Ya sih, saya memang kadang suka cari-cari sedang ada lomba atau kuis apa gitu yang saya mampu ikuti. Tapi ini nggak. Saya cuma nggak sengaja lihat seorang teman posted link lomba ini karena ia minta dukungan untuk like ceritanya. That was how I bumped into this competition. Menulis ceritanya pun tanpa merancang kata-kata atau apa. Malah sebenarnya saya kesulitan di lomba menulis #TitikBalik ini karena jumlah karakter yang dibatasi di tiap bagian. Saya memang kurang bisa menulis yang singkat. Jadi kemarin saya banyak menghapus kata-kata saya karena jumlah karakter sangat kebanyakan. Hihihi. Fiuh. Harus belajar lagi tampaknya. :)

Sampai pada tanggal 26 November lalu, saya ditelepon Mbak Adella dari Manulife yang meminta saya mengirimkan surat pernyataan bahwa cerita saya adalah kisah nyata dan foto saya. Mbak Adella nggak bicara banyak. Beliau hanya menyampaikan ini untuk kepentingan menampilkan tulisan saya di pameran #TitikBalik yang akan diselenggarakan Manulife pada tanggal 5-8 Desember di Kota Kasablanka. So, still, I had no expectation nor clue. Masih lempeng-lempeng aja gitu. Kebagian ikut dipasang di pameran aja sudah happy sekali loh. Suwer! ^^

Lalu nggak ada kabar apa pun lagi.......... *hening* *krik krik krik* *jangkrik pacaran*

Tiba-tiba, tak ada angin tak ada hujan tak ada apa pun itu untuk menampilkan efek lebay dari alam *halah*, kemarin Rabu tanggal 4 Desember, saya dapat telepon dari Mbak Dian dari Manulife. Mbak Dian mengundang saya untuk hadir di acara Manulife hari Kamis tanggal 5. Gilee mepet banget sih bilangnya, batin saya. Jadi awalnya saya kepikiran untuk meminta seorang teman dari Rumah Ramah Rubella untuk mewakili saya. Yah nggak papa sih kalau diwakilin, tapi sebenernya kami berharap Mbak Gracie bisa hadir karena nanti ada press con bersama teman media juga, tapi yaudah lah nggak papa kok Mbak, tolong kabarin saya aja siapa yang bisa datang, begitu kata Mbak Dian selanjutnya. Serius, saya kira saya termasuk dalam finalis berapa besar gitu makanya diundang hadir. Ternyata Mbak Dian mengirimkan email yang bunyinya:

Sehubungan dengan kampanye Titik Balik Manulife yang telah diselenggarakan oleh Manulife Indonesia dari September–November 2013 dan partisipasi Anda berbagi kisah Titik Balik, bersama ini kami mengundang Anda untuk hadir di acara penyerahan penghargaan kepada 3 (tiga) penulis kisah Titik Balik paling inspiratif.

*sorak sorai* *bersyukur* *happy*

Langsung saja saya ingin untuk hadir begitu dengar ada teman media yang diundang. Bukannya mau ngeksis, tepe-tepe, atau malah pingin diorbitin jadi artis (ya eyalaahh bodi bantet kate cebol begini), tapi saya pikir saya jadi punya kesempatan untuk memperkenalkan Rumah Ramah Rubella pada teman-teman. Memang saat ini teman-teman dari Rumah Ramah Rubella sedang menyusun banyak agenda campaign tahun depan. Kesempatan emas broh!, pikir saya. Jadilah saya minta tolong mertua saya mencarikan tiket dan dapat! Puji Tuhan. Mertuaku memang jempolan. *salim* Okay, so that's the plan. Flight to Jakarta at 7 AM dan back to Yogyakarta at  5 PM.

Singkat cerita sampai juga saya di Food Society Atrium Mall Kota Kasablanka Jakarta Selatan tanggal 5 Desember pukul 10 kurang. Hore. Saya in-time nih! *tepuk dada dikit* Belum banyak yang hadir. Suasana masih lengang. Snack di meja pendaftaran untuk awak media pun masih menumpuk. Panitia pun masih terlihat sibuk merapikan ini itu. Jadi saya memilih berjalan-jalan di sekitar stage sambil membaca tulisan-tulisan #TitikBalik lainnya. Tulisan-tulisan #TitikBalik itu ditata dengan apik, dipajang di kaca di depan dan samping kiri kanan stage. Wah ceritanya bagus-bagus. Ada beberapa yang saya kenal; salah duanya adalah Mak Irma Susanti dan Mak Wylvera Windayana. Mereka adalah teman dari Komunitas Emak Blogger. Tulisan mereka bagus dan inspiratif. Semoga someday saya bisa meet up dengan emak-emak hebat ini.

Stage yang masih lengang
'Investasi untuk masa depan, sudah dipikirkan belum?'
Tulisan-tulisan #TitikBalik yang dipajang apik
Tulisan saya yang mojok sama tulisan Mak Irma

Kemudian ada perempuan berbaju putih yang tersenyum ramah dan menghampiri saya. Ternyata itu Mbak Dian. Lalu Mbak Dian mengajak saya duduk di meja di belakang meja pendaftaran dan mengenalkan saya pada Bu Felicia dari Manulife dan Mbak Desy Novianti, host Insert Investigasi, yang akan menjadi MC di acara Press Briefing #TitikBalik untuk Masa Depan Anda 100 Kisah yang Menginspirasi bersama Manulife. Sambil menunggu acara mulai, saya mengobrol dengan Bu Felicia tentang Ubii dan Rumah Ramah Rubella. Bu Felicia kelihatan terkejut ketika saya bercerita tentang teman-teman di Rumah Ramah Rubella. Beliau juga menyayangkan belum ada nya sosialisasi tentang TORCH yang lebih aktif dari dinas kesehatan. Bu Felicia ramah sekali, beliau juga banyak cerita tentang keluarganya saat liburan di Yogyakarta. Mbak Desy, yang saat itu sedang flu, nggak banyak bicara karena Mbak Desy juga menyibukkan diri dengan membaca materi. Dan, saya menyesal kenapa nggak minta foto dengan Mbak Desy. Yah, memang, saya masih katro ketemu artis. Hihihi. *malu-malu kucing*

Akhirnya teman-teman media mulai hadir dan acara pun dimulai. Mbak Desy menyapa kami semua dengan ramah. Setelah berbincang sebentar, Mbak Desy memanggil Bu Nely dan Pak Alex dari Manulife untuk berbicara mengenai kampanye ini. Bu Nely kelihatan anggun dan berwibawa, namun juga ramah. Pak Alex kelihatan sekali sudah biasa bicara di depan umum, pembawaannya sangat santai, menyenangkan, dan humoris. Pak Alex juga murah senyum. Sungguh, I truly feel grateful karena bisa mengenal mereka. Tak lama kemudian, Mbak Desy mengundang Bu Felicia ke stage untuk berbicara mengenai kampanye #TitikBalik dan mengumumkan ketiga cerita inspiratif. Tiga cerita inspiratif, including mine, ditampilkan di layar dan Bu Felicia memberi sedikit gambaran tentang tiap cerita. Dua cerita lain adalah milik Mbak Ning dan Mas Harbi. Mbak Ning bercerita perjuanganya mendapatkan ijazah SMA. Ia hanya lulusan SMP karena orang di sekitarnya selalu bilang buat apa sekolah tinggi wong perempuan itu mbalik ke dapur. Tapi Mbak Ning nggak pernah melupakan mimpinya. Ia melakoni pekerjaan sebagai tukang cari rumput dan tukang cuci; semua uangnya ia tabung untuk mewujudkan mimpinya. Akhirnya ia berhasil mengikuti Paket C sejajar SMU dan mendapat ijazah SMU. Kini Mbak Ning bahkan sudah merintis usaha nya dalam bidang Fashion Lukis. Kisah dari Mas Harbi pun nggak kalah inspiratifnya. Mas Harbi bercerita tentang perjuangan orangtua nya untuk membiayai kuliahnya. Sang ayah pernah bekerja di kebun karet dan sang ibu bahkan nggak keberatan menjadi pembantu rumah tangga. Itu membuat Mas Harbi bertekad untuk menyelesaikan kuliah nya dengan baik. Kini Mas Harbi membuat sebuah Taman Baca Masyarakat karena kepedulian sosialnya. Mas Harbi pun bisa membeli rumah di kompleks perumahan untuknya dan orangtua. Kisah yang luar biasa ya? Dibilang sama inspiratif nya dengan Mbak Ning dan Mas Harbi adalah motivasi supaya saya bisa melakukan hal yang lebih besar lagi untuk teman-teman di Rumah Ramah Rubella kelak. Amin. *mana aminnyaaa?*

Tadaaaaa
Setelah itu, Mbak Desy menanyai saya dan Mbak Ning (Mas Harbi saat itu berhalangan hadir sehingga diwakili oleh kawannya). Mbak Desy menanyai saya Apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran Grace saat pertama kali mengetahui kondisi Aubrey? Kemudian Mbak Desy menanyakan kondisi Aubrey sekarang secara singkat. Saya senang saat itu saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Mbak Desy dengan santai, nggak nervous seperti saat di Kick Andy. Puji Tuhan, sudah lebih berani sekarang untuk bertemu orang.

Whoosah, ayo jangan gugup!

Selanjutnya Mbak Desy mengundang saya, Mbak Ning, dan kawan yang mewakili Mas Harbi maju ke stage. Saya pikir di situ saya akan mendapat kesempatan bercerita tentang Rumah Ramah Rubella. Ternyata nggak. *mewek* I was a bit disappointed, to be honest. Padahal saya sudah mengharapkan bisa sekalian menyampaikan supaya kita lebih waspada terhadap TORCH. But, let it go, it's okay. Semoga ada kesempatan lagi lain waktu. Then, Bu Nely dari Manulife memberikan kami penghargaan sebagai 3 cerita terinspiratif secara simbolis.

Acara selanjutnya adalah sesi Q and A untuk kawan-kawan media. Satu wartawan (saya lupa dari media mana) mengusulkan agar 100 kisah inspiratif ini dibukukan selain dibuat menjadi e-book. Wow! Amin! Semoga saja diamini oleh Manulife. Hihihi. Lalu ada seorang reporter dari Kompasiana yang menanyakan alasan 3 cerita ini yang terpilih. Pak Alex menjawab kurang lebih, Karena tema nya adalah titik balik, maka kami mencari cerita yang memiliki unsur tersebut. Titik balik artinya membal, bounce back. Maka kami mencari siapa yang pernah mengalami masa terendah namun kemudian dapat menjadikan itu untuk bangkit lagi. Ini bukan ajang menceritakan siapa yang hidupnya yang paling menderita. Cerita-cerita ini bukan untuk dikasihani tapi untuk membuat kita semua tau apa yang harus kita lakukan jika suatu saat kita mengalaminya sendiri. Kemudian, Pak Alex mengatakan sesuatu untuk saya dari stage yang nggak akan saya lupakan.

"Grace, semua bisa lihat badan saya jauh lebih besar dari kamu. Tapi itu bukan berarti saya lebih kuat dari kamu. Menurut saya, kamu lebih kuat dari saya. Trust me, you are much stronger than me and than you think."

Huaaa. Saya mewek, tapi untung nggak meleleh air mata di situ, kan malu yee. :p

Tak lama kemudian Press Briefing #TitikBalik pun usai dan kami semua dipersilakan untuk makan siang di Penang Bistro bersama-sama. Saya baru beres-beres tas, tiba-tiba ada wartawan yang meminta saya, Mbak Ning, dan kawan Mas Harbi maju untuk berfoto bersama. Nggak apa lah, saya sih senang-senang aja bisa foto. Hehehe. Setelah itu ada mbak dari satu media yang mewawancarai saya karena ia akan mengulas tentang hari Ibu nanti. Sayangnya saya lupa ia dari media mana. Hiks. Ia bilang akan menghubungi saya kalau sudah terbit. Semoga ia nggak lupa. Amin. Udah dong, setelah itu saya lanjut beres-beres. Eh, saking semangatnya, ada insiden kecil. Resleting tas saya jebol! Hiks hiks. Padahal itu tas satu-satu nya. Saya suka banget tas itu karena murah dan muat banyak. Eh, misfokus ya? ;)

Saya, Mbak Ning, kawan Mas Harbi
Mbak reporter, kalau beneran terbit jangan lupa kabarin yaaa
Setelah semua selesai, saya segera menyusul teman-teman ke Penang Bistro. Ternyata dua teman saya dari New Mom sudah menunggu. Saya jadi nggak enak kalau mereka harus menunggu saya makan karena waktu saya nggak lama. Saat itu sudah pukul 12.30 siang dan saya sudah harus bergerak ke airport paling nggak pukul 14.30. Jadi saya ngeteh cantik aja. Kemudian saya pamit pada Bu Felicia dan Bu Nely. Terakhir saya pamit pada Mbak Dian yang malah menarik saya keluar restoran. Di situ Mbak Dian memberitahukan bahwa Manulife akan mengirimkan email berkaitan dengan pengiriman hadiah. I still had no idea how much I would receive di situ. Saat Mbak Dian memberitahukan, ya ampun, saya officially mewek dan langsung memeluk Mbak Dian. Semoga Mbak Dian nggak kebauan karena baju saya sudah basah keringat dan saya lupa pakai parfume dan deodoran pagi itu. Wew. Puji Tuhan, penghargaan dari Manulife ini akan bisa kami tabung untuk ke depannya.

By the way, ada cinderamata untuk kami semua termasuk rekan media. Lucu deh. Ular tangga tentang #TitikBalik. I love it!
Ular tangga asuransi, hihihi
Apakah sudah berakhir di situ? Enggak dong. Saya menghabiskan waktu sambil berjalan-jalan di Mall Kota Kasablanka bersama kedua teman saya dari New Mom itu, Mbak Astri dan Mbak Tami serta baby boy nya, Enzo. Kami makan siang di Eat 'n Eat sambil bercerita heboh. Nggak lama kemudian, saya kedatangan dua teman lagi. Kali ini dari Rumah Ramah Rubella; Mbak Sita dan Mbak Inel. Ini adalah pertemuan pertama saya dengan Mbak Sita dan Mbak Inel serta putra nya, Nadhif. Nadhif adalah anak Mbak Inel yang juga terkena Congenital Rubella Syndrome. Melihat Nadhif yang aktif dan berani, saya jadi makin optimis dalam membesarkan Ubii. Thank you, Nadhif! Senang sekali. Walaupun singkat, kami bisa ngobrol ngalor-ngidul dan seru. Kami juga sempat membahas sedikit tentang rencana Rumah Ramah Rubella untuk pembuatan kaos. That was fun!
Bersama Mbak Sita
Mbak Inel dan Nadhif sudah datang, yeay!
Acara dilanjutkan dengan mampir sebentar ke Toys Kingdom karena saya pingin membelikan Ubii mainan yang pernah saya lihat di kelas AVT (Audiotry Verbal Therapy) nya. Puji Tuhan, dapat! Dan harganya juga terjangkau ternyata. Senangnya bisa bawa oleh-oleh untuk Ubii. Thanks to Mbak Astri dan Mbak Tami yang nggak keberatan mengantar saya lihat-lihat mainan. Nggak terasa sudah hampir pukul 14.30. Saya harus buru-buru ke bandara. Time to go. Saying good-bye is never easy. Hiks. Semoga lain kali bisa jalan-jalan ke Jakarta lebih lama lagi.


Bareng Mbak Tami, Enzo, dan Mbak Astri
Saya senang sekali bisa menghadiri Press Briefing #TitikBalik bersama Manulife hari ini. Acaranya singkat dan padat. Sama sekali nggak bertele-tele. Acaranya juga dikemas dengan komunikatif. Pihak Manulife pun sangat memperhatikan kami supaya kami nggak kelaparan dengan menyediakan tea time sebelum acara dan lunch bersama. Itu poin plus acara Press Briefing #TitikBalik ini. Namun, ada juga hal minor yang sempat membuat kurang nyaman. Yang pertama, karena kadang ada suara dari loud speaker Mall Kota Kasablanka untuk menyapa dan memberikan informasi pada pengunjung. Jadi kejelasan suara orang yang berbicara dri Press Briefing #TitikBalik sempat terganggu. Yang kedua, acara tersebut digelar tepat dibawah (aduh saya bingung menyebutnya nih) atap tembus pandang. Jadi saat mataharinya terik, lumayan panas juga tuh. But, as what I said before, itu gangguan minor saja. Overall, terlihat sekali usaha pihak Manulife untuk mengupayakan kenyamanan kami yang hadir di sana. Salut! It's really an honor to experience this and meet many great people today. Sungguh adalah berkat luar biasa di penghujung tahun. :)


Love.